Luna Lovegood inside. Noda Megumi outside.

Senin, 23 Januari 2012

LOVE WHAT YOU DO, DO WHAT YOU LOVE


Benar adanya quote yang mengatakan your career is not always your job, your job is not your career. Berapa banyak orang yang mengerjakan hal-hal yang tidak disukainya, atau orang-orang yang tidak mencintai apa yang dikerjakannya?

Berapa banyak orang yang bekerja di tempat yang tidak sesuai idealisme dan kata hatinya, hanya karena mengharap pensiun? Hanya karena mengharap kepastian hidup. Padahal, pernah nggak sih hidup itu menjadi sesuatu yang pasti? Satu-satunya yang pasti dalam hidup kan adalah ketidakpastian itu sendiri? Maka nggak heran kalau kemudian kualitas kerja mereka hanya sebaik apa mereka dibayar, karena toh meski mereka rajin atau malas, kenaikan gajinya akan sama saja. Maka nggak heran kalau begitu banyak instasi pelayanan publik yang terbengkalai karena banyak pekerja yang bermental demikian.

Berapa banyak orang yang memilih pekerjaan karena pekerjaan itu terlihat prestigious, bukan karena suka mengerjakannya? Berapa banyak peneliti yang meneliti hanya demi kenaikan pangkat, bukan karena benar-benar suka meneliti? Berapa banyak orang yang menjadi guru, tapi tidak benar-benar suka mengajar? Hanya karena menganggap pekerjaan itu bergengsi. Atau agar bisa memunjukkan superioritasnya sebagai guru? No wonder kalau banyak murid yang nggak suka belajar, lha wong gurunya juga nggak benar-benar suka mengajar kok.

Berapa banyak orang yang kemudian kecewa karena suatu yang tampak bergengsi dari luar, ternyata tidak sehebat itu? Atau karena gengsi itu kemudian tidak bisa membuat kita bahagia. Karena kekecewaan datang dari pengharapan yang terlalu besar. Padahal kalau kita bekerja karena kita menyukainya, tidak ada hal yang bisa mengecewakan kita karena yang kita harapkan hanya mengerjakan yang kita sukai kan?

Berapa banyak orang yang memilih pekerjaan karena pekerjaan itu adalah pekerjaan turun-temurun keluarganya? Berapa banyak anak-anak yang ingin menjadi penulis, tapi dipaksa untuk menjadi dokter karena hampir seluruh keluarganya adalah dokter? Jadi berapa banyak dokter yang benar-benar mengobati dengan tulus? Terkadang mereka memilih kuliah di Kedokteran juga bukan karena alasan mulia demi menyelamatkan umat manusia ... kadang hanya karena mereka ingin kuliah di fakultas bergengsi.
Berapa banyak anak-anak yang ingin jadi pelukis, tapi dipaksa kuliah Ekonomi karena dia akan mewarisi perusahaan ayahnya?

Berapa banyak orang yang memilih pekerjaan karena pekerjaan itu menawarkan penghasilan tinggi, bukan karena benar-benar cinta mengerjakannya? Berapa banyak orang yang berlomba-lomba ingin jadi pejabat, meski dirinya sendiri tahu bahwa dia tidak se-qualified itu? Itu mengapa terkadang struktur organisasi seringkali membengkak dengan adanya staf ahli- staf ahli. Mungkin karena pejabat itu sendiri tidak punya keahlian apa-apa sehingga mengandalkan staf ahli sebanyak itu (sotoy banget gue).
Berapa banyak orang-orang yang bekerja di dunia marketing demi mendapat gaji tinggi, sementara passionnya adalah di bidang R&D (research & development)?

Berapa banyak orang yang bekerja hanya untuk menyambung hidup, bukan karena mencintai pekerjaannya? Mereka bilang tidak punya pilihan lain selain mengerjakan pekerjaan yang tidak mereka sukai itu.

Well, yeah,  di dunia bernama realitas ini terkadang pilihan-pilihan yang ada tidak semudah itu untuk dipilih. Kadang kita dihadapkan pada idealisme dan kebutuhan finansial. Kita mungkin harus bersikap realistis juga pada akhirnya. Karena perut harus diisi makanan yang dibeli dengan uang. Dan rumah harus dibangun bermodalkan uang. Dan mahar untuk melamar anak gadis orang juga harus dibeli dengan uang.

Tapi bukan berarti kita tidak bisa kembali mengejar impian kita kan?

Banyak jalan menuju Roma. Dan terkadang kamu harus mengambil jalan memutar untuk bisa kembali lagi ke jalan tujuanmu. Kadang kamu harus mengambil jalan memutar hanya untuk bertemu dengan teman seperjalananmu di tepi jalan itu. Tapi seringkali kita mengambil jalan memutar terlalu jauh sampai kita lupa menemukan lagi jalan impian kita yang sebenarnya.

Hidup selalu menawarkan pilihan. Dan memilih untuk mulai mencintai pekerjaan adalah juga sebuah pilihan. Atau memilih untuk mulai melakukan hal-hal yang kita sukai, membuat hobi menjadi mata pencaharian, juga suatu pilihan. Kita lah yang memilih, apakah ingin memilih atau membiarkan orang lain memilihkan jalan hidup kita.

Orang bilang, hidup terlalu singkat untuk dihabiskan bersama pilihan yang salah. Hidup kita cuma sekali, jadi kenapa harus melakukan hal yang tidak kita sukai? Ambilah jalan memutar ke dunia nyata jika memang perlu, tapi jangan lupa jalan pulang ke impian-impian kita. Dan meski jalan pulang ini ternyata sama berlikunya dengan jalan memutar itu, tapi kita tidak akan pernah jemu melakukan hobi kita sendiri.


Tahun 2008. Saya mengambil jalan memutar itu. Melihat dunia luar, dan mengambil ilmu sebanyak-banyaknya dari dunia nyata. Karena sudut pandang yang baru dan lebih luas mencegah kita agar tidak cupat dan berpikiran sempit.

Tahun 2010. Rabb yang Maha Rahim mengijinkan saya menemukan jalan pulang ke impian-impian saya.

Tahun 2011. Saya memilih untuk mengerjakan hal yang saya sukai. Berusaha menjadi lebih bermanfaat (bukan berarti bisa dimanfaatkan) dan lebih berguna (bukan berarti bisa diguna-guna *lhooo??? Hahaha) bagi lebih banyak orang.

Tahun 2012. Sudahkah kita menemukan jalan pulang kita? Atau kita masih ingin berputar setahun lagi?

Lelaki yang Menitipkan Tulang Rusuknya

Kamu!
Yang menitipkan tulang rusuknya kepadaku.
Kapan mau mengambilnya kembali?

Bagaimana kalau nanti aku lupa
Bahwa kamu yang dulu, sebelum kita dilahirkan, menitipkan tulang rusukmu padaku?
Bagaimana kalau nanti aku lupa
Bahwa dulu, sebelum kita dilahirkan, aku pernah berjanji menjaga tulang rusukmu yang ada padaku?

Kamu!
Yang menitipkan tulang rusuknya kepadaku.
Kok lama banget sih mengambilnya kembali?

Bagaimana kalau aku jadi lupa padamu?
Bagaimana kalau nanti aku salah mengenalimu?
Dan kupikir kamu adalah orang lain?
Lalu aku mengembalikan tulang rusukmu kepada orang lain?

Kamu!
Yang menitipkan tulang rusuknya kepadaku.
Apa sih yang sedang kau lakukan?

Kau merencanakan terlalu banyak hal!
Kau memikirkan terlalu banyak resiko!
Kau mengkhawatirkan terlalu banyak rasa sakit!
Padahal yang aku butuh cuma kedatanganmu.

Kamu!
Yang menitipkan tulang rusuknya kepadaku.
Kau terlalu sibuk mencari kesana-kemari.
Padahal aku disini!

Aku cuma takut
Karena terlalu lama terpisah, tulang rusukmu dan patahan tulang rusukmu yang lain yang kau titipkan padaku tidak lagi bisa beresonansi saat mereka bertemu
Lalu kita tidak lagi bisa merasakan getaran itu di rongga dada kita
Dan saling melupakan janji yang sudah dibuat sebelum roh kita menempati tubuhnya

Kamu!
Yang menitipkan tulang rusuknya kepadaku.
Cepat datang dan jangan berbelit-belit!

Minggu, 22 Januari 2012

Dear Prashand Arya

Dear Prashand Arya,

It’s been 4 years since we first met. I’m sure you still remember the way we know each other, don’t you? There’s no need to recall the story, eh?  It’s funny how a pharmaceutical article can connect us.
You, there, were an PhD Candidate. While I was, here, just an undergraduate student. It’s just because the same field of study in Pharmaceutical Science, two people from India and Indonesia can be connected.

Hey Arya!
Remembering the past, when we talked about your research. Sometimes, comparing your pharmaceutical knowledge and mine. But that all were just the begining. In years after, we prefer talk about life rather than research. About your country and mine. About your culture and mine. Your Indian beverage and my Indonesian food. Your family and also mine. Your life and mine. Your religion and mine.

Hey you, the smart Arya,
You always deliver such an interesting topic to be discussed.  Time always fly too fast everytime we chat.  Around 3 a.m of Indonesia Time and 1 a.m of India Time we usually finish the conversation.  You always make me forget that Monday morning is coming, that I will be back to the hectic reality. Somehow, i think  you’re kinda hypnotic J

It’s not only the words you wrote that hypnotize me ,,, you’re voice hypnotize more than I can take. When, without any clue, you called me at my office, i thought my heart would suddenly stop beating. When you make a phonecall, I even couldnt speak anything. It’s not only caused by limitation of my English. It’s more caused by my limitation to control the nerves which control my tongue. Your voice turns my nerves paralyzed.

Arya,
I don’t really notice, how we go thru that topics. In the middle of all our differencies, why did you start to talk about love? There’s no way of any love between us, you know it. But you insist. You always try to make me believe that it’s possible for us.
I said no! But you said that in your society, love is more important than God.
I said no! And you said that you don’t mind to be a muslim just to be with me. What the ___ ????!!!

Do you know, Arya?
After all disapointing things men caused to me, you’re the first one who make me believe that there’s still good man in this world. Ain’t life an irony? Why the good man should be you, the one who cant be my imam?


Dear Prashand Arya,
Aint life an irony? How should we go thru it? I ask you, love.



inspired by:
Devfanny A.A




Hey Kamu! Si Tinggi Besar!

Hey kamu!
Iya, kamu! Yang sudah berdiam diri terlalu lama.
Kenapa sih nggak mau bergerak? Dunia, dan semua hal di sekitarmu berputar dan bergerak, kenapa kamu masih saja berdiam diri? Apa kamu terlalu takut untuk melangkah?

Hey kamu! Yang tidak pernah bisa melupakan.
Berapa tahun sudah berlalu? Dan kenapa belum juga bisa melupakan rasa sakitnya? Itukah mengapa kamu tidak mau memulai yang baru?

Hey kamu! Yang selalu bilang nggak mau mencoba lagi.
Kenapa? Apa dulu kamu jatuh terlalu dalam? Apa dulu rasanya terlalu sakit? Apa rasa sakitnya belum juga hilang?

Hey kamu! Yang nggak pernah bisa percaya.
Kenapa sih nggak mencoba untuk percaya lagi? Ada banyak orang yang bisa menghianatimu di dunia ini. Tapi orang yang amanah, juga sama banyaknya. Lihatlah dengan hatimu, kau akan menemukannya.

Hey kamu! Tahu, nggak? Berapa banyak orang yang berprasangka padamu? Mereka mempertanyakan pilihanmu. Mereka menduga. Mereka menuduh. Lalu bergunjing. Padahal mereka nggak tahu apa-apa.
Aku? Aku bukannya tidak pernah berprasangka. Tapi aku memilih mengkonfrontirmu langsung, dan menanyakan padamu. Sejak itu aku nggak pernah lupa, sorot matamu dan nada suaramu saat bicara “Saya nggak percaya mereka benar-benar mencintai saya.”
Mata dan suaramu menjelaskan lebih banyak dari yang bisa dijelaskan oleh kata-katamu.

Hey kamu! Yang suka senyum-senyum sendiri setiap aku bercerita tentang adik-adik kelasku yang mengidolakanmu. Kamu selalu tertawa setiap mengingat tatapan tajam mereka saat kita bersama. Tatapan tajam itu buatku, tahu! Mereka pasti mengutukku karena bisa-bisanya memonopoli idola mereka, di depan mata mereka, saat mereka sedang stres mengerjakan ujian.
Coba bayangkan kalau kau memegang kepalaku, seperti yang biasa kau lakukan, saat itu di hadapan mereka. Para penggemarmu itu pasti akan langsung kehilangan konsentrasi ujian dan melempariku dengan pulpen tajam. Jangan tertawa ah! yang dilempari itu kan bukan kau, tapi aku!


Hey kamu! Yang digilai banyak perempuan.
Dari mahasiswa sampai yang manager. Yang muda sampai yang dewasa. Yang mungil sampai yang tinggi. Yang langsing sampai yang berisi. Yang lembut sampai yang tegas.
Masa nggak ada satupun dari mereka yang bisa meluluhkan hatimu sih?
Apa standarmu terlampau tinggi sehingga nggak ada yang bisa meraih hatimu?
Tidak adakah yang bisa menyembuhkan sakitmu? Tidak juga aku?

Hey kamu! Yang sering datang ke ruang kerjaku selepas jam kantor. Yang sering meledek preferensi musik K-Pop & J-Pop ku. Yang sering membawakan martabak telor kesukaanku.  Apa kamu benar-benar merasa bahagia menjadi seperti sekarang ini?

Sabtu, 21 Januari 2012

IRONI

Yang satu, lagi praktikum farmasetika. Yang lain, lagi memantau validasi proses.

Yang satu, lagi uji disolusi. Yang satu lagi, review laporan uji disolusi terbanding.

Yang satu, mahasiswa. Yang satu, Plant Director.

Yang satu meeting kurikulum. Yang satu lagi meeting Weekly Schedule.

Yang satu, lagi pusing menghadapi kertas ujian.
Yang satu lagi, pusing menghadapi kertas Failure Investigation Report.

Yang satu, galau penelitian. Yang satu lagi, galau Audit.

Yang satu, hobi makan kepiting. Yang satu lagi, syok anafilaksis tiap makan seafood.

Yang satu mendengarkan New Kid On The Block. Yang satu lagi mendengarkan Super Junior.

Yang satu, nonton Gone With The Wind. Yang satu, nonton Harry Potter.

Yang satu, main sama keponakannya yg berumur 2 tahun.
Yang satu, nemenin keponakannya yang berumur 20 tahun main bilyar.

Yang satu ulang tahun ke 14. Yang satu lagi ulang tahun ke 41.



But there is one thing that never logic

Minggu, 04 Desember 2011

SANG CENAYANG



            Ibu sayang,
           Ibu pasti cenayang deh. Aku sudah sadar dari dulu bahwa Ibu adalah cenayang. Selama ini aku cuma nggak mau percaya, berusaha mengabaikan semua fakta yang nyata itu.
Karena sekarang aku sudah percaya bahwa Ibu memang cenayang, aku tahu bahwa Ibu juga tahu bahwa aku pernah sangat marah sama Ibu. Ingat setahun yang lalu, 10 Oktober 2010, waktu lelaki itu akhirnya menikahi gadis lain? Waktu itu Ibu pasti merasakan bahwa aku sempat marah sama Ibu kan? Bagaimana mungkin aku nggak marah, Ibu selalu berpura-pura nggak tahu bahwa kami saling mencintai sejak sepuluh tahun lalu. Ibu selalu bilang bahwa aku masih harus menyelesaikan sekolah setiap kali lelaki itu bilang menginginkanku. Setelah aku selesai kuliah, Ibu mengganti strategi dengan selalu mengalihkan pembicaraan setiap kali lelaki itu mulai pembicaraan tentang aku. Akhirnya aku nggak bisa menyalahkan lelaki itu waktu akhirnya dia menyerah terhadapku dan memulai dengan gadis lain. Hubungan kami kayaknya memang cuma seperti roda: kadang di bawah, dan akhirnya nggak pernah sampai di atas, karena hubungan kami seperti roda mobil yang mogok. Berhenti. Nggak pernah sampai kemana-mana. Dan akhirnya kami dengan kesepakatan-tak-terkatakan memutuskan untuk mengambil jalan masing-masing. Menyelesaikan sesuatu. Yang bahkan nggak pernah dimulai.
Waktu itu aku sempat marah sama Ibu. Tapi kemudian aku mengingat-ingat lagi masa lalu kita. Ini bukan pertama kalinya Ibu melarangku melakukan sesuatu. Dulu Ibu juga pernah mati-matian melarangku kuliah di Unpad (Universitas Padjajaran) kan, cuma karena nggak mau aku tinggal jauh dari Ibu. Padahal waktu itu aku sama sekali nggak yakin bisa masuk UI, dan pilihan yang paling mungkin bagiku saat itu cuma Unpad. Tapi demi Ibu, akhirnya aku nekat milih UI. Dan akhirnya, meski hasil try-out SPMBku nggak pernah menembus standar UI, saat SPMB sungguhan, aku justru diterima di UI. Saat itu aku bersyukur karena Ibu berkeras melarangku memilih Unpad.
Ibu ingat juga waktu Ibu lagi-lagi melarangku melanjutkan sekolah ke Chiba University? Waktu itu aku juga marah. Tapi setahun kemudian ada berita tentang gempa dan tsunami di Jepang, dan Chiba adalah salah satu kota yang terkena dampaknya. Lagi-lagi, saat itu aku bersyukur karena Ibu melarangku kuliah disana.
Tuh kan, Ibu cenayang banget deh. Ibu selalu tahu apa yang akan terjadi padaku. Larangan Ibu selalu tepat. Ibu keukeuh mengelak bahwa Ibu memang punya kekuatan cenayang. Ibu bilang, itu namanya “insting keibuan”. Well, mungkin juga begitu. Ibu selalu pakai kata-kata sakti: “Nanti kalau kamu punya anak, kamu pasti bisa merasakan juga yang Ibu rasakan sekarang.”
Sekarang, setahun setelah lelaki itu menikahi perempuan lain, aku masih belum bisa mensyukuri larangan Ibu. Tapi aku percaya, suatu saat nanti aku pasti akan menemukan alasan yang bikin aku mensyukuri larangan Ibu untuk nggak bersama laki-laki itu. Iya kan Bu? Ibu pasti udah merasakan bahwa dia bukan yang terbaik buat aku kan? Karena Ibu adalah cenayang kan?
Orang bilang, omong kosong itu kata-kata: “Mencintai tidak harus memiliki.” Tapi bagiku, itu bukan bualan, Ibu sayang. Belakangan ini aku sudah sampai pada satu kesimpulan bahwa  nggak ada gunanya memiliki, jika cinta itu akan menyakiti orang lain yang juga mencintai aku. Karena cinta harus memilih, dan kadang pilihan-pilihan yang ada bukanlah sesuatu yang bisa dipilih dengan mudah. Apalagi kalau pilihan itu adalah antara lelaki yang aku cintai dengan Ibu tersayangku. Jangan suruh aku milih, Bu. Ibu tahu bahwa aku akan selalu memilih Ibu. Orang bilang, cinta akan selalu menemukan jalannya. Tapi karena kami nggak pernah bisa menemukan jalan kemana-mana, jadi akhirnya aku cuma bisa menghibur diri dengan berpikir bahwa dia bukan “the love of my life”.
Orang-orang datang dan pergi dalam hidupku. Beberapa orang membekas di hati terlalu dalam. Dan dari sedikit orang itu, ada orang-orang yang hatinya saling terkait denganku. Dan seperti semua ikatan, ada yang ikatan yang selamanya tidak bisa lepas, seperti ikatan darah. Ada ikatan yang sejak awal nggak pernah berarti apa-apa. Dan ada ikatan yang meski aku ingin mempertahankannya, tapi aku tahu aku harus melepaskannya. Karena melepaskan sangat menyakitkan, tapi mempertahankan akan lebih menggiriskan. Ibu pasti tahu apa maksudnya kan?
Kalau Ibu tanya, apa aku menyesali keputusanku untuk memilih Ibu, aku akan jawab “nggak”. Bahkan setelah lewat setahun, hatiku masih terus merasa sakit, Bu. Ibu pasti tahu rasanya kan? Tapi aku nggak pernah menyesal sudah menuruti larangan Ibu. Aku juga nggak menganggap keputusanku sebagai perngorbanan kok Bu. Bukan! Kata semulia “pengorbanan” cuma layak disandingkan pada jasa-jasa tanpa pamrih Ibu terhadapku. Sombong banget kalau aku mikir bahwa dengan memilih Ibu ketimbang lelaki itu adalah sebuah pengorbanan. Itu hanya bakti yang sudah selayaknya aku lakukan demi Ibu yang sudah membahagiakanku sejak kecil. Penderitaan kecil hatiku nggak akan sebanding dengan kebahagiaan Ibu.

Ibu sayang,
Kalau nanti Ibu sudah menemukan lelaki yang membuat Ibu merasa bahagia kalau melihatku bersamanya, kasih tahu aku ya Bu. Aku percaya sama Ibu. Entah itu karena Ibu adalah cenayang, atau karena itu “naluri keibuan”, aku pasti percaya sama Ibu. Hanya dengan orang yang bisa membuat Ibu bahagia, aku akan bersamanya. Karena Ibu pasti tahu yang paling baik buatku kan? Karena cintanya Ibu buatku adalah perpanjangan cinta dari Rabb Yang Maha Rahim di bumi ini kan?

Ibu sayang,
Jangan berhenti jadi cenayangku ya Bu J



Dari klien setia Sang Cenayang Hebat




Senin, 21 November 2011

You Jump, I Jump : WORDISME

Bahwa sesungguhnya menulis bukan hanya sekedar merangkai kata menjadi kalimat. Menulis itu membuat hal-hal yang tersirat menjadi tersurat, berkata tanpa perlu berkata-kata, menyampaikan ide tanpa menjadi sok tahu, menginspirasi tanpa menggurui, curhat tanpa terlihat berkeluh kesah, menyentuh tanpa harus menyentuh. Menulis juga berarti mengabadikan pikiran, membekukan kenangan dan membuktikan bahwa kita pernah ada.
Dan betapa suatu tulisan bisa begitu mempengaruhi kehidupan seseorang. Karena teriakan belum tentu akan didengar semua orang, tapi tulisan mungkin bisa menyampaikan kata dengan lebih baik.
Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sebanyak-banyak manusia lain, maka manfaat apakah yang bisa diberikan seorang mahasiswa kepada masyarakat? Mungkin menulis adalah salah satu caranya. Karena kata bisa lebih tajam daripada pedang, dan bisa menyentuh lebih halus daripada sutera. Itu mengapa saya ingin terus menulis.


Cuma itu aja kata-kata yang saya kirim untuk mendaftar acara WORDISME yang digagas oleh mbak Alberthiene Endah. Saat itu saya nggak menyangka, atau lebih tepatnya nggak terlalu banyak berharap, tulisan saya itu akan cukup bagus untuk bisa dipilih oleh mbak Alberthiene dan mas Chiko. Jadi waktu akhirnya pada tgl 31 Oktober saya dikirimi email oleh mas Chiko yang bertuliskan “SELAMAT!! KAMU TERPILIH MENJADI SALAH SATU PESERTA WORDISME”, saya langsung mikir “Ini bukan April Mop kan?”. Jangan ketawa! Saya tahu saya tolol banget, kan jelas-jelas itu “Haloween Day”, bukan “April Mop”. Geblek to the max deh :p
Kekagetan saya masih berlanjut saat mas Chiko mengirim undangan acara tersebut. Pembicaranya itu lho ... SUBHANALLAH banget. Saya jadi makin excited sekaligus nervous. Mengingat para pembicaranya keren-keren banget, saya langsung menyimpulkan bahwa acara ini bukan acara sembarangan. Dan pastinya pesertanya bukan orang sembarangan pula. Dan diantara segala yang keren-keren itu, siapalah saya yang cuma seorang mahasiswa yang sedang belajar menulis ini. Jadilah saya makin gugup.
Hingga tibalah waktunya tanggal 19 November itu, kemarin Sabtu. Berhubung saya ini “anak-nggak-gaul-Jakarta”, jadilah saya sengaja berangkat pagi-pagi sekali, demi mengantisipasi kalau nanti saya nyasar. Begitu sampai di tempat acara dan registrasi, saya langsung ketemu mas Chiko. Oke, nggak ketemu sih sebenarnya. Saya cuma registrasi tepat di depan mas Chiko. Perasaan saya tercabik antara mau ngajak kenalan, atau nggak (saya kan anak pemalu). Dan perasaan saya terus tercabik-cabik sepanjang acara. Itu pembicaranya kok ndilalahnya ya semua orang yang twitternya saya follow lho. Semua orang yang kata-katanya selalu berhasil bikin saya ketawa, mengerutkan dahi sampai terharu. Mahfumlah saya akhirnya mengapa acara ini dinamakan WORDISME. Karena semua orang yang berada di sekeliling saya saat itu, terutama para pembicaranya, (termasuk pesertanya juga sih) adalah para pecinta kata. Orang-orang yang menggunakan kata-kata sebagai jalan hidup untuk menghibur, menginspirasi, menyentuh dan memberi. Itulah yang membuat saya dilema sepanjang acara, apakah saya akan berani menyapa mereka dan bilang: “Mas/ mbak, saya Nia. Selama ini selalu jadi penikmat kata-kata mbak/ mas di twitter lho.”
Dan inilah orang-orang yang bertanggung jawab atas kegalauan saya seharian itu: mbak Alberthiene Endah, mas Chiko Handoyo, mas Mayong, mas Alexander Thian, bang Raditya Dika, mbak Clara Ng, mbak Windy Ariestanty, mas Salman Aristo, mas Aditya Gumay, mbak Miund (ini bukan nama asli kan ya?), mbak Artasya, mas Hilbram Dunar. Eh, pengen juga sih sebenernya ketemu kak Rahne, tapi kak Rahnenya nggak dateng. Tapi intinya, meski saya sudah bergalau-galau ria seharian, lagi-lagi karena ketololan dan saking pemalunya saya, sampai acara berakhir, saya nggak berani menegur satupun orang-orang hebat itu lho. Ihiks. #jedot-jedotin-kepala.
Oke, move on dari cerita galau.
Menghitung adalah keahlian saya. Maka begitu masuk ke ruang acara, secara otomatis mata saya segera men-scan seluruh ruangan. Enam jalur kursi di sebelah kiri, lima jalur di tengah dan tujuh jalur di sebelah kanan. Delapan belas baris ke belakang. Dengan cepat saya menghitung bahwa akan ada sekitar 325 orang yang akan memenuhi aula itu. Wow! Untuk sebuah workshop yang diselenggarakan gratis, 325 peserta dengan goody-bag yang superheboh isinya itu, membuat saya mengucap SUBHANALLAH lagi. Mbak AE seperti sukses besar menggandeng begitu banyak sponsor untuk acara ini. #tepok-tangan J
Menghadirkan Gramedia dan Gagas Media di satu workshop, menggandeng Chic dan Femina di saat yang sama ... kemarin itu adalah momen bertabur para penulis hebat. Dan bukan hanya penulis, kemarin ternyata banyak peserta yang berasal dari media penerbitan dan broadcast. Di sana, saya benar-benar cuma seekor teri di lautan yang luas dan dalam. Orang-orang bicara tentang tulisan-tulisan mereka, tentang ide, impian dan dunia-penuh-kata. Betapa saya benar-benar cuma penulis diary yang tulisannya belum bisa menggugah begitu banyak orang. Dan betapa saya ingin seperti mereka yang hanya dengan kata bisa mengubah hidup dan pikiran orang-orang.
Dan rasanya kata-kata indah dan penuh ilmu memenuhi aula lt.7 gedung Gramedia Kompas kemarin. Saya pernah belajar menulis kepada dua orang penulis keren sebelumnya. Mbak Windry Ramadhina adalah guru pertama saya. Mbak Ari (Kinoysan) Wulandari yang kedua. Dan kemarin saya bisa bertemu begitu banyak guru keren dalam satu kelas. Rasanya tuh ibarat seorang murid yang di-tutor oleh banyak guru menjelang UAN. Exciting banget!
Berikut adalah beberapa materi pelajaran yang sudah saya kumpulkan dari guru-guru saya itu:
1.      Mbak Clara Ng bilang, menulis adalah kemampuan berbahasa yang tertinggi. Untuk mencapainya, kita harus banyak membaca terlebih dahulu. Mbak Ari juga pernah mengajarkan hal serupa pada saya. Kalau kita mau menulis satu buku, kita harus membaca sedikitnya 100 buku sebelumnya. Sama seperti kita mau nulis satu tesis, kita harus sudah membaca 100 jurnal sebelumnya (pecahkan kaca supaya nggak dikira lagi ngomong sama diri sendiri).
2.      Kata mbak Clara Ng juga bilang bahwa menanyakan bagaimana caranya mendapatkan ide kepada seorang penulis sama saja seperti menanyakan bagaimana caranya berlari kepada seorang pelari. Ide itu ada dimana saja, selalu ada di sekitar kita, asalkan kita menajamkan hati. Kita hanya perlu memilih, mana ide-ide yang bisa dikembangkan. Kalo kata mbak Ari, tidak seharusnya penulis kehabisan ide. Yang harus kita lakukan adalah mendahului tulisan. Selalu catat ide sekecil apapun yang melintas di pikiranmu. Suatu saat kelak, ide kecil itu pasti bisa jadi ide besar. Sama nih kayak kata mbak Petty yang bilang bahwa kita harus segera menulis saat ingin menulis, jangan ditunda.
3.      Kata mbak Clara (lagi), kenalilah diri kita sendiri sebelum menulis. Tulislah apa yang kita suka, apa yang kita rasa. Setelah itu, baru kenalilah media yang akan kita tuju. Carilah media yang sesuai dengan tulisan kita. Kalau sejak awal kita hanya berfokus pada media, tulisan kita nggak punya ciri dan jiwa #eeaaaa.
4.      Kata mbak Alberthiene, menulis bukan hanya merangkai kata, tapi juga meneropong hati dan menerjemahkan rasa itu dalam bentuk kata. Penulis seharusnya bisa mengkonfigurasi perasaan-perasaan (kalimat “konfigurasi perasaan” ini terdengar sangat sesuatu bagi saya lho mbak J ) di sekitarnya, lalu menuliskannya. Karena hanya sesuatu yang ditulis dari hati yang bisa sampai ke hati pembaca.
5.      Mbak Hetih bilang, semua cerita di dunia ini sudah pernah diceritakan. Kisah cinta macam apa yang belum pernah diceritakan di dunia ini? Hanya kita yang perlu menulisnya lagi dengan cara yang berbeda. Kalo kata bang Raditya Dika mah, “It’s not about what you say, but how you say it”. Ciyeee banget deh bang Dika :p
6.      Mbak Hetih dan mbak Windy Ariestanty bilang, tulisan seseorang bisa dinilai dari halaman pertamanya. Maka kita harus membuat tulisan pembuka menjadi semenarik mungkin. Buat plot yang menarik dan karakter yang kuat. Nasehat ini persis sama seperti yang diajarkan mbak Windry Ramadhina kepada saya, saat saya pertama kali belajar menulis kepada beliau.
7.      Kalau kata mbak Djenar Maesa Ayu, menulis itu adalah kebutuhan. Kata mas Salman Aristo, menulis itu pekerjaan yg tiap detik kita pikirkan. Dan tepatlah begitu. Karena saya bertemu dengan seorang teman yang mengatakan bahwa menulis membuatnya tetap waras dan tidak jadi bunuh diri.
8.      Dan terakhir, kata-kata yang kemarin bikin saya terpesona banget justru datang dari orang yang nggak saya harapkan. Melihat kelakukannya yang konyol, saya nggak menyangka kata-kata sebijak itu datang darinya. Bang Dika bilang: “Jangan hanya menulis saat good-mood. Teruslah menulis bahkan saat bad-mood, minimal 1 halaman. Tulisan lo pasti jelek. Kalau sebulan lo bad-mood terus, maka lo sudah akan menghasilkan 30 halaman tulisan jelek. Saat mood lo oke, 30 halaman tulisan jelek itu akan jadi 30 halaman tulisan bagus.” Uhuy banget bang Dika. Persis seperti kata mbak Ari, biasakan menulis apapun setiap hari.

Jadi ternyata meski antar penulis memiliki gaya yang berbeda-beda, ternyata mereka semua punya satu kesamaan ya. Mereka adalah para pecinta kata, yang tetap berkata dalam keadaan apapun. Yang tetap berkarya tanpa peduli mood. Yang menjadikan diri menjadi sponge yang selalu menyerap semua ide di sekitarnya, menyerap semua rasa, dan menerjemahkannya dalam kata.

Selain ilmu-ilmu yang Subhanallah banget, di acara itulah juga saya bertemu teman-teman baru: mbak Pipit, Dyah, mbak Ayu dan mbak Nadia. Ketemu anak UGM, Unpad dan UI. Terjebak dilema busway-mogok-gara2-belum-ngisi-BBG (gara-gara itu saya jadi lebih tahu Jakarta, bukan sekedar Duren Sawit-Depok doang). Mendengar nasehat tentang dunia kuliah dan kerja. Dan bahwa semua orang punya masalah masing-masing, yang hanya kita sendiri yang bisa memutuskan untuk berhenti atau terus maju. Ketemu orang-orang yang berjuang dengan kata, terinspirasi oleh kata dan menyembuhkan diri dengan kata. Dan saya menjadi terhubung dengan orang-orang yang mencintai kata.
WORDISME! WORD.IS.ME!

Tulisan ini saya dedikasikan untuk:
    1. Ambar Mirantini, yang udah suggest sayau/ follow twitter mbak Alberthiene dan yang pertama kali ngasih tahu saya ttg acara WORDISME ini, tapi malah nggak bisa ikutan. Aku berhutang ilmu padamu, teman. Jadi aku share disini ya J
    2. Mbak Alberthiene, yang sudah menggagas acara ini, memberikan kesempatan bagi “penulis diary” amatir seperti saya ini untuk belajar menulis. Makasih ya mbak J. Makasih juga buat mas Chiko (yang bikin galau krn ga bisa menyapa, hehe) dan kru-kru yang lain yang sudah membuat acara ini terwujud. Juga buat kak Rahne yang kata-katanya seringkali menggelitik dan menginspirasi.
    3. Semua mbak dan mas pembicara yang sudah membagikan ilmunya yang luar biasa. InsyaAllah ilmu yang bermanfaat, pahalanya nggak akan terputus. Betapa beruntungnya saya bisa bertemu guru-guru yang luar biasa seperti mbak dan mas.
    4. Buat mbak Deva, yang punya mimpi yang sama dgn saya. Mari kita jadi penulis dan menginspirasi banyak orang!
    5. Buat Diny (semoga ilmu ini bermanfaat juga untuk dirimu menulis brosur/ packing insert produk obatnya) dan Baitha (inget Bay, kalau mau nulis satu tesis, harus baca 100 jurnal dulu #GamparDiriSendiri, hehehe)
    6. Buat temen-temen baru: Dyah, mbak Pipit, mbak Nadia dan mbak Ayu. Ayo kita semangat menulis!!!! Semoga kita bisa ketemuan lagi ya di acara WORDISME berikutnya. Aamiin ya Rabb J
    7. Dan yang terutama, kepada Rabb yang Maha Rahim, terima kasih sudah mengijinkan orang-orang baik itu membagikan ilmu kepada anak bodoh ini. Semoga Engkau memudahkan mereka mengadakan acara ini lagi, sehingga makin banyak orang yang bisa belajar menulis dan menjadi orang yang bermanfaat bagi lebih banyak orang. Bukankah di mataMu, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sebanyak-banyak umat?


Btw, kemarin tuh kayaknya saya salah kostum deh, jadi kelihatan lebih tua. Orang-orang kok tampak ragu ya setiap kali saya bilang bahwa saya ini mahasiswa semester 3?