Luna Lovegood inside. Noda Megumi outside.

Selasa, 30 Juli 2013

BOSAN

"Aku ingin bersamamu. Selamanya."
"Selamanya adalah waktu yang lama."


Apa yang kau lakukan dua puluh atau tiga puluh tahun mendatang, atau mungkin lebih, bersama orang itu? Satu orang yang sama yang akan selalu kamu temui setiap hari. Yang kau lihat wajahnya pertama kali saat bangun tidur? Yang kau lihat lagi terakhir kali saat kau akan rebah?


"Apa yang akan kau lakukan dengannya setiap hari?"
"Kami paling suka berjalan-jalan. Kami suka wisata kuliner. Kami juga suka nonton."
"Hobi yang asik."
"Tentu saja."
"Lalu apa lagi yang biasa kalian lakukan setiap hari?"
"Dia biasa membangunkanku dengan Ping! di BBM ku. Aku balas mengingatkannya untuk makan siang. Dia menanyakan apakah aku sampai kantor dengan selamat. Aku balas mengingatkannya untuk pulang jika sudah terlalu malam."
"Sounds romantic."
"Yeah."
"Apalagi?"
"Aku suka membaca buku. Dia suka mengoleksi buku. Dia biasa membeli untuk kemudian diberikan padaku, menyuruhku membaca dan menceritakan isi buku itu padanya."
"Rasanya itu yang dimaksud saling melengkapi."
"I think so."
"Apa saja yang biasa kalian obrolkan?"
"Terutama pekerjaan. Kami bekerja di bidang yang sama, kau tahu? Kami biasa membicarakan masalah pekerjaan kami."
"Apa kalian tidak pernah kehabisan topik pembicaraan?"
"Sampai saat ini belum."
"Kalau nanti kalian tidak bisa lagi berjalan-jalan dan berwisata kuliner, bukankah hidup jadi membosankan?"
"..."
"Kalau pekerjaan sedang berjalan lancar, apa kalian tidak kehilangan bahan untuk diobrolkan? Apa kamu tidak pernah kebingungan mencari topik obrolan saat kalian bersama?"
"..."
"Kalau membangunkan pagi dan mengingatkan makan sudah menjadi rutinitas, apa kamu tidak merasa itu sekedar basa-basi?"
"..."
"Apa kamu tidak akan bosan?"
"Kurasa tidak. Aku bukan pembosan yang mudah berubah-ubah."
"Lalu, apa dia juga tidak akan bosan?"
"... aku tidak yakin."


Pernah suatu ketika aku berteman dengan seseorang. Bukan, ini bukan jenis hubungan romantis. Kami cuma berteman. Toh kami memang tidak boleh punya hubungan romantis ditinjau dari semua hal yang mungkin dipikirkan manusia: ras, agama, usia, gender.
Kami sama-sama memulai dari bawah, dari kekurangan masing-masing. Lalu kami saling menguatkan dan menyemangati. Aku rasa itu landasan yang cukup kuat untuk sebuah hubungan pertemanan.
Kami teratur berkirim pesan. Bahkan kepada ibuku saja aku tidak melapor sedang makan siang dimana dan makan apa. Lalu tanpa diminta, dia mulai sering membicarakan pekerjaan dan hobinya kepadaku. Tentang masalah pekerjaan dan teman-temannya.
Aku baru mengira kami bisa mencapai level berikutnya, persahabatan, ketika kemudian tidak ada lagi masalah besar yang dia hadapi di pekerjaannya. Tidak ada lagi bagian dari hobi dan teman-temannya yang belum diceritakan padaku. Tidak ada lagi permasalahan dunia yang cukup menarik untuk dipusingkan bersama. Tidak ada lagi film bagus untuk kami tonton dan obrolkan. Tidak ada lagi makanan baru yang perlu kami cicipi bersama.
Dia masih mengirim pesan tiga kali sehari. Tapi kalimatnya nyaris sama setiap kali. Seperti template message basa-basi. Lalu lama kelamaan frekuensinya berkurang. Lalu sama sekali tiada, pada akhirnya.
Aku pikir kemiripan sifat, hobi dan pekerjaan adalah landasan yang cukup kuat untuk sebuah hubungan pertemanan. Tapi ternyata tidak. Apa karena aku mulai bosan padanya? Tidak. Aku masih menunggu pesan BBMnya. Aku masih menunggu ucapan selamat pagi dan selamat tidur darinya, meski aku tidak pernah memulainya jika ia tidak memulainya lebih dulu. Kurasa justru dia yang bosan. Mungkin karena aku memang jenis makhluk yang membosankan.
Tidak bisa dipungkiri, kebosanan dapat hadir pada segala kesempatan. Termasuk dalam sebuah hubungan. Dan tiap orang punya batas bosan tertentu. Tapi rasanya lebih menyakitkan saat dia sudah mencapai batas bosannya lebih cepat daripada batas bosanmu.


"Nanti kamu pasti bosan denganku."
"Apa itu cara lain mengatakan kamu bosan denganku?"
"Aku tidak akan pernah bosan denganmu. Kamu selalu menyenangkan. Kamulah yang aku khawatirkan. Aku orang yang membosankan. Kamu akan lebih dulu bosan denganku sebelum aku bosan denganmu."
"Kalau aku mulai bosan denganmu, apa kamu tidak berusaha membuatku tertarik lagi?"
"Bagaimana caranya?"
"Kalau aku mulai jarang SMS, kamu bisa SMS aku lebih dulu. Kalau aku mulai jarang mengajakmu nonton, kamu bisa mengajakku nonton. Kalau tidak banyak hal yang bisa aku bicarakan, kamu bisa menceritakan tentang dirimu."
"Kamu tahu bahwa aku bukan jenis orang seperti itu. Itu mengapa aku bilang bahwa aku jenis orang yang membosankan. Itu kenapa tidak banyak yang tahan berteman denganku. Karena aku membosankan dan tidak perhatian."
"Jangan memandang rendah diri sendiri. Aku tidak merasa kau membosankan."
"Itu karena kamu selalu datang padaku dengan segudang cerita. Dan aku pendengar yang baik. Itu mengapa kamu belum bosan denganku. Bayangkan kalau suatu hari nanti hidupmu mulus dan lancar. Apalagi gunanya aku yang hanya seorang pendengar? Kamu akan kelelahan hanya untuk mencari topik pembicaraan denganku. Kamu akan kelelahan, dan akhirnya bosan."
"Apa kita tidak bisa bersama dalam diam?"
"Aku bisa. Kamu?"
"Kamu pikir aku tidak bisa?"
"Bukankah kamu memang tidak pernah bisa diam? Bersamaku, ketika semua topik pembicaraan sudah selesai dibahas, semua film sudah ditonton, semua makanan sudah kita coba, apa yang akan kita lakukan? Apa yang akan kamu lakukan? Duduk diam di sampingku?"
"Iya."
"Kamu akan mati kebosanan."
"Tidak, jika bersamamu."
"Hal yang kamu katakan sekarang saat kamu belum merasakan sendiri kebosanan itu."
"Bukankah kita bisa melakukan banyak hal bersama selagi kita diam?"
"Menurutmu begitu?"
"Mau mencoba?"


Dia mengabaikanku. Selama satu jam dia tidak bicara padaku. Dia cuma duduk di sebelahku, membuka laptopnya, memasang earphonenya, mengerjakan entah apa. Aku tidak tahu apa maksudnya.
Aku akhirnya beranjak. Tidak tahan dengan ketidakacuhannya dan kebungkamannya. Untuk apa dia berada di sampingku kalau hanya untuk mengabaikan aku? Banyak hal lain yang bisa kulakukan selain menunggunya bicara.
Aku beranjak. Saat itu akhirnya ia bicara.
"Jangan pergi," katanya.
Seringkali seseorang baru bertindak saat dihadapkan pada kemungkinan untuk kehilangan.



“Kenapa pergi?”
“Karena kamu mengabaikanku.”
“Aku tidak mengabaikanmu. Aku cuma diam.”
“Jadi untuk apa kita di sini kalau hanya untuk saling diam?”
“Aku pikir kita sedang menikmati kebersamaan dalam diam?”
“Lebih tepatnya, kamu yang sendirian menikmati.”
“Apa kamu bosan menemaniku?”
“Kau pikir siapa yang tidak bosan duduk tanpa melakukan apa-apa, hanya melihatmu sibuk sendiri?”



Dia tersenyum.
“Lihat?” katanya, “Katanya kau tidak akan bosan denganku? Tapi ternyata, baru saja satu jam kau sudah bosan. Kau yang lebih dulu bosan, sebelum aku.”
“Apa maksudnya itu?”
Dia menggenggam tangaku dan menatap lurus ke hamparan rumput hijau di hadapan. Matahari sudah berada di langit barat, sebagian tertutup awan berarak. Tidak mendung, tidak pula terik. Angin menggoyang pohon randu, membuat jalanan kotor dengan kapas-kapas mentah.
“Komunikasi adalah hal yang penting dalam sebuah hubungan,” katanya, “... tapi komunikasi tidak melulu berarti saling berkata-kata.”
Aku menatap ke samping. Mendapati bibirnya, yang dibingkai rahang kuat dengan banyak rambut halus di belakang tulang pipinya, melengkung. Senyumnya mencapai matanya yang berbinar.
“Kalau nanti tidak ditemukan lagi varian eskrim dan kopi baru, apa kita tidak akan berwisata kuliner lagi? Kalau nanti sudah tidak ada masalah yang perlu kita obrolkan, apa itu berarti kita berhenti berkomunikasi? Kalau nanti hidup menjadi sangat lurus, apa kita tidak bisa belok ke pantai, atau ke hutan? Kalau nanti kita hidup bersama, apa masih perlu aku telepon kamu sepuluh kali sehari?”
Aku terdiam. Memahami maksudnya dan menjadi malu sendiri.
“Banyak hal yang bisa kita lakukan bersama selagi kita tidak berkata-kata,” ujarnya lagi. “Kamu bisa memasak selagi aku berkebun, misalnya. Kamu bisa menyuapi si bungsu selagi aku mengajari si sulung membaca. Aku bisa mengerjakan pekerjaan kantorku selagi kamu menonton serial tivi kesukaanmu. Dan saat kamu asik makan, aku bisa memotretmu. Kurasa itu bukan ide buruk untuk menghabiskan hidup bersama?”
Kurasa juga begitu. Tapi aku tidak menjawab.
“Kita tidak mungkin tidak akan menjadi bosan satu sama lain. Bertemu denganmu setiap hari seperti ini saja kadang membuatku bosan, apalagi kalau hidup bersamamu sampai tiga puluh tahun lagi.”
Aku merengut. Dia tertawa.
“Tapi, memangnya kenapa kalau kita merasa bosan? Rasa bosan kadang lebih baik daripada kehilangan rasa nyaman saat kamu tidak ada.”
Dia memasangkan salah satu earphonenya di telinga kiriku.
“Lihat apa yang bisa aku lakukan selagi kita tidak bicara tadi,” katanya sambil menunjukkan laptopnya. “Banyak hal yang bisa kita lakukan bersama, sambil berbincang atau dalam diam. Jangan takut bosan. Tetaplah di sampingku.”
Dia memutarkan lagu-lagu yang tadi dipilihnya. Katanya ia ingin lagu-lagu itu diputar di pesta pernikahan kami. Dia juga memperlihatkan rancangan dekorasi ruang resepsi dan makanan-makanan yang tadi dipilihnya.
“Saatnya melakukan hobi kita, Cinta,” dia melirikku sambil tersenyum nakal, “... mencicipi makanan.”
Angin bertiup, menggoyang pohon randu, membuat jalanan kotor dengan kapas-kapas. Serupa sakura yang berguguran ditiup angin musim semi. Serupa salju yang jatuh di atas kepala.
Dia membersihkan kapas-kapas yang tersangkut di rambutku.






"Aku ingin bersamamu. Selamanya."
"Selamanya adalah waktu yang lama."

"Aku rasa itu tidak terlalu lama untuk dihabiskan bersamamu."

Kamis, 25 Juli 2013

BAKPAO


“Dia nerima lamaran gue, Va.”
Haiva diam. Terpukul.
“Kasih selamat dong buat kakak lo ini.”
“Selamat ya Kang.”
Kang, begitu panggilan Haiva kepada laki-laki bernama Arya itu. Mereka memang sudah berteman sangat akrab, seperti adik-kakak. Itu mengapa ia memanggil lelaki itu Akang. Ironisnya, hanya Arya yang menganggap Haiva sebagai adik. Haiva sendiri selalu mencintai lelaki itu, sejak awal.
Beruntung Arya mengatakan berita itu lewat telepon. Haiva tidak perlu berpura-pura tersenyum selagi ia sama sekali tidak ingin tersenyum.
“Makasih ya Va.”
Haiva tidak menjawab.
“Sekarang gue harus menyiapkan strategi berikutnya untuk bilang ke Ibu gue dan orang tuanya.”
“Hmm.”
“Doain supaya lancar ya. Nanti pasti gue undang.”
“Iya.”
Tiba-tiba Haiva sadar, pipinya sudah basah. Ia harus segera memutus pembicaraan telepon itu.
“Eh, aku dipanggil bos nih Kang,” Haiva buru-buru memutus. “Udah dulu ya.”
“Oke deh. Met kerja lagi ya Va.”
“Daaah.”
Tanpa menunggu balasan Arya, Haiva sudah mematikan ponselnya.
Beruntung saat itu sudah lepas jam kerja. Tidak ada siapapun di ruang kerjanya. Mas Bram sudah pulang sejak jam 5 sore tadi. Kalau tidak, Haiva akan sangat kesulitan menutupi kesedihannya. Ia sudah jatuh.





Sebenarnya sudah sewajarnya pada waktu semalam itu semua orang di factory sudah pulang. Haris memang terbiasa pulang paling akhir. Ia tidak suka melakukan pekerjaan di rumah, jadi ia terbiasa menyelesaikan semua pekerjaan di kantor sebelum pulang ke rumah. Toh pulang jam berapapun tidak ada yang menunggunya di rumah selain kura-kura peliharaannya. Ia tidak merasa keberatan selalu menjadi yang paling akhir pulang. Lagipula sebagai seorang pemimpin, sudah seharusnya ia datang lebih pagi daripada anak buahnya dan pulang lebih akhir setelah semua anak buahnya pulang. Karena itulah ketika melewati ruang QA, Haris agak terkejut karena ruangan itu masih terang-benderang. Entah karena masih ada orang di sana atau karena yang paling akhir pulang lupa mematikan lampu.
Haris memutar langkahnya. Mengurungkan niatnya untuk pulang, ia berbalik ke ruangan QA. Ia mencoba membuka pintunya dan ternyata memang tidak dikunci. Tapi ketika pintu terbuka, tidak ada siapapun di ruangan itu.
Bram dan Haiva harus dimarahi besok karena pulang tanpa mengunci pintu dan mematikan lampu, pikir Haris dalam hati.
Tapi kemudian ia mendengar suara pelan, seperti suara tangis. Bulu kuduknya berdiri. Ruangan itu kosong, mengapa ada suara seperti itu? Desas-desus tentang hantu yang paling sering beredar adalah penampakan di gowning room production. Jadi harusnya tidak di ruangan ini kan?
Perasaan Haris makin tidak enak ketika ia melihat sepotong tangan terjulur dari bawah meja kerja Haiva. Haris baru saja hendak bergegas kabur ketika akal sehat menguasainya. Memberanikan diri, ia masuk ke ruangan itu dan perlahan mengintip ke bawah meja kerja Haiva.




“Ya ampun Iva!” Haris membentak dengan keras. Membuat Haiva kaget. Tangisnya segera terhenti. “Kamu seperti setan saja! Bikin saya jantungan. Ngapain sembunyi di bawah kolong meja begini? Saya kira setan. Dan itu apa tadi? Kamu nangis? Suaranya seperti kuntilanak sedang menangis!”
Haris memarahi Haiva dengan suara keras. Dia kesal karena anak ini sudah membuatnya ketakutan hingga hampir mati.
Haiva serta-merta diam. Berhenti menangis. Ia kaget dibentak seperti itu. Sudah sering ia dimarahi atau ditegur Haris. Tapi Haris selalu menggunakan suara yang pelan dan tajam alih-alih bentakan dengan suara keras seperti yang barusan dilakukannya. Ini pertama kalinya Haiva mendengar bos besarnya itu membentaknya dengan suara keras.
Belum cukup rasanya ia mendengar pria yang dicintainya akan menikahi perempuan lain, yang ironisnya adalah temannya juga. Ternyata nasib sialnya hari ini masih harus ditambah dengan amarah bosnya. Terima kasih Tuhan.
Meski anak itu duduk di kolong meja seperti itu, penerangan ruangan masih cukup untuk membuat Haris melihat keanehan pada wajah Haiva. Matanya sembab dan wajahnya basah. Hal itu membuat wajah Haris melunak. Mata Haiva yang berkaca-kaca itu membuat Haris jadi gugup dan merasa bersalah karena membentak gadis itu.
“Iva nangis ya?” Haris bertanya hati-hati.
Haiva buru-buru mengeringkan pipinya.
“HP saya jatuh, Pak. Pas mau ngambil, kepala saya kejedot. Sakit banget.”
Haiva menggoyang-goyangkan ponselnya di depan Haris dan berupaya memasang wajah lucunya. Meski begitu Haris tidak percaya. Tapi demi menghargai usaha Haiva untuk menutupi tangisannya, Haris berpura-pura percaya.
“Ayo berdiri!”
Sedikit terhuyung, Haiva merangkak keluar dari kolong meja dan bangkit berdiri. Lalu dengan wajah riang, ia bertanya pada bosnya: “Bapak kok belum pulang?”
“Saya memang biasa pulang jam segini. Seharusnya saya yang tanya, kenapa kamu belum pulang?”
Gugup karena malah diintrogasi, Haiva berlagak sok sibuk mematikan laptopnya.
“Er... tadi ada yang harus saya kerjakan, Pak.”
Mengerjakan apa? Menangis di kolong meja?, Haris nyaris mengatakannya. Tapi ia menahannya karena merasa tidak bijak meledek gadis yang suara tangisnya seperti kuntilanak ini. Haris merasa tidak akan tahan mendengar suara tangisnya lagi.
“Sekarang sudah selesai kerjaannya? Sudah mau pulang?”
“Hmmm.” Haiva bergumam dan mengangguk.
“Apa Iva buru-buru pulang?”
“Eh?”
“Saya belum makan malam. Iva juga belum kan?”
Haiva melirik bingung.
“Iva mau temani saya makan?” tanya Haris kemudian.



“Iva mau pesan apa?”
Haris membuka-buka menu makanan di resto seafood itu dan dengan bersemangat bergumam ingin memesan ini dan itu. Haiva menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Dia sedang berusaha menemukan makanan yang dapat dimakannya dari daftar menu itu. Tapi belum lagi Iva menemukan yang dicarinya, Haris sudah memanggil waitress restoran itu.
“Kepiting saos padang. Cumi goreng tepung. Cah kangkung...” Haris menyebutkan pesanannya dengan bersemangat. Lalu ia menoleh pada Haiva. “Iva?”
“Tumis buncis ...”
Sang waitress mencatat pesanan Haiva. Lama ia menunggu, tapi gadis itu tidak menyebutkan pesanannya yang lain. Haris memandang Haiva dengan mendesak.
“Apa lagi? Masa pesan itu aja? Disini ada udang mayonaise, kerang rebus.”
Haiva balas memandang bosnya dengan tatapan meminta maaf. “Saya sebenarnya alergi seafood, Pak.”
“Hah!” desah Haris, separuh kaget dan separuh kesal, “Kenapa Iva baru bilang? Kalau gitu kita ...”
“Saya makan itu aja, Pak,” kata Iva buru-buru. Ia khawatir bosnya akan mulai memarahinya lagi.
“Apa kita makan di tempat lain?”
Sang waitress tampak tidak rela kehilangan calon pelanggannya. Ia segera memotong percakapan kedua tamunya itu.
“Kami punya gurame. Ikan air tawar, Mbak,” kata waitress itu, menawarkan kepada Haiva.
“Kalau gitu, kami pesan itu,” kata Haris cepat.
Sang waitress tersenyum. “Guramenya bumbu apa? Dibakar? Lada hitam? Atau ...” tanyanya kemudian.
Haiva menatap Haris. Tidak tahu harus memilih yang mana.
“Kepiting saos padang disini enak banget,” Haris menjawab tatapan Haiva. Ia lalu menoleh pada waitress. “ Apa bisa guramenya pakai saos padang?”
Sang waitress mengangguk. “Bisa, Pak.”
Ia kemudian mengkonfirmasi pesanan kedua tamunya sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.
“Harusnya Iva bilang kalau nggak bisa makan seafood. Untung disini ada gurame.”
“Iya, maaf Pak. Saya nggak tahu bahwa kita mau makan disini.”
“Hmmm. Iya sih, saya juga nggak bilang ya?”
Haiva memerhatikan berkeliling. Hampir semua meja penuh. Hampir semua kursi diduduki oleh pria berkemeja rapi dan perempuan berpakaian modis, seperti para eksekutif muda. Mereka semua tampak seperti orang-orang yang baru pulang kerja. Lagipula restoran ini berdiri di daerah perkantoran elit. Tampaknya ia sedang makan di restoran seafood yang terkenal dan mahal. Well, it looks fit with the boss anyway.
Semua orang tampak sedang menikmati makanan di piringnya masing-masing dengan bersemangat. Tidak ada satupun yang tidak menikmati makanannya. Dilihat dari makanan-makanan yang tersaji di tiap piring di semua meja, mereka memang tampak menggiurkan. Tidak heran jika bosnya mengajak ke sana.
Eh? Oh, mungkin hanya sepasang muda-mudi yang berada di meja sebelah yang tidak tampak sedang menikmati makanannya. Laki-laki tampan dan perempuan cantik itu keduanya berwajah keras. Mereka mengacuhkan sepiring kerang dengan kuah yang tampak pedas dan seekor gurame besar yang bertabur potongan mangga di hadapan mereka. Mengacuhkan makanan-makanan yang tampak menggiurkan itu, mereka pasti sedang membicarakan masalah yang serius. Haiva tidak sengaja mencuri dengar pembicaraan kedua orang di meja sebelah.
“Kenapa?” Si gadis bertanya pada pemuda di hadapannya.
“Kita udah nggak cocok lagi,” kata si pemuda dengan wajah kaku. Pemuda itu tampak tidak peduli pada wajah nelangsa gadis di hadapannya. Haiva menduga gadis itu sebentar lagi akan mulai menangis.
Tapi ternyata tidak. “Jangan bercanda!” Gadis itu malah tersenyum mencemooh, “Nggak cocok lagi adalah alasan basi. Kamu ... apa ada perempuan lain?”
Cih!, gumam Haiva dalam hati, kasus perselingkuhan. Nggak heran, cowok ini punya wajah yang tampan. Pasti banyak gadis yang menyukainya.
“Sorry. Kita putus.” Haiva mendengar si pemuda menjawab tanpa basa-basi.
Si gadis mendelik. “Apa?! Putus?!” Gadis itu mendesis dengan marah. “Kamu yang selingkuh, kenapa kamu yang mutusin aku? Hah?!”
Si pemuda tampak agak syok.
“Kita putus! I’m tho one who dump you, jerk!”
Si gadis, meski dengan mata berkaca-kaca, memutuskan pacarnya dengan sangat tegas. Ia menenggak es jeruknya dalam segali teguk. Dan selagi si pemuda masih tampak syok, gadis itu berkata: “Lo yang bayar!”
Lalu gadis itu pergi.
Sebelum gadis itu membuka pintu restoran dan keluar, Haiva melihatnya menghapus air mata. Tidak ada gadis yang tidak sedih diselingkuhi, tapi toh gadis itu menghadapinya dengan gaya yang keren. Haiva tersenyum diam-diam, mengagumi ketegaran gadis itu. Ia berharap bisa setegar gadis itu menghadapi perasaan patah hatinya.
It’s like today is not good day for relationship,” Haiva bergumam muram.
Haris melirik ke arah yang sama dengan tatapan gadis di hadapannya. “Apa?”
Haiva tersenyum. “Nggak apa-apa, Pak.”
Haris bukan tidak mendengar gumaman pelan Haiva barusan. Dia juga jelas-jelas melihat Haiva memperhatikan pasangan di sebelah mereka. Ditambah lagi, dari sikap Haiva sesorean ini, Haris menduga bahwa gadis ini baru saja putus dengan pacarnya. Itu mengapa si kelinci yang biasanya suka meloncat-loncat ini terlihat lesu sore ini. Itu mengapa gadis itu menangis saat ia tadi memergokinya. Tapi kalau Haiva tidak berniat memberitahunya, bukankah dia tidak berhak memaksa?
“Orang-orang datang dan pergi dalam hidup.”
Haiva mendengar Haris bergumam. Dia tidak yakin apakah Haris sedang bicara padanya atau hanya bergumam sendiri. Haiva menoleh dan memperhatikan bosnya.
“Setiap hari, orang-orang datang dan pergi dalam hidup kita,” Haris mengulang. Kali ini sambil menatap langsung ke mata Haiva. Haiva merasa si bos sedang bicara padanya. “Tidak perlu terlalu bergantung pada satu orang. Toh dia akan pergi juga.”
Haiva curiga, jangan-jangan si bos sedang menyindirnya. Tapi sebelum Haiva membuka mulut, seorang waitress mengantarkan pesanan mereka. Berpiring-piring makanan tersaji di meja mereka dalam beberapa menit saja.
“Makan yang banyak, Iva.”
Haris tersenyum lebar. Haiva menganggapnya sebagai perintah. Ia mengangguk dan mendekatkan piring berisi seekor gurame besar yang disiram kuah merah ke arahnya. Ia melirik sesaat ke meja sebelah. Gurame bertabur potongan mangga masih utuh tersaji. Piringnya bahkan belum tersentuh. Si pemuda sudah pergi meninggalkan makanan-makanan itu tersia-sia.
“Sayang banget, kenapa mereka harus putus sebelum makan malam dimulai,” kata Haiva pada Haris sambil mengerling meja sebelah, “Makanan yang sudah mereka pesan jadi tersia-sia kan?”
Haris tertawa. “Jangan memperhatikan hal-hal lain. Perhatikan yang ada di depan mata.” Haris mengendikkan kepala pada piring berisi gurame saos padang di hadapan Haiva. “Kalau Iva berhasil menghabiskannya, saya belikan gurame saos mangga juga buat Iva.”
Perhatikan yang ada di depan.
Haiva menatap ke depan. Ada Haris disana. Haiva tertawa.



“Apa rasa sakitnya sudah berkurang?” tanya Haris.
Lampu-lampu jalanan berkelebat di kiri-kanan mereka ketika mobil Haris melaju membelah jalanan Jakarta. Selesai makan malam, Haris mengajak Haiva pulang bersamanya. Rumah mereka searah sehingga Haris tidak keberatan mengantar Haiva. Toh sebenarnya Haris tidak repot sama sekali. Dia kan punya supir pribadi.
Haiva menoleh cepat. Kaget. “Apa?”
Penerangan di dalam mobil tidak begitu terang. Haiva tidak bisa melihat ekspresi bosnya dengan jelas. Ia tidak tahu apa maksud pertanyaan bosnya itu.
“Yang tadi bikin Iva nangis, apa rasa sakitnya sudah berkurang sekarang?”
Haiva hanya mengerjap. Apakah bosnya mengetahui alasan sebenarnya ia menangis? Apa acting HP-jatuh tadi kurang meyakinkan? Lalu bagaimana ia harus mengalihkan pembicaraan sekarang supaya ia tidak perlu menjawab.
“Meski makanan enak tidak bisa mengobati sakit kepala yang terbentur tadi ...” Haris menoleh pada Haiva, “ ... setidaknya Iva sudah lupa rasa sakit terbentur yang sampai bikin Iva nangis tadi kan?”
Haiva bengong sesaat. Tapi kemudian ia tertawa.
“Makasih ya Pak,” kata Haiva, masih tertawa, “Kata orang: perut kenyang, hati senang. Kepala saya nggak sakit lagi sekarang.”
Tinggal hati saya aja yang masih sakit, lanjut Haiva dalam hati. Masih sambil tertawa.
Tapi hatimu masih sakit kan?, tanya Haris dalam hati, sambil ikut tertawa bersama gadis itu. Dasar anak muda.
Ini pertama kalinya Haiva ngobrol dengan Haris, di luar jam kantor, dan selain membicarakan validation report dan deviation report


*                *                *

Dear Boss,
Aku mau mengaku, bos. Selama ini di belakangmu, aku memanggilmu “Hulk”. Kalau saja kau tahu panggilanku ini, seharusnya kau juga tahu alasannya kan? Itu karena badanmu yang tingi besar dan tiap marah saat meeting selalu seperti Hulk yang ditakuti semua orang. Jadi jangan salahkan aku karena memanggilmu begitu ya, bos :p
Tapi bos, seperti halnya Hulk, di balik tubuh hijau-besar-menakutkan itu ada Dr. Bruce Banner yang tampan, pintar dan baik hati. Aku pikir, seperti itulah dirimu. Dibalik sosok menakutkan saat meeting itu, ada sosok lain. Haris Hananjaya yang tidak kalah tampan, pintar dan baik hatinya dengan Bruce Banner.
Setelah selama ini aku melihat sosok Hulk-mu, akhirnya aku bisa bertemu dengan Bruce Banner dalam dirimu.


*                                  *                                   *



Sejak hari itu, Haiva tidak lagi kaku dan ketakutan jika bertemu dengan Haris. Betapa seringnyapun Haris memarahinya soal pekerjaan, diluar jam kerja Haris kembali bersikap seperti Bruce Banner. Beberapa kali saat Haiva lembur dan pulang malam, Haris bahkan menawarinya nebeng sampai terminal bis terdekat. Haiva juga mulai memberanikan diri menyapa bosnya itu setiap berpapasan di koridor, tidak lagi hanya menundukkan kepala dengan kikuk. Di hari lain ketika ia dan bosnya, sang Supervisor QA, berencana makan seafood bersama, Haiva juga sudah berani mengajak bos besarnya itu ikut bersama mereka ketika mereka bertemu di halaman parkir.
“Kami mau pergi makan seafood, Pak! Bapak ikut aja,” kata Haiva bersemangat.
Tapi Nala, sambil tertawa, melarang Haiva. “Jangan ajak Bapak,” katanya, “Bapak pasti nggak mau.”
Haris balik bertanya. “Kenapa saya pasti tidak mau?”
“Karena kami nggak akan makan di restoran seafood. Ini warung pinggir jalan,” Nala menjawab sambil tersenyum mengejek.
Mata Haris mengerjap.
“Jadi kenapa?” Haiva bertanya, “Kepiting saos padang disana enak banget kan Mbak? Bapak pasti suka.”
“Saya baru ingat, saya harus langsung pulang,” kata Haris tiba-tiba.
“Eh?” Haiva bengong. Sikap Haris berubah dengan sangat cepat.
“Kalau gitu kami duluan, Pak,” kata Nala cepat. Tersenyum dan menarik tangan Haiva untuk segera ke mobilnya.
Sampai di mobilnya, Nala baru menjelaskan alasan mengapa bos besar mereka tidak akan mau diajak makan di Seafood Ayu.
“Bapak punya penyakit alergi.”
“Alergi makanan laut? Itu mah saya, Mbak. Saya pernah lihat Bapak makan kepiting dan beliau baik-baik aja kok.”
“Bukan,” jawab Nala kalem. “Penyakit Bapak itu namanya Cheap-Food Alergy.”
Food Alergy apa, Mbak?”
Cheap-Food Alergy,” Nala mengulangi sambil nyengir sendiri, “Alergi sama makanan murahan dan makanan pinggir jalan. Percaya deh, beliau bakal langsung sakit perut kalau makan makanan murah atau di pinggir jalan. Harus di restoran.”
Haiva bengong. Tapi kemudian ia tertawa. Tidak tahan mendengar hal yang lucu luar biasa itu.

*                *                *


Haiva sampai lupa warna matahari. Dia berangkat kantor pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit. Pulang malam-malam setelah matahari terbenam. Bahkan makan siangpun tidak bisa ia lakukan dengan tenang. Semua itu gara-gara proyek besar perusahaannya tahun ini. Semua karyawan di kantor itu, tak terkecuali Haiva, jelas kena imbasnya.
Tapi meski Haiva nyaris tidak bisa melihat matahari, ia selalu bisa menemukan mataharinya sendiri. Hari itu mataharinya datang ke ruangannya.
“Iva tadi nggak makan siang? Saya cari Iva. Ada yang harus diperbaiki dari APR report ini,” kata sang matahari saat membuka pintu dan menemukan Haiva ada di dalamnya.
Haiva mengalihkan pandangannya dari kotak sampel. Dengan pipi yang menggembung, ia kaget hingga nyaris tersedak melihat si matahari yang begitu menyilaukan.
Buru-buru dan hati-hati Haiva berusaha secepat mungkin menelan makanan yang memenuhi mulutnya. Si matahari tertawa kecil melihat tingkah Haiva.
“Kenapa nggak titip messenger aja, Pak?” tanya Haiva setelah makanannya tertelan.
Sang matahari tidak menjawab. Ia malah balik bertanya, “Iva makan apa?”
“Pak Haris mau?”
“Apa itu?” tanya Haris sambil meletakkan odner APR report di atas meja kerja Haiva sambil melirik sepiring makanan di atas meja itu.
“Bapak nggak tahu ini apa? Ini bakpao.”
“Saya tahu itu bakpao. Iva beli dimana?”
Teringat kata-kata Nala bahwa bos besar mengidap Cheap-Food Alergy, Haiva jadi malas memberitahu si bos dimana ia membeli bakpao itu sebenarnya.
“Enak lho, Pak. Ini isi coklat. Ini isi daging ayam. Ini isi kacang ijo,” Haiva menunjuk satu per satu bakpao yang dibelinya. “Bapak mau yang mana?” Ia lalu mengulurkan semuanya ke hadapan Haris.
“Iva beli dimana?”
Dengan cepat Haiva memutar otak dan menjawab dengan gaya cool, “Di toko roti di Kelapa Gading. Tadi saya nggak sempat makan siang, jadi nitip sama Mbak Asri Regulatory yang lagi lunch-out buat beliin ini.”
“Oh.”
Haris tampak mulai tertarik melihat bakpao-bakpao yang masih panas-mengepul itu.
“Ambil aja Pak.”
Sekali lagi Haiva menggoda Haris dengan menyodorkan bakpao-mengepul itu tepat di depan wajah bos besar. Dan ia berhasil. Haris tergoda dan mengambil sebuah bakpao isi daging ayam.
Tersenyum, Haiva meletakkan piring berisi bakpao-bakpao itu di mejanya sambil berkata: “Kalau Bapak suka, nanti ambil lagi aja. Jangan malu-malu. Dihabiskan juga nggak apa-apa. Saya tinggal dulu ya Pak.”
“Iva mau kemana?”
“Saya mau sampling cleaning validation lagi Pak ke Produksi.”
Haiva mengambil sebuah bakpao coklat. Dan tanpa diduga Haris, gadis itu mampu memasukkan bakpao itu bulat-bulat ke mulutnya. Membuat Haris takjub.
Haiva menyambar kotak berisi sampling vial lalu pergi dengan pipi yang menggembung. Gadis itu bergumam pamit kepada bosnya dengan suara yang tidak jelas.
“Di Produksi tidak boleh makan, Iva! Telan sebelum masuk sana!” kata Haris sok galak ketika Haiva membuka pintu ruangannya dan keluar.
Haiva bergumam tak jelas. Di balik punggung gadis itu, Haris tidak lagi menyembunyikan senyumannya. Ia takjub bahwa gadis berbadan kurus-kecil itu ternyata pipinya bisa menggembung hingga sebesar itu sehingga mampu memakan sebuah bakpao sekaligus. Tidak heran gadis itu punya pipi yang tembem.
Dasar bakpao, gumam Haris sambil tersenyum memandang punggung yang menjauh itu.
Sementara itu, berjalan memunggungi Haris, Haiva mengunyah bakpaonya sambil tertawa dalam hati. Kita lihat, gumamnya pada diri sendiri, apa besok pagi Pak Haris sakit perut? Kalau nggak, berarti beliau nggak alergi sama makanan pinggir jalan. Beliau cuma alergi sama makanan yang dia tahu dibeli di pinggir jalan. Selama beliau nggak tahu darimana asalnya, beliau nggak akan sakit perut kan?
Setelah menelan bakpaonya dan masuk ke gowning room (ruang ganti baju sebelum masuk ke ruang produksi obat-obatan), Haiva tertawa puas. Bakpao itu tadi dibelikan oleh Rizal, si office boy, di tukang bakpao keliling yang suka mangkal di belakang kantor mereka.  


*                *                *


“Kenapa?” tanya seorang lelaki yang sedang menyetir di sebelahnya.
“Nggak apa-apa,” Haiva menjawab singkat.
Lelaki itu jelas tidak percaya.
Sudah lewat enam bulan sejak Arya memberitahu Haiva bahwa Linda menerima lamarannya. Haiva mengira setelah sekian lama, hatinya sudah membaik. Tapi ternyata ketika dua minggu lalu ia menerima undangan pernikahan berwarna hijau itu, ternyata hatinya tetap bisa merasa perih. Bahkan hingga hari itu. Hari pernikahan mereka.
Haiva sudah berdandan rapi hari itu. Mengenakan gaun birunya. Dia berharap tidak akan tampak mengenaskan nanti.
“Iva nanti makannya jangan banyak-banyak ya!” perintah lelaki itu sambil melirik Haiva. Berusaha mengalihkan perhatian gadis itu dari undangan pernikahan di tangannya.
Haiva memandang undangan itu untuk terakhir kali, kemudian memasukkannya ke dalam tas tangannya.
“Kenapa, Pak?”
“Habis ini kan Iva harus temani saya makan malam.”
Haiva melirik Haris yang sedang fokus menyetir.
“Masa Iva aja yang makan malam. Saya tidak bisa tidur kalau tidak makan malam.”
“Lho? Bapak ikut masuk ke gedung resepsi kan? Kita makan malam disitu.”
“Nanti saya tunggu di luar aja.”
“Kenapa?”
“Saya tidak suka datang ke acara pernikahan.”
“Kenapa?” Haiva terus menuntut.
“Ndak suka saja.”
“Kalau gitu kenapa mau mengantar saya?”
“Saya cuma mau mengantar Iva saja.”
“Buat apa mengantar saya kalau nggak ikut masuk? Saya pikir minggu lalu Bapak menawarkan diri untuk menemani saya ke pesta pernikahan ini, bukan sekedar mengantar dan menunggu di tempat parkir?”
“Pokoknya saya menunggu di parkiran.”
“Kalau tahu begitu saya nggak akan mau diantar Bapak.”
“Jadi Iva tidak mau menemani saya makan malam?”
“Ya nggak begitu, Pak. Tapi kan saya merasa nggak enak. Masa Bapak udah jemput dan antar saya kesini, tapi cuma nunggu di tempat parkir.”
Haris tertawa.
“Kalau gitu Bapak nggak usah nungguin saya. Saya pulang sendiri aja.”
Mobil Haris tepat berhenti di depan ballroom sebuah hotel tempat resepsi pernikahan Arya berlangsung. Dengan kerlingan matanya, Haris menyuruh Haiva turun dari mobilnya.
“Telepon saya kalau Iva sudah selesai. Saya jemput Iva disini lagi. Oke?”
“Pak?”
“Saya tunggu Iva,” begitu jawaban terakhir Haris. Tegas. “Iva masuk aja. Ingat, jangan makan banyak-banyak.”
Haiva cemberut, menggembungkan pipinya.
Haris tertawa dan membelai pelan kepala Haiva. “Bakpao,” dia bergumam.
Haiva tersenyum kecut. Dia melangkahkan kakinya ke luar mobil sambil menggerutu dalam hati Memangnya gue bisa punya nafsu makan di pesta pernikahan laki-laki yang gue cintai?




“Gimana tadi?” tanya Haris setelah Haiva kembali ke mobilnya.
Haiva tersenyum. Meski cahaya di dalam mobil di malam hari hanya samar-samar, Haris yakin itu bukan senyum bahagia.
“Kenapa sih nggak mau masuk, Pak?” Haiva mengalihkan pembicaraan. Ia masih penasaran.
“Saya nggak suka aja.”
“Kenapa?”
“Ya tidak kenapa-napa. Saya cuma tidak suka datang ke acara pernikahan. Sudah lama saya tidak pernah datang ke undangan pernikahan.”
“Pasti ada alasannya?”
Ada. Tapi saya nggak mau kasih tahu kamu. Kamu cuma akan mengasihani saya.
“Pak?”
Saya sudah muak dengan pertanyaan “kapan nikah” yang ditanyakan semua orang saat pesta pernikahan. Dan kalau saya tadi ikut masuk, pertanyaan “kapan nikah?” yang sering mereka tanyakan padamu akan berubah menjadi pertanyaan“datang sama ayahnya ya?”. Pertanyaan semacam itu akan membuat kamu malu berada di samping saya.
“Jadi kalau nanti saya nikah, Bapak juga nggak mau datang meski saya undang?”
Haris menoleh cepat. Untung saat itu sedang lampu merah. Lelaki itu kehilangan konsentrasinya sesaat. Dia tidak menduga Haiva akan bertanya begitu.
“Tidak,” jawab Haris tanpa basa-basi.
Haiva juga tidak menduga bosnya akan menjawab sefrontal dan setegas itu. Dan menerima jawaban itu, Haiva merasa ada yang berdesir di rongga dadanya dan menekan paru-parunya.
Tanpa bisa dicegah, dan tanpa tahu kenapa, Haiva sedih mendengar jawaban Haris.
Kalau nanti kamu menikah, semoga tidak mengundang saya. Semoga saya yang berada di samping kamu.




Dear Boss,
Maaf. Aku sama sekali tidak berniat mengundangmu ke resepsi pernikahanku. Aku berharap kamu dan aku yang mengirimkan undangan itu kepada orang-orang. Apa aku keterlaluan?