Luna Lovegood inside. Noda Megumi outside.

Kamis, 29 Maret 2012

CHARLA dan CHANDRA


“Mau makan apa?”

Charla membolak-balik buku menu yang ada di hadapannya. Di hadapannya, seorang pemuda yang memakai seragam SMU seperti dirinya sedang melakukan hal yang sama.

“Mau makan apa, Chandra?!” gadis itu bertanya sekali lagi. Dengan nada kesal, ia memaksa pemuda di hadapannya segera mengambil keputusan.

Seorang gadis lain berdiri di samping meja mereka. Menunggu sambil mengetuk-ngetukkan tumit sepatunya. Suara ketukan sepatu itu membuat Charla merasa tidak nyaman.

“Ayam goreng mentega, satu. Es teh tawar, satu, Mbak,” kata Charla akhirnya.

Chandra mengalihkan matanya dari buku menu dan menatap Charla. Gadis itu membalas dengan tatapan membunuh.

“Jadi, nasi goreng seafood satu, ayam goreng mentega satu, es teh tawar dua?” gadis yang berdiri di samping meja mereka mengulang pesanan Charla.

Charla mengangguk dan tersenyum. “Makasih ya Mbak.”

Ketika si gadis berseragam kafe itu pergi, Charla melihat pemuda di hadapannya memelototinya.

“”Apa lo?!” Charla balas memelototi. “Berlama-lama milih menu, toh setiap kesini lu akhirnya makan ayam goreng mentega juga!”

“Hari ini gue pengen makan yang lain!” Chandra protes, kesal.

“Lain kali cepat putuskan!” Charla balas mengancam, sambil memelototi Chandra dan mencibirkan bibirnya.



*                 *                *





Charla memasukkan segenggam popcorn ke mulutnya. Dia melirik jam digital yang tertera di ponselnya. Jam 12.20. Lalu mengambil dua tiket XXI dari kantong celana jeansnya. Harry Potter and The Half-Blood Prince. Tertera jam 12.30 disana.

Charla menghela nafas. Ini bukan kali pertama baginya. Tapi entah kenapa dia tetap bisa merasa kesal. Pintu teater dua sudah dibuka, begitu yang didengarnya dari pengumuman lima menit yang lalu. Jadi tidak ada alasan baginya untuk tidak masuk. Dia akan masuk sekarang! Dengan atau tanpa makhluk brengsek itu.

Kau tahu pepatahnya? Saat kau sudah benar-benar tidak berharap, yang kau harapkan justru akan datang. Sepuluh detik sebelum lampu teater dua diredupkan dan film dimulai, seseorang duduk mengisi kursi kosong di sebelah kursi Charla.

“Sori, La. Gue ketiduran. Tadi malam begadang. Besok pretest Kardiovaskular ...”

Lalu lampu padam dan film dimulai. Charla tidak mau mendengar apa-apa lagi dari mulut sahabat kecilnya itu. Dia hanya diam.

Sekilas tadi sebelum lampu diredupkan, Charla sempat mengerling buku yang ada di tangan Chandra. Semacam buku kedokteran yang super tebal. Sementara di dalam tas Charla bersemayam buku Sang Alkemis Paulo Coelho.

Charla tahu, dua kutub selalu berseberangan.



*                 *                *



“Dua bulan lagi,” kata Chandra. Wajahnya berselimut senyum.

“John Hopkins? US?”

“Yeah! Cool, eh?”

Charla membalas dengan senyum yang dipaksakan. Dia ingin Chandra melihatnya merasa ikut gembira atas kegembiraan lelaki itu.

“Dan berapa tahun tepatnya lo disana?”

Chandra mengangkat bahu, masih sambil tersenyum. “Dua tahun, paling singkat. Beruntung kalau gue bisa memperpanjang beasiswanya.”

Charla sama sekali tidak merasa beruntung. Berapa lama lagi waktu yang harus dihabiskannya untuk menunggu?



*                 *                *



“Dokter Chandra Wijaya, Anda harus mengosongkan jadwal Anda untuk datang pada acara launching novel ketiga saya! Dua novel sudah terlewat saat Anda kuliah di John Hopkins. No excuse anymore!” Charla bicara dengan nada mengancam kepada ponselnya.

Ia mendengar suara tawa yang menggelegar dari seberang telponnya. Suara tawa yang tetap selalu membuatnya berdebar-debar, bahkan setelah bertahun-tahun.

I’ll be there, tante novelis! Janji!” kata suara di ponselnya.

Charla tersenyum.







Charla sudah menandatangani hampir 100 buku novel ketiganya ketika ia melirik untuk ke seratus kalinya ke arah pintu masuk toko buku di mall itu. Tapi wajah yang dicarinya tidak muncul juga.

Ponselnya bergetar. Dia menyambarnya dengan cepat. Saat itu juga dia tahu bahwa dia tidak seharusnya membaca pesan singkat itu.

Sori, gue nggak bisa dateng, Charla. Operasi. Emergency. Gue jemput lo setelah operasi selesai. Sori.

Ini bukan yang pertama kali bagi Charla. Menunggu Chandra. Tapi dia akan membuatnya menjadi yang terakhir.

No more excuse, gumam Charla sambil melempar ponselnya ke dalam tas.

Charla menerima buku ke-101, lalu memaksakan senyum kepada seorang lelaki di hadapannya yang mengulurkan buku itu.

“Makasih sudah membeli buku saya, Mas. Maaf, nama Mas siapa?”

Charla sudah siap menuliskan nama lelaki itu di bawah tanda tangan yang sudah dibubuhkannya di lembar pertama novel itu.

“Causa,” lelaki bermata cokelat itu menjawab.

Charla terpana. Tangannya terdiam, lima milimeter di atas lembaran kertas.

“Causa Major. Itu nama saya,” lelaki itu mengulangi, sambil tersenyum.

Charla balas tersenyum.

Seolah seluruh alam menjawab pertanyaannya. Selalu ada alasan bagi semua kejadian.

*                 *                *



Happy birthday, dokter Chandra Wijaya! Semoga makin sukses ya!”

Gadis itu berdiri di depan ruang praktek Chandra, membawa seloyang tiramisu kesukaan Chandra. Dengan wajah sumringah dia masuk dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun.

Chandra merengut melihat lilin bertuliskan angka 32 di atas tiramisu itu.  Tapi toh dia tersenyum juga melihat gadis berambut ikal itu bernyanyi dengan suara sumbangnya. Orang bilang, seseorang tidak mungkin menguasai segalanya. Contohnya gadis di hadapannya: penulis best seller, tapi dijamin gagal jika ingin mencoba menjadi penyanyi.

Chandra meniup lilin itu ketika sampai di hadapannya. Lalu dia memotong kue ulang tahunnya. First cake-nya selalu untuk Charla selama bertahun-tahun, karena gadis itulah yang selalu membawakan kue ulang tahunnya.

“Oiya, di hari bahagia lo ini, gue juga punya kabar gembira,” kata Charla, sumringah, sambil memakan tiramisu pemberian Chandra.

Charla mengeluarkan selembar undangan dan memberikannya kepada Chandra.

“Undangan launching novel keempat lo?” terka Chandra, “Kali ini gue pasti datang!”

Charla tersenyum, membiarkan Chandra membuka undangan itu dan membacanya.

Orang bilang, seseorang tidak mungkin menguasai segalanya. Contohnya adalah Chandra: dia boleh saja dokter onkologi lulusan John Hopkins, tapi dia sangat buruk dalam berakting. Dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Wajahnya berubah seketika ketika membaca undangan itu.

“Yeah, lo harus datang! Nggak boleh nggak! Masa ke pernikahan sahabat lo sendiripun lo nggak bisa datang?! Ambil cuti sekarang juga! Bulan depan lo harus jadi saksi di pernikahan gue!” kata Charla, sumringah,tidak menyadari perubahan wajah Chandra.



*                 *                *





“Ganteng banget sih!” puji Charla sepenuh hati, melihat Chandra dengan tuksedonya berdiri di depan cermin. “Kalau nggak ingat bahwa lo adalah saksi nikah gue, gue kawinin juga lo!” canda Charla, terkekeh.

Chandra terkesiap. Kerongkongannya kering seketika. Tapi dia memaksa diri bersuara.

“Kalau gitu, kenapa lo nggak kawin sama gue aja, Charla?” kata Chandra, mencoba bicara dengan nada bergurau. Dan meski Chandra jenius di bidang kedokteran, dia idiot dalam hal berpura-pura.

Charla tertawa. “Lo terlalu lama sih.”

Chandra terdiam di depan cermin.

Charla berdiri di sisi Chandra, menghadap cermin yang sama. Menepuk bahunya, dan bicara padanya sambil menatap bayangannya dari cermin itu.

“Kalau dari Kampung Melayu mau ke Grogol, gue bisa naik bis 213,Chan. Tapi karena bisnya nggak datang-datang, mending gue naik bis TransJakarta deh. Jadi lebih berliku-liku sih, tapi gue jadi lihat lebih banyak pemandangan,” kata Charla sambil menggamit tangannya.

Chandra terpaku.

Lalu sekonyong-konyong ada suara di balik punggungnya.

“Kalau Charla nggak pernah cerita tentang kamu, saya bakal mikir bahwa kamu adalah selingkuhannya Charla.”

Seseorang masuk dari balik pintu dan mengagetkan keterpanaan Chandra. Seorang lelaki bertubuh kurus dan agak membungkuk. Wajahnya kalem dan santai.

Charla menyambut lelaki itu dengan kalem. “Trus kamu bakal membatalkan rencana pernikahan kita yang tinggal tiga minggu lagi?”

“Itu sih maunya kamu!” ledek lelaki itu.

Charla membalasnya dengan tawa.

Lelaki itu berjalan mendekati Chandra, lalu mengulurkan tangannya.

“Kamu pasti dokter Chandra Wijaya, yang sering diceritakan Charla. Sahabat terbaik Charla sejak kecil,” kata lelaki itu. “Makasih ya sudah bersedia menjadi saksi pernikahan kami.”

Chandra menjabat tangan lelaki itu. Sambil tersenyum pahit.

“Charla bahkan belum pernah cerita apa-apa tentang kamu,” kata Chandra. “Dia tiba-tiba datang membawa undangan pernikahan kalian. Kapan sih kalian ketemu?”

Lelaki itu tersenyum. Senyum yang mencapai matanya yang cokelat. Dan Chandra melihat Charla membalas senyum itu dengan tatapan yang sama lembutnya. Dia belum pernah melihat tatapan Charla yang seperti itu. Atau ... oh, mungkin saja pernah, tapi dia melewatkannya begitu saja.

“Lima bulan lalu. Di acara launching novelmu ya Charla Mandasari?” kata lelaki itu.

“Ingatan yang bagus, Causa Major!” Charla menggamit lengan lelaki itu.

Chandra merasa perlu melakukan euthanasia kepada dirinya sendiri saat itu juga.


Senin, 23 Januari 2012

LOVE WHAT YOU DO, DO WHAT YOU LOVE


Benar adanya quote yang mengatakan your career is not always your job, your job is not your career. Berapa banyak orang yang mengerjakan hal-hal yang tidak disukainya, atau orang-orang yang tidak mencintai apa yang dikerjakannya?

Berapa banyak orang yang bekerja di tempat yang tidak sesuai idealisme dan kata hatinya, hanya karena mengharap pensiun? Hanya karena mengharap kepastian hidup. Padahal, pernah nggak sih hidup itu menjadi sesuatu yang pasti? Satu-satunya yang pasti dalam hidup kan adalah ketidakpastian itu sendiri? Maka nggak heran kalau kemudian kualitas kerja mereka hanya sebaik apa mereka dibayar, karena toh meski mereka rajin atau malas, kenaikan gajinya akan sama saja. Maka nggak heran kalau begitu banyak instasi pelayanan publik yang terbengkalai karena banyak pekerja yang bermental demikian.

Berapa banyak orang yang memilih pekerjaan karena pekerjaan itu terlihat prestigious, bukan karena suka mengerjakannya? Berapa banyak peneliti yang meneliti hanya demi kenaikan pangkat, bukan karena benar-benar suka meneliti? Berapa banyak orang yang menjadi guru, tapi tidak benar-benar suka mengajar? Hanya karena menganggap pekerjaan itu bergengsi. Atau agar bisa memunjukkan superioritasnya sebagai guru? No wonder kalau banyak murid yang nggak suka belajar, lha wong gurunya juga nggak benar-benar suka mengajar kok.

Berapa banyak orang yang kemudian kecewa karena suatu yang tampak bergengsi dari luar, ternyata tidak sehebat itu? Atau karena gengsi itu kemudian tidak bisa membuat kita bahagia. Karena kekecewaan datang dari pengharapan yang terlalu besar. Padahal kalau kita bekerja karena kita menyukainya, tidak ada hal yang bisa mengecewakan kita karena yang kita harapkan hanya mengerjakan yang kita sukai kan?

Berapa banyak orang yang memilih pekerjaan karena pekerjaan itu adalah pekerjaan turun-temurun keluarganya? Berapa banyak anak-anak yang ingin menjadi penulis, tapi dipaksa untuk menjadi dokter karena hampir seluruh keluarganya adalah dokter? Jadi berapa banyak dokter yang benar-benar mengobati dengan tulus? Terkadang mereka memilih kuliah di Kedokteran juga bukan karena alasan mulia demi menyelamatkan umat manusia ... kadang hanya karena mereka ingin kuliah di fakultas bergengsi.
Berapa banyak anak-anak yang ingin jadi pelukis, tapi dipaksa kuliah Ekonomi karena dia akan mewarisi perusahaan ayahnya?

Berapa banyak orang yang memilih pekerjaan karena pekerjaan itu menawarkan penghasilan tinggi, bukan karena benar-benar cinta mengerjakannya? Berapa banyak orang yang berlomba-lomba ingin jadi pejabat, meski dirinya sendiri tahu bahwa dia tidak se-qualified itu? Itu mengapa terkadang struktur organisasi seringkali membengkak dengan adanya staf ahli- staf ahli. Mungkin karena pejabat itu sendiri tidak punya keahlian apa-apa sehingga mengandalkan staf ahli sebanyak itu (sotoy banget gue).
Berapa banyak orang-orang yang bekerja di dunia marketing demi mendapat gaji tinggi, sementara passionnya adalah di bidang R&D (research & development)?

Berapa banyak orang yang bekerja hanya untuk menyambung hidup, bukan karena mencintai pekerjaannya? Mereka bilang tidak punya pilihan lain selain mengerjakan pekerjaan yang tidak mereka sukai itu.

Well, yeah,  di dunia bernama realitas ini terkadang pilihan-pilihan yang ada tidak semudah itu untuk dipilih. Kadang kita dihadapkan pada idealisme dan kebutuhan finansial. Kita mungkin harus bersikap realistis juga pada akhirnya. Karena perut harus diisi makanan yang dibeli dengan uang. Dan rumah harus dibangun bermodalkan uang. Dan mahar untuk melamar anak gadis orang juga harus dibeli dengan uang.

Tapi bukan berarti kita tidak bisa kembali mengejar impian kita kan?

Banyak jalan menuju Roma. Dan terkadang kamu harus mengambil jalan memutar untuk bisa kembali lagi ke jalan tujuanmu. Kadang kamu harus mengambil jalan memutar hanya untuk bertemu dengan teman seperjalananmu di tepi jalan itu. Tapi seringkali kita mengambil jalan memutar terlalu jauh sampai kita lupa menemukan lagi jalan impian kita yang sebenarnya.

Hidup selalu menawarkan pilihan. Dan memilih untuk mulai mencintai pekerjaan adalah juga sebuah pilihan. Atau memilih untuk mulai melakukan hal-hal yang kita sukai, membuat hobi menjadi mata pencaharian, juga suatu pilihan. Kita lah yang memilih, apakah ingin memilih atau membiarkan orang lain memilihkan jalan hidup kita.

Orang bilang, hidup terlalu singkat untuk dihabiskan bersama pilihan yang salah. Hidup kita cuma sekali, jadi kenapa harus melakukan hal yang tidak kita sukai? Ambilah jalan memutar ke dunia nyata jika memang perlu, tapi jangan lupa jalan pulang ke impian-impian kita. Dan meski jalan pulang ini ternyata sama berlikunya dengan jalan memutar itu, tapi kita tidak akan pernah jemu melakukan hobi kita sendiri.


Tahun 2008. Saya mengambil jalan memutar itu. Melihat dunia luar, dan mengambil ilmu sebanyak-banyaknya dari dunia nyata. Karena sudut pandang yang baru dan lebih luas mencegah kita agar tidak cupat dan berpikiran sempit.

Tahun 2010. Rabb yang Maha Rahim mengijinkan saya menemukan jalan pulang ke impian-impian saya.

Tahun 2011. Saya memilih untuk mengerjakan hal yang saya sukai. Berusaha menjadi lebih bermanfaat (bukan berarti bisa dimanfaatkan) dan lebih berguna (bukan berarti bisa diguna-guna *lhooo??? Hahaha) bagi lebih banyak orang.

Tahun 2012. Sudahkah kita menemukan jalan pulang kita? Atau kita masih ingin berputar setahun lagi?

Lelaki yang Menitipkan Tulang Rusuknya

Kamu!
Yang menitipkan tulang rusuknya kepadaku.
Kapan mau mengambilnya kembali?

Bagaimana kalau nanti aku lupa
Bahwa kamu yang dulu, sebelum kita dilahirkan, menitipkan tulang rusukmu padaku?
Bagaimana kalau nanti aku lupa
Bahwa dulu, sebelum kita dilahirkan, aku pernah berjanji menjaga tulang rusukmu yang ada padaku?

Kamu!
Yang menitipkan tulang rusuknya kepadaku.
Kok lama banget sih mengambilnya kembali?

Bagaimana kalau aku jadi lupa padamu?
Bagaimana kalau nanti aku salah mengenalimu?
Dan kupikir kamu adalah orang lain?
Lalu aku mengembalikan tulang rusukmu kepada orang lain?

Kamu!
Yang menitipkan tulang rusuknya kepadaku.
Apa sih yang sedang kau lakukan?

Kau merencanakan terlalu banyak hal!
Kau memikirkan terlalu banyak resiko!
Kau mengkhawatirkan terlalu banyak rasa sakit!
Padahal yang aku butuh cuma kedatanganmu.

Kamu!
Yang menitipkan tulang rusuknya kepadaku.
Kau terlalu sibuk mencari kesana-kemari.
Padahal aku disini!

Aku cuma takut
Karena terlalu lama terpisah, tulang rusukmu dan patahan tulang rusukmu yang lain yang kau titipkan padaku tidak lagi bisa beresonansi saat mereka bertemu
Lalu kita tidak lagi bisa merasakan getaran itu di rongga dada kita
Dan saling melupakan janji yang sudah dibuat sebelum roh kita menempati tubuhnya

Kamu!
Yang menitipkan tulang rusuknya kepadaku.
Cepat datang dan jangan berbelit-belit!

Minggu, 22 Januari 2012

Dear Prashand Arya

Dear Prashand Arya,

It’s been 4 years since we first met. I’m sure you still remember the way we know each other, don’t you? There’s no need to recall the story, eh?  It’s funny how a pharmaceutical article can connect us.
You, there, were an PhD Candidate. While I was, here, just an undergraduate student. It’s just because the same field of study in Pharmaceutical Science, two people from India and Indonesia can be connected.

Hey Arya!
Remembering the past, when we talked about your research. Sometimes, comparing your pharmaceutical knowledge and mine. But that all were just the begining. In years after, we prefer talk about life rather than research. About your country and mine. About your culture and mine. Your Indian beverage and my Indonesian food. Your family and also mine. Your life and mine. Your religion and mine.

Hey you, the smart Arya,
You always deliver such an interesting topic to be discussed.  Time always fly too fast everytime we chat.  Around 3 a.m of Indonesia Time and 1 a.m of India Time we usually finish the conversation.  You always make me forget that Monday morning is coming, that I will be back to the hectic reality. Somehow, i think  you’re kinda hypnotic J

It’s not only the words you wrote that hypnotize me ,,, you’re voice hypnotize more than I can take. When, without any clue, you called me at my office, i thought my heart would suddenly stop beating. When you make a phonecall, I even couldnt speak anything. It’s not only caused by limitation of my English. It’s more caused by my limitation to control the nerves which control my tongue. Your voice turns my nerves paralyzed.

Arya,
I don’t really notice, how we go thru that topics. In the middle of all our differencies, why did you start to talk about love? There’s no way of any love between us, you know it. But you insist. You always try to make me believe that it’s possible for us.
I said no! But you said that in your society, love is more important than God.
I said no! And you said that you don’t mind to be a muslim just to be with me. What the ___ ????!!!

Do you know, Arya?
After all disapointing things men caused to me, you’re the first one who make me believe that there’s still good man in this world. Ain’t life an irony? Why the good man should be you, the one who cant be my imam?


Dear Prashand Arya,
Aint life an irony? How should we go thru it? I ask you, love.



inspired by:
Devfanny A.A




Hey Kamu! Si Tinggi Besar!

Hey kamu!
Iya, kamu! Yang sudah berdiam diri terlalu lama.
Kenapa sih nggak mau bergerak? Dunia, dan semua hal di sekitarmu berputar dan bergerak, kenapa kamu masih saja berdiam diri? Apa kamu terlalu takut untuk melangkah?

Hey kamu! Yang tidak pernah bisa melupakan.
Berapa tahun sudah berlalu? Dan kenapa belum juga bisa melupakan rasa sakitnya? Itukah mengapa kamu tidak mau memulai yang baru?

Hey kamu! Yang selalu bilang nggak mau mencoba lagi.
Kenapa? Apa dulu kamu jatuh terlalu dalam? Apa dulu rasanya terlalu sakit? Apa rasa sakitnya belum juga hilang?

Hey kamu! Yang nggak pernah bisa percaya.
Kenapa sih nggak mencoba untuk percaya lagi? Ada banyak orang yang bisa menghianatimu di dunia ini. Tapi orang yang amanah, juga sama banyaknya. Lihatlah dengan hatimu, kau akan menemukannya.

Hey kamu! Tahu, nggak? Berapa banyak orang yang berprasangka padamu? Mereka mempertanyakan pilihanmu. Mereka menduga. Mereka menuduh. Lalu bergunjing. Padahal mereka nggak tahu apa-apa.
Aku? Aku bukannya tidak pernah berprasangka. Tapi aku memilih mengkonfrontirmu langsung, dan menanyakan padamu. Sejak itu aku nggak pernah lupa, sorot matamu dan nada suaramu saat bicara “Saya nggak percaya mereka benar-benar mencintai saya.”
Mata dan suaramu menjelaskan lebih banyak dari yang bisa dijelaskan oleh kata-katamu.

Hey kamu! Yang suka senyum-senyum sendiri setiap aku bercerita tentang adik-adik kelasku yang mengidolakanmu. Kamu selalu tertawa setiap mengingat tatapan tajam mereka saat kita bersama. Tatapan tajam itu buatku, tahu! Mereka pasti mengutukku karena bisa-bisanya memonopoli idola mereka, di depan mata mereka, saat mereka sedang stres mengerjakan ujian.
Coba bayangkan kalau kau memegang kepalaku, seperti yang biasa kau lakukan, saat itu di hadapan mereka. Para penggemarmu itu pasti akan langsung kehilangan konsentrasi ujian dan melempariku dengan pulpen tajam. Jangan tertawa ah! yang dilempari itu kan bukan kau, tapi aku!


Hey kamu! Yang digilai banyak perempuan.
Dari mahasiswa sampai yang manager. Yang muda sampai yang dewasa. Yang mungil sampai yang tinggi. Yang langsing sampai yang berisi. Yang lembut sampai yang tegas.
Masa nggak ada satupun dari mereka yang bisa meluluhkan hatimu sih?
Apa standarmu terlampau tinggi sehingga nggak ada yang bisa meraih hatimu?
Tidak adakah yang bisa menyembuhkan sakitmu? Tidak juga aku?

Hey kamu! Yang sering datang ke ruang kerjaku selepas jam kantor. Yang sering meledek preferensi musik K-Pop & J-Pop ku. Yang sering membawakan martabak telor kesukaanku.  Apa kamu benar-benar merasa bahagia menjadi seperti sekarang ini?

Sabtu, 21 Januari 2012

IRONI

Yang satu, lagi praktikum farmasetika. Yang lain, lagi memantau validasi proses.

Yang satu, lagi uji disolusi. Yang satu lagi, review laporan uji disolusi terbanding.

Yang satu, mahasiswa. Yang satu, Plant Director.

Yang satu meeting kurikulum. Yang satu lagi meeting Weekly Schedule.

Yang satu, lagi pusing menghadapi kertas ujian.
Yang satu lagi, pusing menghadapi kertas Failure Investigation Report.

Yang satu, galau penelitian. Yang satu lagi, galau Audit.

Yang satu, hobi makan kepiting. Yang satu lagi, syok anafilaksis tiap makan seafood.

Yang satu mendengarkan New Kid On The Block. Yang satu lagi mendengarkan Super Junior.

Yang satu, nonton Gone With The Wind. Yang satu, nonton Harry Potter.

Yang satu, main sama keponakannya yg berumur 2 tahun.
Yang satu, nemenin keponakannya yang berumur 20 tahun main bilyar.

Yang satu ulang tahun ke 14. Yang satu lagi ulang tahun ke 41.



But there is one thing that never logic

Minggu, 04 Desember 2011

SANG CENAYANG



            Ibu sayang,
           Ibu pasti cenayang deh. Aku sudah sadar dari dulu bahwa Ibu adalah cenayang. Selama ini aku cuma nggak mau percaya, berusaha mengabaikan semua fakta yang nyata itu.
Karena sekarang aku sudah percaya bahwa Ibu memang cenayang, aku tahu bahwa Ibu juga tahu bahwa aku pernah sangat marah sama Ibu. Ingat setahun yang lalu, 10 Oktober 2010, waktu lelaki itu akhirnya menikahi gadis lain? Waktu itu Ibu pasti merasakan bahwa aku sempat marah sama Ibu kan? Bagaimana mungkin aku nggak marah, Ibu selalu berpura-pura nggak tahu bahwa kami saling mencintai sejak sepuluh tahun lalu. Ibu selalu bilang bahwa aku masih harus menyelesaikan sekolah setiap kali lelaki itu bilang menginginkanku. Setelah aku selesai kuliah, Ibu mengganti strategi dengan selalu mengalihkan pembicaraan setiap kali lelaki itu mulai pembicaraan tentang aku. Akhirnya aku nggak bisa menyalahkan lelaki itu waktu akhirnya dia menyerah terhadapku dan memulai dengan gadis lain. Hubungan kami kayaknya memang cuma seperti roda: kadang di bawah, dan akhirnya nggak pernah sampai di atas, karena hubungan kami seperti roda mobil yang mogok. Berhenti. Nggak pernah sampai kemana-mana. Dan akhirnya kami dengan kesepakatan-tak-terkatakan memutuskan untuk mengambil jalan masing-masing. Menyelesaikan sesuatu. Yang bahkan nggak pernah dimulai.
Waktu itu aku sempat marah sama Ibu. Tapi kemudian aku mengingat-ingat lagi masa lalu kita. Ini bukan pertama kalinya Ibu melarangku melakukan sesuatu. Dulu Ibu juga pernah mati-matian melarangku kuliah di Unpad (Universitas Padjajaran) kan, cuma karena nggak mau aku tinggal jauh dari Ibu. Padahal waktu itu aku sama sekali nggak yakin bisa masuk UI, dan pilihan yang paling mungkin bagiku saat itu cuma Unpad. Tapi demi Ibu, akhirnya aku nekat milih UI. Dan akhirnya, meski hasil try-out SPMBku nggak pernah menembus standar UI, saat SPMB sungguhan, aku justru diterima di UI. Saat itu aku bersyukur karena Ibu berkeras melarangku memilih Unpad.
Ibu ingat juga waktu Ibu lagi-lagi melarangku melanjutkan sekolah ke Chiba University? Waktu itu aku juga marah. Tapi setahun kemudian ada berita tentang gempa dan tsunami di Jepang, dan Chiba adalah salah satu kota yang terkena dampaknya. Lagi-lagi, saat itu aku bersyukur karena Ibu melarangku kuliah disana.
Tuh kan, Ibu cenayang banget deh. Ibu selalu tahu apa yang akan terjadi padaku. Larangan Ibu selalu tepat. Ibu keukeuh mengelak bahwa Ibu memang punya kekuatan cenayang. Ibu bilang, itu namanya “insting keibuan”. Well, mungkin juga begitu. Ibu selalu pakai kata-kata sakti: “Nanti kalau kamu punya anak, kamu pasti bisa merasakan juga yang Ibu rasakan sekarang.”
Sekarang, setahun setelah lelaki itu menikahi perempuan lain, aku masih belum bisa mensyukuri larangan Ibu. Tapi aku percaya, suatu saat nanti aku pasti akan menemukan alasan yang bikin aku mensyukuri larangan Ibu untuk nggak bersama laki-laki itu. Iya kan Bu? Ibu pasti udah merasakan bahwa dia bukan yang terbaik buat aku kan? Karena Ibu adalah cenayang kan?
Orang bilang, omong kosong itu kata-kata: “Mencintai tidak harus memiliki.” Tapi bagiku, itu bukan bualan, Ibu sayang. Belakangan ini aku sudah sampai pada satu kesimpulan bahwa  nggak ada gunanya memiliki, jika cinta itu akan menyakiti orang lain yang juga mencintai aku. Karena cinta harus memilih, dan kadang pilihan-pilihan yang ada bukanlah sesuatu yang bisa dipilih dengan mudah. Apalagi kalau pilihan itu adalah antara lelaki yang aku cintai dengan Ibu tersayangku. Jangan suruh aku milih, Bu. Ibu tahu bahwa aku akan selalu memilih Ibu. Orang bilang, cinta akan selalu menemukan jalannya. Tapi karena kami nggak pernah bisa menemukan jalan kemana-mana, jadi akhirnya aku cuma bisa menghibur diri dengan berpikir bahwa dia bukan “the love of my life”.
Orang-orang datang dan pergi dalam hidupku. Beberapa orang membekas di hati terlalu dalam. Dan dari sedikit orang itu, ada orang-orang yang hatinya saling terkait denganku. Dan seperti semua ikatan, ada yang ikatan yang selamanya tidak bisa lepas, seperti ikatan darah. Ada ikatan yang sejak awal nggak pernah berarti apa-apa. Dan ada ikatan yang meski aku ingin mempertahankannya, tapi aku tahu aku harus melepaskannya. Karena melepaskan sangat menyakitkan, tapi mempertahankan akan lebih menggiriskan. Ibu pasti tahu apa maksudnya kan?
Kalau Ibu tanya, apa aku menyesali keputusanku untuk memilih Ibu, aku akan jawab “nggak”. Bahkan setelah lewat setahun, hatiku masih terus merasa sakit, Bu. Ibu pasti tahu rasanya kan? Tapi aku nggak pernah menyesal sudah menuruti larangan Ibu. Aku juga nggak menganggap keputusanku sebagai perngorbanan kok Bu. Bukan! Kata semulia “pengorbanan” cuma layak disandingkan pada jasa-jasa tanpa pamrih Ibu terhadapku. Sombong banget kalau aku mikir bahwa dengan memilih Ibu ketimbang lelaki itu adalah sebuah pengorbanan. Itu hanya bakti yang sudah selayaknya aku lakukan demi Ibu yang sudah membahagiakanku sejak kecil. Penderitaan kecil hatiku nggak akan sebanding dengan kebahagiaan Ibu.

Ibu sayang,
Kalau nanti Ibu sudah menemukan lelaki yang membuat Ibu merasa bahagia kalau melihatku bersamanya, kasih tahu aku ya Bu. Aku percaya sama Ibu. Entah itu karena Ibu adalah cenayang, atau karena itu “naluri keibuan”, aku pasti percaya sama Ibu. Hanya dengan orang yang bisa membuat Ibu bahagia, aku akan bersamanya. Karena Ibu pasti tahu yang paling baik buatku kan? Karena cintanya Ibu buatku adalah perpanjangan cinta dari Rabb Yang Maha Rahim di bumi ini kan?

Ibu sayang,
Jangan berhenti jadi cenayangku ya Bu J



Dari klien setia Sang Cenayang Hebat