Luna Lovegood inside. Noda Megumi outside.

Minggu, 20 November 2016

BENCI

Setidaknya satu kali dalam hidup, kita bertemu dg seseorang yg memiliki sesuatu yg sangat kita inginkan. Tapi bagaimanapun kita mencari, kita tidak bisa menemukan alasan untuk membenci orang tersebut. Lalu kita mulai membenci diri kita sendiri karena tidak lebih pantas untuk mendapatkan hal yg kita inginkan tsb. Sampai akhirnya kita berusaha agar menjadi lebih kuat dan lebih baik agar kita pantas mendapatkan kesempatan berikutnya.

Setidaknya satu kali dalam hidup, kita pernah ingin membenci seseorang yg tidak bisa dibenci. Saat itulah kita sadar bhw orang itu datang dan mengambil sesuatu yg kita inginkan agar di masa depan kita pantas mendapatkan hal yg kita butuhkan.

PENCARIAN

Dua hari lalu, saya membantu seorang mahasiswa untuk mengisolasi RNA dari sampel paru-paru mencit. Saat itu saya memintanya mengambil sampel yang tersimpan di freezer. Pertama kali dia datang kepada saya dengan membawa 8 dari 10 sampel yang ada. Dia bilang, dia tidak menemukan 2 sampel lainnya. Saya memintanya untuk mengecek kembali di tempat yang sama, karena kesepuluh sampel tersebut disimpan di kotak yang sama, sehingga tidak mungkin dia tidak menemukannya disana. Tapi dia kembali menemui saya 15 menit kemudian dan mengatakan bahwa dia benar-benar tidak menemukan tube berisi sampel yang saya maksud. Akhirnya saya mengikuti dia ke tempat penyimpanan sampel tersebut. Di kotak sampel tersebut, diantara 70 tube lainnya, saya tidak kesulitan menemukan 2 sampel yang dimaksud tersebut. Bukan karena saya tahu bagaimana rupa/ penampakan tube sampel yang saya cari, tapi karena saya benar-benar mencari tanpa ekspektasi apapun.

Saya bilang pada mahasiswa saya tersebut “You know what you are looking for. But you expect too much on seeing certain thing. That’s why you can not find the thing you search for eventhough it’s in front of your eyes.”

Sadarkah kita bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita seperti itu? Kita mencari sesuatu, tanpa tahu apa yang harus kita temukan. Kita menemukan sesuatu, tanpa tahu bahwa hal tersebut yang kita cari. Mungkin itu mengapa kita merasa tidak mendapatkan apa-apa. 
Misal kita mencari kebahagiaan kemana-mana, karena orang-orang lain tampak bahagia ketika mereka berada di tempat tertentu, atau saat mencapai hal tertentu, atau saat bersama orang tertentu. Padahal apa yang membuat orang lain bahagia belum tentu membuat kita bahagia. Kita mencari kemana-mana, tanpa tahu apa yang sebenarnya ingin kita temukan. Kita menemukan sesuatu tapi tetap merasa hampa karena kita merasa bahwa bukan itu yang kita cari.

Ketika kita mencari sesuatu, di kepala kita, kita sudah membayangkan tentang sesuatu tersebut. Di satu sisi, tentu hal ini baik, karena memberi tolak ukur tentang keberhasilan pencarian. Tapi di sisi lain, bisa jadi bayangan/ harapan kita tentang target yang kita cari tersebut tidak selalu sesuai dengan hal yang ada di kenyataan.
Misalnya, kalau di pikiran kita, kita sudah menetapkan bahwa yang harus kita temukan adalah Lee Min Ho, maka wajar saja kalau kita tidak pernah menyadari Song Jong Ki yang mondar-mandir di hadapan kita.
Seperti mungkin ketika kita mencari seseorang jauh-jauh kemana-mana, padahal yang kita cari sebenarnya selama ini sudah berada begitu dekat. Selalu di dekat kita.

Pertanyaan berikutnya, mengapa meski kita telah menemukan sesuatu, kadang kita tetap merasa perlu terus mencari?


Groningen, 29 April 2016

MANTAN

Sudah beberapa pekan ini saya mengalami krisis freezer. Freezer saya sudah penuh dengan sampel sehingga saya sering numpang menyimpan sampel di freezernya partner slicing saya. Karenanya, hari ini saya mendedikasikan 2 jam waktu saya untuk beres2 freezer.
Selama 2 jam tersebut saya memilih dan memilah sampel mana saja yg sudah selesai dikerjakan dan bisa dibuang. Terutama saya hanya menyisakan sampel organ manusia untuk disimpan. Sepertiga sampel saya akhirnya dibuang. Sekarang saya punya cukup tempat untuk menyimpan sampel2 baru yang akan saya kerjakan di masa mendatang.

Kenangan dan masa lalu juga begitu. Harus dipilih dan dipilah, selebihnya dibuang saja. Karena ruang di hati kita, dan memori di pikiran kita, tempatnya terbatas. Kalau kita berkeras tetap menyimpan semua hal di masa lalu, suatu saat kita akan merasa penuh. Tidak ada lagi tempat di hati dan pikiran kita yang tersisa untuk masa depan.

Setelah akhirnya berhasil memilah dan membuang sampel2 masa lalu, saya merasa leghaaaaa banget. Jauh lebih lega dibanding saat bisa melupakan mantan #halah hahaha.

Ngomong2, orang yang suka nulis gini di media sosial:
#DearMantan, maaf ya aku nikah duluan
Atau
#DearMantan, lihat kan, aku bahagia tanpa kamu
Atau
#DearMantan, maaf aku udh move on
Sesungguhnya justru adalah orang2 yang belum move on. Para "move-on"er sejati tidak pernah lagi peduli apa yang dilakukan mantan, tidak peduli siapa yg nikah duluan, dan tidak lagi khawatir mantannya tidak tahu bahwa dia sdh bahagia.
Orang2 yang masih khawatir mantannya menganggap dia tidak bahagia adalah orang2 yang masih memedulikan apa yg dipikirkan mantannya. Maka sesungguhnya dia masih peduli pd sang mantan.

Percayalah, tidak ada yang lebih membuat cemburu hari ini selain masa lalu. Karena hari ini masih bisa mengubah hari esok, tapi ia tidak bisa mengubah masa lalu. Mungkin itu mengapa beberapa orang merasa lebih cemburu kepada mantannya si pacar daripada kepada fans2nya si pacar.


Groningen, 30 April 2016

PENYAKIT PECUNDANG

Sejak dulu saya selalu merasa bahwa saya antimainstream. Kalau bukan karena antimainstream, apa lagi alasannya jika saya selalu memilih hal yang tidak biasa dipilih orang lain? Misalnya, kenapa saya lebih tergila-gila pada Seo Dae Yeong daripada Yoo Shi Jin? Kenapa saya jatuh cinta pada Fred Weasley alih-alih Harry Potter yang terkenal. Kenapa saya lebih tertarik pada Luna Lovegood daripada Hermione Granger? Dan terakhir, kenapa saya lebih memihak Trian daripada si tampan-kharismatik Rangga?

Secara singkat, saya punya kecenderungan untuk lebih menyukai pemeran tambahan dalam suatu cerita. Dulu saya pikir saya antimainstream, sampai beberapa waktu lalu.
Ada teman yang bilang bahwa itu disebut Penyakit Pecundang. Pernah dengar istilah itu? Betul, istilah itu pertama kali dicetuskan oleh Luna Lovegood: Looser’s Lurgy. Teman saya bilang, mungkin saya juga mengidap penyakit pecundang. Alih-alih mengasosiasikan diri dengan pemeran utama suatu cerita, saya lebih suka mengasosiasikan diri dengan pemeran pembantu. Katanya, itu mungkin karena saya tidak pernah berani menjadi pemeran utama, bahkan di kehidupan saya sendiri. Hahaha. Mungkin dia menghubungkan penyakit pecundang itu dengan penyakit minder saya.
Tapi terlepas dari teori suka-suka teman saya, saya punya alasan sendiri mengapa menyukai peran-peran selain pemeran utama. Karena saya percaya bahwa setiap peran, sekecil apapun peran tersebut, adalah peran yang penting. Lagipula, banyak hal yang bisa dipelajari dari para pemeran pembantu dalam setiap cerita. Misalnya, Seo Dae Yeong.

Salah satu alasan kenapa saya tergila-gila pada Seo Dae Yeong adalah karena dia tidak menyerah pada rasa mindernya. Dia tahu bahwa dia tidak pantas, tapi dia berjuang untuk pantas mendapatkan hal yang dia inginkan.
Hal ini sejalan dengan yang saya diskusikan dengan sahabat saya beberapa waktu lalu, sambil eksperimen dengan mencit di lab dan mendengarkan lagu Locked Away-nya Adam Levine.

If I got locked away
And we lost it all today
Tell me honestly would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly would you still love me the same?

Sahabat saya bilang, “Saya nggak sepenuhnya setuju dengan lagu ini …” ketika dia mendengar lagu tersebut. Menurutnya, kita mencintai seseorang karena kekurangan dan kelebihannya. Seperti kita tidak mungkin mengharapkan bersama dengan seseorang yang sempurna, seperti itu pula kita tidak bisa mengharapkan seseorang tetap bersama kita kalau semua yang kita tawarkan adalah kekurangan. Ibarat melamar kerja, calon bos pasti akan tanya “Menurut Anda, apa kelebihan Anda sehingga kami perlu menerima Anda bekerja disini?”. Seperti itu juga saat melamar anak orang.
Saya langsung jleb dengan pernyataan sahabat saya ini. Saya jadi mikir sendiri, kelebihan apa yang saya punya? Makin dipikir, kok kayaknya saya nggak punya kelebihan. Saya bisa melakukan banyak hal, tapi tidak pernah menonjol dalam satu hal. Makin dipikir, makin terasa seperti saya tidak punya kelebihan yang menonjol dan patut dibanggakan.
Lalu sahabat saya berkata, “Kamu pasti punya kelebihan. Mungkin kamu cuma nggak sadar.” Dia kemudian membuat saya mengingat tulisan saya sendiri beberapa waktu lalu. Kalau kita melihat cowok ganteng yang pacarnya nggak cantik-cantik amat, kita tidak bisa langsung menyepelekan, karena bisa jadi perempuan yang nampak biasa ini sebenarnya luar biasa dalam memasak, luar biasa sabar, luar biasa lucu, atau luar biasa mengatur keuangan. Hanya karena kita tidak bisa melihat kelebihan seseorang, bukan berarti orang tersebut tidak punya kelebihan.
Oleh karena itu lagu Adam Levine dinilai tidak sesuai oleh sahabat saya. Setidaknya kita harus menawarkan satu kelebihan kita untuk bisa tetap disayangi oleh seseorang. Setidaknya, kita harus berusaha menjadi orang yang pantas dibanggakan oleh orang yang kita sayangi.

Maka seperti itulah Seo Dae Yeong. Meski awalnya dia memutuskan untuk menjauhi Yoon Myung Joo karena merasa minder dan merasa tidak pantas bersama Myung Joo yang berasal dari keluarga terpandang dan berpangkat lebih tinggi darinya, tapi pada akhirnya ia memutuskan untuk berjuang. Saat ayahnya Yoon Myung Joo bertanya menantang “Memangnya kamu pantas menggenggam tangannya?”, Dae Yeong berkata “Saya tidak akan melepaskan tangannya.” Dia memutuskan untuk memperjuangkan Myung Joo, dan menjadi orang yang pantas dibanggakan Myung Joo di hadapan ayahnya.
Mengapa Seo Dae Yeong meski tahu bahwa dirinya tidak pantas bagi Myung Joo, tapi tidak menyerah untuk menjadi lebih baik dan pantas untuk Myung Joo? Karena Myung Joo tidak pernah melepaskannya, meski Dae Yeong berkali-kali melarikan diri.

Lucu kan? Kadang orang yang selalu melarikan diri sebenarnya adalah orang yang paling ingin digenggam tangannya.


Groningen, 16 Mei 2016

BORING

Beberapa pekan lalu teman seruangan saya yang berasal dari Negeri Tirai Bambu mudik ke kampung halamannya dan meninggalkan saya berdua dengan sahabat saya yang berasal dari Negeri Gajah (bukan Lampung #halah). Alhasil kami nyaris kemana-mana berdua saja. Di lab berdua, di ruangan berdua, makan siang berdua, makan malam berdua (soalnya ngelab sampai malam), pergi wisata berdua, sampai nonton iklan dari negaranya (yang terkenal melodramatis dan lebih mirip short drama daripada iklan) berdua. Sejak saat itu, sahabat saya ini suka sekali memanggil saya dengan panggilan khusus.
Semua berawal ketika suatu hari dia melihat saya sudah berada di ruangan kami ketika dia datang. Menurut saya, dia adalah salah satu mahasiswa yang paling rajin di departemen kami. Dibanding teman-teman lain, dia biasa datang ke kampus paling pagi. Itu mengapa dia heran ketika saya sudah berada di ruangan ketika dia masuk ke ruangan kami.

“Ada kabar bahwa saya akan dapat sampel paru-paru dari pasien fibrosis,” kata saya menjelaskan, “Belum tahu kapan sampelnya datang, tapi saya harus siap sewaktu-waktu untuk mengambil sampel. Makanya saya datang lebih pagi.”
Lalu dia menawarkan membantu eksperimen saya. Saya menolak dan mengatakan bahwa saya bisa mengerjakannya sendiri sehingga dia tidak perlu khawatir.
“Apa Adhy akan membantu kamu?” dia bertanya tentang sahabat sekaligus partner in crime saya di lab. Saya dan mas Adhy ini dibimbing oleh pembimbing yang sama sehingga kami sering sekali berkolaborasi dalam eksperimen.
“Nanti Adhy akan mengisolasi fibroblast dari sampel itu,” kata saya.
“Jadi siapa yang bantu kamu slicing?”
Bagi yang belum tahu, eksperimen saya disini melibatkan proses pengujian efek obat secara ex vivo dengan menginkubasi irisan tipis (slice) paru-paru mencit dan manusia dengan sejumlah kandidat obat.
Atas pertanyaan sahabat saya itu, saya menjawab bahwa saya bisa mengerjakannya sendiri. Tapi ketika akhirnya sample itu datang, dia tahu-tahu sudah mengikuti saya ke lab, dan membantu saya. Padahal saat itu sudah waktunya pulang sekolah. Saya sempat mencegahnya membantu saya lebih jauh, tapi dia berkeras. Dengan wajah galak dan serius, dia menyuruh saya untuk melanjutkan pekerjaan saya ketimbang sibuk melarangnya membantu.
“Jangan ngomong melulu! Cepat kerja!” katanya galak.
Dengan bantuannya, saya yang biasa menyelesaikan pekerjaan ini dalam 4 jam, saat itu saya selesai hanya dalam 2 jam. Menghemat waktu dua kali lipat sehingga saya tidak harus pulang terlalu malam. Tapi malam itu juga dia memarahi saya. Dia benci pada sifat saya yang tidak pernah mau minta tolong, dan tidak pernah mau ditolong, padahal jelas-jelas saya memerlukan bantuan untuk menyelesaikan eksperimen tersebut dengan lebih cepat.
“Kenapa tadi melarang saya membantu?” dia bertanya.
“Kan nggak enak kalau merepotkan. Kamu jadi pulang lebih malam karena membantu saya. Saya kan jadi merasa bersalah.”
“Kalau saya ada sampel liver manusia dan kamu membantu saya, apa kamu bermaksud membuat saya merasa bersalah?”
“Nggak lah. Kenapa kamu harus merasa bersalah?”
“Nah! Kenapa kamu harus merasa bersalah?” dia membalikkan kata-kata saya.
Dia bilang, sesama rekan se-lab harus saling membantu. Tidak perlu merasa bersalah untuk minta tolong.
Saya mengangguk pasrah mendengar ceramahnya. Memangnya saya bisa apa lagi selain mengangguk pasrah. Tapi sepertinya dia tahu bahwa meski mengangguk, saya tidak mempedulikan nasehatnya, dan pasti akan tetap diam saja jika lain kali saya membutuhkan pertolongan.

Selain prinsip bahwa “tidak boleh datang ke suatu acara bahagia jika tidak diundang”, dan “usahakan datang ke acara sedih untuk memberi dukungan, meski tidak diundang”, saya juga memegang prinsip untuk tidak meminta bantuan orang lain jika saya masih bisa mengerjakannya sendiri. Maka jika saya sampai meminta bantuan kepada seseorang, itu karena dua alasan: pertama, karena memang tidak ada cara lain selain meminta bantuan orang lain, dan kedua, karena saya sudah merasa dekat dengan orang tersebut, sehingga (meski saya tetap merasa bersalah telah merepotkan, tapi) saya tidak lagi malu meminta bantuan kepadanya (kasihan banget ya orang yang saya anggap dekat ini, selalu saya minta bantuannya terus). Sikap seperti ini sepertinya didukung oleh pembawaan saya yang introvert, sehingga (meski bisa bekerja bersama, tapi) lebih suka bekerja sendiri.
Prinsip seperti inilah yang membuat saya tidak bisa menjadi seorang pemimpin. Alih-alih berusaha menyelesaikan semua masalah sendirian, peorang pemimpin yang baik haruslah pandai mendelegasikan tugas-tugasnya kepada semua pihak sehingga tujuan bersama dapat tercapai.

Sebenarnya, bukan hanya rasa sungkan dan rasa bersalah yang saya rasakan ketika saya harus meminta tolong orang lain, atau menerima bantuan dari orang lain. Tapi juga perasaan berhutang budi. Saya tidak suka memiliki perasaan berhutang budi. Oleh karena itu, saya selalu berusaha mengerjakan semuanya sendiri (kecuali memang sangat terpaksa harus meminta tolong orang lain), supaya saya tidak memiliki kewajiban membalas budi.
Pernah baca salah satu note saya tentang perasaan nggak enak? Bahwa (bahkan melebihi kadar rasa nggak enak orang Indonesia normalnya) saya memiliki kadar rasa nggak enak yang abnormal. Jangankan kepada orang yang sudah membantu saya sehingga membuat saya merasa berhutang budi, bahkan kepada orang yang hubungannya dengan saya biasa sekalipun saya kesulitan menolak/ berkata tidak atas permintaan mereka. Bayangkan bagaimana jika orang yang telah membantu saya ini (dan membuat saya merasa berhutang budi ini) yang meminta tolong, maka sudah bisa dipastikan saya tidak bisa menolak permintaannya. Bayangkan lagi jika permintaan yang diajukan orang tersebut bertentangan dengan pendapat saya, bagaimana sakitnya saya harus menolak permintaan orang tersebut. Itu mengapa saya tidak suka berhutang budi pada orang. Saya takut rasa hutang budi saya ini akan dimanfaatkan orang untuk membalas budi kepadanya.
“Jadi saat kamu menolong eksperimen saya, apa kamu bermaksud supaya saya membalas budi dan menolong eksperimen kamu?” kata sahabat saya yang asal negeri gajah putih itu.
“Nggak lah. Kok kamu mikirnya gitu?”
“Atau kamu menganggap kalau saya menolong eksperimen kamu itu supaya lain kali kamu membalas budi dengan menolong eskperimen saya?”
“Nggak kok.”
Sahabat saya itu bilang, pasti ada yang salah dengan saya. Entah dengan otak saya. Atau dengan jiwa saya. Mungkin dia cuma mau bilang bahwa saya sakit jiwa.

Mungkin benar, saya sakit jiwa. Saya terlalu berprasangka buruk pada orang. Hanya karena beberapa kali saya menyaksikan seseorang berbuat baik lalu berharap dibalas, atau seseorang yang menolong lalu berharap diistimewakan, atau orang yang mendekat hanya untuk memanfaatkan, lalu saya berprasangka bahwa semua orang berbuat baik supaya kebaikannya diingat dan dibalas oleh orang yang ditolongnya. Meski kadang terjadi ada orang yang menyumbang lalu berharap diistimewakan dan tidak dikenai hukuman jika bersalah, tapi bukan berarti semua orang seperti itu. Meski ada orang yang mempedulikan rakyat kecil hanya supaya dipilih oleh rakyat kecil tersebut, tapi bukan berarti semua orang yang peduli rakyat kecil pasti ada maunya.
Mungkin saya harus belajar mempercayai orang lain. Bahwa tetap ada orang yang tidak memanfaatkan kebaikannya untuk kepentingannya di masa mendatang. Meski kita semua tahu bahwa kebaikan adalah investasi yang paling pasti kembali kepada diri kita sendiri, tapi selalu ada orang baik yang tidak memanfaatkan kebaikan yang dilakukannya sebagai investasi, dan percaya bahwa jika tidak ada orang yang membalas kebaikan mereka, maka Tuhan akan membalasnya.
Sahabat saya bilang, saya harus belajar mempercayai orang lain. Dan belajar menerima kebaikan orang lain.

Sejak saat itu, selain hobi barunya memanggil saya dengan panggilan sayang, sahabat saya itu secara otomatis akan memaksa untuk membantu eksperimen saya tiap kali saya mendapat sampel paru-paru manusia.
“Nggak perlu merasa berhutang budi! Kamu cuma berhutang seribu euro ke saya,” katanya sambil tertawa, setiap kali. “Boring woman.” Tidak lupa dia selalu menambahkan panggilan itu di setiap akhir kalimatnya.



Groningen, 23 Mei 2016

CARA MENCINTA

Masing-masing dari kita dibesarkan di keluarga yang berbeda, dalam lingkungan yang berbeda, sehingga memiliki nilai2 dalam hidup yang berbeda pula. Sekali nilai-nilai tersebut terpatri kuat, maka akan sulit untuk diubah. Seperti sama sulitnya untuk mengubah persepsi bahwa ibu bekerja dan ibu rumah tangga sama mulianya, atau seperti susahnya mengubah pandangan bahwa kita tetap bisa berpuasa meski orang-orang pakai tanktop berkeliaran di Noordenplantsoen sambil makan es krim siang hari bolong tanpa ditutup tirai.

Salah satu nilai yang akan tertanam dengan kuat di dalam diri kita adalah tentang cara mencintai. Saya dibesarkan dalam keluarga dimana sang ibu bekerja, sehingga sudah terpatri dalam diri saya bahwa menjadi ibu yang bekerja di luar rumah bukanlah suatu dosa. Karena kedua orangtua bekerja, dan sejak saya SMP, tidak ada lagi mbak yang membantu kami di rumah, maka semua urusan rumah tangga dibagi bersama. Maka bagi saya, melihat Bapak mencuci piring selagi Ibu memasak, adalah hal yang wajar. Di mata saya, laki-laki tidak menjadi rendah karena membantu pekerjaan istrinya. Cowok yang pandai masak dan beres-beres justru dengan mudah bisa membuat saya meleleh. Bukan hanya urusan rumah tangga, tapi semua permasalahan di rumah ditanggung bersama. Ibu membantu Bapak membiayai kebutuhan rumah tangga, dan Bapak membantu Ibu mengambil rapor anak-anak, misalnya.
Karena saya dibesarkan dengan pemandangan seperti ini sejak kecil, maka nilai-nilai inilah yang terpatri dalam diri saya. Bahwa mencintai adalah berbagi. Maka bagi saya, cara mencintai adalah dengan cara berbagi.

Ada pepatah yang bilang bahwa cinta tidak pernah salah. Yang salah adalah jika kita mencintai orang yang salah (yg ngajak pacaran bertahun-tahun tapi ga ngajak nikah misalnya), pada waktu yang salah (jika kita bertemu seseorang yang kita cintai tepat sehari setelah dia menikahi orang lain, misalnya), atau dengan cara yang salah.
Maka jika kita melihat ada orang yang mencintai dengan cara yang salah, mungkin karena nilai-nilai yang terpatri di pikirannya memang begitu. Baginya, mungkin caranya mencintai tidaklah salah. Bisa jadi, orang-orang yang mencintai dengan cara yang salah disebabkan karena orangtuanya dulu menunjukkan cinta dengan cara yang salah, sehingga dia menganggap bahwa cara tersebut adalah cara yang benar.

Tiap orang mencintai dan menunjukkan cinta dengan cara yang berbeda. Ada yang dengan rajin memberi perhatian, rajin membantu di lab, atau meski jarang menelpon tapi rajin mendoakan. Maka, demi supaya orang yang dicintai tahu bahwa sedang dicintai, dan yang mencintai tahu bahwa cintanya tak bertepuk sebelah tangan #tsaaahhh, mereka perlu berkomunikasi.
Misalnya, ada anak yang merasa sudah menunjukkan rasa cintanya kepada orangtua dengan membiayai kebutuhan hidup orang tuanya, meski ia jarang datang menemui orangtuanya karena sibuk. Di sisi lain, meski anak sudah merasa menunjukkan rasa cinta, tapi orangtua merasa tidak dicintai karena mungkin bagi mereka wujud rasa cinta adalah dengan datang menemui, berbincang sambil memijit kakinya, dan bukan sekedar mentransfer biaya hidup bulanan.
Contoh lainnya, ada anak yang menunjukkan rasa cinta kepada orangtua dengan memberi perhatian. Tapi si orangtua merasa belum dicintai karena si anak tidak bisa membelikannya barang yang diinginkannya.
Maka dengan saling berkomunikasi, diharapkan pihak yang mencinta dan pihak yang dicinta sama-sama merasa cintanya berbalas.

Cara kita mencintai perusahaan tempat kita bekerja juga berbeda-beda. Ada yang menunjukkan cintanya dengan mendedikasikan akhir pekannya membuat laporan validasi produksi, misalnya. Ada yang menunjukkan cintanya dengan mengkoreksi ujian mahasiswa tengah malam ketika buah hati sudah tidur, misalnya. Ada yang mencintai dengan mengoptimalkan kinerjanya pada jam kerja, sehingga meski ia tidak mengerjakan pekerjaan kantor di rumah, tapi pekerjaannya sudah beres. Maka menilai cinta seseorang kepada perusahaanya hanya dengan melihat apakah pegawai tersebut rajin lembur atau tidak, adalah cara yang salah.
Tahu slogan work-life balance kan? Katanya orang yang kerjaannya lembur melulu, itu justru bukan orang yang bekerja dengan baik. Bisa jadi ia:
1. tidak bisa mengoptimalkan kinerjanya pada jam kerja sehingga harus bekerja melebihi waktu
2. terpaksa mengerjakan pekerjaan orang lain yang dilimpahkan kepadanya
3. bekerja di perusahaan yang memiliki budaya "kalau pulang lebih cepat daripada Sensei, artinya situ pemalas"
4. emang jomblo aja, jadi daripada pulang ke kosan ga ada yang menyambut, ya mending lembur sampai malam di kantor.

Maka, sekali lagi, supaya kita tidak merasa bertepuk sebelah tangan, mari komunikasikan cara kita mencinta. Kalau kita merasa orang yang kita cintai mencintai dengan cara yang salah, maka tunjukkanlah cara mencintai yang benar.
Orangtua tidak mungkin berharap agar anaknya bertutur kata santun padanya jika sejak kecil si anak melihat ayahnya membentak-bentak ibunya kan? Maka sebagai orangtua dan pemimpin, tunjukkanlah cara mencintai yang benar, sehingga generasi muda kita bisa mencintai (mencintai bangsanya, misalnya) dengan cara yang benar.

MANFAAT ILMU

Siswa malas mempelajari sesuatu biasanya krn mereka tdk memahami manfaat dr ilmu tersebut. Maka, sblm mulai menyampaikan suatu pelajaran, ada baiknya para guru menyampaikan manfaat dr materi yg diajarkan tsb untuk kehidupan sehari-hari.

Misal, sebelum mengajar materi "kecepatan dan percepatan" untuk pelajaran fisika, ada baiknya guru menyampaikan bahwa materi tsb penting untuk dipelajari karena materi tsb akan bermanfaat di masa mendatang untuk:
1. Memperkirakan waktu perjalanan ke rumah pacar, supaya nggak telat ngapel (kalo telat ng-apel, nanti di-anggur-in lho)
2. Memperkirakan waktu perjalanan di Jakarta (termasuk faktor perlambatan akibat macet), spy nggak ada lagi alasan "maaf terlambat, krn macet" (ya kan jakarta emang macet tiap hari. Maka alasan terlambat krn macet itu sama anehnya dgn alasan "maaf laper, krn blm makan"). Dgn perkiraan tsb, siswa bs memutuskan moda transportasi apa yg dpt dipilih (dg mempertimbangkan kerentanannya thd faktor perlambatan). Setelah dewasa kelak, siswa tersebut dapat memutuskan apakah hrs membeli motor/ mobil untuk berpergian (atau langganan gojek dan kereta), dgn berbagai pertimbangannya.
3. Akan lebih waspada kl ditanya calon mertua "td dr rumah jam brp?", krn pertanyaan itu sbnrnya berarti "kamu berkendara dg kecepatan brp? Apakah anak saya aman kl berpergian sm kamu?"

Jadi, sebelum dosen menyampaikan materi tentang emulsi, maka mungkin mahasiswa jd akan lebih tertarik mempelajarinya jika dosen menyampaikan bahwa dg mempelajari emulsi, di masa mendatang mahasiswa tidak akan lagi berpikir sempit bahwa dua orang (pemikiran) yg sangat berbeda tidak bisa bersama/ berdampingan.