Luna Lovegood inside. Noda Megumi outside.

Jumat, 12 April 2013

DEDUKSI FIERSA


Terlalu sering membaca komik Detective Conan, tanpa sadar saya sering menerapkan metode deduksi dalam kehidupan saya sehari-hari. Deduksi adalah proses pengamatan fakta-fakta umum untuk penarikan kesimpulan sesuatu hal yang khusus. Misalnya, secara umum semua manusia pasti makan dan minum. Maka karena saya adalah manusia, dapat disimpulkan bahwa saya, secara khusus, pasti makan dan minum juga. Begitulah saya terbiasa berpikir.
Tapi dalam menalar suatu hal tidak melulu bisa menganut metode deduksi. Kadang kita harus pakai metode induksi atau silogisme. Pemilihan metode yang tidak tepat dalam menalar sesuatu atau pengamatan yang dangkal pada suatu fakta akan menyebabkan pemahaman yang keliru, yang sering kita kenal dengan istilah sesat pikir.
Dalam pengalaman saya menalar berbagai hal, Fiersa adalah salah satu kasus, meski bukan kasus satu-satunya, yang berhasil menjerumuskan saya dalam kesesatan berpikir. Tentu ini bukan karena Fiersa penganut ajaran sesat yang menyebarkan ajaran sesat seperti beberapa Eyang atau Mbah yang sering kita lihat di televisi. Seperti saya katakan tadi, kesesatan berpikir sangat mungkin terjadi jika kita memilih metode penalaran yang keliru atau melakukan pengamatan yang terlalu dangkal.
Terhadap Fiersa, tentu saja dua hal itu yang menyebabkan saya selalu tersesat. Pertama, karena kedangkalan pikiran saya, saya menilai lelaki ini hanya dari satu sisi tertentu, katakanlah hanya dari tweet-tweetnya. Padahal bisa saja kan seseorang nge-tweet galau sambil ngupil atau ngetweet sinis sambil nonton Crayon Shinchan? Ah manusia, termasuk saya, seringkali terlalu cepat membangun persepsi sebelum benar-benar melihat. Kedua, saya mengambil kesimpulan dengan metode penalaran yang keliru. Terbiasa menggunakan logika deduktif, saya lupa bahwa tidak semua hal bisa digeneralisir. Hanya karena secara umum kita bisa menilai seseorang dari tulisannya, bukan berarti tidak mungkin orang-orang khusus memang sengaja ingin dirinya dinilai dari tulisannya kan? Hanya karena semua manusia bernafas, bukan berarti semua orang hidup. Fiersa berhasil menjungkir-balikkan penalaran saya. Dalam istilah sains yang biasa saya pakai, mungkin ini yang disebut anomali. Pengecualian. Exception.
Kata orang, manusia-manusia sains seperti saya ini kaku, entah sikap atau pola pikirnya. Mungkin benar juga. Ah, kan, sadar atau tidak sadar saya lagi-lagi mengeneralisir. Hanya karena saya sendiri yang kaku, bukan berarti semua orang sains itu kaku seperti kanebo kering kok. Fahd dan Fiersa adalah dua orang yang pelan-pelan mengubah saya. Fahd dengan tulisan-tulisan di blog dan bukunya. Fiersa dengan lagu dan monolognya di twitter. Dari Fahd saya belajar bahwa seorang peneliti sains-pun boleh romantis dan tidak melulu berkutat dengan erlenmeyer atau reagen kimia. Dari Fiersa saya belajar bahwa menjadi berbeda tidak akan membuatmu mati.
Dulu sekali, saya selalu takut menjadi berbeda. Takut dianggap aneh dan tidak lazim. Tapi lama-lama saya sadar, menyamakan diri dengan orang lain toh tidak membuat saya benar-benar sama. Saya justru merasa ada orang lain yang menumpang di dalam tubuh saya. Fiersa, entah dia sadar atau tidak, menunjukkan bahwa menjadi berbeda bukan dosa, sejauh perbedaan kita tidak menyakiti atau merugikan orang lain. Orang-orang mungkin melihat kita dengan tatapan berbeda, itu pasti, tapi tidak apa-apa kan? Toh Tuhan memang sengaja menciptakan manusia berbeda-beda.
Setelah lulus kuliah, orang-orang berlomba mendapatkan pekerjaan dengan status bergengsi dan penghasilan tinggi. Fiersa memilih membuka studio rekamannya sendiri, menjadi penyanyi dan merekam lagunya sendiri sambil membantu penyanyi dan band lain mewujudkan impiannya. Ketika mengetahui cerita ini, saya merasa bahwa keputusan saya untuk mengejar impian saya tidaklah terlalu aneh atau keliru. Saya bukan satu-satunya orang yang melepaskan penghasilan besar demi impian.
Orang-orang lain bernyanyi supaya bisa terkenal, punya banyak fans dan menghasilkan banyak uang. Fiersa bernyanyi supaya bisa didengarkan. Selagi orang-orang mengejar target penjualan album rekaman mereka, Fiersa justru mempersilakan para penggemarnya mengunduh lagu-lagunya secara gratis di fiersa.tk .
Orang-orang menyalahkan hujan yang menyebabkan banjir. Fiersa mensyukuri hujan.
Orang-orang, rasanya termasuk diri saya sendiri, mengeluhkan tinggal di Indonesia yang penuh dengan politik busuk dan kesemrawutannya. Fiersa tetap menemukan alasan untuk mencintai tanah airnya.
Saya pikir, Fiersa ini pasti penganut aliran anti-mainstream J
Kata orang, tak kenal maka tak sayang. Jadi berdasarkan insting ke-sotoy-an saya, saya pikir keputusan Fiersa kali ini adalah caranya yang ingin mengenal tanah airnya lebih dekat sehingga bisa lebih mencintainya. Saya sendiri merasa belum sanggup sefrontal dia (dan teman-teman seperjalanannya), meninggalkan pekerjaan dan menghabiskan sebagian besar tabungan untuk menjelajahi Indonesia selama hampir delapan bulan ke depan. Itu mengapa saya selalu takjub pada keberanian mereka untuk mengambil keputusan yang berani ini.
Saya tidak tahu apakah Fiersa masih akan sempat berinteraksi dengan teman-temannya di twitter saat nanti menjelajahi pelosok-pelosok Indonesia. Jadi anggap saja ini salam perpisahan dari saya.
Kata orang, salah satu alasan orang berpergian adalah supaya ia tahu kemana ia ingin kembali pulang. Selamat bertualang, Kang. Selamat bercinta dengan  Pertiwi. Semoga bertemu dengan apa yang dicari. Jangan lupa pulang setelah menemukan rumah untuk kembali.


Rabu, 13 Maret 2013

SAWANG SINAWANG

Berita bahagia datang dari segala penjuru. Lalu pertanyaan menuduh datang dari seluruh mata angin. Aku bertanya, dimana bahagiaku?

It's been almost 10 years since the first time i step my dream here, in this school. Yet, it's also 10 years since i met them.
Ga terasa, hampir 10 tahun sudah gue mengenal mereka. Dan sampai sekarang gue bersyukur krn masih bersama mereka. Meski kami jarang ketemu, kalau kami mau, kami masih bisa memandang langit yang sama dari jendela ruang kerja masing2.
How time flies ya. Tapi karena gue bergaulnya sama anak2 ABG, gue sering lupa umur (hmmm,,mungkin jg krn tiap gue ngaca, gw memang msh melihat wajah anak baru lulus SMA itu, hehehe). Padahal temen2 gue udah pada jadi orang besar semua. Beberapa udah jadi asisten manager. Sahabat2 gue bahkan udah jadi manager. Adik angkat gue malah sdh mencapai karir yang sama tingginya.

Ngomong2 tentang sahabat2 gue, gue nggak ngerti kenapa mereka masih aja jomblo sampe sekarang. Tiap kali ngobrol, pasti ada sesi obrolan "Siapa nih yang mecah telor duluan. Cepetan deh, biar yang lain cepet nyusul kawin juga."
Dan obrolan kayak gini selalu berakhir dengan saling menunjuk. Gue jelas merasakan tanggung jawab yg sangat besar kalo disuruh mecah telor. Diantara sahabat2 gw yg lain, probabilitas gue sbg pemecah telor justru yang paling kecil. Mari kita perhitungkan bersama:
1. Diny Wulandari. Dalam waktu 5 tahun ini sudah menduduki posisi bergengsi di Medical Affair sebuah perusahaan multinasional. Cantik. Pinter, pake banget. Juventini sejati. Jago futsal. Jago nyomblangin orang, tp entah kenapa blm berhasil nyomblangin diri sendiri. Cewek Jawa sejati yang jelas fasih berbahasa Jawa. Idaman para calon mertua Jawa.
2. Shita Khrisnatantri. Dalam 5 tahun sudah menjadi Manager di sebuah apotek waralaba. Cantik, pake banget. Imut dan selalu tampak seperti anak 18 tahun. Pintar pula. Berjilbab dan tetap modis n fashionist. Kece badai lah istilahnya.
3. Dewi Sulistyowati. Karirnya lumayan cepat menanjak karena dalam 3 tahun aja sudah mjd Asisten Manager dan sekarang sudah mjd Manager di sebuah industri farmasi PMDN di wilayah ci .... ci ..... cisesuatulahya (gue lupa itu alamat pabriknya di cikago atau apa gitu). Sebenernya sih ini anak dulunya sama kuper dan pemalunya spt diriku,,, tapi dia ini manis sikapnya dan lebih lembut. Pintar, sampai2 dijuluki Dewi Nitri karena ahli bgt analisa Nitrimetri. Jarang marah2 kayak gue. Dan lebih kalem. Calon ibu idaman. Sholeha. High Quality Akhwat.
Sekarang gue tanya, apa coba kurangnya mereka? Kenapa sampe sekarang masih single? Gue yakin 1000% bahwa mereka single bukan karena nggak ada yang naksir. Gue bahkan sempat tahu beberapa cowok yang naksir mereka. Lalu, kenapa mereka blm pecah telor juga?
Menurut analisa Ibu gue (ibu gue emang jagonya berteori-konspirasi), hal tsb tjd karena cowok2 (bahkan cowok2 yg naksir itu) pada jiper sama sahabat2 gue ini. Jelas2 cewek2 ini adl High Quality Single. Mereka udah menduduki jabatan tinggi pada usia semuda itu. Itu mengapa cowok2 itu takut mendekati. High pride lah ya istilahnya. Mereka tengsin kalo istrinya lebih sukses daripada mereka. Hmmm,,,kalo dipikir-pikir, bener juga sih teori konspirasi emak gue itu.
Tapi emang cowok tuh kayak gitu yah, gampang jiper. Iya sih kami sbg perempuan itu pemilih,,,namanya jg milih imam buat keluarga, ya ga bisa sembarangan juga. Kalau mau gampang, sahabat2 gue bisa dgn mudah memilih salah satu aja diantara banyak fans mereka. Lalu orang2 akan berhenti bertanya kapan nikah. Tapi kan milih pasangan hidup ga bisa sembarangan begitu.
Tapi bukan berarti sahabat2 gue segitu pemilihnya. Ga harus jadi Plant Director dulu baru boleh naksir kami. Gue yakin, sahabat2 gue ini sebenernya tipenya ga ribet. Mereka cuma nyari imam yang berlayar ke arah tujuan yg sama dgn mereka. Begitu sederhana. Cowok2 aja tuh yang suka pake teori konspirasi dan minder duluan sebelum berjuang. Padahal cewek itu pada dasarnya senang diperjuangkan lho. Hehehhe.

Lalu gue inget kata2 Diny: "Bukannya menunda2 nikah, tapi kalo maksa buru2 nikah padahal belum siap dan belum sreg, nanti malah nyusahin orang tua." (maksudnya baik scr finansial maupin psikologis lah ya)
Hmmm, bener juga. Daripada buru2 nikah cuma karena bosen ditanya "Kapan nikah". Kalau nanti ada kegagalan atau rasa sakit krn memilih pilihan yang terburu2 dan sembarangan, toh yg paling sedih adl diri sendiri kan? Bukan orang yg nanya "Kapan nikah" itu. Jadi kenapa menggadaikan kebahagiaan diri hanya karena kata2 orang lain?


Gue juga jadi teringat obrolan gue dan si dia beberapa hari lalu. Waktu itu kami baru saja pulang dari suatu tempat untuk urusan pekerjaan. Sepulang dari sana, dia mengantar saya ke resepsi pernikahan teman saya (yg dia keukeuh ga mau masuk menemani,,, entah karena dia sudah bosan ditanya kapan nyusul atau karena malas mendengar kok nia datengnya sama bapaknya,bukan sama pacarnya? #yakjleb ). Berikut ini adalah obrolan kami selama perjalanan ke tempat resepsi itu. Saat itu kami ngobrol tentang salah seorang teman sekelas saya yang sempat ditemuinya di sebuah meeting.
"Dia itu kakak kelasnya Nia?" dia bertanya sambil menyetir.
"Bukan. Dia teman sekelas saya."
"Oh ya? Saya pikir kakak kelasnya Nia. Udah manager, soalnya."
"Temen-temen seangkatan saya yang lain emang hampir semuanya udah pada jadi manager kok. Cuma saya aja yang jadi guru."
"Lho kok jadi minder gitu?"
"Lha, siapa yang minder? Kan emang fakta bahwa saya cuma guru, sementara temen-temen saya udah pada jadi manager. Itu kenapa kamu nggak nyangka bahwa saya seangkatan sama mereka kan? Mereka udah pada bawa mobil, saya masih aja kemana-mana dianter-jemput kamu."
"Nia tuh sawang sinawang."
"Apa?"
"Sikapnya Nia tuh namanya sawang sinawang."
"Artinya?"
"Saling melihat. Semua manusia itu saling melihat. Nia bilang enak ya  mereka masih muda udah pada jadi manager, gajinya besar. Sementara mungkin mereka ada yang mikir, enak ya jadi Nia, bisa mengerjakan hal yang benar-benar dicintai. Saya sendiri iri sama Nia."
Gue diam. Mengangguk-angguk merenung. Ah manusia, selalu melihat rumput tetangga lebih hijau, bahkan meskipun manusia nggak makan rumput.
"Lagian udah beberapa kali ditawari jadi manager produksi, Nia malah nolak terus sih."
"Ya iya lah. Ngapain saya kerja di pabrik lagi. Kan saya udah terlanjur bahagia jadi guru begini."
"Nah, kalo gitu, nggak perlu iri sama kebahagiaan orang lain kan? Toh Nia udah punya kebahagiaan sendiri. Iya tho?"


Berita bahagia datang dari segala penjuru. Lalu pertanyaan menuduh datang dari semua mata angin.
Aku bertanya, dimana bahagiaku? Sekarang aku menemukan jawabannya. Bahagiaku ada di sini.

Kamis, 07 Februari 2013

SELAMAT ULANG TAHUN, MASA LALU



Dear Masa Laluku,
Selamat ulang tahun ya. Aku tidak meminta banyak-banyak kepada Tuhan. Aku cuma memohon semoga semua doamu didengar olehNya.

Tidak perlu kaget begitu, tentu saja aku masih mengingat hari ulang tahunmu. Aku punya ingatan yang kuat, kau tahu? Dulu kau sendiri yang selalu memuji ingatanku kan? Aku tidak pernah melupakan dirimu, sedikitpun.
Ternyata benar kata orang, jangan pernah mencoba melupakan masa lalu. Makin kita mencoba melupakan,kita justru makin mengingatnya. Kata orang, kita hanya perlu hidup dengan baik sampai suatu ketika kita terbangun di pagi hari dan sadar bahwa ternyata selama ini kita sudah melupakan hal-hal di masa lalu.
Aku, sejak kamu menikah 2.5 tahun lalu, tidak pernah lagi berusaha melupakanmu. Lalu apa sekarang aku sudah berhasil melupakanmu? Biar kuceritakan sesuatu.
Semalam aku bermimpi. Bertemu denganmu. Melihat kembali kejadian-kejadian saat kita masih berangkat kuliah dengan kereta yg sama. Saat kita masih membeli buku-buku kuliah bersama. Tidak seperti biasanya yang tiap kali habis bermimpi tentangmu aku selalu terbangun dengan nafas yang sesak dan bekas air mata di sisi-sisi mataku, pagi ini tidak begitu. Hari ini, aku bangun dengan normal, seperti tidak memimpikanmu. Hari ini aku bangun dengan lega. Lega, bukan karena ternyata aku sudah melupakanmu. Lega, karena sekarang aku sudah bisa mengingatmu tanpa rasa perih.

Dear Masa Lalu,
Ingatanku sangat kuat, kau tahu? Bertahun-tahun ternyata tetap tidak mampu membuatku melupakan wajah dan kenangan tentangmu. Itu mengapa aku sudah menyerah untuk berusaha melupakanmu. Aku memutuskan berdamai dengan keputusanmu yang berhenti memperjuangkanku. Aku berdamai dengan masa lalu kita. Terutama, aku berdamai dengan diriku sendiri, belajar memaafkan diriku yang melepaskanmu.

Waktu dulu kita, dengan kesepakatan yang hanya terkatakan lewat mata, memutuskan untuk berpisah, aku berdoa untukmu dan untukku. Semoga hidup kita tetap baik-baik saja tanpa satu sama lain. Semoga 20 tahun dari sekarang, jika kita dipertemukan lagi oleh takdir, kita akan saling menyapa layaknya sahabat lama. Tanpa nafas yang sesak atau nadi yang berdesir.
Aku tahu Tuhan mengabulkan doaku saat aku menerima undangan pernikahanmu. Aku tahu, kamu sudah baik-baik saja tanpaku. Syukurlah demikian.
Bagaimana kabar keponakan laki-lakiku sekarang? Apa dia sudah mulai bicara? Katamu, karena dia lahir di bawah naungan rasi bintang yang sama denganku, dia akan mirip denganku kan?
"Dia Virgo. Dia akan sepintar kamu dan secerewet kamu," katamu dulu kepadaku, waktu dia baru saja lahir.
Aku senang kalau kamu tetap bisa melihat sebagian diriku dalam diri jagoan kecilmu. Semoga dengannya, kamu tidak pernah benar-benar melupakan aku.

Dear Masa Lalu,
Kamu bertanya tentang kabarku sekarang? Aku sangat baik. Aku hidup dengan sangat baik tanpamu. Mengerjakan hal-hal yang aku senangi dan bertemu anak-anak. Itu impianku sejak dulu. Bukankah bagus kedengarannya bahwa meski tanpamu aku tetap bisa selangkah demi selangkah menuju impianku?
Aku tetap mengingatmu, tidak apa-apa kan? Ingatanku tidak akan menyakitimu. Ehm, mungkin menyakitiku, tapi sudah tidak lagi. Seperti aku ceritakan tadi, aku sekarang sudah bisa mengingatmu tanpa rasa perih.
Aku juga sudah menemukan seseorang yang aku selalu ingin berada di sisinya. Dia mirip sepertiku. Sayangnya, sampai sekarang dia masih mengingat masa lalunya dengan rasa perih. Tiap aku menyebutkan nama gadis di masa lalunya, dia marah. Bukankah itu artinya masih ada perasaan di dalam hatinya? Aku berharap suatu hari nanti, dan semoga tidak lama lagi, ia bisa sepertiku, mengingat masa lalu sambil tersenyum. Tanpa rasa perih, tanpa nafas yang sesak dan tanpa jantung yang berdesir.

Dear Masa Lalu,
Aku merindukanmu. Seperti adik yang lama tidak bertemu kakaknya, seperti sahabat yang lama berpisah dari karibnya. Seperti masa lalu yang menerka-nerka masa depan.


Salam sayang,

Masa lalumu, yang tidak sempat menjadi masa depanmu.



Minggu, 03 Februari 2013

PERSEPSI


Alkisah, di suatu hari saya datang menghadiri syukuran pernikahan seorang teman. Di sana saya bertemu dengan seorang teman lama. Saya nggak menyangka akan bertemu dengan dia di sana setelah lama nggak bertemu. Ternyata, dia sepupu dari suaminya teman saya.  Maka, sebagai teman lama yang sudah lama tak bertemu, bertukar kabarlah kami.
“Kerja dimana sekarang?” dia bertanya memulai.
 “Di Depok.”
“Jauh banget. Rumahnya Nia masih di Duren Sawit kan?”
“Iya, masih di sana.”
“Kok jauh banget kerjanya di Depok? Perusahaan apa?”
“Oh, aku nggak kerja di perusahaan. Aku sekarang ngajar.”
“Ngajar? Guru?”
Saya melihat perubahan wajah teman saya itu.
“Guru?” dia mengulangi.  “Seriously? Guru?”
“Yeah,” saya menjawab, masih sambil nyengir, meski menyadari perubahan wajahnya. “Kenapa emangnya? Nggak pantes ya?”
Dia tersenyum. Oh, oke, senyumnya lumayan ganteng meski  sepertinya itu jenis underestimating-smile. Sesaat mengalihkan konsentrasi saya.
“Nggak nyangka aja kamu jadi guru. I mean, kenapa mau jadi guru?”
“Hah?”
“Kamu kan waktu sekolah dulu pinter ... “ katanya. Oh, oke, sekarang saya emang nggak pinter sih. “Kenapa cuma jadi guru?”
“Ada yang salah kalo jadi guru?”
 Dia nggak menjawab pertanyaan saya dan langsung mengalihkan pembicaraan. Mungkin dia merasa nggak enak sama saya. Tapi dari percakapan sekilas itu, saya jadi mikir: Jadi kalo orang pinter nggak pantes jadi guru? Jadi yang jadi guru itu harusnya orang bodoh atau gimana?
“Kamu kerja di mana?” giliran saya yang balik bertanya.
Dia menyebutkan sebuah perusahaan internasional yang bergerak di perminyakan. Suara dan ekspresinya memperlihatkan rasa bangga. Wajar saja, dia bekerja di perusahaan bergengsi, dengan posisi dan salary yang oke dan dia jelas bukan tukang minyak tanah :p
Oh oke, dia memang nggak bilang apa-apa. Tapi saya bisa menduga kemudian, mungkin dia pikir bahwa pekerjaan saya sebagai guru itu bukan jenis pekerjaan yang prestisius dibanding pekerjaannya yang berpenghasilan besar itu.
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri kami dan menyapa saya.
“Kak Nia!”
Yak, dan saya lupa nama anak itu. Tapi saya mengenalinya sebagai salah satu mahasiswa Farmasi UI.  Sok kenal aja, saya balik menyapa gadis itu. Ternyata  dia adalah pacar dari adiknya suami teman saya. Kamu bingung bacanya? Oke, forget it.
Ajaibnya, anak itu mengajak saya bersalaman. Dan kami salaman. Lebih tepatnya, anak itu mencium tangan saya.
Sekarang saya ngerti perasaan bos saya yang suka merasa risih kalau saya cium tangan beliau. Sementara saya merasa itu sebagai bentuk rasa hormat, mungkin bos tidak suka saya begitu karena menjadi merasa sangat tua jika saya melakukan itu padanya, padahal beliau hanya beberapa tahun lebih tua dari saya. Sekarang saya mengerti, betapa tidak enaknya dianggap begitu tua sampai perlu dicium tangannya. Saya bertekad, lain kali kalau ada anak Farmasi UI yang cium tangan pas ketemu saya, nilainya langsung saya diskon 50% *ketawa nenek sihir*
Melihat adegan ajaib itu, teman saya bertanya: “Adik kelasnya Nia?”
“Iya,” jawab saya sambil nyengir risih.
Eh, tapi si anak itu malah menjawab: “Muridnya kak Nia.”
Haissshh,,, terlihat makin tua lah saya.
“Oh, di SMA?” teman saya menduga.
“Nggak Mas, aku udah kuliah. Aku muridnya kak Nia di kampus,” anak itu menjawab.
Oke, saya tiba-tiba merasa sepuluh tahun lebih tua.
Teman saya melirik saya dengan bingung. “Di kampus?”
“Kak Nia itu dosen saya,” kata anak itu.
Prok-prok-prok. Saya jadi 20 tahun lebih tua.
“Kuliah dimana?” teman saya tampak makin penasaran dan terus bertanya pada anak itu.
“Farmasi UI.”
Beruntung proses introgasi itu segera berakhir ketika ponsel anak itu berbunyi. Ia pamit pergi. Lalu saya kembali berduaan dengan teman saya.
“Kamu bilang kamu guru?” teman saya bertanya. Anehnya, kali ini dengan antusias.
“Emang.”
“Ternyata kamu dosen.”
“Kan sama-sama mengajar.”
“Tapi kan beda. Kamu dosen. Keren.”
Bagi beberapa orang, mungkin profesi  dosen terdengar lebih prestisius daripada profesi guru. Saya bukan tidak bersyukur, tapi bukankah esensi dari menjadi dosen dan guru adalah sama? Sama-sama mengajar? Hanya subjek pelajaran dan tingkatannya saja yang berbeda kan? Atau pemikiran saya ini terlalu sederhana.
Tidak lama kemudian teman saya bertanya: “Eh, Nia dateng sendirian?”
“Iya.”
“Nggak sama pacar?”
Oke, ini pertanyaan disturbing nomer satu. Kayaknya di setiap acara pernikahan selalu ada pertanyaan kayak gini ya?
“Nggak punya pacar. Hehehe.” Saya mau menjawab bagaimana lagi selain dengan cengiran nestapa, coba?
“Aku juga nggak punya pacar.”
Emang gue nanya?
Meski begitu, saya sedikit bersyukur, saya bukan satu-satunya makhluk mengenaskan di acara pernikahan ini.
“Eh, boleh minta nomer handphone?” dia bertanya kemudian.
Hmm,,, ini kode bukan sih? Tapi kenapa nggak dari tadi sih nanyanya? Oh, mungkin karena tadi saya cuma seorang guru, jadi dia nggak tanya nomer handphone saya?
Saya nyengir sendiri memikirkannya.
Perception can be deceiving, indeed.



Jumat, 18 Januari 2013

BANJIR



Jakarta. Hujan. Banjir. Tiga serangkai itu selalu berjalan beriringan dengan sahabat keempat mereka. Macet. Bahkan tanpa kedua sahabatnya yang lain, kolaborasi Jakarta dengan sang Macet sudah membuat penghuninya frustasi. Apalagi saat Hujan datang mengajak sahabat karibnya, si Banjir, bersama mereka bersekongkol membuat gila semua orang, tak terkecuali.
Jakarta. Hujan. Banjir. Alex sudah tahu bahwa si tiga serangkai itu akan mengajak serta kemacetan dalam konspirasi terkutuk pagi ini. Itulah mengapa ia yang biasanya berangkat kuliah jam 6.30 pagi, khusus hari ini berangkat lebih pagi. Ia sudah siap di pinggir jalan, menunggu metromini, pada jam 6 pagi.
Tepat seperti dugaan Alex. Bahkan meski ia sudah berangkat kuliah lebih pagi, ternyata dirinya tetap tidak bisa melarikan diri dari Si Macet. Setelah lewat setengah jam, metromini yang dinaikinya hanya bergerak sejauh 500 meter. Lalu lintas sudah padat mengesot bahkan pada hari sepagi itu.
Menurut pantauan twitter, berdasarkan twit @TMCPoldaMetro dan beberapa akun lain, terpantau lalu lintas di segala wilayah Jakarta padat tanpa kecuali. Alex merapatkan jaketnya. Ia beruntung memutuskan menggunakannya pagi ini. Udara di luar sungguh luar biasa. Hujan tidak berhenti turun. Curahnya nggak nyantai. Wajar saja kalau di jalanan-jalanan Jakarta ketinggiana banjir berkisar antara 10 – 50 cm. Bahkan, lagi-lagi menurut pantauan twitter, daerah Kampung Melayu terendam setinggi 1 meter. Menurut @CommuterLine, jadwal perjalanan kereta listrik yang menuju kampusnya di Depok juga mengalami gangguan akibat banjir.
Alex mulai panik. Ia memindai semua info dari twitter dengan cepat. Secepat mungkin ia harus menemukan jalan keluar dari semua ini. Sekarang ia baru berjarak 1 km dari rumahnya padahal sudah 30 menit ia habiskan di metromini itu. Ia harus sudah sampai kampusnya jam 10 pagi ini karena sudah ada janji dengan pembimbing skripsinya. Dengan satu atau lain cara, ia harus menemukan jalan.

HimurAlex HELP! Get stucked here. Gue nyemplung BKT aja. Ga bergerak sama sekali. Mending naik rajawali atau helikopter nih?

Sisiuuulll Samaaaa. Gue nyemplung kolam HI aja nih. Macet banget Lex RT @HimurAlex (re: nyemplung BKT)

HimurAlex Nebeng SBY aja ini mah, biar semua mobil pada ngasih jalan #egois RT @Sisiuuulll (re: nyemplung rame2)

Sisiuuulll @HimurAlex Woi, si doi kantornya jg lg kebanjiran, jd ga buka jasa penebengan. Mending lo nyari tebengan di @nebengers deh

            Atas saran Sisi, teman kampusnya, Alex segera memantau timeline akun @nebengers. Disana terlihat beberapa orang mencari tebengan dan memberi tebengan kepada sesama. Ternyata di hari dimana keempat bersaudara itu berkonspirasi (masih ingat tentang si Jakarta, Hujan, Banjir dan macet itu?), semua orang kesulitan karena rute normal yang biasa mereka lalui terputus, sehingga mereka harus mengambil jalan alternatif. Kebanyakan tidak tahu harus mengambil rute mana yang tidak terhalang banjir. Tapi lebih banyak lagi yang memang tidak tahu rute alternatif selain yang biasa dilaluinya. Akibatnya, mereka mencari tebengan untuk sampai ke tempat kerja atau kampus mereka, atau sekedar tebengan untuk sampai ke tempat dimana mereka sudah tahu harus melanjutkan rutenya ke arah mana.
            Alex menemukan salah satu saksi keberhasilan akun @nebengers mempertemukan para pem#BeriTebangan dan pen#CariTebengan.

Iwed Makasih ya @nebengers ,,, hari ini akhirnya dapet tebengan dari @rajaf dan berhasil sampai kantor dengan selamat

Beberapa testimoni lain menyatakan bahwa perantara akun ini dapat dipercaya. Dan dalam kondisi mendesak ini, segala usaha patut dicoba. Alex mengetik dengan cepat.

HimurAlex Help @nebengers , #CariTebengan Duren Sawit – UI Depok. Sekarang. 1 seat. Share Bensin + Tol. Share Cemilan. Share apa aja deh.

Baru saja mem-post twit-nya, Alex menemukan twit lain yang diretweet oleh @nebengers. Meski tidak tepat seperti tujuannya, tapi setidaknya mereka searah.

SagarAbri #BeriTebengan Buaran – Jl. Raya Bogor. Sekarang. 4 seat. Nampak. Napak Tanah. Hahaha.

            Alex, yang merasa dirinya sebagai makhluk kasat mata dan menapak tanah, segera membalas twit tersebut.

HimurAlex Saya di Duren Sawit, Bang. Boleh nebeng ya? Posisi dimana Bang? RT @SagarAbri #BeriTebengan Buaran – Jl. Raya Bogor.

SagarAbri @HimurAlex Ketemu di depan mall Buaran? In 10 min? DM no.HP dong

            Alex segera turun dari metrominiya. Dia menyebrang jalan dan naik metromini ke arah sebaliknya. Beruntung di arah sebaliknya tidak terlalu macet. Selagi mengambil arah balik, Alex mengirim Direct Message  kepada si SagarAbri itu. Tidak lama kemudian, Alex menerima sebuah SMS.

Ini Abri. @SagarAbri. Kamu @HimurAlex? SMS saya kalau sudah sampai Mall Buaran. Saya otw.

            Kalau tidak ingat bahwa ia sedang berada di metromini penuh orang, ia pasti sudah menjerit kegirangan. Ya Tuhan, kok gampang banget? Makasih banget ya Tuhan. Semoga si Abri ini orang baik, Alex berdoa dalam hati selagi membalas SMS Abri.

            Lima menit kemudian Alex sampai di tempat perjanjian. Ia segera mengirim SMS lagi kepada Abri untuk menanyakan posisinya. Abri tidak membalas SMSnya, tapi langsung meneleponnya.
“Ya, Bang Abri?” sapa Alex begitu mengangkat ponselnya.
“Ini Alex?”
“Iya, Bang. Abang dimana?”
“Himura Alex?”
“Iya, Bang. Abang udah sampai Buaran?”
“Kamu pakai baju apa?”
“Jaket hitam. Rambut pendek. Tas ransel. Payung abu-abu.”
“I got you,” kata Abri cepat.
Alex melongok-longok, dimana gerangan pria bernama Abri itu.
“Saya ada di Fortuner Hitam. 1275 SAG. Di belakang kamu.”
Alex berbalik. Ia melihat sebuah mobil hitam besar, 10 meter di hadapannya. Ia melirik plat mobilnya. Tepat seperti yang disebutkan orang itu tadi.
“I got you, Bang.”
Tersenyum, Alex menutup ponselnya. Sambil berdoa semoga si pemilik Fortuner keren ini memang orang baik hati pemberi tumpangan, bukannya seorang penculik mahasiswa, Alex menghampirinya. Ia membuka pintu mobil itu dan mendapati seorang pria berambut agak ikal duduk di kursi pengemudi.
“Bang Abri?” Alex mengkonfirmasi.
“Alex?”
Alex mengangguk dan tersenyum.
“Masuk.”
Alex menutup payungnya dan masuk ke dalam mobil keren itu.
“Makasih ya Bang, mau ngasih tebengan,” kata Alex mengawali.
“No problem,” pria beralis tebal dengan hidung mancung dan agak bengkok itu tersenyum, “Oke. Kita berangkat sekarang.”
“Saya doang yang nebeng?”
“Nggak ada lagi yang mention saya selain kamu. Langsung berangkat aja.”
Alex mengangguk. Dalam hati ia khusyuk berdoa semoga Abri ini benar-benar orang baik-baik dan tidak akan menculiknya. Tadinya dia mengira akan ada beberapa orang selain dirinya yang nebeng juga. Ternyata tidak.
Abri mulai menjalankan mobilnya. Alex memasang seatbeltnya.
“Kita coba lewat Bintara, langsung turun di Tanjung Barat. How?” tanya Abri.
“Terserah Abang. Lewat tol nggak akan macet?”
“Dengan keadaan begini? You must be kidding me! Nggak mungkin nggak macet. Di semua jalan pasti macet.”
Alex nyengir kecut.
“Tapi untung ada negengers  nih, saya jadi dapet tebengan dari Abang. Saya udah bingung banget tadi lewat BKT macet banget Bang. Trus jadwal kereta berantakan pula karena banjir. Makasih banyak ya Bang.”
“Biasanya naik kereta dari Tebet ya?”
“Iya Bang, tapi Kampung Melayu banjir 1 meter katanya. Nggak bisa lewat sana.”
“Banjir kali ini kayaknya parah banget. Mirip tahun 2002 dan 2007 lalu,” Abri menambahkan, “Eh, bahkan kayaknya lebih parah. Bundaran HI aja sampai banjir.”
“Iya Bang, tadi saya baca beritanya di twitter. Duh, kenapa sih pas saya mau ketemu pembimbing malah hujan deras gini. Jadi banjir kan.”
“Jangan salahin hujan. Hujan itu berkah, tahu. Manusia yang bikin banjir, bukan hujan. Lihat tata kota kita. Atau kebiasaan orang Jakarta yang suka buang sampah di sungai.”
Alex diam, mengangguk-angguk mendengar komentar Abri. Benar juga kata pria itu, sebenarnya memang bukan salah hujan. Menyalahkan hujan sama saja dengan menyalahkan Tuhan, bukan?
“Eh, kamu udah lama follow nebengers?” tanya Abri, mengalihkan pembicaraan.
“Baru tadi pagi, di-suggest teman. Abang?”
“Belum lama juga,” jawab Abri, “Saya suka konsep awalnya. Mirip three-in-one. Mereka mengkampanyekan pengoptimalan kendaraan pribadi supaya bermanfaat bagi lebih banyak orang. Lebih hemat biaya, karena bisa share tol atau bensin. Bisa nambah teman. Sekaligus mengurangi banjir dan polusi udara. Eh, pas kondisi genting begini justru bermanfaat banget kan si nebengers ini?”
Lagi-lagi Alex mengangguk-angguk semangat. Setuju berat.
“Selama ini selain saya, banyak yang nebeng, Bang?” tanya Alex.
“Belum. Kamu yang pertama. Belum nemu yang searah selain kamu.”
Alex tertawa pelan. Dasar jodoh, pikir Alex iseng.
“Kamu harus sampai kampus jam berapa? Emang bulan gini belum libur ya di UI?” tanya Abri.
“Jam 10, Bang. Nggak ada kuliah sih, tapi mau ketemu sama dosen pembimbing.”
“Pembimbing skripsi?”
“Yup.”
“Oh, kamu lagi skripsi?”
“Baru  nyusun proposal.”
Well, good luck then.” Abri tersenyum.
“Bang Abri masuk kantor jam berapa?” Alex balik bertanya.
“Jam 9.”
“Kerja dimana, Bang?”
“Perusahaan farmasi.”
“Oh ya? Saya juga mahasiswa Farmasi, Bang.”
“Oh ya? Tapi saya bukan lulusan farmasi sih. Saya lulusan Teknik Mesin UI.”
“Wah, kita satu almamater, Bang!” Alex berseru senang.
Abri tertawa. Dari tadi anak ini sangat bersemangat. Padahal hujan di luar sangat deras dan suhu di dalam mobil tidak bisa lebih hangat lagi.
“Lihat akun twitter-mu, saya pikir kamu laki-laki,” kata Abri kemudian, sambil tertawa.
Alex nyengir.
“Nama kamu benar Alex?”
“ Yep. Alexa.”
Sou ka? Kenapa nggak tulis Alexa di twitter?”
“Hei! Nihongo ga dekimasuka, onii-san?”
Abri tertawa. “Sukoshi. Saya cuma belajar dari dorama dan anime.”
“Sudah saya duga. Akun Abang itu maksudnya Sagara kan? Sanosuke Sagara?”
“Dan kamu? Himura? Battosai kan?”
Lalu mereka tertawa berdua.
“Tapi cocok,” kata Alex kemudian. Memerhatikan postur tubuh Abri yang tinggi besar, memang mirip seperti tokoh Sano dalam anime Samurai X itu. “Saya belajar farmakognosi. Ilmu tentang tanaman obat. Ada yang namanya Abrus precatorius, Abri Folium. Nama Indonesianya adalah Daun Saga. Abri dan Saga. Benar-benar nama yang cocok buat akun twitter.”
Tawa Abri makin besar. Dia merasa tidak menyesal memberi tebengan kepada gadis tomboy ini. Anaknya enak diajak ngobrol.
“Masih suka nonton anime dan dorama, Bang? Nggak malu sama anak?” tanya Alex.
“Saya belum nikah.”
“Oh ya? Emang angkatan berapa Bang?”
“Jangan suka ngomongin angkatan.”
“Umur? Umur?”
“Apalagi umur.”
“Pasti 30 tahunan ya Bang?” Alex nekat.
“Gue turunin di jalan nih.”
Alex tertawa sambil buru-buru minta maaf. Ternyata pertanyaan tentang status pernikahan dan umur bukan hanya ditakuti oleh perempuan.
“Kalau kuliah, biasanya masuk jam berapa? Jam delapan?” Abri bertanya kemudian.
Alex mengangguk.
“Kalau mau, tiap hari kamu bisa nebeng.”
Mata Alex membesar. “Hah?”
Free. Nggak pakai share tol atau bensin.”
“Serius Bang?”
“Tapi kalau kamu punya makanan enak, saya dengan senang hati menerima. Saya gampang lapar, apalagi kalau nyetir pas macet.”
“Bang, serius?”
Abri tersenyum lebar. “Lagian, nyetir sendirian di mobil kan bete.”


Hujan masih deras. Jakarta masih macet. Banjir dimana-mana. Tapi di dalam mobil terasa hangat bersama lagu-lagu Laruku koleksi Abri.
Alex punya firasat kemana perjalanan ini akan bermuara.


 
 
   
           
 
 
 
 



Selasa, 15 Januari 2013

JEALOUSY

"Udah mau pulang?"
"Iya." Haiva menjawab singkat sambil merapikan dokumen yang berserakan di mejanya.
"Jam segini? Tumben."
"Hmmm." Dengan satu gerakan sigap, Haiva memasukkan beberapa dokumen sekaligus ke dalam tasnya. Ia berniat menyelesaikan pekerjaannya di rumah saja.
"Buru-buru amat?"
"Udah ditungguin."
"Sama siapa? Pacar?"
Haiva hanya menjawab dengan berdehem pelan.
Mata Haris langsung membelalak. "Hah! Emang lo punya pacar?"
"Hahaha."
Haiva tidak menjawab. Ia hanya tertawa
*    *     *
"Eh Va, udah mau pulang?" Haris bertanya selagi men-shutdown laptopnya.
"Iya. Lo udah mau pulang juga kan?" Haiva menjawab sambil membereskan validation reportnya.
"Mau pulang bareng?" Haris menawarkan.
"Makasih Ris. Tapi gue udah ditungguin pulang bareng."
"Hah? Pulang bareng siapa lo? Pacar?"
Haiva tertawa. Haris manyun.
"Beneran lo udah punya pacar sekarang ya Va?"
"Ah, kata siapa?"
"Itu lo udah beberapa kali dianter pulang. Sama cowok kan?"
"Siapa bilang yang nungguin gue pulang itu cowok?"
"Tapi emang cowok kan?"
"Iya sih."
Haiva menyambar tasnya lalu melambai cepat kepada Haris.
"Duluan ya Ris."
Haris hanya memandang Haiva yang keluar ruangan dengan wajah bete.
Sudah 3 tahun mereka menjadi rekan kerja, baru belakangan ini dia melihat Haiva pulang kerja bersama laki-laki lain. Padahal biasanya Haiva nebeng pulang bareng dirinya. Haris jadi bete melihat perubahan Haiva yang tidak lagi seperti dulu, yang selalu menunggunya untuk pulang bersama.
Didera rasa penasaran, Haris membuntuti Haiva dari jauh dan mendapati gadis itu naik ke sebuah mobil yang sudah dikenal Haris. Mobil Pak Herman, IT Director perusahaannya.
Eh? Pak Herman? Kan beliau udah punya istri? Haiva nggak mungkin pacaran sama Pak Herman kan?, Haris menerka-nerka dalam hati.
*       *       *
"Lo kemarin pulang bareng Pak Herman ya?" tanya Haris keesokan paginya begitu bertemu Haiva.
"Lo lihat ya?"
Salah tingkah sesaat, Haris khawatir ketahuan membuntuti Haiva kemarin. Tapi Haris dengan cepat mengatasi salah tingkahnya. Ia buru-buru pasang tampang cool.
"Lha kan kemarin kita bareng keluar ruangan, jadi gue lihat lo naik mobil Pak Herman."
"Ooh."
"Jadi lo belakangan ini kalo nggak bareng gue, lo pulang bareng Pak Herman?"
"Yoi. Doi kan baru pindah rumah, deket rumah gue. Lumayan kalo nebeng beliau, bisa sampe rumah. Kan kalo nebeng lo, gue cuma nebeng sampe Kampung Melayu doang."
"Jiaaahh,,, ngakunya dijemput pacar? Nggak tahunya sama Pak Herman. Bohong lo ya. Padahal masih jomblo. Sok punya pacar aja lo."
"Dih. Siapa yang bilang gue dijemput pacar?"
"Lo yang bilang."
"Gue nggak pernah bilang bahwa gue dijemput pacar."
"Kalo gue ajak pulang bareng, lo jawab gue udah ditungguin."
"See? Gue nggak pernah bilang dijemput. Apalagi sama pacar. Kan lo yang nyangka gue pulang bareng pacar. Gue nggak pernah meng-iya-kan lho."
Haris manyun.
Haiva tertawa. "Jealous lo ya?"
"Dih. GR aje lo," kata Haris sok cool.
Haiva tertawa lagi. Padahal dalam hati ia berharap Haris benar-benar cemburu padanya.
*        *         *
"Pulang duluan ya Ris."
"Hah? Validation report lo udah beres?"
"Belom. Gue kerjain di rumah aja. Gue mesti buru-buru pulang."
"Udah ditungguin?"
"Yoi."
"Sama siapa?"
"Pacar."
Haris tertawa. Meledek. "Ah,paling-paling pak Herman lagi. Ahahahaha."
Haiva cuma tersenyum.
"Udah ya Ris, gue duluan. Daaah."
Haris membalas lambaian tangan Haiva sekilas sebelum kembali menekuni desain artwork packaging materialnya.

Hamka datang ke ruang kerja Haris sepuluh menit kemudian.
"Tumben tuh si Haiva udah pulang."
"Iye tuh," jawab Haris singkat.
"Dia pulang bareng cowok pula. Tadi gue lihat di parkiran."
"Paling nebeng Pak Herman."
"Bukan mobilnya Pak Herman sih kayaknya."
"Paling nebeng orang lain kalo gitu."
"Iya kali ya? Eh, tapi lo ga jealous?"
Haris menghentikan pekerjaannya demi meladeni Hamka.
"Kenapa mesti jealous?"
"Karena dia nggak nebeng pulang bareng lo lagi."
Haris tertawa.
"Serius gue," kata Hamka, "Lo naksir Haiva kan? Nggak cemburu dia udah punya pacar?"
"Kata siapa itu pacarnya? Ah, itu mah sok-sokannya dia aja udah punya pacar. Gue yakin dia masih jomblo. Cuma pengen bikin gue jealous aja tuh."
"Tuh kan, lo jealous kan?"
"Biasa aja. Gue tahu itu bukan pacarnya. Dia mah udah disorientasi definisi pacar. Semua orang yang nganter dia pulang pasti dibilang pacar. Pak Herman aja dibilang pacar."
"Tapi yang tadi gue lihat bukan Pak Herman. Cowok. Masih muda. Curiga gue, mungkin beneran pacarnya Haiva."
"Ah, paling-paling karyawan dari divisi lain yang rumahnya searah sama dia."
"Lo tuh katanya suka sama Haiva. Kok nggak jealous? Cemburu itu tanda cinta,tau."
"Ngapain cemburu? Gue yakin si Haiva belum punya pacar kok."
"Nyesel lo kalo beneran tuh cowok adalah pacarnya Haiva."
Haris mendelik.
"Lo belom nembak dia juga kan Ris? Ntar keburu diambil orang lho."
"Nggak. Gue tahu kok dia juga naksir sama gue."
"Dih. GR amat lo. Tau dari mana si Haiva naksir lo?"
"Tuh, dari si Hana, sahabatnya Haiva. Dia bilang ke gue bahwa Haiva juga naksir gue."
"Nah terus? Kenapa lo belum bilang cinta juga ke Haiva?"
Haris tersenyum.
"Ih, gue geregetan sama lo. Udah jelas-jelas lo naksir dia. Lo juga udah tau bahwa dia naksir lo. Nunggu apa lagi? Nunggu Haiva diambil orang lain?"
"Gue nunggu waktu yang tepat."
Hamka menggelengkan kepala. "Nunggu waktu yang tepat? Waktu yang tepat itu bukan ditunggu, Ris, tapi dibuat."
Haris hanya tersenyum. Dia tahu tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia percaya Haiva juga mencintainya dan akan menunggunya menjemput hati gadis itu.
*          *           *
Weekly meeting selalu diadakan tiap hari Jumat pagi, 15 menit sebelum jam kerja dimulai. Bukan jenis meeting formal, tapi pertemuan itu diadakan sebagai ajang silaturahmi untuk share informasi dan curhatan para karyawan departemen QA seputar pekerjaan maupun pribadi, demi menjaga kinerja dan hubungan interpersonal yang baik antar rekan kerja. Pada saat weekly meeting itulah Haiva mengumumkan hal penting. Ia menbagikan sebuah undangan kepada masing-masing personil QA.
"Lo nikah, Va? Kok mendadak?" tanya Hilda takjub.
"Ah, nggak mendadak kali."
"Tapi gue nggak pernah tahu bahwa lo punya pacar."
"Ya emang kalo gue punya pacar, mesti gue woro-woro gitu?"
"Jangan-jangan yang beberapa bulan ini sering jemput lo pulang ya?" tanya Hamka cepat.
"Nah, pinter nih si Hamka," jawab Haiva sambil tertawa tersipu.
"Bukannya ... lo pulang bareng Pak Herman?" akhirnya Haris bersuara dengan kikuk.
Hamka melirik Haris. Tampak jelas wajah Haris yang terpukul.
"Seringnya sih gue nebeng Pak Herman. Tapi kadang-kadang dijemput juga sama pacar," kata Haiva, "Lha kan tiap mau pulang, gue pasti pamit sama lo dan bilang bahwa gue dijemput pacar."
"I thought ... you're kidding me..." Haris bergumam lirih.
Haiva tertawa.
Haris bersitatap dengan Hamka, dan sahabatnya itu memberikan tatapan mengejek.
Gue bilang juga apa, begitu kira-kira Haris mengartikan tatapan Hamka yang penuh makna itu, waktu yang tepat itu bukan ditunggu. Lo yang harus menciptakan waktu yang tepat itu. Makan tuh gengsi!
Haris makin nelangsa melihat tatapan Hamka yang seperti sedang mencemoohnya.

Hana, lo kok nggak bilang bahwa Haiva udah punya pacar? , Haris mengirim SMS kepada Hana, sahabat Haiva yang bekerja di departeman Regulatory, setelah selesai weekly meeting.
Beberapa menit kemudian, dia menerima balasan SMS Hana: Lha, gue kira lo udah tahu bahwa Haiva udah punya pacar. Kata Haiva, dia udah ngasih tau lo.
Dengan cepat Haris membalas: Kalo gue udah tau, gue nggak mungkin sekaget ini terima undangan nikahnya. Lo bilang dia cinta sama gue. Gue lagi nunggu waktu yang tepat buat bilang ke dia. Eh tiba-tiba dia udah mau nikah. Lo bohongin gue ya?
Tidak sampai semenit kemudian balasan Hana datang. Isinya sangat menusuk Haris: Haris, Haiva emang cinta sama lo. Tapi cinta nggak menunggu. Cinta itu memperjuangkan atau melepaskan, bukan menunggu. She ever loved you. She loves you no more. Dia udah menemukan  laki-laki yang memperjuangkan dia, bukan hanya menunggunya.
Haris terpaku memandang undangan pernikahan itu. Membaca nama lelaki itu
HASAN.
HAIVA dan HASAN.