Untuk menerima ilmu, yang perlu kita lakukan adalah merendahkan hati.
Bagaimana gelas bisa menerima air dari teko jika posisinya lebih tinggi
daripada tekonya? Nah, filosofi murid ini pasti semua sudah pernah
mendengarnya. Lalu apa yang kita lakukan untuk memberi ilmu? Apa kita
perlu menjadi lebih tinggi dari murid supaya bisa menuangkan air dari teko?
Secara ilmu, tentu saja seorang guru harus menguasai lebih banyak dan
lebih tinggi daripada muridnya. Tapi jika itu disama-artikan dengan
meninggikan hati, tentu bukan begitu maksudnya. Seorang guru saya
mengajarkan saya bagaimana menjadi seorang guru.
“Niechan, saya menjadi gurumu bukan karena saya lebih pintar darimu. Saya hanya lebih dahulu mengetahui. Bukan berarti lebih banyak mengetahui.”
Itu
adalah kata-kata Sensei saya. Beliau adalah guru les bahasa Jepang
saya. Mengingat gayanya yang cuek dan “semau gue”, saya tidak yakin
bahwa kata-kata sedramatis itu bisa diucapkan olehnya. Beliau pasti
baru saja membacanya dari sebuah buku, atau mungkin mengutipnya dari
seseorang lain. Tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah, kata-kata
beliau tersebut membuat saya sangat terharu. Sensei saya adalah orang
yang sederhana, mudah ditebak, suka melucu, nggak neko-neko dan
apa adanya. Maka entah kata-kata itu terinspirasi dari buku manapun,
jika Sensei sudah mengatakannya berarti itulah yang dipikirkannya. Dan
dengan benar-benar memaksudkan kata-katanya seperti itu, terenyuhlah
saya pada kerendahan hatinya.
Saya percaya, Tuhan menciptakan
manusia dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Tidak ada
manusia yang sempurna. Pun tidak ada manusia yang tidak memiliki
kelebihan. Dan Sensei saya itu adalah tipe manusia yang mensyukuri
kekurangannya selagi meningkatkan kelebihannya, dan tidak sombong pada
kelebihannya.
Ketika mengetahui bahwa selain menjadi mahasiswa
saya juga seorang guru les privat murid SMU untuk pelajaran Kimia,
Sensei memuji saya.
“Nilai sains saya sejak dulu jelek banget.
Sampai sekarang aja saya sering salah kalau menghitung uang kembalian
belanja,” kata Sensei sambil tertawa geli.
Saat itulah, saya yang
selalu merasa bahwa Sensei saya pintar sekali sehingga menguasai lima
bahasa (bahasa Inggris, Jepang, Prancis, Indonesia dan Jawa tentunya)
ternyata tidak sesempurna itu. Beliau ternyata tidak menguasai
perhitungan yang mudah. Sungguh bertolak belakang dengan saya. Saya
cukup cepat menyelesaikan perhitungan tanpa kalkulator. Selalu mendapat
nilai baik dalam pelajaran sains, terutama kimia dan biologi. Tapi
selalu sulit mempelajari bahasa. Jangankan mempelajari bahasa Inggris
atau bahasa Jepang, nilai bahasa Indonesia saya selama sekolahpun selalu
menyedihkan jika disandingkan dengan nilai pelajaran-pelajaran sains
saya. Menyedihkan.
Saya kemudian menyimpulkan bahwa Tuhan
menciptakan kelebihan pada otak kiri saya dan memberikan kelebihan pada
otak kanan Sensei. Itulah mengapa sebagai gurupun kita tidak boleh
sombong dan memandang rendah murid. Karena dia mungkin murid kita dalam
satu hal, tapi bisa menjadi guru kita dalam hal lain.
Hal serupa
terjadi pada saya dan murid saya. Saya mengajar Kimia untuk seorang
murid sekolah internasional. Bramantyo namanya. Orangtuanya adalah orang
Indonesia, Jawa tulen. Tapi sampai berusia enam tahun, anak itu lahir
dan besar di Amerika Serikat selagi sang ibu menyelesaikan program
doktoralnya disana. Lebih sering dititipkan di daycare
ketimbang bersama sang ibu yang sibuk riset menyebabkan Bram lebih
mengenal bahasal Inggris dibanding bahasa ibunya. Ketika pulang ke
Indonesia, dia mengalami kesulitan bahasa sehingga sang ibu
menyekolahkannya di sekolah internasional. Sampai sekarang, Bram lebih
fasih berbicara bahasa Inggris dibanding bahasa Indonesia. Sial bagi
saya karena bahasa Inggris saya tidak terlalu bagus. Sial baginya,
karena mendapat guru seperti saya. Tapi mengapa pula saya harus menyerah
hanya karena satu kekurangan saya? Saya menerima pekerjaan itu. Mencoba
bukan sesuatu yang buruk. Dan saya katakan pada sang ibu tentang
keterbatasan active-English saya. Sang ibu memahami dan
mengatakan “Bram paham bahasa Indonesia kok. Dia hanya sulit membalas
dalam bahasa Indonesia.” Tepat berkebalikan dengan saya! Saya paham jika
seseorang mengajak saya bicara dalam bahasa Inggris. Tapi karena jarang
berlatih, saya seringkali terbata jika berbicara dalam bahasa Inggris.
Akhirnya
yang terjadi pada kami adalah saya mengajari Bram dengan separuh bahasa
Inggris – separuh bahasa Indonesia. Dan dia akan menjawab
pertanyaan-pertanyaan saya dalam bahasa Inggris. Baik baginya karena
bersama saya dia makin terbiasa berbahasa Indonesia. Baik bagi saya
karena bersamanya saya makin terbiasa berbahasa Inggris. Malu awalnya
harus bercakap dalam bahasa Inggris dengan seseorang yang lebih pandai
berbahasa daripada saya. Tapi Bram cukup memahami saya. Dan selagi saya
sering mengkoreksi hitungan stoikiometrinya, dia juga seringkali
mengkoreksi ucapan saya yang keliru. Saya sering tertawa sendiri
setelahnya, sebenarnya diantara kami siapa yang menjadi guru bagi siapa?
Hukum
sebab-akibat selalu terjadi dalam segala sisi kehidupan. Jika kau ingin
dicintai, maka kau harus mencintai lebih dahulu. Begitu juga dalam
mengajar. Dalam proses belajar-mengajar, bukan murid yang harus memahami
perkataan kita. Gurulah yang harus memahami murid terlebih dahulu.
Itulah filosofi kedua yang diajarkan Sensei.
Mengajar Bram sama
artinya seperti main layangan. Kalau dia sedang menarik, kau harus
sedikit mengulurnya. Kalau dia terlalu terulur, kau harus buru-buru
menariknya. Bram, seperti umumnya remaja, kecerdasannya sangat
dipengaruhi oleh suasana hati. Kalau mood-nya sedang buruk, menghitung
reaksi netralisasi saja sulitnya setengah mati. Tak perlu lagi menghapal
senyawa-senyawa hidrokarbon, hapalan tentang berapa bobot atom hidrogen
saja dia lupa. Kalau sudah begini, saya bingung sendiri bagaimana harus
mengajarnya.
Sebenarnya, teorinya mudah saja. Bagaimana caranya
agar tidak takut? Jangan takut! Jadi bagaimana supaya seorang murid jadi
mood belajar? Tentu saja, buat suasana belajar jadi menyenangkan! Dan
praktek akan selalu menjadi bagian tersulitnya. Bagaimana membuat
suasana belajar jadi menyenangkan kalau sang murid sudah pasang tampang
jutek begitu?
Belakangan saya ketahui bahwa Bram ini sebenarnya
sangat mirip dengan saya. Jenis manusia audio-learner. Artinya, Bram
akan lebih cepat menerima pelajaran dengan cara mendengarnya. Satu hal
lain yang saya perhatikan dari seorang audio-learner adalah kami selalu
membutuhkan suara di sekitar kami. Kami adalah orang-orang yang suka
mendengarkan musik. Menjadi entah bagaimana lebih cerdas jika belajar
sambil mendengarkan musik. Dan sementara orang-orang menyepi untuk
memperoleh ketenangan untuk belajar, kami lebih senang belajar di
keramaian. Sejak mengetahui fakta itu, kami mulai belajar sambil
mendengarkan musik. Bram menyukai musik jazz. Dan meski saya lebih
menyukai musik yang menghentak-hentak, saya mengalah dan mengijinkannya
memutar musik jazz kesukaannya.
Mood bukanlah satu-satunya masalah
Bram. Konsentrasi adalah masalah terbesarnya. Ada saat-saat dimana saya
heran, mengapa meski Bram sedang dalam keadaan senang, tapi dia tidak
fokus pada topik yang sedang saya ajarkan. Setiap kali saya membahas
stoikiometri, Bram langsung mengalihkan pembicaraan. Biasanya dia
tiba-tiba curhat tentang hal-hal yang dialami di sekolahnya, atau kisah
cinta ala abege-nya. Awalnya, saya selalu menanggapi dengan simpatik.
Lama kelamaan Bram seperti memanfaatkan kelemahan hati saya dan selalu
mengalihkan topik stoikiometri saya menjadi sesi curhat. Akhirnya saya
tahu juga alasannya.
Kata orang, kerjakanlah apa yang kau sukai.
Atau cobalah untuk menyukai apa yang kau kerjakan. Jika tidak bisa
keduanya, maka apa lagi yang bisa kau kerjakan? Hal tersebut terjadi
pada kasus Bram. Bagaimana kau bisa tahan mengerjakan sesuatu yang tidak
kau sukai? Suatu kali, saya memanfaatkan sesi curcol-nya Bram untuk
mengorek rahasia darinya. Dan akhirnya saya tahu bahwa dia memang tidak
menyukai pelajaran-pelajaran sains. Kimia dan fisika adalah salah satu
yang dibencinya. Dan stoikiometri adalah salah satu yang paling
dibencinya dari kimia.
Menyakitkan saat mendengar seseorang tidak
menyukaimu. Sama menyakitkannya bagi seorang guru saat mengetahui bahwa
muridnya tidak menyukai pelajarannya.
“So, what are you interested in, Bram?” tanya saya akhirnya.
“English Literate,” dia menjawab.
“Why did you choose these subject? Chemistry and Physics?”
“Ibu and Bapak want me to be a doctor, just like them.”
Hooo, sou desuka. Mengertilah saya sekarang. Menyukai sastra, tapi diharapkan menjadi dokter. Lima kali seminggu harus les basic math, advance math, physics, chemistry dan biology. Tiap Sabtu masih harus les piano. Kehidupan macam apapula itu? Keterpaksaan macam apa yang harus dijalaninya setiap hari?
Tapi
dapat dipahami juga mengapa orangtua Bram sangat berharap dari Bram.
Siapa pula yang bisa diharapkan lagi? Bram adalah anak tunggal mereka.
Mungkin bagi mereka, kehidupan penulis tidaklah menjanjikan masa depan
cemerlang. Itu mengapa mereka menginginkan anak tunggal mereka mengikuti
jejak mereka sebagai dokter.
Jadi apa yang bisa saya lakukan?
Menyuruh Bram mengejar impiannya sendiri? Atau memenuhi keinginan
orangtuanya? Saya memutuskan untuk mendukung Bram untuk menuruti
orangtuanya. Sejauh yang saya lihat, tidak ada yang salah dengan
keinginan orangtua Bram. Maka mengapa pula harus mengorbankan
kebahagiaan orangtua demi kebahagiaan sendiri jika sebenarnya kita bisa
memenuhi keinginan orangtua sambil memuaskan diri sendiri.
“You like to write something? Kinda short-story?” saya bertanya, menelisik.
“No. I write poem.”
“Really?”
Bram
tersenyum dan menunjukkan salah satu puisinya kepada saya. Ditulis
dalam bahasa Inggris, dengan rima yang indah dan diksi yang menarik.
Caranya menceritakan gadis yang disukainya dengan perumpamaan empat
musim, sungguh bagus. Dan saya langsung jatuh cinta pada puisi-puisinya.
“I also like to write,” kata saya.
Bram
menaikkan alisnya. Tampak tidak yakin bahwa orang seaneh saya bisa
menulis sesuatu. Atau mungkin tidak yakin tulisan saya bisa lebih bagus
daripada puisi-puisinya. Dan memang benar tulisan saya tidak sebagus
puisinya, tapi saya pantang menyerah. Saya ambil selembar kertas, lalu
saya tuliskan kata-kata yang baru saja terlintas di pikiran.
Hey kamu! Iya kamu!
Yang sering lupa reaksi netralisasi
Atau bagaimana menghitung reaksi reduksi-oksidasi
Bagaimana nanti kalau kita sudah mulai belajar asilasi?
“Sorry,
I don’t write in English,” kata saya sambil menyerahkan puisi
asal-asalan itu. Bram membacanya dan dia tertawa. Sejak itu jika Bram
mulai bête, kami akan saling membuat pantun atau puisi singkat. Lebih
sering adalah pantun-pantun sindiran seperti diatas. Tapi sering juga
saya menulis tema lain seperti ini:
It is me, Winter.
I’m not Summer who embrace you with warmth.
Neither Spring who pour you colourful cherry-blossom.
I’m just Autumn, who turns you into who you are.
“Do
not feel that you are forced to fulfill your parents dream, “ kata saya
pada Bram suatu kali, “They both give you everything to ensure that you
will gain the best future. Make them happy. And make yourself
satisfied. Keep writing on your poem, while calculating your reaction. I
did the same.”
Bram tersenyum. Entah tersenyum karena nasehat saya, atau sedang menertawakan bahasa Inggris saya lagi.
Suatu
ketika saya pernah ngobrol dengan ibunya Bram. Beliau menanyakan
perkembangan Bram. Saya mengatakan bahwa sepertinya Bram cukup oke dalam
menghapal, tapi sering terjebak oleh soal-soal hitungan. Ibunya Bram
mengatakan bahwa nilai Bram fluktuatif, kadang sangat baik dan kadang
juga buruk. Tidak ada pola tertentu pada hasil tes itu. Kadang Bram
mendapat nilai baik dalam stoikiometri, kadang justru mendapat nilai
buruk dalam soal kimia organik.
Tidak menemukan pola yang teratur
pada nilai-nilanya, saya minta ijin untuk meminjam hasil-hasil tes Bram
selama ini. Saya mempelajari kesalahan-kesalahan yang dibuat Bram.
Setelahnya saya membuat soal sejenis untuknya, dan meminta Bram
mengerjakan soal itu. Barulah saat itu saya tahu bahwa masalah Bram
memang pada konsentrasi. Bram bukannya bodoh. Dia hanya tidak mampu
berkonsentasi dalam waktu lama, dan seiring waktu ketelitiannya menurun.
“If you are given 1 hour to do the test, in what time you usually finish it?” tanya saya.
“30 minutes is enough for me,” jawabnya cuek.
“And what did you do in the rest of time?”
“Nothing. I just wanna do it as soon as possible.”
“You didn’t recheck your answer?”
Bram mengangkat bahunya sambil nyengir tak berdosa.
Itu
masalahnya! Bram bukan bodoh. Dia hanya tidak bisa berkonsentrasi. Dan
dia tidak teliti. Seringkali dia melewatkan informasi-informasi penting
dalam soal. Jika saya mengkoreksi jawabannya, dia cuma nyengir sambil
berkata: “Why did’t I see that clue?”
Aaarrrggghhh, geregetan! Saya geregetan!
Anak
ini selalu santai menghadapi ujian, dan malah saya yang stress setiap
kali dia akan ujian. Saya selalu khawatir dia melakukan
kesalahan-kesalahan kecil yang tidak seharusnya dilakukan hanya karena
dia tidak teliti.
Kehabisan ide, saya menerapkan filosofi–mengajar
ketiga yang diajarkan Sensei. Filosofi ketiga tersebut adalah bahwa
Tuhan selalu mendengar impianmu, dan seluruh alam raya akan bersatu padu
mewujudkannya asalkan kita konsisten memimpikannya dan mengusahakannya.
Menyebutnya sekali membuat kita menyadari sesuatu. Menyebutnya
berkali-kali membuatnya tertanam di pikiran kita. Menyebutnya
terus-menerus akan menerakannya di alam bawah sadar. Dan bagaimana
mungkin kita tidak mengusahakan sesuatu yang terpatri kuat di hati dan
pikiran kita?
Itu jugalah yang saya lakukan terhadap Bram.
Prinsipnya adalah pengulangan. Jika orang cerdas bisa memahami pelajaran
hanya dengan sekali mempelajarinya, bukan berarti yang tidak cerdas
tidak bisa. Kita hanya perlu mempelajarinya lagi dan lagi dan lagi.
Saya
membuatkan catatan-catatan ringkas untuknya. Diagram-diagram dan
rangkuman dari pelajaran-pelajarannya, agar dia mudah memahaminya. Saya
mengulangnya berkali-kali. Menanyainya terus-menerus, memastikan dia
hapal dan mengerti. Menghapal saja tidak cukup, mengerti adalah
keharusan. Dan saya juga terus-terusan mencekokinya dengan kata-kata:
“Mengerjakan cepat itu baik. Mengerjakan dengan tepat, itu lebih baik.
Do it fast, and ensure that you’ve done it correctly. Re-check you
answer! RE-CHECK!”
Bram biasanya hanya nyengir-nyengir geli menghadapi kegalakan saya. Dia menganggap wajah galak saya itu lucu.
“I give you chocolate if you get a good score!” kata saya mengiming-imingi.
“Do you think I’m a little girl? I don’t want chocolate,” katanya mencemooh.
“So?”
“Willy Wonka Candy. You can only find them at KemChick.”
Ahahaha, dasar anak pintar! Nyusahin aja deh.
“Deal!” kata saya sambil tertawa. “Give me score of 90. I give you my word.”
Bram nyengir.
Sayangnya, saya tidak bisa memenuhi janji saya. Ketika akhirnya dia mendapat nilai 97 pada subjek Chemistry
untuk ujian kenaikan kelasnya, saya lagi-lagi hanya bisa membelikannya
coklat. Sebagai permintaan maaf, saya tulis pantun pendek untuknya.
Hei kamu! Iya, kamu!
Yang ujian kimianya bernilai nyaris sempurna
Ingat yg aku bilang di awal jumpa?
Kau tidak bodoh, tidak juga lama
Kamu cuma perlu teliti membaca
Karena kamu sudah pintar luar biasa
Lagi-lagi
dia tertawa membacanya. Entah kenapa. Saya abaikan saja tawa
mengejeknya itu. Saya tahu dia sedang mengira yang saya lakukan itu
konyol.
Seperti yang saya katakan sebelumnya,
bersama Bram saya harus pandai menarik ulur. Memaksanya belajar tidak
akan efektif. Membiarkannya bermain semaunya, juga suatu keria-siaan.
Maka kemampuan berkompromi adalah hal yang harus saya miliki saat
menghadapi dia. Dan saya masih harus banyak belajar soal itu.
Dalam
hidup, kita menerima dan memberi. Sensei telah mengajari saya bagaimana
menjadi seorang guru. Saya meneruskannya kepada Bram, bagaimana
seharusnya dia belajar. Dan Bram juga mengajari saya banyak hal, bahkan
mungkin lebih banyak daripada yang saya berikan. Bram mengajari saya
untuk mengenal karakter, mempelajari sifat dan keinginan manusia,
bersabar, berkompromi dan berstrategi. Jadi sebenarnya, kita adalah guru
bagi sesama kita. Tinggal kitalah yang memilih, apakah kita ingin jadi
guru yang baik atau guru yang mencontohkan keburukan.
Luna Lovegood inside. Noda Megumi outside.
Kamis, 13 Oktober 2011
Sabtu, 08 Oktober 2011
Student's Story
Waktu jaman kita muda dulu (jadi inget umur, sekarang udah nggak abege
lagi, hehe), kita sering menganggap diri kita paling hebat. Udah paling bangga
kalau berhasil mengelabui guru, meloloskan diri dari razia VCD bokep. Berasa
jago kalau berhasil menyusup masuk selagi teman-teman lain yang sama-sama
terlambat sekolah disuruh push-up. Dan berasa keren banget kalau berhasil
menerapkan metode mencontek mutakhir sehingga bisa nyontek tanpa ketahuan guru.
Sekarang setelah waktu-waktu terlewati dan status saya sebagai murid
mulai bergeser menjadi si “oknum
guru” itu, saya makin menyadari bahwa dulu kita sebenarnya tidak sehebat itu.
Kita sebenarnya cuma anak-anak yang dibiarkan bermain petak-umpet oleh orangtua
kita. Kita dibiarkan bersembunyi
meski mereka sebenarnya sudah tahu sejak awal dimana kita akan bersembunyi ...
karena mereka pernah memainkan permainan petak-umpet serupa.
Dulu kita merasa hebat sekali
jika bisa mengelabui guru dan berhasil nyontek tanpa ditegur guru. Kenyataannya
sekarang, setelah saya sendiri menjadi guru, saya jadi geli sendiri dengan
tingkah murid-murid yang seperti itu. Saling melirik, saling berbisik, pura-pura
meminjam tip-ex, membuat contekan dengan tulisan super kecil dan
kelucuan-kelucuan lainnya. Beruntunglah saya yang tidak pernah berani mencontek
hingga sekarang karena sebenarnya tidak ada guru yang tidak menyadari bahwa
muridnya mencontek.
Kau pikir guru-guru kita yang
pintar itu tidak tahu apa-apa saat kita mencontek? No, no! Mereka semua tahu!
Tidak ada yang tidak tahu. Yang ada hanyalah guru yang menegur dan memarahimu,
atau sekedar menyindir halus, atau justru guru yang memilih untuk mengurangi
nilaimu dalam diam.
Seperti yang tadi saya bilang,
melihat kehidupan yang sama dari sudut pandang yang berbeda, benar-benar lucu. Saya
sebenarnya tipe guru yang nggak suka mempermalukan murid di depan
teman-temannya yang lain. Jadi saat melihat anak-anak itu masih saja
menggunakan trik-trik kuno untuk mencontek, saya cuma bisa nyengir. Sindiran
adalah hal terkahir yang saya lakukan. Selebihnya, kalau mereka tetap nekat
“berusaha”, saya memilih diam dan langsung menandai nama mereka masing-masing
di daftar nilai saya. Memberi nilai terendah bagi mereka adalah hal paling baik
dan paling kejam yang bisa saya lakukan. Tidak mempermalukan mereka di depan
teman-temannya adalah hal baik yang saya pilih. Tapi memberi “imbalan setimpal”
atas kenakalan mereka bukanlah sesuatu yang tidak adil, bukan?
Begitupun terhadap kenakalan
kita yang lain. Waktu kita melompati dinding belakang sekolah demi menghindari
razia “murid terlambat”, apa kau pikir semua guru tidak tahu? Sebenarnya nggka
juga lho. Ada yang tahu kelakuanmu itu. Tapi seperti halnya saya, ada beberapa guru
yang lebih suka diam. Tidak ada yang menegurmu hanya berarti bahwa mereka
memberimu “hadiah” atas kerja kerasmu yang sudah berusaha melarikan diri.
Hahaha.
Kelucuan lain para murid
ternyata tidak melulu soal kenakalan mereka. Kisah cinta mereka adalah kelucuan
lainnya. Ketika sekarang saya mendengar curhatan mereka soal kisah cinta
mereka, saya sering nyengir dalam hati, membayangkan betapa dulu guru saya
pasti merasa lucu mendengar cerita cinta abege saya. Dulu saya pasti sama
lucunya dengan murid-murid saya sekarang, mengkhawatirkan kisah cinta
remeh-temeh.
Well, yeah, kita melakukan
hal-hal kecil saat kita masih kecil. Berpikir bahwa kita sudah besar dan sudah
melakukan hal-hal besar. Kita mengkhawatirkan hal-hal kecil saat kita masih
kecil, dan mengira bahwa hal-hal tersebut terlalu besar dan berat untuk kita
tanggung. Tapi sekarang setelah kita cukup besar, akhirnya kita tahu kan bahwa
hal-hal besar kemarin hanya sebesar yang kita bayangkan? Bahwa sebenarnya
hal-hal besar yang dulu merisaukan kita, ternyata tidak sebesar itu kan? Waktu
itu kita hanya masih kecil untuk menerima yang lebih besar. Tapi waktu kita
akhirnya menerimanya, kita akan tumbuh menjadi sebesar apa yang diperlukan
untuk kuat mengangkat beban itu kan?
Ngomong-ngomong soal menjadi
guru, itu berat juga lho.
Karena seperti kata pak Marno: “Saat kita mengajar, sebenarnya kitalah yang paling harus belajar, memastikan
diri menjadi lebih tahu daripada murid kita.”
Seorang guru memang harusnya lebih
tahu daripada muridnya, karena dialah tempat bertanya dan menimba ilmu para
muridnya. Tapi kemudian belakangan ini saya menyadari bahwa menjadi lebih tahu
dan lebih pintar bukanlah hal yang paling penting untuk menjadi seorang guru.
Berapa banyak guru-guru kita yang jenius luar biasa, tapi semua muridnya
bingung dengan pelajaran yang diajarkan? Kalau pakai istilah saya sendiri sih,
fenomena itu disebut dengan “perbedaan frekuensi otak”. Makin jauh kesenjangan
intelegensi antara guru dan murid, maka makin rentan terhadap insiden “ketidak-tersampaian
ilmu.”
“Ini guru lagi ngomong bahasa dewa kali ya?
Manusia biasa seperti kita mah nggak bakal paham bahasa dewa begitu. Frekuensi
otaknya beda sama kita, jadi nggak bisa beresonansi dgn frekuensi otak manusia
biasa seperti kita.”
Kalau murid kita sudah ngomong
seperti itu, berarti kita adalah guru tidak berguna. Sepintar apapun seorang
guru, kalau muridnya sendiri nggak paham perkataannya, berarti dia bukan guru
yang baik. Sejenius apapun guru, kalau tidak bisa mentransfer pengetahuannya
kepada murid-muridnya, lalu guru seperti apa itu? Ditambah lagi kalau sampai
murid kita sendiri takut, benci dan cenderung menghindari kita, maka sebenarnya
kita hanyalah orang yang pintar,
bukan seorang guru.
Berdasarkan teori yang saya
alami sendiri, sepintar apapun guru dan sebaik apapun ilmu yang diberikannya,
ilmu itu tidak akan pernah sampai kepada murid kalau muridnya tidak merasa
nyaman dengan gurunya. Ketidaknyamanan itu bisa terjadi karena banyak hal. Oke,
bahas satu per satu ya J
Suatu ilmu nggak akan bisa
sampai kepada murid kalau muridnya takut sama gurunya. Takut pada guru akan
berimbas pada ketakutan murid pada ilmu yang diajarkan guru tersebut, meski
ilmunya sendiri tidak menakutkan. Sebaliknya, sesulit apapun pelajarannya,
kalau murid suka dengan gurunya, biasanya mereka akan bisa menerima ilmu
tersebut dengan lebih baik. (Inget pelajaran fisika waktu nulis ini :p )
Ilmu juga nggak bisa sampai
kepada murid kalau muridnya membenci gurunya, atau gurunya juga balik sebal
pada muridnya. Bagaimana mungkin cangkir bisa menerima air dari teko kalau
cangkirnya ditutup atau tekonya tertutup? Kebencian adalah hal yang menutup
hati dan pikiran kita dari ilmu-ilmu baik yang sebenarnya ada diantara guru dan
murid. Sebaik apapun ilmu, jika disampaikan atau diterima dengan kebencian,
ilmu itu tidak akan pernah sampai kepada muridnya.
Dan kebencian bisa datang dari banyak sumber. Sikap murid yang tidak
hormat, atau sikap guru yang membuat murid jadi tidak hormat. Merasa diri
paling pintar dan sikap merendahkan murid adalah salah satu yang paling
menimbulkan kebencian.
Beberapa kali saya mendengar
seorang guru berkata: “Ah, dulu saya bisa mengerjakannya kok. Kenapa mereka
nggak bisa? Kan kita sama-sama makan nasi.”
Pernyataan tersebut bisa
mengimplikasikan dua hal. Pertama, bahwa sang guru sudah bisa membaca dan
berhitung sejak lahir (saking jeniusnya, sehingga tidak pernah menjadi orang
bodoh). Kemungkinan kedua, bahwa saking pintarnya sang guru sekarang, beliau
sampai lupa bagaimana rasanya menjadi tidak tahu.
Benar adanya bahwa para guru
pastilah lebih berpengalaman daripada murid-muridnya sehingga beliau pasti
sudah tahu bahwa soal-soal seperti itu bukan soal yang mustahil dikerjakan.
Tapi para guru seringkali lupa bahwa beliau dulu juga pernah menjadi murid yang
tidak tahu. Mereka lupa bahwa saat mereka masih muda dulu, soal-soal sepele itu
adalah hal yang besar bagi mereka. Mereka lupa bahwa dulu mereka pernah merasa
tidak bisa melakukan sesuatu sebelum akhirnya mereka menemukan cara untuk
menyelesaikannya. Mereka bahkan lupa bahwa murid memang memiliki hak
untuk bodoh, karena mereka hanya seorang murid. Mereka membayar sekolah untuk
dididik, bukan untuk diklaim sebagai orang bodoh. Jika murid-murid itu sudah
pintar, untuk apa lagi mereka sekolah dan kuliah? Para guru mungkin melupakan
fakta penting itu.
Para guru seringkali lupa dan
mengira para murid sudah sama pintar dan sama tahunya dengan mereka sekarang.
Akibatnya mereka menjelaskan dengan terburu-buru, dan terlewat menanamkan
pemahaman-pemahaman dasar yang dibutuhkan murid untuk memahami pengetahuan yang
lebih tinggi. Hal-hal seperti itu yang membuat murid jadi frustasi dalam
menerima pelajaran.
Ada kalanya saya berpikir, guru yang baik sebenarnya bukan hanya yang
paling pintar, atau yang gelarnya paling panjang ya? Guru yang baik mungkin saja
kepintarannya hanya bernilai delapan, tapi seluruhnya bisa diturunkan kepada
murid-muridnya …. alih-alih guru jenius dengan kecerdasan bernilai sepuluh,
tapi hanya sepertiga dari ilmunya yang bisa diturunkannya. Guru yang baik
rasanya bukan yang paling pintar (bukan berarti guru tidak harus pintar.
Tentunya seorang guru haruslah yang pintar), tapi juga yang paling memahami apa
yang dibutuhkan muridnya untuk menjadi pintar. Sayangnya, kecerdasan untuk
memahami murid tidak selalu berbanding lurus dengan kecerdasan intelegensia.
Itu mengapa menjadi pintar jauh lebih mudah daripada menjadi seorang guru.
Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, untuk memahami seorang murid, nggak
sesulit itu kan? Seorang guru juga pernah menjadi abege kan? Hanya saja mungkin
ketika sudah terlalu lama menjadi guru, kita justru lupa bagaimana rasanya
menjadi murid. Ketika kita beranjak
dewasa, kita jadi lupa bahwa dulu kita juga sering melakukan
kekonyolan-kekonyolan yang sama dengan para abege itu. Lupa deh kita bahwa kita dulu pernah juga
bergaya “labil”, atau bahkan masih labil sampai sekarang, meski dalam bentuk
yang berbeda. Kita juga lupa bahwa dulu kita adalah “galauers everywhere, everytime” bahkan oleh
hal-hal yang sekarang kita anggap sepele.
Yeah, pengalaman guru memang lebih banyak. Dan guru yang sering
mengatakan “saya juga dulu pernah jadi murid, tapi nggak gitu-gitu amat deh” juga
memang pernah muda. Mungkin mereka hanya lupa, bagaimana menjadi muda dan galau :p
Tulisan ini dibuat sebagai
topik balasan dalam serial “You Jump, I Jump” antara saya dan Ambar. Pada topik
terbaru yang dipilihnya (seperti dapat dibaca pada blog berikut: http://ambareetabercerita.wordpress.com/2011/10/07/ants-story/), Ambar bercerita tentang betapa kita ini
hamba yang tidak tahu rencana Tuhan tapi dengan sok tahunya merasa bahwa Tuhan
tidak sayang pada kita. Padahal sesungguhnya Tuhan punya rencana yang lebih besar
dan lebih indah bagi kita. Kita hanya terlalu kecil untuk mengetahui rencana
besar itu saat ini.
Mengambil tema serupa, kali
ini saya membahas tentang masa lalu kita, semasa masih sekolah dulu. Ini cerita
tentang murid, dengan segala tingkah dan ke-sotoy-annya. Ini cerita tentang
murid, yang diceritakan oleh seorang murid ... yang saat ini sedang berusaha menjadi
guru.
Apa lalu saya sudah menjadi guru paling baik sehingga bisa memposting
artikel aneh macam ini? Pastinya, saya masih jauh dari menjadi guru yang baik.
Dan untuk menjadi guru seperti itu sama sulitnya dengan mendapat nilai sepuluh
dalam pelajaran fisika, bagi saya. Saya cuma seseorang yang sedang terus
belajar untuk bisa kembali memahami dunia remaja agar bisa menjadi sahabat
mereka. Bukankah pengetahuan apapun paling mudah ditransfer oleh seorang
sahabat, ketimbang oleh seorang guru?
Senin, 12 September 2011
FARMASIS GALAU
Di malam minggu nan galau ini entah mengapa pikiran saya sedang “agak
bener”. Nah, mumpung saya lagi “bener” nih, saya mau membahas sesuatu
yg “rada bener”.
Jadi ceritanya, di malam minggu yang galau ini, ada satu tontonan di MetroTV yang makin bikin saya galau. Bukan galau scr pribadi, tapi galau sbg seorang farmasis (tuh kan,, malaikat apa pula yg sedang mengilhami saya nih?)
Bahasan MetroFiles hari ini (yang ditayangkan jam 7 malam ini) berjudul “Farmasi Untuk Negeri”. Berikut saya cuma ingin mereview beberapa poin yang membuat saya galau ketika menonton tadi ,,, dan akan mencoba sotoy mengomentari beberapa komentar para komentator (pusing nggak bacanya? maklumlah, ini ditulis oleh orang yang “rada” bener)
1. Dibandingkan negara industri di Eropa, US, Jepang etc, penemuan obat di Indonesia sangat buruk. Alih-alih berfokus pada pengembangan obat kimiawi, Indonesia sebaiknya mengembangkan riset di bidang obat yang berasal dari bahan alam. (dr. Bunyamin) à setuju ini mah sama Bapak pendiri Kalbe Farma ini. Alih-alih terus terpaku & berusaha menyaingi negara yg lebih maju, kenapa kita tidak menjadi “trend setter”. Alih-alih berfokus pada pengembangan bahan obat kimiawi, knpa ga justru mengembangkan bahan obat dari alam. hehehe. Ini ibarat: “daripada menunggu pintu terbuka, kenapa nggak masuk lewat jendela saja” (ngajarin maling).
2. Indonesia masih ketergantungan impor bahan baku obat. (dr. Bunyamin) à bener banget. Jangankan bahan baku obat, lha wong eksipien aja masih import tho. Di Asia, kita malah belum ada apa2nya dibanding India & China soal produksi bahan baku ini. Apa saya kuliah ke India aja yah? barangkali aja bisa sekalian casting jd aktris bollywood kan? #SingWarasNgalah . hehehe.
Oiya, soal industri bahan baku obat di Indonesia, spt kata dr. Bunyamin, baru bisa dilakukan jika industri kimianya sudah baik. Kan sintesis obat butuh solven, reagen, dsb. Kalau reagennya saja nggak ada (dan fasilitas sintesisnya ga ada), bagaimana mau membuatnya? Paracetamol Indonesia aja katanya kualitasnya masih jauh dr kualitas Paracetamol punya India.
3. Kurangnya industri berbasis riset, menyebabkan industri farmasi kurang berkembang. Hal ini juga disebabkan karena kurangnya kerjasama antara industri farmasi dgn institusi pendidikan serta kurangnya dana riset dari pemerintah. (dr. Bunyamin) à inilah mengapa riset yg dilakukan industri farmasi hanya sebatas variasi eksipien, penampilan dan bentuk sediaan à dananya jg terbatas sih ya. Dan soal kerjasama dgn instansi pendidikan,,, mungkin universitas harus mulai mengambangkan riset-riset yang aplikatif, bukan sekedar teori shg hasil penelitian bisa dimanfaatkan bersama dgn industri farmasi. Dengan demikian, dana penelitian bisa dioptimalkan oleh instansi pendidikan, tp hasilnya jg bisa dirasakan oleh industri farmasi.
Mengutip kata2 Pietra bbrp waktu lalu: Riset-riset di universitas itu kebanyakan masih bersifat teori dan hanya demi memenuhi tuntutan kelulusan, jd tidak bisa dimanfaatkan oleh industri farmasi.
4. Beberapa komentar berikut, saya satukan dalam satu topik, krn saya akan membahasnya scr parallel:
- Paradigma kefarmasian telah beralih kpd patient oriented, sehingga hendaknya apoteker bukan hanya berada di balik meja, atau bahkan hanya sekedar pasang nama di apotek.(Ahaditomo)
- Apoteker hrs lgsg berhadapan dgn pasien, sehingga peran apoteker bukan sekedar jual-beli obat , tp juga memberikan pelayanan informasi obat (PIO) (Dani pratomo)
Terhadap kedua pernyataan tersebut di atas, itu jg bikin galau. Bukannya saya nggak setuju dgn “peran apoteker sbg PIO di apotek” sehingga harus selalu berada di apotek selama jam buka apotek. Bukan juga nggak setuju dgn slogan “no pharmacist, no service”.
Kadang2, sering dibandingkan antara praktek dokter (yang kliniknya tutup kalau dokternya nggak ada), sementara kalo apotek tetap buka meski apoteker nggak ada.
Kalau mau ditelisik lebih jauh, mungkin sebenarnya bukan para apoteker yang tidak mau menjalankan perannya dgn optimal, tapi karena penghargaan orang yang kurang thd peran apoteker.
Peraturannya sih apoteker harus stand-by di apotek selama jam buka apotek. Tapi apoteker mana yang mau stand-by 8 jam per hari kalau cuma digaji 1 juta per bulan (jangan tanya saya, “Memangnya ada apoteker yg cuma digaji segitu? “ADA! Percaya deh. Makanya dia ga stand-by di apotek.)
Kadang penghargaan kita terhadap profesi tertentu itu sangat memalukan. Daripada menggaji besar para koruptor itu, bukankah seharusnya menggaji guru dgn lebih layak? Kan profesi gurulah yg mendidik anak2 bangsa kita. Anak-anak bangsa dgn kualitas seperti apa yang kita harapkan dari guru yang mengajarkan matematika dgn tdk fokus karena sambil memikirkan berasnya yang habis di rumah?
Begitu juga dgn apoteker. Apoteker kan juga pekerjaan profesi spt dokter ya? Yang resikonya thd keselamatan pasien sama besarnya, jd mengapa tidak dihargai scr berimbang?
Kalau membandingkan antara gaji saya dgn gaji adik saya yg anak teknik, kok rasanya nyesek ya? Resiko pekerjaan adik saya nampaknya tidak sebesar resiko pekerjaan saya yg kalau salah pakai alupush untuk kemasan tablet saja bisa membahayakan pasien. Tapi kenapa adik saya gajinya lbh besar? Di industri farmasipun gajinya orang2 finance tuh kadang lbh besar lho drpd gaji apoteker pada level yg sama. Padahal, resiko pekerjaannya thd keselamatan manusia lbh kecil.
Hal-hal semacam itulah yang membuat apoteker tdk menjalankan fungsinya secara seharusnya. Jangan bilang soal “kerja itu kan ibadah”! Hanya karena tujuan kerja kita sebagai ibadah, maka bukan berarti kita tidak pantas dihargai dgn layak kan?
Kalau kata dr. Bunyamin: “Kalau suatu usaha mau maju, SDM mesti diperhatikan. “ à totalitas dan pengabdian thd pekerjaan bukan berarti menghilangkan profesianalisme dan kebutuhan untuk dihargai dengan pantas!
Tapi ini seperti pisau bermata dua sih ya. Kalau para apotekernya sendiri tidak membiarkan dirinya digaji rendah, pasti para PSA/ pemilik industri farmasi/ RS juga terpaksa menggaji dgn layak kan?
“Habis gimana dong. Ya sudahlah, 1 juta juga cukup kok. Toh sebulan sekali doang ke apotek,” begitu komentarnya. Kalau sudah begitu, bingung juga deh, mana dulu yg harus diperbaiki: peraturannya, atau apotekernya atau sistemnya? Rasanya spt lingkaran setan.
Andai IAI punya kebijakan ttg standar gaji apoteker.
Membuat peraturan soal “no pharmacist, no service” saja TIDAK AKAN PERNAH BERHASIL kalau tdk disertai dgn penetapan standar gaji apoteker. Kalau IAI sudah menetapkan standar gaji apoteker, dan semua apoteker sepakat u/ tidak mau bekerja jika tidak digaji dgn layak, dan ada peraturan tegas tentang “no pharmacist, no service” ini ,,, pasti nantinya dgn terpaksa PSA juga akan menyesuaikan gaji apotekernya dgn standar tsb kok. Dgn gaji yg sesuai, apoteker pasti akan bekerja dgn optimal di apotek (bukan cuma datang sebulan sekali),,, dan wacana “pharmaceutical care” bukan lagi sekedar omong kosong.
Yah, begitulah kira2 sesi menggalau saya malam ini. Sungguh ke-sotoy-an saya membuat note semacam ini. Tapi tidakkah ada yang berpikiran sama dgn saya? Atau hanya saya yang berpikiran nyeleneh soal hal-hal ini? Hahaha.
Jadi ceritanya, di malam minggu yang galau ini, ada satu tontonan di MetroTV yang makin bikin saya galau. Bukan galau scr pribadi, tapi galau sbg seorang farmasis (tuh kan,, malaikat apa pula yg sedang mengilhami saya nih?)
Bahasan MetroFiles hari ini (yang ditayangkan jam 7 malam ini) berjudul “Farmasi Untuk Negeri”. Berikut saya cuma ingin mereview beberapa poin yang membuat saya galau ketika menonton tadi ,,, dan akan mencoba sotoy mengomentari beberapa komentar para komentator (pusing nggak bacanya? maklumlah, ini ditulis oleh orang yang “rada” bener)
1. Dibandingkan negara industri di Eropa, US, Jepang etc, penemuan obat di Indonesia sangat buruk. Alih-alih berfokus pada pengembangan obat kimiawi, Indonesia sebaiknya mengembangkan riset di bidang obat yang berasal dari bahan alam. (dr. Bunyamin) à setuju ini mah sama Bapak pendiri Kalbe Farma ini. Alih-alih terus terpaku & berusaha menyaingi negara yg lebih maju, kenapa kita tidak menjadi “trend setter”. Alih-alih berfokus pada pengembangan bahan obat kimiawi, knpa ga justru mengembangkan bahan obat dari alam. hehehe. Ini ibarat: “daripada menunggu pintu terbuka, kenapa nggak masuk lewat jendela saja” (ngajarin maling).
2. Indonesia masih ketergantungan impor bahan baku obat. (dr. Bunyamin) à bener banget. Jangankan bahan baku obat, lha wong eksipien aja masih import tho. Di Asia, kita malah belum ada apa2nya dibanding India & China soal produksi bahan baku ini. Apa saya kuliah ke India aja yah? barangkali aja bisa sekalian casting jd aktris bollywood kan? #SingWarasNgalah . hehehe.
Oiya, soal industri bahan baku obat di Indonesia, spt kata dr. Bunyamin, baru bisa dilakukan jika industri kimianya sudah baik. Kan sintesis obat butuh solven, reagen, dsb. Kalau reagennya saja nggak ada (dan fasilitas sintesisnya ga ada), bagaimana mau membuatnya? Paracetamol Indonesia aja katanya kualitasnya masih jauh dr kualitas Paracetamol punya India.
3. Kurangnya industri berbasis riset, menyebabkan industri farmasi kurang berkembang. Hal ini juga disebabkan karena kurangnya kerjasama antara industri farmasi dgn institusi pendidikan serta kurangnya dana riset dari pemerintah. (dr. Bunyamin) à inilah mengapa riset yg dilakukan industri farmasi hanya sebatas variasi eksipien, penampilan dan bentuk sediaan à dananya jg terbatas sih ya. Dan soal kerjasama dgn instansi pendidikan,,, mungkin universitas harus mulai mengambangkan riset-riset yang aplikatif, bukan sekedar teori shg hasil penelitian bisa dimanfaatkan bersama dgn industri farmasi. Dengan demikian, dana penelitian bisa dioptimalkan oleh instansi pendidikan, tp hasilnya jg bisa dirasakan oleh industri farmasi.
Mengutip kata2 Pietra bbrp waktu lalu: Riset-riset di universitas itu kebanyakan masih bersifat teori dan hanya demi memenuhi tuntutan kelulusan, jd tidak bisa dimanfaatkan oleh industri farmasi.
4. Beberapa komentar berikut, saya satukan dalam satu topik, krn saya akan membahasnya scr parallel:
- Paradigma kefarmasian telah beralih kpd patient oriented, sehingga hendaknya apoteker bukan hanya berada di balik meja, atau bahkan hanya sekedar pasang nama di apotek.(Ahaditomo)
- Apoteker hrs lgsg berhadapan dgn pasien, sehingga peran apoteker bukan sekedar jual-beli obat , tp juga memberikan pelayanan informasi obat (PIO) (Dani pratomo)
Terhadap kedua pernyataan tersebut di atas, itu jg bikin galau. Bukannya saya nggak setuju dgn “peran apoteker sbg PIO di apotek” sehingga harus selalu berada di apotek selama jam buka apotek. Bukan juga nggak setuju dgn slogan “no pharmacist, no service”.
Kadang2, sering dibandingkan antara praktek dokter (yang kliniknya tutup kalau dokternya nggak ada), sementara kalo apotek tetap buka meski apoteker nggak ada.
Kalau mau ditelisik lebih jauh, mungkin sebenarnya bukan para apoteker yang tidak mau menjalankan perannya dgn optimal, tapi karena penghargaan orang yang kurang thd peran apoteker.
Peraturannya sih apoteker harus stand-by di apotek selama jam buka apotek. Tapi apoteker mana yang mau stand-by 8 jam per hari kalau cuma digaji 1 juta per bulan (jangan tanya saya, “Memangnya ada apoteker yg cuma digaji segitu? “ADA! Percaya deh. Makanya dia ga stand-by di apotek.)
Kadang penghargaan kita terhadap profesi tertentu itu sangat memalukan. Daripada menggaji besar para koruptor itu, bukankah seharusnya menggaji guru dgn lebih layak? Kan profesi gurulah yg mendidik anak2 bangsa kita. Anak-anak bangsa dgn kualitas seperti apa yang kita harapkan dari guru yang mengajarkan matematika dgn tdk fokus karena sambil memikirkan berasnya yang habis di rumah?
Begitu juga dgn apoteker. Apoteker kan juga pekerjaan profesi spt dokter ya? Yang resikonya thd keselamatan pasien sama besarnya, jd mengapa tidak dihargai scr berimbang?
Kalau membandingkan antara gaji saya dgn gaji adik saya yg anak teknik, kok rasanya nyesek ya? Resiko pekerjaan adik saya nampaknya tidak sebesar resiko pekerjaan saya yg kalau salah pakai alupush untuk kemasan tablet saja bisa membahayakan pasien. Tapi kenapa adik saya gajinya lbh besar? Di industri farmasipun gajinya orang2 finance tuh kadang lbh besar lho drpd gaji apoteker pada level yg sama. Padahal, resiko pekerjaannya thd keselamatan manusia lbh kecil.
Hal-hal semacam itulah yang membuat apoteker tdk menjalankan fungsinya secara seharusnya. Jangan bilang soal “kerja itu kan ibadah”! Hanya karena tujuan kerja kita sebagai ibadah, maka bukan berarti kita tidak pantas dihargai dgn layak kan?
Kalau kata dr. Bunyamin: “Kalau suatu usaha mau maju, SDM mesti diperhatikan. “ à totalitas dan pengabdian thd pekerjaan bukan berarti menghilangkan profesianalisme dan kebutuhan untuk dihargai dengan pantas!
Tapi ini seperti pisau bermata dua sih ya. Kalau para apotekernya sendiri tidak membiarkan dirinya digaji rendah, pasti para PSA/ pemilik industri farmasi/ RS juga terpaksa menggaji dgn layak kan?
“Habis gimana dong. Ya sudahlah, 1 juta juga cukup kok. Toh sebulan sekali doang ke apotek,” begitu komentarnya. Kalau sudah begitu, bingung juga deh, mana dulu yg harus diperbaiki: peraturannya, atau apotekernya atau sistemnya? Rasanya spt lingkaran setan.
Andai IAI punya kebijakan ttg standar gaji apoteker.
Membuat peraturan soal “no pharmacist, no service” saja TIDAK AKAN PERNAH BERHASIL kalau tdk disertai dgn penetapan standar gaji apoteker. Kalau IAI sudah menetapkan standar gaji apoteker, dan semua apoteker sepakat u/ tidak mau bekerja jika tidak digaji dgn layak, dan ada peraturan tegas tentang “no pharmacist, no service” ini ,,, pasti nantinya dgn terpaksa PSA juga akan menyesuaikan gaji apotekernya dgn standar tsb kok. Dgn gaji yg sesuai, apoteker pasti akan bekerja dgn optimal di apotek (bukan cuma datang sebulan sekali),,, dan wacana “pharmaceutical care” bukan lagi sekedar omong kosong.
Yah, begitulah kira2 sesi menggalau saya malam ini. Sungguh ke-sotoy-an saya membuat note semacam ini. Tapi tidakkah ada yang berpikiran sama dgn saya? Atau hanya saya yang berpikiran nyeleneh soal hal-hal ini? Hahaha.
Kamis, 01 September 2011
You Jump, I Jump (2) : M2M , Me & Mantan
Jadi, karena proyek "You Jump, I Jump" antara saya dan Ambar, akhirnya saya menulis note ini. Oke, sedikit dijelaskan bahwa sejak seminggu yg lalu, diawali dgn pembicaraan kita soal Islam dan Rasulullah, akhirnya kami memutuskan untuk memulai proyek "You Jump, I Jump" ini. Secara ringkas, proyek ini didefinisikan sebagai proyek gabungan saya dan ambar dalam membahas suatu topik tertentu setiap minggunya, untuk saling tukar ide dan pendapat tentang suatu topik tertentu, yang tidak harus sama, namun serupa.
Nah, pagi ini Ambar mencolek2 saya dan mengatakan bahwa topik hari ini adalah tentang obrolan lebaran dengan mantan. Oke, jadi inilah yang ditulis Ambar: http://ambareetabercerita.wordpress.com/2011/09/02/a-little-something-something-2/
Nah, oleh karena itu saya akan menulis topik serupa.
Oke, jangan tanya! Saya emang ga punya mantan pacar,, tp setidaknya saya pernah menyukai seseorang. Nah, jadi saya menceritakan perbincangan kami saat lebaran kemarin yah.
Sebutlah saya dan si Aa' ini jaman dahulu kala pernah memiliki "hubungan tak terkatakan",,, lets say "HTS" ,,, nggak pernah pacaran tapi saling tahu bahwa kami saling menyukai. Tapi ketika akhirnya kami makin dewasa dan makin menyadari bahwa "penghalang" diantara kami ini mustahil ditembus, kami dengan kesepakatan-tak-terkatakan memutuskan untuk mengambil jalan masing-masing. Menyelesaikan sesuatu yang bahkan tidak pernah dimulai.
MOVE ON!
Dan disinilah kami sekarang. Dia sudah menikah setahun lalu. Dan saya sudah menemukan impian saya, menjadi guru.
Kami masih saling berkirim kabar, SMS atau telfon, meski ga sesering dulu. Dan kemarin itu saat lebaran, dia telpon saya. Setelah maaf-maafan, kami mulai ngobrol ngalor-ngidul.
Saya: Nggak pulang ke Jkt, A'? (keluarganya di Jkt dan dia bekerja di Sumatra)
Dia : Tahun ini nggak bisa, Ni. Istriku hampir melahirkan. HPL-nya 20 september. (eh, si ambar kan 19 sept ya Mbar? hoho)
Saya: Hoo,, sebentar lagi ya?
Dia : Iya, makanya nggak berani pergi2 jauh.
Saya: Perkiraannya, laki2 atau perempuan, A'?
Dia : Laki-laki, Ni.
Saya : Wah, selamat ya A'. Semoga lancar ya persalinannya. Salam buat si Teteh (istrinya si Aa' maksudnya).
Dia : Nanti aku kabarin ke Tante nia kalo si adek udah lahir.
Saya: Hidiiihhh,, knpa dipanggil "tante"? Saya maunya dipanggil "teteh". Hahaha. (efek bergaul sama ABG, jd berasa muda mulu, lupa umur)
Dia : Dasaaarrr! Jitak nih.
SIIIIINNNNGGGG *trus tiba2 dia terdiam agak lama*
Dia : Pasti nanti si adek mirip kamu, Ni.
Saya: Lho? Kok? Dia laki2, saya perempuan. Mirip apanya? Lagian, kalo beneran mirip saya, nanti emaknya bingung lho. Hahaha
Dia : Ah, kamu kan juga kaya cowok. (trus dia ketawa ngeledek. saya manyun di seberang telpon)
SIIIIINNNNGGGG (ealaaahhh,, dia diem lagi)
Dia : Dia pasti mirip kamu, Ni. Seorang virgo yang perfeksionis dan cerewet.
Saya: Hah?! (kenapa coba yg diinget adl bagian "cerewet"nya?)
Dia : Dan pintar luar biasa.
Saya langsung putar otak supaya nggak terkesan bahwa saya sedang meleleh.
Saya : Tapi hati-hati A' ,,, jangan sampai bandel dan susah diatur juga kayak saya. (dan saya berusaha menertawakan diri sendiri supaya dia nggak tahu bahwa saya lg GR berat)
Dia : Aku berharap dia spt kamu nanti.
AAARRGGGHHH. Uwoppppooooo Ikiiii?????
Ya Allah, hamba berlindung kepadaMu dari godaan suami orang seperti ini.
Jadi setelah itu saya segera mengalihkan pembicaraan seputar kue-kue lebaran yang dibikin istrinya di rumah. Tentang masakan apa yang ada di rumahnya dan di rumah saya.
Dia : Lho, Ibu (ibu saya maksudnya) nggak bikin ketupat, Ni?
Saya: Nggak, A'. Males bikin ketupat, masaknya lama. Udah heboh duluan bikin sayur dan lauknya.
Dia : Oiya, Ibumu kan paling males bikin ketupat ya? Hahaha. Inget nggak? Dulu kan Ibuku biasa masakin ketupat buat keluargamu, dan Ibumu balas masakin semur daging buat keluargaku.
Saya ketawa. Padahal dalam hati menjerit. Kenapa pula mesti mengingat-ingat masa lalu siiihhh????
Tapi cerita yang sudah selesai, sudah selesai kan? Waktu sebuah buku sudah ditulis, kau tidak bisa mengubahnya lagi kan? Yang bisa kau lakukan hanya membacanya kembali dan mengambil pelajaran darinya ... atau mengambil kenangan yang membeku di dalamnya.
Nah, pagi ini Ambar mencolek2 saya dan mengatakan bahwa topik hari ini adalah tentang obrolan lebaran dengan mantan. Oke, jadi inilah yang ditulis Ambar: http://ambareetabercerita.wordpress.com/2011/09/02/a-little-something-something-2/
Nah, oleh karena itu saya akan menulis topik serupa.
Oke, jangan tanya! Saya emang ga punya mantan pacar,, tp setidaknya saya pernah menyukai seseorang. Nah, jadi saya menceritakan perbincangan kami saat lebaran kemarin yah.
Sebutlah saya dan si Aa' ini jaman dahulu kala pernah memiliki "hubungan tak terkatakan",,, lets say "HTS" ,,, nggak pernah pacaran tapi saling tahu bahwa kami saling menyukai. Tapi ketika akhirnya kami makin dewasa dan makin menyadari bahwa "penghalang" diantara kami ini mustahil ditembus, kami dengan kesepakatan-tak-terkatakan memutuskan untuk mengambil jalan masing-masing. Menyelesaikan sesuatu yang bahkan tidak pernah dimulai.
MOVE ON!
Dan disinilah kami sekarang. Dia sudah menikah setahun lalu. Dan saya sudah menemukan impian saya, menjadi guru.
Kami masih saling berkirim kabar, SMS atau telfon, meski ga sesering dulu. Dan kemarin itu saat lebaran, dia telpon saya. Setelah maaf-maafan, kami mulai ngobrol ngalor-ngidul.
Saya: Nggak pulang ke Jkt, A'? (keluarganya di Jkt dan dia bekerja di Sumatra)
Dia : Tahun ini nggak bisa, Ni. Istriku hampir melahirkan. HPL-nya 20 september. (eh, si ambar kan 19 sept ya Mbar? hoho)
Saya: Hoo,, sebentar lagi ya?
Dia : Iya, makanya nggak berani pergi2 jauh.
Saya: Perkiraannya, laki2 atau perempuan, A'?
Dia : Laki-laki, Ni.
Saya : Wah, selamat ya A'. Semoga lancar ya persalinannya. Salam buat si Teteh (istrinya si Aa' maksudnya).
Dia : Nanti aku kabarin ke Tante nia kalo si adek udah lahir.
Saya: Hidiiihhh,, knpa dipanggil "tante"? Saya maunya dipanggil "teteh". Hahaha. (efek bergaul sama ABG, jd berasa muda mulu, lupa umur)
Dia : Dasaaarrr! Jitak nih.
SIIIIINNNNGGGG *trus tiba2 dia terdiam agak lama*
Dia : Pasti nanti si adek mirip kamu, Ni.
Saya: Lho? Kok? Dia laki2, saya perempuan. Mirip apanya? Lagian, kalo beneran mirip saya, nanti emaknya bingung lho. Hahaha
Dia : Ah, kamu kan juga kaya cowok. (trus dia ketawa ngeledek. saya manyun di seberang telpon)
SIIIIINNNNGGGG (ealaaahhh,, dia diem lagi)
Dia : Dia pasti mirip kamu, Ni. Seorang virgo yang perfeksionis dan cerewet.
Saya: Hah?! (kenapa coba yg diinget adl bagian "cerewet"nya?)
Dia : Dan pintar luar biasa.
Saya langsung putar otak supaya nggak terkesan bahwa saya sedang meleleh.
Saya : Tapi hati-hati A' ,,, jangan sampai bandel dan susah diatur juga kayak saya. (dan saya berusaha menertawakan diri sendiri supaya dia nggak tahu bahwa saya lg GR berat)
Dia : Aku berharap dia spt kamu nanti.
AAARRGGGHHH. Uwoppppooooo Ikiiii?????
Ya Allah, hamba berlindung kepadaMu dari godaan suami orang seperti ini.
Jadi setelah itu saya segera mengalihkan pembicaraan seputar kue-kue lebaran yang dibikin istrinya di rumah. Tentang masakan apa yang ada di rumahnya dan di rumah saya.
Dia : Lho, Ibu (ibu saya maksudnya) nggak bikin ketupat, Ni?
Saya: Nggak, A'. Males bikin ketupat, masaknya lama. Udah heboh duluan bikin sayur dan lauknya.
Dia : Oiya, Ibumu kan paling males bikin ketupat ya? Hahaha. Inget nggak? Dulu kan Ibuku biasa masakin ketupat buat keluargamu, dan Ibumu balas masakin semur daging buat keluargaku.
Saya ketawa. Padahal dalam hati menjerit. Kenapa pula mesti mengingat-ingat masa lalu siiihhh????
Tapi cerita yang sudah selesai, sudah selesai kan? Waktu sebuah buku sudah ditulis, kau tidak bisa mengubahnya lagi kan? Yang bisa kau lakukan hanya membacanya kembali dan mengambil pelajaran darinya ... atau mengambil kenangan yang membeku di dalamnya.
Rabu, 31 Agustus 2011
Mencarilah! Dia akan menemukanmu
Kalau kamu punya murid bodoh, kamu bisa mencari 1001 macam cara untuk membuatnya pintar. Kalau kamu punya murid pintar, kamu harus mencari 1001 cara untuk membuat dirimu sendiri lebih pintar. Apalagi kalau muridmu punya rasa ingin tahu yg sangat besar, kau harus menyiapkan banyak jawaban untuk pertanyaan-pertanyaannya. Dan murid yang agnostik, punya rasa ingin tahu yg besar, kritis dan cerdas adalah kombinasi yang mematikan. Serius! Apalagi kalau gurunya tidak sepaham itu tentang apa yang diyakininya. Kalau salah menjelaskan, murid bisa tambah skeptis, alih-alih mendapat pencerahan.
Dialog ini sebenarnya dimulai dari percakapan antara seorang murid dan guru privatnya tentang chemical bonding. Tapi kemudian percakapan bergulir seperti bola salju, ke arah yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan per-kimia-an.
“Jadi, ikatan kimia antara hidrogen dan klorida pada senyawa HCl, itu jenis ikatan apa?” tanya Ilma kepada murid lesnya.
“Ionic bonding,” jawab Hary.
Ilma mengerutkan dahinya. “Yakin?” dia menanyakan lagi pada Hary.
“Yakin. Kan ion hidrogen bermuatan positif, dan ion klorida bermuatan negatif. Jadi ikatan diantara keduanya adalah ikatan ionik,” Hary menjawab yakin.
“Tapi biasanya kan ikatan ionik itu terjadi pada unsur metal dan non metal. Pada HCL, keduanya adalah unsur non metal. Mereka berbagi elektron, bukan transfer elektron,” Ilma membantah dengan hati-hati. Sambil menjawab, dia juga sambil mencoba melogikannya sendiri, dan dia nyaris yakin pendapatnyalah yang benar.
Hary tersenyum lalu berkata meledek, “Ah, gue nggak percaya kak Ilma ah.”
Ilma balas tertawa, lalu menjawab, “Emang lo nggak boleh percaya sama gue, Har. Percaya tuh sama Tuhan. Kalau percaya sama gue mah musyrik namanya.”
“Gue juga nggak percaya Tuhan,” jawab Hary, masih sambil senyum.
“Bocah gembhlung!” ejek Ilma sambil menertawakan Hary.
“Gue serius, kak. Gue nggak percaya sama segala tetek-bengek agama itu.”
Kali itu Hary tidak mengatakannya sambil tersenyum atau tertawa. Wajahnya tampak mulai serius. Senyum Ilma jadi ikut pudar karenanya. Tapi dia tidak tahu harus merespon bagaimana atas pernyataan muridnya barusan.
“Well, gue sih percaya bahwa Tuhan itu ada, kak,” kata Hary kemudian. “Gue cuma nggak mengerti mengapa menyembah Tuhan harus lima kali sehari, harus bersujud-sujud.”
Ilma jadi bingung sendiri bagaimana harus menanggapi pernyataan sefrontal ini.Alih-alih menjawab, Ilma malah bertanya balik.
“Kalau orang Nasrani, kenapa beribadah setiap hari Minggu?”
“Nah, gue juga nggak ngerti soal itu. Agama tuh sesuatu yang nggak masuk akal buat gue. Jadi gue percaya bahwa Tuhan ada, tapi bagi gue ritual pemujaan seperti sholat atau bernyanyi-nyanyi di gereja itu nggak ada dasar logikanya. Kenapa kita mesti berdoa pada Tuhan dengan cara begitu? Tuhan kan Maha Mendengar, bahkan isi hati kitapun Tuhan tahu. Jadi kita berdoa biasa aja, Tuhan pasti mendengar kan?”
Ilma terpaku mendengarkan.
“Jujur aja kak, gue baru tahu bahwa gue ini beragama Islam ketika berusia 7 tahun. Sebelum itu, gue nggak tahu apa itu agama. Selama kami tinggal di Belanda, orangtua gue nggak pernah membahas itu. Tapi saat pulang ke Indonesia, orang-orang menanyakan agama gue. Barulah gue tanya Mama. Dan Mama bilang agama gue Islam. Cuma itu. “
Ilma tersenyum. Miris dalam hati. Sekarang dia paham, mengapa pendidikan agama paling baik adalah sejak dini, dan oleh orangtua sendiri.
“Bagi gue, agama itu cuma ritual-ritual yang nggak ada dasar logikanya. Agama juga menyusahkan. Banyak banget larangannya. Nggak boleh minum alkohol, nggak boleh makan babi. Mencegah kesenangan-kesenangan duniawi tanpa alasan yang jelas. Memperbolehkan orang menduakan cinta, poligami itu. Bahkan memperbolehkan seseorang membunuh orang lain demi nama agama yang seharusnya menentramkan. Lihat para teroris itu. Jadi apa sebenarnya logika yang masuk akal bagi gue untuk percaya pada agama?”
Inilah yang dimaksud dengan murid yang agnostik, kritis dan cerdas sebagai murid yang membahayakan. Butuh waktu beberapa lama bagi Ilma untuk mencari alasan logis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Hary. Dia takut salah menjawab. Bukannya tidak pernah mempelajari agamanya sendiri, tapi baru kali ini Ilma bertemu dengan orang yang mengkonfrontirnya secara langsung.
“Kak Ilma kenapa selama ini sholat dan puasa? Karena kepercayaan kan? Karena kak Ilma sejak kecil diberitahu bahwa kak Ilma beragama Islam, dan orang Islam wajib sholat dan berpuasa. Kak Ilma melakukannya karena memang kewajiban kan? Bukan karena kak Ilma tahu untuk apa kakak melakukani itu?”
Nah, ini namanya konfrontrasi terbuka nih. Ilma tidak bisa diam saja. Dia bisa saja menjawab dengan mudah bahwa ada lima hal yang harus dilakukan seseorang untuk menjadi seorang muslim. Sholat adalah salah satu kewajiban itu. Tidak melaksanakan salah satunya, berarti seseorang tidak benar-benar bisa dianggap beragama Islam. Tapi mendengar kata “kewajiban” tanpa adanya “alasan logis” mengapa kewajiban itu diwajibkan, Ilma tahu bahwa Hary tidak akan bisa menerimanya begitu saja.
Ilma tersenyum, lebih kepada usaha untuk meredakan suasana hatinya, ketimbang untuk tersenyum pada muridnya itu. Setelah itu dia baru menjawab pertanyaan muridnya dengan hati-hati.
“Hary,” panggil Ilma sok misterius, “Sama sekali belum pernah mendengar alasan kenapa alkohol diharamkan?”
“Karena memabukkan? Jadi kalau minum segelas-dua gelas aja dan nggak mabuk, dibolehkan kan?”
“Memangnya orang mabuk akan mengaku mabuk? Orang mabuk cukup sadar untuk tahu bahwa dirinya sudah mabuk? Apa kalau kamu kuat minum berbotol-botol, itu berarti aku nggak akan mabuk kalau hanya minum segelas? Bukannya daya ambang sadar tiap orang berbeda-beda?”
Hary mengernyit.
“Alkohol diharamkan karena pada kadar sedikitpun akan merugikan. Kamu sekarang cuma minum segelas. Karena rasanya enak, besok kamu coba lagi, lebih banyak. Makin banyak. Kamu mulai ketagihan dan nggak bisa berhenti. Itu sebabnya,” kata Ilma.
“Kalau soal daging babi? Mereka bilang karena ada cacing atau telur cacing di dalam daging babi yang nggak akan mati pada suhu tinggi? Tapi teknologi memasak masa kini nggak mungkin nggak bisa membunuh itu. Jadi kenapa masih diharamkan?”
“Gue kurang tahu soal apakah teknologi memasak jaman sekarang benar-benar bisa membunuh cacing yang lo maksud itu. Yang gue tahu, apa yang kita makan, akan mempengaruhi sifat kita. Itu mengapa beberapa anak pejabat perilakunya kurang baik, mungkin karena dia diberi makan oleh harta yang nggak halal. Sama seperti contoh kasus memakan babi ini.”
“Bukan jawaban yang memuaskan,” kata Hary.
“Sorry,” jawab Ilma sambil angkat bahu. Dia berusaha tetap tampak tenang selagi otaknya terus berputar untuk bisa memberi jawaban yang memuaskan bagi rasa ingin tahu muridnya yang besar itu.
“Tentang teroris?” tanya Hary kemudian.
“Mafia-mafia Italia beragama Nasrani. Apa hanya karena orang-orang itu berkelakuan buruk, lalu berarti agama itu mengajarkan keburukan? Nggak kan? Sama seperti para teroris yang mengatasnamakan jihad.”
“Beda dong kak. Mafia-mafia itu kan juga agamanya cuma di KTP doang, nggak pernah benar-benar ke gereja mungkin. Tapi para teroris itu bukannya pemeluk Islam yang fanatik? Mereka sangat mengerti Islam kan?”
Ilma berpikir sejenak. “Kalau gurumu memberi ujian, lalu 30 orang dari 50 orang temanmu nggak lulus, itu berarti kesalahan gurumu dalam mengajar?”
“Iya lah, itu pasti gara-gara si guru bodoh dan nggak bisa ngajar. Murid sebanyak itu nggak lulus? Pasti salah gurunya.”
“Kalau 2 orang dari 50 orang murid yang nggak lulus, apa berarti gurunya salah mengajar?”
“Kalau itu mah karena muridnya aja yang bodoh dan nggak mengerti. Buktinya 48 orang yang lain lulus kok.”
Ilma tersenyum. “Begitu juga dengan agama,” katanya, “Hanya karena beberapa orang salah memahami agamanya, bukan berarti agama itu yang salah kan? Lo melihat terlalu banyak orang-orang Islam yang mencontohkan keburukan sehingga lo nggak percaya bahwa agama bisa membuat orang menjadi lebih baik. Islam itu rahmatan lil ‘alamin, Hary, rahmat bagi semesta alam. Bukan hanya rahmat untuk muslim, bukan hanya untuk manusia, tapi untuk semesta. Cobalah lebih memahaminya, kamu akan menemukannya.”
Hary mengangkat bahunya.
“Poligami?” ternyata Hary masih melanjutkan, “Saat pacaran aja, kita nggak mau diduakan, apalagi setelah menikah. Jangan bilang itu lebih baik daripada berzina! Kalau memang sudah nggak suka dengan istri pertama, ceraikan aja! Jangan diduakan!”
“Pernah dengar kenapa dulu Rasulullah berpoligami?”
“Pernah. Dia menikahi janda-janda yang suaminya meninggal saat perang. Supaya janda-janda itu nggak terlantar. Betul begitu? Tapi nggak ada korelasinya sama model poligami jaman sekarang.”
“Lo mengetahui cukup banyak untuk ukuran seorang agnostik,” kata Ilma memuji.
“Gue tahu cukup banyak untuk tidak membiarkan diri gue terhanyut dalam omong kosong soal agama, ritual-ritual ibadah, dan semacamnya.”
Ilma benar-benar merasa dirinya dalam bahaya. Sedikit saja dia salah bicara, anak ini pasti akan makin skeptis pada agama. Mungkin suatu hari nanti, jika tak terselamatkan lagi, Hary bisa berubah dari seorang agnostik menjadi seorang atheis. Bahaya!
“Haryo Wibowo,” kata Ilma.
“Kenapa sih lo manggil nama lengkap gue? Gue nggak suka, kak. Panggil Hary aja! Lo memanggil gue Haryo untuk mengintimidasi gue ya?”
Ilma tertawa. Dia sudah tahu sejak lama bahwa Hary tidak suka dipanggil dengan nama lengkapnya. Terkesan ndeso dan ‘terlalu Jawa’, katanya.Dia lebih suka dipanggil Hary, dengan pelafalan seperti Harry Potter, karena bagitulah teman-teman kecilnya di Belanda dulu memanggilnya.
“Hary,” Ilma mengulang sambil tersenyum. “Al Qur’an yang memperbolehkan poligami itu diturunkan untuk menjadi petunjuk bagi umat Rasulullah hingga akhir jaman. Mungkin ada masanya nanti keadaan yang memaksa laki-laki berpoligami, dengan alasan yang sama dengan pada masa Rasulullah. Jadi Al Qur’an membolehkannya. Sepakat dengan lo kali ini, gue merasa sekarang belum sampai pada saat yang mendesak itu sehingga pria berpoligami.”
Hary tersenyum. Kali ini pendapatnya didukung.
“Tapi lagi-lagi, hanya karena sekelompok orang, kenapa membuat lo skeptis pada sesuatu yang lo belum tahu? Sesuatu yang bahkan kamu belum mencoba mengenalnya.”
Senyum Hary memudar. Ternyata Ilma belum sepikiran dengannya.
“Dan alasan kenapa lo sholat sehari lima kali? Bukannya itu membuang waktu?” tanya Hary, masih mencecar.
“Kalo Hary mau ketemu presiden, apa yang harus lo lakukan?” Ilma balik bertanya.
“Maksud lo kak?”
“Lo harus bikin surat permohonan kunjungan ke istana negara. Melalui serangkaian prosedur. Diperiksa pasukan pengaman presiden sebelum masuk. Dan ritual lainnya. Dan itu benar-benar menghabiskan waktu.”
Hary mengernyit, seolah mulai mengerti maksud Ilma.
“Kalau lo mau bertamu ke rumah orang, lo harus meminta ijin sebelum masuk. Ada rumah yang punya bel, lo cukup menekan bel. Tapi ada rumah yang nggak punya bel, jadi lo harus mengetuk pintunya. Sama seperti ibadah, Ry.
Lu mau ketemu presiden aja ada tata kramanya. Masa ketemu Tuhan, nggak pakai tata krama? Betul lo bilang bahwa Tuhan Maha Mendengar, jadi lo cukup berdoa dalam hati, maka Tuhan mengabulkan. Tapi bahkan kepada presiden yang nggak memahami hati lo, dan belum tentu bisa mengabulkan semua keinginan lo, lo bersopan santun padanya. Masa kepada Tuhanmu yang menciptakan, mendengarkan dan mengabulkan keinginan-keinginan lo, lo nggak tahu tata-krama? Lo nggak malu?”
Hary terdiam. Dia merasa malu dan tertampar.
“Tentang kenapa kita mesti bersujud-sujud menyembah,” lanjut Ilma, “Karena itulah cara yang diajarkan Rasul. Tiap agama punya cara berbeda dalam meminta ijin masuk ke rumah Tuhannya, ada yang menekan bel atau mengetuk pintu.”
Hary terdiam. Kali ini dia mati kutu. Analogi Ilma yang kali ini cukup menghantam logikanya dengan tepat sasaran.
“Kenapa Tuhan mengharuskan kita menyembahnya?” tanya Hary, beberapa saat setelahnya. Dia nampak masih belum puas bertanya.
“Nggak harus,” jawab Ilma santai. “Tuhan nggak butuh untuk kita sembah. Justru kita yang butuh menyembahnya kan? Kalau lo bilang bahwa lo masih percaya Tuhan, maka lo tahu bahwa di saat tersulit lo akan meminta bantuan Tuhan. Lo hanya nggak mau mengikuti aturan Tuhan. Padahal kalau mau minta sesuatu presiden, lo harus mengikuti aturan dan persyaratannya.”
Perasaannya seperti tertampar bolak-balik kiri-kanan atas-bawah. Hary kaku di kursinya. Logika Ilma barusan sangat mengena. Tapi dia tetap belum bisa mengerti seluruhnya. Pertanyaan-pertanyaan bergejolak di kepalanya.
“Masih banyak hal tentang agama kita yang nggak sesuai dengan logika gue,” kata Hary akhirnya. “Pasti lo berpikir gue ini buruk banget ya kak?”
“Kenapa rasa ingin tahu itu buruk?” Ilma balik bertanya. “Seorang guru akan sangat senang kalau muridnya punya rasa ingin tahu yang besar.”
“Jadi lo nggak marah kalau lain kali gue tanya-tanya lagi?”
“Kenapa harus marah?” Ilma malah balik bertanya lagi. Kali ini sambil tersenyum. “Gue akan senang menjawab kalau gue tahu. Tapi kalau jawaban gue tetap nggak masuk akal bagi lo, carilah jawaban dari guru yang lebih mengerti agama. Bacalah Al Qur’an. Pengetahuan gue tentang agama nggak sedalam itu, Har, mungkin nggak akan bisa memuaskan kehausan ilmu lo. Belajar dari orang yang bukan ahlinya akan menyebabkan kesalahpahaman. Dan lo bisa jadi makin skeptis pada Islam akhirnya. Gue nggak mau itu terjadi. Kesalahpahaman pada orang secerdas lo adalah suatu kesia-siaan. Tanyalah pada gue. Tapi belajar juga pada yang lebih pintar dari gue.”
Hary tersenyum. “Thanks kak, lo nggak memandang rendah gue hanya karena gue nggak percaya pada agama kita.”
Ilma tersenyum. “Gue nggak akan memandang rendah pada murid gue yang pintar ini, yang mau mencari alasan tentang keimanannya.”
Hary sumringah. Ilma menjulurkan lidahnya dengan gaya lucu.
“Tapi Har, satu hal yang harus lo ingat,” kata Ilma menambahkan, “Hanya karena lo nggak tahu sesuatu, bukan berarti sesuatu itu nggak ada. Hanya karena lo nggak tahu alasannya, bukan berarti nggak ada alasannya. Mungkin lo cuma belum tahu alasannya, maka cari tahulah. Atau mungkin karena otak manusia belum sanggup mencerna alasan itu? Seperti seorang ibu yang melarang anaknya yang berusia 3 tahu bermain petasan. Ada ibu yang hanya melarang tanpa memberi tahu alasannya, karena meski dijelaskan, si anak nggak akan mengerti. Saat sudah besar dan si anak lebih mengerti, beliau akan mengatakan bahwa main petasan membahayakan karena bisa meledak. Begitu juga dengan kita dan Tuhan.”
Pada akhirnya harus diakui bahwa tidak ada hubungan guru-murid yang absolut, karena bisa jadi justru murid kitalah yang mengajari kita tentang kehidupan. Dan itulah yang dilakukan Hary. Menyadarkannya bahwa berislam tidak hanya cukup menjalankan “ritual”nya, tapi juga memahami logikanya. Meski tidak semua hal bisa dilogikakan, tapi akhirnya dia menyadari bahwa Islam adalah agama yang paling masuk akal dan logis.
Bagi Ilma, dialog absurdnya dengan sang murid, yang entah mengapa merambat dari sekedar chemical bonding menjadi bahasan akidah, telah menjadi tamparan terhadap dirinya sendiri. Dia menyesal, mengapa dia belum sedalam itu mempelajari agamanya sendiri sehingga tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan muridnya dengan memuaskan. Sejak itu Ilma bertekad memperdalam pengetahuannya tentang agamanya. Bukan karena tuntutan sebagai guru yang mengharuskannya untuk lebih tahu daripada muridnya. Tapi Hary telah mengingatkan Ilma bahwa seharusnya keinginan untuk memperdalam agamanya tidak boleh putus hanya karena dirinya sudah berislam.
Maka mencarilah!
Kau MUNGKIN akan menemukan Tuhanmu!
Tapi Tuhan PASTI menemukanmu!
Minggu, 07 Agustus 2011
BILANG SAJA
Bilang saja aku terpaku
Kau juga tahu bukan kuasaku
Membuat kenangan membeku
Lalu begitu saja menutup buku
Bilang saja aku biru
Mengenang hari-hari haru
Juga masa-masa seru
Serta tugas yang memburu
Bilang saja aku tak tahu malu
Masih saja duduk di dahan dedalu
Bicarakan kesah dan kelu
Tak habis melulu
Bukan tak tahu bagaimana memulai yang baru
Mungkin aku hanya butuh waktu
Atau tunjukkan aku guru
Agar aku berpaling dari masa lalu
Kau juga tahu bukan kuasaku
Membuat kenangan membeku
Lalu begitu saja menutup buku
Bilang saja aku biru
Mengenang hari-hari haru
Juga masa-masa seru
Serta tugas yang memburu
Bilang saja aku tak tahu malu
Masih saja duduk di dahan dedalu
Bicarakan kesah dan kelu
Tak habis melulu
Bukan tak tahu bagaimana memulai yang baru
Mungkin aku hanya butuh waktu
Atau tunjukkan aku guru
Agar aku berpaling dari masa lalu
Langganan:
Postingan (Atom)