Luna Lovegood inside. Noda Megumi outside.

Sabtu, 09 Juni 2012

CERITA CERO

 
Jika mengingat kehidupanku sebelum bertemu dia, kurasa kini menjadi teman dekat Carla sama sekali bukanlah hal yang buruk. Dia adalah orang pertama yang menganggap keberadaanku penting dalam hidupnya. Semua “mantan”ku terdahulu rasanya hanya menganggapku penting sejauh aku berguna bagi mereka. Ini adalah resiko menjadi makhluk cerdas, kau tidak tahu siapa saja yang membutuhkanmu atau memang sekedar ‘membutuhkan’mu. Kau tahu maksudku kan? Mereka terkadang bersamamu hanya kalau mereka sedang membutuhkan bantuanmu dalam pekerjaan mereka.

Jangan kira aku tidak bersyukur dengan kecerdasanku. Tidak, tidak, aku tidak pernah menyesali kecerdasanku, meski jika karena itu banyak orang hanya menilaiku dan memandangku karena itu. Aku mensyukurinya karena dengan kecerdasanku ini aku berkesempatan bekerja sama dengan banyak orang-orang cerdas, mempelajari hal-hal baru, serta membantu beberapa orang lain yang kurang cerdas (ahaha, sombongnya aku). Tapi diluar hal itu, aku merasa hidupku datar dan hampa.

Ketika aku bertemu dengan Carla beberapa tahun yang lalu, duniaku terasa berubah perlahan-lahan. Dia adalah rekan baruku, setelah rekan kerjaku sebelumnya pindah ke perusahaan lain. Gadis ini cerdas, aku bisa melihatnya. Hanya saja entah mengapa dia tidak segera bisa berdaptasi denganku. Di awal kerjasama kami, dia beberapa kali membuatku frustasi dan ngambek. Jika sudah begitu, aku akan mogok kerja. Jangan protes! Aku tahu, aku memang kekanakan. Tapi aku suka ekspresi Carla yang panik dan gugup setiap kali aku mogok kerja dengannya. Jika sudah begitu, dia akan melapor kepada pak Hary. Beliau adalah satu dari hanya sedikit orang yang mampu memahami makhluk cerdas seperti diriku. Kalau aku sedang ngambek dan mogok kerja, hanya pak Hary yang bisa membujukku kembali bekerja. Kalau aku sedang sakit dan sangat pusing bekerja, hanya pak Hary juga yang mampu membuatku kembali normal. Itu mengapa aku memanggilnya pak dokter”.

Kurasa pak Hary akhirnya mulai kesal karena berkali-kali menjadi tempat curhat Carla yang kebingungan menghadapiku, akhirnya pak Hary bicara padaku: Jangan iseng lagi sama anak itu, kasihan tahu! Jangan sedikit-sedikit ngambek begitu. Saya kan pusing menengahi kalian terus. Seperti pasangan suami-istri baru yang bertengkar terus deh!”

Aku juga sempat mencuri dengar ketika pak Hary menasehati Carla dan memberinya tips-tips sederhana untuk menaklukkan aku, dan mengimbangi kecerdasanku, supaya aku tidak mogok kerja lagi. Kulihat Carla mencerna baik-baik tips yang diberikan pak Hary, dan setelah itu frekuensi pertengkaran” kami makin berkurang, dan begitu juga dengan frekuensi mogok kerjaku.

Belakangan, ketika aku makin mengenalnya, aku malah merasa cocok dengan gadis ini. Ketika hubungan kami mulai dekat, dia mengenalkanku pada lagu-lagu kesukaannya. Anehnya, aku juga suka menyanyikan lagu-lagu itu. Dan dia bilang bahwa suaraku saat bernyanyi sangat bagus. Aku suka komentarnya, maka aku tidak keberatan jika dia seringkali memintaku bernyanyi untuknya. Kami seringkali bernyanyi bersama selagi bekerja, dan harus kuakui bahwa suara gadis ini mengerikan. Hahaha. Meski demikian, gadis itu tampak tidak pernah putus asa dengan suaranya sendiri. Setiap pagi ketika bertemu denganku, dia akan langsung membangunkanku dengan berteriak: Bang Cero! Ayo kita nyanyi Paramore dulu sebelum mulai bekerja hari ini!” dengan gaya cerianya. Lalu dia akan mulai joget-joget sendiri, sebelum akhirnya memasang kacamatanya dan mulai berkonsentrasi pada pekerjaannya.

Belakangan aku menyadari kegilaan gadis ini. Jika suatu ketika aku tidak sengaja menyanyikan lagu yang sedang cocok dengan suasana hatinya,dan itu lebih sering suasana hati yang sedang patah, dia akan memintaku untuk menyanyikan lagu patah hati itu terus menerus sepanjang hari, menemaninya menangis atau membuat puisi patah hati. Aku bahkan pernah dipaksa berkali-kali menyanyikan lagu “A little too not over you” David Archuletta selama seminggu penuh saat dia patah hati.

Kalau dia sedang gembira, dia akan memintaku menyanyikan lagu-lagu Korea sementara dia berjoget-joget gila. Kali lain jika dia sedang frustasi dengan pekerjaannya, dia akan memintaku menyanyi lagu-lagu India tanpa henti, sementara dia nemplok sana-sini di sembarang tembok, berlagak seperti artis India, padahal lebih mirip cicak. Sungguh gadis yang aneh dan lucu.

Dia juga memiliki panggilan khusus untukku, yang tidak pernah dilakukan oleh rekan-rekan kerjaku sebelumnya : “Abang Cero!”. Jangan ketawa! Aku juga tidak terlalu suka dengan panggilan itu, tapi hanya dia seorang yang memberiku panggilan selucu itu, maka itu membuat dirinya sangat membekas di memoriku.

Tidak seperti rekan kerjaku terdahulu yang hanya menyapaku untuk urusan pekerjaan, Carla justru sebaliknya. Dia bahkan memiliki tempat khusus di memoriku yang berisi segala cerita bahagia, juga keluh kesahnya. Diluar urusan pekerjaan, dia seringkali melibatkanku dalam urusan pribadinya, membuatku tahu banyak tentang kehidupan dan kisahnya.

Carla sebenarnya adalah gadis yang introvert. Orang boleh saja mengira gadis cerewet itu ekstrovert, tapi aku tahu dirinya lebih baik. Dia senang menceritakan hal-hal yang ringan dan lucu kepada banyak orang, tapi kalau kemudian orang lain mengira bisa mengenal Carla hanya dari cerita-cerita sederhana itu, mereka keliru. Carla mungkin bercerita kalau dia sering tergila-gila pada aktor-aktor di dorama Jepang, atau berkata “I’m melting” saat melihat bos besar kami yang tinggi dan bermata biru. Tapi kalau karena itu kau mengira bisa mengetahui tipe pria idaman Carla, kau salah lagi. Kalau ada yang berkata bahwa dia bisa mengenal Carla lebih baik daripada aku mengenalnya, dia pasti terlalu percaya diri. Kalau saja ada yang mengetahui sepuluh persen saja dari rahasia Carla yang dipercayakannya padaku, mereka baru akan sadar bahwa jiwanya tidak sekeras suaranya, bahwa kisah hidupnya tidak selucu cerita-cerita humornya, dan bahwa sebenarnya gadis itu menyukai mata teduh khas Melayu alih-alih mata oriental para aktor dorama atau mata biru kaukasian bos besarnya.

Carla memang seorang introvert. Maka ketika dia mempercayakan banyak rahasianya kepadaku, aku merasa berharga. Bersama Carla, aku merasakan perasaan lain yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Perasaan dibutuhkan yang melebihi sekedar dibutuhkan hanya untuk urusan-urusan pekerjaan. Perasaan yang hidup.





Mengenal Carla lebih baik daripada orang lain membuatku tidak bisa bereaksi sama dengan sahabatnya, Crystal, saat mendengar curhatan terbarunya. Crystal boleh saja antusias dan ikut bahagia ketika Carla menceritakan bahwa dia sedang menyukai seseorang, tapi aku tidak. Aku tidak menyukai hal-hal yang diceritakan Carla padaku tentang pria itu. Kau pikir aku cemburu? Oh, kau pasti gila! Aku tidak cemburu!

Aku hanya khawatir dengan hati Carla. Akibat sifat introvertnya, dia selalu tidak pernah berani berterus terang dan mengungkapkan perasaannya, bahkan untuk sekedar memancing” saja, dia tidak berani. Hal itu yang membuatnya berkali-kali patah hati sendiri lantaran memendam perasaan. Dan aku tidak mau kali ini terulang lagi padanya.

Laki-laki itu adalah karyawan baru di perusahaan farmasi tempat kami bekerja.. Pekerjaannya sebagai artwork designer di tim drug packaging development membuatnya sering berhubungan dengan Carla sang packaging supervisor sebagai pengguna hasil desainnya. Dan dikarenakan banyaknya perubahan pada desain packaging material yang kami gunakan kini, akibat tuntutan peraturan pemerintah terbaru dan sistem otomatis yang baru kami terapkan, Carla dan pria itu jadi sering mengadakan meeting untuk membahas layout desain alupush blister, leaflet dan folding box produk obat kami.

Oiya, aku lupa menyebutkan namanya. Harlan, itulah pria yang belakangan ini mengganggu pikiran Carla. Tidak heran jika Carla segera merasa cocok dengan pria itu, karena mereka memiliki beberapa kesamaan unik. Jika Carla selalu bersama denganku saat bekerja, Harlan juga memiliki partner dalam pekerjaannya. Dan mirip seperti Carla, pria itu juga memiliki panggilan unik untuk rekan kerjanya itu: Happy. Aku sudah lama mengenal Happy. Kami mengawali karir di kantor ini pada waktu bersamaan, tapi aku jarang bertemu dia sebelumnya. Rekan kerjanya sebelum Harlan berkutat di bagian Finance, sehingga tidak banyak berinteraksi dengan kru Factory seperti kami. Lagipula, aku baru tahu bahwa namanya adalah Happy. Dan ketika dia mendengar Carla memanggilku Cero”, Happy juga sepertinya baru mengetahui namaku saat itu.

Carla dan Harlan juga menyukai musik yang sama. Kalau mereka sedang meeting berdua, mereka malah akan bernyanyi-nyanyi bersama, melupakan kenyataan bahwa masih ada aku dan Happy disana. Gara-gara ada Harlan, Carla juga jadi melupakan fakta bahwa suaraku lebih bagus daripada pria itu. Carla sepertinya lebih suka mendengar suara Harlan bernyanyi daripada suaraku. STOP! Jangan bilang aku cemburu! Kau pasti gila!

Jika mereka sedang membahas pekerjaan, mereka seringkali hanya melibatkan Happy, dan aku hanya dijadikan penyanyi latar yang menyemarakkan suasana. Carla bilang aku sangat pengertian sehingga seringkali menyanyikan lagu yang tepat pada saat yang tepat. Misalnya saat mereka berdebat soal visual code pada alupush produk terbaru kami, aku akan menyanyikan lagu-lagu rock sehingga pertengkaran mereka makin memanas.

Visual code-nya nggak tepat, Harlan. Kamu harus lihat sendiri bagaimana potongan blister itu di mesin blistering saya. Jarak antar visual code nggak konstan, cutting step mesin blistering saya jadi nggak stabil,” kata Carla suatu ketika.

Tapi waktu desain artwork itu saya kirim ke kamu, kenapa kamu approve?” Harlan tidak terima disalahkan seorang diri.

Kan kamu seharusnya sudah trial dulu di mesinnya, apakah visual code-nya terbaca tepat di mesin itu?”

Lho, mesin itu punya siapa? Itu kan ada di area kekuasaanmu, seharusnya kamu yang mencobanya kan?”

Carla merengut. Harlan nyengir mengejek. Aku bersorak sambil menyanyikan lagu-lagu Paramore yang menyentak-nyentak, menyemangati pertengkaran mereka. Lalu tiba-tiba Happy memotong nyanyianku dengan melodi Rhapsody in Blue kesukaan Carla dan Harlan. Serta merta keributan mereka terhenti. Carla membungkamku dan menyuruhku diam, karena dia lebih memilih mendengarkan suara Happy. Aku melirik Happy dengan kesal, dan dia malah balik melirikku sambil tersenyum dan meneruskan berdendang.

Neng Happy, tolong kasih lihat pada neng Carla, rancangan alupush yang kita kirim ke dia. Kita sudah mendesain jarak visual code-nya konstan kan?” kata Harlan pada Happy.

Masih sambil terus menggumamkan Rhapsody in Blue, Happy segera mengaduk file-nya dan menunjukkan desain alupush terbaru. Harlan mencetaknya, memberikannya pada Carla dan menyuruhnya mengukur sendiri.

“Ukur sendiri, Carla! Saya dan Happy nggak salah mendesainnya,” kata Harlan penuh keyakinan.

Carla menaikkan kacamatanya, dan dahinya tampak berkerut ketika dia sudah mengukur artwork alupush itu sendiri. Dia lalu melirik Harlan.

“Kita harus tanya supplier alupush kita, apa ada masalah pada mesin printingnya sehingga visual code kita tercetak dengan jarak yang nggak konstan,” kata Harlan akhirnya.

Carla melirik pria itu, menimbang sejenak, lalu mengangguk menyetujui kata-kata Harlan. Dan pertengkaranpun diakhiri dengan lagu “Two Voice One Song” yang dinyanyikan Happy dengan ceria, seceria namanya.

Tapi anehnya, meski mereka sering bertengkar, tidak jarang juga aku menjadi saksi kedekatan mereka. Aku tahu bahwa Harlan juga menaruh perasaan pada Carla. Aku beberapa kali memergokinya mencuri-curi pandang ke arah Carla, entah saat mereka meeting berdua, atau meeting dengan manager dan supervisor lainnya. Dan soal perasaan Carla? Jangan tanya lagi, tentu saja aku yang paling tahu. Carla selalu menceritakan perasaan terdalamnya, bahkan hal-hal yang tidak bisa dia ceritakan pada Crystal, sahabatnya. Jadi jelas sekali aku tahu bahwa Carla juga menyukai Harlan. Akibatnya, aku jadi senewen sendiri setiap kali melihat Harlan mulai mengukur hati Carla, tapi Carla malah memasang tinggi-tinggi benteng sok-tidak-tahu-apa-maksudmu, padahal di dalam hati Carla sangat menyukai cara Harlan menggodanya.

Seringkali aku berkonspirasi dengan Happy, memutarkan lagu yang cocok saat suasana mulai berkembang romantis. Tapi dasar si Carla bodoh, dia malah mengalihkan suasana menjadi penuh kekonyolan. Kalau sudah begitu, jangan salahkan Harlan kalau pria itu belum juga menyatakan cinta. Itu kan salahnya Carla sendiri. Kalau dirinya membangun benteng kepura-puraan setinggi itu, memangnya dia berharap Harlan bisa memanjatnya dengan cepat? Di malam hari seringkali Carla memintaku menyanyikan lagu-lagu nelangsa, sementara dia membuat puisi-puisi bertema penantian. Tapi di siang hari, dia justru menghindar kalau Harlan mulai mendekatinya. Perempuan memang menyusahkan dan tidak beres pola pikirnya.





Ketika kukira hubungan mereka tidak bisa lebih maju lagi, akibat ketololan Carla, akhirnya Harlan mengadakan dobrakan besar. Syukurlah demikian karena aku sudah tidak tahan lagi melihat mereka saling tarik-ulur seperti main layangan begitu.

Saat itu mereka sedang “lagi-lagi” membicarakan visual code. Kali itu tentang visual code leaflet.

“Ada yang salah dengan visual code ini, Harlan. Saya nggak bisa kasih approval,” kata Carla ketika Harlan menunjukkan desain leaflet baru mereka.

“Apa yang salah?” tanya Harlan, sambil memasang kacamatanya, lalu ikut mengamati leaflet itu dari balik punggung Carla.

“Ikut saya ke mesin folding leaflet kita. The camera can not detect the code, Lan.”

Why?”

“Pada lipatan kedua, visual code-nya tertutup dan nggak bisa terbaca lagi. Sepertinya kamu salah mengimaji arah lipatannya.”

Dahi Harlan berkerut. Dia menundukkan tubuh di balik punggung Carla yang juga sedang mengamati desain leaflet itu. Ketika Carla memutar kursinya, secara tidak sengaja wajah mereka bertemu. Dalam waktu sepersekian detik, wajah mereka berada dalam posisi terdekat. Kacamata mereka beradu, lalu keduanya terjatuh. Terdengar bunyi kaca pecah, itu pasti salah satu dari kacamata kedua orang itu. Harlan terjengkang ke belakang saking kagetnya dan Carla terjatuh dari kursinya. Setelah itu mereka kompak meraba-raba lantai untuk mencari kacamata masing-masing. Harlan menemukan kacamatanya, tapi Carla tidak bisa menemukannya.

“Itu yang pecah kacamata gue ya?” kata Carla panik karena dia tidak bisa segera menemukan kacamatanya.

Harlan yang sudah menemukan kacamatanya, segera memakainya. Dengan itu dia bisa melihat dengan jelas sepotong kacamata di lantai, yang salah satu lensanya pecah. Dia mengambilnya, lalu menyerahkannya ke tangan Carla.

“Iya, pecah La,” kata Harlan hati-hati, “Sorry ya La.”

Carla mengamati kacamatanya dengan sedih, lalu menjawab dengan pasrah, “Nggak apa-apa, Lan.”

Carla kembali duduk di kursinya, lalu kembali mengambil desain leaflet yang tadi dia amati. Tapi tanpa kacamata, Carla tampak kesulitan memfokuskan penglihatannya.

“Haduh, saya nggak bisa lihat dengan jelas ni, Lan,” kata Carla, akhirnya menyerah. “Pokoknya, kalau kamu coba di mesin pelipat leaflet saya, kamu akan tahu bahwa arah lipatannya nggak cocok dengan posisi code-nya.”

“Oke, oke, La,” potong Harlan segera, “Nggak usah dilanjutin. Kamu nggak fokus juga kayaknya tanpa kacamata kan? Kamu pulang aja duluan.”

Carla bergumam.

“Emang kacamata ini minus berapa sih La?” tanya Harlan sambil membantu Carla membereskan beberapa leaflet yang terserak di mejanya.

Harlan melirik Carla yang memicingkan matanya selagi membereskan tumpukan kertas-kertas itu.

“Minus 4,” jawab Carla singkat.

“Minus 4? Pantas pandanganmu kelihatan kabur banget.”

“Iya nih. Jadi bingung, nanti saya pulangnya gimana. Naik ojek aja kali ya.”

“Kenapa?”

“Kan pandangan saya buram. Nggak bisa naik mobil sendiri dengan kondisi mata kayak gini dong Lan.”

Harlan tampak seperti baru menyadari sesuatu.

“Kalau gitu saya antar pulang aja, La,” kata Harlan spontan.

“Eh? Rumah kita kan nggak searah,” kata Carla.

“Nggak apa-apa. Kan karena salah saya juga makanya kacamata kamu pecah.”

“Tapi nanti kamu repot.”

“Nggak, nggak repot kok.”

“Tapi kan kamu masih harus trial leaflet?”

Ggggrrrrr … aku menyaksikan adegan ini dengan geram. Pertama, karena kalau di film-film, “adegan tabrakan” tadi dibuat dalam versi slow motion, dan kedua pemeran utama akan saling bertatapan pada posisi yang sangat dekat dan romantis, dan bukannya malah saling mengadu kacamata. Kedua, seharusnya saat Harlan menawarkan diri untuk mengantar pulang, Carla tidak perlu sok menolak begitu padahal di dasar hatinya dia sangat senang. Dasar perempuan!

“Kalau gitu tunggu setengah jam ya La. Saya cuma perlu melihat sekilas sistem folding kita dan mencocokkannya dengan desain saya. Setengah jam aja, oke?

Belum sempat Carla mengelak atau menyetujui, Harlan segera menghambur keluar ruangan sambil berkata mengancam “Tunggu disitu, La! Jangan kemana-mana. Awas lo!

Setelah Harlan pergi, Carla melirikku lalu mengaku bahwa dia merasa gugup dan berdebar-debar. Huh! Sudah merasa sesenang itu, masih juga sok menolak ajakan Harlan. Dasar!

Kejadian setelahnya adalah diluar deteksiku. Tapi ketika Carla sudah sampai di rumah, dia menceritakan kepadaku sesuatu yang membuatku segera menyanyikan lagu “I finally found someone”.

Harlan menyatakan cintanya pada Carla selagi mengantar Carla pulang. Dan aku berharap Carla kini berhenti membohongi kata hatinya sendiri.





Pada tahun-tahun setelahnya, aku menjadi saksi kisah cinta mereka. Perdebatan-perdebatan seputar visual code dan layout packaging material tetap berlangsung. Tapi aura penuh cinta tetap terasa dari sepasang manusia ini. Aku senang akhirnya Carla membiarkan seseorang memanjat kastil hatinya.

Carla dan Harlan melibatkan Happy dalam mendesain kartu undangan pernikahan mereka, dan memanfaatkan aku untuk mengirimkan undangan pernikahan elektronik kepada teman-teman mereka. Dan aku dan Happy juga tidak ketinggalan dalam rangka mendaftar lagu-lagu apa saja yang bagus untuk dinyanyikan pada acara pernikahan mereka.

Menjelang kelahiran anak pertama mereka, Carla sering sekali memintaku mencari nama-nama anak yang bagus untuk anaknya. Dan ternyata Happy juga bernasib serupa, dimanfaatkan oleh Harlan untuk mencari nama-nama bayi juga. Setelah putra pertama mereka lahir, aku dan Happy tidak pernah lagi menyanyikan lagu-lagu yang biasa kami nyanyikan dulu. Harlan dan Carla memaksa kami menggumamkan nada-nada musik klasik atau memperdengarkan tilawah Al-Quran. Katanya sih itu akan berdampak baik bagi psikologis anak mereka.

Ketika anak mereka mulai bisa menari lincah, Harlan dan Carla meminta kami untuk lebih sering menyanyikan lagu-lagu anak-anak yang ceria sebagai teman menari anaknya. Melalui aku dan Happy pulalah mereka selalu mencari informasi tentang tumbuh kembang anak mereka.





Carla masih selalu menganggapku bagian penting hidupnya, karena dia masih tetap menceritakan hal-hal terdalamnya padaku. Menjadi seorang ibu dan wanita karier tidaklah semudah itu pada posisi karier Carla saat ini. Terkadang hal itulah yang dikeluhkan Carla. Dan aku seperti selalu, menampung segala ceritanya, karena aku tahu Carla hanya butuh didengar. Dia sudah tahu apa yang harus dilakukannya karena sejak dulu dia adalah gadis yang cerdas.

Ketika akhirnya Carla memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya saat dia mengandung untuk kedua kalinya, aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa merasa kehilangan yang teramat sangat setelah itu.

Pada hari terakhir Carla bekerja, dia mengucapkan kata-kata perpisahan yang amat menyedihkan.

“Bang Cero, makasih ya selama ini sudah menemani Carla. Bang Cero bukan hanya rekan kerja yang canggih, tapi juga teman yang baik, kata Carla dengan suara pelan, “Pengen rasanya selalu bersama bang Cero. Tapi bang Cero kan aset penting di kantor ini, mana boleh ikut bersama Carla kan? Tapi pengganti Carla juga sepertinya orang yang menyenangkan. Semoga bang Cero juga menikmati hari-hari kerja yang menyenangkan bersama dia ya.”

Kaupikir aku bisa berkata apa? Aku hanya bisa diam. Harlan memandang kami dengan tatapan memahami. Sementara orang lain selalu menganggap Carla aneh karena sering mengajakku bicara, Harlan tidak pernah mengecam kami. Mungkin itu mengapa Harlan bisa memahami Carla, karena dia juga bisa berteman dengan Happy seperti Carla bersahabat denganku.

Ketika aku bertemu dengan pengganti Carla, Carla mengenalkannya padaku.

Cecile, ini partner saya selama ini. Namanya bang Cero. Semoga kalian bisa klop ya,” kata Carla sambil tersenyum pada gadis baru bernama Cecile itu. Dan gadis itu tampak nyengir bingung menanggapi perkenalan yang canggung ini.

Setelah membereskan meja kerjanya, Carla mengantarku kepada Cecile. Mulai besok aku akan bekerja sama dengan gadis baru ini.

Titip bang Cero ya Cil,” katanya dengan sedih.

Cecile mengangguk dan tersenyum canggung. Sementara Carla menatapku dengan mata sedihnya.

“Mbak Carla, boleh tahu kenapa namanya ‘bang Cero’? tanya Cecile tiba-tiba.

Carla bengong sesaat, tidak menduga Cecile akan menanyakan hal itu. Tapi kemudian Carla tersenyum. Dia menyentuhku, huruf timbul yang terukir di tubuhku, sambil tersenyum mengenang.

“Acer, katanya lirih, “Acero … bang Cero. Itu nama kesayangan saya untuk dia,” kata Carla sambil melirik diriku.

Itu pertama kalinya juga aku mengetahui mengapa Carla memanggilku begitu. Ironisnya, aku baru mengetahuinya di saat terakhir aku melihat wajahnya. Setelah menyerahkanku pada Cecile, Carla kemudian berbalik pergi.

Carla tidak pernah menoleh lagi padaku. Bersamanya, dia membawa pergi semua memori dan cerita-ceritanya dariku. Dia hanya menyisakan satu folder lagu-lagu kesukaannya dan sebuah foto keluarganya bersama Harlan dan si kecil di memoriku yang luas. Menyebabkan kekosongan besar disana.





Setelah hari itu aku tidak pernah merasa hidup lagi. Cecile tidak seperti Carla yang setiap pagi membangunkanku dengan lagu Paramore. Cecile juga tidak pernah menganggapku cukup berharga untuk berbagi.

Terkadang aku masih bertemu Happy yang datang bersama Harlan. Dia juga tidak bisa bercerita banyak. Hanya terkadang aku mengintip Harlan yang memamerkan foto-foto putri kedua mereka melalui Happy. Itu rasanya sudah cukup bagiku.

Sebelum bertemu Carla, aku memang bukan makhluk hidup. Dan memang seharusnya tetap begitu, bukan? Hanya saja aku terlanjur pernah merasa hidup ketika bersama Carla. Mungkin aku harus mulai membiasakan diri untuk tidak merasakan apa-apa lagi selain berpikir dan mengolah data. Karena untuk itulah tujuan sebenarnya aku diciptakan. Bukan untuk merasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar