Luna Lovegood inside. Noda Megumi outside.

Senin, 26 Desember 2016

HARGA

Belakangan ini saya lg srg dikejar2 om2. Iya si saya sukanya sm tipe om2 (skrg tau kan alasannya knpa saya nikah sm si pacar?). Tapi kali ini om2 yg ngejar2 saya bukan tipe om2 yg biasa saya kejar2 #lho
Om2 yg mengejar2 saya tsb, sayangnya bukan Lee Min Ho, tapi agen marketing rumah.
Dalam masa2 pencarian rumah beberapa bulan ini, saya memang menghubungi bbrp agen penjualan dan pengembang properti rumah untuk nanya2 n survei rumah. Selama masa2 ini, saya bertemu berbagai macam agen marketing/ developer:

1. Agen "Feni Rose"
Adalah tipe agen abis nunjukkin rumahnya, lgsg bilang "buruan booking skrg mbak, bulan depan harganya udh naik lho."
Meski mungkin benar apa yg dikatakan agen marketing/developer tsb bhw kita hrs cpt mengambil keputusan, tp saya tdk suka dg agen yg mendesak spt ini. Apalagi kalo keukeuh bgt nawarin rumahnya. Ujung2nya malah jd merasa terganggu.
Yg pernah merasakan ditaksir n dikejar2 cowok, pasti tau rasa nggak enaknya dikejar2 agen rumah.

2. Agen jujur
adalah agen yg dg jujur menyebutkan kelebihan n kekurangan rumah yg dijualnya, selanjutnya membiarkan kita mempertimbangkan tanpa mendesak. Saya pernah jg ketemu agen spt ini. Dan meski saya krg cocok dg rumah yg ditawarkannya, saya mendoakan smg bisnis properti beliau lancar jaya.
Apa kamu pernah bertemu seseorang yg sangat baik tapi bukan dia yg kamu inginkan untuk menemanimu seumur hidup? Kira2 spt itu rasanya. Kamu tdk bisa bersamanya, tapi kamu setulus hati mendoakan kebahagiannya.

3. Agen berprinsip
Saya menyebut agen spt ini sbg "agen jual mahal" haha. Mereka tahu "harga" mereka, dan mereka tahu "kualitas" mereka, shg kemungkinan nego sgt kecil. Saya pernah bertemu developer perumahan spt ini. Saat nego harga, beliau hny memberi diskon sebesar 5 juta rupiah.
"Kalau mbak cocok, smg mbak berjodoh dg rumah saya. Kalau mbak krg cocok, ga apa2," begitu katanya.
Agen spt ini tdk mau menurunkan "harga"nya karena mereka tahu seberapa baik kualitas mereka. Meski akhirnya saya tdk jd membeli rumahnya krn harganya yg tdk sesuai dg tabungan saya, tp saya menghargai prinsip developer tsb, spt saya salut pada perempuan2 kuat yg tdk berpura2 lemah hny supaya tdk "ditakuti" oleh pria2 insecure yg enggan bersama perempuan2 ini krn takut tdk bisa memimpinnya. Seperti saya kagum pada perempuan2 mandiri yg tdk berpura2 lemah hanya supaya tdk dijauhi oleh laki2 yg selalu ingin dipuja dan dilayani perempuan. Seperti saya takjub pd perempuan2 pencari ilmu yg tdk takut dikomentari "Nanti telat nikah kl sekolah mulu," oleh orang2 iseng yg tdk jg sadar bhw tidak ada jodoh yg dtg terlambat, krn jodoh dtg di waktu yg tepat.

4. Agen "BU" alias "butuh uang"
yaitu orang yg memang sdg butuh uang shg menjual rumahnya dg harga lbh murah.
Ada dua tipe agen yg sdg butuh uang. Pertama, adalah orang yg meski sdg butuh uang shg rela menjual rumahnya dg harga lbh murah, tp jujur dlm mempromosikan rumahnya. Kedua, adl org yg saking kepepetnya butuh uang, dia tdk jujur dlm mempromosikan rumahnya dan malah sm banting harga.
Makanya, meski sbg perempuan normal saya sgt suka diskon, tp dlm membeli rumah, kl diskonnya terlalu besar, saya malah curiga: ada apa sbnrnya dg rumah tsb?
Sama spt kl saya lg nonton sinetron dan melihat perempuan yg saking kepepetnya pgn nikah sampai tdk mjd dirinya sendiri dan mau saja diperlakukan seenaknya oleh laki2 asal laki2 itu mau menikahinya. Malah mencurigakan ga si?

Jadi, agen spt apakah kita?

SEJAK MENIKAH

Dulu waktu saya n si pacar masih temenan, saat membonceng motornya lalu tiba2 lewat seseorang yg mengendarai motor sport, saya sering otomatis bilang "wah, motornya keren! Orangnya pasti ganteng ni!"
Waktu kami sekolah di Belanda, saat naik sepeda bersama (bukan boncengan) dan ada motor keren yg lewat, saya juga otomatis berucap serupa.
Saat saya pulang ke Indonesia, saya kaget krn ternyata si pacar (yg saat itu sdh mjd tunangan saya) datang ke rumah mengendarai motor sport yg kece.
"Kok ganti motor?" tanya saya waktu itu.
"Kenapa? Keren kan?" jawabnya, malah balik bertanya.
Beauty is pain, katanya.
Untuk terlihat keren jg tidak mudah. Naik motor sport memang kelihatannya keren sih, tapi jelas lebih ribet dibanding naik motor bebek atau motor matic biasa. Untungnya kaki saya lmyn panjang shg saya tdk tll kesulitan naik motor. Kesulitan naik motor sport baru saya rasakan setelah menikah, terutama saat belanja bulanan. Tidak seperti motor bebek dan motor matic yg tersedia tempat untuk menggantung tas2 belanjaan di bagian depan motor, motor sport tdk memiliki fasilitas ini. Akibatnya, kami tdk bs membeli byk barang saat belanja bulanan. Belakangan, kami tdk lagi naik motor kl belanja bulanan. Kami memilih pergi n pulang belanja naik taksi online.
Setelah menikah, menjadi keren tdk lagi penting. Yg penting adalah manfaatnya.
Sejak itu, saya memutuskan untuk lebih berhati2 bicara pada si pacar. Kalau dulu dia membeli motor sport hanya gara2 saya srg nyeletuk "motornya keren, orangnya pasti ganteng!", takutnya besok2 dia korupsi hanya karena saya srg nyeletuk "aduh biaya pendaftaran sekolahnya kakak mahal ni, uang belanja buat beli susu adek jg kurang, cicilan rumah belum dibayar pula."
Kan katanya di balik lelaki hebat ada perempuan hebat, dan dibalik lelaki yg korupsi ada perempuan yg pengeretan (tahu istilah "pengeretan" kan?).
* * *
Belakangan ini saya baru tahu bahwa ternyata si pacar udh naksir sama saya jauh sebelum kami sama2 sekolah di Belanda.
"Kamu sih nggak peka," kata si pacar, memprotes ketidak-pekaan saya shg tdk menyadari bhw dia naksir sama saya sjk lama.
Sbnrnya bukannya saya tdk peka, tapi sejak beberapa tahun lalu, saya memang sengaja menumpulkan perasaan saya spy ga gampang GR atau baper. Tapi sejak menikah, saya menajamkan kembali kepekaan perasaan saya spy bisa mendeteksi kode2 halus semacam "hari ini masak apa ya?" sbg kata lain dari "bukan oseng2 lagi kan?"
Mungkin gara2 hal ini, sampai ada yg pernah blg "Sejak nikah sama Radit, nia jadi baperan."
Nyatanya, sejak menikah, memang ada beberapa hal yg berubah pd saya. Selain jadi lebih hati2 dalam bicara, saya jg jd lebih peka thd bbrp hal: tdk hanya thd perasaan, tp jg thd uang.
Saat ini, saat mengambil keputusan, ada 1 hal tambahan yg saya pertimbangkan, yaitu keluarga. Apakah hal yg saya lakukan/ putuskan ini akan berdampak baik atau buruk untuk kami berdua.
Apakah mengerjakan ini/itu dan membantu ini/itu akan mengganggu prioritas kami saat ini atau tidak.
Misalnya, karena dua dari bbrp prioritas kami saat ini adl membeli rumah dan menyelesaikan sekolah, maka saya akan menolak semua hal yg dapat mengganggu prioritas kami. Itu knpa kalau si pacar mulai liat2 BukaLapak, saya jd sewot. Kalau si pacar ga bs menolak membantu orang lain ini dan itu, saya jg sewot. Lha wong gara2 tll sibuk bantu ini-itu, kelulusannya terpaksa diundur. Kalau bukan kita yg memperjuangkan hal yg kita prioritaskan, memang ada orang lain yg mau memperjuangkannya untuk kita? Kalau kita tll baik meminjamkan uang kesana kemari shg kita sendiri ga bisa beli rumah, atau kita tll ga enak untuk menolak membantu ini dan itu shg tesis tdk jg kunjung selesai ditulis, memangnya ada orang lain yg mau membelikan rumah untuk kita, atau menuliskan buku tesis untuk kita?
Setelah menikah, terlihat keren di hadapan oranglain tdk lagi menjadi penting. Yg penting apakah hal2 yg kita lakukan dpt mendukung hal2 yg kita perjuangkan atau tidak.

RUMAH

Kata orang, nyari rumah itu kayak nyari jodoh. Karena kan pengennya kita bisa tinggal seumur hidup di rumah tsb, sama spt kita berharap menikah sekali seumur hidup. Makanya, dari cara seseorang milih rumah, bisa diperkirakan bgmn dia milih jodoh.

1. Easy going
Orang yg easy going tdk tll sulit memutuskan sesuatu. Asal udah "klik", mereka ga akan byk mikir lg. Pas nyari rumah, asal udh merasa "klik", akan lgsg diambil. Biasanya orang yg bisa easy going gini adl orang yg punya banyak pilihan (misalnya kaya raya, shg ga pusing mikirin harga cocok atau nggak, asal hati klik). Orang easy going ini saat milih jodoh juga santai aja. Asal udah "klik", hayuk aja.

2. Gimana nanti
Mirip2 sama tipe easy going, tipe "gimana nanti" juga cenderung santai kl milih rumah. Ga perlu yg bagus2 banget, nanti kl gaji naik rumah bisa direnov. Ga perlu besar2 banget, nanti kl ada uang lagi, bisa beli rumah yg lbh besar. Ga perlu cocok2 bgt, kalo besok2 nemu rumah yg lbh kece, tinggal beli lagi (horangkayah).
Orang yg ky gini, kalo nyari jodoh juga ga ribet. Ga nyari yg sempurna. Krn yg sempurna cuma Tuhan dan judul lagunya Andra. Ga perlu yg pny mobil, nanti kl gaji naik juga bisa beli mobil. Ga perlu yg cantik bgt, kalo udh naik pangkat nanti juga bisa nikah lg sm yg lbh cantik (jengjengjeng). Ga perlu yg "klik" bgt, kalo besok2 ga cocok ya udah cerai aja. Gimana nanti aja.

3. Kepepet
Kadang easy going sama kepepet beda tipis (setipis 212 dan 412). Yg satu ga pusing milih krn pny byk pilihan yg tinggal dipilih, yg satu ga pusing milih krn emang ga punya pilihan lain.
Tipe kepepet ini biasanya dg cepat mengambil pilihan apapun yg ada di depan mata mumpung ada, keburu kehabisan atau diambil orang lain. Misalnya buru2 nyari rumah karena udh ga tahan tinggal serumah sm mertua. Atau buru2 nikah karena udh ga tahan ditanya "kapan kawin?" tiap ketemu bos di tangga.
Ironisnya kadang keadaan mendesak itu disengaja oleh orang2 di sekitar kita. Spt agen properti yg sll bilang "harga naik hari senin" atau "booking skrg, kl bsk mgkn udh diambil orang",,, spt itu juga adaaaa aja orang sekitar yg comel "nunggu apa lagi si, kok blm nikah jg, nanti semua yg ganteng keburu diambil orang lain" shg tanpa sadar komentar ikut campur itu membuat kita merasa dlm posisi terdesak.

4. Perfeksionis
Berkebalikan dg tipe easy going, tipe perfeksionis ini ibarat emak2 yg nemu baju di toko pertama tapi tetep keliling pasar tanah abang buat nyari baju, dan pada akhirnya kembali ke toko pertama juga. Kalo milih njelimet bgt.
Udah nemu rumah yg cocok, kl harganya beda tipis sama rencana keungannya, ga jadi beli. Rumah n harga cocok, tp di daerah situ byk anak2 nongkrong ga jelas, ga jadi beli krn takut berpengaruh ke anak. Rumah, harga n lingkungannya cocok, tp akses sekitar rumah ada riwayat banjir, trus ga jadi beli juga.
Sama ky milih jodoh. Udh klik sama orangnya, tp kl pekerjaannya ga menjanjikan, ga jadi. Orang n pekerjaannya menjanjikan, kalau keluarganya rese, ga jadi. Orang, pekerjaan n keluarga udh oke, tp kl ada sodaranya si calon yg pny riwayat minjem duit ga dibalikin dan si calon pny tabiat ga berani nagih utang, ga jadi lagi.
Bagi si perfeksionis, menikah hny sekali, harus sehidup sesurga (baca bukunya Fahd Pahdepie deh #malahIklan). Baginya, rumah jg harus bisa dihuni seumur hidup.

5. Playboy
Spt halnya playboy yg tebar pesona doang tapi ga kawin2, tipe ini kl nyari rumah juga kerjaannya suveiiii melulu, tp kagak milih2. Nawar2 harga, giliran dikasih, malah ga jd beli. Niatnya cuma mau lihat2 aja dan membanding2kan. Mungkin juga sedang menakar diri, seberapa dikejar2nya ia oleh agen properti yg keukeuh nawarin rumah. Makin tinggi harga rumah yg ditawarkan agen properti kepadanya, dia makin bangga, krn kelihatan spt pengusaha kaya yg bisa beli rumah harga milyaran.
Tipe ky gini kl milih jodoh jg santai aja, yg penting tebar pesona dulu ke banyak orang, lalu memberi harapan ke byk orang, dan menakar seberapa "laris" dirinya diidam2kan oleh cewek2.

6. Tahu diri
Tipe tahu diri ini udah tahu dimana posisinya. Dia tahu brp uang yg dia punya atau berapa besarnya cicilan yg bs dia bayar per bulannya, shg dia hny akan mencari rumah yg harganya sesuai dg jumlah nol di depositonya. Tipe yg kayak gini kl ditawari membeli rumah dari pengembang yg harga rumahnya naik tiap senin, pasti akan langsung menolak, karena dia tahu diri bhw dia bukan pemimpin kota atau ketua partai politik yg bs beli rumah yg harga cicilannya hanya 100 jutaan.
Tipe tahu diri ini, kl tiba2 ditaksir Song Hye Kyo, juga dia pasti nolak. Krn dia tahu diri bahwa dia ga sanggup bayarin ongkos nyalon dan kosmetiknya Song Hye Kyo (apalagi ongkos operasi plastik)

7. Nggak tahu diri
Tipe kayak gini kemampuannya dikit, kemauannya banyak. Kemaluannya kecil (ga tahu malu).
Pengennya rumah gede, pake water heater, ada AC, garasi muat 3 mobil. Padahal beli motor aja masih nyicil dan kerjanya males2an (shg ga dipecat aja udah untung).
Nyarinya yg tampan-kaya-pintar-sholeh, tapi satu2nya hal yg dibaca setiap hari adalah timeline yg lg sindir2an. Yaelah.

8. Pejuang
Tipe pejuang sejati, sekali menentukan target, dia akan berjuang keras untuk mendapatkannya.
Saat ia memutuskan untuk membeli rumah yg bs dipakai buat main bola, meski skrg dia ga pny mertua yg bisa ngasih warisan, dia akan tetap membeli rumah tsb dan berusaha lebih baik dari bulan ke bulan spy abs secepatnya naik pangkat dan bisa bayar cicilan, meski hidupnya ngos2an untuk mempertahankan rumah itu.
Tipe kayak gini, kl udh cinta mati sm cewek, meski ditolak berkali2, akan terus berusaha. Meski diabaikan, tetap berusaha.
Tipe ky gini, kl udh naksir Lee Min Ho, akan terus berusaha, meski ujung2nya ngos2an mempertahankan Lee Min Ho dari godaan Suzy.


Minggu, 27 November 2016

PERCAYA

Seperti banyak teman kami sudah tahu, saya dan suami adl dua orang yg sgt berbeda, termasuk dalam cara menghabiskan uang. Dia hobi menghabiskan uang untuk gadget. Saya hobi menghabiskan uang untuk makanan dan buku. Tapi diantara banyak perbedaan kami, kami pny cara yg sama untuk menghabiskan waktu bersama: nonton Detective Conan.
Salah satu pasangan yg suka bikin geregetan (selain fakta bhw smp sekarang Conan belum gede2 juga yg bikin geregetan) dr manga itu adl Heiji Hattori n Kazuha Toyama. Heiji dan Kazuha telah bersahabat (atau TTM) sejak selamanya. Mereka saling mengenal sejak mereka bs mengingat sehingga mereka sudah sgt mengenal satu sama lain. Dalam salah satu film, saat sedang membonceng Kazuha dg motornya, sang pelaku kejahatan menyerang Heiji dengan panah, tp panahnya meleset. Setelah itu Heiji balik mengejar pelaku tsb sambil tetap membonceng Kazuha.
Saat adegan itu, saya bilang ke suami "Kalo kamu ngebut kayak Heiji, pasti udah aku pukulin, dan aku minta turun."
Tapi saat itu saya sadar, Kazuha tdk memukuli Heiji dan minta turun dr motor karena Kazuha sudah mengenal Heiji sejak kecil. Kazuha tahu bahwa bagaimanapun Heiji ngebut, Heiji akan tetap memprioritaskan keselamatan Kazuha. Kazuha percaya bahwa Heiji tdk akan mencelakakannya. Kalaupun akhirnya motornya terpaksa menabrak atau jatuh, Kazuha tdk akan menyalahkan Heiji, karena Kazuha percaya bhw Heiji tdk melakukannya dg sengaja.

Ini seperti saya dan Bapak saya. Bapak pny kebiasaan mengendarai motor dg kecepatan 40 km/jam dan sgt sabar di jalanan, nggak suka nyelip2 sembarangan. Saking hati2nya Bapak di jalanan, setelah puluhan tahun dibonceng Bapak, saya bahkan bisa tertidur di motor sambil memeluk Bapak. Saya tdk takut Bapak akan ugal2an di jalanan, dan saya percaya bahwa Bapak akan memprioritaskan keselamatan kami. Oleh karena itu, jika ada masalah saat membonceng motor Bapak, saya tdk menyalahkan Bapak, krn itu pasti terjadi tdk disengaja atau krn terpaksa.
Kepercayaan Kazuha pada Heiji, maupun kepercayaan saya pd Bapak, hny bisa terbentuk oleh pengalaman yg tdk sebentar. Perlu bertahun-tahun untuk mendapatkan kepercayaan sedalam itu.


Dalam hubungan dalam masyarakat juga begitu. Kita perlu mempercayai satu sama lain shg tdk mudah curiga dan dipecah belah. Dan kepercayaan semacam itu hanya bisa terbentuk oleh pengalaman dalam waktu yg lama.
Oleh karena itu, jangan berharap orang lain akan percaya bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta kalau kita sbg umat Islam tdk bisa membawa ketenangan bagi sekitar. Kita tdk bisa meminta orang lain percaya bahwa Islam adl agama terbaik kalau kita sbg muslim suka telat kalo janji, suka lupa bayar utang atau tdk profesional dlm bekerja. Orang lain ga akan percaya bahwa Islam adl agama yg benar kalau kita sbg umat muslim hobi share berita dari portal berita abal2 hanya krn isi beritanya mendukung hipotesis kita, atau kita hobi share artikel yg membanggakan kelompok sendiri dan menjelek2kan kelompok lain pdhl beritanya blm tentu benar. Orang lain tdk akan percaya bahwa muslim adl orang2 yg berpikiran luas kalau kita hanya hanya terus mengumbar keburukan seseorang (lalu melupakan semua kebaikan dan prestasinya) padahal awalnya kita tidak suka hanya pada satu keburukannya. Jgn berharap orang lain akan melihat Islam sbg agama yg damai dan penuh kasih sayang (rahmat) kalau mereka melihat kita suka membanding2kan penderitaan masyarakat yg satu dg masyarakat yg lain.
Kalau orang2 di sekitar kita melihat perilaku kita yg santun, bijak dan penuh kasih sayang scr konsisten selama bertahun2 sehingga mereka percaya bahwa kita adl muslim yg baik, maka jika suatu saat kita marah saat melihat keburukan, maka orang lain tidak akan menilai kita "baperan", "sensitif" atau "rasis". Mereka akan paham bahwa kita marah krn melihat keburukan yg terjadi, bukan karena membenci orang, ras atau kelompok tertentu.
Sebelum orang lain percaya bahwa kita adl umat yg baik, mereka akan terus menganggap kita baperan, tidak welas asih dan rasis saat kita memerangi keburukan. Jangan salahkan mereka. Mungkin ini juga salah kita yg tdk bisa membuat mereka percaya.

Keburukan tdk akan berubah mjd baik jika kita memeranginya dg cara yg buruk. Cara yg buruk hanya akan membuat niat baik untuk membenahi dilihat sebagai perusakan.


Jadi kapan saya bisa tidur di atas motor yg dikendarai suami saya, spt saya bs tidur saat membonceng motor Bapak?

Minggu, 20 November 2016

MENGINGAT

Sejak ponsel saya rusak dan otomatis akun twitter ter-log-out dan saya lupa password twitter saya, otomatis saya mengalihkan ocehan saya di facebook.
Beberapa ocehan ternyata cukup panjang, tapi tidak tersimpan sebagai Note, sehingga sulit untuk ditelusuri ulang. Oleh karena itu, hari ini saya menelusuri ulang halaman facebook saya, dan menyalin ocehan-ocehan panjang saya dalam blog ini. Berharap lebih mudah ditelusuri ulang, dan dapat menjadi pelajaran jika di masa mendatang saya mengalami masalah serupa, atau sebagai pengingat jika di masa mendatang saya berubah menjadi orang yang saya benci kelakuannya hari ini.

Mari saling mengingatkan.

PEREMPUAN HEBAT

Dibalik pria yang hebat, selalu ada wanita hebat. Kalau bukan ibunya, pasti istrinya (atau mungkin sekretarisnya? ;p)

Dan tidak ada laki-laki hebat yang mau menikahi perempuan yang tidak hebat. Kalau kamu mengenal laki-laki hebat yang istrinya kelihatan biasa-biasa saja, bisa jadi:
1. Si istri memiliki kehebatan yang tak kasat mata (#apasih) yang tidak bisa dilihat oleh sembarang orang. Hanya orang-orang terdekatnya yang bisa tahu kehebatannya. Misalnya meski tampaknya biasa saja, si istri ternyata punya kesabaran yang luar biasa, doa yang luar biasa, visi-misi keluarga yang luar biasa, sifat keibuan yang luar biasa, managerial keuangan keluarga yang luar biasa, kekayaan orangtua yang luar biasa (ini sih suami matre), dukun yang luar biasa (yaelah) .... atau kecerewetan yang tiada tara (haha).
2. Standar kehebatan kamu yang perlu diubah/ diperluas. Kalau standar "wanita hebat" versi kamu adalah yang tinggi putih cantik kaya raya semlohai, berarti standar kamu sempit banget. Atau kalo kamu nyari istri hanya yang pintar masak, hobi beberes rumah, rajin nyetrika baju ... mungkin kamu nyari asisten rumah tangga bukan nyari istri.
Saya ga bilang bahwa perempuan yang tinggi putih cantik kaya raya semlohai itu bukan istri yang hebat. Saya juga ga bilang bahwa perempuan yang pintar masak, hobi beberes rumah dan rajin nyetrika baju itu mendingan jadi asisten rumah tangga aja. Hanya saja, kadang kita terlalu sempit mendefinisikan "perempuan hebat". We judge people easily. Inget kasus "Ibu bekerja vs Ibu bekerja di rumah" yang sempet heboh di FB beberapa waktu lalu kan? Perempuan yang bekerja sibuk posting "buat apa sekolah tinggi2 kalau di rumah aja", sementara perempuan yang bekerja di rumah heboh membalas "mendingan anak gue dong dididik sama sarjana, daripada anak lo dididik pembantu". Duh! Padahal nggak ada lho ibu bekerja yang dengan entengnya ninggalin anaknya di pagi hari, dan bisa jadi ibu yang nggak bekerja di luar rumah itu justru lebih sibuk daripada ibu bekerja. Jadi sodara-sodara, jangan maksa orang lain untuk memakai sepatumu.
Begitu juga tentang "istri hebat". Jangan dengan mudahnya menilai kehebatan orang lain. Kamu nggak jadi hebat dengan meremehkan orang lain, dan sebaliknya, kamu nggak jadi butiran debu karena mengakui dan belajar dari kehebatan orang lain.
3. Kamu lagi nonton drama Korea. No comment kalo ini mah. Udah nikmati aja ceritanya.


Jadi kalau nanti kamu lagi jalan-jalan di mall trus lihat om-om tampan-kaya raya-mirip Lee Min Ho lagi gendong anak kecil, jalan berdampingan dengan perempuan yang penampakannya biasa2 aja, jangan buru2 bilang "Mas, dalam Islam, poligami itu diperbolehkan lho". Bisa jadi yang di sebelahnya itu baby sitter anaknya (halah) ... trus istrinya jalan di belakang sambil siap2 melemparkan tombaknya ke kamu.

BANGGA

Kita pasti pernah lihat iklan susu formula di televisi Indonesia. Gara-gara minum susu formula tertentu, si anak jadi bisa membawakan minuman untuk tamu. Lalu para tamu akan bilang "Duh, pinter banget si. Anak siapa sih ini?" Hal ini mengindikasikan bahwa jenis susu formula yang diminum tidaklah sepenting asal-usul anak tersebut, bahkan meski sudah jelas itu anaknya Ibu Neneng.
Di sisi lain, kalau ada anak yang badung banget dan suka manjat pohon mangga tetangga, pasti pertanyaan pertama yang ditanyakan adalah "Ini anak siapa sih?"
Begitulah. Bagaimanapun, dalam hidup kita tidak pernah bebas dari penilaian orang-orang. Sialnya, entah itu perbuatan baik atau perbuatan buruk, orang-orang akan selalu mengaitkan perilaku kita dengan orang-orang yang kita sayangi. Itulah mengapa bahkan sayapun, sebagai orang yang sebenarnya tidak pernah peduli dengan pendapat orang lain, kadang terpaksa mengikuti arus demi meminimalisiri orang-orang bilang "Itu anak perempuan yang berantem terus sama anak cowok itu anaknya siapa sih?" atau "Itu anak perempuan yang selalu menang lomba makan sama anak cowok itu, anaknya siapa sih?"

Mungkin begitulah, salah satu cara menunjukkan kecintaan kita kepada orang-orang yang kita sayangi adalah dengan menjaga nama baiknya dan membuatnya bangga (tentunya selain mengikuti perintah dan menjauhi larangan dari orang yang kita sayangi)
Mungkin begitu juga kalau kita ingin menunjukkan kecintaan kita kepada agama kita, Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT. Menjadi rahmat bagi semesta, seperti yang dicontohkan Rasulullah, bukannya menjadi ancaman bagi orang lain. Menjadi umat yang bermanfaat, berprestasi dan membuat orang lain bertanya "Dia itu muslim ya? Baik ya. Pintar pula". Misalnya gitu.
Ngomong-ngomong, inget nggak dulu waktu masih SD, kadang ada anak bandel yang suka mengolok-olok nama orangtua kita misalnya? Meski kita tahu bahwa kehebatan orangtua kita tidak akan berkurang hanya karena bercandaan anak cemen, tapi toh kita tetap marah mendengar olok-olokan itu dan membela orangtua kita kan, karena kita sayang kepada orangtua kita. Mungkin begitulah cara kita menunjukkan kecintaan kita.

Jadi sudahkan kita menunjukkan kecintaan kita kepada agama, Rasulullah dan Pencipta kita?
Selamat Tahun Baru Hijriah. Mari hijrah, menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat dan membanggakan.