Luna Lovegood inside. Noda Megumi outside.

Minggu, 20 November 2016

UNDANGAN

Berhubung belakangan ini saya banyak nerima undangan, dan hari ini saya mengalami dua kali kejadian terkait undangan, maka saya jd tergelitik untuk menulisnya.

Kejadian pertama, saat saya mendengar teman saya blg "Aduh belum sempat ngasih undangan ke Kak XXX ni". Lalu saya bilang "Yaudah sih kirim aja via WA. Trus blg maaf krn blm sempat ngasih langsung. Lagian kak XXX kan lagi di luar kota". Lalu teman saya yg lain menjawab "Kalau kakak itu mah katanya nggak mau datang kl undangannya ga diserahkan langsung oleh yg pny acara". Lalu saya spontan menjawab, "Ya bagus, kl gt nggak usah datang aja".
Teman saya kaget dg jawaban spontan saya, dan bertanya "Kok gitu? Kayak nggak mengharapkan kedatangannya". Maka saya menjelaskan jawaban saya sbb:
1. Benar bahwa menyerahkan langsung undangan kepada orang yg akan kita undang adl cara yg paling baik dan paling sopan. Ini menunjukkan kesungguhan kita mengundang seseorang.
2. Orang yg dekat dg kita biasanya berharap bahwa kita menyerahkan sendiri undangan acara kita kepadanya. Dgn demikian ia akan merasa spesial krn diundang scr langsung
3. Namun demikian, ada kalanya orang yg memiliki acara sdg dlm keadaan yg tidak memungkinkan untuk mengunjungi tamu yg akan diundang satu per satu. Percayalah bhw semua orang sangat ingin orang2 yg disayanginya hadir pada acara bahagianya. Maka jika ia tidak sempat menyerahkan undagan secara langsung, itu bukan krn ia tidak mau mengundang, tp tdk sempat.
4. Selain itu, orang yg memiliki kedekatan hati/hubungan dg kita biasanya adl orang yg paling mengerti jika terpaksa kita tdk bisa menyerahkan undangan dg bertemu lgsg. Di keluarga besar misalnya, jika ada salah satu anggota keluarga yg memiliki acara namun tidak bisa mengirim undangan dgn bertatap muka satu per satu, maka anggota keluarga yg lain akan tetap dg senang hati datang meski hanya diundang via WA.
5. Maka, orang yg tidak mau memahami kesulitan yg sdg kita hadapi, dan berkeras bahwa kita hrs menemuinya langsung untuk mengundangnya, maka mungkin orang tersebut bukanlah orang yg hatinya dekat dengan kita. Orang yg hatinya dekat dengan kita, meski sangat ingin diundang secara langsung, akan tetap memahami kesulitan yg kita alami jika kita hanya bs mengundang via media sosial.

Kejadian kedua, saat salah satu teman saya mengirim pesan WA kepada saya "Aduh, gue belum kirim undangan ke guru2 gue nih. Gue udh nitip undangan ke si X untuk diserahkan ke guru2, tp si X ga sempat. Pdhl acara gw besok. Gimana ni? Aduh ga sopan banget ya ga ngundang guru2."
Dalam hal ini saya tdk bs membantu selain dgn memberi usul "Kirim WA/SMS aja ke guru2 yg dekat sama kamu, ga perlu semuanya. Minta maaf krn keterbatasan waktu, ga bisa mengirim undangan langsung."

Mungkin beberapa orang menganggap saya terlalu menggampangkan masalah. Nyatanya, di era teknologi spt skrg ini, komunikasi memang jd jauh lebih mudah, maka memang seharusnya tidak dipersulit. Jika kita saja tdk lagi mengirim kartu lebaran tiap tahunnya, dan mganti dgn ucapan via WA/SMS/email (kdg malah broadcast, kdg malah copas ucapan org lain dan lupa mganti namanya), maka kenapa kita msh menuntut untuk menerima undangan secara (bertemu) langsung dg orang yg mengundang?
Percayalah bahwa setiap orang yg memiliki acara bahagia, ingin mengundang scr personal satu per satu tamunya. Maka jika ia hanya bisa mengundang via WA/SMS/email, percayalah bahwa orang tsb memiliki keterbatasan (keterbatasan dana untuk mendatangu rumah orang satu per satu, keterbatasan waktu krn persiapan yg singkat, atau keterbatasan tenaga krn msh byk yg hrs dikerjakan). Oleh karena itu, percayalah, jika kita tidak jg bs memahami mengapa seseorang tdk mengundang kita scr langsung, maka kita bukanlah orang yg cukup dekat dengan orang tersebut.

Pada cerita teman saya yg lain, dia bukan hny tidak bisa mengirim undangan scr langsung, tp bahkan lupa mengirim undangan kpd beberapa temannya (yg malah cukup dekat dengannya). Hal ini dikarenakan waktu persiapan yg sgt sempit (krn suaminya hrs sgra kembali ke LN untuk melanjutka kuliah), shg byk persiapan (termasuk daftar undangan) yg terlewat. Dari cerita tersebut saya berkesimpulan bahwa jika teman dekat kita tdk mengundang kita ke hari bahagianya, tidak melulu krn kita tidak lagi dianggap sebagai teman dekatnya shg terlupakan. Bisa jadi krn:
1. Krn keterbatasan biaya, maka ia hny bs mengundang keluarga dan sahabat dekatnya saja
2. Krn keterbatasan waktu mengantarkan undangan satu per satu.
3. Krn keterbatasan tenaga n pikiran shg terlewat mengundang.
Maka jika kita memang benar adl teman dekatnya, hrsnya kita bisa memahami keterbatasannya. Hanya orang asing yg tidak mau mengerti kesulitan orang (yg katanya) dekat dengannya.

Karena mengetahui betapa easy goingnya saya soal undangan ini, teman kos saya sempat heran saat saya menolak datang ke syukuran hari lahir salah seorang teman krn saya tidak diundang langsung oleh si teman tsb (dia mengundang saya mll orang lain, mll pesan WA). Dalam kasus ini, saya memiliki prinsip:
1. Tidak akan datang ke acara bahagia jika tdk diundang
2. Akan mengusahakan datang jika ada kabar buruk menimpa teman (untuk memberi dukungan) meski tidak diundang
Maka, jika teman mengadakan acara bahagia dan tidak mengundang saya, saya tidak akan datang. Saya tidak keberatan jika diundang melalui WA/SMS/email, tp tidak jika melalui orang lain.
Lalu bagaimana jika teman yg dekat dengan saya tdk mengundang saya ke acara bahagianya? Saya pernah mengalaminya. Dan meski saya agak baper, tp saya bisa memahami bhw dia memiliki keterbatasan shg tdk mengundang saya.


Akhir kata, meski status ini ttg undangan, tp krn msh dlm suasana lebaran, maka pertanyaan "kapan undangannya?" akan tetap didenda 5 juta rupiah. Sekian, dan (tidak) terima janji.

BERANI MENCINTA

Tidak semua orang berani mencintai.
Tidak sedikit orang yang tidak berani mencintai karena takut cintanya tak berbalas. Banyak orang yang tidak berani mencintai karena takut dikecewakan oleh orang yg dicintai. Beberapa orang tdk berani mencintai karena takut kehilangan hal yg sudah dimiliki: takut kehilangan persahabatan, misalnya.

Tidak semua orang mencintai dengan berani.
Tidak sedikit orang yang mencintai dgn cara yg tdk berani karena takut cintanya ditolak. Banyak orang yang mencintai dg cara yang tdk berani karena takut cintanya tidak disetujui orang lain. Beberapa orang mencintai dg cara yg pengecut karena takut cintanya tdk sesuai dgn standar orang lain.

Berapa banyak orang yg tidak berani menyatakan cinta kpd sahabatnya hny krn tdk mau kehilangan persahabatan?
Berapa banyak orang yg sembunyi2 saling mencintai antar rekan kerja sekantor hanya karena peraturan perusahaan?
Berapa banyak anak-anak yg tidak berani mengatakan kpd orangtuanya bahwa ia mencintai seni lukis, krn orangtuanya menginginkan ia menjadi dokter?
Berapa banyak orang yg tidak berani mencintai seseorang hny krn merasa tidak pantas bg orang itu, akibat standar masyarakat kebanyakan ttg "kesuksesan" dan "kepantasan"?
Berapa banyak orang yg tidak berani mengemukakan pendapat dan menyatakan keberpihakannya hny krn takut dicemooh oleh para haters?
Berapa banyak orang yg tidak berani mencintai karena takut disakiti atau menyakiti? Padahal tidak mungkin mencintai tanpa disakiti/menyakiti. Hanya dua orang asing yang tidak akan slg menyakiti.

Katanya lagu dangdut sih, "Jangan kau berlayar jika kau takut gelombang",,, maka jangan mencinta kl takut menderita. Krn kata Ti Pat Kay, "Beginilah cinta, deritanya tiada akhir".
Tapi, bukankah semua hal di dunia spt itu? Setiap sebab, pasti ada akibat. Setiap pilihan, akan ada konsekuensi. Bukan hanya soal mencinta.
Hanya karena cinta TIDAK SELALU indah, bukan berarti cinta SELALU TIDAK indah kan?

Selamat Hari Kemerdekaan!
Semoga kita merdeka dari rasa takut untuk mencinta.


"Saya berani mencintai. Dan saya mencintai dg berani" (Donny Dirgantoro, "2")

Kebenaran yang Salah

Kalau oleh seseorang, kalian disodori steak daging yang mahal, enak, empuk dan endes-gandos, tapi steak tersebut disajikan dalam kresek sampah, apakah kalian masih mau memakan steak mahal n enak itu?
Kalau kalian diberi es kelapa jeruk yg segar di siang hari bolong, tapi es tersebut disajikan di ember cuci piring, apakah kalian masih mau meminumnya?

Meski sampul tidak selalu menentukan isi, tapi sampul lah yang pertama kali memberi impresi kpd kita. Itu mengapa meski pepatah "jgn menilai buku dari sampulnya" tetap ada, tapi semua perusahaan penerbit buku tetap menggaji desainer untuk mendesain sampul buku yg mereka terbitkan. Tidak sedikit buku2 bagus yg tidak tll laris di pasaran krn tampilannya yg krg menarik, dan tidak sdkt buku2 biasa saja yg laris krn tampilannya yg menarik rasa ingin tahu pembeli.

Berapa banyak orang jahat yg dipilih jd pemimpin hny krn kata2nya yg manis, sdgkn orang2 baik tidak pernah didengarkan omongannya krn dia mengemukakan kebenaran dg kata2 kasar?

Setiap orang beda. Maka tdk ada salahnya untuk mjd diri sendiri dan mengemukakan pendapatnya dg caranya sendiri. Tidak ada salahnya....kalau kita bukan siapa2.
Kalau kita seorang ayah, kita tdk bisa mengajarkan kpd anak ttg "sopan santun kpd orang tua" jika kita memperlakukan tukang kebun di rumah dg tidak sopan.
Kalau kita seorang pemimpin, kita tdk bs mengajarkan disiplin dg mgunakan kata2 kotor.
Kita bebas mjd diri sendiri dan kita bebas melakukan sgla hal dg cara kita sndri kalau kita bukan siapa2.

Maka rasanya kebaikan tidak seharusnya disandingkan dgn keburukan. Kebaikan tdk akan sampai ke hati orang lain jika disampaikan dg cara yg salah.
Berikut beberapa kesalahan yg dilakukan saat menyampaikan kebaikan:
1. Kata2 yg salah: kasar, tdk sopan atau menyinggung
2. Perilaku yg salah: sambil marah2 atau memukul
3. Waktu yg salah: saat yg dinasehati baru putus sm Lee Min Ho
4. Situasi yg salah: menegur di hapadan orang banyak (shg malah mempermalukan)
5. Teknik yg salah: membandingkan dg kelebihan org lain (misal banding2in pacar sama mantan melulu)

Maka, kalau mau menyuguhkan es campur, sajikanlah dalam gelas cantik yg menarik hati, jgn ditaruh di mangkok kobokan cuci tangan.

LEBIH JAHAT

Siapa yg lbh jahat dibanding penagih hutang yg meneror tiap hari?
Orang yang tidak pernah menagih piutangnya pada kita, tapi tidak pernah mengikhlaskan uangnya yg msh ada pada kita. Hutang itu yg akan menahan kita di akhirat.

Siapa yg lbh jahat dibanding guru yg menghukum muridnya yg ketahuan mencontek?
Guru yg diam saja saat tahu muridnya mencontek, lalu selalu memberinya nilai 0 meski berkali2 murid tersebut mengulang ujian/pelajaran itu.

Siapa yg lbh jahat dibanding orang yg selalu mengomentari apapun yg kita lakukan?
Teman yg selalu memuji yg kita lakukan, sambil menunggu kita melakukan kesalahan.

Siapa yg lbh jahat dibanding istri yg cerewet mengatur dan menuntut?
Istri yg diam sambil menghitung setiap kesalahan suami, sampai saatnya dia memutuskan berhenti.

Siapa yg lbh jahat dibanding anak buah yg selalu mendebat atasannya?
Anak buah yg mengerjakan segala yg diminta pimpinannya hingga pimpinannya tidak bs melakukan apapun tanpa anak buahnya ini, lalu dia pergi.

Menghapus Jejak

Saya mulai suka menulis cerpen sejak komputer belum lazim dimiliki setiap rumah tangga, dan saat mengetik masih menggunakan program WS, kalkulasi masih menggunakan program Lotus, dan media penyimpanan data masih berupa disket segede ubin (trus kebayang betapa tuanya saya).
Di masa itu saya menulis cerpen di buku tulis atau lembaran kertas, manual, tak diketik, dengan menggunakan pulpen. Saya menulis dimanapun dan kapanpun, bahkan saat guru farmakologi menjelaskan mekanisme obat2 antihipertensi (pantesan gw bego). Biasanya saya mengandalkan teman saya untuk mencatatkan pelajaran untuk saya. "Nanti gue pinjem catetan lo ya. Kalo cerpen gue udah jadi, nanti lo jadi pembaca pertama deh". Hihihi. Bukan jenis kelakuan yg pantas dibanggakan juga sebenernya.
Di masa itu, karena ditulis tangan, jika ada kesalahan pada cerpen yg saya tulis maka saya menghapusnya dengan tip-ex. Sejak Ibu membelikan saya komputer, saya beralih menggunakan komputer untuk menulis cerpen (bukannya buat tugas kuliah haha). Sejak itu pula kegiatan tulis-menulis manual saya hanya sebatas menulis catatan kuliah dan mengerjakan soal ujian. Sejak itu saya tidak lagi menggunakan tip-ex. Bukan karena saya pelit atau tidak mampu beli tip-ex, tp karena saya merasa mencoret tulisan yg salah membutuhkan waktu lebih singkat dibanding dgn menghapus tulisan dg tip-ex lalu menunggunya kering sebelum bisa kita tulisi lagi.
Belakangan, menjelang akhir masa studi saya, saya baru menyadari bahwa "mencoret" adalah metode yg tepat untuk memperbaiki kesalahan penulisan, alih2 menghapusnya.
Saat bekerja di industri farmasi dan melanjutkan penelitian di lab, metode "mencoret" ini termasuk dalam bahasan "Dokumentasi" di GMP (Good Manufacturing Practice) dan GLP (Good Laboratory Practice).

Belakangan ini saya sering mengomentari adik2 di kampus karena kebiasaan mereka menggunakan tip-ex. Selain karena metode "meminjam tip-ex" masih eksis digunakan smp sekarang sbg metode nyontek meski telah jadul, juga karena tindakan "menghapus" tidak sesuai dengan GMP dan GLP. Dan jika tidak dibiasakan sejak sekarang untuk mencoret alih2 menghapus, maka metode ini akan sulit diterapkan saat mereka membutuhkannya nanti saat menulis logbook penelitian skripsi dan saat mereka hrs menerapkan prinsip dokumentasi jika bekerja di industri farmasi.
Karena itulah saya selalu ngomel kalau ada murid yg menulis jurnal praktikum dengan pensil (krn bisa dihapus tanpa berbekas) atau menghapus tulisan pulpen dengan tip-ex. Kenapa? Karena dg menghapus data/tulisan, ada risiko pengubahan/ manipulasi data.

Berikut protes mahasiswa kl saya larang pakai pensil atau tip-ex:
1. "Kan jurnalnya jadi kotor, kak, kalau byk coretan" --> makanya mikir dulu baru nulis.
2. "Kita ga manipulasi data kok, kak. Kan ini cuma salah nulis aja" --> siapa yg bisa memastikan bhw kita memanipulasi data atau tidak, jika tdk ada buktinya?

Mengikuti kata Pak Marno (salah satu penyusun buku CPOB - pedoman Cara Pembuatan Obat yg Baik) #tsaahhhh : tulis yg kita lakukan, lakukan yg tertulis, dan hanya percaya pd bukti tertulis.
Masuk akal sih, itu mengapa kalau jual-beli harus ada bukti tertulisnya, otherwise kita dianggap memperoleh barang tsb dg nyolong, atau kl ada kerusakan barang maka kita tidak bisa menuntut tanggung jawab penjual kl tdk ada bukti jual-belinya.
Nah, apa yg terjadi kl bukti tertulis bs dihapus? Atau diubah? Atau dimanipulasi?
Tapi murid (dan teknologi), terkadang lbh maju drpd gurunya (terutama saya).
Gara2 saya selalu protes kl ada yg menulis jurnal praktikum atau menjawab ujian dg pensil atau mgunakan tip-ex, murid saya menggunakan alat lain: pulpen yg tintanya bs dihapus (selayaknya pensil). Ada juga yg menutupi tulisan salah dg stiker (dg nama dagang tom n jerry), alih2 tip-ex. Murid jaman skrg emang pinter ngeles ya.
Meski begitu, beruntung saya dulu mayan preman dan bergaul dg cowok2, shg cepat tanggap dg "trik2 nakal" para murid.

Jadi sekarang setiap kali responsi praktikum atau mengawas ujian, saya selalu berpesan "Jangan menulis dengan pensil atau hapus-able pulpen. Dan jgn mgunakan tip-ex atau stiker tom n jerry. Kalau salah menulis, coret saja tulisan yg salah dgn 1 atau 2 garis, lalu tulis yg benar. Tulisan yg salah jangan dicoret berulang-ulang sampai tak terbaca lagi"
Sedemikian lengkapnya instruksi saya, shg semoga tdk ada trik lain yg bs digunakan murid untuk menghapus jejak tulisan mereka.
Nampaknya kebijakan ini tdk tll populer di kalangan guru2 lain. Tidak byk guru yg melarang muridnya menghapus tulisannya yg salah. Shg ketika saya membuat kebijakan ini di kelas saya, pernah ada yg tanya "Kak, dosen2 lain nggak melarang. Knpa kakak melarang?"
Mahasiswa, memang generasi yg plg aktif, kritis dan secara natural pemberontak dan petualang. Pertanyaan spt ini tentunya sdh dpt diduga.
Salah satu jawaban andalan saya adalah "Kenapa kesalahan harus dihapus? Seperti masa lalu, kesalahan tdk bs dihapus sempurna. Kesalahan hanya harus diperbaiki"
Trus murid2 malah galau #tsaaahhh
Mungkin mereka yg masih muda (#padahalGueJugaMasihMuda), belum terbiasa menerima kesalahan masa lalu. Mungkin juga karena mereka belum melakukan banyak kesalahan. Sehingga setiap kali mereka melakukan kesalahan, mereka sll ingin mengapusnya.
Nanti ketika mereka makin dewasa, dan melakukan makin banyak kesalahan, mereka akan perlahan belajar bahwa masa lalu dan kesalahan yg telah terlanjur kita lakukan, tidak bisa kita hapus. Yg bisa kita lakukan dg masa lalu dan kesalahan adalah mencoretnya (mengakui kesalahan) lalu memperbaikinya.

Kenapa kita perlu menghapus jejak?
Bukankah jejak adalah bukti perjalanan manusia di bumi? Hanya yg tidak hidup yg tidak meninggalkan jejak.

Jadi, apa kita hidup?

Menyatakan Pendapat

Kmrn seorang teman bertanya "Apa gunanya menyatakan pendapat kalau toh pendapat kita tdk akan mengubah kebijakan"
Tujuan dr menyatakan pendapat bukan hanya untuk mengubah kebijakan. Itu adalah tujuan akhir, memang. Tapi bukan tujuan utama.
Tujuan utama dr menyatakan pendapat adl untuk membuat orang lain tahu ttg pendapat kita, membuat orang lain tahu bhw kita mendukung/ menolak, membuat orang lain tahu bahwa apa yg kita anggap benar/salah.
Jika kita tahu bhw ada yg salah tapi kita diam saja, maka bisa jadi suatu saat nanti kesalahan tsb dianggap sbg suatu yg biasa, atau bahkan suatu yg benar.
Tujuan utama dr mengemukakan pendapat adl untuk didengarkan. Apakah pendapat kita diterima/ ditolak, itu perkara lain. Kita toh tdk bs memaksakan pendapat kita kpd orang lain.

Namun demikian, spt yg kita tahu, kebaikan yg disampaikan dg cara yg salah, akan dianggap suatu keburukan, maka diperlukan cara2 yg baik dlm mengemukakan pendapat. Seperti halnya kita tdk suka dg peraturan baik hny krn disampaikan dg kasar, maka kita jg tdk boleh mengemukakan pendapat yg baik dg cara yg kasar dan buruk.
Maka bagi yg ingin menyatakan pendapat, jagalah niat, jagalah adab2 yg baik dlm mengemukakan pendapat, dan waspada pada bisikan2 yg dpt mengalihkan niat awal untuk menyatakan kebenaran.
Bagi yg blm kuat untuk menyatakan pendapat (krn takut berbeda dg pendapat kebanyakan), berdoalah, dan jgn melemahkan.
Bagi yg tdk sependapat, sah2 saja untuk menyatakan pendapatnya yg berbeda juga.


#AksiDamai411

Pencarian

Pada pernikahan seorang saudara kmrn, saya mendengar kalimat spt ini saat sang ustadz menyampaikan tausiyah ttg pernikahan: "Kalau jodoh mah nggak kemana ya. Udah jauh-jauh mencari, ternyata tetangga sendiri. Kalau tahu gitu kan ga usah jauh2 nyari ya?"

Padahal, terkadang kita memang perlu pergi jauh untuk menyadari kemana kita ingin pulang. Terkadang kita perlu bertemu beberapa orang yang salah untuk menyadari bahwa orang yg tepat adl yg selama ini berada di samping kita, mengiringi dg doa. Terkadang kita perlu menjelajah dan mencari untuk menyadari bahwa ada orang yg sll menunggu kita kembali.

Karena jika kita menemukan tanpa kita pernah mencari, jangan2 kita memang tidak pernah benar2 menemukan. Kita merasa bhw kita sdh menemukan, pdhl hanya karena kita tdk tahu ada pilihan lain. Jika kita sdh mencari dan menemukan banyak pilihan lalu akhirnya memilih yg di dekat kita, semoga itu adalah hal yg kita temukan bukan karena kita tdk pny pilihan lain.

Tidak ada pencarian yang sia-sia.