Luna Lovegood inside. Noda Megumi outside.

Kamis, 25 Juli 2013

BAKPAO


“Dia nerima lamaran gue, Va.”
Haiva diam. Terpukul.
“Kasih selamat dong buat kakak lo ini.”
“Selamat ya Kang.”
Kang, begitu panggilan Haiva kepada laki-laki bernama Arya itu. Mereka memang sudah berteman sangat akrab, seperti adik-kakak. Itu mengapa ia memanggil lelaki itu Akang. Ironisnya, hanya Arya yang menganggap Haiva sebagai adik. Haiva sendiri selalu mencintai lelaki itu, sejak awal.
Beruntung Arya mengatakan berita itu lewat telepon. Haiva tidak perlu berpura-pura tersenyum selagi ia sama sekali tidak ingin tersenyum.
“Makasih ya Va.”
Haiva tidak menjawab.
“Sekarang gue harus menyiapkan strategi berikutnya untuk bilang ke Ibu gue dan orang tuanya.”
“Hmm.”
“Doain supaya lancar ya. Nanti pasti gue undang.”
“Iya.”
Tiba-tiba Haiva sadar, pipinya sudah basah. Ia harus segera memutus pembicaraan telepon itu.
“Eh, aku dipanggil bos nih Kang,” Haiva buru-buru memutus. “Udah dulu ya.”
“Oke deh. Met kerja lagi ya Va.”
“Daaah.”
Tanpa menunggu balasan Arya, Haiva sudah mematikan ponselnya.
Beruntung saat itu sudah lepas jam kerja. Tidak ada siapapun di ruang kerjanya. Mas Bram sudah pulang sejak jam 5 sore tadi. Kalau tidak, Haiva akan sangat kesulitan menutupi kesedihannya. Ia sudah jatuh.





Sebenarnya sudah sewajarnya pada waktu semalam itu semua orang di factory sudah pulang. Haris memang terbiasa pulang paling akhir. Ia tidak suka melakukan pekerjaan di rumah, jadi ia terbiasa menyelesaikan semua pekerjaan di kantor sebelum pulang ke rumah. Toh pulang jam berapapun tidak ada yang menunggunya di rumah selain kura-kura peliharaannya. Ia tidak merasa keberatan selalu menjadi yang paling akhir pulang. Lagipula sebagai seorang pemimpin, sudah seharusnya ia datang lebih pagi daripada anak buahnya dan pulang lebih akhir setelah semua anak buahnya pulang. Karena itulah ketika melewati ruang QA, Haris agak terkejut karena ruangan itu masih terang-benderang. Entah karena masih ada orang di sana atau karena yang paling akhir pulang lupa mematikan lampu.
Haris memutar langkahnya. Mengurungkan niatnya untuk pulang, ia berbalik ke ruangan QA. Ia mencoba membuka pintunya dan ternyata memang tidak dikunci. Tapi ketika pintu terbuka, tidak ada siapapun di ruangan itu.
Bram dan Haiva harus dimarahi besok karena pulang tanpa mengunci pintu dan mematikan lampu, pikir Haris dalam hati.
Tapi kemudian ia mendengar suara pelan, seperti suara tangis. Bulu kuduknya berdiri. Ruangan itu kosong, mengapa ada suara seperti itu? Desas-desus tentang hantu yang paling sering beredar adalah penampakan di gowning room production. Jadi harusnya tidak di ruangan ini kan?
Perasaan Haris makin tidak enak ketika ia melihat sepotong tangan terjulur dari bawah meja kerja Haiva. Haris baru saja hendak bergegas kabur ketika akal sehat menguasainya. Memberanikan diri, ia masuk ke ruangan itu dan perlahan mengintip ke bawah meja kerja Haiva.




“Ya ampun Iva!” Haris membentak dengan keras. Membuat Haiva kaget. Tangisnya segera terhenti. “Kamu seperti setan saja! Bikin saya jantungan. Ngapain sembunyi di bawah kolong meja begini? Saya kira setan. Dan itu apa tadi? Kamu nangis? Suaranya seperti kuntilanak sedang menangis!”
Haris memarahi Haiva dengan suara keras. Dia kesal karena anak ini sudah membuatnya ketakutan hingga hampir mati.
Haiva serta-merta diam. Berhenti menangis. Ia kaget dibentak seperti itu. Sudah sering ia dimarahi atau ditegur Haris. Tapi Haris selalu menggunakan suara yang pelan dan tajam alih-alih bentakan dengan suara keras seperti yang barusan dilakukannya. Ini pertama kalinya Haiva mendengar bos besarnya itu membentaknya dengan suara keras.
Belum cukup rasanya ia mendengar pria yang dicintainya akan menikahi perempuan lain, yang ironisnya adalah temannya juga. Ternyata nasib sialnya hari ini masih harus ditambah dengan amarah bosnya. Terima kasih Tuhan.
Meski anak itu duduk di kolong meja seperti itu, penerangan ruangan masih cukup untuk membuat Haris melihat keanehan pada wajah Haiva. Matanya sembab dan wajahnya basah. Hal itu membuat wajah Haris melunak. Mata Haiva yang berkaca-kaca itu membuat Haris jadi gugup dan merasa bersalah karena membentak gadis itu.
“Iva nangis ya?” Haris bertanya hati-hati.
Haiva buru-buru mengeringkan pipinya.
“HP saya jatuh, Pak. Pas mau ngambil, kepala saya kejedot. Sakit banget.”
Haiva menggoyang-goyangkan ponselnya di depan Haris dan berupaya memasang wajah lucunya. Meski begitu Haris tidak percaya. Tapi demi menghargai usaha Haiva untuk menutupi tangisannya, Haris berpura-pura percaya.
“Ayo berdiri!”
Sedikit terhuyung, Haiva merangkak keluar dari kolong meja dan bangkit berdiri. Lalu dengan wajah riang, ia bertanya pada bosnya: “Bapak kok belum pulang?”
“Saya memang biasa pulang jam segini. Seharusnya saya yang tanya, kenapa kamu belum pulang?”
Gugup karena malah diintrogasi, Haiva berlagak sok sibuk mematikan laptopnya.
“Er... tadi ada yang harus saya kerjakan, Pak.”
Mengerjakan apa? Menangis di kolong meja?, Haris nyaris mengatakannya. Tapi ia menahannya karena merasa tidak bijak meledek gadis yang suara tangisnya seperti kuntilanak ini. Haris merasa tidak akan tahan mendengar suara tangisnya lagi.
“Sekarang sudah selesai kerjaannya? Sudah mau pulang?”
“Hmmm.” Haiva bergumam dan mengangguk.
“Apa Iva buru-buru pulang?”
“Eh?”
“Saya belum makan malam. Iva juga belum kan?”
Haiva melirik bingung.
“Iva mau temani saya makan?” tanya Haris kemudian.



“Iva mau pesan apa?”
Haris membuka-buka menu makanan di resto seafood itu dan dengan bersemangat bergumam ingin memesan ini dan itu. Haiva menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Dia sedang berusaha menemukan makanan yang dapat dimakannya dari daftar menu itu. Tapi belum lagi Iva menemukan yang dicarinya, Haris sudah memanggil waitress restoran itu.
“Kepiting saos padang. Cumi goreng tepung. Cah kangkung...” Haris menyebutkan pesanannya dengan bersemangat. Lalu ia menoleh pada Haiva. “Iva?”
“Tumis buncis ...”
Sang waitress mencatat pesanan Haiva. Lama ia menunggu, tapi gadis itu tidak menyebutkan pesanannya yang lain. Haris memandang Haiva dengan mendesak.
“Apa lagi? Masa pesan itu aja? Disini ada udang mayonaise, kerang rebus.”
Haiva balas memandang bosnya dengan tatapan meminta maaf. “Saya sebenarnya alergi seafood, Pak.”
“Hah!” desah Haris, separuh kaget dan separuh kesal, “Kenapa Iva baru bilang? Kalau gitu kita ...”
“Saya makan itu aja, Pak,” kata Iva buru-buru. Ia khawatir bosnya akan mulai memarahinya lagi.
“Apa kita makan di tempat lain?”
Sang waitress tampak tidak rela kehilangan calon pelanggannya. Ia segera memotong percakapan kedua tamunya itu.
“Kami punya gurame. Ikan air tawar, Mbak,” kata waitress itu, menawarkan kepada Haiva.
“Kalau gitu, kami pesan itu,” kata Haris cepat.
Sang waitress tersenyum. “Guramenya bumbu apa? Dibakar? Lada hitam? Atau ...” tanyanya kemudian.
Haiva menatap Haris. Tidak tahu harus memilih yang mana.
“Kepiting saos padang disini enak banget,” Haris menjawab tatapan Haiva. Ia lalu menoleh pada waitress. “ Apa bisa guramenya pakai saos padang?”
Sang waitress mengangguk. “Bisa, Pak.”
Ia kemudian mengkonfirmasi pesanan kedua tamunya sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.
“Harusnya Iva bilang kalau nggak bisa makan seafood. Untung disini ada gurame.”
“Iya, maaf Pak. Saya nggak tahu bahwa kita mau makan disini.”
“Hmmm. Iya sih, saya juga nggak bilang ya?”
Haiva memerhatikan berkeliling. Hampir semua meja penuh. Hampir semua kursi diduduki oleh pria berkemeja rapi dan perempuan berpakaian modis, seperti para eksekutif muda. Mereka semua tampak seperti orang-orang yang baru pulang kerja. Lagipula restoran ini berdiri di daerah perkantoran elit. Tampaknya ia sedang makan di restoran seafood yang terkenal dan mahal. Well, it looks fit with the boss anyway.
Semua orang tampak sedang menikmati makanan di piringnya masing-masing dengan bersemangat. Tidak ada satupun yang tidak menikmati makanannya. Dilihat dari makanan-makanan yang tersaji di tiap piring di semua meja, mereka memang tampak menggiurkan. Tidak heran jika bosnya mengajak ke sana.
Eh? Oh, mungkin hanya sepasang muda-mudi yang berada di meja sebelah yang tidak tampak sedang menikmati makanannya. Laki-laki tampan dan perempuan cantik itu keduanya berwajah keras. Mereka mengacuhkan sepiring kerang dengan kuah yang tampak pedas dan seekor gurame besar yang bertabur potongan mangga di hadapan mereka. Mengacuhkan makanan-makanan yang tampak menggiurkan itu, mereka pasti sedang membicarakan masalah yang serius. Haiva tidak sengaja mencuri dengar pembicaraan kedua orang di meja sebelah.
“Kenapa?” Si gadis bertanya pada pemuda di hadapannya.
“Kita udah nggak cocok lagi,” kata si pemuda dengan wajah kaku. Pemuda itu tampak tidak peduli pada wajah nelangsa gadis di hadapannya. Haiva menduga gadis itu sebentar lagi akan mulai menangis.
Tapi ternyata tidak. “Jangan bercanda!” Gadis itu malah tersenyum mencemooh, “Nggak cocok lagi adalah alasan basi. Kamu ... apa ada perempuan lain?”
Cih!, gumam Haiva dalam hati, kasus perselingkuhan. Nggak heran, cowok ini punya wajah yang tampan. Pasti banyak gadis yang menyukainya.
“Sorry. Kita putus.” Haiva mendengar si pemuda menjawab tanpa basa-basi.
Si gadis mendelik. “Apa?! Putus?!” Gadis itu mendesis dengan marah. “Kamu yang selingkuh, kenapa kamu yang mutusin aku? Hah?!”
Si pemuda tampak agak syok.
“Kita putus! I’m tho one who dump you, jerk!”
Si gadis, meski dengan mata berkaca-kaca, memutuskan pacarnya dengan sangat tegas. Ia menenggak es jeruknya dalam segali teguk. Dan selagi si pemuda masih tampak syok, gadis itu berkata: “Lo yang bayar!”
Lalu gadis itu pergi.
Sebelum gadis itu membuka pintu restoran dan keluar, Haiva melihatnya menghapus air mata. Tidak ada gadis yang tidak sedih diselingkuhi, tapi toh gadis itu menghadapinya dengan gaya yang keren. Haiva tersenyum diam-diam, mengagumi ketegaran gadis itu. Ia berharap bisa setegar gadis itu menghadapi perasaan patah hatinya.
It’s like today is not good day for relationship,” Haiva bergumam muram.
Haris melirik ke arah yang sama dengan tatapan gadis di hadapannya. “Apa?”
Haiva tersenyum. “Nggak apa-apa, Pak.”
Haris bukan tidak mendengar gumaman pelan Haiva barusan. Dia juga jelas-jelas melihat Haiva memperhatikan pasangan di sebelah mereka. Ditambah lagi, dari sikap Haiva sesorean ini, Haris menduga bahwa gadis ini baru saja putus dengan pacarnya. Itu mengapa si kelinci yang biasanya suka meloncat-loncat ini terlihat lesu sore ini. Itu mengapa gadis itu menangis saat ia tadi memergokinya. Tapi kalau Haiva tidak berniat memberitahunya, bukankah dia tidak berhak memaksa?
“Orang-orang datang dan pergi dalam hidup.”
Haiva mendengar Haris bergumam. Dia tidak yakin apakah Haris sedang bicara padanya atau hanya bergumam sendiri. Haiva menoleh dan memperhatikan bosnya.
“Setiap hari, orang-orang datang dan pergi dalam hidup kita,” Haris mengulang. Kali ini sambil menatap langsung ke mata Haiva. Haiva merasa si bos sedang bicara padanya. “Tidak perlu terlalu bergantung pada satu orang. Toh dia akan pergi juga.”
Haiva curiga, jangan-jangan si bos sedang menyindirnya. Tapi sebelum Haiva membuka mulut, seorang waitress mengantarkan pesanan mereka. Berpiring-piring makanan tersaji di meja mereka dalam beberapa menit saja.
“Makan yang banyak, Iva.”
Haris tersenyum lebar. Haiva menganggapnya sebagai perintah. Ia mengangguk dan mendekatkan piring berisi seekor gurame besar yang disiram kuah merah ke arahnya. Ia melirik sesaat ke meja sebelah. Gurame bertabur potongan mangga masih utuh tersaji. Piringnya bahkan belum tersentuh. Si pemuda sudah pergi meninggalkan makanan-makanan itu tersia-sia.
“Sayang banget, kenapa mereka harus putus sebelum makan malam dimulai,” kata Haiva pada Haris sambil mengerling meja sebelah, “Makanan yang sudah mereka pesan jadi tersia-sia kan?”
Haris tertawa. “Jangan memperhatikan hal-hal lain. Perhatikan yang ada di depan mata.” Haris mengendikkan kepala pada piring berisi gurame saos padang di hadapan Haiva. “Kalau Iva berhasil menghabiskannya, saya belikan gurame saos mangga juga buat Iva.”
Perhatikan yang ada di depan.
Haiva menatap ke depan. Ada Haris disana. Haiva tertawa.



“Apa rasa sakitnya sudah berkurang?” tanya Haris.
Lampu-lampu jalanan berkelebat di kiri-kanan mereka ketika mobil Haris melaju membelah jalanan Jakarta. Selesai makan malam, Haris mengajak Haiva pulang bersamanya. Rumah mereka searah sehingga Haris tidak keberatan mengantar Haiva. Toh sebenarnya Haris tidak repot sama sekali. Dia kan punya supir pribadi.
Haiva menoleh cepat. Kaget. “Apa?”
Penerangan di dalam mobil tidak begitu terang. Haiva tidak bisa melihat ekspresi bosnya dengan jelas. Ia tidak tahu apa maksud pertanyaan bosnya itu.
“Yang tadi bikin Iva nangis, apa rasa sakitnya sudah berkurang sekarang?”
Haiva hanya mengerjap. Apakah bosnya mengetahui alasan sebenarnya ia menangis? Apa acting HP-jatuh tadi kurang meyakinkan? Lalu bagaimana ia harus mengalihkan pembicaraan sekarang supaya ia tidak perlu menjawab.
“Meski makanan enak tidak bisa mengobati sakit kepala yang terbentur tadi ...” Haris menoleh pada Haiva, “ ... setidaknya Iva sudah lupa rasa sakit terbentur yang sampai bikin Iva nangis tadi kan?”
Haiva bengong sesaat. Tapi kemudian ia tertawa.
“Makasih ya Pak,” kata Haiva, masih tertawa, “Kata orang: perut kenyang, hati senang. Kepala saya nggak sakit lagi sekarang.”
Tinggal hati saya aja yang masih sakit, lanjut Haiva dalam hati. Masih sambil tertawa.
Tapi hatimu masih sakit kan?, tanya Haris dalam hati, sambil ikut tertawa bersama gadis itu. Dasar anak muda.
Ini pertama kalinya Haiva ngobrol dengan Haris, di luar jam kantor, dan selain membicarakan validation report dan deviation report


*                *                *

Dear Boss,
Aku mau mengaku, bos. Selama ini di belakangmu, aku memanggilmu “Hulk”. Kalau saja kau tahu panggilanku ini, seharusnya kau juga tahu alasannya kan? Itu karena badanmu yang tingi besar dan tiap marah saat meeting selalu seperti Hulk yang ditakuti semua orang. Jadi jangan salahkan aku karena memanggilmu begitu ya, bos :p
Tapi bos, seperti halnya Hulk, di balik tubuh hijau-besar-menakutkan itu ada Dr. Bruce Banner yang tampan, pintar dan baik hati. Aku pikir, seperti itulah dirimu. Dibalik sosok menakutkan saat meeting itu, ada sosok lain. Haris Hananjaya yang tidak kalah tampan, pintar dan baik hatinya dengan Bruce Banner.
Setelah selama ini aku melihat sosok Hulk-mu, akhirnya aku bisa bertemu dengan Bruce Banner dalam dirimu.


*                                  *                                   *



Sejak hari itu, Haiva tidak lagi kaku dan ketakutan jika bertemu dengan Haris. Betapa seringnyapun Haris memarahinya soal pekerjaan, diluar jam kerja Haris kembali bersikap seperti Bruce Banner. Beberapa kali saat Haiva lembur dan pulang malam, Haris bahkan menawarinya nebeng sampai terminal bis terdekat. Haiva juga mulai memberanikan diri menyapa bosnya itu setiap berpapasan di koridor, tidak lagi hanya menundukkan kepala dengan kikuk. Di hari lain ketika ia dan bosnya, sang Supervisor QA, berencana makan seafood bersama, Haiva juga sudah berani mengajak bos besarnya itu ikut bersama mereka ketika mereka bertemu di halaman parkir.
“Kami mau pergi makan seafood, Pak! Bapak ikut aja,” kata Haiva bersemangat.
Tapi Nala, sambil tertawa, melarang Haiva. “Jangan ajak Bapak,” katanya, “Bapak pasti nggak mau.”
Haris balik bertanya. “Kenapa saya pasti tidak mau?”
“Karena kami nggak akan makan di restoran seafood. Ini warung pinggir jalan,” Nala menjawab sambil tersenyum mengejek.
Mata Haris mengerjap.
“Jadi kenapa?” Haiva bertanya, “Kepiting saos padang disana enak banget kan Mbak? Bapak pasti suka.”
“Saya baru ingat, saya harus langsung pulang,” kata Haris tiba-tiba.
“Eh?” Haiva bengong. Sikap Haris berubah dengan sangat cepat.
“Kalau gitu kami duluan, Pak,” kata Nala cepat. Tersenyum dan menarik tangan Haiva untuk segera ke mobilnya.
Sampai di mobilnya, Nala baru menjelaskan alasan mengapa bos besar mereka tidak akan mau diajak makan di Seafood Ayu.
“Bapak punya penyakit alergi.”
“Alergi makanan laut? Itu mah saya, Mbak. Saya pernah lihat Bapak makan kepiting dan beliau baik-baik aja kok.”
“Bukan,” jawab Nala kalem. “Penyakit Bapak itu namanya Cheap-Food Alergy.”
Food Alergy apa, Mbak?”
Cheap-Food Alergy,” Nala mengulangi sambil nyengir sendiri, “Alergi sama makanan murahan dan makanan pinggir jalan. Percaya deh, beliau bakal langsung sakit perut kalau makan makanan murah atau di pinggir jalan. Harus di restoran.”
Haiva bengong. Tapi kemudian ia tertawa. Tidak tahan mendengar hal yang lucu luar biasa itu.

*                *                *


Haiva sampai lupa warna matahari. Dia berangkat kantor pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit. Pulang malam-malam setelah matahari terbenam. Bahkan makan siangpun tidak bisa ia lakukan dengan tenang. Semua itu gara-gara proyek besar perusahaannya tahun ini. Semua karyawan di kantor itu, tak terkecuali Haiva, jelas kena imbasnya.
Tapi meski Haiva nyaris tidak bisa melihat matahari, ia selalu bisa menemukan mataharinya sendiri. Hari itu mataharinya datang ke ruangannya.
“Iva tadi nggak makan siang? Saya cari Iva. Ada yang harus diperbaiki dari APR report ini,” kata sang matahari saat membuka pintu dan menemukan Haiva ada di dalamnya.
Haiva mengalihkan pandangannya dari kotak sampel. Dengan pipi yang menggembung, ia kaget hingga nyaris tersedak melihat si matahari yang begitu menyilaukan.
Buru-buru dan hati-hati Haiva berusaha secepat mungkin menelan makanan yang memenuhi mulutnya. Si matahari tertawa kecil melihat tingkah Haiva.
“Kenapa nggak titip messenger aja, Pak?” tanya Haiva setelah makanannya tertelan.
Sang matahari tidak menjawab. Ia malah balik bertanya, “Iva makan apa?”
“Pak Haris mau?”
“Apa itu?” tanya Haris sambil meletakkan odner APR report di atas meja kerja Haiva sambil melirik sepiring makanan di atas meja itu.
“Bapak nggak tahu ini apa? Ini bakpao.”
“Saya tahu itu bakpao. Iva beli dimana?”
Teringat kata-kata Nala bahwa bos besar mengidap Cheap-Food Alergy, Haiva jadi malas memberitahu si bos dimana ia membeli bakpao itu sebenarnya.
“Enak lho, Pak. Ini isi coklat. Ini isi daging ayam. Ini isi kacang ijo,” Haiva menunjuk satu per satu bakpao yang dibelinya. “Bapak mau yang mana?” Ia lalu mengulurkan semuanya ke hadapan Haris.
“Iva beli dimana?”
Dengan cepat Haiva memutar otak dan menjawab dengan gaya cool, “Di toko roti di Kelapa Gading. Tadi saya nggak sempat makan siang, jadi nitip sama Mbak Asri Regulatory yang lagi lunch-out buat beliin ini.”
“Oh.”
Haris tampak mulai tertarik melihat bakpao-bakpao yang masih panas-mengepul itu.
“Ambil aja Pak.”
Sekali lagi Haiva menggoda Haris dengan menyodorkan bakpao-mengepul itu tepat di depan wajah bos besar. Dan ia berhasil. Haris tergoda dan mengambil sebuah bakpao isi daging ayam.
Tersenyum, Haiva meletakkan piring berisi bakpao-bakpao itu di mejanya sambil berkata: “Kalau Bapak suka, nanti ambil lagi aja. Jangan malu-malu. Dihabiskan juga nggak apa-apa. Saya tinggal dulu ya Pak.”
“Iva mau kemana?”
“Saya mau sampling cleaning validation lagi Pak ke Produksi.”
Haiva mengambil sebuah bakpao coklat. Dan tanpa diduga Haris, gadis itu mampu memasukkan bakpao itu bulat-bulat ke mulutnya. Membuat Haris takjub.
Haiva menyambar kotak berisi sampling vial lalu pergi dengan pipi yang menggembung. Gadis itu bergumam pamit kepada bosnya dengan suara yang tidak jelas.
“Di Produksi tidak boleh makan, Iva! Telan sebelum masuk sana!” kata Haris sok galak ketika Haiva membuka pintu ruangannya dan keluar.
Haiva bergumam tak jelas. Di balik punggung gadis itu, Haris tidak lagi menyembunyikan senyumannya. Ia takjub bahwa gadis berbadan kurus-kecil itu ternyata pipinya bisa menggembung hingga sebesar itu sehingga mampu memakan sebuah bakpao sekaligus. Tidak heran gadis itu punya pipi yang tembem.
Dasar bakpao, gumam Haris sambil tersenyum memandang punggung yang menjauh itu.
Sementara itu, berjalan memunggungi Haris, Haiva mengunyah bakpaonya sambil tertawa dalam hati. Kita lihat, gumamnya pada diri sendiri, apa besok pagi Pak Haris sakit perut? Kalau nggak, berarti beliau nggak alergi sama makanan pinggir jalan. Beliau cuma alergi sama makanan yang dia tahu dibeli di pinggir jalan. Selama beliau nggak tahu darimana asalnya, beliau nggak akan sakit perut kan?
Setelah menelan bakpaonya dan masuk ke gowning room (ruang ganti baju sebelum masuk ke ruang produksi obat-obatan), Haiva tertawa puas. Bakpao itu tadi dibelikan oleh Rizal, si office boy, di tukang bakpao keliling yang suka mangkal di belakang kantor mereka.  


*                *                *


“Kenapa?” tanya seorang lelaki yang sedang menyetir di sebelahnya.
“Nggak apa-apa,” Haiva menjawab singkat.
Lelaki itu jelas tidak percaya.
Sudah lewat enam bulan sejak Arya memberitahu Haiva bahwa Linda menerima lamarannya. Haiva mengira setelah sekian lama, hatinya sudah membaik. Tapi ternyata ketika dua minggu lalu ia menerima undangan pernikahan berwarna hijau itu, ternyata hatinya tetap bisa merasa perih. Bahkan hingga hari itu. Hari pernikahan mereka.
Haiva sudah berdandan rapi hari itu. Mengenakan gaun birunya. Dia berharap tidak akan tampak mengenaskan nanti.
“Iva nanti makannya jangan banyak-banyak ya!” perintah lelaki itu sambil melirik Haiva. Berusaha mengalihkan perhatian gadis itu dari undangan pernikahan di tangannya.
Haiva memandang undangan itu untuk terakhir kali, kemudian memasukkannya ke dalam tas tangannya.
“Kenapa, Pak?”
“Habis ini kan Iva harus temani saya makan malam.”
Haiva melirik Haris yang sedang fokus menyetir.
“Masa Iva aja yang makan malam. Saya tidak bisa tidur kalau tidak makan malam.”
“Lho? Bapak ikut masuk ke gedung resepsi kan? Kita makan malam disitu.”
“Nanti saya tunggu di luar aja.”
“Kenapa?”
“Saya tidak suka datang ke acara pernikahan.”
“Kenapa?” Haiva terus menuntut.
“Ndak suka saja.”
“Kalau gitu kenapa mau mengantar saya?”
“Saya cuma mau mengantar Iva saja.”
“Buat apa mengantar saya kalau nggak ikut masuk? Saya pikir minggu lalu Bapak menawarkan diri untuk menemani saya ke pesta pernikahan ini, bukan sekedar mengantar dan menunggu di tempat parkir?”
“Pokoknya saya menunggu di parkiran.”
“Kalau tahu begitu saya nggak akan mau diantar Bapak.”
“Jadi Iva tidak mau menemani saya makan malam?”
“Ya nggak begitu, Pak. Tapi kan saya merasa nggak enak. Masa Bapak udah jemput dan antar saya kesini, tapi cuma nunggu di tempat parkir.”
Haris tertawa.
“Kalau gitu Bapak nggak usah nungguin saya. Saya pulang sendiri aja.”
Mobil Haris tepat berhenti di depan ballroom sebuah hotel tempat resepsi pernikahan Arya berlangsung. Dengan kerlingan matanya, Haris menyuruh Haiva turun dari mobilnya.
“Telepon saya kalau Iva sudah selesai. Saya jemput Iva disini lagi. Oke?”
“Pak?”
“Saya tunggu Iva,” begitu jawaban terakhir Haris. Tegas. “Iva masuk aja. Ingat, jangan makan banyak-banyak.”
Haiva cemberut, menggembungkan pipinya.
Haris tertawa dan membelai pelan kepala Haiva. “Bakpao,” dia bergumam.
Haiva tersenyum kecut. Dia melangkahkan kakinya ke luar mobil sambil menggerutu dalam hati Memangnya gue bisa punya nafsu makan di pesta pernikahan laki-laki yang gue cintai?




“Gimana tadi?” tanya Haris setelah Haiva kembali ke mobilnya.
Haiva tersenyum. Meski cahaya di dalam mobil di malam hari hanya samar-samar, Haris yakin itu bukan senyum bahagia.
“Kenapa sih nggak mau masuk, Pak?” Haiva mengalihkan pembicaraan. Ia masih penasaran.
“Saya nggak suka aja.”
“Kenapa?”
“Ya tidak kenapa-napa. Saya cuma tidak suka datang ke acara pernikahan. Sudah lama saya tidak pernah datang ke undangan pernikahan.”
“Pasti ada alasannya?”
Ada. Tapi saya nggak mau kasih tahu kamu. Kamu cuma akan mengasihani saya.
“Pak?”
Saya sudah muak dengan pertanyaan “kapan nikah” yang ditanyakan semua orang saat pesta pernikahan. Dan kalau saya tadi ikut masuk, pertanyaan “kapan nikah?” yang sering mereka tanyakan padamu akan berubah menjadi pertanyaan“datang sama ayahnya ya?”. Pertanyaan semacam itu akan membuat kamu malu berada di samping saya.
“Jadi kalau nanti saya nikah, Bapak juga nggak mau datang meski saya undang?”
Haris menoleh cepat. Untung saat itu sedang lampu merah. Lelaki itu kehilangan konsentrasinya sesaat. Dia tidak menduga Haiva akan bertanya begitu.
“Tidak,” jawab Haris tanpa basa-basi.
Haiva juga tidak menduga bosnya akan menjawab sefrontal dan setegas itu. Dan menerima jawaban itu, Haiva merasa ada yang berdesir di rongga dadanya dan menekan paru-parunya.
Tanpa bisa dicegah, dan tanpa tahu kenapa, Haiva sedih mendengar jawaban Haris.
Kalau nanti kamu menikah, semoga tidak mengundang saya. Semoga saya yang berada di samping kamu.




Dear Boss,
Maaf. Aku sama sekali tidak berniat mengundangmu ke resepsi pernikahanku. Aku berharap kamu dan aku yang mengirimkan undangan itu kepada orang-orang. Apa aku keterlaluan?


Rabu, 24 Juli 2013

To be Loved

          Pernahkah kamu terobsesi pada sesuatu selama bertahun-tahun? Dan meski kamu tahu obsesimu itu nyaris mustahil, kamu tidak mau menyerah juga? Bahkan kamu rela mengubah dirimu, menjadi seseorang yang sama sekali bukan dirimu, demi mendapatkan obsesimu itu? Aku pernah!
Sudah sejak SMU aku mengidolakannya, sementara dia sama sekali tidak mengenalku. Dia bukan teman sekolahku, bukan teman lesku,bahkan sama sekali bukan siapa-siapa bagi duniaku. Tapi sejak melihatnya bertanding basket, saat tim sekolahnya melawan tim sekolahku, dia menjadi seseorang bagi duniaku.
Dari sahabatku yang bersekolah di SMU yang sama dengannyalah aku tahu tentangnya. Airlangga Kamanjaya namanya. Angga, panggilannya. Dari sahabatku itu jugalah aku tahu bahwa Angga tidak melanjutkan kuliah di Indonesia. Dia mendapat beasiswa di Todai (Tokyo Daigaku – Tokyo University). Saat itu juga aku bercita-cita, suatu saat kelak aku harus sekolah di Todai juga.
    “Saat lo berhasil menyusulnya ke Jepang, mungkin dia malah balik ke Indonesia,Lex,” kata Abri, sahabatku yang teman sekolahnya Angga itu, mencemooh cita-citaku.
       Tapi kurasa Abri memang punya bakat sebagai cenayang, karena lima tahun kemudian ketika baru saja aku mengirimkan aplikasi beasiswaku ke Jepang, Abri memberitahu bahwa Angga sudah pulang ke Indonesia.
     “I’ve told you, Lex. Kalian emang nggak berjodoh,” komentar Abri, menertawakanku dengan sangat tega.
            Aku manyun sambil menonjok bahu Abri. Sial!
        “Lo masih terobsesi sama Angga sampe sekarang, Lex?” tanya Abri, makin mencemooh.
            Aku mengabaikan cemoohannya dan tidak membalas.
            “Teman SMU gue nikah dua minggu lagi. Dia sahabatnya Angga. Ikut aja sama gue, kalau lo mau ketemu dia,” kata Abri kemudian, sambil nyengir.
            Dan senyum itu menular. Senyumku malah mencapai mata.  Serta merta aku merangkul Abri karena telah berbaik hati mengajakku. Abri balas menepuk lenganku, masih sambil menertawakanku.


            Hidup adalah pilihan. Dan seringkali, ironisnya, kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit dipilih. Coba beri tahu aku, apa yang harus kupilih? Apakah aku harus menerima kenyataan bahwa Angga seorang gay dan menyerah terhadap obsesiku selama bertahun-tahun, atau aku terus berjuang meski harus mengubah diriku menjadi lelaki?
            Abri yang mengajukan pilihan sulit itu di depan mataku. Tepat seminggu sebelum acara pernikahan teman SMU Abri, yang prediksinya akan dihadiri Angga juga, Abri memberitahuku berita mengejutkan itu.
            “Itu mah gosip doang kali?” tanyaku, keukeuh tidak mau percaya.
          “Alexa Rahmi, terima kenyataan aja deh,” jawab Abri, sambil menepuk pundakku.
            “Sinting lu! Setelah bertahun-tahun gue mencari cara supaya bisa ketemu dia, sekarang lu nyuruh gue nyerah aja? Cuma karena gosip begituan?” jawabku sewot.
            “Itu bukan cuma gosip begituan, Lex. Gue denger sendiri dari sahabatnya, si Anita, yang minggu depan mau married itu lho. Lu pikir kenapa si Angga bisa sahabatan lama sama Anita? Cuma ada dua alasan kenapa cowok dan cewek bisa bersahabat lama tanpa saling naksir. Karena salah satunya brengsek, atau karena salah satunya homo.”
            “Lha, kita bersahabat sejak SD. Dan gue jelas nggak brengsek. Mungkin lo yang homo?”
            “Eh, ampun deh, dia malah nuduh gue.”
            “Atau lu pernah naksir gue?”
            “Oke, kita balik ke topik utama aja deh!” kata Abri cepat. Aku jadi curiga, mungkin Abri memang pernah naksir aku? Hehehe.
            “Pokoknya gue nggak percaya sama gosip itu!


            Berapa banyak orang sudah berubah demi orang lain. Mereka berubah demi diterima oleh masyarakat, demi dicinta. Beberapa orang rela berubah demi menjadi dekat dengan orang yang dicintainya. Beberapa bahkan mengubah total penampilannya. Berapa banyak sinetron atau drama tentang gadis yang rela mengubah penampilannya menjadi seperti lelaki demi mendekati pria yang dicintainya? Dulu aku selalu mencerca drama seperti itu. Menganggap itu tindakan yang bodoh luar biasa. Dulu, sebelum aku mengalaminya sendiri. Sekarang aku tahu mengapa tindakan bodoh itu mau saja dilakukan seseorang demi orang yang dicintainya. Dan kalau mereka melakukan hal konyol itu hanya demi menjadi dekat dengan orang yang dicintainya, aku rela mengubah diri menjadi lelaki demi membawa kembali lelaki yang kucintai.


Selasa, 23 Juli 2013

GAJI PERTAMA

Menjelang akhir bulan nih. Menjelang Idul Fitri juga. Siapa hayo yang udah dapet gaji/THR pertama?

Biasanya sih gaji pertama ga pernah bisa ditabung. Mengapa?
Pertama, karena gaji pertama biasa dihabiskan untuk membeli kebutuhan kerja, misal baju, sepatu, tas, asesori dan alat make-up. Ini wajar saja. Namanya juga setiap usaha, perlu modal awal. Dan modal pertama bagi pekerja kantoran adalah penampilan yg baik dan menarik. Setidaknya itu mencerminkan citra baik diri sendiri dan citra perusahaan tempat kita bekerja. Gaji pertama gue dulu juga sebagian besar dialokasikan untuk beli baju dan sepatu kerja. Mengapa? Karena semasa kuliah gue pakai kemeja dan sepatu kets melulu. Masa pas kerja masih aja pake kemeja cowok gitu? Gimana bos gw bisa naksir kalo baju kerja gw buluk? #gaplokdirisendiri
Alasan kedua mengapa gaji pertama tidak pernah bisa ditabung adalah karena fenomena "traktiran". Pasti kalian sering dengar kata2 seperti ini: "Ciyeee,, gaji pertama nih. Traktir2 dong."

Kadang gue benci jadi orang Indonesia yg kebanyakan basa-basi dan rasa sungkan berlebihan. Dan line "traktir2 dong, kan gaji pertama" ini sungguh annoying. Bagi beberapa orang ini justru jd beban. Boro-boro bisa nraktir, kadang gajinya aja malah ga cukup untuk hidup sebulan.

Sama kayak line "Ciyeee yang ulang tahun, traktir2 dong." Emang kalau orang lg ulang tahun bisa tiba2 kaya-raya dan bisa mentraktir semua orang yg ngucapin "met ultah"? Ulang tahun tuh mendingan berbagi sama anak yatim atau orang yg ga mampu. Kenapa malah nraktir temen2 yg ngucapin "met ultah" cm krn notif FB? Mendingan nraktir orangtua dan keluarga yg sudah melahirkan kita dan jelas berjasa dalam kesuksesan kita. Gw pribadi ga pernah peduli sama kata2 macam begini. Kalau gue mentraktir pd saat hari lahir gue, itu memang krn gw ingin berbagi kebahagiaan bersama teman2, bukan krn ditodong traktiran.

Oke, balik lagi ke gaji pertama. Gw bukannya anti berbagi-kebahagiaan-gaji-pertama, tp kalaupun kalian pengen traktir2 dlm rangka gaji pertama, ikhlaslah, jgn krn "ditodong".

Beberapa orang minta ditraktir emang karena "celamitan" atau pny mental "gratisan". Padahal kalo dipikir2 lagi, mungkin orang2 ini malah ga pny andil dlm kesuksesan kita. Sayang banget kan kalo demi nraktir orang2 oportunis macam ini kita sampe ga bisa membahagiakan orangtua/ keluarga sendiri?
Tapi nggak jarang juga lho, sebenarnya orang2 yg ngomong "traktir dong, kan gaji pertama" itu tdk benar2 minta ditraktir. Ini cuma semacam gurauan atau kebiasaan-turun-temurun-orang-Indonesia-yang-suka-berbasa-basi. Ini nih yg harus diubah dr kebiasaan kita. Kita seringkali ga sadar bahwa gurauan kita untuk minta traktiran itu memberi beban berat bagi yg diminta traktiran. Jadi sodara-sodara sebangsa setanah air, marilah kita menghilangkan kebiasaan minta traktiran, entah hanya bergurau, apalagi kalau serius.

Btw, berikut adalah saran2 gue untuk alokasi gaji pertama. 
Makan keju makan geplak, boleh setuju boleh tidak.
1.  Pertama kali, segera sisihkan gaji pertama untuk kebutuhan dasar karyawan: biaya transport, uang makan (kalo kantor ga menyediakan makan siang), dana beli baju-separu-tas-etc perlengkapan kerja.
2. Zakat dan sedekah. Ada yg bilang, zakat itu dikeluarkan setelah 1 tahun. Gw orangnya pikun sih, jd setiap bulan lgsg aja menyisihkan untuk zakat dan sedekah. Oiya, mumpung menjelang Idul Fitri nih, gaji pertamanya disisihkan untuk zakat fitrah juga ya :D
3. Buat orangtua.  Kadang untuk anak2 yg berasal dari keluarga berada, memberikan gaji pertama yg ga seberapa besarnya itu kepada orangtua yang berkecukupan rasanya seperti menaburkan garam ke laut, alias sia-sia. Tapi gue berpendapat sebaliknya. Meski orangtua kita sudah sgt berkecukupan shg tdk memerlukan gaji pertama kita, menyerahkan gaji pertama kepada orangtua itu lebih bertujuan sebagai bukti bahwa beliau sudah berhasil membesarkan kita hingga sekarang kita bisa hidup mandiri. Gue rasa itu membuat rejeki selanjutnya lebih berkah krn diridhoi orangtua. Toh pada akhirnya, beberapa orangtua yg telah berkecukupan akan mengembalikan gaji pertama kepada kita karena dirasa kita lebih membutuhkan uang itu.


Nah, ada satu fenomena lagi nih yg sering tjd di bulan Ramadhan. Harusnya sih dgn berpuasa, kita belajar hidup prihatin, termasuk menahan nafsu makan yg berlebihan. Realitanya, saat bulan Ramadhan, pengeluaran rumah tangga yg dialokasikan untuk makanan seringkali justru meningkat. Bukan hanya krn harga bahan makanan yg meningkat, tp justru krn masyarakat makin konsumtif di bulan Ramadhan. Alih2 belajar prihatin, masyarakat justru pengennya bermewah-mewah saat berbuka puasa. Di hari biasa makan cukup dengan nasi, oseng2 dan tempe,,, tapi pas bulan Ramadhan justru pengen nambah kolak untuk menu pembuka.

Alasan kedua mengapa pengeluaran di bulan Ramadhan justru meningkat adalah karena tren "buka puasa bersama". Sekali lagi, gue bukan aliran anti-buka-puasa-bersama, tapi acara "buka puasa bersama" ini lumayan menguras kantong, maka janganlah memaksa teman2 yg ga mau (atau lebih parah lagi, janganlah memaksa diri sendiri) untuk buka puasa bersama kalau memang kondisinya tdk memungkinkan (termasuk kondisi keuangan). Buka puasa bersama itu untuk berbagi kebahagiaan saat buka puasa,,, semestinya jangan meninggalkan kepusingan akibat kebangkrutan mendadak. Lagipula, kalau dipikir-pikir, sebenarnya sebahagia-bahagianya buka puasa bersama adalah bersama keluarga. Iya ga?

Fenomena selanjutnya menjelang Idul Fitri adalah euforia THR. Sayangnya, kesenangan THR ini kadang hanya berlangsung bahkan sebelum mencapai Idul Fitri. Seringkali THR habis sebelum lebaran tiba. Ga salah sih, THR sah-sah aja untuk dihabiskan kok (meski di tangan gw, saking pelitnya THR bisa masuk tabungan). Sayangnya, kadang THR habis tanpa jejak,,, tanpa sadar kita menghabiskan THR tanpa mendapat hasil yg jelas. Misal, terlalu heboh belanja baju baru, belanja bahan makanan buat bikin opor-ketupat-etc, dan bagi2 angpao. Padahal, manusia dewasa hrsnya ga perlu heboh lagi dgn ritual "harus-pake-baju-baru-saat-lebaran". Dan hanya krn kalian dpt THR, bukan berarti kamu harus bagi2 angpao saat lebaran. Lebih dilematis lagi kalau punya banyak saudara yg belum bekerja, kamu sbg yg sdh bekerja mungkin jd merasa terbebani dgn "kewajiban" memberi angpao. Padahal yang wajib itu zakat fitrah lho bukan bagi2 angpao.

Belakangan malah bagi2 angpao ini jadi semacam ajang "gengsi". Makin besar jumlah uang dlm angpao yg kamu bagikan, makin besar gengsi yg kamu tunjukkan ttg betapa besarnya gaji kamu. Apa itu salah? Nggak juga kok. Itu sih hak masing2 orang. Gue cuma suka tergelitik aja denger orang banyak ngeluh "Duh, THR habis buat belanja dan angpao." Ya kalo ga rela THRnya habis, ya ga usah memaksakan bagi2 angpao.

Sebenernya, dgn managemen keuangan yg baik, THR itu bisa dimanfaatkan dgn lebih baik lho. Kalau THR ditabung kan bisa buat nambahin modal kawin atau nyicil rumah  :D
Pengaturan keuangan yg hanya berdasar "perasaan" akan berakibat buruk pada kondisi keuangan kita.


Jadi, apa intinya obrolan ngalor-ngidul gw kali ini? 
Berbagilah. Dan berbahagialah.
Jangan berbagi, tapi kemudian menggerutu.



PS. Hampir memasuki 10 hari terakhir Ramadhan nih, ngajinya udah hampir khatam?

Minggu, 12 Mei 2013

PERGI

Saya bukan orang yang suka berpergian. Bisa dibilang anak rumahan. Kalau tidak sangat terpaksa, saya selalu malas keluar rumah. Maka rasanya ini posting pertama saya tentang sebuah perjalanan.

Ini bukan pertama kalinya saya berpergian jauh. Saya sering pulang kampung ke Trenggalek, Jawa Timur, beberapa kali ke Bandung dan Jogjakarta. Tapi ini perjalanan pertama yang saya lakukan dengan alasan yang berbeda. Biasanya saya berpergian jauh hanya karena mudik, berlibur atau urusan pekerjaan. Kali ini tidak. Kali ini saya pergi bukan hanya untuk berlibur. Ini pertama kalinya saya pergi dengan tujuan khusus.

Ada yang bilang, terkadang orang-orang berpergian hanya untuk mencari tempat dimana ia ingin kembali pulang. Rumah. Kali ini saya pergi untuk mencari jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya. Ini pertama kalinya saya pergi untuk mencari. Membawa 3 pertanyaan untuk dipertemukan dengan jawabannya.
Tidak ada urutan prioritas dari alasan dan pertanyaan yang membawa saya pergi ke Malang kali ini. Semua tujuan saya sama pentingnya. Semua pertanyaan saya juga sama-sama mencari jawabannya.


Alasan pertama saya adalah karena kota yang kami tuju adalah Malang. Kota asal murid dan guru saya, dan banyak orang lain yang saya kenal. Entah mengapa saya mengenal banyak orang Malang. Di Malang juga tinggal beberapa saudara saya, meski kali ini saya tidak sempat mengunjungi mereka. Saya ingin tahu di tempat seperti apa mereka dibesarkan, sehingga semua orang Malang yang saya kenal memiliki kualitas yang hampir serupa: cerdas dan goodlooking.
Dengan alasan pertama itulah, ketika ada kesempatan Family Gathering bersama kru dan alumni Farmasi UI ke Malang, saya segera mendaftar ikut.

Kami menuju Malang dengan kereta. Dari jam 14.45 siang di stasiun Kota Jakarta, sampai jam 9.00 pagi keesokan harinya di Stasiun Kota Malang Baru. Saya berangkat pada hari Rabu jam 10 pagi. Terima kasih kepada kak Rezi yang sudah menggantikan saya belajar bersama adik2 saya di FISIP pada hari Rabu siang itu.

Beruntung saya sudah mengembangkan kemampuan saya yang satu ini sejak beberapa tahun lalu sehingga saya tidak terlalu kesulitan tiap kali dalam perjalanan jauh: menahan pipis. Jangan aplikasikan kebiasaan ini dalam kehidupan sehari-hari karena ini berisiko menyebabkan batu ginjal. Demi tidak urinasi, setiap perjalanan jauh saya mengurangi frekuensi dan volume minum, juga memilih pocari sweat alih-alih air mineral biasa.

Menahan urinasi bukan bagian tersulit dari sebuah perjalanan panjang. Bagian tersulitnya adalah membangun obrolan dengan teman seperjalanan supaya perjalanan 18 jam mu tidak garing dan membosankan. Tapi rasanya saya beruntung, saya memiliki teman seperjalanan (baik selama di kereta maupun di bis) yang membuat saya tidak merasa canggung meski tidak banyak bercakap-cakap. Saya tidak perlu terus mencoba mencari topik obrolan hanya supaya tidak terasa garing. Toh kalau kami ngobrol, itu karena memang ada hal menarik yang ingin kami bicarakan, bukan topik yang dicari-cari sebagai bahan obrolan. Biasanya, sepanjang perjalanan di kereta maupun bis, dia lebih banyak diam memandangi pemandangan dan saya lebih banyak tidur. Hahaha.

Kami sampai di Malang dengan badan pegal-pegal karena 18 jam duduk di kursi tegak. Lebih parah lagi buat saya karena ponsel saya lowbat sejak jam 12 malam padahal saya sudah mencharge HP full di stasium Kota. Powerbank milik si partner juga tidak berhasil mengembalikan HP saya seperti semula. Yang bikin saya gelisah bukan karena saya tidak bisa live-report perjalanan saya via twitter. Saya lebih gelisah karena dengan matinya ponsel saya, ibu saya akan gelisah karena gagal menelepon saya. Benar saja, pada Kamis pagi saya terbangun di kereta karena si partner memanggil-manggil nama saya dalam pembicaraanya dengan seseorang di seberang ponselnya.

"Nia baik-baik aja, Tante, tapi HPnya mati sejak tadi malam. Belum bisa charge HP lagi."
Tuh kan, Ibu saya memang begitu. Seketika tidak mendapat kabar dari anak-anaknya, beliau akan mulai menggerecoki teman-teman anak-anaknya. Makanya sebelum pergi, saya memberikan no.hp si partner kepada Ibu saya. Ibu saya sih minta juga no.hp ketua panitia perjalanan ini, tapi masa saya harus kasih no.hp Pak Harmita??? Hahahaha.

Dengan badan lepek karena belum mandi seharian, kami sampai di Alun-alun Malang dan sarapan-yang-terlambat disana. Setelah itu, kami menunggu waktu Dzuhur tiba di Masjid Agung Malang. Kamar mandinya bersih, jadi saya sekalian bersih-bersih badan disana. Setelah sholat dzuhur, kami beranjak makan siang di Warung Manteb Ibu Lanny. Enak-enak makanannya. Boleh dicoba kalau lagi ke Malang.

Kami sampai di Hotel Agrowisata Kusuma sekitar jam 4 sore. Hotel tersebut berada di daerah Batu. Kalau kota Malang berhawa panas seperti Jakarta, Batu justru dingin seperti puncak.

Saya menginap sekamar dengan mbak Galuh dan sepupunya, Ririn. Pada hari-hari setelahnya, kami bertiga selalu bersama-sama: ke BSN, ke Jatim Park, juga ke Bromo dan Surabaya. Er, plus ditambah Om Radit sih yang dengan baik hati selalu mau membawakan ransel saya kemana-mana.

Hotelnya kece badai. Di belakang hotel juga ada taman agrowisata lho, jadi kami keesokan paginya bisa wisata petik buah :D ,,, meski cuma metik buah jambu #eeeaaa. Dan yang paling penting dari sebuah hotel di daerah dingin seperti Batu adalah suplai air panasnya. Pokoknya betah banget di hotel ini.

Setelah mandi dan istirahat sebentar di hotel, kami foto-foto di taman hotel. Bagus banget pemandangannya. Btw, foto-fotonya akan diupload nanti ya. Sekarang masih dikompilasi sama om Radit. Hehehe.

Malam harinya, jam 6.30 malam, setelah sholat Maghrib, kami pergi ke Batu Night Spectacular. Itu semacam pasar malam. Wahananya mirip dufan sih tapi dengan skala yang lebih kecil. BNS ini lumayan rame juga. Dua jam disana, saya cuma sempat mencoba teater 4D dan sepeda udara. Sebenarnya udah niat foto-foto di lampion garden BNS, tapi udah keburu ditinggal sama bis untuk balik ke hotel, jadi nggak sempat deh.

Keesokan paginya, kami pergi ke Jatim Park 2. Di kawasan ini ada 3 tempat yang bisa dikunjungi. Jatim Park 2 semacam Ragunan dan Taman Safari. Didesain sedemikian rupa, Jatim Park 2 ini one way, jadi semua pengunjung pasti melewati semua tempat dan melihat semua hewan disana. Dan pengunjung bisa melihat dari dekat semua hewan-hewan. Bahkan kita bisa melihat singa berjalan di atas kepala kita dari sebuah kandang kaca. Baik pisces, reptil, aves sampai mamalia, semua ada disini. Baik yang lucu sampai yang menyeramkan, semua ada. Semua kandangnyapun bersih dan nggak bau. Nyaman banget jalan-jalan disana. Nah, bagi yang capek jalan kaki, kalian bisa sewa electric-bike gitu, 100ribu rupiah per 3 jam. Saya sih prefer jalan kaki, meski harus pakai koyo, tapi puas.

Oiya, di Jatim Park 2 ini juga ada Happy Land, semacam Dufan versi mini. Bersama ketiga teman geng kece saya yang lain, kami main Shark-Coaster dan Horror House juga disini. Disini saya menemukan jawaban untuk pertanyaan saya yang kedua. Tunggu, saya bukan bertanya apakah kuntilanak benar-benar punya anak atau tidak kok. Saya mempertanyakan hal lain, tapi anehnya saya justru menemukan jawabannya di Horror House Jatim Park 2 ini. Anehnya hidup. Ia menunjukkan jawaban di tempat dan waktu yang tidak kita duga.

Di Jatim Park 2 juga ada EcoGreen Park. Kali ini kami nggak kesana. Tapi menurut orang-orang, EcoGreen Park ini bagus lho, terutama buat anak-anak belajar tentang ekologi.

Nah, ini nih tempat yang paling saya suka dari Jatim Park 2. Museum Satwa. Ada kerangka dinosaurus di pintu depan, dan banyak diorama hewan-hewan yang tampak nyaris seperti nyata. Diorama savananya nyaris seperti hidup. Sepanjang jalan, saya berantem sama si partner. Dia bilang, hewan-hewan itu asli dan diawetkan. Saya masih berpikir itu hanya boneka meski kelihatan sekali seperti asli, karena mata hewan-hewan itu terbuka. Ah, apapun itu, saya sangat menikmati diorama hewan-hewan disana. Ada koleksi kupu-kupu yang diawetkan juga disana. Dan subhanallah, sebagian kupu-kupu paling cantik disana berasal dari pulau-pulau di Indonesia lho.

Kami berdua mengakhiri perjalanan di Museum Satwa setelah betis saya berkonde dan ponsel canggih si partner lowbat nggak bisa foto-foto lagi. Percuma foto-foto pakai ponsel saya, resolusinya kurang bagus.
Oiya, di Batu ada Jatim Park 1 juga lho. Semacam Dufannya Jakarta. Tapi kemarin kami tidak kesana. Saya lebih pilih datang ke Museum Satwa Jatim Park 2 yang sudah direkomendasikan Bos Besar. Sebagai orang Malang, beliau sudah mensuggest beberapa tempat yang harus saya kunjungi saat ke Malang. Salah satunya adalah Jatim Park 2. Alasan lain, kalau ke Jatim Park 1, si partner nyaris nggak bisa naik apa-apa karena takut ketinggian.

Jam 3 sore kami berdua selesai mengelilingi Jatim Park 2 dan Museum Satwa. Dengan kaki pegal-pegal, sambil menunggu bis menjemput jam 4 sore, kami duduk-duduk di pelataran Museum Satwa. Saya mencharge ponsel mumpung nemu colokan listrik di depan pintu masuk museum. Si partner ngiler ngeliatin booth eskrim cone vanila di seberang pelataran dan akhirnya nggak tahan untuk beli juga.

Setelah bis datang, kami berangkat ke sebuah restoran untuk makan malam bersama. Namanya Warung Wareg. Wareg itu bahasa Jawa yang berarti kenyang. Artinya, silakan makan disini sampai kenyang. Oiya, makan malam kali ini disponsori oleh Bos Besar. Waktu pertama kali saya cerita bahwa kru dan alumni Farmasi UI mau family gathering ke Malang, si Bos yang memang asal Malang bilang bahwa beliau akan ikut. Tapi mendadak katanya ada meeting sehingga tidak jadi datang. Sebagai pengganti ketidakhadirannya, beliau meminta tolong pada adiknya untuk memesan sebuah restoran untuk makan malam kami. Restoran yang beliau pilih ternyata kece. Makanannya enak dan ada organ tunggalnya. Setelah makan malam, kru dan alumni Farmasi UI asik karaoke dan joget semua. Sambil nonton para dosen nyanyi dan joget, saya live report ke si Bos. Beliau senang mendengar bahwa kami semua menikmati makanan dan suasana karaoke bersama.

Malam itu saya juga bertemu dengan kakak, adik, ipar dan keponakan si Bos yang ingin memantau suasana makan malam sesuai yang dipesankan beliau, sekaligus makan malam disana. Ini bukan pertama kalinya kami bertemu, sebelumnya kami pernah bertemu di rumah si Bos saat keluarga besarnya ke Jakarta lebaran lalu. Tapi ini pertama kalinya kami ngobrol banyak, iya.

Jam 8 malam kami selesai makan malam dan pulang ke hotel. Sampai di hotel, saya dan Ririn langsung packing sambil nonton X-factor, karena jam 00.30 malam kami sudah harus pergi dari hotel menuju Bromo. Mbak Galuh? Doi masih naracap (tahu kan kalo orang Malang suka banget ngomong kebalik-balik gitu). Sekembalinya ke hotel jam 10 malam, mbak Galuh juga segera packing. Jam 11 malam kami selesai packing dan mandi malam (syukurlah ada suplai air panas), lalu tidur. Jam 12 malam, kami dibangunkan untuk bersiap. Jam 00.30 pagi dini hari kami sudah pergi dari hotel, dengan 9 elf beriringan menuju Pananjakan.

Karena sangat ngantuk, saya sempat tertidur di elf. Tapi ketika jalan mulai menanjak, saya terbangun karena telinga saya mulai terasa tidak enak. Untuk ke Bromo ini, saya sudah menyiapkan sweater tebal, syal dan sepatu kets. Tapi saya lupa dua hal yang tidak kalah penting. Sarung tangan. Beruntung ada yang menjual sarung tangan ini di Pananjakan seharga 5000rupiah sepasang. Kedua, permen karet. Demi mengatasi perbedaan tekanan udara saat berkendara naik dan turun gunung, harusnya saya terus mengunyah permen karet sehingga telinga saya tidak terganggu. Setelah terbangun sekitar jam 2 pagi, saya tidak bisa tidur lagi. Pertama, karena sibuk mengumpulkan-menelan saliva berkali-kali, mengganti metode mengunyah permen karet untuk mengatasi gangguan di telinga saat elf makin menanjak. Kedua, melihat ke sisi kiri elf, tepat jurang yang curam. Berkendara di malam hari dengan sisi jalan menanjak berupa jurang, membuat saya tidak tenang. Saya sibuk berdzikir sepanjang jalan supaya mobil elf ini sampai dengan selamat di tujuan.

Kami tiba di Pananjakan jam 4 pagi. Di Jawa Timur ini jam 4 pagi sudah menjelang subuh. Saat keluar mobil elf, semburat kekuningan mulai terlihat di timur. Tapi di langit barat, bintang bertebaran di langit gelap. Duh, indah banget. Subhanallah. Di Jakarta, saya nggak bisa melihat bintang satupun. Tapi di Pananjakan ini, nggak terhitung banyaknya bintang yang bertebaran di langit hitam itu.

Begitu keluar dari mobil, dingin menyergap. Rasanya sampai ke tulang, meski saya sudah memakai sweater tebal dan syal yang menutupi telinga dan hidung. Dari tempat mobil elf berhenti, untuk bisa memandang sunrise yang indah, kami perlu naik berjalan kaki sekitar 2 km lagi. Baru naik beberapa meter, saya sudah merasa sesak nafas. Udara tipis. Naik sepeda UI tiap pagi, mengejar kereta dan main badminton ternyata bukan olahraga yang cukup untuk naik gunung. Ditambah saya alergi terhadap udara dingin dan mengidap sinusitis. Saya hampir berhenti naik. Tapi Mbak Galuh bilang "Jangan berhenti. Kalau berhenti berjalan, nanti makin kedinginan. Kita bisa jalan pelan-pelan," dengan sabar.

Fiersa pernah bilang, mencapai puncak paling awal untuk melihat sunrise bukanlah yang terpenting bagi pendaki. Tidak meninggalkan sahabat di belakang, lebih penting. Terharu banget kali itu Mbak Galuh dan Ririn tidak pergi lebih dulu meninggalkan saya.

Khawatir akan ketinggalan sunrise kalau berjalan kaki ke puncak, kami memutuskan untuk naik ojek. 20 ribu. Saat itu saya mulai mempertimbangkan untuk melakukan operasi lasix. Saking dinginnya, kacamata saya berembun oleh nafas saya sendiri. Saya bahkan sampai kesulitan mencari uang di dompet karena kacamata saya tertutup embun.

Turun dari ojek, kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Belum sampai puncak ketika semburat merah makin nyata di timur. Saya berhenti di sebuah tempat dekat mushola darurat. Disana saya melihat matahari meninggi. Sholat di mushola darurat itu, lalu saya melanjutkan menikmati pemandangan seperti yang terlihat di film 5 cm dengan mata saya sendiri. Itu yang namanya Negeri di Atas Awan. Saya melihat awan di bawah kaki saya. Saya juga melihat awan mengambang di atas kepala saya. Bisa dibilang, saya berada diantara lapisan awan.

Oiya, foto-foto di Bromo ini masih dikompilasi Mas Adi. Nanti saya upload juga deh :D Maklum, kamera ponsel saya gagal mengabadikan pemandangan indah itu dengan jernih, jadi saya numpang berfoto dengan kamera Mas Adi.

Matahari terbit perlahan. Dingin makin kuat menyeruak, membuat gigi gemeretak. Ini adalah alasan ketiga mengapa saya ikut serta dalam perjalanan ini. Karena saya tahu bahwa Bromo adalah salah satu tujuan perjalanan ini.

"So cold there, Kak. Batu, Malang. Colder than Puncak. But Bromo is even worst," kata murid les saya yang sering mudik ke Malang, "How do you think you can survive in Tokyo or Seoul if you can't breath well in Bromo?"

Tapi saya bisa. Menurut ponsel canggih si partner, lima derajat disana. Saya tidak menduga bahwa saya akan bisa bertahan di suhu sedingin itu. Pertanyaan ketiga saya terjawab disini. Apakah saya bisa bertahan di suhu sedingin itu jika saya bercita-cita sekolah ke negara 4 musim? Saya tahu, di Tokyo atau Seoul suhu bisa mencapai - 10 derajat saat musim dingin. Tapi saya tidak takut lagi. Dulu saya selalu takut, tidak bisa bertahan hidup pada suhu dibawah 15 derajat. Tapi toh, kemarin saya tetap bisa bernapas di suhu 5 derajat. Jadi saya rasa, saya hanya perlu berusaha lebih baik untuk bisa bertahan di suhu -10 derajat celsius.
Ada satu tips untuk mengatasi sulit nafas karena kedinginan. Koyo. Tidak hanya bisa digunakan di bagian tubuh yang pegal. Koyo bisa ditempel di hidung juga. And somehow it helps you breath.

Semua mata berfokus pada matahari yang terbit di timur, awan-awan yang berarak di bawahnya. Saya mengalihkan pandangan. Di utara saya melihat Semeru. Berdiri lebih tinggi daripada tempat saya berdiri. Mahameru, puncaknya Semeru adalah yang paling tinggi diantara gunung lain di pulau Jawa. Berada disini saja rasanya luar biasa. Sekarang saya paham apa yang Fiersa rasakan saat mencapai Mahameru.
Di selatan, terlihat beberapa gunung lain, saya tidak tahu namanya, hanya puncaknya yang terlihat karena tertutup awan. Di utara juga ada sebuah kawah dimana kuil suku Tengger berdiri. Kemanapun saya memutar pandangan, semua menakjubkan. Rasanya tidak adil hanya memuji kecantikan si timur padahal Semeru berdiri gagah di utara, pepohonan rindang di lembah barat dan si selatan tampak sama tampannya.

Jam 6 pagi matahari terbit sempurna. Saya memutuskan untuk turun. Mbak Galuh dan Ririn masih asik memotret pemandangan di timur. Tapi saya ingin turun lebih dulu sambil menikmati pemandangan di barat.
Jam 7 kami sudah harus kembali ke elf kami. Tapi kali ini saya tidak ingin naik ojek. Hidung saya sudah beradaptasi. Rasanya mereka tidak akan mogok bernafas lagi seperti tadi pagi. Saya bertemu si partner di tengah jalan. Kami berdua sepakat untuk berjalan kaki kembali ke elf sambil menikmati udara dan pemandangan gunung.

 Selagi menuruni gunung, saya bertemu banyak penjual Edelweiss. Katanya edelweiss itu bunga abadi. Tapi apanya yang abadi kalau sudah dipetik dari habitat aslinya. Maka seperti kata Fiersa, demi berkontribusi untuk tidak menjadi bagian dari orang-orang yang mengambil edelweiss dari habitat aslinya, saya menahan diri untuk tidak membeli bunga itu.


Kamu pernah merasakan senang dan marah di saat yang hampir bersamaan? Saya mengalaminya kemarin. Sabtu kemarin adalah hari yang paling membahagiakan sekaligus paling menyebalkan selama perjalanan saya ke Malang. Hari paling dingin sekaligus paling panas, saya alami dalam sehari.

Sepulang dari Bromo, kami berkendara menuju Madura. Perjalanan menuruni gunung membuat telinga saya kembali terganggu. Di tengah jalan kami baru sadar bahwa kami nyasar karena mengikuti elf yang salah, bukan elf rombongan kami. Ini mulai membuat mood saya jelek. Jalanan yang berkelok-kelok membuat 2 anak di elf kami muntah-muntah. Saya sendiri sambil memijit si anak, ikut mual. Akhirnya saya menenggak Antimo dan tidak lama kemudian saya tertidur pulas. Kalau sampai saya tidak mendengkur, saya pasti sangat beruntung. Saya terbangun sekitar jam 12 siang karena sesak nafas. AC di elf ternyata tidak berfungsi. Suhu diluar elf mencapai 32 derajat. Surabaya. Jendela elf sudah dibuka, tapi sama sekali tidak membantu.

Kami sampai di Bangkalan, Madura, jam 2 siang, setelah melewati jembatan Suramadu yang ternyata panjang sekali seperti tak bertepi, dengan wajah dan badan lepek berkeringat. Sudah tidak lagi bernafsu makan karena mood sangat jelek. Perhatian, teman-teman, kalau kalian ke Surabaya atau Madura, lebih baik pakai tanktop saja. Panasnya kota ini melebihi Jakarta.

Setelah makan siang, kami masih punya waktu 4 jam sebelum ke stasiun pasar turi Surabaya. Tapi karena supir elf kami nampaknya punya hobi nyasar, kami memutuskan untuk segera kembali ke stasiun saja. Lagipula kami sudah tidak mood melakukan apapun dengan badan lepek berkeringat.

Oiya, rasanya tidak lengkap cerita travelling tanpa mencantumkan tempat membeli oleh-oleh ya? Di surabaya ada pusat oleh-oleh di daerah Genteng Kali. Dari stasiun pasar turi Surabaya, cukup 15 ribu dengan becak. Kalau dengan taksi mungkin sekitar 25ribu - 30 ribu. Kalian bisa membeli macam-macam makanan khas Jawa Timur, mulai dari Brem sampai Suwar-Suwir, keripik Apel sampai keripik ubi.

Toh saya tidak membeli banyak oleh-oleh. Barang bawaan saya sendiri sudah sangat banyak. Saya tidak berencana memaksa membawa banyak bawaan dengam merepotkan orang lain.  Saya sudah cukup sedih melihat beberapa orang tetap dimintai tolong membawakan ini-itu yang bukan barang bawaan mereka sendiri, padahal mereka sedang berlibur. Jadi, maaf ya kawan-kawan, ijinkan saya menggantikan oleh-oleh itu dengan cerita ini.

Pada posting selanjutnya, saya akan mengupload foto-foto menarik selama saya di Malang-Surabaya-Madura.

Banyak orang berpergian untuk berlibur atau bekerja. Saya pergi untuk mempertemukan pertanyaan dengan jawaban. Ketiga pertanyaan yang saya bawa ke Malang kemarin telah pulang bersama jawabannya. Rasanya perjalanan kali ini sama sekali tidak sia-sia.

Terima kasih Teman, sudah membaca postingan saya kali ini :D