Luna Lovegood inside. Noda Megumi outside.

Selasa, 25 Maret 2014

DOA



"Nia, terima kasih ya sudah mendoakan saat umroh. Setelah dua tahun menunggu, istri gue sedang hamil sekarang."

Begitu kabar yang saya dapat dari salah seorang sahabat saya dua malam lalu. Lalu tanpa peringatan, tiba-tiba saya menangis.
Memang benar, istri sahabat saya hamil belum tentu karena doa saya yang dikabulkan Tuhan. Dia pasti telah menitipkan harapannya pada banyak orang untuk mendoakan. Tapi bukan itu yang terpenting. Yang penting, saya sebentar lagi punya keponakan baru :D
Saya menangis bukan hanya karena senang, tapi juga karena terharu. Jikalah benar bahwa Tuhan telah mengabulkan salah satu doa yang saya panjatkan di depan pintu rumahNya, tentu doa yang lain hanya menunggu waktu dan usaha untuk dikabulkan. Katanya, semua doa manusia akan dikabulkan Tuhan, sesuai dengan usaha yang kita lakukan. Seperti halnya Tuhan tidak akan memberi cobaan melainkan yang dapat ditanggung oleh seseorang, mungkin juga Tuhan tidak akan memberikan rizki melainkan sebesar yang berhak diterima orang tersebut. Dan hak itu datang setelah kewajiban ditunaikan.

Bukan hanya doa saya untuk kehamilan istri sahabat saya yang dikabulkan Allah. Hanya dalam waktu beberapa minggu setelah saya kembali dari rumahNya, Tuhan telah mengabulkan dua doa saya.
Salah satu harapan yang saya sampaikan di depan rumahNya kala itu adalah supaya saya dan ketiga sahabat dekat saya segera menemukan jodoh yang terbaik bagi masing-masing kami.  Dan ndilalah, tiga hari lalu salah satu sahabat dekat saya itu memberi kabar bahagia. InsyaAllah ia akan melangsungkan pernikahan pada pertengahan April besok. Tentu saja ia menikah bukan karena doa saya, karena rencana pernikahannya sudah disusun sebelum saya umroh. Tapi bukan itu yang terpenting. Entah doa siapapun yang dikabulkan, yang penting akhirnya salah satu diantara kami akan segera pecah telor. Hahaha. Katanya, kalau salah seorang diantara sahabat dekat sudah menikah, maka sahabat lainnya akan segera menyusul. Aamiin. Hahaha.

Dari dua berita itu, saya mendapatkan satu kesimpulan. Bahwa terkadang Tuhan mengabulkan harapan kita yang disampaikan melalui doa orang lain. Kita tidak pernah tahu diantara sekian banyak doa yang disampaikan oleh orang-orang yang kita mintakan doanya itu, doa siapa yang dikabulkan Tuhan. Sama seperti kita tidak pernah sadar, mungkin ada harapan-harapan orang lain yang dikabulkan Tuhan melalui doa kita.
Maka saat kita menginginkan sesuatu, jangan malu untuk meminta didoakan oleh sebanyak mungkin orang-orang terdekat kita. Dan saat seseorang memintamu untuk turut mendoakan kebaikannya, jangan bilang “Iya, pasti gue doain,” hanya untuk basa-basi. Bisa jadi dia memang bersungguh-sungguh mengharapkan kamu berdoa untuk kebaikannya.
Sejak beberapa lama ini saya membiasakan diri mengubah jawaban saya setiap pertanyaan “Kapan nikah?” diajukan. Saya pikir, mungkin ada baiknnya kalau menjawab “Segera. Doain ya.”
Saya tidak pernah benar-benar berharap mereka benar-benar mendoakan, karena ada saja orang yang bertanya hanya karena terlalu ingin tahu urusan orang. Namun demikian, memang ada beberapa orang yang menanyakan hal itu karena mereka peduli pada kebahagiaan kita. Kepada orang-orang seperti itulah saya menitipkan harapan saya melalui doa mereka. Saya selalu percaya, doa orang-orang yang baik dan tulus menyayangi saya ini akan dikabulkan Tuhan.




Kalau kamu tidak bisa bersama dengan orang yang namanya selalu kamu sebut dalam doamu setiap hari … mungkin kamu akan bersama dengan orang yang selalu menyebut namamu dalam doanya setiap hari.

Tuhan pasti mengabulkan doa kita. Asal kita percaya. Dan melihat.




Rabu, 12 Maret 2014

LUPA



Tidak banyak yang bisa saya banggakan, terutama saat bersamamu. Rasanya segala tentang saya selalu kurang jika dibandingkan dengan kamu. Mungkin cuma satu kelebihan saya.
Ingatan.
Saya yang paling baik mengingatmu. Saya dapat mengingatmu lebih baik daripada siapapun.
Saya tidak perlu notifikasi FB atau alarm ponsel untuk mengingat tanggal lahirmu. Bahkan saya ingat tanggal lahir seluruh anggota keluargamu. Saya mengingat nomor ponselmu tanpa kesulitan. Saya ingat nomor mobilmu bahkan sejak pertama kali kamu mengantar saya pulang.
Saya ingat golongan darahmu. Dan jadwal donor darah rutinmu. Saya ingat makanan kesukaanmu dan makanan yang membuatmu alergi. Juga jadwal makanmu yang tidak seperti orang normal.
Saya ingat warna kesukaanmu. Dan model sepatu favoritmu.
Saya ingat aroma parfum yang kamu gunakan. Bahkan harganya yang lima kali lipat harga parfum saya.
Saya ingat buku-buku kesukaanmu. Kali ini mungkin juga karena kita menyukai buku-buku yang sama.
Saya mengingat semua lagu kesukaanmu. Meski saya tidak pernah bias menyanyikannya sebaik yang ingin kamu dengar.
Saya mengingat hal-hal detil tentangmu dengan sangat baik. Tidak ada yang bisa melakukannya lebih baik daripada saya.


Tapi sekarang tidak ada lagi yang bisa saya banggakan. Akhir-akhir ini saya melupakan banyak hal. Karena kesibukan, itu alasan klise. Karena kelelahan, meski itu benar, tapi jelas bukan pembenaran.
Saya melupakan janji bertemu beberapa pekan lalu. Saya lupa alamat emailmu saat ingin mengirimkan dokumen yang kamu perlukan. Saya bahkan memakan es duren di hadapanmu, lupa bahwa kamu sering mual dengan aromanya.
Saya melupakan banyak hal. Tentang kamu. Lalu apa lagi yang bisa saya banggakan? Tidak ada lagi yang bisa saya banggakan untuk menjadi seseorang yang layak di sampingmu


"Bagaimana kalau nanti kita makin tua, dan saya melupakan hal-hal tentang kamu?"
"Apa lupa tentang saya sama artinya dengan kamu bosan dengan saya?"
"Kamu tahu saya bukan pembosan."
"Iya, saya tahu. Kamu bahkan tahan menemani saya bekerja, tanpa saya ajak ngobrol, nyaris seharian. Kamu selalu menemukan cara untuk membuat saya nyaman bersama kamu."
Fian mengerjap. Tio tersenyum.
"Bukan ingatan yang menyatukan kita. Tapi rasa nyaman. Dan rasa nyaman bukan diingat oleh pikiran, tapi oleh hati. Kamu yang paling juara membuat saya nyaman."


Sabtu, 15 Februari 2014

Saya Datang

Satu kalipun saya tidak pernah ragu. Engkau Maha Pengasih. Bahkan doa-doa yang hanya berani saya pikirkan, dan belum berani saya sampaikan, Kau telah mengabulkannya. Sebelum saya berdoa "Jika dia bukan jodoh saya, mohon jauhkanlah", Engkau telah menjauhkan saya dari dia.

Satu kalipun saya tidak pernah ragu. Engkau Maha Mendengar. Suara hati saya yang terdalampun, bahkan yang saya  sendiri sering tidak menyadarinya, Engkau telah mendengarnya.

Maka rasanya tidak perlu pergi ke tempat tertentu supaya Engkau mendengar doa-doa saya. Jika memang Engkau Maha Mendengar, maka dimanapun saya berdoa, Engkau tetap mendengarnya kan?

Maka saya datang bukan sekedar untuk meminta.

Katanya, jika seseorang mendatangiMu selangkah, Engkau mendekatinya sehasta. Jika seseorang mendekatimu dengan berjalan, Engkau berlari.

Jika kini aku datang kepadaMu beratus kilometer, akankah Kau memelukku?

Maka kini saya datang. Bertamu ke rumahMu untuk bertemu. Hanya itu sebenarnya yang paling saya inginkan. Jika kemudian saat kita berbincang, Engkau berkenan mengiyakan beberapa permintaan saya, apa saya salah jika berharap?

Maka kini saya datang. Bertamu, menyerahkan hati. Semoga Engkau berkenan.

Kamis, 13 Februari 2014

SAYUR ASEM

Aku tidak mengerti mengapa banyak orang yang tidak bisa bertahan lama di suatu pekerjaan, lalu pindah kesana-kemari, entah mencari apa. Tantangan. Mungkin itu yang mereka cari. Mungkin mereka segera bosan dengan rutinitas sehingga mencari bidang lain yang baru, yang menurut mereka lebih menantang.
Padahal aku bisa tahan bertahun-tahun pada satu pekerjaan yang sama. Apa itu artinya aku yang tidak suka tantangan?

Aku juga tidak mengerti. Mengapa dua orang yang saling menyayangi kemudian merasa saling bosan? Apakah karena sudah tidak ada tantangannya lagi?
Padahal aku merasa selalu ada hal yang baru setiap hari, bahkan pada hubungan yang sama.

Aku juga tidak mengerti mengapa orang lain lebih cepat merasa bosan denganku? Apa karena aku bukan orang yang pandai membuat kejutan? Atau batas rasa bosanku jauh lebih tinggi dibanding orang normal lainnya.
Padahal aku bisa tahan bersama seseorang dalam waktu lama,,, bahkan jauh setelah kami tidak lagi bersama.
Tapi dia tidak.
Apa aku adalah orang yang begitu membosankan?

Nyatanya, kebosanan bukan terjadi pada hal yang tidak kita sukai. Tapi justru pada hal-hal yang sangat kita sukai. Misalnya kamu.
Dulu kamu yang bilang bahwa kamu merasa nyaman dengan pekerjaan itu. Kamu dulu selalu bersemangat bekerja. Datang pagi hari, lalu pulang menjelang malam, dengan menceritakan segudang pengalaman menarik kepadaku. Tapi kini kamu tidak pernah bercerita tentang pekerjaanmu dengan antusias lagi. Entah karena pekerjaanmu memang membosankan. Atau karena semua hal sudah kamu kuasai sehingga kamu tidak lagi menemukan tantangan. Atau kamu hanya sedang lelah?

Apa rasa suka yang berlebihan juga bisa menyebabkan rasa bosan suatu saat nanti? Misalnya kamu.
Dulu menyukai sayur asem. Tapi karena memakannya hampir setiap hari, kamu menjadi muak. Merasa bosan. Lalu tidak mau lagi makan sayur asem.

Aku rasa, makin sering kita bertemu/ berinteraksi dengan seseorang/ sesuatu, risiko kebosanan akan meningkat secara eksponensial.
Seperti yang terjadi padamu sekarang. Karena terlalu antusias, kamu bahkan bekerja hingga melewati jam kerja normal. Intensitas kerja yang terlalu tinggi menyebabkan timbulnya kejenuhan prematur. Mungkin itu mengapa kamu sudah merasa bosan bekerja di sana bahkan sebelum dua bulan berlalu.

Mungkin begitu juga dengan pertemuan yang terlalu sering.

Tapi aku mau menceritakan satu rahasia.
Banyak teman-teman kita yang dulu selalu berkata “Gue udah muak kuliah,” tapi setelah mereka lulus, banyak yang ingin melanjutkan kuliah. Terlepas apapun motif mereka melanjutkan kuliah, entah hanya karena gengsi atau gelar semata, toh mereka tetap kembali ke kampus.
Juga seperti acara reuni yang selalu menyenangkan karena kita telah lama tidak bertemu dengan orang-orang yang dulu kita temui setiap hari.

Mungkin itu rahasianya. Kita perlu pergi sejenak dari rutinitas. Menjauhkan diri dari hal yang setiap hari kita lakukan. Mungkin juga dari orang-orang yang setiap hari kita temui.

Selamat berakhir pekan. Lakukanlah hal-hal, selain pekerjaan, yang kamu sukai. Karaoke bersama teman-temanmu, misalnya. Atau nonton dengan kakakmu. Atau memandikan landak abangmu. Atau makan seafood bersama ayah dan ibumu.


Sementara itu, aku pergi sebentar ya. Semoga saat nanti aku kembali, kamu sudah bisa merindukanku.


Selasa, 04 Februari 2014

Kata Sayang

Saya dibesarkan di keluarga yang tidak mengenal kata sayang.

Di rumah ini, kata "sayang" disampaikan dengan suara bawel Ibu yang membangunkan di pagi hari. Di rumah ini, kata "sayang" disampaikan dengan doa tengah malam Bapak yg diam-diam tak terdengar. Di rumah ini, kata "sayang" diungkapkan dengan suplai drama-drama korea dari adik saat saya hampir gila mengerjakan tugas akhir.

Di rumah ini, kata "sayang" dikatakan dengan telepon Ibu yang meneror semua teman saya saat ponsel saya tidak bisa dihubungi. Di rumah ini, kata "sayang" dinyatakan dengan amarah Bapak saat saya pulang terlalu malam. Di rumah ini, kata "sayang" diungkapkan dengan ledekan tiada henti adik tiap malam Minggu "Ini malam Minggu atau malam Jumat? Rumah sepi amat, nggak ada yang ngapelin?"

Saya dibesarkan di keluarga yang tidak mengenal ucapan selamat ulang tahun.

Di rumah ini, "selamat ulang tahun" diucapkan dengan kalimat "Semoga Ibu segera dapet cucu", "Semoga segera ada yang bisa gantiin Bapak untuk benerin genteng" dan "Meski anggur lebih enak daripada apel, tapi semoga kakak gue ada yang ngapelin, daripada dianggurin mulu."

Terlalu jengah rasanya menyatakan cinta pada orang-orang ini. Mereka akan menertawakan dan bilang saya sok romantis.


Jadi, singkat saja, dalam surat ini, saya cuma mau bilang "Saya cinta Ibu, Bapak dan Etty."

Sabtu, 01 Februari 2014

KAMU YANG (tidak lagi) SAYA BENCI

Tidak ada waktu yang layak dibenci
Karena waktu tidak pernah salah
Bahkan Tuhanpun bersumpah atas nama waktu


Kamu,
Banyak orang yang benci kamu. Katanya saat kamu datang, orang-orang terpaksa melepaskan kesenangan mereka. Saat kamu hadir, mereka serasa ditarik paksa dari surga dan diceburkan ke neraka. Mereka ngomong begitu seolah-olah mereka sudah pernah ke neraka atau ke surga.

Kamu,
Banyak orang yang benci kamu. Mereka bilang, kekejaman dunia dimulai ketika kamu muncul. Terutama mereka yang tinggal di kota besar, sangat membencimu. Katanya, mereka terpaksa menghadapi kekejaman bos mereka gara-gara kamu. Mereka terpaksa menempuh macetnya jalan, busuknya udara dan kerasnya kehidupan ketika kamu datang.

Maaf,
Dulu aku seperti mereka. Membencimu sama besarnya. Mengira semua beban hidup ditumpukan di pundakku tiap kamu menyapa. Segala ketakutan akan tumpukan pekerjaan, amarah bos, tuntutan rilis produk dan ketatnya GMP bercampur aduk, lalu aku limpahkan semua kekesalanku padamu. Seolah-olah itu semua salahmu. Seolah aku tidak bertanggung jawab sama sekali atas segala kesialan itu.

Maaf,
Dulu aku seperti mereka. Tapi sekarang tidak lagi.
Pekerjaanku kini lebih banyak. Deadlinepun sering berubah menjadi deathline. Banyak bos yang menuntut banyak hal. Tapi aku tidak lagi menyalahkanmu. Aku belajar menerimamu. Aku belajar mencintaimu.
Dan seperti kata pepatah, jika kita mencintai sesuatu, ia akan balik mencintai kita sama besarnya. Kini aku rasa, kamu telah jauh lebih ramah padaku.
Hidup tetap berat. Tapi aku menjalaninya bersamamu. Hidup kadang sesak. Tapi aku tetap bernafas pada suatu kamu.

Bukankah semua pekerjaan sama melelahkannya? Kita hanya bisa memilih apakah akan menjalani kelelahan yang menyenangkan atau kelelahan yang menyesakkan.
Aku memilih menjalani kelelahan yang menyenangkan. Itu kenapa aku kini tidak lagi membencimu. Karena bertemu denganmu sama artinya dengan bertemu adik-adik itu. Adik-adik yang aku saksikan perubahannya dari waktu ke waktu. Karena dengan mencintai mereka, aku belajar mencintaimu.

Senin,

Aku tidak lagi membencimu. Aku mencintaimu sebagaimana adanya kamu. Karena hanya dengan melaluimu, aku bisa bertemu mereka. Murid-murid kesayanganku.

NOBITA

Dear Nobita,
Yang menemani saya setiap hari Minggu jam 8 pagi. Sejak saya SD, selama 20 tahun ini.
Sejak saya kelas 1 SD, kamu kelas 5 SD. Sekarang saya sudah selesai kuliah, kamu masih aja kelas 5 SD. Apa masa-masa SD terlalu membahagiakan sehingga kamu nggak rela melepasnya?

Kalau dipikir-pikir, iya juga sih. Mungkin masa SD adalah yang paling menyenangkan.  Dulu kita menganggap dipaksa bangun pagi-pagi untuk mandi dan sekolah adalah suatu penindasan. Waktu itu kita belum sadar, nanti setelah dewasa kita tidak lagi perlu dipaksa bangun pagi, karena semalaman memang nggak tidur karena pekerjaan kantor.
Dulu kita menganggap guru matematika adalah teror sepanjang masa. Waktu itu kita belum sadar bahwa nantinya kita akan bertemu bos yang seperti dementor ... menyerap seluruh kebahagiaan hingga jiwamu hampa #ahseeekkk

Dear Nobita,
Kamu punya banyak kekurangan. Tapi kamu tokoh utama dalam anime Doraemon. Seperti Doraemon, yang katanya robot produk-gagal di masanya, tapi juga jadi tokoh utama bersamamu. Doesnt it mean something?

Bahwa tidak perlu menjadi sempurna untuk menjadi tokoh utama.
Dengan segala kekurangan, setiap kita adalah tokoh utama dalam hidup kita kan? Bahkan meski beberapa kita merendahkan diri sendiri dengan menganggap bahwa kita hanya figuran dalam hidup orang lain. Sesungguhnya Tuhan sudah menjadikan kita tokoh utama, tapi kita yang merendahkan diri. Kita menjalani hidup yang dipilihkan orang lain, sehingga kita merasa hanya sebagai figuran.

Everyone will die. But not everyone ever live.

Dear Nobita,
Dari kamu, saya belajar seberapa besar dampak sepotong cinta.
Karena kecintaan yang besar, kamu berubah. Dari seorang anak cengeng dan pemalas, katanya nantinya kamu akan menjadi ilmuwan. Karena kecintaan yang besar dan rasa kehilangan yang dalam kepada Doraemon yang harus kembali ke abad 22 karena rusak parah, setelah dewasa kamu yang membuat prototype Doraemon. Begitu kata orang-orang.

Bahkan meski penciptamu, Fujiko Fujio, sudah meninggal, tapi karena kecintaan orang-orang yang besar, mereka meneruskan hidupmu. Karena cinta yang besar, saya tetap bisa terus bertemu kamu setiap Minggu, hingga sekarang.

Dear Nobita,
Hidupmu tidak sempurna. Seperti juga hidup semua orang di dunia ini. Tapi begitulah hidup kan? Berharga, sebagai mana adanya.


Terima kasih sudah selalu menemani selama ini. Dan mengingatkan bahwa tidak ada hidup yang layak untuk disesali. Karena seberat apapun hidup, setiap dari kita memiliki Doraemon, sahabat yang selalu membantu, meski tidak dengan kantong ajaibnya.