Luna Lovegood inside. Noda Megumi outside.

Minggu, 22 Januari 2012

Dear Prashand Arya

Dear Prashand Arya,

It’s been 4 years since we first met. I’m sure you still remember the way we know each other, don’t you? There’s no need to recall the story, eh?  It’s funny how a pharmaceutical article can connect us.
You, there, were an PhD Candidate. While I was, here, just an undergraduate student. It’s just because the same field of study in Pharmaceutical Science, two people from India and Indonesia can be connected.

Hey Arya!
Remembering the past, when we talked about your research. Sometimes, comparing your pharmaceutical knowledge and mine. But that all were just the begining. In years after, we prefer talk about life rather than research. About your country and mine. About your culture and mine. Your Indian beverage and my Indonesian food. Your family and also mine. Your life and mine. Your religion and mine.

Hey you, the smart Arya,
You always deliver such an interesting topic to be discussed.  Time always fly too fast everytime we chat.  Around 3 a.m of Indonesia Time and 1 a.m of India Time we usually finish the conversation.  You always make me forget that Monday morning is coming, that I will be back to the hectic reality. Somehow, i think  you’re kinda hypnotic J

It’s not only the words you wrote that hypnotize me ,,, you’re voice hypnotize more than I can take. When, without any clue, you called me at my office, i thought my heart would suddenly stop beating. When you make a phonecall, I even couldnt speak anything. It’s not only caused by limitation of my English. It’s more caused by my limitation to control the nerves which control my tongue. Your voice turns my nerves paralyzed.

Arya,
I don’t really notice, how we go thru that topics. In the middle of all our differencies, why did you start to talk about love? There’s no way of any love between us, you know it. But you insist. You always try to make me believe that it’s possible for us.
I said no! But you said that in your society, love is more important than God.
I said no! And you said that you don’t mind to be a muslim just to be with me. What the ___ ????!!!

Do you know, Arya?
After all disapointing things men caused to me, you’re the first one who make me believe that there’s still good man in this world. Ain’t life an irony? Why the good man should be you, the one who cant be my imam?


Dear Prashand Arya,
Aint life an irony? How should we go thru it? I ask you, love.



inspired by:
Devfanny A.A




Hey Kamu! Si Tinggi Besar!

Hey kamu!
Iya, kamu! Yang sudah berdiam diri terlalu lama.
Kenapa sih nggak mau bergerak? Dunia, dan semua hal di sekitarmu berputar dan bergerak, kenapa kamu masih saja berdiam diri? Apa kamu terlalu takut untuk melangkah?

Hey kamu! Yang tidak pernah bisa melupakan.
Berapa tahun sudah berlalu? Dan kenapa belum juga bisa melupakan rasa sakitnya? Itukah mengapa kamu tidak mau memulai yang baru?

Hey kamu! Yang selalu bilang nggak mau mencoba lagi.
Kenapa? Apa dulu kamu jatuh terlalu dalam? Apa dulu rasanya terlalu sakit? Apa rasa sakitnya belum juga hilang?

Hey kamu! Yang nggak pernah bisa percaya.
Kenapa sih nggak mencoba untuk percaya lagi? Ada banyak orang yang bisa menghianatimu di dunia ini. Tapi orang yang amanah, juga sama banyaknya. Lihatlah dengan hatimu, kau akan menemukannya.

Hey kamu! Tahu, nggak? Berapa banyak orang yang berprasangka padamu? Mereka mempertanyakan pilihanmu. Mereka menduga. Mereka menuduh. Lalu bergunjing. Padahal mereka nggak tahu apa-apa.
Aku? Aku bukannya tidak pernah berprasangka. Tapi aku memilih mengkonfrontirmu langsung, dan menanyakan padamu. Sejak itu aku nggak pernah lupa, sorot matamu dan nada suaramu saat bicara “Saya nggak percaya mereka benar-benar mencintai saya.”
Mata dan suaramu menjelaskan lebih banyak dari yang bisa dijelaskan oleh kata-katamu.

Hey kamu! Yang suka senyum-senyum sendiri setiap aku bercerita tentang adik-adik kelasku yang mengidolakanmu. Kamu selalu tertawa setiap mengingat tatapan tajam mereka saat kita bersama. Tatapan tajam itu buatku, tahu! Mereka pasti mengutukku karena bisa-bisanya memonopoli idola mereka, di depan mata mereka, saat mereka sedang stres mengerjakan ujian.
Coba bayangkan kalau kau memegang kepalaku, seperti yang biasa kau lakukan, saat itu di hadapan mereka. Para penggemarmu itu pasti akan langsung kehilangan konsentrasi ujian dan melempariku dengan pulpen tajam. Jangan tertawa ah! yang dilempari itu kan bukan kau, tapi aku!


Hey kamu! Yang digilai banyak perempuan.
Dari mahasiswa sampai yang manager. Yang muda sampai yang dewasa. Yang mungil sampai yang tinggi. Yang langsing sampai yang berisi. Yang lembut sampai yang tegas.
Masa nggak ada satupun dari mereka yang bisa meluluhkan hatimu sih?
Apa standarmu terlampau tinggi sehingga nggak ada yang bisa meraih hatimu?
Tidak adakah yang bisa menyembuhkan sakitmu? Tidak juga aku?

Hey kamu! Yang sering datang ke ruang kerjaku selepas jam kantor. Yang sering meledek preferensi musik K-Pop & J-Pop ku. Yang sering membawakan martabak telor kesukaanku.  Apa kamu benar-benar merasa bahagia menjadi seperti sekarang ini?

Sabtu, 21 Januari 2012

IRONI

Yang satu, lagi praktikum farmasetika. Yang lain, lagi memantau validasi proses.

Yang satu, lagi uji disolusi. Yang satu lagi, review laporan uji disolusi terbanding.

Yang satu, mahasiswa. Yang satu, Plant Director.

Yang satu meeting kurikulum. Yang satu lagi meeting Weekly Schedule.

Yang satu, lagi pusing menghadapi kertas ujian.
Yang satu lagi, pusing menghadapi kertas Failure Investigation Report.

Yang satu, galau penelitian. Yang satu lagi, galau Audit.

Yang satu, hobi makan kepiting. Yang satu lagi, syok anafilaksis tiap makan seafood.

Yang satu mendengarkan New Kid On The Block. Yang satu lagi mendengarkan Super Junior.

Yang satu, nonton Gone With The Wind. Yang satu, nonton Harry Potter.

Yang satu, main sama keponakannya yg berumur 2 tahun.
Yang satu, nemenin keponakannya yang berumur 20 tahun main bilyar.

Yang satu ulang tahun ke 14. Yang satu lagi ulang tahun ke 41.



But there is one thing that never logic

Minggu, 04 Desember 2011

SANG CENAYANG



            Ibu sayang,
           Ibu pasti cenayang deh. Aku sudah sadar dari dulu bahwa Ibu adalah cenayang. Selama ini aku cuma nggak mau percaya, berusaha mengabaikan semua fakta yang nyata itu.
Karena sekarang aku sudah percaya bahwa Ibu memang cenayang, aku tahu bahwa Ibu juga tahu bahwa aku pernah sangat marah sama Ibu. Ingat setahun yang lalu, 10 Oktober 2010, waktu lelaki itu akhirnya menikahi gadis lain? Waktu itu Ibu pasti merasakan bahwa aku sempat marah sama Ibu kan? Bagaimana mungkin aku nggak marah, Ibu selalu berpura-pura nggak tahu bahwa kami saling mencintai sejak sepuluh tahun lalu. Ibu selalu bilang bahwa aku masih harus menyelesaikan sekolah setiap kali lelaki itu bilang menginginkanku. Setelah aku selesai kuliah, Ibu mengganti strategi dengan selalu mengalihkan pembicaraan setiap kali lelaki itu mulai pembicaraan tentang aku. Akhirnya aku nggak bisa menyalahkan lelaki itu waktu akhirnya dia menyerah terhadapku dan memulai dengan gadis lain. Hubungan kami kayaknya memang cuma seperti roda: kadang di bawah, dan akhirnya nggak pernah sampai di atas, karena hubungan kami seperti roda mobil yang mogok. Berhenti. Nggak pernah sampai kemana-mana. Dan akhirnya kami dengan kesepakatan-tak-terkatakan memutuskan untuk mengambil jalan masing-masing. Menyelesaikan sesuatu. Yang bahkan nggak pernah dimulai.
Waktu itu aku sempat marah sama Ibu. Tapi kemudian aku mengingat-ingat lagi masa lalu kita. Ini bukan pertama kalinya Ibu melarangku melakukan sesuatu. Dulu Ibu juga pernah mati-matian melarangku kuliah di Unpad (Universitas Padjajaran) kan, cuma karena nggak mau aku tinggal jauh dari Ibu. Padahal waktu itu aku sama sekali nggak yakin bisa masuk UI, dan pilihan yang paling mungkin bagiku saat itu cuma Unpad. Tapi demi Ibu, akhirnya aku nekat milih UI. Dan akhirnya, meski hasil try-out SPMBku nggak pernah menembus standar UI, saat SPMB sungguhan, aku justru diterima di UI. Saat itu aku bersyukur karena Ibu berkeras melarangku memilih Unpad.
Ibu ingat juga waktu Ibu lagi-lagi melarangku melanjutkan sekolah ke Chiba University? Waktu itu aku juga marah. Tapi setahun kemudian ada berita tentang gempa dan tsunami di Jepang, dan Chiba adalah salah satu kota yang terkena dampaknya. Lagi-lagi, saat itu aku bersyukur karena Ibu melarangku kuliah disana.
Tuh kan, Ibu cenayang banget deh. Ibu selalu tahu apa yang akan terjadi padaku. Larangan Ibu selalu tepat. Ibu keukeuh mengelak bahwa Ibu memang punya kekuatan cenayang. Ibu bilang, itu namanya “insting keibuan”. Well, mungkin juga begitu. Ibu selalu pakai kata-kata sakti: “Nanti kalau kamu punya anak, kamu pasti bisa merasakan juga yang Ibu rasakan sekarang.”
Sekarang, setahun setelah lelaki itu menikahi perempuan lain, aku masih belum bisa mensyukuri larangan Ibu. Tapi aku percaya, suatu saat nanti aku pasti akan menemukan alasan yang bikin aku mensyukuri larangan Ibu untuk nggak bersama laki-laki itu. Iya kan Bu? Ibu pasti udah merasakan bahwa dia bukan yang terbaik buat aku kan? Karena Ibu adalah cenayang kan?
Orang bilang, omong kosong itu kata-kata: “Mencintai tidak harus memiliki.” Tapi bagiku, itu bukan bualan, Ibu sayang. Belakangan ini aku sudah sampai pada satu kesimpulan bahwa  nggak ada gunanya memiliki, jika cinta itu akan menyakiti orang lain yang juga mencintai aku. Karena cinta harus memilih, dan kadang pilihan-pilihan yang ada bukanlah sesuatu yang bisa dipilih dengan mudah. Apalagi kalau pilihan itu adalah antara lelaki yang aku cintai dengan Ibu tersayangku. Jangan suruh aku milih, Bu. Ibu tahu bahwa aku akan selalu memilih Ibu. Orang bilang, cinta akan selalu menemukan jalannya. Tapi karena kami nggak pernah bisa menemukan jalan kemana-mana, jadi akhirnya aku cuma bisa menghibur diri dengan berpikir bahwa dia bukan “the love of my life”.
Orang-orang datang dan pergi dalam hidupku. Beberapa orang membekas di hati terlalu dalam. Dan dari sedikit orang itu, ada orang-orang yang hatinya saling terkait denganku. Dan seperti semua ikatan, ada yang ikatan yang selamanya tidak bisa lepas, seperti ikatan darah. Ada ikatan yang sejak awal nggak pernah berarti apa-apa. Dan ada ikatan yang meski aku ingin mempertahankannya, tapi aku tahu aku harus melepaskannya. Karena melepaskan sangat menyakitkan, tapi mempertahankan akan lebih menggiriskan. Ibu pasti tahu apa maksudnya kan?
Kalau Ibu tanya, apa aku menyesali keputusanku untuk memilih Ibu, aku akan jawab “nggak”. Bahkan setelah lewat setahun, hatiku masih terus merasa sakit, Bu. Ibu pasti tahu rasanya kan? Tapi aku nggak pernah menyesal sudah menuruti larangan Ibu. Aku juga nggak menganggap keputusanku sebagai perngorbanan kok Bu. Bukan! Kata semulia “pengorbanan” cuma layak disandingkan pada jasa-jasa tanpa pamrih Ibu terhadapku. Sombong banget kalau aku mikir bahwa dengan memilih Ibu ketimbang lelaki itu adalah sebuah pengorbanan. Itu hanya bakti yang sudah selayaknya aku lakukan demi Ibu yang sudah membahagiakanku sejak kecil. Penderitaan kecil hatiku nggak akan sebanding dengan kebahagiaan Ibu.

Ibu sayang,
Kalau nanti Ibu sudah menemukan lelaki yang membuat Ibu merasa bahagia kalau melihatku bersamanya, kasih tahu aku ya Bu. Aku percaya sama Ibu. Entah itu karena Ibu adalah cenayang, atau karena itu “naluri keibuan”, aku pasti percaya sama Ibu. Hanya dengan orang yang bisa membuat Ibu bahagia, aku akan bersamanya. Karena Ibu pasti tahu yang paling baik buatku kan? Karena cintanya Ibu buatku adalah perpanjangan cinta dari Rabb Yang Maha Rahim di bumi ini kan?

Ibu sayang,
Jangan berhenti jadi cenayangku ya Bu J



Dari klien setia Sang Cenayang Hebat




Senin, 21 November 2011

You Jump, I Jump : WORDISME

Bahwa sesungguhnya menulis bukan hanya sekedar merangkai kata menjadi kalimat. Menulis itu membuat hal-hal yang tersirat menjadi tersurat, berkata tanpa perlu berkata-kata, menyampaikan ide tanpa menjadi sok tahu, menginspirasi tanpa menggurui, curhat tanpa terlihat berkeluh kesah, menyentuh tanpa harus menyentuh. Menulis juga berarti mengabadikan pikiran, membekukan kenangan dan membuktikan bahwa kita pernah ada.
Dan betapa suatu tulisan bisa begitu mempengaruhi kehidupan seseorang. Karena teriakan belum tentu akan didengar semua orang, tapi tulisan mungkin bisa menyampaikan kata dengan lebih baik.
Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sebanyak-banyak manusia lain, maka manfaat apakah yang bisa diberikan seorang mahasiswa kepada masyarakat? Mungkin menulis adalah salah satu caranya. Karena kata bisa lebih tajam daripada pedang, dan bisa menyentuh lebih halus daripada sutera. Itu mengapa saya ingin terus menulis.


Cuma itu aja kata-kata yang saya kirim untuk mendaftar acara WORDISME yang digagas oleh mbak Alberthiene Endah. Saat itu saya nggak menyangka, atau lebih tepatnya nggak terlalu banyak berharap, tulisan saya itu akan cukup bagus untuk bisa dipilih oleh mbak Alberthiene dan mas Chiko. Jadi waktu akhirnya pada tgl 31 Oktober saya dikirimi email oleh mas Chiko yang bertuliskan “SELAMAT!! KAMU TERPILIH MENJADI SALAH SATU PESERTA WORDISME”, saya langsung mikir “Ini bukan April Mop kan?”. Jangan ketawa! Saya tahu saya tolol banget, kan jelas-jelas itu “Haloween Day”, bukan “April Mop”. Geblek to the max deh :p
Kekagetan saya masih berlanjut saat mas Chiko mengirim undangan acara tersebut. Pembicaranya itu lho ... SUBHANALLAH banget. Saya jadi makin excited sekaligus nervous. Mengingat para pembicaranya keren-keren banget, saya langsung menyimpulkan bahwa acara ini bukan acara sembarangan. Dan pastinya pesertanya bukan orang sembarangan pula. Dan diantara segala yang keren-keren itu, siapalah saya yang cuma seorang mahasiswa yang sedang belajar menulis ini. Jadilah saya makin gugup.
Hingga tibalah waktunya tanggal 19 November itu, kemarin Sabtu. Berhubung saya ini “anak-nggak-gaul-Jakarta”, jadilah saya sengaja berangkat pagi-pagi sekali, demi mengantisipasi kalau nanti saya nyasar. Begitu sampai di tempat acara dan registrasi, saya langsung ketemu mas Chiko. Oke, nggak ketemu sih sebenarnya. Saya cuma registrasi tepat di depan mas Chiko. Perasaan saya tercabik antara mau ngajak kenalan, atau nggak (saya kan anak pemalu). Dan perasaan saya terus tercabik-cabik sepanjang acara. Itu pembicaranya kok ndilalahnya ya semua orang yang twitternya saya follow lho. Semua orang yang kata-katanya selalu berhasil bikin saya ketawa, mengerutkan dahi sampai terharu. Mahfumlah saya akhirnya mengapa acara ini dinamakan WORDISME. Karena semua orang yang berada di sekeliling saya saat itu, terutama para pembicaranya, (termasuk pesertanya juga sih) adalah para pecinta kata. Orang-orang yang menggunakan kata-kata sebagai jalan hidup untuk menghibur, menginspirasi, menyentuh dan memberi. Itulah yang membuat saya dilema sepanjang acara, apakah saya akan berani menyapa mereka dan bilang: “Mas/ mbak, saya Nia. Selama ini selalu jadi penikmat kata-kata mbak/ mas di twitter lho.”
Dan inilah orang-orang yang bertanggung jawab atas kegalauan saya seharian itu: mbak Alberthiene Endah, mas Chiko Handoyo, mas Mayong, mas Alexander Thian, bang Raditya Dika, mbak Clara Ng, mbak Windy Ariestanty, mas Salman Aristo, mas Aditya Gumay, mbak Miund (ini bukan nama asli kan ya?), mbak Artasya, mas Hilbram Dunar. Eh, pengen juga sih sebenernya ketemu kak Rahne, tapi kak Rahnenya nggak dateng. Tapi intinya, meski saya sudah bergalau-galau ria seharian, lagi-lagi karena ketololan dan saking pemalunya saya, sampai acara berakhir, saya nggak berani menegur satupun orang-orang hebat itu lho. Ihiks. #jedot-jedotin-kepala.
Oke, move on dari cerita galau.
Menghitung adalah keahlian saya. Maka begitu masuk ke ruang acara, secara otomatis mata saya segera men-scan seluruh ruangan. Enam jalur kursi di sebelah kiri, lima jalur di tengah dan tujuh jalur di sebelah kanan. Delapan belas baris ke belakang. Dengan cepat saya menghitung bahwa akan ada sekitar 325 orang yang akan memenuhi aula itu. Wow! Untuk sebuah workshop yang diselenggarakan gratis, 325 peserta dengan goody-bag yang superheboh isinya itu, membuat saya mengucap SUBHANALLAH lagi. Mbak AE seperti sukses besar menggandeng begitu banyak sponsor untuk acara ini. #tepok-tangan J
Menghadirkan Gramedia dan Gagas Media di satu workshop, menggandeng Chic dan Femina di saat yang sama ... kemarin itu adalah momen bertabur para penulis hebat. Dan bukan hanya penulis, kemarin ternyata banyak peserta yang berasal dari media penerbitan dan broadcast. Di sana, saya benar-benar cuma seekor teri di lautan yang luas dan dalam. Orang-orang bicara tentang tulisan-tulisan mereka, tentang ide, impian dan dunia-penuh-kata. Betapa saya benar-benar cuma penulis diary yang tulisannya belum bisa menggugah begitu banyak orang. Dan betapa saya ingin seperti mereka yang hanya dengan kata bisa mengubah hidup dan pikiran orang-orang.
Dan rasanya kata-kata indah dan penuh ilmu memenuhi aula lt.7 gedung Gramedia Kompas kemarin. Saya pernah belajar menulis kepada dua orang penulis keren sebelumnya. Mbak Windry Ramadhina adalah guru pertama saya. Mbak Ari (Kinoysan) Wulandari yang kedua. Dan kemarin saya bisa bertemu begitu banyak guru keren dalam satu kelas. Rasanya tuh ibarat seorang murid yang di-tutor oleh banyak guru menjelang UAN. Exciting banget!
Berikut adalah beberapa materi pelajaran yang sudah saya kumpulkan dari guru-guru saya itu:
1.      Mbak Clara Ng bilang, menulis adalah kemampuan berbahasa yang tertinggi. Untuk mencapainya, kita harus banyak membaca terlebih dahulu. Mbak Ari juga pernah mengajarkan hal serupa pada saya. Kalau kita mau menulis satu buku, kita harus membaca sedikitnya 100 buku sebelumnya. Sama seperti kita mau nulis satu tesis, kita harus sudah membaca 100 jurnal sebelumnya (pecahkan kaca supaya nggak dikira lagi ngomong sama diri sendiri).
2.      Kata mbak Clara Ng juga bilang bahwa menanyakan bagaimana caranya mendapatkan ide kepada seorang penulis sama saja seperti menanyakan bagaimana caranya berlari kepada seorang pelari. Ide itu ada dimana saja, selalu ada di sekitar kita, asalkan kita menajamkan hati. Kita hanya perlu memilih, mana ide-ide yang bisa dikembangkan. Kalo kata mbak Ari, tidak seharusnya penulis kehabisan ide. Yang harus kita lakukan adalah mendahului tulisan. Selalu catat ide sekecil apapun yang melintas di pikiranmu. Suatu saat kelak, ide kecil itu pasti bisa jadi ide besar. Sama nih kayak kata mbak Petty yang bilang bahwa kita harus segera menulis saat ingin menulis, jangan ditunda.
3.      Kata mbak Clara (lagi), kenalilah diri kita sendiri sebelum menulis. Tulislah apa yang kita suka, apa yang kita rasa. Setelah itu, baru kenalilah media yang akan kita tuju. Carilah media yang sesuai dengan tulisan kita. Kalau sejak awal kita hanya berfokus pada media, tulisan kita nggak punya ciri dan jiwa #eeaaaa.
4.      Kata mbak Alberthiene, menulis bukan hanya merangkai kata, tapi juga meneropong hati dan menerjemahkan rasa itu dalam bentuk kata. Penulis seharusnya bisa mengkonfigurasi perasaan-perasaan (kalimat “konfigurasi perasaan” ini terdengar sangat sesuatu bagi saya lho mbak J ) di sekitarnya, lalu menuliskannya. Karena hanya sesuatu yang ditulis dari hati yang bisa sampai ke hati pembaca.
5.      Mbak Hetih bilang, semua cerita di dunia ini sudah pernah diceritakan. Kisah cinta macam apa yang belum pernah diceritakan di dunia ini? Hanya kita yang perlu menulisnya lagi dengan cara yang berbeda. Kalo kata bang Raditya Dika mah, “It’s not about what you say, but how you say it”. Ciyeee banget deh bang Dika :p
6.      Mbak Hetih dan mbak Windy Ariestanty bilang, tulisan seseorang bisa dinilai dari halaman pertamanya. Maka kita harus membuat tulisan pembuka menjadi semenarik mungkin. Buat plot yang menarik dan karakter yang kuat. Nasehat ini persis sama seperti yang diajarkan mbak Windry Ramadhina kepada saya, saat saya pertama kali belajar menulis kepada beliau.
7.      Kalau kata mbak Djenar Maesa Ayu, menulis itu adalah kebutuhan. Kata mas Salman Aristo, menulis itu pekerjaan yg tiap detik kita pikirkan. Dan tepatlah begitu. Karena saya bertemu dengan seorang teman yang mengatakan bahwa menulis membuatnya tetap waras dan tidak jadi bunuh diri.
8.      Dan terakhir, kata-kata yang kemarin bikin saya terpesona banget justru datang dari orang yang nggak saya harapkan. Melihat kelakukannya yang konyol, saya nggak menyangka kata-kata sebijak itu datang darinya. Bang Dika bilang: “Jangan hanya menulis saat good-mood. Teruslah menulis bahkan saat bad-mood, minimal 1 halaman. Tulisan lo pasti jelek. Kalau sebulan lo bad-mood terus, maka lo sudah akan menghasilkan 30 halaman tulisan jelek. Saat mood lo oke, 30 halaman tulisan jelek itu akan jadi 30 halaman tulisan bagus.” Uhuy banget bang Dika. Persis seperti kata mbak Ari, biasakan menulis apapun setiap hari.

Jadi ternyata meski antar penulis memiliki gaya yang berbeda-beda, ternyata mereka semua punya satu kesamaan ya. Mereka adalah para pecinta kata, yang tetap berkata dalam keadaan apapun. Yang tetap berkarya tanpa peduli mood. Yang menjadikan diri menjadi sponge yang selalu menyerap semua ide di sekitarnya, menyerap semua rasa, dan menerjemahkannya dalam kata.

Selain ilmu-ilmu yang Subhanallah banget, di acara itulah juga saya bertemu teman-teman baru: mbak Pipit, Dyah, mbak Ayu dan mbak Nadia. Ketemu anak UGM, Unpad dan UI. Terjebak dilema busway-mogok-gara2-belum-ngisi-BBG (gara-gara itu saya jadi lebih tahu Jakarta, bukan sekedar Duren Sawit-Depok doang). Mendengar nasehat tentang dunia kuliah dan kerja. Dan bahwa semua orang punya masalah masing-masing, yang hanya kita sendiri yang bisa memutuskan untuk berhenti atau terus maju. Ketemu orang-orang yang berjuang dengan kata, terinspirasi oleh kata dan menyembuhkan diri dengan kata. Dan saya menjadi terhubung dengan orang-orang yang mencintai kata.
WORDISME! WORD.IS.ME!

Tulisan ini saya dedikasikan untuk:
    1. Ambar Mirantini, yang udah suggest sayau/ follow twitter mbak Alberthiene dan yang pertama kali ngasih tahu saya ttg acara WORDISME ini, tapi malah nggak bisa ikutan. Aku berhutang ilmu padamu, teman. Jadi aku share disini ya J
    2. Mbak Alberthiene, yang sudah menggagas acara ini, memberikan kesempatan bagi “penulis diary” amatir seperti saya ini untuk belajar menulis. Makasih ya mbak J. Makasih juga buat mas Chiko (yang bikin galau krn ga bisa menyapa, hehe) dan kru-kru yang lain yang sudah membuat acara ini terwujud. Juga buat kak Rahne yang kata-katanya seringkali menggelitik dan menginspirasi.
    3. Semua mbak dan mas pembicara yang sudah membagikan ilmunya yang luar biasa. InsyaAllah ilmu yang bermanfaat, pahalanya nggak akan terputus. Betapa beruntungnya saya bisa bertemu guru-guru yang luar biasa seperti mbak dan mas.
    4. Buat mbak Deva, yang punya mimpi yang sama dgn saya. Mari kita jadi penulis dan menginspirasi banyak orang!
    5. Buat Diny (semoga ilmu ini bermanfaat juga untuk dirimu menulis brosur/ packing insert produk obatnya) dan Baitha (inget Bay, kalau mau nulis satu tesis, harus baca 100 jurnal dulu #GamparDiriSendiri, hehehe)
    6. Buat temen-temen baru: Dyah, mbak Pipit, mbak Nadia dan mbak Ayu. Ayo kita semangat menulis!!!! Semoga kita bisa ketemuan lagi ya di acara WORDISME berikutnya. Aamiin ya Rabb J
    7. Dan yang terutama, kepada Rabb yang Maha Rahim, terima kasih sudah mengijinkan orang-orang baik itu membagikan ilmu kepada anak bodoh ini. Semoga Engkau memudahkan mereka mengadakan acara ini lagi, sehingga makin banyak orang yang bisa belajar menulis dan menjadi orang yang bermanfaat bagi lebih banyak orang. Bukankah di mataMu, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sebanyak-banyak umat?


Btw, kemarin tuh kayaknya saya salah kostum deh, jadi kelihatan lebih tua. Orang-orang kok tampak ragu ya setiap kali saya bilang bahwa saya ini mahasiswa semester 3?

Kamis, 13 Oktober 2011

Filosofi Guru

Untuk menerima ilmu, yang perlu kita lakukan adalah merendahkan hati. Bagaimana gelas bisa menerima air dari teko jika posisinya lebih tinggi daripada tekonya? Nah, filosofi murid ini pasti semua sudah pernah mendengarnya. Lalu apa yang kita lakukan untuk memberi ilmu? Apa kita perlu menjadi lebih tinggi dari murid supaya bisa menuangkan air dari teko? Secara ilmu, tentu saja seorang guru harus menguasai lebih banyak dan lebih tinggi daripada muridnya. Tapi jika itu disama-artikan dengan meninggikan hati, tentu bukan begitu maksudnya. Seorang guru saya mengajarkan saya bagaimana menjadi seorang guru.
“Niechan, saya menjadi gurumu bukan karena saya lebih pintar darimu. Saya hanya lebih dahulu mengetahui. Bukan berarti lebih banyak mengetahui.”
Itu adalah kata-kata Sensei saya. Beliau adalah guru les bahasa Jepang saya.  Mengingat gayanya yang cuek dan “semau gue”, saya tidak yakin bahwa kata-kata sedramatis itu  bisa diucapkan olehnya. Beliau pasti baru saja membacanya dari sebuah buku, atau mungkin mengutipnya dari seseorang lain. Tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah, kata-kata beliau tersebut membuat saya sangat terharu. Sensei saya adalah orang yang sederhana, mudah ditebak, suka melucu, nggak neko-neko dan apa adanya. Maka entah kata-kata itu terinspirasi dari buku manapun, jika Sensei sudah mengatakannya berarti itulah yang dipikirkannya. Dan dengan benar-benar memaksudkan kata-katanya seperti itu, terenyuhlah saya pada kerendahan hatinya.
Saya percaya, Tuhan menciptakan manusia dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Tidak ada manusia yang sempurna. Pun tidak ada manusia yang tidak memiliki kelebihan. Dan Sensei saya itu adalah tipe manusia yang mensyukuri kekurangannya selagi meningkatkan kelebihannya, dan tidak sombong pada kelebihannya.
Ketika mengetahui bahwa selain menjadi mahasiswa saya juga seorang guru les privat murid SMU untuk pelajaran Kimia, Sensei memuji saya.
“Nilai sains saya sejak dulu jelek banget. Sampai sekarang aja saya sering salah kalau menghitung uang kembalian belanja,” kata Sensei sambil tertawa geli.
Saat itulah, saya yang selalu merasa bahwa Sensei saya pintar sekali sehingga menguasai lima bahasa (bahasa Inggris, Jepang, Prancis, Indonesia dan Jawa tentunya) ternyata tidak sesempurna itu. Beliau ternyata tidak menguasai perhitungan yang mudah. Sungguh bertolak belakang dengan saya. Saya cukup cepat menyelesaikan perhitungan tanpa kalkulator. Selalu mendapat nilai baik dalam pelajaran sains, terutama kimia dan biologi. Tapi selalu sulit mempelajari bahasa. Jangankan mempelajari bahasa Inggris atau bahasa Jepang, nilai bahasa Indonesia saya selama sekolahpun selalu menyedihkan jika disandingkan dengan nilai pelajaran-pelajaran sains saya. Menyedihkan.
Saya kemudian menyimpulkan bahwa Tuhan menciptakan kelebihan pada otak kiri saya dan memberikan kelebihan pada otak kanan Sensei. Itulah mengapa sebagai gurupun kita tidak boleh sombong dan memandang rendah murid. Karena dia mungkin murid kita dalam satu hal, tapi bisa menjadi guru kita dalam hal lain.
Hal serupa terjadi pada saya dan murid saya. Saya mengajar Kimia untuk seorang murid sekolah internasional. Bramantyo namanya. Orangtuanya adalah orang Indonesia, Jawa tulen. Tapi sampai berusia enam tahun, anak itu lahir dan besar di Amerika Serikat selagi sang ibu menyelesaikan program doktoralnya disana. Lebih sering dititipkan di daycare ketimbang bersama sang ibu yang sibuk riset menyebabkan Bram lebih mengenal bahasal Inggris dibanding bahasa ibunya. Ketika pulang ke Indonesia, dia mengalami kesulitan bahasa sehingga sang ibu menyekolahkannya di sekolah internasional. Sampai sekarang, Bram lebih fasih berbicara bahasa Inggris dibanding bahasa Indonesia. Sial bagi saya karena bahasa Inggris saya tidak terlalu bagus. Sial baginya, karena mendapat guru seperti saya. Tapi mengapa pula saya harus menyerah hanya karena satu kekurangan saya? Saya menerima pekerjaan itu. Mencoba bukan sesuatu yang buruk. Dan saya katakan pada sang ibu tentang keterbatasan active-English saya. Sang ibu memahami dan mengatakan “Bram paham bahasa Indonesia kok. Dia hanya sulit membalas dalam bahasa Indonesia.” Tepat berkebalikan dengan saya! Saya paham jika seseorang mengajak saya bicara dalam bahasa Inggris. Tapi karena jarang berlatih, saya seringkali terbata jika berbicara dalam bahasa Inggris.
Akhirnya yang terjadi pada kami adalah saya mengajari Bram dengan separuh bahasa Inggris – separuh bahasa Indonesia. Dan dia akan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dalam bahasa Inggris. Baik baginya karena bersama saya dia makin terbiasa berbahasa Indonesia. Baik bagi saya karena bersamanya saya makin terbiasa berbahasa Inggris. Malu awalnya harus bercakap dalam bahasa Inggris dengan seseorang yang lebih pandai berbahasa daripada saya. Tapi Bram cukup memahami saya. Dan selagi saya sering mengkoreksi hitungan stoikiometrinya, dia juga seringkali mengkoreksi ucapan saya yang keliru. Saya sering tertawa sendiri setelahnya, sebenarnya diantara kami siapa yang menjadi guru bagi siapa?


Hukum sebab-akibat selalu terjadi dalam segala sisi kehidupan. Jika kau ingin dicintai, maka kau harus mencintai lebih dahulu. Begitu juga dalam mengajar. Dalam proses belajar-mengajar, bukan murid yang harus memahami perkataan kita. Gurulah yang harus memahami murid terlebih dahulu. Itulah filosofi kedua yang diajarkan Sensei.
Mengajar Bram sama artinya seperti main layangan. Kalau dia sedang menarik, kau harus sedikit mengulurnya. Kalau dia terlalu terulur, kau harus buru-buru menariknya. Bram, seperti umumnya remaja, kecerdasannya sangat dipengaruhi oleh suasana hati. Kalau mood-nya sedang buruk, menghitung reaksi netralisasi saja sulitnya setengah mati. Tak perlu lagi menghapal senyawa-senyawa hidrokarbon, hapalan tentang berapa bobot atom hidrogen saja dia lupa. Kalau sudah begini, saya bingung sendiri bagaimana harus mengajarnya.
Sebenarnya, teorinya mudah saja. Bagaimana caranya agar tidak takut? Jangan takut! Jadi bagaimana supaya seorang murid jadi mood belajar? Tentu saja, buat suasana belajar jadi menyenangkan! Dan praktek akan selalu menjadi bagian tersulitnya. Bagaimana membuat suasana belajar jadi menyenangkan kalau sang murid sudah pasang tampang jutek begitu?
Belakangan saya ketahui bahwa Bram ini sebenarnya sangat mirip dengan saya. Jenis manusia audio-learner. Artinya, Bram akan lebih cepat menerima pelajaran dengan cara mendengarnya. Satu hal lain yang saya perhatikan dari seorang audio-learner adalah kami selalu membutuhkan suara di sekitar kami. Kami adalah orang-orang yang suka mendengarkan musik. Menjadi entah bagaimana lebih cerdas jika belajar sambil mendengarkan musik. Dan sementara orang-orang menyepi untuk memperoleh ketenangan untuk belajar, kami lebih senang belajar di keramaian. Sejak mengetahui fakta itu, kami mulai belajar sambil mendengarkan musik. Bram menyukai musik jazz. Dan meski saya lebih menyukai musik yang menghentak-hentak, saya mengalah dan mengijinkannya memutar musik jazz kesukaannya.
Mood bukanlah satu-satunya masalah Bram. Konsentrasi adalah masalah terbesarnya. Ada saat-saat dimana saya heran, mengapa meski Bram sedang dalam keadaan senang, tapi dia tidak fokus pada topik yang sedang saya ajarkan. Setiap kali saya membahas stoikiometri, Bram langsung mengalihkan pembicaraan. Biasanya dia tiba-tiba curhat tentang hal-hal yang dialami di sekolahnya, atau kisah cinta ala abege-nya. Awalnya, saya selalu menanggapi dengan simpatik. Lama kelamaan Bram seperti memanfaatkan kelemahan hati saya dan selalu mengalihkan topik stoikiometri saya menjadi sesi curhat. Akhirnya saya tahu juga alasannya.
Kata orang, kerjakanlah apa yang kau sukai. Atau cobalah untuk menyukai apa yang kau kerjakan. Jika tidak bisa keduanya, maka apa lagi yang bisa kau kerjakan? Hal tersebut terjadi pada kasus Bram. Bagaimana kau bisa tahan mengerjakan sesuatu yang tidak kau sukai? Suatu kali, saya memanfaatkan sesi curcol-nya Bram untuk mengorek rahasia darinya. Dan akhirnya saya tahu bahwa dia memang tidak menyukai pelajaran-pelajaran sains. Kimia dan fisika adalah salah satu yang dibencinya. Dan stoikiometri adalah salah satu yang paling dibencinya dari kimia.
Menyakitkan saat mendengar seseorang tidak menyukaimu. Sama menyakitkannya bagi seorang guru saat mengetahui bahwa muridnya tidak menyukai pelajarannya.
“So, what are you interested in, Bram?” tanya saya akhirnya.
“English Literate,” dia menjawab.
“Why did you choose these subject? Chemistry and Physics?”
“Ibu and Bapak want me to be a doctor, just like them.”
Hooo, sou desuka. Mengertilah saya sekarang. Menyukai sastra, tapi diharapkan menjadi dokter. Lima kali seminggu harus les basic math, advance math, physics, chemistry dan biology. Tiap Sabtu masih harus les piano. Kehidupan macam apapula itu? Keterpaksaan macam apa yang harus dijalaninya setiap hari?
Tapi dapat dipahami juga mengapa orangtua Bram sangat berharap dari Bram. Siapa pula yang bisa diharapkan lagi? Bram adalah anak tunggal mereka. Mungkin bagi mereka, kehidupan penulis tidaklah menjanjikan masa depan cemerlang. Itu mengapa mereka menginginkan anak tunggal mereka mengikuti jejak mereka sebagai dokter.
Jadi apa yang bisa saya lakukan? Menyuruh Bram mengejar impiannya sendiri? Atau memenuhi keinginan orangtuanya? Saya memutuskan untuk mendukung Bram untuk menuruti orangtuanya. Sejauh yang saya lihat, tidak ada yang salah dengan keinginan orangtua Bram. Maka mengapa pula harus mengorbankan kebahagiaan orangtua demi kebahagiaan sendiri jika sebenarnya kita bisa memenuhi keinginan orangtua sambil memuaskan diri sendiri.
“You like to write something? Kinda short-story?” saya bertanya, menelisik.
“No. I write poem.”
“Really?”
Bram tersenyum dan menunjukkan salah satu puisinya kepada saya. Ditulis dalam bahasa Inggris, dengan rima yang indah dan diksi yang menarik. Caranya menceritakan gadis yang disukainya dengan perumpamaan empat musim, sungguh bagus. Dan saya langsung jatuh cinta pada puisi-puisinya.
“I also like to write,” kata saya.
Bram menaikkan alisnya. Tampak tidak yakin bahwa orang seaneh saya bisa menulis sesuatu. Atau mungkin tidak yakin tulisan saya bisa lebih bagus daripada puisi-puisinya. Dan memang benar tulisan saya tidak sebagus puisinya, tapi saya pantang menyerah. Saya ambil selembar kertas, lalu saya tuliskan kata-kata yang baru saja terlintas di pikiran.

Hey kamu! Iya kamu!
Yang sering lupa reaksi netralisasi
Atau bagaimana menghitung reaksi reduksi-oksidasi
Bagaimana nanti kalau kita sudah mulai belajar asilasi?

“Sorry, I don’t  write in English,” kata saya sambil menyerahkan puisi asal-asalan itu. Bram membacanya dan dia tertawa. Sejak itu jika Bram mulai bĂȘte, kami akan saling membuat pantun atau puisi singkat. Lebih sering adalah pantun-pantun sindiran seperti diatas. Tapi sering juga saya menulis tema lain seperti ini:


It is me, Winter.
I’m not Summer who embrace you with warmth.
Neither Spring who pour you colourful cherry-blossom.
I’m just Autumn, who turns you into who you are.

“Do not feel that you are forced to fulfill your parents dream, “ kata saya pada Bram suatu kali, “They both give you everything to ensure that you will gain the best future. Make them happy. And make yourself satisfied. Keep writing on your poem, while calculating your reaction. I did the same.”
Bram tersenyum. Entah tersenyum karena nasehat saya, atau sedang menertawakan bahasa Inggris saya lagi.


Suatu ketika saya pernah ngobrol dengan ibunya Bram. Beliau menanyakan perkembangan Bram. Saya mengatakan bahwa sepertinya Bram cukup oke dalam menghapal, tapi sering terjebak oleh soal-soal hitungan. Ibunya Bram mengatakan bahwa nilai Bram fluktuatif, kadang sangat baik dan kadang juga buruk. Tidak ada pola tertentu pada hasil tes itu. Kadang Bram mendapat nilai baik dalam stoikiometri, kadang justru mendapat nilai buruk dalam soal kimia organik.
Tidak menemukan pola yang teratur pada nilai-nilanya, saya minta ijin untuk meminjam hasil-hasil tes Bram selama ini. Saya mempelajari kesalahan-kesalahan yang dibuat Bram. Setelahnya saya membuat soal sejenis untuknya, dan meminta Bram mengerjakan soal itu. Barulah saat itu saya tahu bahwa masalah Bram memang pada konsentrasi. Bram bukannya bodoh. Dia hanya tidak mampu berkonsentasi dalam waktu lama, dan seiring waktu ketelitiannya menurun.
“If you are given 1 hour to do the test, in what time you usually finish it?” tanya saya.
“30 minutes is enough for me,” jawabnya cuek.
“And what did you do in the rest of time?”
“Nothing. I just wanna do it as soon as possible.”
“You didn’t recheck your answer?”
Bram mengangkat bahunya sambil nyengir tak berdosa.
Itu masalahnya! Bram bukan bodoh. Dia hanya tidak bisa berkonsentrasi. Dan dia tidak teliti. Seringkali dia melewatkan informasi-informasi penting dalam soal. Jika saya mengkoreksi jawabannya, dia cuma nyengir sambil berkata: “Why did’t I see that clue?”
Aaarrrggghhh, geregetan! Saya geregetan!
Anak ini selalu santai menghadapi ujian, dan malah saya yang stress setiap kali dia akan ujian. Saya selalu khawatir dia melakukan kesalahan-kesalahan kecil yang tidak seharusnya dilakukan hanya karena dia tidak teliti.
Kehabisan ide, saya menerapkan filosofi–mengajar ketiga yang diajarkan Sensei. Filosofi ketiga tersebut adalah bahwa Tuhan selalu mendengar impianmu, dan seluruh alam raya akan bersatu padu mewujudkannya asalkan kita konsisten memimpikannya dan mengusahakannya. Menyebutnya sekali membuat kita menyadari sesuatu. Menyebutnya berkali-kali membuatnya tertanam di pikiran kita. Menyebutnya terus-menerus akan menerakannya di alam bawah sadar. Dan bagaimana mungkin kita tidak mengusahakan sesuatu yang terpatri kuat di hati dan pikiran kita?
Itu jugalah yang saya lakukan terhadap Bram. Prinsipnya adalah pengulangan. Jika orang cerdas bisa memahami pelajaran hanya dengan sekali mempelajarinya, bukan berarti yang tidak cerdas tidak bisa. Kita hanya perlu mempelajarinya lagi dan lagi dan lagi.
Saya membuatkan catatan-catatan ringkas untuknya. Diagram-diagram dan rangkuman dari pelajaran-pelajarannya, agar dia mudah memahaminya. Saya mengulangnya berkali-kali. Menanyainya terus-menerus, memastikan dia hapal dan mengerti. Menghapal saja tidak cukup, mengerti adalah keharusan. Dan saya juga terus-terusan mencekokinya dengan kata-kata: “Mengerjakan cepat itu baik. Mengerjakan dengan tepat, itu lebih baik. Do it fast, and ensure that you’ve done it correctly. Re-check you answer! RE-CHECK!”                 
Bram biasanya hanya nyengir-nyengir geli menghadapi kegalakan saya. Dia menganggap wajah galak saya itu lucu.
“I give you chocolate if you get a good score!” kata saya mengiming-imingi.
“Do you think I’m a little girl? I don’t want chocolate,” katanya mencemooh.
“So?”
“Willy Wonka Candy. You can only find them at KemChick.”
Ahahaha, dasar anak pintar! Nyusahin aja deh.
“Deal!” kata saya sambil tertawa. “Give me score of 90. I give you my word.”
Bram nyengir.
Sayangnya, saya tidak bisa memenuhi janji saya. Ketika akhirnya dia mendapat nilai 97 pada subjek Chemistry untuk ujian kenaikan kelasnya, saya lagi-lagi hanya bisa membelikannya coklat. Sebagai permintaan maaf, saya tulis pantun pendek untuknya.


Hei kamu! Iya, kamu!
Yang ujian kimianya bernilai nyaris sempurna
Ingat yg aku bilang di awal jumpa?
Kau tidak bodoh, tidak juga lama
Kamu cuma perlu teliti membaca
Karena kamu sudah pintar luar biasa
Lagi-lagi dia tertawa membacanya. Entah kenapa. Saya abaikan saja tawa mengejeknya itu. Saya tahu dia sedang mengira yang saya lakukan itu konyol.


Seperti yang saya katakan sebelumnya, bersama Bram saya harus pandai menarik ulur. Memaksanya belajar tidak akan efektif. Membiarkannya bermain semaunya, juga suatu keria-siaan. Maka kemampuan berkompromi adalah hal yang harus saya miliki saat menghadapi dia. Dan saya masih harus banyak belajar soal itu.
Dalam hidup, kita menerima dan memberi. Sensei telah mengajari saya bagaimana menjadi seorang guru. Saya meneruskannya kepada Bram, bagaimana seharusnya dia belajar. Dan Bram juga mengajari saya banyak hal, bahkan mungkin lebih banyak daripada yang saya berikan. Bram mengajari saya untuk mengenal karakter, mempelajari sifat dan keinginan manusia, bersabar, berkompromi dan berstrategi. Jadi sebenarnya, kita adalah guru bagi sesama kita. Tinggal kitalah yang memilih, apakah kita ingin jadi guru yang baik atau guru yang mencontohkan keburukan.

Sabtu, 08 Oktober 2011

Student's Story



Waktu jaman kita muda dulu (jadi inget umur, sekarang udah nggak abege lagi, hehe), kita sering menganggap diri kita paling hebat. Udah paling bangga kalau berhasil mengelabui guru, meloloskan diri dari razia VCD bokep. Berasa jago kalau berhasil menyusup masuk selagi teman-teman lain yang sama-sama terlambat sekolah disuruh push-up. Dan berasa keren banget kalau berhasil menerapkan metode mencontek mutakhir sehingga bisa nyontek tanpa ketahuan guru.
Sekarang setelah waktu-waktu terlewati dan status saya sebagai murid mulai bergeser menjadi si “oknum guru” itu, saya makin menyadari bahwa dulu kita sebenarnya tidak sehebat itu. Kita sebenarnya cuma anak-anak yang dibiarkan bermain petak-umpet oleh orangtua kita. Kita dibiarkan bersembunyi meski mereka sebenarnya sudah tahu sejak awal dimana kita akan bersembunyi ... karena mereka pernah memainkan permainan petak-umpet serupa.
Dulu kita merasa hebat sekali jika bisa mengelabui guru dan berhasil nyontek tanpa ditegur guru. Kenyataannya sekarang, setelah saya sendiri menjadi guru, saya jadi geli sendiri dengan tingkah murid-murid yang seperti itu. Saling melirik, saling berbisik, pura-pura meminjam tip-ex, membuat contekan dengan tulisan super kecil dan kelucuan-kelucuan lainnya. Beruntunglah saya yang tidak pernah berani mencontek hingga sekarang karena sebenarnya tidak ada guru yang tidak menyadari bahwa muridnya mencontek.
Kau pikir guru-guru kita yang pintar itu tidak tahu apa-apa saat kita mencontek? No, no! Mereka semua tahu! Tidak ada yang tidak tahu. Yang ada hanyalah guru yang menegur dan memarahimu, atau sekedar menyindir halus, atau justru guru yang memilih untuk mengurangi nilaimu dalam diam.
Seperti yang tadi saya bilang, melihat kehidupan yang sama dari sudut pandang yang berbeda, benar-benar lucu. Saya sebenarnya tipe guru yang nggak suka mempermalukan murid di depan teman-temannya yang lain. Jadi saat melihat anak-anak itu masih saja menggunakan trik-trik kuno untuk mencontek, saya cuma bisa nyengir. Sindiran adalah hal terkahir yang saya lakukan. Selebihnya, kalau mereka tetap nekat “berusaha”, saya memilih diam dan langsung menandai nama mereka masing-masing di daftar nilai saya. Memberi nilai terendah bagi mereka adalah hal paling baik dan paling kejam yang bisa saya lakukan. Tidak mempermalukan mereka di depan teman-temannya adalah hal baik yang saya pilih. Tapi memberi “imbalan setimpal” atas kenakalan mereka bukanlah sesuatu yang tidak adil, bukan?
Begitupun terhadap kenakalan kita yang lain. Waktu kita melompati dinding belakang sekolah demi menghindari razia “murid terlambat”, apa kau pikir semua guru tidak tahu? Sebenarnya nggka juga lho. Ada yang tahu kelakuanmu itu. Tapi seperti halnya saya, ada beberapa guru yang lebih suka diam. Tidak ada yang menegurmu hanya berarti bahwa mereka memberimu “hadiah” atas kerja kerasmu yang sudah berusaha melarikan diri. Hahaha.
Kelucuan lain para murid ternyata tidak melulu soal kenakalan mereka. Kisah cinta mereka adalah kelucuan lainnya. Ketika sekarang saya mendengar curhatan mereka soal kisah cinta mereka, saya sering nyengir dalam hati, membayangkan betapa dulu guru saya pasti merasa lucu mendengar cerita cinta abege saya. Dulu saya pasti sama lucunya dengan murid-murid saya sekarang, mengkhawatirkan kisah cinta remeh-temeh.
Well, yeah, kita melakukan hal-hal kecil saat kita masih kecil. Berpikir bahwa kita sudah besar dan sudah melakukan hal-hal besar. Kita mengkhawatirkan hal-hal kecil saat kita masih kecil, dan mengira bahwa hal-hal tersebut terlalu besar dan berat untuk kita tanggung. Tapi sekarang setelah kita cukup besar, akhirnya kita tahu kan bahwa hal-hal besar kemarin hanya sebesar yang kita bayangkan? Bahwa sebenarnya hal-hal besar yang dulu merisaukan kita, ternyata tidak sebesar itu kan? Waktu itu kita hanya masih kecil untuk menerima yang lebih besar. Tapi waktu kita akhirnya menerimanya, kita akan tumbuh menjadi sebesar apa yang diperlukan untuk kuat mengangkat beban itu kan?


Ngomong-ngomong soal menjadi guru, itu berat juga lho. Karena seperti kata pak Marno: “Saat kita mengajar, sebenarnya kitalah yang paling harus belajar, memastikan diri menjadi lebih tahu daripada murid kita.”
Seorang guru memang harusnya lebih tahu daripada muridnya, karena dialah tempat bertanya dan menimba ilmu para muridnya. Tapi kemudian belakangan ini saya menyadari bahwa menjadi lebih tahu dan lebih pintar bukanlah hal yang paling penting untuk menjadi seorang guru. Berapa banyak guru-guru kita yang jenius luar biasa, tapi semua muridnya bingung dengan pelajaran yang diajarkan? Kalau pakai istilah saya sendiri sih, fenomena itu disebut dengan “perbedaan frekuensi otak”. Makin jauh kesenjangan intelegensi antara guru dan murid, maka makin rentan terhadap insiden “ketidak-tersampaian ilmu.”
 “Ini guru lagi ngomong bahasa dewa kali ya? Manusia biasa seperti kita mah nggak bakal paham bahasa dewa begitu. Frekuensi otaknya beda sama kita, jadi nggak bisa beresonansi dgn frekuensi otak manusia biasa seperti kita.”
Kalau murid kita sudah ngomong seperti itu, berarti kita adalah guru tidak berguna. Sepintar apapun seorang guru, kalau muridnya sendiri nggak paham perkataannya, berarti dia bukan guru yang baik. Sejenius apapun guru, kalau tidak bisa mentransfer pengetahuannya kepada murid-muridnya, lalu guru seperti apa itu? Ditambah lagi kalau sampai murid kita sendiri takut, benci dan cenderung menghindari kita, maka sebenarnya kita hanyalah orang yang pintar, bukan seorang guru.
Berdasarkan teori yang saya alami sendiri, sepintar apapun guru dan sebaik apapun ilmu yang diberikannya, ilmu itu tidak akan pernah sampai kepada murid kalau muridnya tidak merasa nyaman dengan gurunya. Ketidaknyamanan itu bisa terjadi karena banyak hal. Oke, bahas satu per satu ya J
Suatu ilmu nggak akan bisa sampai kepada murid kalau muridnya takut sama gurunya. Takut pada guru akan berimbas pada ketakutan murid pada ilmu yang diajarkan guru tersebut, meski ilmunya sendiri tidak menakutkan. Sebaliknya, sesulit apapun pelajarannya, kalau murid suka dengan gurunya, biasanya mereka akan bisa menerima ilmu tersebut dengan lebih baik. (Inget pelajaran fisika waktu nulis ini :p )
Ilmu juga nggak bisa sampai kepada murid kalau muridnya membenci gurunya, atau gurunya juga balik sebal pada muridnya. Bagaimana mungkin cangkir bisa menerima air dari teko kalau cangkirnya ditutup atau tekonya tertutup? Kebencian adalah hal yang menutup hati dan pikiran kita dari ilmu-ilmu baik yang sebenarnya ada diantara guru dan murid. Sebaik apapun ilmu, jika disampaikan atau diterima dengan kebencian, ilmu itu tidak akan pernah sampai kepada muridnya.
Dan kebencian bisa datang dari banyak sumber. Sikap murid yang tidak hormat, atau sikap guru yang membuat murid jadi tidak hormat. Merasa diri paling pintar dan sikap merendahkan murid adalah salah satu yang paling menimbulkan kebencian.
Beberapa kali saya mendengar seorang guru berkata: “Ah, dulu saya bisa mengerjakannya kok. Kenapa mereka nggak bisa? Kan kita sama-sama makan nasi.”
Pernyataan tersebut bisa mengimplikasikan dua hal. Pertama, bahwa sang guru sudah bisa membaca dan berhitung sejak lahir (saking jeniusnya, sehingga tidak pernah menjadi orang bodoh). Kemungkinan kedua, bahwa saking pintarnya sang guru sekarang, beliau sampai lupa bagaimana rasanya menjadi tidak tahu.
Benar adanya bahwa para guru pastilah lebih berpengalaman daripada murid-muridnya sehingga beliau pasti sudah tahu bahwa soal-soal seperti itu bukan soal yang mustahil dikerjakan. Tapi para guru seringkali lupa bahwa beliau dulu juga pernah menjadi murid yang tidak tahu. Mereka lupa bahwa saat mereka masih muda dulu, soal-soal sepele itu adalah hal yang besar bagi mereka. Mereka lupa bahwa dulu mereka pernah merasa tidak bisa melakukan sesuatu sebelum akhirnya mereka menemukan cara untuk menyelesaikannya. Mereka bahkan lupa bahwa murid memang memiliki hak untuk bodoh, karena mereka hanya seorang murid. Mereka membayar sekolah untuk dididik, bukan untuk diklaim sebagai orang bodoh. Jika murid-murid itu sudah pintar, untuk apa lagi mereka sekolah dan kuliah? Para guru mungkin melupakan fakta penting itu.
Para guru seringkali lupa dan mengira para murid sudah sama pintar dan sama tahunya dengan mereka sekarang. Akibatnya mereka menjelaskan dengan terburu-buru, dan terlewat menanamkan pemahaman-pemahaman dasar yang dibutuhkan murid untuk memahami pengetahuan yang lebih tinggi. Hal-hal seperti itu yang membuat murid jadi frustasi dalam menerima pelajaran.
Ada kalanya saya berpikir, guru yang baik sebenarnya bukan hanya yang paling pintar, atau yang gelarnya paling panjang ya? Guru yang baik mungkin saja kepintarannya hanya bernilai delapan, tapi seluruhnya bisa diturunkan kepada murid-muridnya …. alih-alih guru jenius dengan kecerdasan bernilai sepuluh, tapi hanya sepertiga dari ilmunya yang bisa diturunkannya. Guru yang baik rasanya bukan yang paling pintar (bukan berarti guru tidak harus pintar. Tentunya seorang guru haruslah yang pintar), tapi juga yang paling memahami apa yang dibutuhkan muridnya untuk menjadi pintar. Sayangnya, kecerdasan untuk memahami murid tidak selalu berbanding lurus dengan kecerdasan intelegensia. Itu mengapa menjadi pintar jauh lebih mudah daripada menjadi seorang guru.
Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, untuk memahami seorang murid, nggak sesulit itu kan? Seorang guru juga pernah menjadi abege kan? Hanya saja mungkin ketika sudah terlalu lama menjadi guru, kita justru lupa bagaimana rasanya menjadi murid. Ketika kita beranjak dewasa, kita jadi lupa bahwa dulu kita juga sering melakukan kekonyolan-kekonyolan yang sama dengan para abege itu. Lupa deh kita bahwa kita dulu pernah juga bergaya “labil”, atau bahkan masih labil sampai sekarang, meski dalam bentuk yang berbeda. Kita juga lupa bahwa dulu kita adalah “galauers everywhere, everytime” bahkan oleh hal-hal yang sekarang kita anggap sepele.
Yeah, pengalaman guru memang lebih banyak. Dan guru yang sering mengatakan “saya juga dulu pernah jadi murid, tapi nggak gitu-gitu amat deh” juga memang pernah muda. Mungkin mereka hanya lupa, bagaimana menjadi muda dan galau :p


Tulisan ini dibuat sebagai topik balasan dalam serial “You Jump, I Jump” antara saya dan Ambar. Pada topik terbaru yang dipilihnya (seperti dapat dibaca pada blog berikut: http://ambareetabercerita.wordpress.com/2011/10/07/ants-story/), Ambar bercerita tentang betapa kita ini hamba yang tidak tahu rencana Tuhan tapi dengan sok tahunya merasa bahwa Tuhan tidak sayang pada kita. Padahal sesungguhnya Tuhan punya rencana yang lebih besar dan lebih indah bagi kita. Kita hanya terlalu kecil untuk mengetahui rencana besar itu saat ini.
Mengambil tema serupa, kali ini saya membahas tentang masa lalu kita, semasa masih sekolah dulu. Ini cerita tentang murid, dengan segala tingkah dan ke-sotoy-annya. Ini cerita tentang murid, yang diceritakan oleh seorang murid ... yang saat ini sedang berusaha menjadi guru.

Apa lalu saya sudah menjadi guru paling baik sehingga bisa memposting artikel aneh macam ini? Pastinya, saya masih jauh dari menjadi guru yang baik. Dan untuk menjadi guru seperti itu sama sulitnya dengan mendapat nilai sepuluh dalam pelajaran fisika, bagi saya. Saya cuma seseorang yang sedang terus belajar untuk bisa kembali memahami dunia remaja agar bisa menjadi sahabat mereka. Bukankah pengetahuan apapun paling mudah ditransfer oleh seorang sahabat, ketimbang oleh seorang guru?