Luna Lovegood inside. Noda Megumi outside.

Minggu, 20 November 2016

SEPEDA, YOGHURT dan DRAMA KOREA

Ada orang yang meski sepedanya berkali-kali rusak, tetap tidak mau ganti sepeda. Meski kadang repot sendiri karena harus berkali-kali membawa sepeda ke bengkel, dan meski sebenarnya punya cukup uang untuk membeli sepeda baru, orang ini tetqp tidak mau membeli sepeda baru. Bisa jadi dia pelit. Tapi mungkin juga krn dia sudah merasa nyaman dengan sepedanya. Karena sepeda itu sudah membawanya menuju tempat2 menakjubkan.
Orang seperti ini, kalau sudah suka pada satu merk yoghurt tertentu, biasanya juga tidak mau makan yoghurt yang lain. Orang lain mungkin bertanya "Emang nggak bosan?". Tapi orang jenis ini biasanya punya batas rasa bosan yang melebihi orang normal. Bahkan kadang saat orang lain sudah bosan berteman dengannya, orang ini tetap tidak merasa bosan. Hmmm mungkin juga karena dia jenis orang yang membosankan shg tidak ada orang lain yang bisa membuatnya lebih bosan lagi.
Orang yang membosankan ini, kalau suatu saat pacaran sama Lee Min Ho, mungkin tiap minggu dia akan mengajak pacarnya bersepeda bersama hanya untuk membeli yoghurt kesukaannya.

PERJALANAN BERSAMA

Mungkin ada beberapa alasan mengapa saya suka pergi kemana-mana sendirian.
Alasan pertama, dan alasan yang paling jelas, adalah karena saya terlalu lama sendiri (trus nyanyi lagunya Kunto Aji #halah) sehingga saya terbiasa kemanapun sendirian. Banyak orang yang bertanya "kok bisa sih nonton bioskop sendirian?" atau "kok makan di restoran sendirian?", tapi anehnya saya tidak pernah merasa kegiatan-kegiatan tersebut aneh jika dilakukan sendiri.
Alasan kedua, karena saya merasa lebih bebas sendirian. Bukannya saya tidak punya teman nonton atau makan bareng, tapi ada kalanya nonton dan makan sendirian memang lebih menyenangkan. Kita bebas menentukan makan apapun, atau nonton film apapun yang kita mau, tanpa harus mempertimbangkan apa yang ingin dimakan/ditonton orang lain.
Alasan ketiga, karena saya tidak suka bertanggungjawab atas orang lain. Saya bisa dengan mudah menentukan mau makan/ nonton apa, tapi lebih sulit kalau ditanya "kita mau makan apa nih?". Kalau saya salah memilih makanan untuk diri saya sendiri dan ternyata tidak enak, toh saya sendiri yang menikmatinya. Kalau saya salah memilih film dan ternyata tidak bagus, toh saya sendiri yang mati kebosanan menontonnya. Tapi kalau saya harus memilihkan makanan/ film yang akan dinikmati/ ditonton orang lain, saya akan merasa bersalah jika ternyata makanan/ film yang saya pilih mengecewakan orang lain (bahkan meski orang tersebut tidak menyalahkan saya) Saya tidak suka membuat keputusan untuk orang lain. Mungkin itu kenapa saya belum bisa menjadi pemimpin yang baik.

Itu kenapa saya lebih suka melakukan perjalanan sendiri. Saya bisa menentukan destinasi sendiri, dan bahkan jika saya melakukan kesalahan atau nyasar dimana-mana selama perjalanan, hanya saya sendiri yang menderita, dan tidak melibatkan orang lain dalam kesulitan yang saya sebabkan. Kalaupun melakukan perjalanan bersama-sama, saya lebih memilih menjadi pengikut dibanding menjadi orang yang mengatur perjalanan. Saya bukan pengikut yang cerewet, sehingga saya dengan mudah mengikuti perjalanan yang telah diatur oranglain. Kalaupun selama perjalanan kami nyasar kemana-mana, setidaknya saya tidak didera perasaan bersalah karena telah menyebabkan oranglain nyasar. Saya tidak keberatan tersesat (karena nyasar memang salah satu bakat saya), saya hanya tidak tahan menghadapi perasaan bersalah jika membuat orang lain susah. Itu mengapa saya tidak suka mengatur perjalanan untuk orang lain.

Itulah mengapa saya kagum pada mereka yang berani melakukan perjalanan bersama. Karena saat kita memutuskan untuk berjalan bersama orang lain, berarti kita telah berani bertanggung jawab atas orang lain. Saat kita berani melakukan perjalanan hidup bersama orang lain, bukan berarti kita tidak takut akan mengecewakan orang tersebut .... hanya saja kita berani untuk percaya pada diri sendiri bahwa kita akan berusaha sekuat tenaga membahagiakannya. Mereka yang berani melakukan perjalanan bersama, meski tidak bisa selalu bisa mengambil keputusan yang tepat dan mungkin akan menyakiti orang yang bersamanya, tapi mereka berani bertanggungjawab, tidak berlarut-larut pada rasa bersalah, dan berfokus memperbaiki keadaan.

Jadi kalau sampai sekarang saya masih pergi kemana-mana sendirian, mungkin karena saya belum berani menentukan rute perjalanan untuk orang lain dan takut membuat orang lain tersesat. Mungkin saya masih terlalu takut mengecewakan orang, terlalu khawatir tidak bisa membahagiakan orang lain, dan tidak berani menghadapi rasa bersalah.


Groningen, 5 Januari 2016

HARI

Saya adl orang yang tidak punya ambisi dalam hidup. Seperti orang normal pada umumnya, saya tentu punya tujuan, keinginan atau kesukaan pada hal tertentu, tapi saya tidak pernah begitu berambisi atau terobsesi pada hal tsb.
Misalnya, meskipun saya suka nonton drama Korea dan mendengarkan lagu2 Korea, saya tdk pernah mengidolakan artis Korea ttt sampai saya mengetahui segala hal ttgnya.
Saya jg tdk pernah tll ingin pergi ke suatu tempat ttt (kecuali Mekah). Saya suka mengikuti teman2 yg mengajak berpergian, tp saya tdk pernah pny keinginan u/menginisiasi perjalanan ttt. Kalau tidak ada yg mengajak, saya hny akan tidur saja di rumah.
Saya jg memiliki rencana2 dalam hidup, tapi saya tdk pernah tll terobsesi atau memiliki target ketat dlm mencapai tujuan tsb. Saya berencana menikah, memiliki 2 anak dan jd ibu rumah tangga ... tapi saya tdk pernah tll fokus mencari jodoh (pantesan jomblo mulu).
Bahkan kl ada teman yg tanya tentang hobi saya, saya bingung mnjawabnya. Saya nyaris tdk pny hobi ttt. Saya menyukai bbrp hal tp tdk pernah terlalu tekun menjalaninya. Maka biasanya saya menjawab bhw hobi saya adl makan dan tidur.

Malang bagi Ibu saya krn memiliki putri spt saya yg tdk memiliki ambisi dalam hidup. Bukannya saya tidak tahu bahwa Ibu saya sempat kecewa ketika saya lebih memilih mjd guru dan berhenti dr pekerjaan saya sblmnya di industri farmasi yg menjanjikan masa depan (stdknya scr finansial) yg lbh cerah. Menurut beliau, dgn kecerdasan saya (yg meski hnya sepersepuluh kecerdasan beliau), saya bs memiliki masa depan yg lbh baik di industri farmasi (stdknya dlm hal finansial) drpd sekedar mjd guru. Tapi krn saya memang orang yg tdk pny ambisi dlm karir, saya lbh memilih kesenangan saya (mengajar --- dan curhat). Ibu merasa saya menyia2kan potensi saya. Meski demikian, beliau tetap mendukung keputusan yg membuat saya bahagia.
Seperti halnya manusia bergolongan darah B, saya cenderung hidup dg santai dan "lihat nanti aja", yg penting hepi. Oleh karena itu, setiap hari rasanya sama bagi saya. Karena tidak pernah ada hal istimewa yg hrs saya lakukan, atau tujuan ttt yg saya sgt ingin capai, maka setiap hari terasa sama. Beberapa hari mgkn lebih membahagiakan dibanding hari2 lainnya, misalnya hari gajian (ya iyalah) atau hari kelahiran orang2 tersayang bagi saya. Beberapa hari mgkn lbh menyedihkan drpd hari2 lain, misal saat mantan saya (Min Ho) akhirnya pny pacar (halah), atau saat Western Blot saya gagal. Selebihnya, semua kesedihan dan kebahagiaan datang di hari2 saya silih berganti.

Maka tidak ada yg istimewa ttg perayaan tahun baru bagi saya.
Bbrp orang merayakannya. Tapi saya tdk merasa ada yg perlu dirayakan. Saya merasa perlu mensyukurinya, tentu saja, bahwa saya telah berhasil melalui 1 tahun lagi. Mengingat2 lagi rahmat yg diberikan Tuhan kpd saya hingga saat ini, tentu saja itu perlu disyukuri. Tapi bukan u/dirayakan. Karena toh semua pencapaian saya di tahun ini hanya mgkn tjd krn rahmatNya.
Beberapa orang membuat resolusi tahun baru. Saya sudah tidak pernah lg membuatnya sjk bbrp tahun lalu. Saya hanya bercerita pada Tuhan ttg rencana dan keinginan saya, tp saya tdk pernah lagi menetapkan bahwa di tahun ttt saya harus memilikinya. Saya sadar bahwa Tuhan lebih tahu kapan waktu yg tepat bagi saya u/ memilikinya.

Yesterday is a history.
Yang bisa kita lakukan adl mensyukurinya dan mengambil pelajaran darinya. Jangan lagi menyesalinya. Disesali atau tidak, masa lalu tidak bs berubah.

Tomorrow is a mystery.
Yang bisa kita lakukan adl merencanakannya. Tapi tdk perlu mengkhawatirkannya. Kecemasan tidak mengubah apapun kecuali kita mengubah kecemasan mjd tindakan.

Today is a gift.
Yang bisa kita lakukan adl menjalaninya dg sepenuh hati. Hari ini cuma sekali, kita tdk bs mengulangnya. Hari ini akan mjd masa lalu di esok hari, jgn sampai besok kita menyesali masa lalu krn kita melewatkam hari ini.

Today is present.
Hadiah dari Tuhan. Yg bs kita lakukan adl mensyukurinya (dan salah satu cara mensyukuri nikmat Tuhan adl dgn memanfaatkannya dg sebaik2nya) Dan berbahagia dengannya. Jgn tunggu bsk u/ berbahagia. Krn mgkn tidak akan ada esok hari.


Selamat menikmati hari terakhir di tahun ini, teman. Mari mensyukuri hari2 yang telah lewat. Dan mari berdoa untuk hari2 mendatang yg lebih baik dan bermanfaat.


Praha, 31 Desember 2015

JAKET

Malam ini pas saya lagi lihat2 foto2 slm dua pekan terakhir ini, saya spt baru sadar bhw dimanapun lokasinya, saya sll berfoto dgn jaket tebal merah warisan dr mbak Awalia Febriana. Kalau dilihat2, saya geli sendiri melihat foto saya, krn saya nampak gemuk dan "berotot" dg jaket super tebal tsb haha. Lalu kl saya bandingkan dg foto2 adik saya, kok dia nampak kece-langsing ya dg jaket hitamnya. Sempat merasa menyesal krn tidak memakai jaket lain yg nampak lbh langsing (kan nanti jd ga ada yg naksir saya lagi, hiks). Tapi kalau mengingat bahwa jaket super tebal ini sdh menyelamatkan hidup saya dr kedinginan di Eindhoven dan Budapest, saya tdk jadi menyesal sudah memutuskan membawa jaket ini bersama saya. Jaket ini memang yg paling layak menemani saya berkeliling ke enam negara. Bukan karena penampilannya, tapi karena kenyamanan dan jasa2nya menyelamatkan hidup saya.

Mungkin spt itulah pasangan hidup. Bukan hanya yg nampak kece diajak kondangan atau reuni (ketemu mantan), tapi yg paling membuat kita nyaman dan aman/terlindung.
Maka kalau sesekali kita mulai merasa pasangan (suami/istri) tetangga lebih kece, ingatlah kembali jasa2 pasangan kita. Bukankah dia yg sdh rela mengorbankan byk hal demi bersama kita? Mungkin dia tidak perlu mengorbankan hal2 tsb jk bersama orang lain. Bukankah dia yg paling membuat kita nyaman, shg kita perlu jaim lagi, atau tdk perlu khawatir mendengkur, di hadapannya? Bukankah dia yang sdh menjagamu, dan menjaga kepercayaanmu? Bukankah kamu yg sdh memilihnya menemani perjalananmu? Lalu apa kamu skrg menyesal sdh mengajaknya bersamamu?

Praha, 30 Desember 2015

TAHU DIRI

Manusia kdg lupa bhw keinginan hrs sebanding dg kemampuan dan usaha (plus doa).
Kl ingin menyelenggarakan suatu program tp sumber dayanya kurang (krg dana atau krg SDM) maka diperlukan usaha yg lbh u/mengusahakan sumber daya yg lain, atau setidaknya usaha yg lebih u/ mengikhlaskan kl hasilnya ga sesempurna yg kita bayangkan (kombinasi orang perfeksionis tp ga byk bisanya, adl kombinasi yg nyebelin).
Kalau ingin jd orang sukses, tp dr keluarga yg krg mampu, maka tentu usahanya (dan doanya) hrs lbh besar drpd orang lain.
Kalau ingin lulus S3 pdhl ga pinter2 amat (ky saya, hiks), maka usaha (belajar) n doanya hrs dilebihkan drpd orang2 lain yg memang sdh pd dasarnya pintar.
Kalau ingin jd wanita bekerja dg keluarga yg tetap terurus, maka perlu kemampuan multitasking yg melebihi wanita normal, atau kemampuan finansial u/ minta bantuan seseorang mengurus anak dan rumah. Orangtua kita harusnya menghabiskan masa tuanya dg ibadah n bermain dg cucu, bukan mengurus cucu dan rumah kita.
Kalau ingin lulus kuliah dg nilai baik pdhl kita ga pintar pd mata kuliah tsb, maka kita perlu belajar lbh byk drpd teman2 lain atau perlu bertanya lbh byk pd dosen.
Kalau sudah merasa bhw kita krg berhasil dlm ujian dan rasanya perlu ujian remedial, jangan buru2 mudik! Atau kl udh terlanjur mudik, ya itu risiko pribadi kl hrs balik mudik sblm waktunya u/ujian ulang.
Kombinasi murid spt di bawah ini adl tipe murid yg akan lgsg saya gorok di depan mata saat dia mhadap saya:
1. Jrg masuk kuliah/praktikum, atau titip absen
2. Jrg mengerjakan tugas
3. Nilai ujian menyedihkan
4. Beli tiket mudik meski nilai ujian blm diumumkan
5. Pas udah mudik n tnyta nilai ujiannya jelek, heboh minta remedial ke dosen (mahasiswa tu pernah sadar ga si bhw bikin soal ujian itu ga semudah bikin keributan di lab?)
6. Pas dosennya udh bersedia ngasih remedial, trus dia masih nawar dan berusaha membujuk dosen u/ remedial stlh dia balik dr kampung.
7. Kalau ga berhasil membujuk ujian remed stlh balik mudik, dia msh berusaha membujuk dosen u/ memberinya tugas tambahan asal bs lulus matakuliah tsb.
Ketahuilah, teman, bahwa manusia yg kemampuan, usaha, dan doanya kecil tapi kemauannya besar, pasti kemaluannya kecil (baca: ga tau malu)

TERLALU BAIK

Kata orang, kalimat kayak gini ni cuma omong kosong "Kamu pantas mendapat yang lebih baik daripada aku". Kadang itu dipakai sebagai kalimat pamungkasi untuk menolak atau minta putus kalau kita nggak punya alasan yang masuk akal atau takut menyakiti perasaan yang ditolak.
Well, kalau kita tahu bahwa kita nggak cukup baik buat dia, harusnya kita berusaha untuk menjadi lebih baik dan menjadi yang pantas buat dia kan? Jadi harusnya nggak ada alasan untuk ngomong "kamu terlalu baik buat aku" kan?

Tapi, teman, kamu baru akan tahu bahwa kalimat itu bukan sekedar omong kosong atau alasan penolakan belaka pada saat kamu sangat menyayangi seseorang dan tahu bahwa dia akan jauh lebih baik tanpa kamu. Saat itu kebahagiaannya adalah pertimbanganmu yang terbesar.
- Runi & Rama -


Groningen, 11 Desember 2015

CUMA

Pernah nggak kita mendengar kata-kata ini "Ya ampun, padahal aku cuma minta tolong gitu doang lho, tapi dia nggak mau nolongin. Padahal aku nggak minta uang lho."
Atau pernah dengar yang begini: "Aku cuma minjem uang sedikit doang lho, tapi dia pelit banget nggak mau minjemin. Aku kan nggak minta, cuma minjem, pasti dibalikin"
Padahal mungkin, orang yang kita mintai tolong bukannya tidak mau menolong. Hanya saja, yang kita minta tidak sesuai dengan kemampuannya untuk menolong.
Bagi orang yang tidak punya banyak waktu/ tenaga, maka dimintai bantuan uang justru lebih mudah drpd dimintai bantuan tenaga. Di sisi lain, bagi orang yang tidak punya kelebihan uang, akan lebih senang hati jika bisa membantu dengan tenaga dan waktunya.
Maka bagaimanapun, rasanya penting untuk menyadari bahwa berat/ ringannya suatu urusan tidak sama bagi semua orang. Orang yang dekat dengan kita pasti akan dengan senang hati membantu kita. Maka jika ia tidak bisa membantu, itu pasti bukan karena tidak mau membantu, tapi karena bantuan yang kita butuhkan tidak sesuai dengan bantuan yang bisa dia berikan.