Luna Lovegood inside. Noda Megumi outside.

Minggu, 31 Januari 2016

MAKROFAG DAN DRAMA KOREA

Makrofag merupakan salah satu sel yang memiliki peran penting dalam sistem imun/ pertahanan tubuh kita. Sel ini awalnya dinamai makrofag karena ukurannya yang lebih besar daripada sel-sel lain (makros) dan kemampuannya untuk “memakan” (phagein) “benda asing” dalam tubuh, bukan hanya mikroba patogen yang menginvasi tubuh kita, tapi juga termasuk ”sel asing” seperti sel tumor misalnya. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, kemudian diketahui bahwa, tidak seperti saya yang cuma bisa makan melulu, peran makrofag ternyata bukan hanya sekedar makan-memakan saja. Bukan hanya terkait inflamasi dan penyakit infeksi, kini banyak penelitian yang menunjukkan peran makrofag dalam regulasi penyakit-penyakit seperti osteoporosis, aterosklerosis, obesitas dan diabetes, serta fibrosis.
Dari sini rasanya kita harusnya sadar bahwa kebenaran-kebenaran yang kita ketahui pada awalnya, tidak selamanya benar. Seperti halnya dulu orang-orang percaya bahwa bumi ini datar, lalu menertawakan orang-orang yang berpendapat bumi ini bulat, sampai akhirnya terbukti bahwa bumi ini bulat. Kadang kita mungkin juga begitu. Hanya karena merasa pendapat kita benar, lalu kita menyalah-nyalahkan pendapat orang lain yang berbeda dengan kita. Padahal hanya karena kita benar, bukan berarti orang lain salah kan? Hidup kan bukan soal ujian pilihan ganda dimana hanya ada satu pilihan benar. Dalam hidup, kadang adalah lebih dari satu pilihan benar. Itu mengapa hidup lebih sulit daripada SBMPTN, karena kita dihadapkan pada beberapa pilihan yang benar, namun kita tetap harus memilih mana yang lebih sesuai dengan kondisi kita. Lebih jauh, kebenaran yang kita ketahui sekarang mungkin hanya sebagian kecil dari kebenaran yang lebih besar. Seperti halnya kita yang awalnya mengira makrofag hanya bisa “makan-memakan”, ternyata makrofag memiliki peran yang jauh lebih luas daripada itu. Dengan menyadari hal ini rasanya kita akan lebih hati-hati menilai orang lain, dan tidak dengan mudah menyalah-nyalahkan orang lain. Lagipula, menyalah-nyalahkan orang lain nggak membuat orang itu mau mengikuti kebenaran kok. Katanya, menyampaikan kebenaran dengan cara yang salah hanya akan menimbulkan kebencian kepada kebenaran tersebut.

Dari sekian banyak peran makrofag dalam regulasi tubuh kita, kali ini saya cuma akan membahas peran makrofag dalam proses perbaikan jaringan dan fibrosis. Saat sel/ jaringan terluka, tubuh kita memiliki mekanisme untuk menghancurkan penyebab dan akibat luka tersebut, kemudian memperbaiki jaringan yang luka tersebut. Mekanisme ini diketahui kemudian turut melibatkan makrofag. Luka pada sel atau jaringan tubuh bisa disebabkan banyak hal. Merokok, misalnya, bisa melukai sel paru-paru.  Atau alkohol dan kadar lemak tinggi menyebabkan kerusakan pada sel hati (liver). Atau masa lalu yang buruk bisa menyebabkan luka pada hati #halah #nyambungBanget. Kalau dipikir-pikir lagi, kadang kita sendiri yang melukai diri kita sendiri ya?

Berdasarkan beberapa penelitian diketahui ada beberapa fenotip makrofag. Secara garis besar, ada dua fenotipe makrofag: M1 dan M2. Secara sederhana, makrofag M1 berperan dalam proses inflamasi dan makrofag M2 berperan dalam proses perbaikan jaringan. Saat sel/ jaringan rusak/ terluka (dalam, dan tak tahu arah jalan pulang #ngok) maka makrofag M1 ini akan memicu proses inflamasi: pasokan darah meningkat ke area luka, membawa sejumlah besar sel imunitas untuk menghancurkan penyebab luka (misal mikroba) dan membersihkan jaringan (dari debris). Setelah proses menghancurkan, makan-memakan dan membersihkan ini, jaringan yang luka namun telah bersih ini perlu diperbaiki. Di tahap inilah makrofag M2 berperan untuk menghasilkan matriks ekstraselular (ECM), terdiri dari protein-protein pembentuk jaringan, seperti kolagen dan fibronektin. Setelah jaringan berhasil diperbaiki, kelebihan kolagen yang terbentuk akan dihancurkan oleh fenotip makrofag yang lain (akan dijelaskan kemudian) sehingga jaringan kembali ke bantuknya semula. Kalau teman-teman sulit membayangkan kejadian ini, bayangkanlah masa SD kita dulu, saat kita jatuh bermain galasin dan menyebabkan lutut kita terluka. Saat lutut terluka dan berdarah, sel-sel imun akan berdatangan bersama darah tersebut ke tempat luka di lutut kita. Lalu dalam beberapa hari pertama luka di lutut kita akan nampak bernanah. Saat itu, makrofag M1 sedang menghasilkan zat-zat proteolitik untuk menghancurkan infeksi bakteri pada luka kita. Sisa dari bakteri yang hancur tadi itulah yang kita lihat sebagai nanah. Setelah semua bakteri terbunuh, barulah bekas luka itu pelan-pelan tertutup kembali. Saat itu makrofag M2 sedang menghasilkan kolagen, fibronektin dan beberapa protein lain yang dapat memperbaiki struktur jaringan kulit. Pada tahap ini di kulit kita akan muncul bekas luka (sebut saja namanya “koreng”) yang sebenarnya merupakan akumulasi ektraselular matriks di kulit. Namun setelah memasuki fase penyembuhan, kelebihan ECM ini akan dihancurkan sehingga kulit kita mulus kembali.

Kira-kira begitulah yang terjadi dalam tubuh kita. Setiap ada serangan pada sel/ jaringan tubuh kita, sebenarnya tubuh kita memiliki mekanisme untuk memperbaiki dirinya sendiri. Namun, jika luka tersebut terjadi berulang-ulang (misal karena merokok terus menerus, atau makan gorengan terus-terusan, atau mabok-mabokan), mekanisme pertahanan tubuh dan perbaikan diri itu menjadi terganggu. Pada luka akut, terdapat keseimbangan antara pembentukan kolagen (untuk perbaikan diri) dan penghancuran kolagen yang berlebih. Namun jika terjadi luka kronis yang terus-menerus, makrofag akan bekerja terus menerus untuk menghancurkan dan memperbaiki diri, sampai pada suatu tahap dimana terjadi ketidakseimbangan dalam proses pembentukan dan penghancuran kolagen. Makrofag M2 akan terus-terusam memproduksi ECM (kolagen) secara berlebihan. Pernah lihat bekas luka di kulit yang membentuk keloid? Kira-kira seperti itu gambarannya saat terjadi akumulasi ECM di organ. Bayangkan kalau keloid semacam itu terjadi di paru-paru kita, maka akan menutup alveoli dan menyebabkan gangguan fungsi paru-paru. Bayangkan kalau akumulasi ECM tersebut ada di liver kita, maka akan menyebabkan rusaknya fungsi liver. Fase akumulasi ECM di organ inilah yang disebut fibrosis. Pada fase yang lebih parah, fibrosis liver bahkan dapat menyebabkan sirosis atau kanker liver. Jadi sekarang kita jadi paham kan kenapa hati yang disakiti berkali-kali (kronis) bisa jadi kaku kayak kanebo kering?

Belakangan diketahui bahwa terdapat beberapa subtipe makrofag M2: M2a, M2b dan M2c, ditinjau dari faktor pemicu dan produk (jenis sitokin) yang dihasilkan. Satu hal yang sama bisa memicu munculnya fenotipe makrofag yang berbeda jika kondisi lingkungan/ jaringan berbeda. Seperti halnya orang yang sama bisa jadi menunjukkan sikap yang berbeda saat berada di lingkungan yang berbeda (misal kalau di depan gebetan gayanya jadi jaim). Hal ini yang menyebabkan pembagian fenotipe makrofag hanya sebagai M1 dan M2 dirasakan kurang tepat, karena makrofag M1 yang bersifat pro-inflamasi ternyata juga berperan dalam fase penyembuhan (degradasi kolagen yang berlebihan), namun masih memiliki sifat-sifat makrofag M2. Oleh karena itu belakangan dirasa lebih tepat untuk mengenali makrofag berdasarkan sifatnya, yaitu makrofag pro-inflamasi, makrofag pro-fibrosis dan makrofag pro-resolusi.
Maka bukankah begitu harusnya kita mengenali sesama manusia? Bukan hanya dari ras, suku, agama, warna kulit dan status sosial kan? Tapi berdasarkan sifatnya. Setiap orang bisa jadi jahat atau baik, apapun ras, suku, agama, warna kulit dan status sosialnya. Bahkan makrofag M2 yang awalnya berperan baik untuk memperbaiki jaringan, bisa jadi “tokoh antagonis” saat memproduksi kolagen secara berlebihan. Dan sebaliknya makrofag M1 yang menyebabkan inflamasi/ peradangan, pada waktu/ fase yang berbeda bisa menjadi “tokoh protagonis” dengan mendegradasi akumulasi kolagen yang berlebihan pada organ. Maka rasanya perlu disadari bahwa setiap manusia punya sisi baik dan buruk.

Makrofag dalam konteks fibrosis, seperti halnya wanita, sampai saat ini masih sulit dimengerti. Menghambat makrofag pada fase inflamasi terbukti mencegah fibrosis, namun menghambat makrofag pada fase resolusi justru memperparah fibrosis. Di sisi lain, mengaktivasi makrofag pada fase resolusi diduga prospektif untuk menyembuhkan fibrosis. Jadi, untuk menyembuhkan fibrosis, harusnya makrofag dihambat atau diaktivasi?

Kompleksitas yang terjadi pada sistem pertahanan tubuh kita ini rasanya mengingatkan saya pada kompleksitas kehidupan kita sendiri, yang kadang ditampilkan dengan riil pada drama Korea #teuteup. Kalau diperhatikan, pada setiap drama Korea (tidak seperti sinetron Indonesia yang peran protagonisnya seperti orang tolol dan peran antagonisnya bikin setan merasa tersaingi kejahatannya), semua peran di drama Korea memiliki sisi baik dan sisi jahat. Porsinya mungkin tidak sama besar, tapi bahkan kejahatan yang dilakukan oleh si peran antagonis tidak jarang disebabkan oleh alasan yang baik. Sering juga suatu tindakan dianggap baik atau baik tergantung dari sudut pandang kita dalam melihatnya. Misalnya seorang guru yang disiplin bisa dilihat sebagai guru yang galak, tapi bisa juga dilihat sebagai guru yang tegas. See? Galak dan tegas bedanya hanya sejauh cara kita memandangnya kan? Maka percayalah bahwa setiap orang jahat pasti memiliki sisi baik. Dan ingatlah bahwa pada setiap hal buruk yang dilakukan, mungkin ada alasan yang tidak kita mengerti. Atau misalnya kenapa bisa ada anak yang tidak berbakti kepada orangtuanya? Bisa jadi karena standar bakti anak dan orangtua berbeda. Misalnya orangtua berpikir bahwa bakti anak harus direalisasikan dengan memberi uang bulanan yang cukup, sementara gaji anaknya saja nggak cukup untuk memberi makan anak-istrinya, maka tentu di mata orangtua ini si anak adalah anak yang tidak berbakti kan?
Meski begitu, tulisan saya ini bukan menjadi justifikasi untuk membenarkan yang salah. Tentu setiap kesalahan harus dihukum dan diperbaiki (karena kesalahan yang tidak dihukum akan membuat orang lain menganggap itu suatu kebenaran, lalu melakukan kesalahan yang sama), namun beratnya hukuman tentu harus mempertimbangkan hal-hal lain yang mungkin tak kasat mata. Hanya karena masih kecil, bukan berarti murid SD yang mencuri bekal makan siang temannya, lalu ia tidak dihukum. Anak tersebut tetap harus dihukum agar dia tahu bahwa yang dilakukannya salah dan dia tidak mengulangi kesalahannya. Tapi bagaimana cara menghukumnya? Perhatikan dulu mengapa dia harus mencuri bekal makan siang temannya. Jangan-jangan karena dia memang kelaparan dan berasal dari keluarga yang kurang mampu. Jika begini, maka memukul atau mengeluarkannya dari sekolah bukanlah hukuman yang tepat, karena penyebab ia menjadi pencuri bukan karena dia ingin mencuri, tapi karena dia terpaksa mencuri karena lapar. Maka mengatasi kemiskinan keluarga si anak, dengan memberdayakan orangtuanya, mungkin adalah cara yang lebih baik untuk menghukum. Hmmm,, tiba-tiba saya jadi ingat ada kalimat ini “Kefakiran itu dekat dengan kekufuran.”

Begitu juga dalam mengobati suatu penyakit, bukan hanya menghilangkan penyakit yang sudah terjadi, tapi juga harus disertai dengan menghambat penyebab terjadinya penyakit tersebut kan? Maka menyembuhkan hati yang luka juga mungkin begitu caranya ... bukan hanya dengan memulai hubungan baru, tapi juga dengan menghambat ingatan-ingatan menyakitkan di masa lalu. Ah tapi namanya juga manusia (seperti juga orang yang masih merokok dan mabuk-mabukan meski tahu itu bahaya), suka sekali menyakiti diri sendiri, lalu berharap dikasihani dan disembukan oleh orang lain.

Kalau sudah begini, saya tidak lagi bisa mengerti mengapa masih ada orang yang tidak mempercayai Tuhan. Bahkan dengan mempelajari satu sel makrofag saja, saya bisa mempelajari lebih banyak hal. Bukankah kalau mereka mau “membaca” semesta, harusnya mereka sadar bahwa tidak mungkin berkeras hati tidak mengakui keberadaan Tuhan?


Bagi yang ingin mengenal makrofag lebih dalam, silakan membaca artikel ini  http://journal.frontiersin.org/article/10.3389/fmed.2015.00081/full





MENJADI DEWASA

Menjadi tua adalah kepastian. Menjadi dewasa adalah pilihan.

Begitu kata orang bijak. Dan rasanya semua orang tahu tentang kata-kata ini. Tapi saya pribadi sebenarnya nggak 100% setuju dengan kalimat ini. Saya setuju bahwa menjadi tua itu pasti. Tidak ada orang yang dari hari ke hari menjadi lebih muda, setidaknya dari segi usia, kecuali kalau dihitung mundur dari akhir usianya. Tapi apa benar bahwa menjadi dewasa adalah pilihan? Untuk pernyataan yang ini saya nggak sepenuhnya setuju. Menurut saya, kadang menjadi dewasa bukanlah pilihan, melainkan tuntutan/ kewajiban. Kita dituntut untuk menjadi dewasa, atau kita akan dianggap tidak sopan. Kita wajib menjadi dewasa, atau kita dianggap tidak kompeten. Kita harus bersikap dewasa, atau kita akan dilabeli kekanakan. See? Kadang kita memang tidak punya pilihan lain selain terus berusaha menjadi lebih dewasa kan?

Ingat nggak, waktu kita masih kecil dulu, betapa kita ingin segera menjadi orang dewasa. Betapa kita nggak suka kegiatan kita dibatasi karena kita masih anak-anak. Betapa kita dulu ingin segera tumbuh besar, supaya tidak ada lagi yang menganggap kita anak-anak. Supaya tidak ada lagi yang melarang kita pergi kemanapun atau melakukan apapun. Supaya boleh pulang malam. Supaya boleh jalan-jalan ke mall atau nonton ke bioskop. Atau supaya kita boleh pacaran. Lucu ya, dulu kita pernah punya pikiran seperti itu, ingin cepat dewasa untuk alasan-alasan itu.

Tapi yang lebih lucu lagi, setelah kita menjadi orang dewasa (setidaknya ditinjau dari segi usia), kadang kita ingin kembali menjadi anak-anak. Anak-anak yang bebas bermain tanpa harus mikir nyari uang untuk beli mainan. Anak-anak yang masalah terbesarnya hanyalah PR Matematika, bukannya perhitungan kredit rumah di bank. Anak-anak yang sibuk mengumpulkan tazos dari makanan ringan berMSG lalu tiba-tiba berhenti membelinya karena mendengar teori konspirasi bahwa dengan MSG bikin bego, dan bukannya mikirin teori konspirasi tentang harga cabe dan harga BBM. Anak-anak yang berkutat dengan intrik dan trik untuk memenangkan permainan galasin atau game Mario Bross, dan bukannya intrik persaingan antar rekan kerja. Anak-anak yang musuh terbesarnya adalah guru Fisika yang memberi banyak PR, bukan bos yang memerintahkan membangun candi Borobudur dan waduk Jati Luhur dalam semalam.

Lucu bahwa saat kita kecil dulu kita merasa bahwa hal-hal itu adalah masalah besar, dan berpikir seandainya saja kita sudah dewasa maka kita akan bisa menghadapi semua masalah itu dengan lebih mudah. Tapi kenyataannya, jumlah dan beratnya masalah yang datang berbanding lurus dengan usia kita. Seiring bertambahnya usia, permasalahan yang hadir juga makin kompleks. Tapi di sisi lain, bukankah Tuhan sudah berjanji bahwa kekuatan kita akan sebesar masalah yang kita hadapi. Oleh karena itu kita tidak punya pilihan lain selain berusaha untuk berpikir dan bersikap dewasa untuk menghadapi masalah hidup yang makin rumit.

Menjadi dewasa memang berimplikasi pada pengakuan hak dan wewenang yang lebih besar dibanding saat anak-anak. Dengan menjadi dewasa, kita lebih leluasa pergi kemanapun. Setelah dewasa kita bisa memilih pakaian yang sesuai dengan selera kita, bukan baju mini mouse yang cute pilihan Mama. Setelah dewasa dan memiliki penghasilan sendiri, kita bebas membelanjakan uang tersebut sebanyak apapun. Dan setelah dewasa, kita bebas untuk menentukan pilihan dan mengemukakan pendapat.

Namun demikian, teman, hak selalu datang bersamaan dengan kewajiban. Dan wewenang selalu diiringi oleh konsekuensi. Sebesar apa hak kita, sebesar itu pulalah kewajiban yang harus kita jalani. Seperti kata pamannya Peter Parker, si Abang Laba-laba, with great power comes great responsibility.

Saat masih kecil, kita memang terpaksa memakai baju yang dipilihkan Ibu. Jika pakaian kita lucu, kita akan dipuji lucu. Tapi jika pakaian kita aneh, maka Ibu kita yang akan dikritik. Kita tidak akan dikritik tentang itu. Setelah dewasa kita memang jadi lebih bebas memilih pakaian yang ingin kita gunakan, tapi di sisi lain kita harus siap jika gaya berpakaian kita dikritik.

Saat masih kecil memang kita tidak bisa membeli mainan seenaknya. Kita harus merayu-rayu Ayah agar mau membelikan kita mainan. Setelah dewasa dan kita punya uang sendiri untuk membeli game/ barang apapun yang kita inginkan, justru di saat itu kita sadar bahwa keinginan memang tidak selalu bisa dipenuhi. Mungkin kita memang ingin membeli motor sport terbaru yang penampilannya keren dan bikin cewek-cewek minta dibonceng, sayangnya kita sadar bahwa kita lebih membutuhkan uang tersebut untuk membayar cicilan rumah. Ironis memang ketika keinginan terbentur kebutuhan.

Saat masih kecil ketika kita main ke rumah Tante dan mencoba masakan hasil uji coba si Tante, lalu Tante bertanya “Rasanya enak nggak?”, kita bisa saja menjawab “Nggak enak” dengan jujur dan tanpa rasa berdosa. Si Tante mungkin akan kecewa/ sedih, tapi tidak akan membenci kita. Beliau maklum, karena kita masih kecil. Tapi setelah dewasa, jika pacar bertanya “Aku kayaknya tambah gemuk ya?” dan kita menjawab dengan jujur “Iya,” maka dia tidak akan mau mengenal kita lagi seumur hidup. Menjadi dewasa kadang mengharuskan kita untuk bersikap diplomatis, alih-alih jujur.

Saat masih SD, kita langsung mengangkat tangan untuk bertanya pada guru jika tidak mengerti suatu hal. Tapi setelah dewasa, kita merasa orang-orang melihat kita dengan pandangan meremehkan atau menghakimi jika kita tidak mengerti. Akhirnya kita terjebak dengan kebiasaan sok tahu atau terlalu ingin tahu.
Kita jadi ingin tahu banyak hal yang sebenarnya tidak perlu kita ketahui, hanya karena kita takut dianggap nggak update. Lalu kita mulai merusak hidup orang dengan pertanyaan ingin tahu “Kapan lulu?”, “Kerja dimana?”, “Kapan nikah?”, “Suaminya kerja dimana?”, “Kapan hamil?” dan serentetan pertanyaan sejenis.
Didukung dengan kemajuan teknologi informasi dan kemudahan akses informasi yang tak terbatas (dari informasi yang benar hingga yang benar-benar ngaco), kita dengan mudah menyebarkan informasi agar orang tidak berpikir bahwa kita ketinggalan berita. Kadang kita melakukan hal ini tanpa bertanya dulu, atau tanpa menelusuri lebih luas dan lebih dalam. Lalu dengan mudahnya berkomentar tentang hal-hal yang tidak benar-benar kita pahami, misal tentang ibu bekerja dan ibu rumah tangga, tentang ibu yang memberi ASI dan susu formula, tentang melahirkan normal atau caesar. Pada akhirnya kadang kita bukan hanya menyebarkan informasi, tapi tanpa sadar juga menyebarkan kebencian. Kewajiban untuk menjadi dewasa, mungkin kadang membuat kita jadi kekanakan.

Saat TK, kita bertengkar hanya gara-gara teman mengejek tas baru kita jelek. Sekarang setelah kita pikir-pikir lagi saat dewasa, hal tersebut sangat menggelikan kan? Tapi sadarkah kita, bahwa kadang kelakuan kita sebagai manusia dewasa justru lebih menggelikan. Saat TK kita hanya bertengkar sehari, dan keesokan harinya mereka sudah berbaikan lagi. Tapi setelah dewasa kita malah bisa bertengkar dan saling merendahkan selama bertahun-tahun hanya karena preferensi politik yang berbeda.

Saat kecil, kita sering mengeluh bahwa pendapat kita tidak diterima hanya karena kita masih anak-anak. Lalu kita berharap saat dewasa kita memiliki kebebasan berpendapat. Kenyataannya, justru pada saat sudah dewasa kita lebih sulit mengemukakan pendapat. Jangankan salah berpendapat, bahkan jika kita berpendapat yang benarpun tidak selalu bisa diterima. Hal salah yang disampaikan dengan manis kadang lebih mudah diterima daripada kebenaran yang disampaikan dengan cara yang kurang elegan. Di titik ini kita akan belajar, bahwa sebagai manusia dewasa, kita bukan hanya harus bisa mengemukakan pendapat yang benar, tapi juga bagaimana cara mengemukakannya dengan baik. Apalagi di negara timur dimana sopan-santun sangat diagungkan, kritik membangun kadang dianggap sebagai sikap tidak sopan dan mengintimidasi.

Setelah dipikir-pikir, menjadi dewasa tidak begitu menyenangkan, kan adik-adik? Percayalah, masa-masa paling indah memang masa TK dan SD. Jadi jangan pernah nonton tayangan sinetron yang menayangkan ketidakindahan masa sekolah (anak SD berantem, saling ejek, saling iri). Menjadi dewasa sama dengan kehidupan yang penuh kebebasan, sekaligus penuh tanggung jawab. Banyak harapan diletakkan di pundak kita. Harapan untuk menjadi mandiri. Keharusan akan kemampuan kita. Kewajiban akan sopan santun. Tuntutan akan pengetahuan.



Selamat hari lahir, Muhammad Anafi Setiawan.
Tidak perlu buru-buru menjadi dewasa. Juga tidak perlu takut menjadi dewasa. Jadilah dewasa suatu saat nanti, bukan karena orang lain mengharuskan, tapi karena kamu memang mampu menjadi dewasa. Sampai saat itu tiba, nikmati saja masa kanak-kanakmu. Ayo bermain dan belajar! Jadilah anak yang bahagia. Anak-anak yang bahagia akan menjadi orang dewasa yang membahagiakan umat.


Selamat hari lahir, Mas Adhyatmika.
Kamu sudah tidak punya pilihan lain selain menjadi dewasa kan?
Selamat menjadi dewasa yang tetap sebahagia anak-anak. Sulit untuk tidak mendengar pendapat orang, tapi kita juga punya kemampuan untuk mendengar suara hati sendiri.

Selamat menjadi dewasa dan mengambil tanggung jawab yang besar. Bersama tanggung jawab yang besar, Tuhan memberikan kekuatan yang besar, kan?

PENOLAKAN

Saya adalah orang yang selalu percaya bahwa besarnya tanggung jawab yang kita ambil, sebesar itu pulalah kekuatan yang akan diberikan Tuhan kepada kita. Saya juga pernah membaca sebuah kutipan menarik dari Hellen Keller:

I am only one, but I am still one. I can not do everything, but still I can do something. And because I can not do everything, I will not refuse to do something that I can do.

Mungkin itulah mengapa saya jarang mengatakan “tidak” jika diminta melakukan sesuatu.

Sebagai mahasiswa yang baru lulus kuliah dulu, saya tahu bahwa ilmu saya jauh dari cukup untuk menjadi professional di industri farmasi, Oleh karena itu saya bertekad untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya di industri farmasi. Dan menurut saya tidak ada cara yang paling tepat untuk belajar selain dengan terlibat sebanyak mungkin dan mengetahui sedalam mungkin tentang seluk-beluk industri farmasi. Maka dengan alasan itulah, setiap bos saya bertanya “Saya butuh data ini. Kamu bisa mengerjakannya kan?”, saya selalu menjawab “Bisa, Pak”. Dalam hati saya menjawab “Bisa diusahakan dan dipelajari, Pak”. Meski saya belum tentu bisa mengerjakan tugas dari bos, saya tidak pernah menolak melakukan perintahnya. Tidak semua hal yang diminta si Bos bisa saya lakukan, tapi saya selalu berpikir bahwa semua hal bisa dipelajari dan saya pasti bisa melakukannya.

Awalnya saya berpikir bahwa itu adalah salah satu kekuatan saya. Bahwa saya tidak pernah menolak untuk mempelajari hal baru, itu adalah satu hal. Tapi ternyata hal itu juga adalah kelemahan saya yang utama: saya sulit berkata “tidak”. Selain karena alasan ingin menambah pengetahuan/ keterampilan baru, kesulitan saya untuk menolak sebenarnya lebih disebabkan karena saya selalu merasa sungkan/ tidak enak untuk menolak. Tentu saja hal ini terjadi jika pimpinan/ bos saya yang meminta. Tapi lebih jauh, dalam kehidupan sehari-hari saya juga sering sulit menolak permintaan orang lain, terutama jika orang tersebut adalah orang yang dekat dengan saya, orang yang saya hormati, atau orang yang saya sayangi.

Satu tahun di Groningen ini saya belajar banyak tentang penolakan. Bahwa penolakan tidak selalu buruk. Penolakan, meski disampaikan dengan baik sekalipun, memang akan meninggalkan rasa sakit atau kecewa. Itu manusiawi. Tapi bisa jadi menolak lebih baik daripada menerima, jika sejak awal kita sudah tahu bahwa kita tidak bisa memenuhi harapan dari yang meminta bantuan. Beberapa pengalaman saya disini membuktikan bahwa penolakan lebih baik daripada menyia-nyiakan harapan orang, atau lebih buruk, merepotkan orang lain hanya karena kita tidak bisa memenuhi harapan yang ditumpukan pada kita.

Bekerja bersama tiga orang supervisor dan tujuh orang rekan lab dari lima negara yang berbeda juga membuat saya belajar bahwa kita tidak bisa memenuhi keinginan/harapan/ permintaan semua orang. Saya belajar bahwa tidak semua hal bisa saya lakukan sendiri, dan meminta tolong rekan satu tim tidak membuat kita terlihat lemah (asal nggak minta tolong terus-terusan, itu namanya manja). Di sisi lain saya juga belajar bahwa tidak mengapa jika kita menolak membantu eksperimen teman jika kita memang ada eksperimen lain yang prioritasnya lebih tinggi. Asal kita memberikan alasan yang jelas, mereka nggak akan baper (bawa perasaan.red) dan sensitif hanya karena kita tidak bisa membantu eksperimen mereka. Terutama karena dibimbing oleh tiga orang supervisor yang kadang (atau sering) berbeda pendapat, maka saya belajar untuk menentukan sikap: menyetujui saran-saran yang dapat diaplikasikan, sekaligus menolak hal-hal yang saya anggap bisa dilakukan lebih baik dengan cara lain. Untungnya, ketiga supervisor saya ini juga nggak ada yang baper-an kalau saya menolak. Salah satu supervisor saya malah ada yang pernah protes karena saya selalu meng-iya-kan sarannya. Kata beliau, asal saya punya alasan yang baik dan kuat untuk mengatakan “tidak”, saya tidak perlu selalu menjawab “iya”. Alhamdulillah sampai saat ini saya belum mengalami dilemma sinis-sinisan antar seupervisor. Jika saling tidak setuju, mereka akan berdebat di hadapan saya, dan tidak membicarakan satu sama lain kepada saya di saat yang lain sedang tidak ada.

Tapi katanya, kalau kita berusaha melampaui kemampuan kita, maka Tuhan akan menambahkan kemampuan kita, iya kan? Kalau kita hanya mau mengerjakan/ membantu hal-hal yang sudah bisa kita lakukan, kita tidak akan bisa melakukan hal lain kan? Hal ini tentu saja benar. Tapi kemudian saya menyadari bahwa menyadari kelemahan kita sama pentingnya dengan menambah kemampuan kita. Memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa kita lakukan, hanya karena kita merasa sungkan dan tidak enak menolak, kadang hanya akan berujung pada lebih merepotkan orang lain.

Ngomong-ngomong, ini berlaku bukan hanya tentang urusan pekerjaan aja sih. Tentang hubungan juga begitu. Kadang menolak seseorang memang lebih baik daripada memberi harapan palsu. Dan bagi yang ditolak, ketahuilah bahwa untuk menolak diperlukan keberanian yang sama besarnya dengan keberanian untuk meminta. Dan meski penolakan tidak pernah menyenangkan, percayalah bahwa si penolak mungkin juga sama menderitanya dengan yang ditolak.

Hmmm…. Kalau begitu, saat Tuhan menolak permohonan kita, bisa jadi itu demi kebaikan kita juga kan? Karena Ia tahu bahwa permohonan kita tidak baik bagi kita, dan Ia sudah menyiapkan hal lain yang lebih baik bagi kita.





Untuk kerepotan dan kesulitan yang saya sebabkan karena kelemahan saya yang tidak bisa menolak, saya minta maaf.
Juga untuk penolakan, yang meski dilakukan untuk kebaikan bersama, tapi saya tahu bahwa itu mengecewakan ... saya juga minta maaf.



MENCUCI PIRING

Diantara semua pekerjaan rumah tangga yang dijadikan sebagai indikator istri ideal oleh para pria Indonesia, menyeterika pakaian dan mencuci piring adalah dua pekerjaan yang paling menjadi keahlian saya (tentunya selain mengatur keuangan). Well, saya memang nggak pintar memasak beragam makanan, tapi percayalah tidak ada makanan yang saya masak yang tidak enak (soalnya cuma bisa masak nasi dan indomi, hehe). Calon Ibu Mertua, ini cuma bercanda lho ya :p

Nah karena mencuci piring adalah salah satu keahlian saya, maka kali ini saya akan berbagi sedikit cerita tentang mencuci piring:

1.      Meski mencuci piring terlihat sebagai pekerjaan sederhana, percayalah bahwa mencuci piring adalah bagian penting dalam rangkaian drama dapur. Kamu nggak bisa mulai masak kalau semua panci, wajan dan alat memasaknya kotor (kecuali kamu cukup kaya raya untuk membeli alat masak baru tiap akan masak). Jadi jangan pernah meremehkan pekerjaan sederhana seperti mencuci piring. Dan oleh sebab itu, tetap dibutuhkan perencanaan yang baik dan pemikiran yang visioner saat akan mencuci piring.
Hal yang pertama harus dilakukan jika akan mencuci piring adalah mengidentifikasi apa saja yang perlu dicuci: alat makan, alat masak, gelas, sendok? Carilah semua piring, sendok, gelas kotor ini di seluruh rumah sebelum mulai mencuci. Prediksilah dan carilah seluruh alat makan dan alat masak yang akan kita perlukan, yang harus dalam keadaan bersih saat kita membutuhkannya. Hal ini ditujukan agar proses mencuci piring berjalan efektif dan efisien, tidak perlu bolak-balik mencari piring kotor di tengah-tengah proses mencuci yang khidmat. Untuk melakukan tahap ini dengan lebih cepat, kita bisa meminta bantuan orang lain. Misalnya, kadang saya minta tolong pada Najwa, “Kak, tolong cariin piring atau gelas kotor yang perlu dicuci dong. Tante Nia mau nyuci piring nih.”
Dalam hidup juga begitu. Sedini mungkin, cobalah identifikasi tujuan hidup kita. Hal –hal apa saja yang perlu kita capai dalam hidup. Semakin dini kita menyadari hal-hal apa saja yang penting dalam hidup kita, semakin cepat kita menentukan jalan mana yang akan kita pilih. Dalam tahap ini, seperti juga saya meminta bantuan Najwa untuk mencari piring-piring kotor, seperti itu juga kita bisa meminta bantuan orang-orang di sekitar kita untuk mengidentifikasi hal penting tersebut. Dengarlah pendapat orang-orang, tapi jangan hanya terbawa arus dan mengikuti orang-orang.

2.      Identifikasi alat masak/ alat makan mana saja yang perlu mendapat perlakuan khusus. Misal, ada alat masak yang berlemak, sehingga harus direndam dulu dalam air panas. Tiap alat makan dan alat masak memerlukan perlakuan yang berbeda. Ada yang harus digosok sekuat tenaga, ada yang harus lemah lembut karena akan menggoresnya.
Bagi seorang guru seperti saya, pelajaran moral yang dapat diambil dari mencuci piring ini adalah bahwa tiap murid istimewa dalam caranya masing-masing. Oleh karena itu, menghadapi tiap muridpun tidak bisa disama-ratakan. Ada yang jika diperlakukan lemah lembut maka tidak akan termotivasi untuk berkembang. Ada yang jika diperlakukan ramah, malah akan tidak tahu diri dan ngelunjak. Ada juga yang jika diperlakukan tegas malah akan ketakutan dan takut berinisiatif. Sayangnya, sebagai guru, sampai saat ini saya masih terus belajar untuk mengenali dengan baik setiap murid saya sehingga bisa memperlakukan masing-masing dengan tepat. Saya tahu saya belum jadi guru yang baik, tapi saya pasti akan belajar menjadi lebih baik.
Begitu juga dalam hidup. Tiap permasalahan yang hadir perlu disikapi dengan sikap yang berbeda, tergantung dari sifatnya. Masalah kecil tidak perlu diperbesar, dan masalah besar jangan disepelekan. Di situlah pentingnya belajar mengenali/ mengidentifikasi tiap-tiap permasalahan dengan tepat.

3.      Persiapkan rak piring yang bersih untuk menampung piring-piring bersih yang sudah dicuci.
Ini sih sebenarnya perasaan pribadi aja. Saya rasanya males banget nyuci piring kalau di rak cuci piring penuh dengan alat masak/ alat makan, meski semua peralatan tersebut dalam keadaan bersih. Mungkin karena saya termasuk orang yang memegang prinsip “Kita tidak bisa memulai sesuatu yang baru, kalau belum selesai dengan yang lama”. Maka penting untuk mengosongkan rak cuci piring. Alat masak & alat makan yang sudah bersih, bisa dimasukkan dengan rapi ke dalam lemari piring bersih. Dengan demikian, kita bisa memulai mencuci piring dengan bahagia karena kita tidak lagi dipusingkan dengan “dimana kita akan meletakkan piring bersih yang sudah dicuci ini?”
Otak dan hati kita cuma satu. Jangan dipenuhi dengan hal-hal yang sudah bisa disimpan di tempat lain. Karena masih banyak hal-hal baru yang perlu kita pikirkan dan kita rasakan.

4.      Mulailah dari yang paling mudah.
Mulailah dari alat makan yang cenderung lebih bersih, misal gelas. Pilihlah alat-alat yang tidak berlemak dahulu. Hal ini membuat ritual mencuci piringmu menjadi lebih bahagia, karena kamu tidak memulainya dengan pikiran yang tertekan ketika melihat alat masak dan alat makan yang bertumpuk.
Hidup juga begitu. Masalah kadang datang bertubi-tubi. Tapi seperti prinsip hidup saya, pikirkan satu-satu, selesaikan satu-satu. Satu orang tidak bisa menampung semua hal tanpa pernah melepaskan. Suatu saat dia akan merasa penuh dan muak.

5.      Nikmati waktu mencuci piringmu.
Cucian piring bisa saja bertumpuk. Masalah bisa saja bertumpuk. Tapi kalau kamu menjalaninya dengan bahagia, waktu tidak terasa berlalu, dan piring kotor akan lenyap semua. Tapi bukan berarti piring kotornya dipecahin semua ya, hehe.
Ada dua cara yang selalu saya gunakan supaya saya bisa mencuci piring dengan bahagia. Pertama, menonton drama Korea atau karaokean lagu Korea. Apalagi kalau aktornya ganteng atau masiknya bisa buat ajep-ajep, nyuci piringnya bisa makin semangat. Haha. Kedua, curhat. Entah kenapa wastafel cuci piring selalu menjadi magnet yang kuat untuk curhat. Untuk hal yang satu ini, Kak Fean dan Mbak Rosel selalu terjebak sebagai korban yang terpaksa mendengar curhatan saya. Kenapa mas Didik nggak pernag jadi tempat curhat saya? Karena kalau saya curhat pada mas Didik, saya malah akan dibully :p

6.      Yang terakhir, yang sederhana tapi tak kalah penting. Jangan lupa, pakai sabun cuci piring, bukan sabun cuci muka. Terutama, jangan cuci muka pakai sabun cuci piring.

Sekian dan terima gaji.