Luna Lovegood inside. Noda Megumi outside.

Minggu, 20 November 2016

KELAKUAN

Beberapa hari lalu saya ngobrol dengan seorang teman tentang lowongan kerja di suatu perusahaan. Saya tahu bahwa dia tertarik untuk bekerja di perusahaan tersebut, tapi dia memutuskan untuk melewatkan lowongan tersebut.
"Kalau gue melamar kesana, maka bos gue adalah si Ibu itu," begitu alasannya. Si Ibu yang kita bicarakan adalah mantan atasannya dulu, yang sekarang bekerja di perusahaan yang menawarkan lowongan kerja untuk teman saya itu.
Seperti teori yang telah kita ketahui bersama, seperti juga yang pernah disampaikan oleh Raditya Dika dan Pandji Pragiwaksono dalam stand up comedy mereka, kalau kamu punya pacar, kamu cuma bisa mendapatkan dua hal dari tiga hal pada pacar kamu: kecantikan, kepandaian, atau kewarasan. Jadi kalau kamu merasa beruntung banget punya pacar yang cantik dan pintar,,, waspadalah, mungkin pacar kamu sakit jiwa :p
Untung gue nggak cantik dan nggak pinter (eh tapi ga ada yang bilang gue waras juga sik -___-)

Seperti itulah kira-kira si Ibu bos yang diceritakan teman saya itu: cantik, pintar ... tapi sakit jiwa. Kata Raditya Dika, "Cewek yang cantik dan pintar pasti sadar bahwa dirinya cantik dan pintar. Maka biasanya dia menjajah pacar mereka." Hahaha. Bayangkan kalau yang cantik, pintar dan sakit jiwa itu bosmu. Habis hidup lo!
Mengapa teman saya menyebut bosnya "sakit jiwa"? Karena tidak ada yang bisa memuaskan si bos tersebut. Tidak ada satupun anak buahnya yang memiliki kinerja bisa memuaskan beliau. Tidak ada satupun anak buahnya yang memiliki kinerja yang baik (menurut beliau). Itu mengapa tidak ada orang yang betah menjadi anak buahnya lebih dari satu tahun. Bahkan seorang teman lain yang lulus dari perguruan tinggi di luar negeri sekalipun tidak bisa memuaskan beliau. Sampai-sampai ada lelucon "Pasti si Ibu bos susah orgasme" #ikiuwoppooo
Mungkin standar kinerja si Ibu sangat tinggi sehingga hanya bisa dicapai oleh si Ibu Bos sendiri. Tapi saya pernah dengan cerita juga bahwa si Ibu bos mengeluh kepada Plant Directornya (#trusBaper) "Aduh kerjaan saya banyak. Masa saya kerjakan sendiri. Saya mau rekrut anak buah ni Pak". Lalu dijawab oleh Plant Director "Makanya bu, kalau punya karyawan itu dibina, jangan dibinasakan melulu"
Gara-gara si mantan bosnya itu, teman saya pun memutuskan untuk tidak melamar ke perusahaan tersebut. "Si Ibu masih lama pensiunnya ya? Satu-satunya cara gue bisa masuk perusahaan itu ya harus nunggu Ibunya pindah kerja atau Ibunya meninggal". Ini agak-agak gimana sih ya harapannya. Tapi karena saya juga mengetahui kelakukan si Ibu bos, jadi saya memahami perasaan teman saya yang mengatakan hal tersebut. Trus teman saya bertanya kepada saya "Kenapa juga atasannya si Ibu itu nggak bertindak atau ngasih peringatan gitu ya, supaya si Ibu nggak semena-mena?", lalu saya menjawab "Mungkin bos besar juga sudah pernah ngasih peringatan, tapi karena performancenya oke (diluar kelakuannya yang ajaib), jadi nggak ada alasan untuk memecat juga. Mungkin bos besar juga udah males menghadapi kelakuan Ibu itu." Ada pepatah bilang "Kalau berantem sama orang gila, yang waras harusnya ngalah." Mungkin si bos besar menerapkan pepatah tersebut.
Lagipula, bentuk paling jahat dari kebencian bukan perlawanan... tapi pengabaian. Jadi kalau pacar kamu masih suka marahin kamu karena telat makan atau begadang mulu, harusnya kamu bersyukur. Karena kalau dia udah nggak pernah marah lagi dan mengabaikan kamu, itu bentuk akhir dari kebencian kepadamu.

Di akhir rumpian, kita berkesimpulan "Udah nggak ada harapan Ibunya bakal berubah kecuali dengan mukjizat Ilahi. Kalau ingat si Ibu mah harapan gue cuma supaya gue inget terus kelakuan si Ibu sehingga di masa depan kelakuan gue nggak bakal kayak gitu."
Ngomong-ngomong soal kelakuan kita di masa depan, meski kita terus berusaha untuk selalu makin baik setiap hari, tidak ada yang menjamin bahwa di masa depan kita tidak akan menjadi pribadi yang menyebalkan. Kalau diingat-ingat, dulu saya suka sebel sama dosen yang suka mengeluh tentang kelakuan mahasiswa. Ada dosen yang susah move on dan ngomong gini terus "Dulu jaman saya mahasiswa ...blablabla...". Menanggapi dosen yang seperti itu, dulu saya suka ngomong gini dalam hati "Duh Pak, move on kaliiii. Ngomongin masa lalu mulu. Gimana mau ngomongin masa depan (sama saya)" #lho #salahfokus
Maksudnya, dulu saya suka sebel sama dosen yang suka membanding-bandingkan kami dengan generasinya dulu. Tapi sekarang, saat saya jadi guru, kadang saya juga suka membandingkan kelakuan anak-anak jaman sekarang dengan kelakuan kami masa sekolah dulu. Saya kadang merasa anak-anak jaman sekarang kelakukannya makin ajaib. Tapi kemudian saya berpikir, mungkin bukan kelakuan mereka yang makin ajaib, mungkin saya yang susah move on. Mungkin bukan mereka yang makin kampret, tapi karena jenis kekampretan tiap jaman berbeda. Maka saya yang harus berusaha mengupdate pengetahuan tentang kekampretan dari masa ke masa sehingga bisa berusaha meminimalisirnya.
Sekarang, mungkin murid-murid saya yang suka sebel mendengar saya mengeluhkan kelakuan mereka, seperti dulu saya sebel mendengarkan guru-guru saya mengeluhkan kenakalan kami.

Seiring berjalannya waktu ... makin banyak orang yang tidak menyukai saya.
Maka mungkin benar adanya jika ada yang bilang bahwa Tuhan memanggil orang-orang baik terlebih dahulu. Karena Tuhan menyayangi orang-orang baik ini, maka Tuhan memanggilnya lebih cepat sebelum orang-orang baik ini berubah menjadi orang-orang menyebalkan. Tuhan menyelamatkan kenangan akan orang-orang baik ini, sehingga tidak ada orang yang sempat memiliki kesan buruk terhadap orang baik ini.
Tuhan menyayangi orang-orang baik sehingga Tuhan menjaganya dari masa depan yang mungkin akan merusak kenangan baik tentang orang ini. Itu mengapa Tuhan memanggil orang-orang baik ini terlebih dahulu, sebelum makhluk-makhluk kampret seperti kita ini belum sempat menemukan kelemahan dan keburukan dari orang-orang ini. Tuhan sayang, maka Ia menjaga.
Tepat satu hari setelah saya ngerumpiin si Ibu bos sakit jiwa dengan teman saya tersebut, saya mendengar kabar bahwa salah satu teman saya meninggal. Ia meninggal di usia yang masih sangat muda, belum mencapai 30 tahun. Karena penyakit yang tidak pernah saya duga dapat menyebabkan kematian. Satu lagi tanda bahwa ajal tidak mengenal usia. Siapa yang bilang kita akan mencapai usia 50 tahun?

Apa yang lebih menyedihkan daripada melihat yang lebih muda pergi mendahului yang lebih tua?
Mungkin yang lebih menyedihkan daripada itu adalah melihat orang-orang baik pergi, sementara orang-orang sakit jiwa masih saja menguasai dunia persilatan (mungkin harus nunggu negara api menyerang).
Tapi kemudian saya sadar, tidak ada yang perlu ditangisi berlebihan. Tuhan memanggil orang baik terlebih dahulu karena Ia menyayangi orang tersebut, sehingga menjaganya dari menjadi orang menyebalkan dan sakit jiwa di masa depan.
Maka bagi kita yang masih tinggal di dunia yang penuh orang-orang kampret ini, yang kita butuhkan adalah ukhuwah ... silaturahmi dengan orang-orang baik yang tidak hanya mendukung untuk menjadi lebih baik, tapi yang juga mengingatkan saat kita mulai menjadi makhluk kampret di masa depan.
Waktu saya lagi ngerumpi di lab sama teman, saya bilang "Nanti kalau saya jadi orang yang nyebelin, ingetin saya ya.",,,, trus dia bilang "Emang situ masih bisa lebih nyebelin lagi? Sekarang aja udah nyebelin banget" -____-"

CEMBURU

Beberapa hari lalu ketika saya ngobrol sama salah satu teman saya di Indonesia, tetiba dia bilang "Kalau lihat foto jalan2 lo, gue jadi mupeng". Dan setelah diingat-ingat, bukan hanya dia saja yang bilang begitu. Beberapa teman yang lain juga pernah bilang "Iri deh lihat lo bisa jalan2 keliling Eropa"
Setiap kali mendengar kalimat ini, saya selalu dihinggapi sebersit rasa bersalah. Andai saya tidak mem-post foto2 jalan2 saya di media sosial, tentu tidak perlu ada orang yang iri.
Meski demikian, sebenarnya saya tidak pernah memasang foto jalan2 di media sosial dengan maksud pamer. Apalagi bermaksud untuk memotivasi orang lain (saya kan bukan Mario Teguh). Saya hanya suka mengabadikan momen-momen dalam hidup saya (karena saya orangnya pelupa).
Tapi kemudian saya menyadari hal lain. Meski saya sendiri sudah jalan-jalan ke beberapa negara di Eropa, saya tetap sering mupeng kalau orang lain memasang foto jalan2 di Jepang dan Korea. Saya masih suka baper melihat orang lain yang bisa jalan2 ke luar negeri tanpa memikirkan biaya perjalanan karena keluarganya berkecukupan (sementara saya baru bisa jalan2 ke luar negeri karena sekolah disini). Saya juga iri pada orang yang pergi ke tempat2 yang juga saya kunjungi, tapi berhasil mengabadikan foto yang jauh lebih cantik. Saya sering merasa minder pada orang-orang yang selalu bisa menulis hal-hal yang bermanfaat (bukan cuma bisa nulis curhatan kayak gini). Saya mupeng lihat foto ibu-ibu yang sedang menggendong anaknya. Saya iri pada orang-orang hebat dan cerdas di sekitar saya, yang selalu bersemangat, berambisi dan memiliki target masa depan yang jelas (sementara saya nggak punya ambisi lain selain jadi ibu rumah tangga). Dan saya selalu cemburu pada orang-orang yang sudah selesai dengan masalah pribadinya dan sibuk berkontribusi kepada masyarakat.

Sawang sinawang. 
Kita memang melihat rumput tetangga selalu lebih indah (karena kita tinggal menikmati keindahannya saja, tanpa pernah bersusah payah merawat rumput tetangga tersebut), sehingga yang kita lihat cuma bagian bahagianya saja. Seindah apapun taman yang kita miliki, kita akan selalu menemukan taman lain yang lebih indah.
Tapi kemudian saya berpikir, apa karena saya iri melihat orang-orang di sekitar saya, lalu mereka tidak berhak memposting foto di media sosial? Apa karena saya cemburu melihat prestasi mereka, lalu mereka tidak boleh melakukan apa2 di media sosial?
Berkaca pada pengalaman saya pribadi, tidak semua orang yang beraktivitas di media sosial bertujuan untuk pamer. Mungkin mereka hanya ingin berkabar, saling berbagi (berbagi resep masakan misalnya) atau saling memotivasi.
Sok banget ya saya menasehati orang lain supaya nggak baper-an. Padahal saya sendiri cemburuan. Mungkin tidak banyak yang tahu, tapi saya adalah orang yang mudah cemburu. Sekali saya menginginkan sesuatu tapi saya tidak/belum bisa mendapatkannya, saya akan cemburu pada orang-orang yang berhasil mendapatkan hal tersebut. Posesif dan pencemburu bukan kombinasi yang bagus kan?

Jadi apa solusinya supaya kita nggak iri melihat postingan orang lain di linimasa media sosial kita? Saya nggak tahu apa solusinya, karena saya sendiri orang yang cemburuan. Tapi seperti kata om Maggy Z "Jangan berlayar kalau kau takut gelombang", maka jangan beraktivitas di media sosial kalau kita takut jadi baperan. KIta tidak bisa mengendalikan orang lain untuk memposting atau tidak memposting sesuatu hanya demi menjaga perasaan kita. Kita sendirilah yang harus mengendalikan hati kita.

Saya pernah baca kata2 gini "Mungkin bukan mereka yang riya'. Mungkin kita yang dengki" Duh, jleb banget

NGGAK ENAK

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan teman yang berkunjung ke Belanda untuk urusan pekerjaan. Hari pertama tiba, dia sudah bertanya dimana bisa membeli oleh-oleh. Dia juga cerita bahwa kopernya hanya berisi seperempat bagian. Tiga perempat bagian dari kopernya kosong, dan sengaja disiapkan untuk oleh-oleh. Mendengar itu, saya merasa ada yang salah. Pertama, urusan oleh-oleh ternyata lebih penting daripada urusan pekerjaan. Kedua, oleh-oleh untuk oranglain ternyata lebih penting 3 kali lipat dibanding keperluan pribadi.
Kejadian serupa terjadi pada orang-orang yang menunaikan ibadah umroh atau haji. Banyak yang khusyuk beribadah. Tapi tidak sedikit juga yang khusyuk mencari oleh-oleh untuk kerabat dan teman. Lagi-lagi, saat berangkat umroh/ haji, mereka sengaja membawa koper yang jauh lebih besar daripada yang dibutuhkannya karena harus menyiapkan tempat untuk oleh-oleh.

Apa yang salah disini?
Ketika sekolah di Belanda, salah satu perbedaan yang saya perhatikan pada perbincangan setelah liburan adalah ... kalau orang Belanda akan bertanya "Eh kemarin ke XXX ya? Gimana disana? Ngapain aja?", tapi kalau orang Indonesia pasti nanya "Eh kemarin ke XXX ya? Mana oleh-olehnya?"
Ini obrolan ringan sebenarnya. Dulu saya juga suka menggunakan kalimat ini, bukan karena saya benar-benar ingin minta oleh-oleh dari teman yang berpergian, tapi hanya untuk memulai percakapan. Kadang juga hanya untuk menggoda. Tapi belakangan saya menyadari bahwa ada banyak teknik basa-basi atau teknik memulai percakapan yang lebih baik.
Sama halnya dengan pertanyaan "kapan nikah?", meski ditanyakan hanya untuk basa-basi membuka percakapan, atau karena memang kita peduli, tetap saja memberi beban kepada yang ditanya (berat/ringannya beban tentu tergantung objek penderita, apakah tipe jojoba atau tipe jones). Begitu pula dengan pertanyaan "mana oleh-olehnya?", meski ditanyakan hanya untuk menggoda, tetap saja memberi beban di hati yang ditanya.
Mungkin juga karena budaya "nggak-enakan" di masyarakat Indonesia, meski orang-orang terdekat tidak meminta oleh-oleh, tetap saja orang yang berpergian akan selalu mengalokasikan dana dan waktunya (dan tempat di kopernya) untuk oleh-oleh. Mengapa? "Karena nanti kalau nggak ngasih oleh-oleh, dianggap nggak sopan". Jadi kalau bagi orang Eropa, biaya berlibur mencakup transportasi, akomodasi, konsumsi dan hiburan .... tapi bagi orang Indonesia biaya berlibur juga mencakup biaya oleh-oleh.

Sifat "nggak enakan" orang Indonesia ini ternyata berimplikasi luas (#tsaahhh bahasa gue), termasuk "nggak enak kalau nggak nraktir temen pas ulang tahun" atau "nggak enak kalau nggak ngundang kawinan"
Dulu saat masih muda (iye, sekarang semua anak2 nggak ada lagi yang manggil gue "kakak", semua manggil gue "tante", jadi gue harus mengakui bahwa gue udah tua), selepas lulus sekolah, kami berencana untuk terus berkumpul sesekali untuk reuni, supaya silaturahmi terus terjalin. Supaya sekalian, kami memutuskan untuk reuni di setiap tanggal ulang tahun salah seorang diantara kami. Ide awal yang baik, tapi kemudian berubah menjadi menakutkan bagi yang ulang tahun karena khawatir akan diminta mentraktir. Kata-kata "traktir dong, kan ulang tahun" memang terdengar biasa dan hanya seperti menggoda. Tapi saya pernah berada dalam kondisi keuangan yang memprihatinkan karena harus fotokopi buku-buku/diktat farmasi yang tebalnya bisa bikin pencopet di KRL mati kalau dipukul pakai buku itu. Akhirnya, alih-alih menjadi hari yang membahagiakan, hari ulang tahun malah berubah menjadi menakutkan. Bahkan meski tidak ada teman yang meminta ditraktir, orang yang ulang tahun tetap merasa tidak enak kalau tidak mentraktir sementara teman-teman yang lain selalu mentraktir saat mereka ulang tahun.

Lain cerita tentang traktiran ulang tahun, lain lagi cerita tentang undangan kawinan. Seorang teman sudah mengadakan acara syukuran pernikahan di daerah kelahiran istrinya, tapi saat ia kembali ke kota tempatnya bekerja (sambil membawa istri yang baru dinikahinya), beberapa rekan kerja dan teman main futsalnya bertanya "kapan ngadain syukuran disini? Sekalian ngenalin istrinya ke kita-kita" Wow! Padahal biaya syukuran pernikahan di kota kelahiran istrinya saja tidak sedikit. Tapi karena merasa nggak enak dengan teman-temannya, ia kembali mengadakan acara makan-makan dengan teman-temannya, meski keuangannya setelah menikah juga belum stabil (pernah dengar kan kalau ada pasangan yang menikah dengan biaya pinjaman, sehingga setelah menikah mereka harus mencicil hutang biaya resepsi?)

Ada lagi teman lain yang bercerita tentang pernikahannya yang dilaksanakan dengan persiapan singkat karena suaminya harus berangkat sekolah ke luar negeri. Akibat persiapan yang singkat tersebut, ia terlewat mengundang beberapa orang. Dan ini menyebabkan pertanyaan beberapa orang. "Ya ampun, kok aku nggak diundang? Lupa ya sama aku?"
Pertanyaan semacam ini, meski ditanyakan dengan nada bercanda, dan tidak bermaksud memojokkan, tetap saja menimbulkan rasa bersalah pada orang yang ditanya tersebut.

Saya sendiri mengalami kejadian serupa. Salah satu teman kuliah dulu, yang masih terus berkomunikasi dengan saya (meski mungkin hnya 1 atau 2 bulan sekali) tidak mengundang saya ke acara pernikahnnya. Saya tidak tahu bahwa dia sudah menikah, sampai saya melihat foto bulan madunya.
Adalah wajar jika kita merasa kecewa jika tidak diundang oleh orang yang dekat dengan kita ke acara bahagianya. Beberapa pakan yang lalu bahkan saya sempat merasa kecewa kepada seorang teman karena tidak diajak berlibur padahal biasanya dia mengajak saya. Dengan piciknya, saya sempat berpikir "Dia kalau lagi butuh ditemani, mengajak saya jalan-jalan. Tapi kalau jalan-jalan dengan banyak teman, saya dilupakan". Serius, meski sudah sebesar ini, saya kadang bisa sangat bodoh dan berhati sempit. Tapi kemudian saya sadar, ada banyak alasan (yang kadang tidak sederhana), mengapa orang yang dekat dengan kita tidak mengajak/ mengundang kita ke acara bahagianya.

Maka sekarang, saya tidak pernah lagi bertanya mengapa saya tidak diundang. Saya juga tidak pernah lagi merasa sebal jika "dilupakan" dan tidak diajak oleh teman. Ada banyak alasan mengapa seorang teman tidak mengundang/ mengajak kita ke acara bahagianya: karena waktu persiapan yang mendesak, karena biaya yang terbatas, atau karena alasan lain. Apapun alasannya, ingatlah bahwa jika seseorang menganggap kita sebagai teman baiknya, maka ia akan selalu mengabarkan kabar gembira kepada kita. Maka jika orang tersebut tidak mengajak/mengundang kita, pasti ada alasan kuat dan mendesak. Dan jika kita memang merasa bahwa kita adalah teman baiknya, bukankah seharusnya kita memahami alasan tersebut? Jika kita dengan mudahnya merasa tersinggung dan tidak bisa memahami teman kita sendiri, mungkin kita memang bukan teman yang baik.

Mungkin begitu juga dengan oleh-oleh, atau hal lainnya. Jika seseorang menganggap kita sebagai teman baiknya, maka ia akan selalu mengingat kita, dan berusaha memberikan hal baik untuk kita, bahkan tanpa kita minta. Maka jika ia tidak memberikan hal yang kita harapkan (entah itu traktiran atau oleh-oleh, misalnya), maka ada dua alasan: dia tidak menganggap kita sebagai teman baiknya, atau dia dalam keadaan terdesak (mungkin keterbatasan finansial, waktu atau tempat). Di sisi lain, jika kita menganggap diri kita sebagai teman baiknya, tidak seharusnya kita berprasangka buruk kepada teman kita sendiri kan?


Groningen, 31 Maret 2016

LDR

"Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu jahat."
Meski katanya selalu ada maaf jika yang melakukan kesalahan itu ganteng/cantik (haha), tapi kejahatan yang dilakukan Rangga ini, meski dilakukan oleh manusia setampan Nicholas Saputra, sangat wajar jika Cinta sulit memaafkannya.

Katanya, kalau seseorang memang mencintai kita, maka ia akan selalu berhasil menemukan satu alasan untuk menemui kita. Jika dia memang mencintai kita, maka dengan satu atau lain cara, dia pasti berusaha menghubungi kita. Jika dia memang mencintai kita ....
Maka hubungan jarak jauh tanpa komunikasi yang baik adalah suatu kemustahilan. Bohong kalau kita bisa bertahan dengan hubungan jarak jauh tanpa/dengan sedikit komunikasi, meski katanya kita saling mempercayai satu sama lain. Kalau kamu mampu bertahan lama tanpa menghubungi seseorang, mungkin karena tanpa orang tersebut hidupmu tetap baik-baik saja ... artinya keberadaannya tidak berarti dalam hidupmu. Kamu yakin bahwa kamu mencintai orang tersebut?

Jadi apa alasan Rangga bisa tahan tidak menghubungi Cinta selama 14 tahun?
Mungkin karena Rangga terlalu sibuk berlatih Jurus Tongkat Emas.



Groningen, 11 Maret 2016

SEBUTAN

Curhatan teman baru-baru ini mengingatkan saya pada note yang saya tulis tepat 2 tahun yang lalu. Hanya karena saya mengatakan bahwa pekerjaan saya adalah seorang guru, seorang teman lama saya (yang ganteng #catet) memandang saya dengan tatapan meremehkan. Beberapa menit kemudian ketika dia tahu bahwa saya adalah guru di universitas (atau disebut dosen), dia baru menanyakan nomer ponsel saya. Ternyata pekerjaan yang sama, kalau disebutkan dengan sebutan yang berbeda, akan memberikan persepsi dan efek yang berbeda.
Kasus ini serupa dengan pengalaman saya yang lain. Mungkin karena banyak orang yang masih menduga saya adalah mahasiswa S1 (#laludigorokmassal), semua murid saya memanggil saya dengan “Kak” atau “Mbak”. Saya merasa baik-baik saja dengan panggilan tersebut (#malahseneng). Tapi beberapa orang mengatakan bahwa sebaiknya saya membiasakan mereka memanggil saya “Ibu”, karena panggilan “Kak” dinilai kurang menghormati. Saat itu saya lagi-lagi disadarkan bahwa panggilan bisa berarti sangat penting di masyarakat dengan adat ketimuran seperti kita.
Padahal nih, berdasarkan penelitian saya di lapangan (#lapanganbasket), panggilan terhadap dosen tidak selalu berkorelasi dengan rasa hormat mahasiswa. Bisa saja mereka memanggil “Bapak” atau “Ibu” untuk menunjukkan rasa hormat di depan, namun memanggil dengan Bapak-Kucing-Garong atau Ibu-Ulet-Keket di belakang. Hei! Saya kan sering bergaul sama mahasiswa. Jadi saya bukannya nggak tahu bahwa mahasiswa yang sikapnya hormat di hadapan dosen bisa juga memberikan julukan lain di belakang. Bahkan saya aja tahu bahwa banyak mahasiswa yang juga suka membicarakan saya di belakang (terutama saat saya putus sama Min Ho Oppa). Jadi intinya, panggilan bukanlah satu-satunya parameter rasa hormat, meski memang benar bahwa panggilan adalah salah satu parameter.
Dari pengamatan saya, sebenarnya sopan/tidaknya panggilan terkait dengan kultur dimana kita tinggal dan bergaul. Misal kalau kita gaulnya sama anak-anak yang suka nongkrong (padahal nongkrong kan capek, mendingan duduk #malahdibahas), maka panggilan “Eh, Jabrik!” atau “Woy, Kutu!” justru menunjukkan keakraban, bukan ketidaksopanan. Atau missal saya manggil “Cumii!!!”, itu bukan berarti saya dengan memaki, tapi itu artinya panggilan sayang #halah. Atau ada orang-orang yang berpendapat panggilan “Eh, Nyet!” itu adalah tanda keakraban. Meski demikian, kita tentu tidak mengharapkan mendengar panggilan tersebut dalam forum formal kan? Dengan demikian, meski panggilan tidak selalu berkorelasi dengan rasa hormat, tentu bukan menjadi pembenaran untuk memanggil seseorang dengan panggilan sembarangan.
Contoh lain adalah penggunaan istilah “single” dan “jomblo”. Meski Dewan Kesepian Jakarta sudah menetapkan bahwa “single” karena pilihan dan “jomblo” itu karena nasib, tapi sebenarnya ini hanya tentang preferensi istilah. Saya pribadi lebih memilih istilah “available”, karena apalah artinya jomblo kalau hatinya udah taken (#malahcurhat), dan apalah arti single kalau nggak available (#ingetmantan), tetep aja nggak bisa diprospek kan? Hoho. Namun demikian, apapun istilahnya (entah itu jomblo, single atau available), faktanya adalah kamu selalu kemana-mana sendirian atau beramai-ramai, nggak pernah berduaan.
Contoh lain adalah setiap orang nanya “Nia malem mingguan kemana?”, selalu saya jawab “Wah, saya nggak pernah malem mingguan. Saya sabtu-malaman”. Karena katanya kosa kata “malam minggu” hanya ada di kamus orang-orang yang punya pacar atau suami/istri. Meski demikian, apapun istilahnya, faktanya hanya satu: waktu diantara jumat dan minggu. See? Jadi fakta yang sama, jika dilihat oleh orang yang berbeda dan dengan preferensi istilah yang berbeda, akan diidentifikasi sebagai hal yang berbeda. Pada tahap ini, harusnya kita sadar bahwa kalau kita mendengarkan terlalu banyak pendapat orang lain, kita akan pusing sendiri.
Curhatan seorang teman baru-baru ini membuat saya tergelitik. Dia tidak suka kalau hubungannya dengan teman dekatnya didefinisikan sebagai “pacaran”. Dia juga tidak suka kalau orang lain mengatakan bahwa mereka pacaran. Teman saya ini tiba-tiba mengingatkan saya pada seseorang yang saya kenal dekat, yang sangat mementingkan reputasi. Reputasi. Ternyata sebuah sebutan bisa berdampak buruk pada reputasi seseorang.
Teman saya ini lebih suka dengan istilah “calon istri” atau “calon suami” daripada istilah “pacaran”. Lagi-lagi, menurut saya, ini cuma soal sebutan/ istilah. Apapun sebutannya, kalau kamu belum nikah, belum tunangan, trus kemana-mana pergi dengan orang yang sama, padahal kalian nggak ngerjain penelitian yang sama dan kalian bukan sahabat, maka ya kamu harus siap kalau disebut “pacar” “TTM” dan istilah-istilah sejenis. Bahkan saya yang ngelab bareng sahabat saya aja bisa digosipin pacaran kok (sampai ada yang marah segala #yukmari), padahal kami jelas-jelas bersahabat. Ya apalagi teman saya ini dan teman dekatnya, yang kerja di lab berbeda tapi kemana-mana bareng terus, ya sangat wajar kalau orang-orang mengira mereka "pacaran". Jadi kalau nggak mau disebut dengan istilah “pacaran” ya jangan pergi kemana-mana berduaan. Gitu aja sih. Lagipula, apalah arti sebuah sebutan. Apapun sebutannya, kalau kita memang sudah merencanakan masa depan dengan orang tersebut, harusnya sebutan orang lain tidak terhadap hubungan kita tidak lagi menjadi terlalu penting.

Meski demikian, mungkin tidak banyak orang yang sependapat dengan saya, bahwa sebutan/panggilan/istilah/gelar tidaklah terlalu penting. Buktinya, saya masih banyak menerima undangan pernikahan yang memasang gelar akademik/ gelar keagamaan pada nama mempelai/ orangtua mempelai. Padahal itu kan undangan pernikahan, bukan surat lamaran kerja. Hal ini membuktikan bahwa bagi orang-orang Indonesia, gelar/sebutan/panggilan adalah suatu hal yang sangat penting. Namun demikian, sodara-sodara, fenomena ini nampaknya harus dimaklumi, mengingat begitu banyak alasan dibalik pilihan tersebut. Kadang meski salah satu pihak tidak ingin gelarnya ditulis, namun pihak yang lain ingin gelar tersebut ditulis, dengan alasan-alasan tertentu. Seperti kata mbak Icha (Maisya Farhati) dalam salah satu tulisannya, “it’s about marriage, not only about wedding”. Kalau kata teman lab saya dari Thailand yang sudah saya anggap abang sendiri, “Yang terpenting adalah apakah kita ingin menikah dengan dia atau nggak. Kalau kita memang ingin menghabiskan hidup bersamanya, maka harusnya urusan-urusan sepele harusnya bukan masalah sama sekali.”

Groningen, 2 Feb 2016

BENCI

Setidaknya satu kali dalam hidup, kita bertemu dg seseorang yg memiliki sesuatu yg sangat kita inginkan. Tapi bagaimanapun kita mencari, kita tidak bisa menemukan alasan untuk membenci orang tersebut. Lalu kita mulai membenci diri kita sendiri karena tidak lebih pantas untuk mendapatkan hal yg kita inginkan tsb. Sampai akhirnya kita berusaha agar menjadi lebih kuat dan lebih baik agar kita pantas mendapatkan kesempatan berikutnya.

Setidaknya satu kali dalam hidup, kita pernah ingin membenci seseorang yg tidak bisa dibenci. Saat itulah kita sadar bhw orang itu datang dan mengambil sesuatu yg kita inginkan agar di masa depan kita pantas mendapatkan hal yg kita butuhkan.

PENCARIAN

Dua hari lalu, saya membantu seorang mahasiswa untuk mengisolasi RNA dari sampel paru-paru mencit. Saat itu saya memintanya mengambil sampel yang tersimpan di freezer. Pertama kali dia datang kepada saya dengan membawa 8 dari 10 sampel yang ada. Dia bilang, dia tidak menemukan 2 sampel lainnya. Saya memintanya untuk mengecek kembali di tempat yang sama, karena kesepuluh sampel tersebut disimpan di kotak yang sama, sehingga tidak mungkin dia tidak menemukannya disana. Tapi dia kembali menemui saya 15 menit kemudian dan mengatakan bahwa dia benar-benar tidak menemukan tube berisi sampel yang saya maksud. Akhirnya saya mengikuti dia ke tempat penyimpanan sampel tersebut. Di kotak sampel tersebut, diantara 70 tube lainnya, saya tidak kesulitan menemukan 2 sampel yang dimaksud tersebut. Bukan karena saya tahu bagaimana rupa/ penampakan tube sampel yang saya cari, tapi karena saya benar-benar mencari tanpa ekspektasi apapun.

Saya bilang pada mahasiswa saya tersebut “You know what you are looking for. But you expect too much on seeing certain thing. That’s why you can not find the thing you search for eventhough it’s in front of your eyes.”

Sadarkah kita bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita seperti itu? Kita mencari sesuatu, tanpa tahu apa yang harus kita temukan. Kita menemukan sesuatu, tanpa tahu bahwa hal tersebut yang kita cari. Mungkin itu mengapa kita merasa tidak mendapatkan apa-apa. 
Misal kita mencari kebahagiaan kemana-mana, karena orang-orang lain tampak bahagia ketika mereka berada di tempat tertentu, atau saat mencapai hal tertentu, atau saat bersama orang tertentu. Padahal apa yang membuat orang lain bahagia belum tentu membuat kita bahagia. Kita mencari kemana-mana, tanpa tahu apa yang sebenarnya ingin kita temukan. Kita menemukan sesuatu tapi tetap merasa hampa karena kita merasa bahwa bukan itu yang kita cari.

Ketika kita mencari sesuatu, di kepala kita, kita sudah membayangkan tentang sesuatu tersebut. Di satu sisi, tentu hal ini baik, karena memberi tolak ukur tentang keberhasilan pencarian. Tapi di sisi lain, bisa jadi bayangan/ harapan kita tentang target yang kita cari tersebut tidak selalu sesuai dengan hal yang ada di kenyataan.
Misalnya, kalau di pikiran kita, kita sudah menetapkan bahwa yang harus kita temukan adalah Lee Min Ho, maka wajar saja kalau kita tidak pernah menyadari Song Jong Ki yang mondar-mandir di hadapan kita.
Seperti mungkin ketika kita mencari seseorang jauh-jauh kemana-mana, padahal yang kita cari sebenarnya selama ini sudah berada begitu dekat. Selalu di dekat kita.

Pertanyaan berikutnya, mengapa meski kita telah menemukan sesuatu, kadang kita tetap merasa perlu terus mencari?


Groningen, 29 April 2016