Luna Lovegood inside. Noda Megumi outside.

Sabtu, 02 Juni 2012

ABIYOSO dan ARISTA


Ada hal-hal yang tidak mungkin kau lewatkan bersama seseorang tanpa kau menjadi dekat dengannya. Dikejar anjing tetangga adalah salah satu contohnya. Dan Arista mengalaminya sendiri. Kalau saja bukan karena Abiyoso yang datang dan melempari anjing itu dengan batu, anjing itu tidak akan terkecoh dan Arista tidak akan sempat memanjat pohon. Jika juga bukan karena Abi menggendongnya dan membantunya memanjat pohon, Aris tidak akan selamat dari pengejaran itu. Sejak itu Aris selalu merasa bahwa Abi adalah pahlawan penyelamatnya. Itu mengapa Aris jadi sering mengikuti Abi kemanapun bocah lelaki itu pergi.

Dan ada hal-hal yang sulit hilang dari ingatan, terutama jika ingatan itu didapatkan saat masih kecil. Itulah mengapa sejak kejadian dikejar anjing itu, Arista tidak pernah bisa melupakan Abiyoso. Bagaimana pula caranya Aris bisa melupakan Abi jika setiap hari mereka bertemu di sekolah?



                          *                  *                *



Kalau saja Aris bisa membalikkan waktu, dia memilih untuk tidak pernah menjadi sahabat Abi. Menjadi sahabat berarti memiliki keistimewaan di hati sahabatnya. Tapi di sisi lain, sahabat adalah sahabat. Selamanya akan seperti itu. Padahal Aris tidak ingin menjadi sahabat Abi. Dia menyukai pemuda itu, sebagai seorang gadis.

Betapa sakit hatinya ketika harus mendengar Abi mengeluh tentang gadis-gadis yang mendekatinya. Dan lebih sakit lagi ketika Abi mengatakan bahwa Abi menyukai salah satu diantara gadis-gadis itu. Tapi semua itu belum seberapa sakitnya dibandingkan perkataan Abi beberapa hari lalu ketika beberapa teman menggosipkan mereka berpacaran.

”Gue? Pacaran sama Aris?” Abi terkekeh di tengah-tengah gerombolan cowok-cewek berseragam putih-abu-abu itu. Lalu Abi melingkarkan lengannya di pundak Aris dengan santai. Aris tersenyum kikuk, mencoba santai, meski hatinya berdegup tidak beraturan. ”Kita mah sahabatan banget ya, Ris? Pada gosip aja lu!”

Orang bilang, itu rasanya seperti disambar gledek di siang hari bolong. Tapi bagi Aris, rasanya lebih seperti semua isi perutnya disedot keluar. Hipoglikemi mendadak. Dia merasa pusing dan mual.

Jangan gosip aneh-aneh deh. Menurunkan pasaran dan daya jual gue dan Abi aja. Kalau ada yang naksir gue atau Abi, mereka bakal mundur nih gara-gara gosip kalian,” Aris balas tertawa.

Itulah yang disebut bibir tertawa selagi hati mati rasa.







Nelangsa adalah ketika orang yang kita cintai justru berusaha menjodohkan kita dengan orang lain. Dan orang lain itu adalah sahabatnya sendiri.

Arista selalu tahu bahwa Abi adalah manusia cerdas luar biasa. Tapi ternyata kecerdasan-intelegensia Abi tidak sebanding dengan kecerdasan-perasaannya. Entah berapa ratus kali tepatnya Aris sudah mencoba membuat Abi menyadari bahwa Aris mencintainya. Tapi hasil dari semua usaha itu justru berakhir pada proyek-perjodohan Abi. Saat mendengar bahwa Abi berniat menjodohkannya dengan Angga, sahabat Abi di klub sains, Arista rasanya ingin menggeplak kepala Abi saat itu juga.

“Angga bilang dia naksir lu, Ris,” kata Abi ketika mereka sedang mengerjakan PR bersama di suatu sore yang tidak begitu cerah.

“Trus?” Aris menanggapi dengan acuh. Dia masih fokus pada stoikiometrinya.

“Gue jodohin ya Ris!”

Aris mulai tidak fokus pada perhitungan reaksi asam-basanya.

“Mau ya Ris, gue jodohin sama Angga?”

Abi makin annoying.

“Lu dibayar berapa sama si Angga?” tanya Aris sinis.

“Emang gue cowok bayaran?”

“Dia minta lu nyomblangin?”

“Kagak.”

“Jadi ngapain lu nyomblangin?”

“Abis kalian kelihatan cocok.”

Aris benar-benar meninggalkan hitungan stoikiometrinya.

“Jadi?” tanya Aris makin sinis.

“Mau ya gue comblangin sama Angga?”

Aris menatap mata Abi. Mencari sedikit celah disana. Semua orang pasti berusaha mencari kejujuran dari mata lawan bicaranya. Tapi Arista sebaliknya. Dia berharap ada kebohongan disana. Tapi dia tidak menemukan apa-apa. Dan dia kecewa karenanya.

“Terserah lu aja deh.”

Arista menutup bukunya. Menyambar semua alat tulisnya dalam waktu sekejap, lalu bangkit dari duduk bersilanya.

“Eh, ngapain lu Ris? Emang udah selesai PR kimianya?”

Tanpa menjawab, Aris ngeloyor pergi begitu saja meninggalkan rumah Abi. Dia merasa itulah jalan terbaik yang dapat diambilnya, daripada nanti dia malah mengamuk di rumah Abi lantaran kesal setengah mati.

Abi itu tolol maksimal, maki Aris dalam hati.







Super Nelangsa adalah makan bersama gebetan ... dan orang yang dijodohkan ke kita oleh si gebetan.

Dan kadang satu ketololan akan diikuti dengan ketololan lain yang lebih menyebalkan. Dan kalau kau punya teman yang tolol, lakukan hal yang bagus untuk mengubahnya menjadi pintar dengan cara apapun. Pertama, nasihati baik-baik. Kedua—jika dia pura-pura tuli—tonjok saja mukanya. Tapi bagaimana kalau orang tolol itu bukan sekedar temanmu, melainkan orang yang kau cintai? Kau akan mengalami dilema akut antara ingin menciumnya atau membunuhnya.

Hal itulah yang dirasakan Aris saat Abi mengajaknya makan malam di suatu restoran beraura romantis, dan tiba-tiba di tengah-tengah keromantisan itu Angga datang. Lalu dengan wajah tak berdosa, Abi mengaku bahwa dia memang sengaja mempertemukan Angga dengan Aris.

Saat itu juga Aris mendapat fakta baru. Pertama, bahwa Abi ternyata serius menjodohkannya dengan Angga. Kedua, dan dengan fakta pertama itu, jelaslah bahwa Abi tidak mencintainya, karena jika Abi sedikit saja mencintainya maka lelaki itu tidak akan memberikannya untuk lelaki lain.

Menyadari kedua fakta itu, akhirnya setelah 5 tahun terus mencintai Abi dalam diam, Aris menyerah. Dia merasa sudah waktunya menghadapi kenyataan. Dan itulah kenyataannya: Abi tidak pernah mencintainya.







Mega Nelangsa adalah sok jodohin orang yang kita suka ke orang lain, padahal dalam hati gondok banget.

Dan ternyata ketololan adalah penyakit menular. Angga ternyata sama tololnya seperti sahabatnya, Abi. Merasa berhutang budi kepada Abi yang telah mempertemukannya dengan Aris, kini gantian Angga yang berusaha menjodohkan Abi dengan sepupunya. Anita, namanya. Dia bersekolah di SMA yang sama dengan mereka, junior mereka.

Dan ketololan berlanjut saat Angga mengajak Aris untuk mendukung rencana perjodohannya. Tapi karena Aris juga sudah memutuskan untuk menyerah terhadap Abi, akhirnya dia menyetujui rencana Angga.

Hanya saja saat itu Aris tidak menyadari bahwa rasanya bisa sesakit itu saat dirinya mencoba menggoda Abi dengan berkata: “Malam minggu nanti mau ikut nonton bareng gue dan Angga? Ada Anita juga lho. Kita bisa double-date.”

Dan terlebih Aris tidak menduga bahwa hatinya bisa tiba-tiba merasa kebas ketika Abi menjawab: “Boleh,” sambil nyengir girang.

Kata orang, rasa sakit yang berlebihan bisa menyebabkan mati rasa. Mungkin itulah yang sedang dirasakan hatinya sekarang. Kebas. Mati rasa.



*                   *                 *



Beberapa tahun kemudian...



Abi menatap layar laptopnya, nanar. Disana terpampang sebuah undangan pernikahan elektronik. Nama Airlangga Kamanjaya dan Adinda Kania tertulis disana. Bukan Arista Nareswari.

Abi tidak pernah mendengar kabar lagi tentang Angga dan Aris sejak mereka lulus SMA dan dirinya melanjutkan kuliah di Jepang. Dan dengan tidak mendengar kabar apapun tentang mereka, Abi mengira hubungan mereka berdua baik-baik saja. Baik Aris maupun Angga tidak ada yang pernah menceritakan kepadanya bahwa mereka putus, sehingga ketika menerima undangan pernikahan Angga tanpa nama Aris di dalamnya, Abi merasa bingung.

Saat itu juga Abi langsung mengaktifkan YM-nya. ID Arista tidak aktif. Tapi beruntung ID Angga tampak available. Abi segera menyapanya.





abiyoso.dwipo : Gue baru baca milis, Ngga. Congrats yow. Udah mau nikah aja lo.

angga.kamanjaya : Thanks, Bro. Lu dateng ya. Bisa dong pulang ke Indonesia?

abiyoso.dwipo: Nanti gue usahain ya. Eh, tapi gue pikir lo bakal nikah sama Aris, Ngga. Kapan lu putus sama dia?

angga.kamanjaya : Putus? HAHAHA. Gimana mau putus kalau nyambung aja nggak pernah?

abiyoso.dwipo : Hah?! Bukannya kalian kuliah di jurusan yang sama ya?

angga.kamanjaya : Nah, apa hubungannya antara kami sekelas pas kuliah sama status pacaran?

abiyoso.dwipo : Bukannya kalian pacaran waktu SMA? Kan kita sering double-date dulu?

angga.kamanjaya : Double-date mah dalam rangka mencomblangi lu dan Anita aja. Dari awal kan emang gue nggak pernah pacaran sama Aris. Tapi sejak lo mencomblangi kami, kami emang jadi sahabatan dekat. Mungkin karena itu ya lo mikir bahwa kami pacaran?

abiyoso.dwipo : HAH?!

angga.kamanjaya : Lha, gue kan dulu nggak pernah minta lo nyomblangin kita. Gue nggak pernah bilang naksir sama Aris lho ya. Gue cuma tertarik sama Aris karena anaknya humoris dan pintar. Lu aja yang mikir bahwa gue naksir dia dan sok nyomblangin kita.

abiyoso.dwipo : HAH?! (Abi merasa otaknya lumpuh)

angga.kamanjaya : Ah, elu mah hah-hah mulu dari tadi. Lemot banget deh.

abiyoso.dwipo : Heh?!

angga.kamanjaya : Dia naksir orang lain, Bi.

abiyoso.dwipo : HAH?! (Kini Abi merasa otaknya perlahan mati)

angga.kamanjaya : Tau ah. Pantesan aja Aris nyerah sama lu. Lu orangnya lemot banget gitu sih.

abiyoso.dwipo : Maksud lo?

angga.kamanjaya : Pokoknya lu dateng ya ke nikahan gue. Aris juga pasti dateng. Ntar lu tanya aja sama dia langsung lah cerita lengkap tentang hubungan gue dan Aris.







Setelah itu Abi mencoba menghubungi Aris. Tapi YM Arista tidak pernah aktif. Akhirnya dia terpaksa hanya puas mengirimkan pesannya kepada Aris melalui email.

Tapi ketika Aris tidak juga membalas emailnya, sementara hari pernikahan Angga tinggal tiga hari lagi, Abi harus mengambil keputusan. Dengan panik dia memesan tiket untuk pulang ke Indonesia, demi menghadiri pernikahan sahabatnya. Dan terutama demi bertemu Arista. Bukan hanya untuk menanyakan mengapa bukan nama gadis itu yang tertera bersama nama Angga. Tapi lebih jauh itu,dia ingin meluruskan kesalahpahaman yang terjadi selama 9 tahun itu.







Resepsi pernikahan Angga berlangsung meriah. Tidak kurang dari 1000 orang memenuhi aula hotel tempat acara itu dilangsungkan. Dan berusaha menemukan seorang gadis diantara 1000 orang manusia bukanlah urusan mudah. Bahkan sejak menjejakkan kaki di hotel itu Abi sudah menajamkan penglihatannya untuk mencari sesosok Arista Nareswari.

“Lu terlambat, Bi,” kata Angga, menyambutnya di pelaminan ketika Abi mengucapkan selamat atas pernikahannya. “Baru aja setengah jam yang lalu Aris disini. Tapi dia buru-buru pergi lagi karena harus mengejar penerbangan.”

“Penerbangan?”

“Aris dapat beasiswa ke Jepang juga. Hari ini dia berangkat.”

“Oh ya? Ke Jepang?” Abi terkejut, “Lu tahu di universitas mana?”

“Lupa gue. Tapi di Tokyo juga, kayak lo.”

Abi bingung sekaligus senang. Di satu sisi, dia merasa kepulangannya demi Aris menjadi sia-sia karena, lucunya, Aris malah pergi ke Jepang. Tapi di sisi lain, Abi juga senang karena dia akan tinggal sekota dengan Aris lagi.

“Kalian berdua kayak orang bodoh,” kata Angga kemudian sambil tertawa mengejek. “Pas ada di depan mata, saling diam. Pas jauh malah saling mengejar.”

“Maksud lo?”

“Lo tuh emang kelewatan telminya, Bi,” ejek Angga. “Dari dulu Arista nggak pernah jadian sama gue karena dia cintanya sama elu. Lu juga cinta sama dia kan? Ngapain sok jodoh-jodohin gue ke dia, coba?” lanjutnya sambil tertawa dan menepuk-nepuk bahu Abi gemas.

Selama sekian detik, yang rasanya berabad-abad bagi Abi, dia terpaku setelah mendengar ejekan Angga itu. Kalau saja bukan karena desakan tamu-tamu lain yang sudah berbaris di belakangnya, Abi mungkin akan tetap terpana di hadapan Angga sampai bertahun-tahun kemudian.

Abi bahkan pulang dari acara resepsi itu tanpa menyentuh satu makananpun yang dihidangkan. Abi seperti pulang tanpa benar-benar menapak di bumi. Hatinya terbang ke langit ke tujuh ketika mengetahui bahwa Aris juga mencintainya.

Kalau boleh jujur, sebenarnya Abi sudah mencintai Aris sejak lama. Sejak dia menyadari bahwa dia tidak suka melihat Arista benar-benar menjadi dekat dengan Angga. Abi jadi membenci dirinya sendiri karena dirinyalah yang menjodohkan Angga dengan Arista, tapi dirinya jugalah yang tidak suka dengan kedekatan mereka. Abi merasa menjadi pecundang dan orang munafik. Tapi dia tidak pernah berani mengakuinya.

Ironis. Mereka seperti dua orang bodoh saja. Saling mencintai. Dan saling membohongi. Hanya karena tidak mau berpisah. Padahal ingin saling memiliki. Helpless-idiot.







Beberapa orang butuh waktu lama untuk menyadari perasaannya. Beberapa yang lain bahkan butuh waktu lebih lama untuk mengakuinya. Abi butuh lima belas tahun untuk keduanya. Dia sungguh-sungguh berharap dia belum terlalu terlambat untuk memulai.

Dan karena Abi sudah melewatkan lima belas tahun dengan kesia-siaan, dia tidak mau menghamburkan waktu lagi. Begitu kembali ke Jepang, dia segera mencari tahu melalui salah seorang kenalannya di Kedutaan tentang mahasiswa Indonesia yang baru sampai di Tokyo yang bernama Arista Nareswari. Segera setelah mengetahui kampus Arista di Tokodai (Tokyo Institute of Technology), Abiyoso tidak membuang waktu untuk segera kesana.

 Abi sudah menunggu Arista di depan kampusnya selama hampir dua jam ketika akhirnya ia melihat gadis itu keluar kampus.

How do you know?” tanya Arista dengan wajah kaget karena tidak menyangka akan bertemu Abi sore itu, setelah lima tahun tidak bertemu.

Bagaimana Abi bisa datang ke kampusnya? Dia bahkan tidak memberitahu Abi bahwa dia pergi ke Jepang. Aris tidak benar-benar berharap bisa bertemu lagi dengan Abi meski ia akhirnya berhasil kuliah ke Jepang. Dia sudah menyerah bertahun-tahun yang lalu. Dia belajar ke Jepang memang karena dirinya ingin, bukan demi Abi.

I always know,” jawab Abi sambil tersenyum gugup. Setelah lima belas tahun bersahabat, meski sudah lima tahun tidak bertemu, ternyata kecantikan Arista masih saja membuatnya merasa lemas tidak berdaya.

Doshite?” Arista tidak mengerti maksud Abi.

“Angga yang cerita bahwa lo dapat beasiswa di sini,” kata Abi menjelaskan.

“Oh,” gumam Aris singkat.

“Dia juga cerita bahwa kalian nggak pernah pacaran,” Abi melanjutkan dengan makin gugup.

Aris bengong sebentar. Tidak menemukan korelasi antara kedua pernyataan tersebut. Tapi beberapa saat kemudian ia tertawa juga.

Need a whole life time to realize, eh?” tanya gadis itu, sambil tersenyum menyindir.

Yeah, fool me.” Abi mengangkat bahu dengan pasrah. Dia memang merasa dirinya payah maksimal.

Lalu mereka terdiam beberapa saat. Saling berhadapan. Saling menatap. Dan saling kehilangan kata. Selama sepuluh tahun bersama Aris, baru kali itu Abi bisa kehilangan kemampuannya berkata-kata.

Well?” Aris mengerling gugup, memecah keheningan itu. Dia mengira Abi akan mengatakan sesuatu dan bukannya bengong begitu saja di tengah jalan seperti itu. “Hisashiburi. Genki desuka?

Abi tersenyum mendengar pertanyaan Aris dalam bahasa Jepang ya masih kaku. “Genki desu,” jawab Abi. Dia menghela nafas, berusaha meredakan detak jantungnya yang berlebihan, sebelum melanjutkan: “Aishiteru.”

Senyum Aris hilang. Dia tahu arti kata-kata Abi barusan. Tapi dia tidak yakin bahwa dia mendengar kata yang dia rasa didengarnya. Apalagi pernyataan itu lagi-lagi tidak ada korelasinya dengan pertanyaannya yang menanyakan kabar lelaki itu.

I love you,” Abi mengulang.

Kali itu barulah Aris yakin bahwa dirinya tidak salah mendengar atau mengartikan. Dia hanya tidak tahu harus menjawab apa.

 “Gue nggak mau lagi bohong sama diri gue sendiri, dan sama teman-teman,” kata Abi, “Gue nggak pernah menganggap lo sebagai teman. Gue selalu menganggap lo lebih.”

“Lebih dari teman?” Arista tertawa, salah tingkah. “Of course! We never be just friend. We are bestfriend.”

No. Bukan itu maksudnya,” kata Abi buru-buru. “Gue sayang sama lo.”

“Dan sesama sahabat memang harus saling ...”

“Gue cinta sama lo!” potong Abi cepat. “Sebagai gadis yang gue cintai.”

Arista diam, agak lama. Dia memandang Abi dengan dingin. “After all this years?” akhirnya hanya itu yang mampu dikatakan Aris. Dia kaget. Dan tidak percaya.

“Gue tahu gue sudah sangat terlambat. Makanya sekarang gue nggak mau kehilangan lo lagi, Ris.”

“Terlambat?” Arista mengulang dengan nada mencemooh. “Waktu nggak bisa kembali, Bi.”

Abi menghela nafas. Dia punya firasat buruk soal ini. Apakah Arista sudah terlalu lama menunggunya sadar hingga akhirnya gadis itu lelah dan tidak lagi mencintainya? Apa yang harus dilakukannya jika benar hal itu yang terjadi? Dia benar-benar tidak bisa kehilangan Aris lagi. Tidak, setelah kesalahpahaman yang panjang selama ini.

“Gue tahu selama ini gue udah bodoh banget. Maafin gue, Ris. Gue nggak bisa kehilangan lo lagi. Arista, please, come back to me.”

I’ve told you, Abi, waktu nggak pernah kembali,” kata Aris.

“Tapi lo manusia kan? Bukan waktu? Lo bisa kembali kan?” Abi separuh memaksa. Suaranya gemetar saking frustasi.

“Kecuali lo punya tawaran yang cukup bagus?” jawab Aris, menantang.

Marry me, Arista Nareswari, would you? Apa itu tawaran yang cukup baik?”

Dimensi ruang dan waktu yang terbentang di antara mereka terasa berhenti. Arista merasa dirinya sedang disedot oleh sebuah pusaran waktu, ditarik ke masa lima belas tahun yang lalu. Lalu dengan cepat semua kenangan tentang Abiyoso berkelebat di ingatannya.

Arista merasa hidup begitu lucu. Benar adanya, cinta itu seperti kupu-kupu. Kalau kau mengejarnya, dia akan terbang pergi. Tapi kalau kau menanam taman bunga di sekelilingmu, lalu diam disana, kupu-kupu akan menghampirimu. Arista tertawa ketika menyadari hal itu.

Abi melirik Arista yang sedang tertawa, dengan wajah bingung.

“Ris?” Abi memanggil.

Masih sambil tertawa, Arista mengangkat bahunya. “Lumayan. Daripada lu manyun.”

Alis Abi bersatu, mencoba menganalisa arti jawaban itu. “Isn’t that another way to say yes?”

Arista tidak menjawab. Dia hanya tersenyum dan memiringkan kepalanya. Dan itu adalah gaya yang sangat dikenali Abi. Bahkan setelah lima tahun tidak bertemu, gaya Arista saat menyatakan persetujuan tidak pernah berubah.

Mungkin hatinya juga tidak berubah.

Banyak hal yang tidak bisa menunggu dalam waktu lama. Tapi cinta pertama seringkali bertahan lebih lama daripada sekedar belasan tahun. Ia bisa bertahan hingga seumur hidup. Beruntung demikian bagi orang yang lamban berpikir seperti Abiyoso Dwipoyono.

Daun-daun tampak menguning. Sebentar lagi pasti berguguran. Tokyo akan segera menyambut musim gugurnya. Tapi Abiyoso dan Arista justru sedang merasakan musim semi yang indah ketika mereka saling berpelukan.




2 komentar:

  1. Nia sang cerpenis, makin bagus Ni tulisannya :)

    BalasHapus
  2. ma'acih dian, udh nyempetin baca cerpenku di sela2 kesibukanmu :)

    BalasHapus