Luna Lovegood inside. Noda Megumi outside.

Rabu, 24 Juli 2013

To be Loved

          Pernahkah kamu terobsesi pada sesuatu selama bertahun-tahun? Dan meski kamu tahu obsesimu itu nyaris mustahil, kamu tidak mau menyerah juga? Bahkan kamu rela mengubah dirimu, menjadi seseorang yang sama sekali bukan dirimu, demi mendapatkan obsesimu itu? Aku pernah!
Sudah sejak SMU aku mengidolakannya, sementara dia sama sekali tidak mengenalku. Dia bukan teman sekolahku, bukan teman lesku,bahkan sama sekali bukan siapa-siapa bagi duniaku. Tapi sejak melihatnya bertanding basket, saat tim sekolahnya melawan tim sekolahku, dia menjadi seseorang bagi duniaku.
Dari sahabatku yang bersekolah di SMU yang sama dengannyalah aku tahu tentangnya. Airlangga Kamanjaya namanya. Angga, panggilannya. Dari sahabatku itu jugalah aku tahu bahwa Angga tidak melanjutkan kuliah di Indonesia. Dia mendapat beasiswa di Todai (Tokyo Daigaku – Tokyo University). Saat itu juga aku bercita-cita, suatu saat kelak aku harus sekolah di Todai juga.
    “Saat lo berhasil menyusulnya ke Jepang, mungkin dia malah balik ke Indonesia,Lex,” kata Abri, sahabatku yang teman sekolahnya Angga itu, mencemooh cita-citaku.
       Tapi kurasa Abri memang punya bakat sebagai cenayang, karena lima tahun kemudian ketika baru saja aku mengirimkan aplikasi beasiswaku ke Jepang, Abri memberitahu bahwa Angga sudah pulang ke Indonesia.
     “I’ve told you, Lex. Kalian emang nggak berjodoh,” komentar Abri, menertawakanku dengan sangat tega.
            Aku manyun sambil menonjok bahu Abri. Sial!
        “Lo masih terobsesi sama Angga sampe sekarang, Lex?” tanya Abri, makin mencemooh.
            Aku mengabaikan cemoohannya dan tidak membalas.
            “Teman SMU gue nikah dua minggu lagi. Dia sahabatnya Angga. Ikut aja sama gue, kalau lo mau ketemu dia,” kata Abri kemudian, sambil nyengir.
            Dan senyum itu menular. Senyumku malah mencapai mata.  Serta merta aku merangkul Abri karena telah berbaik hati mengajakku. Abri balas menepuk lenganku, masih sambil menertawakanku.


            Hidup adalah pilihan. Dan seringkali, ironisnya, kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit dipilih. Coba beri tahu aku, apa yang harus kupilih? Apakah aku harus menerima kenyataan bahwa Angga seorang gay dan menyerah terhadap obsesiku selama bertahun-tahun, atau aku terus berjuang meski harus mengubah diriku menjadi lelaki?
            Abri yang mengajukan pilihan sulit itu di depan mataku. Tepat seminggu sebelum acara pernikahan teman SMU Abri, yang prediksinya akan dihadiri Angga juga, Abri memberitahuku berita mengejutkan itu.
            “Itu mah gosip doang kali?” tanyaku, keukeuh tidak mau percaya.
          “Alexa Rahmi, terima kenyataan aja deh,” jawab Abri, sambil menepuk pundakku.
            “Sinting lu! Setelah bertahun-tahun gue mencari cara supaya bisa ketemu dia, sekarang lu nyuruh gue nyerah aja? Cuma karena gosip begituan?” jawabku sewot.
            “Itu bukan cuma gosip begituan, Lex. Gue denger sendiri dari sahabatnya, si Anita, yang minggu depan mau married itu lho. Lu pikir kenapa si Angga bisa sahabatan lama sama Anita? Cuma ada dua alasan kenapa cowok dan cewek bisa bersahabat lama tanpa saling naksir. Karena salah satunya brengsek, atau karena salah satunya homo.”
            “Lha, kita bersahabat sejak SD. Dan gue jelas nggak brengsek. Mungkin lo yang homo?”
            “Eh, ampun deh, dia malah nuduh gue.”
            “Atau lu pernah naksir gue?”
            “Oke, kita balik ke topik utama aja deh!” kata Abri cepat. Aku jadi curiga, mungkin Abri memang pernah naksir aku? Hehehe.
            “Pokoknya gue nggak percaya sama gosip itu!


            Berapa banyak orang sudah berubah demi orang lain. Mereka berubah demi diterima oleh masyarakat, demi dicinta. Beberapa orang rela berubah demi menjadi dekat dengan orang yang dicintainya. Beberapa bahkan mengubah total penampilannya. Berapa banyak sinetron atau drama tentang gadis yang rela mengubah penampilannya menjadi seperti lelaki demi mendekati pria yang dicintainya? Dulu aku selalu mencerca drama seperti itu. Menganggap itu tindakan yang bodoh luar biasa. Dulu, sebelum aku mengalaminya sendiri. Sekarang aku tahu mengapa tindakan bodoh itu mau saja dilakukan seseorang demi orang yang dicintainya. Dan kalau mereka melakukan hal konyol itu hanya demi menjadi dekat dengan orang yang dicintainya, aku rela mengubah diri menjadi lelaki demi membawa kembali lelaki yang kucintai.


Selasa, 23 Juli 2013

GAJI PERTAMA

Menjelang akhir bulan nih. Menjelang Idul Fitri juga. Siapa hayo yang udah dapet gaji/THR pertama?

Biasanya sih gaji pertama ga pernah bisa ditabung. Mengapa?
Pertama, karena gaji pertama biasa dihabiskan untuk membeli kebutuhan kerja, misal baju, sepatu, tas, asesori dan alat make-up. Ini wajar saja. Namanya juga setiap usaha, perlu modal awal. Dan modal pertama bagi pekerja kantoran adalah penampilan yg baik dan menarik. Setidaknya itu mencerminkan citra baik diri sendiri dan citra perusahaan tempat kita bekerja. Gaji pertama gue dulu juga sebagian besar dialokasikan untuk beli baju dan sepatu kerja. Mengapa? Karena semasa kuliah gue pakai kemeja dan sepatu kets melulu. Masa pas kerja masih aja pake kemeja cowok gitu? Gimana bos gw bisa naksir kalo baju kerja gw buluk? #gaplokdirisendiri
Alasan kedua mengapa gaji pertama tidak pernah bisa ditabung adalah karena fenomena "traktiran". Pasti kalian sering dengar kata2 seperti ini: "Ciyeee,, gaji pertama nih. Traktir2 dong."

Kadang gue benci jadi orang Indonesia yg kebanyakan basa-basi dan rasa sungkan berlebihan. Dan line "traktir2 dong, kan gaji pertama" ini sungguh annoying. Bagi beberapa orang ini justru jd beban. Boro-boro bisa nraktir, kadang gajinya aja malah ga cukup untuk hidup sebulan.

Sama kayak line "Ciyeee yang ulang tahun, traktir2 dong." Emang kalau orang lg ulang tahun bisa tiba2 kaya-raya dan bisa mentraktir semua orang yg ngucapin "met ultah"? Ulang tahun tuh mendingan berbagi sama anak yatim atau orang yg ga mampu. Kenapa malah nraktir temen2 yg ngucapin "met ultah" cm krn notif FB? Mendingan nraktir orangtua dan keluarga yg sudah melahirkan kita dan jelas berjasa dalam kesuksesan kita. Gw pribadi ga pernah peduli sama kata2 macam begini. Kalau gue mentraktir pd saat hari lahir gue, itu memang krn gw ingin berbagi kebahagiaan bersama teman2, bukan krn ditodong traktiran.

Oke, balik lagi ke gaji pertama. Gw bukannya anti berbagi-kebahagiaan-gaji-pertama, tp kalaupun kalian pengen traktir2 dlm rangka gaji pertama, ikhlaslah, jgn krn "ditodong".

Beberapa orang minta ditraktir emang karena "celamitan" atau pny mental "gratisan". Padahal kalo dipikir2 lagi, mungkin orang2 ini malah ga pny andil dlm kesuksesan kita. Sayang banget kan kalo demi nraktir orang2 oportunis macam ini kita sampe ga bisa membahagiakan orangtua/ keluarga sendiri?
Tapi nggak jarang juga lho, sebenarnya orang2 yg ngomong "traktir dong, kan gaji pertama" itu tdk benar2 minta ditraktir. Ini cuma semacam gurauan atau kebiasaan-turun-temurun-orang-Indonesia-yang-suka-berbasa-basi. Ini nih yg harus diubah dr kebiasaan kita. Kita seringkali ga sadar bahwa gurauan kita untuk minta traktiran itu memberi beban berat bagi yg diminta traktiran. Jadi sodara-sodara sebangsa setanah air, marilah kita menghilangkan kebiasaan minta traktiran, entah hanya bergurau, apalagi kalau serius.

Btw, berikut adalah saran2 gue untuk alokasi gaji pertama. 
Makan keju makan geplak, boleh setuju boleh tidak.
1.  Pertama kali, segera sisihkan gaji pertama untuk kebutuhan dasar karyawan: biaya transport, uang makan (kalo kantor ga menyediakan makan siang), dana beli baju-separu-tas-etc perlengkapan kerja.
2. Zakat dan sedekah. Ada yg bilang, zakat itu dikeluarkan setelah 1 tahun. Gw orangnya pikun sih, jd setiap bulan lgsg aja menyisihkan untuk zakat dan sedekah. Oiya, mumpung menjelang Idul Fitri nih, gaji pertamanya disisihkan untuk zakat fitrah juga ya :D
3. Buat orangtua.  Kadang untuk anak2 yg berasal dari keluarga berada, memberikan gaji pertama yg ga seberapa besarnya itu kepada orangtua yang berkecukupan rasanya seperti menaburkan garam ke laut, alias sia-sia. Tapi gue berpendapat sebaliknya. Meski orangtua kita sudah sgt berkecukupan shg tdk memerlukan gaji pertama kita, menyerahkan gaji pertama kepada orangtua itu lebih bertujuan sebagai bukti bahwa beliau sudah berhasil membesarkan kita hingga sekarang kita bisa hidup mandiri. Gue rasa itu membuat rejeki selanjutnya lebih berkah krn diridhoi orangtua. Toh pada akhirnya, beberapa orangtua yg telah berkecukupan akan mengembalikan gaji pertama kepada kita karena dirasa kita lebih membutuhkan uang itu.


Nah, ada satu fenomena lagi nih yg sering tjd di bulan Ramadhan. Harusnya sih dgn berpuasa, kita belajar hidup prihatin, termasuk menahan nafsu makan yg berlebihan. Realitanya, saat bulan Ramadhan, pengeluaran rumah tangga yg dialokasikan untuk makanan seringkali justru meningkat. Bukan hanya krn harga bahan makanan yg meningkat, tp justru krn masyarakat makin konsumtif di bulan Ramadhan. Alih2 belajar prihatin, masyarakat justru pengennya bermewah-mewah saat berbuka puasa. Di hari biasa makan cukup dengan nasi, oseng2 dan tempe,,, tapi pas bulan Ramadhan justru pengen nambah kolak untuk menu pembuka.

Alasan kedua mengapa pengeluaran di bulan Ramadhan justru meningkat adalah karena tren "buka puasa bersama". Sekali lagi, gue bukan aliran anti-buka-puasa-bersama, tapi acara "buka puasa bersama" ini lumayan menguras kantong, maka janganlah memaksa teman2 yg ga mau (atau lebih parah lagi, janganlah memaksa diri sendiri) untuk buka puasa bersama kalau memang kondisinya tdk memungkinkan (termasuk kondisi keuangan). Buka puasa bersama itu untuk berbagi kebahagiaan saat buka puasa,,, semestinya jangan meninggalkan kepusingan akibat kebangkrutan mendadak. Lagipula, kalau dipikir-pikir, sebenarnya sebahagia-bahagianya buka puasa bersama adalah bersama keluarga. Iya ga?

Fenomena selanjutnya menjelang Idul Fitri adalah euforia THR. Sayangnya, kesenangan THR ini kadang hanya berlangsung bahkan sebelum mencapai Idul Fitri. Seringkali THR habis sebelum lebaran tiba. Ga salah sih, THR sah-sah aja untuk dihabiskan kok (meski di tangan gw, saking pelitnya THR bisa masuk tabungan). Sayangnya, kadang THR habis tanpa jejak,,, tanpa sadar kita menghabiskan THR tanpa mendapat hasil yg jelas. Misal, terlalu heboh belanja baju baru, belanja bahan makanan buat bikin opor-ketupat-etc, dan bagi2 angpao. Padahal, manusia dewasa hrsnya ga perlu heboh lagi dgn ritual "harus-pake-baju-baru-saat-lebaran". Dan hanya krn kalian dpt THR, bukan berarti kamu harus bagi2 angpao saat lebaran. Lebih dilematis lagi kalau punya banyak saudara yg belum bekerja, kamu sbg yg sdh bekerja mungkin jd merasa terbebani dgn "kewajiban" memberi angpao. Padahal yang wajib itu zakat fitrah lho bukan bagi2 angpao.

Belakangan malah bagi2 angpao ini jadi semacam ajang "gengsi". Makin besar jumlah uang dlm angpao yg kamu bagikan, makin besar gengsi yg kamu tunjukkan ttg betapa besarnya gaji kamu. Apa itu salah? Nggak juga kok. Itu sih hak masing2 orang. Gue cuma suka tergelitik aja denger orang banyak ngeluh "Duh, THR habis buat belanja dan angpao." Ya kalo ga rela THRnya habis, ya ga usah memaksakan bagi2 angpao.

Sebenernya, dgn managemen keuangan yg baik, THR itu bisa dimanfaatkan dgn lebih baik lho. Kalau THR ditabung kan bisa buat nambahin modal kawin atau nyicil rumah  :D
Pengaturan keuangan yg hanya berdasar "perasaan" akan berakibat buruk pada kondisi keuangan kita.


Jadi, apa intinya obrolan ngalor-ngidul gw kali ini? 
Berbagilah. Dan berbahagialah.
Jangan berbagi, tapi kemudian menggerutu.



PS. Hampir memasuki 10 hari terakhir Ramadhan nih, ngajinya udah hampir khatam?

Minggu, 12 Mei 2013

PERGI

Saya bukan orang yang suka berpergian. Bisa dibilang anak rumahan. Kalau tidak sangat terpaksa, saya selalu malas keluar rumah. Maka rasanya ini posting pertama saya tentang sebuah perjalanan.

Ini bukan pertama kalinya saya berpergian jauh. Saya sering pulang kampung ke Trenggalek, Jawa Timur, beberapa kali ke Bandung dan Jogjakarta. Tapi ini perjalanan pertama yang saya lakukan dengan alasan yang berbeda. Biasanya saya berpergian jauh hanya karena mudik, berlibur atau urusan pekerjaan. Kali ini tidak. Kali ini saya pergi bukan hanya untuk berlibur. Ini pertama kalinya saya pergi dengan tujuan khusus.

Ada yang bilang, terkadang orang-orang berpergian hanya untuk mencari tempat dimana ia ingin kembali pulang. Rumah. Kali ini saya pergi untuk mencari jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya. Ini pertama kalinya saya pergi untuk mencari. Membawa 3 pertanyaan untuk dipertemukan dengan jawabannya.
Tidak ada urutan prioritas dari alasan dan pertanyaan yang membawa saya pergi ke Malang kali ini. Semua tujuan saya sama pentingnya. Semua pertanyaan saya juga sama-sama mencari jawabannya.


Alasan pertama saya adalah karena kota yang kami tuju adalah Malang. Kota asal murid dan guru saya, dan banyak orang lain yang saya kenal. Entah mengapa saya mengenal banyak orang Malang. Di Malang juga tinggal beberapa saudara saya, meski kali ini saya tidak sempat mengunjungi mereka. Saya ingin tahu di tempat seperti apa mereka dibesarkan, sehingga semua orang Malang yang saya kenal memiliki kualitas yang hampir serupa: cerdas dan goodlooking.
Dengan alasan pertama itulah, ketika ada kesempatan Family Gathering bersama kru dan alumni Farmasi UI ke Malang, saya segera mendaftar ikut.

Kami menuju Malang dengan kereta. Dari jam 14.45 siang di stasiun Kota Jakarta, sampai jam 9.00 pagi keesokan harinya di Stasiun Kota Malang Baru. Saya berangkat pada hari Rabu jam 10 pagi. Terima kasih kepada kak Rezi yang sudah menggantikan saya belajar bersama adik2 saya di FISIP pada hari Rabu siang itu.

Beruntung saya sudah mengembangkan kemampuan saya yang satu ini sejak beberapa tahun lalu sehingga saya tidak terlalu kesulitan tiap kali dalam perjalanan jauh: menahan pipis. Jangan aplikasikan kebiasaan ini dalam kehidupan sehari-hari karena ini berisiko menyebabkan batu ginjal. Demi tidak urinasi, setiap perjalanan jauh saya mengurangi frekuensi dan volume minum, juga memilih pocari sweat alih-alih air mineral biasa.

Menahan urinasi bukan bagian tersulit dari sebuah perjalanan panjang. Bagian tersulitnya adalah membangun obrolan dengan teman seperjalanan supaya perjalanan 18 jam mu tidak garing dan membosankan. Tapi rasanya saya beruntung, saya memiliki teman seperjalanan (baik selama di kereta maupun di bis) yang membuat saya tidak merasa canggung meski tidak banyak bercakap-cakap. Saya tidak perlu terus mencoba mencari topik obrolan hanya supaya tidak terasa garing. Toh kalau kami ngobrol, itu karena memang ada hal menarik yang ingin kami bicarakan, bukan topik yang dicari-cari sebagai bahan obrolan. Biasanya, sepanjang perjalanan di kereta maupun bis, dia lebih banyak diam memandangi pemandangan dan saya lebih banyak tidur. Hahaha.

Kami sampai di Malang dengan badan pegal-pegal karena 18 jam duduk di kursi tegak. Lebih parah lagi buat saya karena ponsel saya lowbat sejak jam 12 malam padahal saya sudah mencharge HP full di stasium Kota. Powerbank milik si partner juga tidak berhasil mengembalikan HP saya seperti semula. Yang bikin saya gelisah bukan karena saya tidak bisa live-report perjalanan saya via twitter. Saya lebih gelisah karena dengan matinya ponsel saya, ibu saya akan gelisah karena gagal menelepon saya. Benar saja, pada Kamis pagi saya terbangun di kereta karena si partner memanggil-manggil nama saya dalam pembicaraanya dengan seseorang di seberang ponselnya.

"Nia baik-baik aja, Tante, tapi HPnya mati sejak tadi malam. Belum bisa charge HP lagi."
Tuh kan, Ibu saya memang begitu. Seketika tidak mendapat kabar dari anak-anaknya, beliau akan mulai menggerecoki teman-teman anak-anaknya. Makanya sebelum pergi, saya memberikan no.hp si partner kepada Ibu saya. Ibu saya sih minta juga no.hp ketua panitia perjalanan ini, tapi masa saya harus kasih no.hp Pak Harmita??? Hahahaha.

Dengan badan lepek karena belum mandi seharian, kami sampai di Alun-alun Malang dan sarapan-yang-terlambat disana. Setelah itu, kami menunggu waktu Dzuhur tiba di Masjid Agung Malang. Kamar mandinya bersih, jadi saya sekalian bersih-bersih badan disana. Setelah sholat dzuhur, kami beranjak makan siang di Warung Manteb Ibu Lanny. Enak-enak makanannya. Boleh dicoba kalau lagi ke Malang.

Kami sampai di Hotel Agrowisata Kusuma sekitar jam 4 sore. Hotel tersebut berada di daerah Batu. Kalau kota Malang berhawa panas seperti Jakarta, Batu justru dingin seperti puncak.

Saya menginap sekamar dengan mbak Galuh dan sepupunya, Ririn. Pada hari-hari setelahnya, kami bertiga selalu bersama-sama: ke BSN, ke Jatim Park, juga ke Bromo dan Surabaya. Er, plus ditambah Om Radit sih yang dengan baik hati selalu mau membawakan ransel saya kemana-mana.

Hotelnya kece badai. Di belakang hotel juga ada taman agrowisata lho, jadi kami keesokan paginya bisa wisata petik buah :D ,,, meski cuma metik buah jambu #eeeaaa. Dan yang paling penting dari sebuah hotel di daerah dingin seperti Batu adalah suplai air panasnya. Pokoknya betah banget di hotel ini.

Setelah mandi dan istirahat sebentar di hotel, kami foto-foto di taman hotel. Bagus banget pemandangannya. Btw, foto-fotonya akan diupload nanti ya. Sekarang masih dikompilasi sama om Radit. Hehehe.

Malam harinya, jam 6.30 malam, setelah sholat Maghrib, kami pergi ke Batu Night Spectacular. Itu semacam pasar malam. Wahananya mirip dufan sih tapi dengan skala yang lebih kecil. BNS ini lumayan rame juga. Dua jam disana, saya cuma sempat mencoba teater 4D dan sepeda udara. Sebenarnya udah niat foto-foto di lampion garden BNS, tapi udah keburu ditinggal sama bis untuk balik ke hotel, jadi nggak sempat deh.

Keesokan paginya, kami pergi ke Jatim Park 2. Di kawasan ini ada 3 tempat yang bisa dikunjungi. Jatim Park 2 semacam Ragunan dan Taman Safari. Didesain sedemikian rupa, Jatim Park 2 ini one way, jadi semua pengunjung pasti melewati semua tempat dan melihat semua hewan disana. Dan pengunjung bisa melihat dari dekat semua hewan-hewan. Bahkan kita bisa melihat singa berjalan di atas kepala kita dari sebuah kandang kaca. Baik pisces, reptil, aves sampai mamalia, semua ada disini. Baik yang lucu sampai yang menyeramkan, semua ada. Semua kandangnyapun bersih dan nggak bau. Nyaman banget jalan-jalan disana. Nah, bagi yang capek jalan kaki, kalian bisa sewa electric-bike gitu, 100ribu rupiah per 3 jam. Saya sih prefer jalan kaki, meski harus pakai koyo, tapi puas.

Oiya, di Jatim Park 2 ini juga ada Happy Land, semacam Dufan versi mini. Bersama ketiga teman geng kece saya yang lain, kami main Shark-Coaster dan Horror House juga disini. Disini saya menemukan jawaban untuk pertanyaan saya yang kedua. Tunggu, saya bukan bertanya apakah kuntilanak benar-benar punya anak atau tidak kok. Saya mempertanyakan hal lain, tapi anehnya saya justru menemukan jawabannya di Horror House Jatim Park 2 ini. Anehnya hidup. Ia menunjukkan jawaban di tempat dan waktu yang tidak kita duga.

Di Jatim Park 2 juga ada EcoGreen Park. Kali ini kami nggak kesana. Tapi menurut orang-orang, EcoGreen Park ini bagus lho, terutama buat anak-anak belajar tentang ekologi.

Nah, ini nih tempat yang paling saya suka dari Jatim Park 2. Museum Satwa. Ada kerangka dinosaurus di pintu depan, dan banyak diorama hewan-hewan yang tampak nyaris seperti nyata. Diorama savananya nyaris seperti hidup. Sepanjang jalan, saya berantem sama si partner. Dia bilang, hewan-hewan itu asli dan diawetkan. Saya masih berpikir itu hanya boneka meski kelihatan sekali seperti asli, karena mata hewan-hewan itu terbuka. Ah, apapun itu, saya sangat menikmati diorama hewan-hewan disana. Ada koleksi kupu-kupu yang diawetkan juga disana. Dan subhanallah, sebagian kupu-kupu paling cantik disana berasal dari pulau-pulau di Indonesia lho.

Kami berdua mengakhiri perjalanan di Museum Satwa setelah betis saya berkonde dan ponsel canggih si partner lowbat nggak bisa foto-foto lagi. Percuma foto-foto pakai ponsel saya, resolusinya kurang bagus.
Oiya, di Batu ada Jatim Park 1 juga lho. Semacam Dufannya Jakarta. Tapi kemarin kami tidak kesana. Saya lebih pilih datang ke Museum Satwa Jatim Park 2 yang sudah direkomendasikan Bos Besar. Sebagai orang Malang, beliau sudah mensuggest beberapa tempat yang harus saya kunjungi saat ke Malang. Salah satunya adalah Jatim Park 2. Alasan lain, kalau ke Jatim Park 1, si partner nyaris nggak bisa naik apa-apa karena takut ketinggian.

Jam 3 sore kami berdua selesai mengelilingi Jatim Park 2 dan Museum Satwa. Dengan kaki pegal-pegal, sambil menunggu bis menjemput jam 4 sore, kami duduk-duduk di pelataran Museum Satwa. Saya mencharge ponsel mumpung nemu colokan listrik di depan pintu masuk museum. Si partner ngiler ngeliatin booth eskrim cone vanila di seberang pelataran dan akhirnya nggak tahan untuk beli juga.

Setelah bis datang, kami berangkat ke sebuah restoran untuk makan malam bersama. Namanya Warung Wareg. Wareg itu bahasa Jawa yang berarti kenyang. Artinya, silakan makan disini sampai kenyang. Oiya, makan malam kali ini disponsori oleh Bos Besar. Waktu pertama kali saya cerita bahwa kru dan alumni Farmasi UI mau family gathering ke Malang, si Bos yang memang asal Malang bilang bahwa beliau akan ikut. Tapi mendadak katanya ada meeting sehingga tidak jadi datang. Sebagai pengganti ketidakhadirannya, beliau meminta tolong pada adiknya untuk memesan sebuah restoran untuk makan malam kami. Restoran yang beliau pilih ternyata kece. Makanannya enak dan ada organ tunggalnya. Setelah makan malam, kru dan alumni Farmasi UI asik karaoke dan joget semua. Sambil nonton para dosen nyanyi dan joget, saya live report ke si Bos. Beliau senang mendengar bahwa kami semua menikmati makanan dan suasana karaoke bersama.

Malam itu saya juga bertemu dengan kakak, adik, ipar dan keponakan si Bos yang ingin memantau suasana makan malam sesuai yang dipesankan beliau, sekaligus makan malam disana. Ini bukan pertama kalinya kami bertemu, sebelumnya kami pernah bertemu di rumah si Bos saat keluarga besarnya ke Jakarta lebaran lalu. Tapi ini pertama kalinya kami ngobrol banyak, iya.

Jam 8 malam kami selesai makan malam dan pulang ke hotel. Sampai di hotel, saya dan Ririn langsung packing sambil nonton X-factor, karena jam 00.30 malam kami sudah harus pergi dari hotel menuju Bromo. Mbak Galuh? Doi masih naracap (tahu kan kalo orang Malang suka banget ngomong kebalik-balik gitu). Sekembalinya ke hotel jam 10 malam, mbak Galuh juga segera packing. Jam 11 malam kami selesai packing dan mandi malam (syukurlah ada suplai air panas), lalu tidur. Jam 12 malam, kami dibangunkan untuk bersiap. Jam 00.30 pagi dini hari kami sudah pergi dari hotel, dengan 9 elf beriringan menuju Pananjakan.

Karena sangat ngantuk, saya sempat tertidur di elf. Tapi ketika jalan mulai menanjak, saya terbangun karena telinga saya mulai terasa tidak enak. Untuk ke Bromo ini, saya sudah menyiapkan sweater tebal, syal dan sepatu kets. Tapi saya lupa dua hal yang tidak kalah penting. Sarung tangan. Beruntung ada yang menjual sarung tangan ini di Pananjakan seharga 5000rupiah sepasang. Kedua, permen karet. Demi mengatasi perbedaan tekanan udara saat berkendara naik dan turun gunung, harusnya saya terus mengunyah permen karet sehingga telinga saya tidak terganggu. Setelah terbangun sekitar jam 2 pagi, saya tidak bisa tidur lagi. Pertama, karena sibuk mengumpulkan-menelan saliva berkali-kali, mengganti metode mengunyah permen karet untuk mengatasi gangguan di telinga saat elf makin menanjak. Kedua, melihat ke sisi kiri elf, tepat jurang yang curam. Berkendara di malam hari dengan sisi jalan menanjak berupa jurang, membuat saya tidak tenang. Saya sibuk berdzikir sepanjang jalan supaya mobil elf ini sampai dengan selamat di tujuan.

Kami tiba di Pananjakan jam 4 pagi. Di Jawa Timur ini jam 4 pagi sudah menjelang subuh. Saat keluar mobil elf, semburat kekuningan mulai terlihat di timur. Tapi di langit barat, bintang bertebaran di langit gelap. Duh, indah banget. Subhanallah. Di Jakarta, saya nggak bisa melihat bintang satupun. Tapi di Pananjakan ini, nggak terhitung banyaknya bintang yang bertebaran di langit hitam itu.

Begitu keluar dari mobil, dingin menyergap. Rasanya sampai ke tulang, meski saya sudah memakai sweater tebal dan syal yang menutupi telinga dan hidung. Dari tempat mobil elf berhenti, untuk bisa memandang sunrise yang indah, kami perlu naik berjalan kaki sekitar 2 km lagi. Baru naik beberapa meter, saya sudah merasa sesak nafas. Udara tipis. Naik sepeda UI tiap pagi, mengejar kereta dan main badminton ternyata bukan olahraga yang cukup untuk naik gunung. Ditambah saya alergi terhadap udara dingin dan mengidap sinusitis. Saya hampir berhenti naik. Tapi Mbak Galuh bilang "Jangan berhenti. Kalau berhenti berjalan, nanti makin kedinginan. Kita bisa jalan pelan-pelan," dengan sabar.

Fiersa pernah bilang, mencapai puncak paling awal untuk melihat sunrise bukanlah yang terpenting bagi pendaki. Tidak meninggalkan sahabat di belakang, lebih penting. Terharu banget kali itu Mbak Galuh dan Ririn tidak pergi lebih dulu meninggalkan saya.

Khawatir akan ketinggalan sunrise kalau berjalan kaki ke puncak, kami memutuskan untuk naik ojek. 20 ribu. Saat itu saya mulai mempertimbangkan untuk melakukan operasi lasix. Saking dinginnya, kacamata saya berembun oleh nafas saya sendiri. Saya bahkan sampai kesulitan mencari uang di dompet karena kacamata saya tertutup embun.

Turun dari ojek, kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Belum sampai puncak ketika semburat merah makin nyata di timur. Saya berhenti di sebuah tempat dekat mushola darurat. Disana saya melihat matahari meninggi. Sholat di mushola darurat itu, lalu saya melanjutkan menikmati pemandangan seperti yang terlihat di film 5 cm dengan mata saya sendiri. Itu yang namanya Negeri di Atas Awan. Saya melihat awan di bawah kaki saya. Saya juga melihat awan mengambang di atas kepala saya. Bisa dibilang, saya berada diantara lapisan awan.

Oiya, foto-foto di Bromo ini masih dikompilasi Mas Adi. Nanti saya upload juga deh :D Maklum, kamera ponsel saya gagal mengabadikan pemandangan indah itu dengan jernih, jadi saya numpang berfoto dengan kamera Mas Adi.

Matahari terbit perlahan. Dingin makin kuat menyeruak, membuat gigi gemeretak. Ini adalah alasan ketiga mengapa saya ikut serta dalam perjalanan ini. Karena saya tahu bahwa Bromo adalah salah satu tujuan perjalanan ini.

"So cold there, Kak. Batu, Malang. Colder than Puncak. But Bromo is even worst," kata murid les saya yang sering mudik ke Malang, "How do you think you can survive in Tokyo or Seoul if you can't breath well in Bromo?"

Tapi saya bisa. Menurut ponsel canggih si partner, lima derajat disana. Saya tidak menduga bahwa saya akan bisa bertahan di suhu sedingin itu. Pertanyaan ketiga saya terjawab disini. Apakah saya bisa bertahan di suhu sedingin itu jika saya bercita-cita sekolah ke negara 4 musim? Saya tahu, di Tokyo atau Seoul suhu bisa mencapai - 10 derajat saat musim dingin. Tapi saya tidak takut lagi. Dulu saya selalu takut, tidak bisa bertahan hidup pada suhu dibawah 15 derajat. Tapi toh, kemarin saya tetap bisa bernapas di suhu 5 derajat. Jadi saya rasa, saya hanya perlu berusaha lebih baik untuk bisa bertahan di suhu -10 derajat celsius.
Ada satu tips untuk mengatasi sulit nafas karena kedinginan. Koyo. Tidak hanya bisa digunakan di bagian tubuh yang pegal. Koyo bisa ditempel di hidung juga. And somehow it helps you breath.

Semua mata berfokus pada matahari yang terbit di timur, awan-awan yang berarak di bawahnya. Saya mengalihkan pandangan. Di utara saya melihat Semeru. Berdiri lebih tinggi daripada tempat saya berdiri. Mahameru, puncaknya Semeru adalah yang paling tinggi diantara gunung lain di pulau Jawa. Berada disini saja rasanya luar biasa. Sekarang saya paham apa yang Fiersa rasakan saat mencapai Mahameru.
Di selatan, terlihat beberapa gunung lain, saya tidak tahu namanya, hanya puncaknya yang terlihat karena tertutup awan. Di utara juga ada sebuah kawah dimana kuil suku Tengger berdiri. Kemanapun saya memutar pandangan, semua menakjubkan. Rasanya tidak adil hanya memuji kecantikan si timur padahal Semeru berdiri gagah di utara, pepohonan rindang di lembah barat dan si selatan tampak sama tampannya.

Jam 6 pagi matahari terbit sempurna. Saya memutuskan untuk turun. Mbak Galuh dan Ririn masih asik memotret pemandangan di timur. Tapi saya ingin turun lebih dulu sambil menikmati pemandangan di barat.
Jam 7 kami sudah harus kembali ke elf kami. Tapi kali ini saya tidak ingin naik ojek. Hidung saya sudah beradaptasi. Rasanya mereka tidak akan mogok bernafas lagi seperti tadi pagi. Saya bertemu si partner di tengah jalan. Kami berdua sepakat untuk berjalan kaki kembali ke elf sambil menikmati udara dan pemandangan gunung.

 Selagi menuruni gunung, saya bertemu banyak penjual Edelweiss. Katanya edelweiss itu bunga abadi. Tapi apanya yang abadi kalau sudah dipetik dari habitat aslinya. Maka seperti kata Fiersa, demi berkontribusi untuk tidak menjadi bagian dari orang-orang yang mengambil edelweiss dari habitat aslinya, saya menahan diri untuk tidak membeli bunga itu.


Kamu pernah merasakan senang dan marah di saat yang hampir bersamaan? Saya mengalaminya kemarin. Sabtu kemarin adalah hari yang paling membahagiakan sekaligus paling menyebalkan selama perjalanan saya ke Malang. Hari paling dingin sekaligus paling panas, saya alami dalam sehari.

Sepulang dari Bromo, kami berkendara menuju Madura. Perjalanan menuruni gunung membuat telinga saya kembali terganggu. Di tengah jalan kami baru sadar bahwa kami nyasar karena mengikuti elf yang salah, bukan elf rombongan kami. Ini mulai membuat mood saya jelek. Jalanan yang berkelok-kelok membuat 2 anak di elf kami muntah-muntah. Saya sendiri sambil memijit si anak, ikut mual. Akhirnya saya menenggak Antimo dan tidak lama kemudian saya tertidur pulas. Kalau sampai saya tidak mendengkur, saya pasti sangat beruntung. Saya terbangun sekitar jam 12 siang karena sesak nafas. AC di elf ternyata tidak berfungsi. Suhu diluar elf mencapai 32 derajat. Surabaya. Jendela elf sudah dibuka, tapi sama sekali tidak membantu.

Kami sampai di Bangkalan, Madura, jam 2 siang, setelah melewati jembatan Suramadu yang ternyata panjang sekali seperti tak bertepi, dengan wajah dan badan lepek berkeringat. Sudah tidak lagi bernafsu makan karena mood sangat jelek. Perhatian, teman-teman, kalau kalian ke Surabaya atau Madura, lebih baik pakai tanktop saja. Panasnya kota ini melebihi Jakarta.

Setelah makan siang, kami masih punya waktu 4 jam sebelum ke stasiun pasar turi Surabaya. Tapi karena supir elf kami nampaknya punya hobi nyasar, kami memutuskan untuk segera kembali ke stasiun saja. Lagipula kami sudah tidak mood melakukan apapun dengan badan lepek berkeringat.

Oiya, rasanya tidak lengkap cerita travelling tanpa mencantumkan tempat membeli oleh-oleh ya? Di surabaya ada pusat oleh-oleh di daerah Genteng Kali. Dari stasiun pasar turi Surabaya, cukup 15 ribu dengan becak. Kalau dengan taksi mungkin sekitar 25ribu - 30 ribu. Kalian bisa membeli macam-macam makanan khas Jawa Timur, mulai dari Brem sampai Suwar-Suwir, keripik Apel sampai keripik ubi.

Toh saya tidak membeli banyak oleh-oleh. Barang bawaan saya sendiri sudah sangat banyak. Saya tidak berencana memaksa membawa banyak bawaan dengam merepotkan orang lain.  Saya sudah cukup sedih melihat beberapa orang tetap dimintai tolong membawakan ini-itu yang bukan barang bawaan mereka sendiri, padahal mereka sedang berlibur. Jadi, maaf ya kawan-kawan, ijinkan saya menggantikan oleh-oleh itu dengan cerita ini.

Pada posting selanjutnya, saya akan mengupload foto-foto menarik selama saya di Malang-Surabaya-Madura.

Banyak orang berpergian untuk berlibur atau bekerja. Saya pergi untuk mempertemukan pertanyaan dengan jawaban. Ketiga pertanyaan yang saya bawa ke Malang kemarin telah pulang bersama jawabannya. Rasanya perjalanan kali ini sama sekali tidak sia-sia.

Terima kasih Teman, sudah membaca postingan saya kali ini :D

Jumat, 12 April 2013

DEDUKSI FIERSA


Terlalu sering membaca komik Detective Conan, tanpa sadar saya sering menerapkan metode deduksi dalam kehidupan saya sehari-hari. Deduksi adalah proses pengamatan fakta-fakta umum untuk penarikan kesimpulan sesuatu hal yang khusus. Misalnya, secara umum semua manusia pasti makan dan minum. Maka karena saya adalah manusia, dapat disimpulkan bahwa saya, secara khusus, pasti makan dan minum juga. Begitulah saya terbiasa berpikir.
Tapi dalam menalar suatu hal tidak melulu bisa menganut metode deduksi. Kadang kita harus pakai metode induksi atau silogisme. Pemilihan metode yang tidak tepat dalam menalar sesuatu atau pengamatan yang dangkal pada suatu fakta akan menyebabkan pemahaman yang keliru, yang sering kita kenal dengan istilah sesat pikir.
Dalam pengalaman saya menalar berbagai hal, Fiersa adalah salah satu kasus, meski bukan kasus satu-satunya, yang berhasil menjerumuskan saya dalam kesesatan berpikir. Tentu ini bukan karena Fiersa penganut ajaran sesat yang menyebarkan ajaran sesat seperti beberapa Eyang atau Mbah yang sering kita lihat di televisi. Seperti saya katakan tadi, kesesatan berpikir sangat mungkin terjadi jika kita memilih metode penalaran yang keliru atau melakukan pengamatan yang terlalu dangkal.
Terhadap Fiersa, tentu saja dua hal itu yang menyebabkan saya selalu tersesat. Pertama, karena kedangkalan pikiran saya, saya menilai lelaki ini hanya dari satu sisi tertentu, katakanlah hanya dari tweet-tweetnya. Padahal bisa saja kan seseorang nge-tweet galau sambil ngupil atau ngetweet sinis sambil nonton Crayon Shinchan? Ah manusia, termasuk saya, seringkali terlalu cepat membangun persepsi sebelum benar-benar melihat. Kedua, saya mengambil kesimpulan dengan metode penalaran yang keliru. Terbiasa menggunakan logika deduktif, saya lupa bahwa tidak semua hal bisa digeneralisir. Hanya karena secara umum kita bisa menilai seseorang dari tulisannya, bukan berarti tidak mungkin orang-orang khusus memang sengaja ingin dirinya dinilai dari tulisannya kan? Hanya karena semua manusia bernafas, bukan berarti semua orang hidup. Fiersa berhasil menjungkir-balikkan penalaran saya. Dalam istilah sains yang biasa saya pakai, mungkin ini yang disebut anomali. Pengecualian. Exception.
Kata orang, manusia-manusia sains seperti saya ini kaku, entah sikap atau pola pikirnya. Mungkin benar juga. Ah, kan, sadar atau tidak sadar saya lagi-lagi mengeneralisir. Hanya karena saya sendiri yang kaku, bukan berarti semua orang sains itu kaku seperti kanebo kering kok. Fahd dan Fiersa adalah dua orang yang pelan-pelan mengubah saya. Fahd dengan tulisan-tulisan di blog dan bukunya. Fiersa dengan lagu dan monolognya di twitter. Dari Fahd saya belajar bahwa seorang peneliti sains-pun boleh romantis dan tidak melulu berkutat dengan erlenmeyer atau reagen kimia. Dari Fiersa saya belajar bahwa menjadi berbeda tidak akan membuatmu mati.
Dulu sekali, saya selalu takut menjadi berbeda. Takut dianggap aneh dan tidak lazim. Tapi lama-lama saya sadar, menyamakan diri dengan orang lain toh tidak membuat saya benar-benar sama. Saya justru merasa ada orang lain yang menumpang di dalam tubuh saya. Fiersa, entah dia sadar atau tidak, menunjukkan bahwa menjadi berbeda bukan dosa, sejauh perbedaan kita tidak menyakiti atau merugikan orang lain. Orang-orang mungkin melihat kita dengan tatapan berbeda, itu pasti, tapi tidak apa-apa kan? Toh Tuhan memang sengaja menciptakan manusia berbeda-beda.
Setelah lulus kuliah, orang-orang berlomba mendapatkan pekerjaan dengan status bergengsi dan penghasilan tinggi. Fiersa memilih membuka studio rekamannya sendiri, menjadi penyanyi dan merekam lagunya sendiri sambil membantu penyanyi dan band lain mewujudkan impiannya. Ketika mengetahui cerita ini, saya merasa bahwa keputusan saya untuk mengejar impian saya tidaklah terlalu aneh atau keliru. Saya bukan satu-satunya orang yang melepaskan penghasilan besar demi impian.
Orang-orang lain bernyanyi supaya bisa terkenal, punya banyak fans dan menghasilkan banyak uang. Fiersa bernyanyi supaya bisa didengarkan. Selagi orang-orang mengejar target penjualan album rekaman mereka, Fiersa justru mempersilakan para penggemarnya mengunduh lagu-lagunya secara gratis di fiersa.tk .
Orang-orang menyalahkan hujan yang menyebabkan banjir. Fiersa mensyukuri hujan.
Orang-orang, rasanya termasuk diri saya sendiri, mengeluhkan tinggal di Indonesia yang penuh dengan politik busuk dan kesemrawutannya. Fiersa tetap menemukan alasan untuk mencintai tanah airnya.
Saya pikir, Fiersa ini pasti penganut aliran anti-mainstream J
Kata orang, tak kenal maka tak sayang. Jadi berdasarkan insting ke-sotoy-an saya, saya pikir keputusan Fiersa kali ini adalah caranya yang ingin mengenal tanah airnya lebih dekat sehingga bisa lebih mencintainya. Saya sendiri merasa belum sanggup sefrontal dia (dan teman-teman seperjalanannya), meninggalkan pekerjaan dan menghabiskan sebagian besar tabungan untuk menjelajahi Indonesia selama hampir delapan bulan ke depan. Itu mengapa saya selalu takjub pada keberanian mereka untuk mengambil keputusan yang berani ini.
Saya tidak tahu apakah Fiersa masih akan sempat berinteraksi dengan teman-temannya di twitter saat nanti menjelajahi pelosok-pelosok Indonesia. Jadi anggap saja ini salam perpisahan dari saya.
Kata orang, salah satu alasan orang berpergian adalah supaya ia tahu kemana ia ingin kembali pulang. Selamat bertualang, Kang. Selamat bercinta dengan  Pertiwi. Semoga bertemu dengan apa yang dicari. Jangan lupa pulang setelah menemukan rumah untuk kembali.


Rabu, 13 Maret 2013

SAWANG SINAWANG

Berita bahagia datang dari segala penjuru. Lalu pertanyaan menuduh datang dari seluruh mata angin. Aku bertanya, dimana bahagiaku?

It's been almost 10 years since the first time i step my dream here, in this school. Yet, it's also 10 years since i met them.
Ga terasa, hampir 10 tahun sudah gue mengenal mereka. Dan sampai sekarang gue bersyukur krn masih bersama mereka. Meski kami jarang ketemu, kalau kami mau, kami masih bisa memandang langit yang sama dari jendela ruang kerja masing2.
How time flies ya. Tapi karena gue bergaulnya sama anak2 ABG, gue sering lupa umur (hmmm,,mungkin jg krn tiap gue ngaca, gw memang msh melihat wajah anak baru lulus SMA itu, hehehe). Padahal temen2 gue udah pada jadi orang besar semua. Beberapa udah jadi asisten manager. Sahabat2 gue bahkan udah jadi manager. Adik angkat gue malah sdh mencapai karir yang sama tingginya.

Ngomong2 tentang sahabat2 gue, gue nggak ngerti kenapa mereka masih aja jomblo sampe sekarang. Tiap kali ngobrol, pasti ada sesi obrolan "Siapa nih yang mecah telor duluan. Cepetan deh, biar yang lain cepet nyusul kawin juga."
Dan obrolan kayak gini selalu berakhir dengan saling menunjuk. Gue jelas merasakan tanggung jawab yg sangat besar kalo disuruh mecah telor. Diantara sahabat2 gw yg lain, probabilitas gue sbg pemecah telor justru yang paling kecil. Mari kita perhitungkan bersama:
1. Diny Wulandari. Dalam waktu 5 tahun ini sudah menduduki posisi bergengsi di Medical Affair sebuah perusahaan multinasional. Cantik. Pinter, pake banget. Juventini sejati. Jago futsal. Jago nyomblangin orang, tp entah kenapa blm berhasil nyomblangin diri sendiri. Cewek Jawa sejati yang jelas fasih berbahasa Jawa. Idaman para calon mertua Jawa.
2. Shita Khrisnatantri. Dalam 5 tahun sudah menjadi Manager di sebuah apotek waralaba. Cantik, pake banget. Imut dan selalu tampak seperti anak 18 tahun. Pintar pula. Berjilbab dan tetap modis n fashionist. Kece badai lah istilahnya.
3. Dewi Sulistyowati. Karirnya lumayan cepat menanjak karena dalam 3 tahun aja sudah mjd Asisten Manager dan sekarang sudah mjd Manager di sebuah industri farmasi PMDN di wilayah ci .... ci ..... cisesuatulahya (gue lupa itu alamat pabriknya di cikago atau apa gitu). Sebenernya sih ini anak dulunya sama kuper dan pemalunya spt diriku,,, tapi dia ini manis sikapnya dan lebih lembut. Pintar, sampai2 dijuluki Dewi Nitri karena ahli bgt analisa Nitrimetri. Jarang marah2 kayak gue. Dan lebih kalem. Calon ibu idaman. Sholeha. High Quality Akhwat.
Sekarang gue tanya, apa coba kurangnya mereka? Kenapa sampe sekarang masih single? Gue yakin 1000% bahwa mereka single bukan karena nggak ada yang naksir. Gue bahkan sempat tahu beberapa cowok yang naksir mereka. Lalu, kenapa mereka blm pecah telor juga?
Menurut analisa Ibu gue (ibu gue emang jagonya berteori-konspirasi), hal tsb tjd karena cowok2 (bahkan cowok2 yg naksir itu) pada jiper sama sahabat2 gue ini. Jelas2 cewek2 ini adl High Quality Single. Mereka udah menduduki jabatan tinggi pada usia semuda itu. Itu mengapa cowok2 itu takut mendekati. High pride lah ya istilahnya. Mereka tengsin kalo istrinya lebih sukses daripada mereka. Hmmm,,,kalo dipikir-pikir, bener juga sih teori konspirasi emak gue itu.
Tapi emang cowok tuh kayak gitu yah, gampang jiper. Iya sih kami sbg perempuan itu pemilih,,,namanya jg milih imam buat keluarga, ya ga bisa sembarangan juga. Kalau mau gampang, sahabat2 gue bisa dgn mudah memilih salah satu aja diantara banyak fans mereka. Lalu orang2 akan berhenti bertanya kapan nikah. Tapi kan milih pasangan hidup ga bisa sembarangan begitu.
Tapi bukan berarti sahabat2 gue segitu pemilihnya. Ga harus jadi Plant Director dulu baru boleh naksir kami. Gue yakin, sahabat2 gue ini sebenernya tipenya ga ribet. Mereka cuma nyari imam yang berlayar ke arah tujuan yg sama dgn mereka. Begitu sederhana. Cowok2 aja tuh yang suka pake teori konspirasi dan minder duluan sebelum berjuang. Padahal cewek itu pada dasarnya senang diperjuangkan lho. Hehehhe.

Lalu gue inget kata2 Diny: "Bukannya menunda2 nikah, tapi kalo maksa buru2 nikah padahal belum siap dan belum sreg, nanti malah nyusahin orang tua." (maksudnya baik scr finansial maupin psikologis lah ya)
Hmmm, bener juga. Daripada buru2 nikah cuma karena bosen ditanya "Kapan nikah". Kalau nanti ada kegagalan atau rasa sakit krn memilih pilihan yang terburu2 dan sembarangan, toh yg paling sedih adl diri sendiri kan? Bukan orang yg nanya "Kapan nikah" itu. Jadi kenapa menggadaikan kebahagiaan diri hanya karena kata2 orang lain?


Gue juga jadi teringat obrolan gue dan si dia beberapa hari lalu. Waktu itu kami baru saja pulang dari suatu tempat untuk urusan pekerjaan. Sepulang dari sana, dia mengantar saya ke resepsi pernikahan teman saya (yg dia keukeuh ga mau masuk menemani,,, entah karena dia sudah bosan ditanya kapan nyusul atau karena malas mendengar kok nia datengnya sama bapaknya,bukan sama pacarnya? #yakjleb ). Berikut ini adalah obrolan kami selama perjalanan ke tempat resepsi itu. Saat itu kami ngobrol tentang salah seorang teman sekelas saya yang sempat ditemuinya di sebuah meeting.
"Dia itu kakak kelasnya Nia?" dia bertanya sambil menyetir.
"Bukan. Dia teman sekelas saya."
"Oh ya? Saya pikir kakak kelasnya Nia. Udah manager, soalnya."
"Temen-temen seangkatan saya yang lain emang hampir semuanya udah pada jadi manager kok. Cuma saya aja yang jadi guru."
"Lho kok jadi minder gitu?"
"Lha, siapa yang minder? Kan emang fakta bahwa saya cuma guru, sementara temen-temen saya udah pada jadi manager. Itu kenapa kamu nggak nyangka bahwa saya seangkatan sama mereka kan? Mereka udah pada bawa mobil, saya masih aja kemana-mana dianter-jemput kamu."
"Nia tuh sawang sinawang."
"Apa?"
"Sikapnya Nia tuh namanya sawang sinawang."
"Artinya?"
"Saling melihat. Semua manusia itu saling melihat. Nia bilang enak ya  mereka masih muda udah pada jadi manager, gajinya besar. Sementara mungkin mereka ada yang mikir, enak ya jadi Nia, bisa mengerjakan hal yang benar-benar dicintai. Saya sendiri iri sama Nia."
Gue diam. Mengangguk-angguk merenung. Ah manusia, selalu melihat rumput tetangga lebih hijau, bahkan meskipun manusia nggak makan rumput.
"Lagian udah beberapa kali ditawari jadi manager produksi, Nia malah nolak terus sih."
"Ya iya lah. Ngapain saya kerja di pabrik lagi. Kan saya udah terlanjur bahagia jadi guru begini."
"Nah, kalo gitu, nggak perlu iri sama kebahagiaan orang lain kan? Toh Nia udah punya kebahagiaan sendiri. Iya tho?"


Berita bahagia datang dari segala penjuru. Lalu pertanyaan menuduh datang dari semua mata angin.
Aku bertanya, dimana bahagiaku? Sekarang aku menemukan jawabannya. Bahagiaku ada di sini.

Kamis, 07 Februari 2013

SELAMAT ULANG TAHUN, MASA LALU



Dear Masa Laluku,
Selamat ulang tahun ya. Aku tidak meminta banyak-banyak kepada Tuhan. Aku cuma memohon semoga semua doamu didengar olehNya.

Tidak perlu kaget begitu, tentu saja aku masih mengingat hari ulang tahunmu. Aku punya ingatan yang kuat, kau tahu? Dulu kau sendiri yang selalu memuji ingatanku kan? Aku tidak pernah melupakan dirimu, sedikitpun.
Ternyata benar kata orang, jangan pernah mencoba melupakan masa lalu. Makin kita mencoba melupakan,kita justru makin mengingatnya. Kata orang, kita hanya perlu hidup dengan baik sampai suatu ketika kita terbangun di pagi hari dan sadar bahwa ternyata selama ini kita sudah melupakan hal-hal di masa lalu.
Aku, sejak kamu menikah 2.5 tahun lalu, tidak pernah lagi berusaha melupakanmu. Lalu apa sekarang aku sudah berhasil melupakanmu? Biar kuceritakan sesuatu.
Semalam aku bermimpi. Bertemu denganmu. Melihat kembali kejadian-kejadian saat kita masih berangkat kuliah dengan kereta yg sama. Saat kita masih membeli buku-buku kuliah bersama. Tidak seperti biasanya yang tiap kali habis bermimpi tentangmu aku selalu terbangun dengan nafas yang sesak dan bekas air mata di sisi-sisi mataku, pagi ini tidak begitu. Hari ini, aku bangun dengan normal, seperti tidak memimpikanmu. Hari ini aku bangun dengan lega. Lega, bukan karena ternyata aku sudah melupakanmu. Lega, karena sekarang aku sudah bisa mengingatmu tanpa rasa perih.

Dear Masa Lalu,
Ingatanku sangat kuat, kau tahu? Bertahun-tahun ternyata tetap tidak mampu membuatku melupakan wajah dan kenangan tentangmu. Itu mengapa aku sudah menyerah untuk berusaha melupakanmu. Aku memutuskan berdamai dengan keputusanmu yang berhenti memperjuangkanku. Aku berdamai dengan masa lalu kita. Terutama, aku berdamai dengan diriku sendiri, belajar memaafkan diriku yang melepaskanmu.

Waktu dulu kita, dengan kesepakatan yang hanya terkatakan lewat mata, memutuskan untuk berpisah, aku berdoa untukmu dan untukku. Semoga hidup kita tetap baik-baik saja tanpa satu sama lain. Semoga 20 tahun dari sekarang, jika kita dipertemukan lagi oleh takdir, kita akan saling menyapa layaknya sahabat lama. Tanpa nafas yang sesak atau nadi yang berdesir.
Aku tahu Tuhan mengabulkan doaku saat aku menerima undangan pernikahanmu. Aku tahu, kamu sudah baik-baik saja tanpaku. Syukurlah demikian.
Bagaimana kabar keponakan laki-lakiku sekarang? Apa dia sudah mulai bicara? Katamu, karena dia lahir di bawah naungan rasi bintang yang sama denganku, dia akan mirip denganku kan?
"Dia Virgo. Dia akan sepintar kamu dan secerewet kamu," katamu dulu kepadaku, waktu dia baru saja lahir.
Aku senang kalau kamu tetap bisa melihat sebagian diriku dalam diri jagoan kecilmu. Semoga dengannya, kamu tidak pernah benar-benar melupakan aku.

Dear Masa Lalu,
Kamu bertanya tentang kabarku sekarang? Aku sangat baik. Aku hidup dengan sangat baik tanpamu. Mengerjakan hal-hal yang aku senangi dan bertemu anak-anak. Itu impianku sejak dulu. Bukankah bagus kedengarannya bahwa meski tanpamu aku tetap bisa selangkah demi selangkah menuju impianku?
Aku tetap mengingatmu, tidak apa-apa kan? Ingatanku tidak akan menyakitimu. Ehm, mungkin menyakitiku, tapi sudah tidak lagi. Seperti aku ceritakan tadi, aku sekarang sudah bisa mengingatmu tanpa rasa perih.
Aku juga sudah menemukan seseorang yang aku selalu ingin berada di sisinya. Dia mirip sepertiku. Sayangnya, sampai sekarang dia masih mengingat masa lalunya dengan rasa perih. Tiap aku menyebutkan nama gadis di masa lalunya, dia marah. Bukankah itu artinya masih ada perasaan di dalam hatinya? Aku berharap suatu hari nanti, dan semoga tidak lama lagi, ia bisa sepertiku, mengingat masa lalu sambil tersenyum. Tanpa rasa perih, tanpa nafas yang sesak dan tanpa jantung yang berdesir.

Dear Masa Lalu,
Aku merindukanmu. Seperti adik yang lama tidak bertemu kakaknya, seperti sahabat yang lama berpisah dari karibnya. Seperti masa lalu yang menerka-nerka masa depan.


Salam sayang,

Masa lalumu, yang tidak sempat menjadi masa depanmu.



Minggu, 03 Februari 2013

PERSEPSI


Alkisah, di suatu hari saya datang menghadiri syukuran pernikahan seorang teman. Di sana saya bertemu dengan seorang teman lama. Saya nggak menyangka akan bertemu dengan dia di sana setelah lama nggak bertemu. Ternyata, dia sepupu dari suaminya teman saya.  Maka, sebagai teman lama yang sudah lama tak bertemu, bertukar kabarlah kami.
“Kerja dimana sekarang?” dia bertanya memulai.
 “Di Depok.”
“Jauh banget. Rumahnya Nia masih di Duren Sawit kan?”
“Iya, masih di sana.”
“Kok jauh banget kerjanya di Depok? Perusahaan apa?”
“Oh, aku nggak kerja di perusahaan. Aku sekarang ngajar.”
“Ngajar? Guru?”
Saya melihat perubahan wajah teman saya itu.
“Guru?” dia mengulangi.  “Seriously? Guru?”
“Yeah,” saya menjawab, masih sambil nyengir, meski menyadari perubahan wajahnya. “Kenapa emangnya? Nggak pantes ya?”
Dia tersenyum. Oh, oke, senyumnya lumayan ganteng meski  sepertinya itu jenis underestimating-smile. Sesaat mengalihkan konsentrasi saya.
“Nggak nyangka aja kamu jadi guru. I mean, kenapa mau jadi guru?”
“Hah?”
“Kamu kan waktu sekolah dulu pinter ... “ katanya. Oh, oke, sekarang saya emang nggak pinter sih. “Kenapa cuma jadi guru?”
“Ada yang salah kalo jadi guru?”
 Dia nggak menjawab pertanyaan saya dan langsung mengalihkan pembicaraan. Mungkin dia merasa nggak enak sama saya. Tapi dari percakapan sekilas itu, saya jadi mikir: Jadi kalo orang pinter nggak pantes jadi guru? Jadi yang jadi guru itu harusnya orang bodoh atau gimana?
“Kamu kerja di mana?” giliran saya yang balik bertanya.
Dia menyebutkan sebuah perusahaan internasional yang bergerak di perminyakan. Suara dan ekspresinya memperlihatkan rasa bangga. Wajar saja, dia bekerja di perusahaan bergengsi, dengan posisi dan salary yang oke dan dia jelas bukan tukang minyak tanah :p
Oh oke, dia memang nggak bilang apa-apa. Tapi saya bisa menduga kemudian, mungkin dia pikir bahwa pekerjaan saya sebagai guru itu bukan jenis pekerjaan yang prestisius dibanding pekerjaannya yang berpenghasilan besar itu.
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri kami dan menyapa saya.
“Kak Nia!”
Yak, dan saya lupa nama anak itu. Tapi saya mengenalinya sebagai salah satu mahasiswa Farmasi UI.  Sok kenal aja, saya balik menyapa gadis itu. Ternyata  dia adalah pacar dari adiknya suami teman saya. Kamu bingung bacanya? Oke, forget it.
Ajaibnya, anak itu mengajak saya bersalaman. Dan kami salaman. Lebih tepatnya, anak itu mencium tangan saya.
Sekarang saya ngerti perasaan bos saya yang suka merasa risih kalau saya cium tangan beliau. Sementara saya merasa itu sebagai bentuk rasa hormat, mungkin bos tidak suka saya begitu karena menjadi merasa sangat tua jika saya melakukan itu padanya, padahal beliau hanya beberapa tahun lebih tua dari saya. Sekarang saya mengerti, betapa tidak enaknya dianggap begitu tua sampai perlu dicium tangannya. Saya bertekad, lain kali kalau ada anak Farmasi UI yang cium tangan pas ketemu saya, nilainya langsung saya diskon 50% *ketawa nenek sihir*
Melihat adegan ajaib itu, teman saya bertanya: “Adik kelasnya Nia?”
“Iya,” jawab saya sambil nyengir risih.
Eh, tapi si anak itu malah menjawab: “Muridnya kak Nia.”
Haissshh,,, terlihat makin tua lah saya.
“Oh, di SMA?” teman saya menduga.
“Nggak Mas, aku udah kuliah. Aku muridnya kak Nia di kampus,” anak itu menjawab.
Oke, saya tiba-tiba merasa sepuluh tahun lebih tua.
Teman saya melirik saya dengan bingung. “Di kampus?”
“Kak Nia itu dosen saya,” kata anak itu.
Prok-prok-prok. Saya jadi 20 tahun lebih tua.
“Kuliah dimana?” teman saya tampak makin penasaran dan terus bertanya pada anak itu.
“Farmasi UI.”
Beruntung proses introgasi itu segera berakhir ketika ponsel anak itu berbunyi. Ia pamit pergi. Lalu saya kembali berduaan dengan teman saya.
“Kamu bilang kamu guru?” teman saya bertanya. Anehnya, kali ini dengan antusias.
“Emang.”
“Ternyata kamu dosen.”
“Kan sama-sama mengajar.”
“Tapi kan beda. Kamu dosen. Keren.”
Bagi beberapa orang, mungkin profesi  dosen terdengar lebih prestisius daripada profesi guru. Saya bukan tidak bersyukur, tapi bukankah esensi dari menjadi dosen dan guru adalah sama? Sama-sama mengajar? Hanya subjek pelajaran dan tingkatannya saja yang berbeda kan? Atau pemikiran saya ini terlalu sederhana.
Tidak lama kemudian teman saya bertanya: “Eh, Nia dateng sendirian?”
“Iya.”
“Nggak sama pacar?”
Oke, ini pertanyaan disturbing nomer satu. Kayaknya di setiap acara pernikahan selalu ada pertanyaan kayak gini ya?
“Nggak punya pacar. Hehehe.” Saya mau menjawab bagaimana lagi selain dengan cengiran nestapa, coba?
“Aku juga nggak punya pacar.”
Emang gue nanya?
Meski begitu, saya sedikit bersyukur, saya bukan satu-satunya makhluk mengenaskan di acara pernikahan ini.
“Eh, boleh minta nomer handphone?” dia bertanya kemudian.
Hmm,,, ini kode bukan sih? Tapi kenapa nggak dari tadi sih nanyanya? Oh, mungkin karena tadi saya cuma seorang guru, jadi dia nggak tanya nomer handphone saya?
Saya nyengir sendiri memikirkannya.
Perception can be deceiving, indeed.