Luna Lovegood inside. Noda Megumi outside.

Sabtu, 09 Juni 2012

CERITA YANG TIDAK SELESAI


Tiara membuka tirai jendela ruang rawat VIP itu dan cahaya matahari pagi menerobos masuk ke ruangan itu. Kemudian dia membuka jendelanya, dan udara pagi yang segar perlahan berhembus masuk. Tiara membalikkan badan dan tersenyum pada seseorang yang terbaring di tempat tidur.

“Kamu datang terlalu pagi, Tiara!” sapa orang di tempat tidur itu. Namun, meski kata-kata orang itu terdengar seperti sebuah protes, dia tetap tersenyum pada Tiara.

Bapak yang bangun terlalu siang,” balas Tiara tidak mau kalah. Dia tersenyum sambil menarik sebuah kursi ke samping tempat tidur dan duduk di situ.

How’s your week?” tanya lelaki itu kemudian. How’s your job?

Hectic. Rusuh. Nggak karuan, as always. But great, jawab Tiara sambil nyengir. “And how about yours?

“Bosan, jawab lelaki itu sambil merengut.

Tiara tersenyum maklum. Sebulan terkurung di kamar ini, dengan hanya sesekali keluar, pasti membuat orang frustasi.

Saat itu seorang perawat memasuki kamar rawat tersebut dan membawakan sarapan untuk sang pasien. Setelah berpesan pada Tiara agar memastikan pasien yang bandel tersebut menghabiskan sarapannya dan meminum obatnya, perawat itu pergi sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala.

Setelah sang perawat keluar kamar, Tiara nyengir nakal pada sang pasien.

It will break the Standard Operating Procedure, but it will be fun. Wanna try, Sir?

Sang pasien nyengir lebih nakal lagi.

Absolutely,” jawabnya dengan suka cita.

Tiara segera melancarkan strateginya untuk menyelamatkan lelaki itu dari kebosanan. Lelaki yang selalu menjadi bosnya di kantor. Lelaki yang usianya 20 tahun lebih tua darinya. Lelaki yang selalu menyayanginya seperti anak sendiri. Lelaki yang dicintainya ... bukan seperti ayahnya.

Arman Permana, namanya.





“Hari ini kamu kelihatan lain,kata Pak Arman akhirnya.

Oh ya?” Tiara malah balik bertanya.

“Lagi ada masalah?”

Nggak ada, pak,” jawab Tiara mengelak.

Masalah kantor? Atau pribadi?”

Nggak ada apa-apa, Pak.

“Saya boleh tahu? Mungkin saya bisa bantu?” Pak Arman tidak peduli pada jawaban Tiara yang mengelak itu.

Tangan Tiara berhenti mengupas apel. Lalu dia menjawab pertanyaan Pak Arman sambil tetap menunduk.

Semalam Valdi melamar saya,” jawab Tiara sambil melanjutkan kembali mengupas apel di tangannya. Kepalanya masih menunduk karena tidak berani melihat wajah Pak Arman.

Suasana hening seketika. Memang menegangkan, tapi Tiara memang tidak mengharapkan komentar apa-apa. Dia bahkan tidak tahu harus mengharapkan komentar seperti apa.

Bagus kan kalau gitu. Jadi kenapa muka kamu murung gitu?”

Kata-kata yang diucapkan Pak Arman itu membuat Tiara bagai tersengat listrik. Dia mengangkat wajahnya dan mendapati Pak Arman tersenyum padanya. Tiara memang tidak tahu ekspresi apa tepatnya yang dia harapkan dari Pak Arman, tapi jelas bukan ekspresi seperti itu.

Kamu menerima lamarannya?” tanya Pak Arman kemudian.

Apa saya harus menerimanya?”

Kelihatannya dia laki-laki baik,” lanjut pria itu.

Tiara, dengan hati tercabik, menundukkan kembali wajahnya dan mulai mengupas apel lagi.

”Kamu kelihatan cocok sama Valdi.”

Saat itu tiba-tiba jari Tiara teriris pisau. Dia mengeluh sesaat, membuat Pak Arman kaget ketika melihat jari telunjuk Tiara berdarah. Pak Arman segera menegakkan posisi duduknya untuk melihat jari Tiara. Dia menarik jari gadis itu untuk memeriksa, tapi Tiara segera menarik tangannya dari genggaman Pak Arman. Dia lalu pergi ke kamar mandi tanpa berkata apa-apa.

Tiara kembali dari kamar mandi beberapa menit kemudian, sambil menghisap telunjuknya. Matanya tampak memerah.

Tangan kamu nggak apa-apa? Minta plester sama suster sama,” kata Pak Arman, tampak mengkhawatirkan gadis itu. Dan eh, mata kamu kenapa? Kamu nangis? Apa sakit banget?”

I’ve got to go now, Sir, kata Tiara buru-buru. Dia menyembunyikan suara paraunya dengan berpura-pura terus menghisap jarinya. Dia segera menyambar tasnya, lalu pergi dengan hanya mengucap salam.

Dia melanjutkan tangisannya di salah satu koridor terpencil di RS itu. Kemudian dia pulang setelah tangisannya mereda, meski kesedihannya tidak juga reda.

Lelaki yang dicintainya menyuruhnya menikah dengan lelaki lain. Ironisnya cinta.







I love you, Tiara. I do.

Tiara terpana. Matanya bertatapan dengan mata Pak Arman. Mata itu kini tidak lagi memancarkan tatapan cerdas setajam elang yang selalu disukai dan dikagumi Tiara. Beberapa bulan yang lalu, mata itu masih bersinar-sinar penuh semangat. Tapi kini cahayanya redup oleh usia dan penyakit.

Tiara tetap memandang pria itu. Perlahan tapi pasti, mata Tiara basah, dan akhirnya setitik air mata jatuh. Tidak seperti biasanya, dia tidak lagi bersusah payah untuk menyembunyikan air matanya itu.

“Saya pikir Bapak nggak pernah memperhatikan saya...kata Tiara. Tapi kemudian suaranya tercekat. Dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi.

“Selama ini saya selalu mengamatimu. Memandangmu. Melihat ke arahmu. Kamu yang nggak pernah sadar,” balas Pak Arman.

Bapak selalu melihat ke depan, dan nggak pernah menoleh pada saya, padahal saya selalu disamping Bapak.”

Kamu selalu ada di hadapan saya, maka saya selalu melihat ke depan...”

Tiara menatap Pak Arman dengan bingung. Selama ini dia yang selalu membuntuti lelaki itu (kalau tidak mau disebut mengejar). Dia mati-matian mendapatkan simpati lelaki itu. Dia selalu berada di belakang dan memandang punggung tegap lelaki itu dengan perasaan yang terpendam. Bagaimana mungkin lelaki itu melihatnya.

Saya melihatmu sebagai masa depan saya. Maafin saya karena sudah lancang berpikir begitu.”

Kali ini Tiara sudah benar-benar tidak tahu harus berkomentar apa lagi. Semua neuron otaknya berhenti berfungsi akibat perasaan bahagia dan derita yang meluap dan tak terkontrol. Dia hanya menangis.

Kenapa Bapak ngomong begini sekarang?” tanya Tiara di tengah isak tangisnya.

Maaf, Tiara. Maafin saya. Saya selalu takut mengaku selama ini karena saya takut kamu akan membenci saya dan menganggap saya nggak tahu malu. Saya takut kamu akan menjauhi saya karena itu. Tapi sekarang saya merasa sudah nggak punya waktu lagi. Terserah anggapannmu sekarang, tapi saya harus mengatakannya.”

“Bapak pasti bercanda. Siapalah saya sampai Bapak bisa

“Kamu adalah gadis yang mengembalikan cinta dalam hidup saya,” jawab Arman cepat, “Saya pikir saya nggak akan pernah jatuh cinta lagi setelah pengkhianatan mantan tunangan saya dulu. Saya nggak menyangka saya akan jatuh cinta pada gadis kecil seperti kamu.”

Tapi saya kan ... ”

Saya tahu bahwa kamu sudah menganggap saya sebagai ayahmu. Saya juga sadar bahwa gadis seusiamu lebih pantas jadi anak saya. Jangan pikirkan kata-kata saya yang nggak pantas ini. Saya cuma ingin mengaku, membiarkan beban perasaan bertahun-tahun ini lepas. Saya cuma ingin kamu tahu, sebelum saya meninggal ... ”

How dare you, Sir!” potong Tiara kesal. Dia kesal karena bahkan di saat sakit pun Pak Arman tetap bersikap seperti sang bos, mengintimidasi dan tak membiarkannya menyelesaikan kata-katanya. Padahal Pak Arman sedang dalam kondisi kritis saat ini, tapi dia tetap berkuasa… kharismanya tak terkalahkan.

Pak Arman terpaksa menghentikan ocehannya saat mendengar Tiara membentak. Dia menarik nafas dalam karena udara makin sulit masuk ke paru-parunya, bahkan meski dia sudah memakai ventilator. Dia merasa waktunya makin dekat. Tapi dia lega karena telah berhasil mengungkapkan isi hatinya yang telah dipendamnya beberapa tahun ini kepada gadis yang dicintainya.

Meskipun begitu, dia juga merasa hina, karena tidak sepantasnya mencintai gadis semuda itu. Dan gadis itu pasti kini memandangnya dengan jijik atau marah. Tapi dia tidak terlalu peduli. Waktunya sudah dekat, jadi dia harus mengatakannya, apapun resikonya. Dia tahu bahwa dia akan patah hati lagi. Tapi ini pasti menjadi episode patah hatinya yang terakhir. Tidak akan ada lagi rasa sakit hati yang dapat menyiksanya setelah semua ini berakhir. Dan justru akan lebih menyakitkan baginya jika hingga akhir hidupnya dia tidak juga sempat mengungkapkan perasaannya yang telah terpendam selama beberapa tahun ini pada Tiara.

Kamu boleh marah sama saya, Tiara,” kata Pak Arman, dengan nafas yang mulai terengah. Dan saya nggak menyalahkan kalau kamu membenci saya sekarang. Tapi saya cuma punya waktu sekarang ... atau tidak sama sekali.

Tiara menghentikan tangisnya dan memandang Arman dengan marah.

“Saya marah sama Bapak!” kata Tiara keras. “What took you so long, Sir? Mengaku sekarang cuma untuk menambah pikiran saya aja? Apa maksudnya baru mengaku sekarang trus begitu saja meninggalkan saya? Saya sudah menunggunya sejak lama, Pak.”

Mata hitam bertemu mata kelabu. Hujan melingkupi keduanya. Cinta dan penyesalan menjelaskan tatapan mata itu. Karena cerita yang tidak pernah dimulai, harus selesai ketika mata kelabu itu tertutup.

3 komentar:

  1. hihi..
    salah satu sisi dari sebuah roman, gama pernah liat sisi yang sama dari "Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin"-nya Tere Liye. Pernah baca ka?
    Actually, even though it has good story, I hate a bit the idea of 'love which is known late'. Somehow it feels like 'ngenes' #damn.. haha

    anyway, we have part-time fiction writer and full-time pharmacist :D
    *tinggal tunggu novelnya terbit laah...* :)

    BalasHapus
  2. iyah gam, agak mirip ya sama novelnya Tere Liye,,, tp di novel itu beda usianya 15 tahun. hoho.

    well, what could be worse than leaving something behind, gam? that's why he decide to tell his feeling. terlambat lebih baik drpd tidak sama sekali, mungkin dipikirnya :p

    oiya, kynya lo salah deh gam,, i'm full-time dreamer and part-time writer. pharmacist? ahaha,,, i'm not that high :p

    BalasHapus
  3. makanya aye lebih suka kalo, "take it or leave it"
    love can understand, but it doesn't wait. You can take it, it means courage; or you just can let it, it means sacrifice. Haha.
    Maju sekalian atau tidak sama sekali #inibarulaki.

    XD

    BalasHapus