Luna Lovegood inside. Noda Megumi outside.

Rabu, 12 Maret 2014

LUPA



Tidak banyak yang bisa saya banggakan, terutama saat bersamamu. Rasanya segala tentang saya selalu kurang jika dibandingkan dengan kamu. Mungkin cuma satu kelebihan saya.
Ingatan.
Saya yang paling baik mengingatmu. Saya dapat mengingatmu lebih baik daripada siapapun.
Saya tidak perlu notifikasi FB atau alarm ponsel untuk mengingat tanggal lahirmu. Bahkan saya ingat tanggal lahir seluruh anggota keluargamu. Saya mengingat nomor ponselmu tanpa kesulitan. Saya ingat nomor mobilmu bahkan sejak pertama kali kamu mengantar saya pulang.
Saya ingat golongan darahmu. Dan jadwal donor darah rutinmu. Saya ingat makanan kesukaanmu dan makanan yang membuatmu alergi. Juga jadwal makanmu yang tidak seperti orang normal.
Saya ingat warna kesukaanmu. Dan model sepatu favoritmu.
Saya ingat aroma parfum yang kamu gunakan. Bahkan harganya yang lima kali lipat harga parfum saya.
Saya ingat buku-buku kesukaanmu. Kali ini mungkin juga karena kita menyukai buku-buku yang sama.
Saya mengingat semua lagu kesukaanmu. Meski saya tidak pernah bias menyanyikannya sebaik yang ingin kamu dengar.
Saya mengingat hal-hal detil tentangmu dengan sangat baik. Tidak ada yang bisa melakukannya lebih baik daripada saya.


Tapi sekarang tidak ada lagi yang bisa saya banggakan. Akhir-akhir ini saya melupakan banyak hal. Karena kesibukan, itu alasan klise. Karena kelelahan, meski itu benar, tapi jelas bukan pembenaran.
Saya melupakan janji bertemu beberapa pekan lalu. Saya lupa alamat emailmu saat ingin mengirimkan dokumen yang kamu perlukan. Saya bahkan memakan es duren di hadapanmu, lupa bahwa kamu sering mual dengan aromanya.
Saya melupakan banyak hal. Tentang kamu. Lalu apa lagi yang bisa saya banggakan? Tidak ada lagi yang bisa saya banggakan untuk menjadi seseorang yang layak di sampingmu


"Bagaimana kalau nanti kita makin tua, dan saya melupakan hal-hal tentang kamu?"
"Apa lupa tentang saya sama artinya dengan kamu bosan dengan saya?"
"Kamu tahu saya bukan pembosan."
"Iya, saya tahu. Kamu bahkan tahan menemani saya bekerja, tanpa saya ajak ngobrol, nyaris seharian. Kamu selalu menemukan cara untuk membuat saya nyaman bersama kamu."
Fian mengerjap. Tio tersenyum.
"Bukan ingatan yang menyatukan kita. Tapi rasa nyaman. Dan rasa nyaman bukan diingat oleh pikiran, tapi oleh hati. Kamu yang paling juara membuat saya nyaman."


Tidak ada komentar:

Posting Komentar