Luna Lovegood inside. Noda Megumi outside.

Sabtu, 09 Juni 2012

CERITA CERO

 
Jika mengingat kehidupanku sebelum bertemu dia, kurasa kini menjadi teman dekat Carla sama sekali bukanlah hal yang buruk. Dia adalah orang pertama yang menganggap keberadaanku penting dalam hidupnya. Semua “mantan”ku terdahulu rasanya hanya menganggapku penting sejauh aku berguna bagi mereka. Ini adalah resiko menjadi makhluk cerdas, kau tidak tahu siapa saja yang membutuhkanmu atau memang sekedar ‘membutuhkan’mu. Kau tahu maksudku kan? Mereka terkadang bersamamu hanya kalau mereka sedang membutuhkan bantuanmu dalam pekerjaan mereka.

Jangan kira aku tidak bersyukur dengan kecerdasanku. Tidak, tidak, aku tidak pernah menyesali kecerdasanku, meski jika karena itu banyak orang hanya menilaiku dan memandangku karena itu. Aku mensyukurinya karena dengan kecerdasanku ini aku berkesempatan bekerja sama dengan banyak orang-orang cerdas, mempelajari hal-hal baru, serta membantu beberapa orang lain yang kurang cerdas (ahaha, sombongnya aku). Tapi diluar hal itu, aku merasa hidupku datar dan hampa.

Ketika aku bertemu dengan Carla beberapa tahun yang lalu, duniaku terasa berubah perlahan-lahan. Dia adalah rekan baruku, setelah rekan kerjaku sebelumnya pindah ke perusahaan lain. Gadis ini cerdas, aku bisa melihatnya. Hanya saja entah mengapa dia tidak segera bisa berdaptasi denganku. Di awal kerjasama kami, dia beberapa kali membuatku frustasi dan ngambek. Jika sudah begitu, aku akan mogok kerja. Jangan protes! Aku tahu, aku memang kekanakan. Tapi aku suka ekspresi Carla yang panik dan gugup setiap kali aku mogok kerja dengannya. Jika sudah begitu, dia akan melapor kepada pak Hary. Beliau adalah satu dari hanya sedikit orang yang mampu memahami makhluk cerdas seperti diriku. Kalau aku sedang ngambek dan mogok kerja, hanya pak Hary yang bisa membujukku kembali bekerja. Kalau aku sedang sakit dan sangat pusing bekerja, hanya pak Hary juga yang mampu membuatku kembali normal. Itu mengapa aku memanggilnya pak dokter”.

Kurasa pak Hary akhirnya mulai kesal karena berkali-kali menjadi tempat curhat Carla yang kebingungan menghadapiku, akhirnya pak Hary bicara padaku: Jangan iseng lagi sama anak itu, kasihan tahu! Jangan sedikit-sedikit ngambek begitu. Saya kan pusing menengahi kalian terus. Seperti pasangan suami-istri baru yang bertengkar terus deh!”

Aku juga sempat mencuri dengar ketika pak Hary menasehati Carla dan memberinya tips-tips sederhana untuk menaklukkan aku, dan mengimbangi kecerdasanku, supaya aku tidak mogok kerja lagi. Kulihat Carla mencerna baik-baik tips yang diberikan pak Hary, dan setelah itu frekuensi pertengkaran” kami makin berkurang, dan begitu juga dengan frekuensi mogok kerjaku.

Belakangan, ketika aku makin mengenalnya, aku malah merasa cocok dengan gadis ini. Ketika hubungan kami mulai dekat, dia mengenalkanku pada lagu-lagu kesukaannya. Anehnya, aku juga suka menyanyikan lagu-lagu itu. Dan dia bilang bahwa suaraku saat bernyanyi sangat bagus. Aku suka komentarnya, maka aku tidak keberatan jika dia seringkali memintaku bernyanyi untuknya. Kami seringkali bernyanyi bersama selagi bekerja, dan harus kuakui bahwa suara gadis ini mengerikan. Hahaha. Meski demikian, gadis itu tampak tidak pernah putus asa dengan suaranya sendiri. Setiap pagi ketika bertemu denganku, dia akan langsung membangunkanku dengan berteriak: Bang Cero! Ayo kita nyanyi Paramore dulu sebelum mulai bekerja hari ini!” dengan gaya cerianya. Lalu dia akan mulai joget-joget sendiri, sebelum akhirnya memasang kacamatanya dan mulai berkonsentrasi pada pekerjaannya.

Belakangan aku menyadari kegilaan gadis ini. Jika suatu ketika aku tidak sengaja menyanyikan lagu yang sedang cocok dengan suasana hatinya,dan itu lebih sering suasana hati yang sedang patah, dia akan memintaku untuk menyanyikan lagu patah hati itu terus menerus sepanjang hari, menemaninya menangis atau membuat puisi patah hati. Aku bahkan pernah dipaksa berkali-kali menyanyikan lagu “A little too not over you” David Archuletta selama seminggu penuh saat dia patah hati.

Kalau dia sedang gembira, dia akan memintaku menyanyikan lagu-lagu Korea sementara dia berjoget-joget gila. Kali lain jika dia sedang frustasi dengan pekerjaannya, dia akan memintaku menyanyi lagu-lagu India tanpa henti, sementara dia nemplok sana-sini di sembarang tembok, berlagak seperti artis India, padahal lebih mirip cicak. Sungguh gadis yang aneh dan lucu.

Dia juga memiliki panggilan khusus untukku, yang tidak pernah dilakukan oleh rekan-rekan kerjaku sebelumnya : “Abang Cero!”. Jangan ketawa! Aku juga tidak terlalu suka dengan panggilan itu, tapi hanya dia seorang yang memberiku panggilan selucu itu, maka itu membuat dirinya sangat membekas di memoriku.

Tidak seperti rekan kerjaku terdahulu yang hanya menyapaku untuk urusan pekerjaan, Carla justru sebaliknya. Dia bahkan memiliki tempat khusus di memoriku yang berisi segala cerita bahagia, juga keluh kesahnya. Diluar urusan pekerjaan, dia seringkali melibatkanku dalam urusan pribadinya, membuatku tahu banyak tentang kehidupan dan kisahnya.

Carla sebenarnya adalah gadis yang introvert. Orang boleh saja mengira gadis cerewet itu ekstrovert, tapi aku tahu dirinya lebih baik. Dia senang menceritakan hal-hal yang ringan dan lucu kepada banyak orang, tapi kalau kemudian orang lain mengira bisa mengenal Carla hanya dari cerita-cerita sederhana itu, mereka keliru. Carla mungkin bercerita kalau dia sering tergila-gila pada aktor-aktor di dorama Jepang, atau berkata “I’m melting” saat melihat bos besar kami yang tinggi dan bermata biru. Tapi kalau karena itu kau mengira bisa mengetahui tipe pria idaman Carla, kau salah lagi. Kalau ada yang berkata bahwa dia bisa mengenal Carla lebih baik daripada aku mengenalnya, dia pasti terlalu percaya diri. Kalau saja ada yang mengetahui sepuluh persen saja dari rahasia Carla yang dipercayakannya padaku, mereka baru akan sadar bahwa jiwanya tidak sekeras suaranya, bahwa kisah hidupnya tidak selucu cerita-cerita humornya, dan bahwa sebenarnya gadis itu menyukai mata teduh khas Melayu alih-alih mata oriental para aktor dorama atau mata biru kaukasian bos besarnya.

Carla memang seorang introvert. Maka ketika dia mempercayakan banyak rahasianya kepadaku, aku merasa berharga. Bersama Carla, aku merasakan perasaan lain yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Perasaan dibutuhkan yang melebihi sekedar dibutuhkan hanya untuk urusan-urusan pekerjaan. Perasaan yang hidup.





Mengenal Carla lebih baik daripada orang lain membuatku tidak bisa bereaksi sama dengan sahabatnya, Crystal, saat mendengar curhatan terbarunya. Crystal boleh saja antusias dan ikut bahagia ketika Carla menceritakan bahwa dia sedang menyukai seseorang, tapi aku tidak. Aku tidak menyukai hal-hal yang diceritakan Carla padaku tentang pria itu. Kau pikir aku cemburu? Oh, kau pasti gila! Aku tidak cemburu!

Aku hanya khawatir dengan hati Carla. Akibat sifat introvertnya, dia selalu tidak pernah berani berterus terang dan mengungkapkan perasaannya, bahkan untuk sekedar memancing” saja, dia tidak berani. Hal itu yang membuatnya berkali-kali patah hati sendiri lantaran memendam perasaan. Dan aku tidak mau kali ini terulang lagi padanya.

Laki-laki itu adalah karyawan baru di perusahaan farmasi tempat kami bekerja.. Pekerjaannya sebagai artwork designer di tim drug packaging development membuatnya sering berhubungan dengan Carla sang packaging supervisor sebagai pengguna hasil desainnya. Dan dikarenakan banyaknya perubahan pada desain packaging material yang kami gunakan kini, akibat tuntutan peraturan pemerintah terbaru dan sistem otomatis yang baru kami terapkan, Carla dan pria itu jadi sering mengadakan meeting untuk membahas layout desain alupush blister, leaflet dan folding box produk obat kami.

Oiya, aku lupa menyebutkan namanya. Harlan, itulah pria yang belakangan ini mengganggu pikiran Carla. Tidak heran jika Carla segera merasa cocok dengan pria itu, karena mereka memiliki beberapa kesamaan unik. Jika Carla selalu bersama denganku saat bekerja, Harlan juga memiliki partner dalam pekerjaannya. Dan mirip seperti Carla, pria itu juga memiliki panggilan unik untuk rekan kerjanya itu: Happy. Aku sudah lama mengenal Happy. Kami mengawali karir di kantor ini pada waktu bersamaan, tapi aku jarang bertemu dia sebelumnya. Rekan kerjanya sebelum Harlan berkutat di bagian Finance, sehingga tidak banyak berinteraksi dengan kru Factory seperti kami. Lagipula, aku baru tahu bahwa namanya adalah Happy. Dan ketika dia mendengar Carla memanggilku Cero”, Happy juga sepertinya baru mengetahui namaku saat itu.

Carla dan Harlan juga menyukai musik yang sama. Kalau mereka sedang meeting berdua, mereka malah akan bernyanyi-nyanyi bersama, melupakan kenyataan bahwa masih ada aku dan Happy disana. Gara-gara ada Harlan, Carla juga jadi melupakan fakta bahwa suaraku lebih bagus daripada pria itu. Carla sepertinya lebih suka mendengar suara Harlan bernyanyi daripada suaraku. STOP! Jangan bilang aku cemburu! Kau pasti gila!

Jika mereka sedang membahas pekerjaan, mereka seringkali hanya melibatkan Happy, dan aku hanya dijadikan penyanyi latar yang menyemarakkan suasana. Carla bilang aku sangat pengertian sehingga seringkali menyanyikan lagu yang tepat pada saat yang tepat. Misalnya saat mereka berdebat soal visual code pada alupush produk terbaru kami, aku akan menyanyikan lagu-lagu rock sehingga pertengkaran mereka makin memanas.

Visual code-nya nggak tepat, Harlan. Kamu harus lihat sendiri bagaimana potongan blister itu di mesin blistering saya. Jarak antar visual code nggak konstan, cutting step mesin blistering saya jadi nggak stabil,” kata Carla suatu ketika.

Tapi waktu desain artwork itu saya kirim ke kamu, kenapa kamu approve?” Harlan tidak terima disalahkan seorang diri.

Kan kamu seharusnya sudah trial dulu di mesinnya, apakah visual code-nya terbaca tepat di mesin itu?”

Lho, mesin itu punya siapa? Itu kan ada di area kekuasaanmu, seharusnya kamu yang mencobanya kan?”

Carla merengut. Harlan nyengir mengejek. Aku bersorak sambil menyanyikan lagu-lagu Paramore yang menyentak-nyentak, menyemangati pertengkaran mereka. Lalu tiba-tiba Happy memotong nyanyianku dengan melodi Rhapsody in Blue kesukaan Carla dan Harlan. Serta merta keributan mereka terhenti. Carla membungkamku dan menyuruhku diam, karena dia lebih memilih mendengarkan suara Happy. Aku melirik Happy dengan kesal, dan dia malah balik melirikku sambil tersenyum dan meneruskan berdendang.

Neng Happy, tolong kasih lihat pada neng Carla, rancangan alupush yang kita kirim ke dia. Kita sudah mendesain jarak visual code-nya konstan kan?” kata Harlan pada Happy.

Masih sambil terus menggumamkan Rhapsody in Blue, Happy segera mengaduk file-nya dan menunjukkan desain alupush terbaru. Harlan mencetaknya, memberikannya pada Carla dan menyuruhnya mengukur sendiri.

“Ukur sendiri, Carla! Saya dan Happy nggak salah mendesainnya,” kata Harlan penuh keyakinan.

Carla menaikkan kacamatanya, dan dahinya tampak berkerut ketika dia sudah mengukur artwork alupush itu sendiri. Dia lalu melirik Harlan.

“Kita harus tanya supplier alupush kita, apa ada masalah pada mesin printingnya sehingga visual code kita tercetak dengan jarak yang nggak konstan,” kata Harlan akhirnya.

Carla melirik pria itu, menimbang sejenak, lalu mengangguk menyetujui kata-kata Harlan. Dan pertengkaranpun diakhiri dengan lagu “Two Voice One Song” yang dinyanyikan Happy dengan ceria, seceria namanya.

Tapi anehnya, meski mereka sering bertengkar, tidak jarang juga aku menjadi saksi kedekatan mereka. Aku tahu bahwa Harlan juga menaruh perasaan pada Carla. Aku beberapa kali memergokinya mencuri-curi pandang ke arah Carla, entah saat mereka meeting berdua, atau meeting dengan manager dan supervisor lainnya. Dan soal perasaan Carla? Jangan tanya lagi, tentu saja aku yang paling tahu. Carla selalu menceritakan perasaan terdalamnya, bahkan hal-hal yang tidak bisa dia ceritakan pada Crystal, sahabatnya. Jadi jelas sekali aku tahu bahwa Carla juga menyukai Harlan. Akibatnya, aku jadi senewen sendiri setiap kali melihat Harlan mulai mengukur hati Carla, tapi Carla malah memasang tinggi-tinggi benteng sok-tidak-tahu-apa-maksudmu, padahal di dalam hati Carla sangat menyukai cara Harlan menggodanya.

Seringkali aku berkonspirasi dengan Happy, memutarkan lagu yang cocok saat suasana mulai berkembang romantis. Tapi dasar si Carla bodoh, dia malah mengalihkan suasana menjadi penuh kekonyolan. Kalau sudah begitu, jangan salahkan Harlan kalau pria itu belum juga menyatakan cinta. Itu kan salahnya Carla sendiri. Kalau dirinya membangun benteng kepura-puraan setinggi itu, memangnya dia berharap Harlan bisa memanjatnya dengan cepat? Di malam hari seringkali Carla memintaku menyanyikan lagu-lagu nelangsa, sementara dia membuat puisi-puisi bertema penantian. Tapi di siang hari, dia justru menghindar kalau Harlan mulai mendekatinya. Perempuan memang menyusahkan dan tidak beres pola pikirnya.





Ketika kukira hubungan mereka tidak bisa lebih maju lagi, akibat ketololan Carla, akhirnya Harlan mengadakan dobrakan besar. Syukurlah demikian karena aku sudah tidak tahan lagi melihat mereka saling tarik-ulur seperti main layangan begitu.

Saat itu mereka sedang “lagi-lagi” membicarakan visual code. Kali itu tentang visual code leaflet.

“Ada yang salah dengan visual code ini, Harlan. Saya nggak bisa kasih approval,” kata Carla ketika Harlan menunjukkan desain leaflet baru mereka.

“Apa yang salah?” tanya Harlan, sambil memasang kacamatanya, lalu ikut mengamati leaflet itu dari balik punggung Carla.

“Ikut saya ke mesin folding leaflet kita. The camera can not detect the code, Lan.”

Why?”

“Pada lipatan kedua, visual code-nya tertutup dan nggak bisa terbaca lagi. Sepertinya kamu salah mengimaji arah lipatannya.”

Dahi Harlan berkerut. Dia menundukkan tubuh di balik punggung Carla yang juga sedang mengamati desain leaflet itu. Ketika Carla memutar kursinya, secara tidak sengaja wajah mereka bertemu. Dalam waktu sepersekian detik, wajah mereka berada dalam posisi terdekat. Kacamata mereka beradu, lalu keduanya terjatuh. Terdengar bunyi kaca pecah, itu pasti salah satu dari kacamata kedua orang itu. Harlan terjengkang ke belakang saking kagetnya dan Carla terjatuh dari kursinya. Setelah itu mereka kompak meraba-raba lantai untuk mencari kacamata masing-masing. Harlan menemukan kacamatanya, tapi Carla tidak bisa menemukannya.

“Itu yang pecah kacamata gue ya?” kata Carla panik karena dia tidak bisa segera menemukan kacamatanya.

Harlan yang sudah menemukan kacamatanya, segera memakainya. Dengan itu dia bisa melihat dengan jelas sepotong kacamata di lantai, yang salah satu lensanya pecah. Dia mengambilnya, lalu menyerahkannya ke tangan Carla.

“Iya, pecah La,” kata Harlan hati-hati, “Sorry ya La.”

Carla mengamati kacamatanya dengan sedih, lalu menjawab dengan pasrah, “Nggak apa-apa, Lan.”

Carla kembali duduk di kursinya, lalu kembali mengambil desain leaflet yang tadi dia amati. Tapi tanpa kacamata, Carla tampak kesulitan memfokuskan penglihatannya.

“Haduh, saya nggak bisa lihat dengan jelas ni, Lan,” kata Carla, akhirnya menyerah. “Pokoknya, kalau kamu coba di mesin pelipat leaflet saya, kamu akan tahu bahwa arah lipatannya nggak cocok dengan posisi code-nya.”

“Oke, oke, La,” potong Harlan segera, “Nggak usah dilanjutin. Kamu nggak fokus juga kayaknya tanpa kacamata kan? Kamu pulang aja duluan.”

Carla bergumam.

“Emang kacamata ini minus berapa sih La?” tanya Harlan sambil membantu Carla membereskan beberapa leaflet yang terserak di mejanya.

Harlan melirik Carla yang memicingkan matanya selagi membereskan tumpukan kertas-kertas itu.

“Minus 4,” jawab Carla singkat.

“Minus 4? Pantas pandanganmu kelihatan kabur banget.”

“Iya nih. Jadi bingung, nanti saya pulangnya gimana. Naik ojek aja kali ya.”

“Kenapa?”

“Kan pandangan saya buram. Nggak bisa naik mobil sendiri dengan kondisi mata kayak gini dong Lan.”

Harlan tampak seperti baru menyadari sesuatu.

“Kalau gitu saya antar pulang aja, La,” kata Harlan spontan.

“Eh? Rumah kita kan nggak searah,” kata Carla.

“Nggak apa-apa. Kan karena salah saya juga makanya kacamata kamu pecah.”

“Tapi nanti kamu repot.”

“Nggak, nggak repot kok.”

“Tapi kan kamu masih harus trial leaflet?”

Ggggrrrrr … aku menyaksikan adegan ini dengan geram. Pertama, karena kalau di film-film, “adegan tabrakan” tadi dibuat dalam versi slow motion, dan kedua pemeran utama akan saling bertatapan pada posisi yang sangat dekat dan romantis, dan bukannya malah saling mengadu kacamata. Kedua, seharusnya saat Harlan menawarkan diri untuk mengantar pulang, Carla tidak perlu sok menolak begitu padahal di dasar hatinya dia sangat senang. Dasar perempuan!

“Kalau gitu tunggu setengah jam ya La. Saya cuma perlu melihat sekilas sistem folding kita dan mencocokkannya dengan desain saya. Setengah jam aja, oke?

Belum sempat Carla mengelak atau menyetujui, Harlan segera menghambur keluar ruangan sambil berkata mengancam “Tunggu disitu, La! Jangan kemana-mana. Awas lo!

Setelah Harlan pergi, Carla melirikku lalu mengaku bahwa dia merasa gugup dan berdebar-debar. Huh! Sudah merasa sesenang itu, masih juga sok menolak ajakan Harlan. Dasar!

Kejadian setelahnya adalah diluar deteksiku. Tapi ketika Carla sudah sampai di rumah, dia menceritakan kepadaku sesuatu yang membuatku segera menyanyikan lagu “I finally found someone”.

Harlan menyatakan cintanya pada Carla selagi mengantar Carla pulang. Dan aku berharap Carla kini berhenti membohongi kata hatinya sendiri.





Pada tahun-tahun setelahnya, aku menjadi saksi kisah cinta mereka. Perdebatan-perdebatan seputar visual code dan layout packaging material tetap berlangsung. Tapi aura penuh cinta tetap terasa dari sepasang manusia ini. Aku senang akhirnya Carla membiarkan seseorang memanjat kastil hatinya.

Carla dan Harlan melibatkan Happy dalam mendesain kartu undangan pernikahan mereka, dan memanfaatkan aku untuk mengirimkan undangan pernikahan elektronik kepada teman-teman mereka. Dan aku dan Happy juga tidak ketinggalan dalam rangka mendaftar lagu-lagu apa saja yang bagus untuk dinyanyikan pada acara pernikahan mereka.

Menjelang kelahiran anak pertama mereka, Carla sering sekali memintaku mencari nama-nama anak yang bagus untuk anaknya. Dan ternyata Happy juga bernasib serupa, dimanfaatkan oleh Harlan untuk mencari nama-nama bayi juga. Setelah putra pertama mereka lahir, aku dan Happy tidak pernah lagi menyanyikan lagu-lagu yang biasa kami nyanyikan dulu. Harlan dan Carla memaksa kami menggumamkan nada-nada musik klasik atau memperdengarkan tilawah Al-Quran. Katanya sih itu akan berdampak baik bagi psikologis anak mereka.

Ketika anak mereka mulai bisa menari lincah, Harlan dan Carla meminta kami untuk lebih sering menyanyikan lagu-lagu anak-anak yang ceria sebagai teman menari anaknya. Melalui aku dan Happy pulalah mereka selalu mencari informasi tentang tumbuh kembang anak mereka.





Carla masih selalu menganggapku bagian penting hidupnya, karena dia masih tetap menceritakan hal-hal terdalamnya padaku. Menjadi seorang ibu dan wanita karier tidaklah semudah itu pada posisi karier Carla saat ini. Terkadang hal itulah yang dikeluhkan Carla. Dan aku seperti selalu, menampung segala ceritanya, karena aku tahu Carla hanya butuh didengar. Dia sudah tahu apa yang harus dilakukannya karena sejak dulu dia adalah gadis yang cerdas.

Ketika akhirnya Carla memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya saat dia mengandung untuk kedua kalinya, aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa merasa kehilangan yang teramat sangat setelah itu.

Pada hari terakhir Carla bekerja, dia mengucapkan kata-kata perpisahan yang amat menyedihkan.

“Bang Cero, makasih ya selama ini sudah menemani Carla. Bang Cero bukan hanya rekan kerja yang canggih, tapi juga teman yang baik, kata Carla dengan suara pelan, “Pengen rasanya selalu bersama bang Cero. Tapi bang Cero kan aset penting di kantor ini, mana boleh ikut bersama Carla kan? Tapi pengganti Carla juga sepertinya orang yang menyenangkan. Semoga bang Cero juga menikmati hari-hari kerja yang menyenangkan bersama dia ya.”

Kaupikir aku bisa berkata apa? Aku hanya bisa diam. Harlan memandang kami dengan tatapan memahami. Sementara orang lain selalu menganggap Carla aneh karena sering mengajakku bicara, Harlan tidak pernah mengecam kami. Mungkin itu mengapa Harlan bisa memahami Carla, karena dia juga bisa berteman dengan Happy seperti Carla bersahabat denganku.

Ketika aku bertemu dengan pengganti Carla, Carla mengenalkannya padaku.

Cecile, ini partner saya selama ini. Namanya bang Cero. Semoga kalian bisa klop ya,” kata Carla sambil tersenyum pada gadis baru bernama Cecile itu. Dan gadis itu tampak nyengir bingung menanggapi perkenalan yang canggung ini.

Setelah membereskan meja kerjanya, Carla mengantarku kepada Cecile. Mulai besok aku akan bekerja sama dengan gadis baru ini.

Titip bang Cero ya Cil,” katanya dengan sedih.

Cecile mengangguk dan tersenyum canggung. Sementara Carla menatapku dengan mata sedihnya.

“Mbak Carla, boleh tahu kenapa namanya ‘bang Cero’? tanya Cecile tiba-tiba.

Carla bengong sesaat, tidak menduga Cecile akan menanyakan hal itu. Tapi kemudian Carla tersenyum. Dia menyentuhku, huruf timbul yang terukir di tubuhku, sambil tersenyum mengenang.

“Acer, katanya lirih, “Acero … bang Cero. Itu nama kesayangan saya untuk dia,” kata Carla sambil melirik diriku.

Itu pertama kalinya juga aku mengetahui mengapa Carla memanggilku begitu. Ironisnya, aku baru mengetahuinya di saat terakhir aku melihat wajahnya. Setelah menyerahkanku pada Cecile, Carla kemudian berbalik pergi.

Carla tidak pernah menoleh lagi padaku. Bersamanya, dia membawa pergi semua memori dan cerita-ceritanya dariku. Dia hanya menyisakan satu folder lagu-lagu kesukaannya dan sebuah foto keluarganya bersama Harlan dan si kecil di memoriku yang luas. Menyebabkan kekosongan besar disana.





Setelah hari itu aku tidak pernah merasa hidup lagi. Cecile tidak seperti Carla yang setiap pagi membangunkanku dengan lagu Paramore. Cecile juga tidak pernah menganggapku cukup berharga untuk berbagi.

Terkadang aku masih bertemu Happy yang datang bersama Harlan. Dia juga tidak bisa bercerita banyak. Hanya terkadang aku mengintip Harlan yang memamerkan foto-foto putri kedua mereka melalui Happy. Itu rasanya sudah cukup bagiku.

Sebelum bertemu Carla, aku memang bukan makhluk hidup. Dan memang seharusnya tetap begitu, bukan? Hanya saja aku terlanjur pernah merasa hidup ketika bersama Carla. Mungkin aku harus mulai membiasakan diri untuk tidak merasakan apa-apa lagi selain berpikir dan mengolah data. Karena untuk itulah tujuan sebenarnya aku diciptakan. Bukan untuk merasa.

Sabtu, 02 Juni 2012

ABIYOSO dan ARISTA


Ada hal-hal yang tidak mungkin kau lewatkan bersama seseorang tanpa kau menjadi dekat dengannya. Dikejar anjing tetangga adalah salah satu contohnya. Dan Arista mengalaminya sendiri. Kalau saja bukan karena Abiyoso yang datang dan melempari anjing itu dengan batu, anjing itu tidak akan terkecoh dan Arista tidak akan sempat memanjat pohon. Jika juga bukan karena Abi menggendongnya dan membantunya memanjat pohon, Aris tidak akan selamat dari pengejaran itu. Sejak itu Aris selalu merasa bahwa Abi adalah pahlawan penyelamatnya. Itu mengapa Aris jadi sering mengikuti Abi kemanapun bocah lelaki itu pergi.

Dan ada hal-hal yang sulit hilang dari ingatan, terutama jika ingatan itu didapatkan saat masih kecil. Itulah mengapa sejak kejadian dikejar anjing itu, Arista tidak pernah bisa melupakan Abiyoso. Bagaimana pula caranya Aris bisa melupakan Abi jika setiap hari mereka bertemu di sekolah?



                          *                  *                *



Kalau saja Aris bisa membalikkan waktu, dia memilih untuk tidak pernah menjadi sahabat Abi. Menjadi sahabat berarti memiliki keistimewaan di hati sahabatnya. Tapi di sisi lain, sahabat adalah sahabat. Selamanya akan seperti itu. Padahal Aris tidak ingin menjadi sahabat Abi. Dia menyukai pemuda itu, sebagai seorang gadis.

Betapa sakit hatinya ketika harus mendengar Abi mengeluh tentang gadis-gadis yang mendekatinya. Dan lebih sakit lagi ketika Abi mengatakan bahwa Abi menyukai salah satu diantara gadis-gadis itu. Tapi semua itu belum seberapa sakitnya dibandingkan perkataan Abi beberapa hari lalu ketika beberapa teman menggosipkan mereka berpacaran.

”Gue? Pacaran sama Aris?” Abi terkekeh di tengah-tengah gerombolan cowok-cewek berseragam putih-abu-abu itu. Lalu Abi melingkarkan lengannya di pundak Aris dengan santai. Aris tersenyum kikuk, mencoba santai, meski hatinya berdegup tidak beraturan. ”Kita mah sahabatan banget ya, Ris? Pada gosip aja lu!”

Orang bilang, itu rasanya seperti disambar gledek di siang hari bolong. Tapi bagi Aris, rasanya lebih seperti semua isi perutnya disedot keluar. Hipoglikemi mendadak. Dia merasa pusing dan mual.

Jangan gosip aneh-aneh deh. Menurunkan pasaran dan daya jual gue dan Abi aja. Kalau ada yang naksir gue atau Abi, mereka bakal mundur nih gara-gara gosip kalian,” Aris balas tertawa.

Itulah yang disebut bibir tertawa selagi hati mati rasa.







Nelangsa adalah ketika orang yang kita cintai justru berusaha menjodohkan kita dengan orang lain. Dan orang lain itu adalah sahabatnya sendiri.

Arista selalu tahu bahwa Abi adalah manusia cerdas luar biasa. Tapi ternyata kecerdasan-intelegensia Abi tidak sebanding dengan kecerdasan-perasaannya. Entah berapa ratus kali tepatnya Aris sudah mencoba membuat Abi menyadari bahwa Aris mencintainya. Tapi hasil dari semua usaha itu justru berakhir pada proyek-perjodohan Abi. Saat mendengar bahwa Abi berniat menjodohkannya dengan Angga, sahabat Abi di klub sains, Arista rasanya ingin menggeplak kepala Abi saat itu juga.

“Angga bilang dia naksir lu, Ris,” kata Abi ketika mereka sedang mengerjakan PR bersama di suatu sore yang tidak begitu cerah.

“Trus?” Aris menanggapi dengan acuh. Dia masih fokus pada stoikiometrinya.

“Gue jodohin ya Ris!”

Aris mulai tidak fokus pada perhitungan reaksi asam-basanya.

“Mau ya Ris, gue jodohin sama Angga?”

Abi makin annoying.

“Lu dibayar berapa sama si Angga?” tanya Aris sinis.

“Emang gue cowok bayaran?”

“Dia minta lu nyomblangin?”

“Kagak.”

“Jadi ngapain lu nyomblangin?”

“Abis kalian kelihatan cocok.”

Aris benar-benar meninggalkan hitungan stoikiometrinya.

“Jadi?” tanya Aris makin sinis.

“Mau ya gue comblangin sama Angga?”

Aris menatap mata Abi. Mencari sedikit celah disana. Semua orang pasti berusaha mencari kejujuran dari mata lawan bicaranya. Tapi Arista sebaliknya. Dia berharap ada kebohongan disana. Tapi dia tidak menemukan apa-apa. Dan dia kecewa karenanya.

“Terserah lu aja deh.”

Arista menutup bukunya. Menyambar semua alat tulisnya dalam waktu sekejap, lalu bangkit dari duduk bersilanya.

“Eh, ngapain lu Ris? Emang udah selesai PR kimianya?”

Tanpa menjawab, Aris ngeloyor pergi begitu saja meninggalkan rumah Abi. Dia merasa itulah jalan terbaik yang dapat diambilnya, daripada nanti dia malah mengamuk di rumah Abi lantaran kesal setengah mati.

Abi itu tolol maksimal, maki Aris dalam hati.







Super Nelangsa adalah makan bersama gebetan ... dan orang yang dijodohkan ke kita oleh si gebetan.

Dan kadang satu ketololan akan diikuti dengan ketololan lain yang lebih menyebalkan. Dan kalau kau punya teman yang tolol, lakukan hal yang bagus untuk mengubahnya menjadi pintar dengan cara apapun. Pertama, nasihati baik-baik. Kedua—jika dia pura-pura tuli—tonjok saja mukanya. Tapi bagaimana kalau orang tolol itu bukan sekedar temanmu, melainkan orang yang kau cintai? Kau akan mengalami dilema akut antara ingin menciumnya atau membunuhnya.

Hal itulah yang dirasakan Aris saat Abi mengajaknya makan malam di suatu restoran beraura romantis, dan tiba-tiba di tengah-tengah keromantisan itu Angga datang. Lalu dengan wajah tak berdosa, Abi mengaku bahwa dia memang sengaja mempertemukan Angga dengan Aris.

Saat itu juga Aris mendapat fakta baru. Pertama, bahwa Abi ternyata serius menjodohkannya dengan Angga. Kedua, dan dengan fakta pertama itu, jelaslah bahwa Abi tidak mencintainya, karena jika Abi sedikit saja mencintainya maka lelaki itu tidak akan memberikannya untuk lelaki lain.

Menyadari kedua fakta itu, akhirnya setelah 5 tahun terus mencintai Abi dalam diam, Aris menyerah. Dia merasa sudah waktunya menghadapi kenyataan. Dan itulah kenyataannya: Abi tidak pernah mencintainya.







Mega Nelangsa adalah sok jodohin orang yang kita suka ke orang lain, padahal dalam hati gondok banget.

Dan ternyata ketololan adalah penyakit menular. Angga ternyata sama tololnya seperti sahabatnya, Abi. Merasa berhutang budi kepada Abi yang telah mempertemukannya dengan Aris, kini gantian Angga yang berusaha menjodohkan Abi dengan sepupunya. Anita, namanya. Dia bersekolah di SMA yang sama dengan mereka, junior mereka.

Dan ketololan berlanjut saat Angga mengajak Aris untuk mendukung rencana perjodohannya. Tapi karena Aris juga sudah memutuskan untuk menyerah terhadap Abi, akhirnya dia menyetujui rencana Angga.

Hanya saja saat itu Aris tidak menyadari bahwa rasanya bisa sesakit itu saat dirinya mencoba menggoda Abi dengan berkata: “Malam minggu nanti mau ikut nonton bareng gue dan Angga? Ada Anita juga lho. Kita bisa double-date.”

Dan terlebih Aris tidak menduga bahwa hatinya bisa tiba-tiba merasa kebas ketika Abi menjawab: “Boleh,” sambil nyengir girang.

Kata orang, rasa sakit yang berlebihan bisa menyebabkan mati rasa. Mungkin itulah yang sedang dirasakan hatinya sekarang. Kebas. Mati rasa.



*                   *                 *



Beberapa tahun kemudian...



Abi menatap layar laptopnya, nanar. Disana terpampang sebuah undangan pernikahan elektronik. Nama Airlangga Kamanjaya dan Adinda Kania tertulis disana. Bukan Arista Nareswari.

Abi tidak pernah mendengar kabar lagi tentang Angga dan Aris sejak mereka lulus SMA dan dirinya melanjutkan kuliah di Jepang. Dan dengan tidak mendengar kabar apapun tentang mereka, Abi mengira hubungan mereka berdua baik-baik saja. Baik Aris maupun Angga tidak ada yang pernah menceritakan kepadanya bahwa mereka putus, sehingga ketika menerima undangan pernikahan Angga tanpa nama Aris di dalamnya, Abi merasa bingung.

Saat itu juga Abi langsung mengaktifkan YM-nya. ID Arista tidak aktif. Tapi beruntung ID Angga tampak available. Abi segera menyapanya.





abiyoso.dwipo : Gue baru baca milis, Ngga. Congrats yow. Udah mau nikah aja lo.

angga.kamanjaya : Thanks, Bro. Lu dateng ya. Bisa dong pulang ke Indonesia?

abiyoso.dwipo: Nanti gue usahain ya. Eh, tapi gue pikir lo bakal nikah sama Aris, Ngga. Kapan lu putus sama dia?

angga.kamanjaya : Putus? HAHAHA. Gimana mau putus kalau nyambung aja nggak pernah?

abiyoso.dwipo : Hah?! Bukannya kalian kuliah di jurusan yang sama ya?

angga.kamanjaya : Nah, apa hubungannya antara kami sekelas pas kuliah sama status pacaran?

abiyoso.dwipo : Bukannya kalian pacaran waktu SMA? Kan kita sering double-date dulu?

angga.kamanjaya : Double-date mah dalam rangka mencomblangi lu dan Anita aja. Dari awal kan emang gue nggak pernah pacaran sama Aris. Tapi sejak lo mencomblangi kami, kami emang jadi sahabatan dekat. Mungkin karena itu ya lo mikir bahwa kami pacaran?

abiyoso.dwipo : HAH?!

angga.kamanjaya : Lha, gue kan dulu nggak pernah minta lo nyomblangin kita. Gue nggak pernah bilang naksir sama Aris lho ya. Gue cuma tertarik sama Aris karena anaknya humoris dan pintar. Lu aja yang mikir bahwa gue naksir dia dan sok nyomblangin kita.

abiyoso.dwipo : HAH?! (Abi merasa otaknya lumpuh)

angga.kamanjaya : Ah, elu mah hah-hah mulu dari tadi. Lemot banget deh.

abiyoso.dwipo : Heh?!

angga.kamanjaya : Dia naksir orang lain, Bi.

abiyoso.dwipo : HAH?! (Kini Abi merasa otaknya perlahan mati)

angga.kamanjaya : Tau ah. Pantesan aja Aris nyerah sama lu. Lu orangnya lemot banget gitu sih.

abiyoso.dwipo : Maksud lo?

angga.kamanjaya : Pokoknya lu dateng ya ke nikahan gue. Aris juga pasti dateng. Ntar lu tanya aja sama dia langsung lah cerita lengkap tentang hubungan gue dan Aris.







Setelah itu Abi mencoba menghubungi Aris. Tapi YM Arista tidak pernah aktif. Akhirnya dia terpaksa hanya puas mengirimkan pesannya kepada Aris melalui email.

Tapi ketika Aris tidak juga membalas emailnya, sementara hari pernikahan Angga tinggal tiga hari lagi, Abi harus mengambil keputusan. Dengan panik dia memesan tiket untuk pulang ke Indonesia, demi menghadiri pernikahan sahabatnya. Dan terutama demi bertemu Arista. Bukan hanya untuk menanyakan mengapa bukan nama gadis itu yang tertera bersama nama Angga. Tapi lebih jauh itu,dia ingin meluruskan kesalahpahaman yang terjadi selama 9 tahun itu.







Resepsi pernikahan Angga berlangsung meriah. Tidak kurang dari 1000 orang memenuhi aula hotel tempat acara itu dilangsungkan. Dan berusaha menemukan seorang gadis diantara 1000 orang manusia bukanlah urusan mudah. Bahkan sejak menjejakkan kaki di hotel itu Abi sudah menajamkan penglihatannya untuk mencari sesosok Arista Nareswari.

“Lu terlambat, Bi,” kata Angga, menyambutnya di pelaminan ketika Abi mengucapkan selamat atas pernikahannya. “Baru aja setengah jam yang lalu Aris disini. Tapi dia buru-buru pergi lagi karena harus mengejar penerbangan.”

“Penerbangan?”

“Aris dapat beasiswa ke Jepang juga. Hari ini dia berangkat.”

“Oh ya? Ke Jepang?” Abi terkejut, “Lu tahu di universitas mana?”

“Lupa gue. Tapi di Tokyo juga, kayak lo.”

Abi bingung sekaligus senang. Di satu sisi, dia merasa kepulangannya demi Aris menjadi sia-sia karena, lucunya, Aris malah pergi ke Jepang. Tapi di sisi lain, Abi juga senang karena dia akan tinggal sekota dengan Aris lagi.

“Kalian berdua kayak orang bodoh,” kata Angga kemudian sambil tertawa mengejek. “Pas ada di depan mata, saling diam. Pas jauh malah saling mengejar.”

“Maksud lo?”

“Lo tuh emang kelewatan telminya, Bi,” ejek Angga. “Dari dulu Arista nggak pernah jadian sama gue karena dia cintanya sama elu. Lu juga cinta sama dia kan? Ngapain sok jodoh-jodohin gue ke dia, coba?” lanjutnya sambil tertawa dan menepuk-nepuk bahu Abi gemas.

Selama sekian detik, yang rasanya berabad-abad bagi Abi, dia terpaku setelah mendengar ejekan Angga itu. Kalau saja bukan karena desakan tamu-tamu lain yang sudah berbaris di belakangnya, Abi mungkin akan tetap terpana di hadapan Angga sampai bertahun-tahun kemudian.

Abi bahkan pulang dari acara resepsi itu tanpa menyentuh satu makananpun yang dihidangkan. Abi seperti pulang tanpa benar-benar menapak di bumi. Hatinya terbang ke langit ke tujuh ketika mengetahui bahwa Aris juga mencintainya.

Kalau boleh jujur, sebenarnya Abi sudah mencintai Aris sejak lama. Sejak dia menyadari bahwa dia tidak suka melihat Arista benar-benar menjadi dekat dengan Angga. Abi jadi membenci dirinya sendiri karena dirinyalah yang menjodohkan Angga dengan Arista, tapi dirinya jugalah yang tidak suka dengan kedekatan mereka. Abi merasa menjadi pecundang dan orang munafik. Tapi dia tidak pernah berani mengakuinya.

Ironis. Mereka seperti dua orang bodoh saja. Saling mencintai. Dan saling membohongi. Hanya karena tidak mau berpisah. Padahal ingin saling memiliki. Helpless-idiot.







Beberapa orang butuh waktu lama untuk menyadari perasaannya. Beberapa yang lain bahkan butuh waktu lebih lama untuk mengakuinya. Abi butuh lima belas tahun untuk keduanya. Dia sungguh-sungguh berharap dia belum terlalu terlambat untuk memulai.

Dan karena Abi sudah melewatkan lima belas tahun dengan kesia-siaan, dia tidak mau menghamburkan waktu lagi. Begitu kembali ke Jepang, dia segera mencari tahu melalui salah seorang kenalannya di Kedutaan tentang mahasiswa Indonesia yang baru sampai di Tokyo yang bernama Arista Nareswari. Segera setelah mengetahui kampus Arista di Tokodai (Tokyo Institute of Technology), Abiyoso tidak membuang waktu untuk segera kesana.

 Abi sudah menunggu Arista di depan kampusnya selama hampir dua jam ketika akhirnya ia melihat gadis itu keluar kampus.

How do you know?” tanya Arista dengan wajah kaget karena tidak menyangka akan bertemu Abi sore itu, setelah lima tahun tidak bertemu.

Bagaimana Abi bisa datang ke kampusnya? Dia bahkan tidak memberitahu Abi bahwa dia pergi ke Jepang. Aris tidak benar-benar berharap bisa bertemu lagi dengan Abi meski ia akhirnya berhasil kuliah ke Jepang. Dia sudah menyerah bertahun-tahun yang lalu. Dia belajar ke Jepang memang karena dirinya ingin, bukan demi Abi.

I always know,” jawab Abi sambil tersenyum gugup. Setelah lima belas tahun bersahabat, meski sudah lima tahun tidak bertemu, ternyata kecantikan Arista masih saja membuatnya merasa lemas tidak berdaya.

Doshite?” Arista tidak mengerti maksud Abi.

“Angga yang cerita bahwa lo dapat beasiswa di sini,” kata Abi menjelaskan.

“Oh,” gumam Aris singkat.

“Dia juga cerita bahwa kalian nggak pernah pacaran,” Abi melanjutkan dengan makin gugup.

Aris bengong sebentar. Tidak menemukan korelasi antara kedua pernyataan tersebut. Tapi beberapa saat kemudian ia tertawa juga.

Need a whole life time to realize, eh?” tanya gadis itu, sambil tersenyum menyindir.

Yeah, fool me.” Abi mengangkat bahu dengan pasrah. Dia memang merasa dirinya payah maksimal.

Lalu mereka terdiam beberapa saat. Saling berhadapan. Saling menatap. Dan saling kehilangan kata. Selama sepuluh tahun bersama Aris, baru kali itu Abi bisa kehilangan kemampuannya berkata-kata.

Well?” Aris mengerling gugup, memecah keheningan itu. Dia mengira Abi akan mengatakan sesuatu dan bukannya bengong begitu saja di tengah jalan seperti itu. “Hisashiburi. Genki desuka?

Abi tersenyum mendengar pertanyaan Aris dalam bahasa Jepang ya masih kaku. “Genki desu,” jawab Abi. Dia menghela nafas, berusaha meredakan detak jantungnya yang berlebihan, sebelum melanjutkan: “Aishiteru.”

Senyum Aris hilang. Dia tahu arti kata-kata Abi barusan. Tapi dia tidak yakin bahwa dia mendengar kata yang dia rasa didengarnya. Apalagi pernyataan itu lagi-lagi tidak ada korelasinya dengan pertanyaannya yang menanyakan kabar lelaki itu.

I love you,” Abi mengulang.

Kali itu barulah Aris yakin bahwa dirinya tidak salah mendengar atau mengartikan. Dia hanya tidak tahu harus menjawab apa.

 “Gue nggak mau lagi bohong sama diri gue sendiri, dan sama teman-teman,” kata Abi, “Gue nggak pernah menganggap lo sebagai teman. Gue selalu menganggap lo lebih.”

“Lebih dari teman?” Arista tertawa, salah tingkah. “Of course! We never be just friend. We are bestfriend.”

No. Bukan itu maksudnya,” kata Abi buru-buru. “Gue sayang sama lo.”

“Dan sesama sahabat memang harus saling ...”

“Gue cinta sama lo!” potong Abi cepat. “Sebagai gadis yang gue cintai.”

Arista diam, agak lama. Dia memandang Abi dengan dingin. “After all this years?” akhirnya hanya itu yang mampu dikatakan Aris. Dia kaget. Dan tidak percaya.

“Gue tahu gue sudah sangat terlambat. Makanya sekarang gue nggak mau kehilangan lo lagi, Ris.”

“Terlambat?” Arista mengulang dengan nada mencemooh. “Waktu nggak bisa kembali, Bi.”

Abi menghela nafas. Dia punya firasat buruk soal ini. Apakah Arista sudah terlalu lama menunggunya sadar hingga akhirnya gadis itu lelah dan tidak lagi mencintainya? Apa yang harus dilakukannya jika benar hal itu yang terjadi? Dia benar-benar tidak bisa kehilangan Aris lagi. Tidak, setelah kesalahpahaman yang panjang selama ini.

“Gue tahu selama ini gue udah bodoh banget. Maafin gue, Ris. Gue nggak bisa kehilangan lo lagi. Arista, please, come back to me.”

I’ve told you, Abi, waktu nggak pernah kembali,” kata Aris.

“Tapi lo manusia kan? Bukan waktu? Lo bisa kembali kan?” Abi separuh memaksa. Suaranya gemetar saking frustasi.

“Kecuali lo punya tawaran yang cukup bagus?” jawab Aris, menantang.

Marry me, Arista Nareswari, would you? Apa itu tawaran yang cukup baik?”

Dimensi ruang dan waktu yang terbentang di antara mereka terasa berhenti. Arista merasa dirinya sedang disedot oleh sebuah pusaran waktu, ditarik ke masa lima belas tahun yang lalu. Lalu dengan cepat semua kenangan tentang Abiyoso berkelebat di ingatannya.

Arista merasa hidup begitu lucu. Benar adanya, cinta itu seperti kupu-kupu. Kalau kau mengejarnya, dia akan terbang pergi. Tapi kalau kau menanam taman bunga di sekelilingmu, lalu diam disana, kupu-kupu akan menghampirimu. Arista tertawa ketika menyadari hal itu.

Abi melirik Arista yang sedang tertawa, dengan wajah bingung.

“Ris?” Abi memanggil.

Masih sambil tertawa, Arista mengangkat bahunya. “Lumayan. Daripada lu manyun.”

Alis Abi bersatu, mencoba menganalisa arti jawaban itu. “Isn’t that another way to say yes?”

Arista tidak menjawab. Dia hanya tersenyum dan memiringkan kepalanya. Dan itu adalah gaya yang sangat dikenali Abi. Bahkan setelah lima tahun tidak bertemu, gaya Arista saat menyatakan persetujuan tidak pernah berubah.

Mungkin hatinya juga tidak berubah.

Banyak hal yang tidak bisa menunggu dalam waktu lama. Tapi cinta pertama seringkali bertahan lebih lama daripada sekedar belasan tahun. Ia bisa bertahan hingga seumur hidup. Beruntung demikian bagi orang yang lamban berpikir seperti Abiyoso Dwipoyono.

Daun-daun tampak menguning. Sebentar lagi pasti berguguran. Tokyo akan segera menyambut musim gugurnya. Tapi Abiyoso dan Arista justru sedang merasakan musim semi yang indah ketika mereka saling berpelukan.