Luna Lovegood inside. Noda Megumi outside.

Sabtu, 01 Desember 2012

HUJAN




Bagi beberapa orang, hujan datang membawa masa lalu.


Bagi Rainy, hujan bukan sekedar tetesan air dari langit. Hujan adalah penyebabnya ada. Hujan adalah alasannya terlahir di dunia ini. Hujan adalah masa lalunya, dan entah mengapa selalu menyertai segala hal buruk dalam hidupnya. Mungkin karena itulah hujan pula menjadi namanya. Mungkin karena itu pulalah ia membenci namanya sendiri. Karena ia membenci hujan. Baginya, hujan berarti tangisan langit.
Hanya satu orang yang mampu membuatnya percaya bahwa hujan bukan tangisan langit, tapi berkah dari Tuhan. Guntur, lelaki pecinta hujan. Dialah yang mengajari Rainy menikmati warna langit yang mendung.
“Gue nggak suka jadi anak SMA begini. Seragamnya putih-abu-abu. Kayak warna langit mendung. Kelabu, abu-abu, muram, kata Rainy suatu ketika.
Lihat yang bener, Ray. Mendung itu ada untuk melindungi manusia dari matahari yang terlalu panas. Mendung itu meneduhkan, balas Guntur, menertawakan pendapat Rainy.
Mendung itu kayak mata sembab yang siap nangis sewaktu-waktu.
Mendung itu yang mengantarkan air langit buat bumi. Berkah dari langit buat makhluk Tuhan di bumi.
Tapi hujan bikin banjir.
Hujan yang sama juga mengisi sumur-sumur yang kering dan hutan-hutan yang gersang.
Rainy menoleh pada sahabatnya. Menatap mata kelabu lelaki itu. Dan sejak itu dia mencintai warna abu-abu.
Lelaki itu juga yang mengenalkan aroma tanah basah padanya.
Tarik nafas yang dalam, Ray, kata Guntur di hari lain, di halte bis kampus mereka, ketika menunggu hujan reda.
Apa?
Tarik nafas, pelan dan dalam, kata Guntur lagi, sambil menggenggam tangan Rainy.
Rainy menarik nafas, bukan karena mengikuti perintah Guntur, tapi karena tercekat saat lelaki itu menggenggam tangannya.
Terasa kan? tanya Guntur.
Ap ... apa?
Terasa kan? Bau tanah basah.
Oh, itu ... jawab gadis itu singkat, menutupi salah tingkahnya.
Bau sejuk kayak gini cuma bisa dinikmati setelah hujan. Cuma lo yang bisa bikin aroma menentramkan begini.
Eh?
Cuma hujan yang bisa bikin tanah mengeluarkan aroma terbaiknya. Cuma hujan. Rainy. Kamu.
Rainy tertegun.
Jangan lagi membenci nama lo sendiri, Rainy.
Lelaki itu menatapnya, serius. Pada mata lelaki itu Rainy menemukan kilatan cahaya yang membuat hatinya bergemuruh. Dia tahu, lelaki itu akan menjadi bagian penting dari hidupnya. Dan benarlah firasat Rainy bertahun-tahun lalu itu. Kini lelaki itu sudah menjadi bagian dari hidupnya, lebih dari sekedar sahabat atau pacar. Lelaki itu kini adalah keluarganya.
Adik iparnya.



Kini Rainy makin membenci hujan. Warna langit yang abu-abu dan gelegar suara dari langit selalu membawa kenangan manis tentang cinta pertamannya. Guntur. Tapi seperti makan makanan yang terlalu manis bisa menyebabkan sakit diabetes, maka mengenang memori yang terlalu manis kadang juga bisa menyebabkan rasa sakit yang sama kronisnya dengan diabetes. Membuatmu selalu ketergantungan pada lagu-lagu patah hati untuk menghilangkan kenangan yang terlalu manis, seperti halnya pasien diabetes sangat tergantung pada injeksi insulin untuk menetralisir gula darahnya.
Hujanlah yang membuat Rainy pertama kali menyadari cintanya pada Guntur. Tapi di hari hujan jugalah Guntur membuatnya patah hati.
“Sebenarnya, gue udah lama pengen ngomong ini ke lo, Ray. Tapi gue selalu takut,” kata Guntur suatu hari.
“Eh?”
“Gue mau mengakui perasaan gue. Tapi lo jangan marah ya?”
Tanpa bisa dicegah, jantung Rainy memompa darah lebih banyak ke seluruh tubuhnya. Tapi dia berpura-pura tidak berespon apa-apa.
“Udah lama gue naksir sama Tari, Ray.”
Jantung Rainy berhenti berdetak. Berhenti.
Mentari adalah adik perempuan Rainy. Dua tahun lebih muda daripada Rainy dan Guntur. Gadis itu memiliki sifat yang berkebalikan dengan Rainy. Ceria, bersemangat dan meluap-luap, tepat seperti namanya.
Jantung Rainy berhenti berdetak mendengar pengakuan Guntur. Dia berharap semua itu hanya ilusi di kepalanya. Tapi sayangnya otaknya masih berfungsi sangat baik. Nalarnya mulai memutar waktu ke beberapa bulan belakangan ini.
“Eh, udah lama nggak karaokean. Yuk, Ray!” ajak Guntur suatu hari.
“Ngapain karaokean berduaan? Mana seru?” jawab Rainy malas.
“Ajak Tari aja!”
Sejak itulah Guntur makin sering mengajak Tari ikut dalam acara hang-out mereka: nonton, karaokean atau makan. Bahkan beberapa kali Guntur datang ke rumah Rainy saat jelas-jelas Rainy sedang tidak ada di rumah. Ternyata semua itu cara Guntur untuk mendekati adiknya. Ternyata selama ini Guntur berada di sisinya hanya demi mendekati adiknya, bukan dirinya.
Gue selalu merasa bersemangat kalo ngobrol sama Tari. Leluconnya garing tapi nggak tertebak. Dia selalu datang dengan kejutan-kejutan. Gue suka,” lanjut Guntur, bercerita dengan mata berkilat-kilat. Apa gue boleh jadi adik ipar lo, Ray?
Terdengar bunyi guntur dan kilatan cahaya dari langit. Rainy berharap petir itu akan menyambarnya saja hingga mati.
Benarlah kata orang bijak: Tidak ada yang bisa mencintai seseorang yang tidak mencintai dirinya sendiri. Jadi bagaimana Rainy bisa mengharapkan Guntur mencintainya kalau Rainy tidak mencintai dirinya sendiri? Maka saat Guntur memintanya menjadi kakak iparnya, Rainy cuma bisa membalas dengan senyum. Senyum tak bermakna.

* * *

Terdengar bunyi guntur dan kilatan cahaya dari langit. Wajah langit sudah sangat kelabu, siap meraung dan membanjiri bumi dengan air matanya. Rainy mulai menyesal. Sabtu sore, mendung, sendirian. Harusnya tadi dia berdiam di rumah saja, bukannya jalan-jalan keliling Jakarta demi menghalau kebosanan.
Rainy menegadahkan telapak tangannya. Setetes air sampai di telapak tangannya. Ia selalu tepat waktu memprediksi datangnya hujan. Sesuai dengan namanya.
Ia mengeluarkan payung dari tasnya tepat sebelum gerimis mulai berlomba turun. Ia segera membuka payung ungunya, seperti yang juga dilakukan beberapa orang lain yang berdiri di sekitarnya. Mereka segera membuka payung masing-masing. Tapi pria yang sejak tadi berdiri beberapa meter di sampingnya tampak tidak membawa apa-apa, termasuk payung. Pria yang kira-kira berusia 50 tahunan itu tampak agak bingung menghadapi hujan yang mendadak turun. Tidak ada halte di sepanjang jalan itu yang bisa menjadi tempat berteduh.
Rainy melangkah mendekat dan membagi payungnya dengan lelaki itu tanpa berkata-kata. Si Bapak terpana sesaat ketika menoleh pada Rainy. Rainy membalas tatapan heran itu dengan senyuman sambil menundukkan kepala singkat.
“Makasih ya Mbak,” kata si Bapak sambil tersenyum lebar.
Rainy mengangguk sambil membalas senyum Bapak itu.
“Nunggu kendaraan apa, Pak? Kok dari tadi nggak cegat angkot apa-apa?” tanya Rainy.
“Nunggu taksi, Mbak. Tapi dari tadi kok nggak ada taksi lewat sini ya?”
“Kurang tahu, Pak. Saya jarang ke daerah sini. Mungkin emang jarang. Tunggu aja Pak. Semoga ada taksi lewat sini.”
“Mbak nunggu taksi juga?”
“Nggak, Pak. Saya nunggu mikrolet yang ke Senen.”
“Angkot yang itu?” Lalu tiba-tiba Si Bapak menunjuk sebuah mobil biru yang melaju ke arah mereka.
Beberapa orang di sekitar Rainy mengulurkan tangannya, meminta mikrolet itu berhenti. Setelah mobil biru itu berhenti, orang-orang tersebut naik ke dalamnya dan mobil itupun melanjutkan perjalanannya.
“Lho, Mbak nggak naik? Katanya nunggu mikrolet itu?” tanya si Bapak karena Rainy tidak bergerak sedikitpun.
Rainy tersenyum.
“Hujannya lumayan deras, Pak. Saya tunggu Bapak sampai dapat taksi.”
Si Bapak mengucapkan terima kasih dan maaf berkali-kali sampai membuat Rainy tidak enak hati. Dia bukan orang sebaik itu. Dia hanya tidak tega melihat pria seusia itu kehujanan.
“Masih banyak mikrolet yang akan lewat Pak. Santai aja,” jawab Rainy.
Ketika lima belas menit kemudian, setelah lima mikrolet lewat tersia-sia di depan matanya, akhirnya sebuah taksi datang juga. Rainy memayungi Bapak itu sampai naik ke taksinya lalu membungkuk pamit.
“Mbak rumahnya dimana? Sekalian saja saya antar naik taksi ini,” kata si Bapak sebelum Rainy beranjak pergi.
“Nggak apa-apa Pak. Saya naik mikrolet aja. Hati-hati ya Pak.”
Rainy membungkuk sekali lagi, tersenyum, lalu membantu si Bapak menutupkan pintu taksi. Ketika taksi itu sudah melaju, barulah si Bapak itu teringat sesuatu. Dia belum mengucapkan terima kasih yang layak kepada gadis yang sudah menolongnya itu. Dia bahkan tidak tahu nama gadis itu. Ketika dia menoleh ke arah gadis berpayung ungu itu, dia melihat gadis itu sedang menaiki angkot yang sejak tadi ditunggu si gadis.
Lelaki tua itu berharap bisa bertemu dengan gadis itu sekali lagi untuk membalas budi.



Tuhan rupanya mendengar doa lelaki itu. Beberapa minggu kemudian ia bertemu lagi dengan gadis berpayung ungu itu. Kali itu di perusahaannya. Gadis itu ternyata melamar sebagai Finance Controller di perusahaannya. Akhirnya si Bapak menemukan cara membalas budi.
“Jadi, sudah cocok dengan penawaran perusahaan kami kan? Jadi kapan bisa mulai masuk kerja?” kata si Bapak kepada gadis berpayung ungu itu.
“Saya ... diterima, Pak?”
“Iya. Kamu diterima,” si bapak menjawab tanpa ragu, sambil tersenyum lebar.
“Bapak bahkan belum mewawancarai saya tentang apapun?”
Rainy sudah terkejut untuk kedua kalinya sepagian itu. Pertama, ketika bertemu dengan Finance Director yang akan mewawancarainya, yang ternyata adalah si Bapak yang beberapa minggu yang lalu ditemaninya menunggu taksi kala hujan. Ternyata namanya Pak Arman, Finance Director perusahaan farmasi yang akan menjadi bos besarnya nanti. Kedua, ketika tanpa interview terkait pekerjaan, tiba-tiba Pak Arman sudah menanyakan kapan ia siap bekerja.
“Saya sudah baca CV kamu. Nilai-nilai kuliah bagus. Sudah berpengalaman di Finance selama tiga tahun. Hasil psikotest juga cocok.”
“Bapak bukan menerima saya karena kejadian itu kan Pak?” tanya Rainy curiga.
“Saya bukan bos sebaik itu, Rainy. Saya bahkan bisa sangat menyebalkan.”
Pak Arman tertawa lebar. Rainy tersenyum canggung.
“Jadi? Kapan?” tanya Pak Arman lagi.
“Saya harus mengundurkan diri dulu ke perusahaan saya yang sekarang, Pak.”
One-month-notice? Oke. Kalau begitu bulan depan?”
Pak Arman mengulurkan tangan sambil tersenyum. Rainy membalas tersenyum, lalu menjabat tangan calon bosnya, tanda sepakat.

* * *

Ternyata benar kata Pak Arman. Dia bukan bos sebaik itu. Sejak awal pria berkacamata oval itu sudah memberinya tugas untuk meng-assess proses produksi di Manufacturing Division.
“Rainy akan menjadi Controller untuk Manufacturing Division. Project pertama kamu adalah mempelajari cost efficiency apa yang bisa kita lakukan di Production Department,” perintah si bos di hari pertama bekerja, tidak lama setelah beliau mengenalkannya dengan seluruh rekannya di Finance Division.
Sejak itu, Rainy lebih banyak menghabiskan waktunya bersama kru Manufacturing daripada kru Finance. Rainy bahkan jadi lebih sering berdiskusi, bertengkar dan berhura-hura dengan Production Supervisor dibanding dengan bosnya sendiri. Rupanya si Production Supervisor juga sedang ditekan oleh Bu Yeni, sang Production Manager, untuk mengefisienkan production cost di departemennya. Jadilah Rainy dan si Production Supervisor merasa menjadi teman senasib sepenanggungan.
“Gue pikir, lo harus atur schedule produksinya untuk meminimalkan changing-part mesin, Bhas,” kata Rainy kepada si Production Supervisor.
“Gue juga udah mikir begitu, Rain. Akan lebih efisien kalo ada line khusus terutama untuk produk-produk unggulan,” jawab Bhaskoro, si Production Supervisor. “Berapa continous-batch harus kita susun supaya dapat cost-efficiency yang signifikan?”
“Hmmm... Belum gue hitung pasti.”
“Kapan gue bisa dapat perhitungan pastinya?”
Are you kidding me? Kenapa gue merasa seolah-olah ini tanggung jawab gue sendiri? Ini kan wilayah kekuasaan lo. Harusnya lo yang lebih tahu kan? Lo udah hitung lost yield dari masing-masing tahap produksi belum?”
Bhaskoro melirik jam tangannya. Lalu gantian melirik Rainy. Lalu tersenyum.
“Rain, lo kelihatan mulai nafsu tuh. Udah waktunya makan sore kayaknya. Kita makan bakwan malang dulu yuk. Nanti lanjutin lagi kerja kalau lo udah kenyang. Bahaya nih kerja sama lo kalau lo lagi kelaparan gini.”
Rainy manyun.
“Ajak Naina yuk,” lanjut lelaki itu membujuk.
Rainy sudah curiga sejak lama. Bhaskoro ini sepertinya memanfaatkan dirinya untuk mendekati Naina, si Packaging Supervisor. Sering sekali Bhaskoro mengajak Rainy makan atau nonton hanya untuk kemudian mengajak Naina juga. Mungkin Bhaskoro tidak berani mendekati Naina secara frontal sehingga membutuhkan dirinya sebagai perantara atau mak-comblang. Kalau diingat-ingat lagi, kejadian seperti itu rasanya sudah sering terjadi dalam hidupnya. Dulu juga Guntur melakukan hal serupa terhadapnya untuk mendekati Mentari. Rainy mulai berpikir, mungkin dirinya memang ditakdirkan untuk selamanya menjadi perantara kisah-kisah cinta orang-orang di sekitarnya.
Masih manyun, Rainy mengangkat interphone di sampingnya dan menekan nomor ekstensi ruangan Naina. Hanya dalam lima detik, interphone di ruangan seberang diangkat.
“Ya, Bhas?” jawab suara Naina.
Rainy menelepon dengan interphone dari ruangan Bhaskoro, wajar saja kalau nama yang tertera di interphone Naina adalah nama Bhaskoro sehingga Naina  mengira Bhaskoro yang meneleponnya.
“Ini Rainy, Na.”
“Oh. Hai, Rain! Kenapa?”
Didengar dari cara Naina menjawab telepon, sepertinya gadis itu sedang sibuk.
“Bhas ngajak makan bakwan malang.”
“Wah! Mau banget!” jawab Naina antusias. Rainy menekan tombol speaker sehingga Bhas bisa mendengar suara Naina juga. “Gue juga kelaparan nih. Tapi kerjaan gue lagi banyak banget. Sebentar lagi line Marchesini mulai packing. Gue mesti nunggu line preparation beres dulu. Kalian duluan aja. Ntar gue nyusul yow!”
“Oke,” Bhaskoro menjawab. “Gue sama Rainy duluan ya. Nanti lo langsung nyusul ke Bakwan Malang Cak Su ya!”
“Siap, Bro!”
Interphone di kedua sisi ditutup. Lalu Bhaskoro menarik tangan Rainy.
“Ayo Rain, cepetan makan. Kita alihkan nafsu membunuh lo jadi nafsu makan.”
Rainy diam saja ditarik-tarik seperti itu. Manyun, dia mengikuti Bhaskoro keluar dari ruang produksi. Lalu mereka pergi ke Warung Bakwan Malang Cak Su yang terletak di belakang gedung kantor mereka.


“Mendung, Bhas,” kata Rainy. Matanya menatap keluar warung bakwan malang Cak Su selagi mereka menunggu pesanan datang.
“Bakal hujan lebat nih kayaknya,” timpal Bhas.
Tidak lama setelahnya, gerimis turun dari langit. Disusul dengan guntur yang menggelegar. Lalu langit menangis makin keras dan deras.
Ponsel Riany berbunyi tak lama setelah dua mangkok bakwan malang diantarkan ke meja mereka. Nama Naina tertera disana.
“Hujan, say. Males keluar ah gue. Maaf ya, nggak jadi ikut kalian makan bakwan malang. Gue nitip aja deh, bungkusin satu ya,”
Rainy menutup ponselnya lalu menyampaikan pesan Naina kepada Bhaskoro.
“Hujan emang mengacaukan semua rencana,” gumam Rainy pelan.
“Ah, nggak juga,” jawab Bhaskoro sambil tersenyum santai.
Rainy menikmati bakwan malangnya dalam diam sambil sesekali memandangi hujan yang makin menjadi. Hari masih sore, tapi langit nyaris segelap petang.
“Lo nggak suka hujan ya?” tanya Bhaskoro sambil memasukkan sepotong tahu ke mulutnya.
“Hmm?”
“Lo nggak suka hujan?”
Rainy tidak menjawab. Dia memakan baksonya.
“Lucu ya. Nama lo Rainy, tapi lo benci hujan. Justru gue yang bernama Bhaskoro, malah suka hujan,” kata Bhaskoro, tertawa pelan.
Rainy mengangkat kepala dari mangkoknya.
“Emang apa arti nama lo, Bhas?” Rainy tergelitik.
“Matahari.”
Rainy melihat kebanggaan di wajah lelaki itu saat ia menyebut arti namanya. Wajah lelaki itu memang selalu bercahaya, menggambarkan sifatnya yang hangat dan ceria. Pantas saja jika kepribadian seperti itu membuat silau banyak perempuan.
“Bhaskoro. Matahari ... Cocok sama sifat lo,” kata Rainy.
Bhaskoro tersenyum. Menganggap itu sebagai pujian.
“Kenapa lo suka sama hujan? Bukannya mendung saat hujan malah membuat matahari nggak terlihat?” Rainy bertanya penasaran.
Bhaskoro menggeleng. Tetap sambil tersenyum.
“Tanpa ada hujan, nggak akan ada pelangi.”
“Apa?” Rainy tidak mengerti.
Supaya ada pelangi, matahari harus bertemu dengan hujan.


Bagi Rainy, hujan selalu membawa cerita. Hujan kala itu membawanya pada cinta yang baru. Seketika ia jatuh cinta pada lelaki matahari itu. Tapi dia tahu, kisahnya kali ini akan sama saja akhirnya seperti cintanya pada Guntur. Bhaskoro sudah menyukai Naina. Dan tidak mungkin mencintainya.
Rainy tidak mengerti mengapa ia selalu menyukai laki-laki yang tidak bisa membalas cintanya. Mungkin itu mengapa ia dinamakan Rainy. Mungkin dia memang sudah ditakdirkan untuk selalu menangisi kisah cintanya sendiri.

* * *

Rainy tahu bahwa dia sedang mengulang kisah cinta yang sama menyedihkannya dengan kisahnya dulu. Dia mencintai laki-laki yang sudah mencintai perempuan lain, dan memanfaatkannya untuk mendekati perempuan itu. Dia sudah tahu bahwa pada akhirnya dia yang akan merasa sakit sendiri. Tapi sekarang dia punya pilihan. Dia masih punya kesempatan untuk melarikan diri dari akhir yang tragis itu.
Rainy bertekad untuk segera menyelesaikan project-nya dengan Manufacturing Division, terutama Production Department. Dengan begitu ia tidak perlu lagi bertemu dengan Bhaskoro. Ini adalah caranya mencegah sakit hati. Namun selagi ia masih harus terus berhubungan dengan Bhaskoro sampai project mereka selesai, Rainy memutuskan untuk tidak pernah lagi menerima ajakan Bhaskoro untuk makan, nonton atau karaoke bareng. Dia tahu, dia hanya akan jadi perantara untuk memecah suasana canggung antara Bhaskoro dan Naina. Dan Rainy sudah tahu rasanya, bahwa menjadi perantara bagi orang yang dicintai jauh lebih menyakitkan daripada cinta yang ditolak.
Dalam waktu sebulan lebih cepat dari yang ditargetkan Pak Arman, Rainy sudah menyelesaikan tugas pertamanya. Pak Arman menerima laporan Rainy dengan sangat senang.
“Berapa produk yang sudah menerapkan sistem ini?” tanya Pak Arman.
“Baru tiga produk unggulan kita, Pak. Plant Logistic dan Purchasing setuju untuk mengatur jadwal pengadaan bahan, produksi dan pengemasan untuk 10 batch berurutan untuk meminimalkan lost-yield dan efisiensi waktu saat machine change parts.”
“Nego sama PL dan Purchasing itu masih lebih gampang daripada sama QA/QC. Kamu tahu, mereka selalu cerewet soal GMP?”
“Kami juga sudah rapat dengan QA/QC, Pak. Mereka sudah memvalidasi proses produksi dan proses pembersihan. Hasilnya oke. Kita boleh produksi ten-continous-batch.”
Pak Arman tertawa senang.
“Saya tahu kamu bisa!” kata Pak Arman memuji.
Rainy mengangguk dan tersenyum kecil. “Makasih Pak.”
Project selanjutnya masih terkait Manufacturing Division. Saya pikir kamu cocok dengan Bhaskoro dan Naina dari Production Department, eh? Saya mau kamu meneruskan kerjasama kalian. Kali ini kamu harus menganalisis working hour di production section dan packaging section. Oke?”
Diluar sedang hujan. Gemuruhnya terdengar sampai ke ruangan Pak Arman. Dan lebih jauh lagi, sampai ke hati Rainy. Rainy tidak suka dengan proyeknya kali ini. Di saat dia ingin menghindari Bhaskoro, kenapa bosnya justru menempatkannya di produksi lagi?
Hujan. Selalu membawa berita buruk, gumam Rainy dalam hati. Miris.

* * *

“Gue udah memikirkan caranya, Na.”
Rainy sudah datang pagi-pagi sekali ke ruang kerja Naina, siap dengan ide dari pencerahan tiba-tiba yang diperolehnya tadi pagi ketika merenung di jamban. Gadis itu memang sering aneh, mencari inspirasi di jamban atau dapur.
“Cara apa?” jawab Naina, masih dengan mata mengantuk karena semalam baru saja menyelesaikan review 10 batch record yang akan dipakai hari ini.
“Supaya manual packaging lo cuma butuh 5 orang di line. Kita bisa menurunkan working-hour sangat signifikan.”
Ogah-ogahan, Naina mendengarkan Rainy berceloteh tentang strateginya. Tapi tiba-tiba ia memotong di tengah penjelasannya.
“Eh, Rain, besok nonton yuk. Bete nih gue. Seminggu ini dimarahin bos mulu. Besok nonton trus temenin gue belanja yuk,” Naina memotong, tidak sesuai konteks diskusi.
Rainy bengong sekilas sebelum akhirnya menjawab “Iya aja deh, biar gampang. Ke Plangi (Plaza Semanggi) lagi kan? Jam berapa?”
Naina lalu tiba-tiba jadi bersemangat menceritakan rencana film yang akan ditontonnya dan baju-baju yang ingin dibelinya. Juga parfum dan tas yang sudah diincarnya.
“Jadi, sekarang gue udah boleh balik lagi ke strategi packaging kita?” tanya Rainy, menarik kembali Naina dari dunia khayalnya di masa depan.
“Oke.”
Naina kembali tergeletak di atas meja kerjanya.
Rainy berkesimpulan, orang yang terlalu banyak bekerja, terlalu banyak belajar atau terlalu banyak dimarahi bos, kesehatan jiwanya pasti terganggu. Seperti Naina itu.



Dan hipotesis Rainy memang benar. Naina memang terganggu jiwanya. Keesokan harinya Naina tidak datang sesuai perjanjian. Rainy sudah menunggu di XXI Semanggi selama setengah jam ketika akhirnya dia memutuskan untuk menelepon Naina yang tidak kunjung datang. Dan yang ditelepon ternyata baru bangun tidur, sodara-sodara sebangsa setanah air.
“Ini jam 12 siang, woy! Lo lupa kita janjian?” kata Rainy, bete.
“Oh iya, maaf ya Rain. Gue lupa. Badan gue sakit-sakit semua nih. Flu juga gue. Maaf ya, lupa bilang kalo hari ini kita batal nonton,” jawab Naina dengan suara sengau.
Rainy menatap dua tiket bioskop di tangannnya. Ah, tapi percuma juga dia marah-marah. Menunggu Naina datang juga tidak membuatnya bisa menonton dengan tiket yang sudah terlanjur dibelinya.
“Ya udah. Semoga Senin udah bisa kerja lagi ya Na.”
“Makasih ya Rain. Sekali lagi, maaf ya. Beneran gue lupa batalin janji sama lo. Maaf banget ya.”
Rainy bergumam sebentar sebelum menutup ponselnya. Well, karena tiket sudah dibeli, maka sepertinya ia terpaksa nonton sendiri. Ah, tapi dia sudah biasa melakukannya. Nonton bioskop sendirian, maksudnya. Dia hanya akan rugi selembar tiket saja.
Untung saja ketika ia mengantri memberli popcorn sebelum masuk bioskop, Rainy bertemu dengan teman kantornya yang kebetulan juga ingin menonton film yang sama tapi kehabisan tiket.
“Gue beli ya tiket Perahu Kertas lo,” kata Bhaskoro.
“Oke. Syukur deh, gue nggak jadi merugi gara-gara si Naina pikun,” jawab Rainy sambil mengulurkan selembar tiket yang tadi dibelinya untuk Naina.
Tepat ketika film akan dimulai, baru terpikir oleh Rainy. Apa hidup sedang mempermainkannya? Saat ia selalu menghindari Bhaskoro di kantor, mereka malah dipertemukan di tempat ini, berduaan pula. Permainan hidup kadang sangat tidak lucu dan sadis.



Selesai nonton, Bhaskoro mengajak Naina makan sore di salah satu resto di Sky Dining. Langit mulai gelap, bukan karena sudah petang, tapi tanda akan hujan. Rainy sudah akan melarikan diri dengan mengatakan bahwa ia ingin buru-buru pulang sebelum hujan turun. Tapi alam juga tidak mau bersekutu dengannya. Tidak lama kemudian hujan turun dengan deras.
“Pulang nanti aja. Gue anter sampe rumah setelah hujan reda,” kata Bhaskoro membujuk. “Temenin gue makan sore dulu yuk. Laper nih.”
Sebelum menunggu jawaban Rainy, Bhaskoro sudah menarik tangan gadis itu dan mengajaknya masuk ke elevator dan membawanya ke lantai 10 Plaza itu.
Karena hujan deras, mereka tidak bisa menikmati makan sore tepat di bawah langit Jakarta. Mereka memilih resto dengan kanopi sehingga mereka tetap bisa menikmati suasana outdoor tanpa kebasahan.
“Si Naina kenapa nggak jadi janjian sama lo?” tanya Bhaskoro memulai, setelah mereka memesan seporsi lasagna, semangkok cream soup dan dua gelas lemon tea.
“Lagi sakit. Sakit jiwa tuh anak, kebanyakan kerja.”
Bhaskoro tertawa. Diantara hujan selebat itu, tawa lelaki itu benar-benar menghangatkan seperti matahari.  Rainy merasa wajahnya menghangat.
“Sayang ya nggak ada Naina,” kata Rainy, pahit.
“Biarin aja. Dia perlu istirahat mental.” Lalu Bhaskoro tertawa.
Rainy balas tertawa canggung.
“Eh, gue baru download lagu bagus. Dengerin deh.” Bhaskoro mengeluarkan ponselnya, memasang salah satu earphone di telinga kirinya dan yang lainnya di telinga kanan Rainy.
“Lagu siapa?” tanya Rainy, mengatur suaranya supaya terdengar tenang, padahal jantungnya sangat berdebar-debar menghadapi sikap manis Bhaskoro yang seperti di drama-drama Korea yang ditontonnya.
“Penyanyi indie asal Bandung. Lo mungkin nggak kenal. Tapi gue suka sama lagu-lagunya. Dengerin deh. Bagus banget.”

Tenggelam, memburai mimpi
Sinarnya yang hampir padam
Terpapah dan tanpa arah
Biarkan harapan musnah

Hening membersit makna
Tangisan yang tak terlihat
Menuntun jejak yang rapuh
Tinggalkan perih tersisih

“Ini duet?” tanya Rainy.
Dia langsung suka dengan lagu itu. Baik suara penyanyi wanita dan lelakinya sama-sama bagus. Dan sangat cocok dengan suasana hujan saat itu. Rainy juga suka pada pemilihan diksi lirik-liriknya.
“Yang laki-laki namanya Fiersa. Suara perempuan itu Vica,” Bhaskoro memberi tahu.
“Apa judulnya?”
“Edelweiss”
Selera musik Bhaskoro memang tak biasa, tapi Rainy menyukainya. Bahkan setelah lagunya habis, Rainy meminta Bhaskoro mengulang lagunya. Sambil tersenyum, lelaki itu menuruti permintaan gadis di hadapannya.
Kali ini Rainy mendengarkan tiap liriknya dengan seksama. Dan merasa jiwanya tersedot ke dalam lagu itu.

Bagaimana bila kuterjatuh?

Mata Rainy tiba-tiba bertemu dengan mata Bhaskoro.

Takkan kulepaskan genggamanku

Rainy melihat Bhaskoro menggerakkan bibirnya, mengikuti lirik yang dinyanyikan Fiersa, si penyanyi lelaki.

Bagaimana bila hatiku hancur?

Lalu pada lirik berikutnya, Bhaskoro bernyanyi dengan berbisik:

Tak kubiarkan itu terjadi

Hujan berhenti perlahan. Tersisa rintik-rintik kecil. Rainy kini bisa mendengar lagu itu dengan lebih jelas. Begitu juga dengan suara Bhaskoro.
Pelan-pelan lelaki itu menyentuh tangan Rainy, menggenggamnya dan melanjutkan bernyanyi:

Dunia takkan selamanya memalingkan wajah
Bawa aku pergi bersamamu tuk melihat
Gunung tertinggi, laut terdalam
Langit terindah, dan berjanjilah
Kau dan aku takkan terpisah

Rainy terpaku. Tidak tahu harus berbuat apa. 
“Gue suka sama lo, Rain,” kata Bhaskoro ketika lagu berjudul Edelweiss itu selesai diputar untuk kedua kalinya.
Gadis hujan itu diam. Terdiam cukup lama. Bingung. Dan membuat lelaki matahari ikut bingung menafsirkan.
“Bukannya lo suka sama Naina?”
Akhirnya Rainy bersuara dan menanyakan hal yang membuat Bhaskoro makin bingung. Lelaki itu melongo.
“Bukannya lo suka sama Naina?” Rainy mengulang, “Selama ini lo sering ngajak gue jalan-jalan supaya gue bisa nemenin lo pedekate ke Naina kan?”
Bhaskoro tertawa tertahan. Untung disitu banyak pengunjung lainnya sehingga Bhaskoro terpaksa mengontrol tawanya. Kalau tidak ada orang lain, dia pasti sudah tertawa sambil berguling-guling.
“Pantesan waktu itu lo nolak gue,” kata Bhaskoro.
“Hah?” Rainy melongo, tidak mengerti. Kapan dia pernah menolak Bhaskoro? Mendengar pernyataan cinta lelaki itu saja belum pernah.
“Selama ini justru gue minta tolong Naina mencomblangi kita, menemani kita supaya gue nggak canggung ngobrol sama lo. Lo salah paham, Rain,” Bhaskoro menjelaskan.
Rainy terpana, diam.
“Jangan-jangan, lo nggak sadar waktu gue nembak lo ya?”
“Hah?”
“Waktu gue bilang supaya ada pelangi, matahari harus bertemu dengan hujan, lo nggak ngerti maksudnya?”
“Maksudnya? Pelangi kan memang terbentuk karena tetesan air membiaskan ....”
“Jangan pakai teori fisika deh. Gue bego soal fisika nih,” potong Bhaskoro cepat sambil tersenyum geli. “Maksud gue waktu itu, tiap gue ketemu lo, hari-hari gue selalu berwarna-warni, kayak pelangi. Matahari ...”
Bhaskoro menunjuk dirinya.
“ ... harus bertemu hujan ...” lalu lelaki itu mempererat genggamannya pada tangan gadis di hadapannya, “ ... supaya ada pelangi. Cuma di mata hujan, gue bisa lihat pelangi.”
Mata Rainy membesar dan berkaca-kaca.
“Kayak sekarang ini. Lihat deh, ada pelangi.”
Bhaskoro menunjuk satu sisi langit. Melengkung beberapa baris warna di cakrawala. Pelangi. Kata pepatah, setelah hujan selalu ada pelangi. Pepatah itu kurang lengkap. Seharusnya: setelah hujan, asalkan ada matahari, pasti akan terlihat pelangi. Tidak akan ada pelangi tanpa hujan. Tidak akan ada juga tanpa matahari. Harus ada keduanya, barulah ada pelangi.
Bhaskoro memutarkan lagu duet Fiersa-Vica sekali lagi di ponselnya. Dan mereka berdua mendengarkannya bersama melalui earphone.


Rainy menggerakkan bibirnya dengan mata masih berkaca-kaca, terharu.

Bagaimana bila kuterjatuh?

Bhaskoro menjawabnya:

Takkan kulepaskan genggamanku

Rainy meniru suara merdu Vica:

Bagaimana bila hatiku hancur?

Bhaskoro membelai lengan Rainy dan berkata:

Tak kubiarkan itu terjadi

Mata bertemu mata. Matahari bertemu hujan. Rainy tidak pernah lagi menyesal menjadi hujan. Karena dia memang harus menjadi hujan supaya ketika bertemu si matahari, mereka bisa bersama menciptakan pelangi.

Dunia takkan selamanya memalingkan wajah
Bawa aku pergi bersamamu tuk melihat
Gunung tertinggi, laut terdalam
Langit terindah, dan berjanjilah
Kau dan aku takkan terpisah

“Jadi istri gue ya?”



Mungkin bagi beberapa orang, hujan datang membawa kenangan.
Bagi beberapa yang lain, hujan menawarkan masa depan.
Apa kamu siap meraihnya?


* * *







Sambil membaca cerpen di atas, kamu bisa mendengarkan lagunya kang Fiersa Besari feat Vica yang jadi inspirasi cerpen ini.

http://soundcloud.com/fiersa/edelweiss

Selamat membaca dan mendengarkan.





Rabu, 28 November 2012

PEDULI

"Udah tidur belum?"
"Baru bangun tidur."
"Bohong! Kok berisik? Kamu dimana?"
"Di kereta."
"Kamu tidur di kereta?"
"Hehehe."
"Kenapa nggak bilang sih kalau kamu pulang semalam ini?"
"Lha,kenapa harus bilang?"
"Saya juga baru pulang dari kantor. Kalau kamu bilang pulang malam,kan bisa sekalian saya jemput."
"Nanti ngerepotin."
"Kamu tuh! Rumah kita kan searah."
"Hehe."
"Lagian ngapain sih kamu di kampus sampai malam?"
"Kan penelitian skripsi."
"Lain kali bilang saya ya kalau pulang malam lagi. Saya kuatir tau. Kamu kan perempuan."
*             *                   *

"Maaf ya, saya nggak jadi datang."
"Kenapa? Masih penelitian di lab?"
"Iya. Maaf ya."
"Jadi HPLC kamu lebih penting daripada saya?"
"Hahaha. Iya, maaf. Weekend nanti saya ke rumah kamu deh, mau ngasih kado ulang tahun."
"Nggak usah ngasih kado segala."
"Ih,gitu aja ngambek. Hahaha. Lucu deh kalo ngambek gitu."
" ... "
"Saya minta maaf banget ya. Saya bener-bener nggak bisa datang hari ini."
*                    *                        *

"Jadi ini alasan sebenarnya kemarin kamu nggak datang?"
"Hehe. Masih kelihatan jelas ya?"
"Pura-pura sibuk di lab supaya saya nggak tahu kamu lagi sakit?"
"Keseleo doang."
"Doang? Ini udah hampir seminggu dan kamu masih pincang gitu. Pasti bukan keseleo doang."
"Hahaha."
"Kenapa nggak cerita bahwa kamu lagi sakit sih?"
"Saya udah baikan kok."
"Apa kamu nggak percaya sama saya? Apa saya nggak bisa diandalkan, sampai kamu nggak mau cerita tentang sakitmu?"
"Saya ... nggak mau kamu khawatir."
*                    *                      *

"Operasi! Dan nggak bilang apapun ke saya?! Kalau bukan karena sekretarismu nggak sengaja cerita, saya mungkin nggak bakal tahu tentang operasi ini. Kenapa nggak cerita ke saya sih?"
"Ini cuma operasi usus buntu. Bukan operasi besar."
"Kamu selalu bilang nggak doyan masakan rumah sakit. At least saya bisa membawakan makanan. Atau bantu belajar jalan. Atau ... apapun. Kenapa nggak bilang ke saya?"
"Mendadak banget. Begitu masuk rumah sakit, saya langsung dioperasi."
"Ah! Banyak alasan! Abis operasi kan bisa telepon saya. Tahu nggak gimana perasaan saya pas tiba-tiba dengar berita operasi ini? Nyaris jantungan saya! Bener-bener deh ... "
"Saya baik-baik aja ... "
"Baik-baik apaan?! Belum bisa jalan, masih di tempat tidur, cuma bisa makan bubur ..."
"Hei, tenang! Saya ... "
"Saya khawatir, Mas!"
" ... "
" ... "
"Kenapa sih perempuan gampang banget nangis? Jangan nangis ... "
"Saya khawatir."
"Saya nggak mau bikin kamu khawatir, makanya saya nggak cerita."
"Apa ... saya nggak bisa dipercaya?"
" ... "
" ... "
"Begitulah saya terhadapmu?"
"Apa?"
"Setiap kali kamu kesulitan tapi nggak pernah cerita ke saya, membuat saya merasa nggak dipercaya. Sama seperti yang kamu rasakan sekarang. Saya merasa nggak berguna..."
"Saya ... cuma nggak mau terlihat seperti perempuan lemah. Saya nggak mau jadi beban. Saya ... pengen kamu selalu melihat saya yang menyenangkan."
"Saya pengen jadi orang pertama yang melihat kamu nangis dan menghapus air matamu. Saya pengen jadi orang pertama yang kamu hubungi tiap kamu butuh bantuan. Saya pengen jadi orang pertama yang kamu bikin repot. Saya pengen jadi bahu, tempatmu bersandar. Yang bisa kamu andalkan."
"Saya ... bisa sangat merepotkan, menyebalkan dan jelek."
"Saya pengen jadi satu-satunya orang yang kamu percaya memperlihatkan wajah jelekmu dan gaya nyebelin kamu itu."
"Saya ... "
"Jangan lagi berusaha membuat saya nggak mengkhawatirkanmu."
"Gimana kalau saya jadi cewek yang ngerepotin banget?"
"Sekarang saya tahu. Kamu mengabaikan saya karena terlalu peduli sama saya ya?"



Tanganku kosong, genggamlah
Pundakku kuat, rebahlah
Sampai kapan kau membeku?
Sembunyi di rasa sakitmu
 (FIERSA BESARI)

Jumat, 16 November 2012

PILIHAN


“Jangan lagi berusaha menanggungnya sendirian. Berbagilah sama saya.”

“Makasih ya, kamu selalu mau bantuin saya, meski itu bukan tanggung jawab kamu.”

“Saya bukan anak kecil lagi. Mulai sekarang, kamu bisa percaya sama saya.”

“Saya selalu percaya sama kamu. Saya tahu saya selalu bisa mengandalkan kamu.”

“Itu semua demi kamu. I love you, Kak.”

“Hah?”

“I do.”

“You’re kidding me.”

“No, I’m not!”

“Pakai kacamata, Raka!”

“Apa?”

“Pakai kacamatamu! Saya bukan Rani, Indah, Putri, Fanny, Hana, Yuri, ...”

“Saya tahu. Kamu Nida.”

“Jadi, kenapa saya?”

“Apa masalahnya?”

“Saya cuma salah satu diantara mereka kan? Saya bukan mantan-mantan kamu yang cantik-cantik itu. Kenapa harus saya? Saya bukan satu-satunya buat kamu kan?”

 

 *       *      *

 

 “Kamu sadar nggak, Nid? Cuma kamu yang selalu ada di samping saya sejak kecil.”

“Kan kita sahabatan dari SD, Bram.”

“Kamu yang ada waktu saya ketawa, nangis, bete, marah, ...”

“... dan ngorok pas tidur.”

“Er, yeah, itu. Kamu ingetnya pas bagian ngoroknya doang.”

“Hahaha.”

“Nggak ada fans-fans saya yang tahu bahwa saya suka ngorok.”

“Trus saya harus bangga menjadi satu-satunya orang yang tahu bahwa kamu suka ngorok?”

“Hahaha.”

“Kamu juga yang ada pas saya butuh teman curhat.”

“Waktu kamu nangis-nangis gara-gara putus sama Winda?”

“Kamu yang selalu ada. Dari dulu sampai sekarang. Dan saya nggak mau cuma sampai sekarang doang. Saya mau selamanya. Jangan pergi dari saya.”

“Emangnya saya pernah pergi?”

“Cuma kamu satu-satunya buat saya, Nida. Nggak ada yang lain. Cuma kamu.”

 

*       *      *

 

“Saya bukan satu-satunya buat kamu kan, Raka?”

“Emang bukan. Kamu bukan satu-satunya pilihan.”

“Dasar player. Hahaha.”

“Saya cinta sama kamu bukan karena saya nggak punya pilihan lain, Kak. Saya memilih kamu diantara banyak yang bisa saya pilih. Saya membuat kamu menjadi yang terpilih, bukan karena kamu satu-satunya pilihan yang saya punya.”

“Gimana kalau ternyata saya bukan pilihan terbaik? Gimana kalau nanti kamu menemukan yang lebih baik lagi daripada saya?”

Didn’t you listen to me, Nida? Saya milih kamu karena kamu yang terpilih, yang saya pilih. Bukan karena kamu yang terbaik.”

 

*       *      *

 

“Saya cinta sama kamu, Nida.”

“Jangan bilang cinta, Bram. Kamu cuma terbiasa bersama saya. Itu cuma kebiasaan, bukan cinta.”

“Terlalu terbiasa sampai saya nggak bisa mendefinisikan hidup kalau kamu nggak ada di dalamnya.”

“Kamu cuma belum mencoba hidup tanpa saya.”

“Saya nggak bisa hidup tanpa kamu. Cuma kamu yang selalu ada buat saya.”

Cuma saya. Iya, cuma saya. Sekarang cuma saya satu-satunya pilihanmu. Bayangkan kalau suatu hari nanti kamu menemukan pilihan lain selain saya.”

“Dan apa maksudnya itu?”

 

*       *      *

 

“Saya nggak mau kamu selalu anggap saya sebagai adik atau murid, Kak.”

I’ve told you I didn’t think you are, Raka.”

“Kalau gitu, kamu mau jadi teman saya?”

“Saya kan emang selalu jadi teman kamu.”

“Mau jadi teman hidup saya?”

“Hah?”

“Jangan cuma jadi teman saya sekarang. Jadilah teman hidup saya. Selamanya.”

“ ...”

“Nida.”

“Raka.”

“Hmm?”

“Segitunya kamu cinta sama saya?”

 

*       *      *

 

 “Jangan terburu-buru bilang cinta, Bram, hanya karena kamu nggak tahu bahwa ada yang lain yang bisa kamu cinta. Saya nggak mau jadi pilihan satu-satunya. Saya mau menjadi yang terpilih diantara banyak yang lain yang bisa dipilih.”

“Apa kamu punya pilihan lain selain saya?”

“Apa kamu pikir selama ini saya nggak akan punya pilihan lain?”

“Bukan gitu.”

“Itu kenapa kamu merasa saya nggak mungkin pergi? Itu kenapa kamu nggak merasa perlu memperjuangkan saya?”

“Bukan gitu, Nid.”

“Jangan jadikan saya satu-satunya pilihan, Bram, or worse sebagai pilihan terakhir setelah kamu nggak menemukan yang kamu cari pada fans-fans kamu itu.”

 

*       *      *

 

“Segitunya kamu cinta sama saya, Raka?”

“Segitunya.”

“Sebesar apa?”

“Lebih besar daripada yang bisa kamu tanggung. Lebih besar daripada yang bisa saya jawab. Saya mau bertanggung jawab atasmu. Nikah sama saya ya.”

 

*       *      *

Kamis, 01 November 2012

PULANG

"Udah mau pulang?"
"Kenapa?"
"Yuk,pulang bareng."
"Duluan aja. Saya masih lama."

*                        *                          *
"Kamu dimana?"
"Masih di atas."
"Udah mau pulang?"
"Belum."
"Masih lama nggak?"
"Masih."
"Saya ke mall dulu sebentar ya. Ada yang perlu saya beli. Tunggu saya."
"Nanti saya pulang sendiri aja."
"Oh."
"Hmm."
"Lain kali saya antar ya?"
"Hmm."
*                        *                          *

"Belum pulang kan? Pulang yuk, sekalian makan malam."
"Saya udah makan."
"Sama ... dia ya?"
"Hmm."
"Oh, oke. Saya pulang ya."
"Hati-hati di jalan."
"Kapan saya bisa antar kamu pulang?"
"Hmm."
*                        *                          *

Aku  bukan tidak mau pulang bersamamu. Aku cuma ingin pulang ke hatimu, rumah bagi jiwaku. Tapi rumah itu sudah dimiliki orang lain kan? Meski orang itu sudah pergi dan meninggalkan rumah itu kosong tak terawat? Kau cuma memintaku singgah untuk menyirami halamannya kan? Kau tidak benar-benar ingin aku tinggal dan menetap disana kan?

Jadi berhentilah mengajakku pulang. Aku tidak punya tempat pulang jika bukan ke hatimu.

Sabtu, 27 Oktober 2012

HARI MINGGU

Hari Minggu adalah hari yang paling aku suka, sekaligus paling kubenci. Karena pada hari itu aku bisa menghabiskan waktu bersamanya, dan hanya pada hari itu aku bisa bersamanya. Pekerjaannya sebagai Plant Director sebuah perusahaan food and beverage multinasional dan pekerjaanku sebagai mahasiswi membuat kami sangat sibuk sampai tidak punya waktu bertemu kecuali setiap hari Minggu saja.
Karena hanya satu hari itu yang kami punya, kami berusaha memanfaatkannya dengan baik. Tiap Minggu pagi, aku punya seorang murid les privat yang harus kutemani belajar, maka kebersamaan kami baru dimulai setelah itu. Dia akan menjemputku di rumah muridku saat aku sudah selesai mengajar. Lalu dia akan membawaku ke rumahnya. Tidak seperti pasangan lain yang menghabiskan akhir pekan di mall, bioskop atau theme-park, kami biasa menikmati sepanjang hari Minggu kami di rumahnya.

Dia pintar sekali memasak. Sering sekali ia memasak untuk kami berdua. Aku biasanya hanya membantunya mengupas bawang, memotong wortel atau menghabiskan masakannya. Dia bilang, ada dua hal yang membuatnya senang memasak. Pertama, karena dia senang makan. Kedua, karena dia senang melihatku makan. Dia bisa sangat hilang kendali saat memasak. Dia bisa memasak sepuluh jenis makanan dengan porsi besar padahal hanya kami berdua yang akan memakannya. Lalu dengan semena-mena ia akan menjadikanku kambing hitam.
“Kamu harus bertanggung jawab!” katanya.
“Memangnya saya menghamili siapa?”
Lalu dia akan tertawa sambil menyodorkan semua masakannya ke depan mukaku, menyuruhku menghabiskannya, tidak peduli pada program dietku. Padahal dia sendiri yang selalu memanggilku “pipi bakpao”, tapi dia jugalah yang merusak semua rencanaku untuk menguruskan pipi.
“Kamu tega membuat saya menghabiskan semua ini? Kamu mau lihat hipertensi saya kumat lagi?” selalu begitu ancamannya, membuatku tidak tega.
Tidak jarang juga dia memaksaku belajar memasak padanya. Kuberi tahu kau, kawan, bukannya aku tidak pintar memasak, hanya saja baginya masakanku selalu kurang gula, atau kelebihan garam, atau terlalu banyak cuka. Intinya, dia selalu mengejekku dan mempertanyakan keperempuananku.
“Kamu tuh perempuan atau bukan sih? Kok saya lebih pintar masak daripada kamu?” katanya, sering menyindirku sambil tertawa mengejek.
Kalau sedang sinting, aku membalasnya dengan membuka satu kancing teratas kemejaku lalu berkata: “Mau bukti?”
Lalu dia hanya tertawa sambil bilang “Coba aja buka kalau berani!”
Dia tahu bahwa aku tidak pernah berani meski dia hanya menggertak.
Di hari Minggu yang lain dia memintaku membantunya berkebun. Ini adalah kegiatan yang paling kubenci. Aku suka semua bunga yang ditanamnya di pekarangan rumahnya, tapi kalau harus membantunya mengurus semua tanaman itu, aku sebal. Dia sudah punya tukang kebun untuk merawat semua bunga itu, kenapa harus berkotor-kotor berkebun juga? Apa gunanya membayar tukang kebun kalau kau masih harus berkebun sendiri.
Tapi berkebun dan memasak adalah hobinya. Dan aku terlalu mencintainya untuk menolak menemaninya melakukan hobinya. Akhirnya aku mengalah.

Dulu aku terlalu tinggi hati. Kupikir, selalu aku yang berkorban dan mengalah demi dirinya. Selalu aku yang meng-iya-kan semua keinginannya. Selalu aku yang menuruti semua permintaannya. Selalu aku yang mengikuti semua perintahnya. Aku pikir, dia tidak mungkin bisa mengalahkan rasa cintaku. Tapi belakangan ini aku sadar, sepertinya aku terlalu besar kepala. Dia mengalah sama banyaknya dengan pengorbananku. Bolehkah kalau aku GR bahwa rasa sayangnya kepadaku sama besarnya dengan rasa cintaku padanya?
Minggu pagi kami selalu diawali dengan menonton anime kesukaanku, Chibi Maruko Chan, meski dia sebal sekali pada film kekanakan begiitu. Dia selalu berkata bahwa dia tidak habis pikir mengapa gadis seusiaku masih saja menonton acara semacam itu. Kami memang sudah saling kenal sejak aku lahir, maka dia sangat maklum ketika melihatku yang masih SD tergila-gila pada anime Cardcaptor Sakura. Tapi karena sampai sekarang aku masih menonton anime semacam itu, dia merasa aku tidak normal.
Selain soal tontonan, makanan kesukaan kami juga bertolak belakang. Dia adalah penggemar seafood, sementara aku alergi makanan laut sejak kecil. Pernah satu kali dia memaksaku makan kepiting saos padang kesukaannya. Katanya, dengan membiasakan memakannya sedikit-sedikit, alergiku akan sembuh. Tapi aku baru mencoba segigit saja, lima menit kemudian langsung muncul ruam di wajah dan seluruh tubuhku. Waktu itu aku juga sempat sesak nafas sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit. Sejak itu, dia sangat bertoleransi padaku soal makanan. Setiap dia mengajakku ke restoran seafood, dia akan memesankanku seekor gurame bakar madu yang besar sebagai ganti kepiting yang tidak bisa kumakan.
Sebaliknya, kalau aku alergi makanan laut, dia justru tidak suka dengan susu dan segala produk olahannya. Bukannya alergi, dia hanya tidak suka baunya, sama seperti aku benci aroma duren kesukaannya. Tapi dia tahu bahwa aku suka sekali makan es krim. Maka, berdasarkan insting ke-GR-anku, demi aku dia belajar menyukai es krim. Es krim kesukaannya adalah rasa cappucino, karena dia masih bisa mencecap rasa kopi kesukaannya menutupi aroma susu yang dibencinya.
Satu-satunya kesamaan selera kami hanya kopi. Kami berdua sama-sama pecandu kopi. Kata Ibu, dia yang pertama kali mengajariku minum kopi saat kecil. Awalnya hanya satu sendok kecil tiap pagi, tapi lama kelamaan gara-gara dia, aku tidak bisa berpikir jernih jika belum minum kopi di pagi hari. Dia membuatku menjadi pecandu kopi seperti dirinya.

Dalam suatu hubungan, kompromi dan pengorbanan adalah suatu keniscayaan. Demi yang tercinta kita mengalah. Demi yang tercinta, kita mengkompromikan banyak hal. Tanpa saling menyesuaikan diri, tidak akan ada cinta yang bertahan. Maka sesungguhnya orangtua-orangtua kita yang berhasil melewati hari ulang tahun pernikahan ke 50 tahun bukanlah karena mereka tidak memiliki perbedaan, tapi karena mereka berhasil mengkompromikan perbedaan-perbedaan masing-masing.
Meski demikian, ada hal-hal yang tidak mudah dikompromikan meski cinta tak terelakkan. Meski telah banyak hal yang kami kompromikan, meski telah sering kami mengalah satu sama lain, ada satu hal yang tidak akan pernah bisa kami kompromikan.
Waktu.

Gadis-gadis lain mengalami cinta pertama ketika mereka beranjak remaja. Itu mengapa Ibuku bingung sendiri karena sampai usia 20 tahun ini aku belum juga mengenalkan seorang lelakipun padanya. Bukannya aku terlambat mengalami cinta pertama, aku justru sudah merasakannya jauh sebelum gadis-gadis lain. Aku hanya tidak berani bilang pada Ibu. Aku bahkan tidak berani bilang pada laki-laki itu. Mungkin aku memang tidak perlu bilang pada keduanya. Toh Ibuku sudah mengenal lelaki itu, dan lelaki itu pasti sudah menyadari perasaanku, meski tidak tepat seperti yang kurasakan.
Sejak pertama kali aku bisa mengingat, aku sudah jatuh cinta pada lelaki itu. Jadi kalau mau bicara soal cinta pertama, dialah orangnya. Sampai aku sebesar ini sekarang, belum ada laki-laki lain yang berhasil menggeser posisinya di hatiku. Aku tidak tahu sampai kapan perasaan ini bertahan, meski aku sudah tahu bahwa hubungan kami tidak bisa bertahan selamanya.
Aku sudah tahu kenyataan itu sejak awal. Tapi aku selalu menolak mengakuinya. Sampai suatu hari aku dipaksa mengakui bahwa perbedaan kami terlalu jauh untuk dilampaui. Itu pertama kalinya kami menaiki tangga saat berjalan-jalan di sebuah mall karena elevator terdekat sedang rusak dan kami harus memutar jauh untuk menemukan eskalator. Itu pertama kalinya aku melihatnya terengah-engah menaiki tangga.
“Tunggu dong, naiknya jangan cepat-cepat begitu,” katanya dengan nafas putus-putus. Ia berhenti sebentar di pertengahan tangga.
Dia menarik tanganku. Aku berhenti menaiki tangga, kembali padanya dan menepuk-nepuk punggungnya.
Selama ini kupikir selalu aku yang mengejarnya karena badannya yang tinggi besar sehingga langkahnya lebar-lebar. Aku perlu melangkah dua kali lebih cepat daripada dirinya supaya bisa mengimbangi langkahnya. Untungnya ia tidak pernah keberatan melambatkan langkahnya demi aku. Berkat lelaki inilah aku terbiasa berjalan dengan langkah cepat. Nyaris semua teman lelakiku tidak ada yang bisa mengimbangi langkah kakiku.
Kini, ternyata ia yang harus bersusah payah mengejarku.
“Dulu waktu kamu masih kecil, saya menemanimu naik tangga pelan-pelan. Sekarang kamu malah ninggalin saya. Saya kan sudah tua, nggak sekuat kamu lagi kalau naik tangga. Harusnya tadi kita memutar mencari eskalator,” katanya.
Momen itulah yang menyadarku. Dia kembali mengingatkanku tentang perbedaan kami. Bahwa perbedaan kami bukan hanya soal angka.
Apa ini alasanmu tidak pernah mau benar-benar bersamaku? Apa bersamaku membuatmu sangat kelelahan seperti saat ini?
Aku kembali menepuk-nepuk punggungnya beberapa kali sambil tertawa, menutupi mirisnya perasaanku.
“Maaf,” kataku sambil tertawa. Palsu.
Kamu membalasnya dengan senyuman. Terlihat tulus.

Tidak setiap hari Minggu kami habiskan dengan kegiatan khusus. Kadang kami hanya berdiam di rumahnya seperti hari ini. Aku menunduk di atas tugas-tugas kuliah dan jurnal-jurnal praktikum sementara ia tenggelam di depan  laptopnya, mengutak-atik OEE divisi produksi perusahaannya. Laptopnya bergantian memutarkan lagu-lagu Josh Groban dan Celine Dion. Berganti antara New Kids On The Block dan Super Junior. Di depan kami tersedia kue lupis kesukaannya dan tiramisu kesukaanku. Dua gelas cappucino buatanku ada di pusat kesunyi-senyapan kami. Kami asik dengan kesibukan masing-masing. Kalau ada yang berpikir bahwa berakhir pekan seperti ini hanya kesia-siaan, mereka sungguh tidak mengenal arti kalimat “bahagia itu sederhana”. Bagi kami, terutama bagiku, ini kebahagiaan tertinggi yang bisa kuraih bersamanya. Tidak berani mengharap lebih.
Kebungkaman kami terpecah oleh suara bel pintu. Dia memanggil asisten rumah tangganya untuk melihat siapa yang datang.
“Katanya teman Bapak main tenis,” kata asisten rumah tangganya, beberapa menit kemudian.
Dahinya berkerut.
“Namanya Mas Tommy,” lanjut asisten rumah tangganya.
Aku melihat senyumnya. Aku tidak suka melihat senyum itu.
Dia bangkit meninggalkan pekerjaannya, dan aku. Menemui tamunya. Lima menit kemudian, setelah pria bernama Tommy itu berhasil memarkir mobilnya di garasi rumahnya, dia mengajaknya masuk ke ruang tamu.
“Bapak lagi sibuk?” aku mendengar suara lelaki bernama Tommy itu.
Penasaran, aku mengintipnya dari ruang tengah. Lelaki itu hanya beberapa tahun lebih tua daripada aku. Mungkin akhir 20 tahun atau awal 30 tahunan. Tinggi, kurus, berkulit putih dan berwajah oriental. Tampan seperti artis Korea yang aku idolakan.
“Nggak kok. Lagi santai aja,” dia menjawab.
“Hmmm... Bapak lagi ada tamu? Apa saya mengganggu?”
Iya, ada aku disini dan kamu sudah mengganggu hari Minggu kami, kataku dalam hati. Hanya bisa kesal sendiri.
Aku mendengar dia tertawa. “Bukan tamu. Ada keponakan saya di ruang tengah.”
Apa aku sudah cerita, kawan, bahwa dia adalah sahabat ayahku sejak mereka kuliah dulu? Usianya empat tahun lebih muda daripada ayahku, tapi semua orang yang baru mengenalnya pasti mengira usianya baru kepala tiga karena wajahnya yang awet muda. Entah mengapa sampai sekarang dia belum menikah juga, aku tidak ingin tahu. Orangtuaku mengajariku memanggilnya Om, tapi aku selalu tahu bahwa dia tidak pernah menjadi sekedar paman di hatiku. Meski sepertinya, baginya, selamanya, aku adalah keponakannya.
“Mau saya kenalin sama keponakan saya?”
Aku segera membereskan jurnal-jurnal praktikumku yg berserakan. Aku ingin pulang saja. Aku tidak berminat bertemu dengan siapapun di hari istimewa ini. Hari Minggu bukan lagi hari Minggu bagiku kalau ada orang lain di antara kami. Dan entah kenapa aku tidak suka dengan pria tampan bernama Tommy itu.

Jumat, 26 Oktober 2012

CERITA YANG TIDAK DIMULAI

Setelah ini saya tidak perlu lagi berpura-pura tidak mencintaimu



Aku menduga-duga, apa kata orang kalau sampai mereka tahu bahwa kau membelikanku kado ulang tahun semahal ini? Ini bukan hadiah ulang tahun yang biasa diberikan oleh seorang mantan bos kepada mantan anak buahnya.
“Coba lihat apa saja yang bisa kita lakukan dengan ini?” katamu sambil tersenyum ketika aku menolak pemberianmu.
“Kita?”
“Look. Kita bisa whatsApp, bisa YM, bisa video call. Saya bisa tahu dimana saja kamu berada. Saya bisa selalu tahu kabarmu.” Kau membuka aplikasi-aplikasi yang terdapat di dalam gadget itu sambil menunjukkannya padaku.
Aku mengernyit, tak tahan menyembunyikan keherananku.
“Kamu juga bisa cek email setiap saat. Upload dan download dokumen, foto dan video. Dan yang kamu pasti suka ... ada program microsoft office disini. Kamu bisa mengerjakan semua pekerjaanmu disini. Kamu bahkan bisa menulis cerpen, dimanapun kamu berada.”
Mataku terbuka lebar mendengar penjelasanmu tentang gadget canggih itu. Tapi entah kenapa, makin lebar mataku terbuka, makin buram sosokmu di mataku. Embun-embun entah darimana menghalangi pandanganku. Aku ingin mengenyahkan embun-embun itu, tapi kau pasti nanti menertawakanku kalau memergokiku melakukannya.
“Barang canggih di tangan seorang gaptek adalah kesia-siaan, Pak,” kataku frustasi.
“You can’t be that bad.”
Kau tertawa sambil mengelus kepalaku seperti biasa, seperti majikan yang mengelus-elus kucingnya. Aku tenggelam dalam kasih sayangmu. Kamu memang sangat memahamiku. Tidak tahan melihatku mencoret-coretkan ideku di potongan-potongan kertas, kau memberiku ini supaya aku bisa menulis apapun dimanapun aku berada.
Tapi aku tidak akan menulis cerita apapun disini, bos. Dengan hadiah ulang tahun darimu ini, mulai sekarang aku hanya akan menuliskan cerita tentang kita. Atau mungkin surat-surat cintaku untukmu, yang tidak mungkin bisa aku kirimkan kepadamu.
“Itu namanya HANDphone ya, bukan BAGphone. Bawa kemanapun kamu pergi! Awas saja kalau kamu berani nggak angkat telepon saya karena alasan handphone ketinggalan di tas.”


Tidak pernah terlalu senang, tidak juga terlalu sedih.
Harapanku tidaklah besar. Hanya selalu ingin tahu kabar baik tentangmu.

*                                  *                                   *

Pertama-tama, aku mau mengaku. Selama ini di belakangmu, aku memanggilmu “Hulk”. Kalau saja kau tahu panggilanku ini, seharusnya kau juga tahu alasannya kan? Itu karena badanmu yang tingi besar. Kau orang baik yang disayangi banyak orang, tapi tiap marah saat meeting kau selalu berubah menjadi Hulk yang ditakuti semua orang. Jadi jangan salahkan aku karena memanggilmu begitu ya, bos :p

*                                  *                                   *

Dear Boss,
Aku tidak mengerti. Kau selalu serupa dilema bagiku. Dulu saat aku masih menjadi anak buahmu, aku selalu menghadapi dilema. Aku selalu ingin berada di dekatmu dan menarik perhatianmu. Tapi itu akan sama saja artinya dengan menyerahkan diriku ke kandang macan, siap untuk diterkam dengan setumpuk pekerjaan yang tak berkesudahan. Akibatnya, selama menjadi anak buahmu aku justru tidak berani mendekatimu, dan malah selalu kabur dari jangkauan pandanganmu.
Lucunya hidup, ketika aku memutuskan untuk beralih pekerjaan dan tidak lagi menjadi anak buahmu, kita justru menjadi dekat. Bagiku, aku tidak perlu lagi ketakutan akan diberi banyak pekerjaan jika bersamamu. Mungkin bagimu, tidak ada lagi conflict of interest yang perlu dikhawatirkan sekarang saat kita bukan lagi atasan dan bawahan.
Aku tidak pernah menyesal melepaskan diri darimu. Karena pada akhirnya aku mengerti, melepaskan sebenarnya adalah cara supaya kita siap menerima sesuatu yang lebih baik. Kamu adalah buktinya.

*                                  *                                   *

Aku selalu mempertanyakan pilihan hidupmu. Mengapa kamu memilih untuk hidup selibat? Hanya tinggal bersama beberapa orang yang membantu di rumahmu, apa kamu tidak pernah kesepian? Baru setahun ini keponakanmu berkuliah di kota ini dan setiap akhir pekan menginap di rumahmu, tapi apa itu cukup mengusir kesendirianmu? Apa tidak pernah terpikir untuk memberi kesempatan bagi orang lain untuk mengisi hidupmu?
“Saya sudah tidak memikirkan hal itu lagi sekarang,” jawabmu saat aku menanyakan padamu. Sesungguhnya bukan itu jawaban yang aku inginkan. Aku bukan ingin tahu mengapa sekarang kau tidak menikah. Aku ingin tahu mengapa dari dulu kau tidak ingin menikah? Tahukah kamu, pilihan hidupmu itu menimbulkan banyak prasangka.
“Bapak tahu nggak bahwa banyak perempuan yang naksir sama Bapak?” aku memberanikan diri.
Kalau kau tahu, bos, pesonamu sudah menarik perhatian banyak perempuan. Dari ibu-ibu pejabat sampai mahasiswa yang magang di kantor kita. Dari yang gadis sampai yang janda. Mereka semua tertipu oleh penampilanmu. Survey pribadi yang kulakukan berhasil memvalidasi dugaanku, hampir mereka semua naksir padamu karena mengira usiamu baru sekitar 40 tahun. Kalau saja mereka tahu usiamu yang sebenarnya, apa mereka masih mengagumimu? Aku berani bersaing dengan mereka dan aku pasti menang, karena hanya akulah yang tetap mencintaimu, berapapun usiamu.
“Nggak mungkin saya nggak tahu,” jawabmu sambil tersenyum nakal.
Kalau begitu, kamu juga pasti sudah membaca hatiku kan?
“Dan kenapa nggak memilih salah satunya untuk dinikahi?” Aku takjub pada diri sendiri karena berani menanyakan hal sefrontal ini.
Sampai sekarang aku masih ingat senyummu. Tapi sampai sekarang juga aku masih tidak mengerti arti senyuman misterius itu.
“Saya nggak percaya mereka benar-benar cinta sama saya. Saya sudah tua. Mereka pasti cuma nge-fans doang.”
Hatiku mencelos. Sejauh itu kau sudah tidak percaya pada cinta?
“Kalau saya bilang bahwa saya sayang sama Bapak, Bapak juga nggak percaya?”
Aku bersyukur kulitku tidak putih, kalau tidak kau pasti sudah melihat wajahku yang kemerahan. Rasanya ingin terjun ke jurang saat itu juga. Kenapa aku bisa seberani itu sih?
Lalu kamu tertawa. Dan lagi mengelus kepalaku. “Percaya. Kamu sudah menganggap saya sebagai ayah sendiri kan?”
Baiklah bos. Itu penolakan yang jelas. Aku memang tidak bisa lebih maju lagi. Tapi Bapak tahu sifatku kan? Aku juga tidak mau mundur.
Puluhan perempuan mungkin sudah mencoba, lalu gagal. Aku tidak tinggi-tinggi bermimpi memenangkan hatimu. Aku hanya mengharapkan kebahagiaanmu. Tidakkah kau akan bahagia jika menikah? Jangan denganku kalau tidak membuatmu bahagia. Tapi menikahlah, dan berbahagialah. Karena melihatmu bahagia adalah alasan kebahagianku, meski aku bukan alasan kebahagianmu.

*                                  *                                   *

Beberapa tahun lalu, usiamu tiga kali usiaku. Hari ini usiaku tinggal separuh usiamu. Tidakkah jarak waktu yang memisahkan kita makin dekat? Mungkin beberapa tahun lagi usiamu tidak sampai satu setengah kali usiaku. Jangan sombong! Kau tidak setua itu, dan aku juga bukan anak kecil seperti yang kau pikir selama ini.
Apa sekarang aku sudah boleh mulai berharap?
Dear pak bos,
Selamat hari lahir ya!

*                                  *                                   *

Tidak pernah terlalu jauh, tidak pula terlalu dekat.
Aku selalu tahu dimana harus menempatkan hati.

Bos, hari ini aku senang karena kau mengajakku makan siang dan karaoke bersama dengan keponakanmu untuk merayakan hari lahirmu. Makan dan karaoke bertiga seperti ini membuatku merasa menjadi bagian keluargamu. Anggap saja aku GR, terserah.
Aku langsung merasa cocok dengan keponakanmu. Meski usiaku beberapa tahun lebih tua darinya, tapi selera kami sama. Kami sama-sama penggila dorama, anime dan manga. Dan meski dia mengejek preferensi musik K-Pop kesukaanku, tapi toh dia mau berduet denganku bernyanyi lagu “Every Heart”nya BoA.
Oiya, seperti om-nya, keponakanmu ini pandai sekali, Bos. Aku terkaget-kaget mendengar pertanyaannya yang tidak terduga saat kau sedang pergi ke toilet. Ia sengaja mengintrogasiku ketika kami hanya berduaan di ruang karaoke itu.
“Mbak naksir sama Pakde ya?” keponakanmu bertanya tanpa basa-basi.
Meski kaget, dengan gaya sok cool, aku menjawab, “Ah, sok tahu kamu.”
“Kelihatan banget tauuu, Mbak.”
“Oh ya?” masih sok kalem.
“Tadi Mbak nyanyi lagunya SHE sambil ngelirik Pakde melulu sih. Kelihatan banget lagi curhat gitu.”
Tertangkap basah begitu, aku langsung pasang wajah sok jutek.
Ngomong-ngomong, Bos, apa kau pernah dengar pepatah ini “Sesungguhnya karaoke adalah curhat yang terselubung”? Benar sekali dugaan keponakanmu itu, Bos, tadi aku menyanyikan lagu itu hanya sebagai kedok untuk menyatakan perasaanku yang sesungguhnya padamu. Tepat seperti lirik lagu itu, begitulah kata hatiku. Apa kau bisa mendengarnya? Kalau-kalau kau tidak memperhatikan lagu yang kunyanyikan tadi, sekarang kutuliskan liriknya untukmu, supaya kau bisa membaca hatiku.

Aku cinta mati padamu
Takkan sanggup aku tanpamu
Bahagiamu itu bahagiaku
Dan setiap air matamu, itulah juga kesedihanku

Aku cinta mati padamu
Jangan pernah meragukanku
Terlalu dalam cintaku ini
Mungkin aku bisa mati bila harus kehilangan dirimu

Bukan untuk sembarang hati aku katakan ini
Sungguh aku cinta kamu
Bukan untuk sembarang hati
Hingga nafas berhenti, aku rela berlelah untukmu

(Bukan Untuk Sembarang Hati, SHE)

“Pakde tahu bahwa Mbak suka sama Pakde?” keponakanmu bertanya lagi.
“Kalau kamu aja sadar, nggak mungkin beliau nggak tahu kan? Tapi saya sayang sama beliau sudah seperti ayah saya sendiri,” aku berusaha menjawab diplomatis.
Aku tahu keponakanmu tidak mempercayai jawabanku. “Kalau gitu, gue nggak mungkin manggil Mbak dengan Bude kan?”
“Nggak mungkin dong,” kata bibirku. Meski hatiku berdoa lain.

*                                  *                                   *

Tidak pernah bersembunyi, tidak juga terbuka.
Karena memendam hanya membuat sesak, tapi kadang berterus terang juga menyakitkan.

Aku ingin sekali mengirim suratku kali ini padamu, Bos. Aku ingin kamu tahu, bahwa aku tidak suka kamu menjodoh-jodohkan aku dengan orang lain. Berapa kali kamu mengajakku makan bersamanya, ternyata hanya untuk menjodohkan kami? Apa selama ini kamu baik padaku hanya supaya aku mau dijodohkan dengan lelaki pilihanmu? Tidak tahukah kau, dia mendekatimu hanya untuk memanfaatkanmu demi mendekatiku.
Sudah lama aku ingin mengatakan ini padamu, Bos. Dan hari ini kamu mengujiku di saat yang keliru, saat mood-ku sedang buruk. Bayangkan perasaanku saat menerima pesan WhatsApp darimu. Aku hampir tersenyum karena melihat namamu disitu. Tapi senyumku langsung pudar begitu membaca pesanmu.
Kamu belum punya pacar kan? Dia juga belum punya. Sudah deh, kalian pacaran saja. Cocok lho. Tipe idamannya dia ya seperti kamu itu.
Tanpa pikir panjang aku mengetik balasannya: Tipe idaman saya yang seperti Bapak.
Aku tidak perlu lagi mengirim surat ini kan? Harusnya kau sudah membaca hatiku.

*                                  *                                   *

Bertahun-tahun mengenalmu, ini pertama kalinya aku melihatmu sakit parah. Meskipun kau marah dan menjauhiku sejak aku menolak rencana perjodohan itu, tapi saat melihatmu terbaring di rumah sakit, aku tidak sanggup membalas kemarahanmu. Aku langsung luluh.
“Kayaknya vertigo Pakde kambuh, Mbak. Tadi pagi pingsan di kamar,” kata keponakanmu begitu aku datang ke kamar rawatmu.
Mengingat riwayat hipertensimu selama ini, syukurlah kau bukan pingsan karena serangan jantung atau stroke seperti yang kukhawatirkan.
“Haduh, minggu ini gue lagi ujian nih Mbak. Gue cuma bisa jaga Pakde malam hari.”
Entah kenapa tanpa pikir panjang aku langsung menelepon sekretarisku. “Beberapa hari ini saya nggak bisa masuk. Ayah saya sakit. Kabari kalau ada hal penting ya.”
Aku masih ingat tatapan aneh keponakanmu saat aku mematikan ponselku.
“Segitu cintanya sama Pakde ya Mbak?” tanyanya, frontal.
Aku tidak berani menjawab.

Bukan untuk sembarang hati
Hingga nafas berhenti, aku rela berlelah untukmu

*                                  *                                   *

Tidak pernah mengharapkan "selalu" atau "selamanya". Bagiku cukuplah "sekarang". Selebihnya, setiap detik bersamamu adalah rahmat Tuhan yang sangat kusyukuri.

Dear Boss,
Aku ingin memulai cerita kali ini dengan mengutip kata-kata penulis favorit kita di salah satu novelnya.
Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Untuk keduanya bertemu, yang dibutuhkan hanya waktu (Dewi – Dee – Lestari)
Maka jika aku adalah jawaban dari pertanyaanmu, atau kamu adalah yang aku pertanyakan, bukankah untuk kita bertemu, yang dibutuhkan hanyalah waktu?
Dan benarlah demikian adanya. Betapa lucunya hidup, sungguh hanya waktu yang kita butuhkan untuk bertemu.
Dulu aku selalu berandai-andai, semisal kau lahir sedikit lebih lambat, atau aku yang terlahir beberapa tahun lebih cepat, bukankah kita bisa bertemu di “waktu yang tepat”? Tapi sekarang aku tidak pernah lagi mempertanyakan kehendak Tuhan. Bukankah kalau pengandaianku terwujud, aku hanya akan menjadi teman sekelasmu yang menyebalkan. Andaikan kita tak terpaut waktu, bukankah aku hanya akan jadi teman biasa bagimu?
Orang bilang, di hadapan cinta waktupun menyerah. Sayangnya, dalam kasus kita, hal itu tidak terjadi. Kau selalu mempertanyakan hatiku, gara-gara waktu. Aku selalu tertinggal darimu, juga gara-gara waktu. Bahkan jika kita bisa menyelesaikan masalah kita sendiri, kita masih harus menghadapi orang lain, lagi-lagi karena perbedaan waktu.
Kupikir diantara sekian banyak perbedaan kita, salah satu hal yang mempersatukan kita adalah ketidakpedulian kita kepada suara sekitar. Bukannya kamu tidak pernah mendengar cibiran orang terhadapmu karena bersama anak kecil sepertiku. Bukan juga aku tidak pernah mendengar prasangka mereka bahwa aku hanya memanfaatkan kemapananmu. Tapi kita dengan sukses mengabaikannya.
Aku yakin kau sangat mengenalku, bahwa aku tidak pernah peduli dengan omongan orang. Orang lain boleh ngomong apa saja, dan demi kamu aku bisa menganggapnya seperti hembusan angin. Tapi sayangnya, suara pelan ibuku seperti badai di telingaku, dan aku tidak bisa mengabaikannya. Beliau marah saat tahu aku menjagamu selama kau sakit.
“Apa kata orang nanti?” kata Ibu, pelan namun tajam.
“Aku nggak peduli kata orang, Bu,” jawabku. Bahkan meski kau tidak mencintaikupun, aku merasa perlu memperjuangkanmu di hadapan Ibuku. Bodohnya aku.
“Tapi Ibu peduli. Saat Ibu dan Ayah merayakan kelahiranmu, orangtuanya merayakan kelulusan kuliahnya. Kamu pikir itu rentang waktu yang sedikit?” tegas beliau.
Berapa waktu yang aku butuhkan untuk menemukanmu? Sungguh hanya waktu yang kita butuhkan untuk bertemu. Tapi ironisnya, waktu pulalah yang akhirnya memisahkan kita. Seberapa cepatpun aku berlari, dan andaipun kamu mau melambatkan langkah, waktu di antara kita memang tidak terlampaui.

*                                  *                                   *

Tidak pernah terlalu takut, tidak juga terlalu berani.
Karena cinta terlalu besar sehingga tidak ada yang perlu ditakuti.
Tapi restu terlalu jauh untuk diraih sehingga aku tidak berani bermimpi.

Pertentangan tidak hanya berasal dari Ibuku saja ternyata, Bos. Keluargamu tampak sama kerasnya menentang keberadaanku di sampingmu. Aku secara tidak sengaja mendengar pembicaraan keponakanmu dengan keluargamu yang lain. Kakak-kakak, adik dan iparmu berbondong-bondong datang ke kota ini saat mendengarmu pingsan pasti karena sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Dan wajar saja kalau mereka makin khawatir ketika melihat gadis yang tidak mereka kenal berada di ruang rawatmu.
“Siapa perempuan itu?”
Aku yang baru kembali dari kantin langsung menghentikan langkahku tepat sebelum berbelok ke koridor ruang rawatmu. Keluargamu tampak berkumpul di depan ruang rawatmu dengan keponakanmu berada di pusat introgasi.
“Dia mantan anak buahnya Pakde, Ma,” aku mendengar keponakanmu menjawab.
“Mantan anak buah? Menyuapi mantan bosnya?”
“Si Pakde kan masih lemas, Ma, masih pusing dan belum bisa makan sendiri. Harusnya aku yang menjaga Pakde, tapi minggu ini aku ujian, jadi cuma bisa jaga Pakde malam hari.”
“Kamu sama sekali nggak curiga sama perempuan itu?” kulihat kakak iparmu yang gantian mengintrogasi keponakanmu.
“Curiga apa, Bude? Curiga dia bakal jadi istrinya Pakde?”
“Tuh kan! Saya bilang juga apa. Perempuan itu mencurigakan. Gadis semuda itu mendekati Pakde-mu, nggak mungkin karena benar-benar cinta sama Pakde-mu. Dia pasti cewek matre. Cuma ingin warisan Pakde-mu. Kita harusnya berhati-hati.”
Finally, the truth. Begitulah yang selalu disangkakan orang tentangku terhadapmu. Aku tidak peduli. Aku hanya berharap kamu mengenalku lebih baik daripada mereka.

*                                  *                                   *

Tidak pernah mengharapkan "happily ever after".
Asalkan cerita kita tidak berakhir, itu lebih dari cukup.

Sayangnya, bahkan mengharapkan pilihan terakhir itupun, aku tak berhak. Aku tidak tinggi-tinggi bermimpi bisa menaklukan hatimu. Aku cuma ingin terus berada di sampingmu, sebagai apapun aku di matamu. Aku cuma ingin keberadaanku menjadi salah satu alasanmu berbahagia. Tapi untuk keinginan sesederhana itupun, aku tidak berhak.
Ibu berkeras menjodohkanku dengan lelaki pilihannya. Lelaki yang, menurut beliau, setara dan seimbang denganku. Lelaki yang hanya 3 tahun lebih tua dariku.
Aku juga tidak pernah bermimpi tinggi-tinggi kau akan mempertahankanku. Aku cuma berharap kau tidak melepasku. Sayangnya, permintaan sederhana seperti itupun tidak bisa kau kabulkan.
“Kelihatannya dia laki-laki baik dan pintar. Fisiknya sih sepertinya tipe idaman kamu tuh. Ibumu nggak mungkin memilihkan yang buruk buatmu kan? Selamat ya,” katamu sambil tersenyum, ketika aku menceritakan tentang pria pilihan ibuku.
Well yeah, secara fisik lelaki itu memang mirip dengan dirimu. Lalu kenapa? Dia tetap bukan dirimu. Selama ini hidupku sudah berat dengan terus-menerus berpura-pura tidak mencintaimu dan hanya menyayangimu sebagai ayah. Tapi sepertinya hidupku sekarang akan jadi lebih berat. Aku harus berpura-pura tidak mencintaimu sambil berpura-pura mencintai orang lain. Aku tidak akan kuat menjalani keduanya. Sepertinya aku harus memutuskan salah satunya. Tapi selagi tetap bersamamu, aku tidak akan sanggup berpura-pura tidak mencintaimu.

*                                  *                                   *

Dear Boss,
Sekarang hatiku sudah tidak berbentuk lagi. Aku tahu kau sudah mendengarnya tadi. Dan memang begitulah tujuanku. Membuatmu melihat acting-ku.
“Kalian pikir gue benar-benar cinta sama Si Bapak?” aku menekan gemetar suaraku.
“Jadi selama ini lo cuma memanfaatkan dia? Karena kekayaannya?”
Tepat seperti itulah aku ingin mereka menduga dariku. Begitu jugalah aku berharap apa yang kau pikirkan tentangku.
“Apa ada alasan yang lebih masuk akal lagi?” jawabku getir.
Perasaan yang selama ini aku pendam terhadapmu memang tidak masuk akal, Pak. Karenanyalah aku harus terus berpura-pura. Betapa banyak orang yang berpura-pura tulus padamu. Tapi karena ketulusanku tidak lazim, aku justru terpaksa berpura-pura palsu. If you know what I mean.
Ini adalah acting terakhirku. Setelah ini kau akan membenciku. Lalu kita tidak akan saling bertemu. Lalu kita akan selesai. Aku tidak perlu berpura-pura lagi.
Aku tidak perlu lagi berpura-pura tidak mencintaimu.
Aku hanya akan berpura-pura mencintai orang lain. Sepertinya itu akan lebih mudah.

Apa yang telah kuperbuat?
Menghancurkan semuanya
Satu khilaf berbisik, dua hati terpecah
Adakah jalan pulang untukku

Aku yang bodoh melepasmu
Hal terbaik yang pernah ada di hidupku
Kini aku tak tahu bagaimana cara melangkah tanpamu

Terhempas tak membekas, bisu dan air mata
“Maaf” tidak berguna, rapuhku tanpa arah      

 (Melangkah Tanpamu, Fiersa Besari)

*                                  *                                   *

Kadang mereka yang bisa mencinta dengan merdeka lupa bersyukur. Kami yang mencinta di dalam batasan-batasan, terbiasa mensyukuri setiap kesempatan dan kebahagiaan, sekecil apapun. Itu adalah rahmat tak ternilai.

Hai pipi bakpao,
Ini pertama kalinya saya menulis surat. Saya menulisnya dengan kado ulangtahun yang saya berikan untukmu dua tahun lalu. Saya menulisnya, lalu menyimpannya di tempat yang sama dengan surat-surat cinta yang selama ini kamu tulis untuk saya, yang tidak pernah kamu kirimkan pada saya. Nasib surat inipun akan sama. Surat ini tidak akan pernah sampai padamu. Meski begitu, meski kamu tidak akan pernah membaca surat ini, saya tetap ingin bercerita, seperti selama ini kamu bercerita.
Saya tidak tahu harus mulai bercerita darimana. Mungkin lebih baik saya mulai dengan permintaan maaf. Maaf karena selama ini saya tidak pernah benar-benar percaya padamu. Bukan saya tidak mau percaya. Saya hanya terlalu takut untuk percaya. Saya tidak pernah siap menerima ketulusanmu, karena menurut saya semuanya tidak masuk akal. Bagi saya, lebih masuk akal saat mendengar bahwa kamu hanya memanfaatkan saya. Itu mengapa saya marah padamu. Maaf karena saya tidak pernah benar-benar mengenalmu dengan baik.

Pipi bakpao,
Akhirnya saya tidak bisa lagi menolak mempercayai ketulusanmu saat saya membuka mata di rumah sakit dan orang yang pertama kali saya lihat adalah kamu.
“Kamu disini?”
Waktu itu saya bertanya begitu karena tidak percaya, apa yang kamu lakukan di samping tempat tidur saya dengan sebutir air mata yang buru-buru kau hapus saat mata kita bertemu?
“Saya selalu disini.”
“Saya pikir kamu pergi.”
Saya pikir kamu seharusnya marah pada saya karena saya menjauhimu sejak kamu menolak perjodohan yang saya rencanakan untukmu. Saya ingin kamu tahu, saya menjauhimu bukan karena marah padamu. Saat membaca balasan pesan WhatsApp-mu, saya langsung menyadari bahwa kalau saya tidak segera menjauhi kamu, saya hanya akan lebih menyakiti kamu. Bersama saya, mungkin kamu akan terus berharap, padahal saya tidak berani menjanjikan apa-apa. Bersama saya, justru hanya akan mendatangkan prasangka-prasangka orang terhadapmu yang akan menyakitimu.
Tapi meski saya sudah menjauhimu, kenapa kamu tidak juga pergi meninggalkan saya? Harusnya kamu abaikan saja saya yang sudah meninggalkanmu ini.
“Saya nggak pernah pergi. Bapak yang nggak pernah melihat saya.”
Sekarang ketika kamu benar-benar pergi, saya baru bisa melihatmu dengan lebih jelas. Saya bahkan bisa melihat kita. Tidak pernah sejelas ini. Tidak pernah sejelas ini saya melihat ironi tentang kita.

Pipi bakpao,
Saya minta maaf. Bukan hanya karena saya tidak pernah berani mempercayaimu. Saya minta maaf karena saya tidak pernah bisa mengabulkan permintaan sederhanamu, bahkan untuk terakhir kalinya. Saya menyesalinya sekarang.
Saya tidak menyangka bahwa korban penodongan dan penusukan yang tidak sengaja saya saksikan itu adalah kamu. Awalnya saya hanya penasaran melihat orang-orang berkumpul di tempat parkir mall. Tapi saat saya berhasil menyibak kerumunan itu dan melihatmu terbaring dengan darah yang terus mengalir dari sisi perutmu, saya merasa separuh jiwa saya melayang.
Melihatmu terbaring berlumuran darah, harusnya saya tidak lagi memikirkan pendapat orang. Tapi saat itu saya terintimidasi oleh tatapan-tatapan orang yang berkerumun di sekitar kita. Saya memang bodoh, hanya bisa bersimpuh di samping tubuhmu yang terkapar, lalu melepasmu tanpa berusaha melakukan apa-apa.
Orang bilang, salah satu kesedihan terbesar di dunia ini adalah melihat yang muda pergi mendahului yang tua. Kenapa harus kamu yang pergi meninggalkan saya lebih dahulu?

Pipi bakpao,
Saya menulis surat ini, di ponsel ini, sambil teringat perkataan salah seorang saksi kasus penodongan yang menimpamu.
“Sebenarnya mbak itu sudah menyerahkan dompet dan tasnya ke penodong itu, Pak. Tapi waktu penodong itu meminta ponselnya, mbak itu menolak. Kalau saja mbak itu nggak berkeras mempertahankan ponselnya dan nggak berteriak minta tolong, penodong itu nggak akan menusuk mbak itu.”
Kamu bodoh sekali, pipi bakpao, kenapa demi ponsel ini kamu membahayakan nyawamu? Tapi sekarang, saat saya menemukan surat-suratmu ini tersimpan di dalamnya, saya mengerti kenapa kamu melakukan hal bodoh itu. Dan membaca surat-suratmu ini, saya kini makin menyesal karena tidak bisa mengabulkan permintaan terakhirmu.
“Di luar hujan ya, Pak?” bisikmu waktu itu dengan suara lelah, nyaris tidak terdengar karena teredam oleh suara kerumunan orang, terbaring berlumuran darah, “Saya kedinginan. Bisa tolong ... peluk saya, Pak?”
Tapi saya tidak mengabulkannya. Saya terlalu takut dengan tatapan menghakimi dari kerumunan orang-orang itu jika melihat laki-laki seusia saya memeluk gadis seusiamu. Bodohnya saya. Saya selalu takut prasangka orang lain akan menyakitimu, padahal mungkin yang paling menyakitimu adalah ketakutan saya sendiri. Maafkan saya.
Saya tidak akan pernah bisa melupakan bayangan terakhirmu. Kamu menatap saya dengan sedih karena saya tidak mau mengabulkan keinginanmu, dua butir air mata mengaliri kedua pipimu. Tapi kamu tersenyum ketika mengembalikan ponsel yang berlumuran darah ini kepadaku, kado ulang tahun yang kuberikan padamu dua tahun lalu.
Lalu kamu pergi. Lalu kamu pergi. Dalam sunyi.
Menyesal dan tercekat, saya memanggil-manggil namamu. Tidak lagi peduli pada kerumunan orang. Tapi kamu tidak kembali. Tidak pernah kembali. Apa kamu terlalu marah pada saya?
Sekarang saya cuma bisa memeluk bayanganmu. Cuma itu yang berani saya lakukan.

Pipi bakpao,
Betapa lucunya kita kan? Sudah berapa lama kita menjadi bagian hidup bagi satu sama lain. Tapi kenapa cerita kita ini tidak pernah benar-benar ada? Lalu sekarang, bagaimana saya bisa menyelesaikannya kalau cerita kita tidak pernah benar-benar dimulai?

Pipi bakpao,
Ini adalah surat pertama saya. Juga surat terakhir saya. Saya tidak akan menulis lagi. Ponsel ini, dan semua surat cinta kita yang ada di dalamnya, akan saya hancurkan segera setelah saya selesai menulis ini.
Setelah ini saya tidak perlu lagi berpura-pura tidak mencintaimu.
Saya hanya perlu berpura-pura hidup bahagia tanpamu. Rasanya itu lebih mudah.

Lima puluh tahun saya hidup tanpa kamu. Dan saya baik-baik saja. Baru lima tahun ini kamu memasuki hidup saya. Kalau sekarang kamu pergi, seharusnya saya akan tetap baik-baik saja kan? Seharusnya.

Rabu, 03 Oktober 2012

FAHD dan FIERSA

Saya mengenal kang Fadh pertama kali melalui teman saya, Ambar, yg mengikuti kelas menulis bersama kang Fahd. Dia menulis bbrp kali review ttg buku2 kang Fahd. Dari situlah saya tertarik membaca buku2 kang Fahd. "Yang Galau Yang Meracau" dan "Menatap Punggung Muhammad" adl 2 bukunya yg pertama kali menggelitik ke-kepo-an saya. Kemudian saya menemukan akun twitter kang Fahd n blognya,lalu jatuh cintalah saya pada tulisan2nya.

Sampai akhirnya kang Fahd membuat Revolvere Project, lalu saya menemukan cinta yang lain lagi. Fiersa Besari.
Seperti kang Fahd yg menghipnotis dan mengajak berpikir melalui kata2nya yg sederhana dan dalam, kang Fiersa selalu memukau dengan lirik2 dan musik lagunya. Dari keduanyalah saya menemukan inspirasi baru.

Tulisan2 kang Fahd menemani saya selama setahun ini saat saya menyelesaikan penelitian tugas akhir saya. Dan salah satu kata2nya yg paling saya ingat adalah "Terima kasih kepada diri saya sendiri krn sudah bertahan dan sudah selalu memutuskan untuk berjuang". Kata2 ini menyemangati saya selagi saya hampir putus asa menghadapi kebuntuan penelitian saya. Terima kasih.

Seringkali ketika otak saya sdg sangat buntu menghadapi penelitian di lab yg tak kunjung berhasil, menulis cerpen adalah salah satu pelarian saya untuk menemukan ide2 baru bagi penelitian saya. Tapi ada kalanya bahkan saya tidak bisa menulis cerpen apa2 saking mumetnya otak saya. Lalu kang Fiersa hadir dengan lagu-lagunya.

"Melangkah Tanpamu" adl lagu kang Fiersa yg pertama kali saya dengar selain lagu2 ciptaannya untuk Revolvere Project. Bagi saya, lagu itu termasuk dalam list lagu galau dekade ini yg sgt saya suka. Lalu saya mulai mendengarkan "Kala" dan "I Heart Thee", dan saya mulai jd penggemar kang Fiersa. Dari lagu2 itu saya malah menulis sebuah cerpen, sekaligus meminjam nama kang Fiersa untuk cerpen itu. Terima kasih.

Saya suka membaca blog kang Fahd,,, sama sukanya spt saya membaca twit2 kang Fiersa. Melalui tulisan kang Fahd di buku n blog, saya merenung dan belajar. Hal2 yg disampaikan begitu sederhana, ril, tapi sgt dalam,,, disampaikan dgn bahasa yg tidak melodrama tp sgt romantis,tapi kadang juga menyindir tajam dan tepat sasaran. Di sisi lain, lagu2 kang Fahd memberi inspirasi n nuansa baru bagi tulisan2 saya. Saya juga suka twit2 kang Fiersa yg sering romantis, kadang miris, dan tidak jarang sinis. Hidup memang begitu kan? Tidak selalu manis, meski bukan berarti selalu tdk manis.

Saya pikir, hal-hal inilah yg menyatukan kang Fahd n kang Fiersa. Keduanya punya mimpi n idealisme. Lalu saling melengkapi dgn rasa masing2. Saya tdk lupa ada kang Futih Aljihadi di Revolvere Project,yg pasti sama mengagumkannya dg kang Fahd n kang Fiersa, krn bs menghasilkan karya indah bersama. Hanya saja saya blm byk mengenal kang Futih shg ga bs byk berkomentar.

Membaca buku n blog kang Fahd sembari mengintip twit kang Fiersa dan mendengar lagunya, saya serasa mencicipi rasa yg unik dari keduanya. Manis dan asam, gurih dan pahit di saat yg sama. Hidup. Lengkap. Sebagaimana adanya.

Maka saya ikut senang ketika pada waktu yg hampir bersamaan kang Fahd akan launch buku barunya PERJALANAN RASA selagi kang Fiersa merilis album 11.11 nya. Bukankah ini yg disebut jodoh? Dua saudara berkarya bersama? Hohoho.

Akhirnya, saya mengucapkan selamat untuk kang Fahd n kang Fiersa. Tetaplah menginspirasi.

Penggemar setia F2F