Luna Lovegood inside. Noda Megumi outside.

Sabtu, 29 Desember 2012

ADITYA dan ALAMANDA


Aditya Permana tidak ingat kapan terakhir kalinya dia berlari secepat itu. Tidak dalam waktu dekat sepertinya. Karena dia sudah merasa ngos-ngosan sekarang, bahkan meski dia berlari hanya dari lapangan parkir. Sejauh yang dapat diingatnya, dia terakhir kali berlari secepat itu belasan tahun yang lalu, ketika dirinya dan sahabat kecilnya dikejar anjing tetangga. Kali ini dia tidak sedang dikejar anjing tetangga, tapi sesuatu yang lebih mengerikan daripada itu. Maut.
Bau desinfektan segera menyergap ketika Adit memasuki area rumah sakit. Lorong-lorong panjang berwarna putih pucat menyambut kedatangannya. Dengan mata yang cekatan, dia memperhatikan semua papan petunjuk di sepanjang koridor rumah sakit. Dengan langkah yang tergesa, dia menelusuri koridor itu.
“Maaf, Pak,” Adit berhenti sesaat di hadapan seorang satpam. Dia nyaris putus asa karena tidak juga menemukan papan petunjuk bertuliskan kata-kata yang dicarinya. Nafasnya juga nyaris putus karena berlari kesetanan seperti itu. “Dimana ICU?” dia bertanya dengan panik.
“Lurus aja, Mas. Pertigaan di depan, belok kiri,” jawab satpam itu. Seperti mengetahui ketergesaan lelaki muda itu, sang satpam memberi petunjuk arah yang singkat dan jelas.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada satpam tersebut dan mengatur nafas sesaat, Adit kembali berlari menuju arah yang ditunjukkan sang satpam. Ketika sampai di pertigaan koridor, Adit berbelok ke kiri. Tapi kemudian langkah kakinya terhenti ketika dia mendapati wajah seseorang yang sangat dikenalnya, berdiri 20 kaki di hadapannya.
 “Mas Artha!” panggil Adit dengan nafas yang masih putus-putus.
Artha menoleh ke arah suara itu. Adit tidak ingat kapan terakhir kalinya Artha berwajah sekusut dan senelangsa itu. Dia tidak ingat sama sekali. Mungkin karena wajah Artha memang tidak pernah seperti itu. Ini pertama kalinya Adit  melihat wajah Artha yang tidak karuan.


Hidup memang sungguh tidak terduga. Baru saja dua jam yang lalu Aditya merasa gembira dan antusias karena akhirnya bisa kembali menjejakkan kaki di Indonesia setelah tiga tahun kuliah di Seoul. Tapi satu jam kemudian suasana hatinya segera berbalik 180 derajat. Dia memang sengaja tidak memberi tahu siapa-siapa bahwa dia akan pulang ke Jakarta. Dia ingin memberi kejutan. Dan keluarganya memang terkejut senang ketika melihatnya pulang ke rumah. Tapi kepada siapa dia paling ingin membuat kejutan, dia justru terkejut karenanya.
Segera setelah meletakkan kopernya di kamarnya, Adit dengan wajah sumringah pergi ke sebuah rumah di depan taman kompleknya. Tiga tahun tidak mengubah banyak hal. Taman itu tetap rimbun oleh pepohonan, diwarnai bunga-bunga dan ramai oleh anak-anak. Angin berhembus menyejukkan. Tidak seperti di Seoul yang musim panasnya terasa kering, Jakarta bisa dibilang hampir sepanjang tahun mengalami musim panas, tapi udaranya lembab dan anginnya sejuk.
Adit rindu suasana seperti itu. Tidak ada salju di Jakarta. Tidak juga sakura. Tapi ada bunga yang hanya bisa dilihatnya di Jakarta. Banyak orang yang ingin pergi ke Jepang atau Korea hanya untuk menikmati sakura di musim semi. Tapi Adit tidak ingin melihat bunga apapun selain bunga yang sudah lebih dari dua puluh tahun dilihatnya. Bunga itu mekar di sebuah rumah di depan taman kompleknya. Tumbuh bersamanya sejak kecil. Alamanda Pradipta.
Tiga tahun sudah dia tidak bertemu dengan sahabatnya itu sejak dia pergi ke Seoul untuk melanjutkan kuliah magisternya. Adit sudah mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan program doktoralnya di universitas yang sama, Seoul National University. Tapi dia memutuskan untuk kembali ke Jakarta dulu di masa libur musim panas itu, sebelum kembali menekuni riset-riset doktoralnya. 
Adit melangkah dengan senyum sumringah dan perasaan antusias ketika makin mendekati bangunan bertingkat dua itu. Rumah yang dindingnya dicat hijau itu meski tidak terlalu besar, tapi memiliki halaman yang luas. Dan halaman itu ditanami banyak pohon buah dan sayur. Pohon cabe dan jambu monyet adalah dua diantara tanaman-tanaman lain yang tumbuh di halaman itu.
Adit menekan bel rumah itu sekali. Sambil menunggu seseorang membuka pintu pagar, Adit memandang pohon mangga yang berada di dekat pagar. Dia tersenyum mengingat dulu dia dan Manda sering sekali duduk-duduk di atas pohon itu untuk mengusili anak-anak tetangga yang lewat di depan rumah Manda. Adit takjub sendiri, bahkan sekedar kenangan tentang Manda saja bisa membuatnya tersenyum, apalagi wujud nyatanya.
Samar-samar Adit mendengar langkah kaki mendekat dari dalam rumah. Adit merasakan adrenalin memacu jantungnya berdenyut lebih cepat. Dia antusias dan gugup di saat bersamaan. Ketika pintu terbuka, seorang perempuan berusia empat puluh tahunan keluar dari baliknya. Adit tersenyum padanya. Dia segera mengenali perempuan yang telah membantu di rumah Manda selama bertahun-tahun lamanya itu. Perempuan itu membalas senyum Adit dengan ekspresi wajah yang membingungkan.
“Mas Adit sudah pulang? Kapan?” perempuan itu bertanya sembari buru-buru membukakan pagar untuk Adit. Senyum perempuan itu seperti senyum lega dan tertekan. Kombinasi perasaan yang membingungkan Adit.
“Baru sampai, Bi. Saya langsung kesini. Bibi apa kabar?” jawab Adit dengan ramah.
Perempuan itu tersenyum miris, membuat Adit merasakan firasat buruk.
“Nggak baik, Mas,” jawab perempuan itu kemudian.
“Lho, kenapa? Bibi lagi sakit? Encok lagi abis nyetrika 50 kg bajunya Manda?” Adit mencoba berkelakar. Si Bibi memang sering encok sejak dulu, mungkin karena pekerjaannya yang banyak. Tapi menanggapi lelucon Adit, perempuan itu lagi-lagi cuma nyengir miris. Adit segera merasa leluconnya tidak tepat waktu. “Bibi kenapa?” tanya Adit kemudian.
Perempuan itu menggeleng. “Bukan saya, Mas. Mbak Manda yang sakit.”
 “Hah?! Sakit apa, Bi?” tanya Adit kaget, “Sekarang ada di dalam? Saya masuk ya Bi?“ dia meminta ijin.
“Mbak Manda nggak di rumah, Mas,” jawab si Bibi.
“Jadi? Di rumah sakit? Emang sakitnya parah? Sakit apa memangnya, Bi?” Adit memberondong si Bibi dengan cepat.
“Lho? Mas Adit nggak tahu?” si Bibi balik bertanya dengan wajah bingung.
“Tahu apa?”
“Mbak Manda nggak cerita sama Mas Adit?”
“Cerita apa?” Adit mulai geregetan sama si Bibi. Kenapa mereka jadi saling tanya balik gini sih? Bikin makin penasaran aja deh.
“Mbak Manda sudah sebulan ini dirawat.”
“Sebulan?!”
Kalau menurut istilah abege jaman sekarang, ini mah namanya lebay. Tapi tidak ada cara lain untuk mengungkapkan keterkejutan Adit selain istilah “samber-gledek-siang-hari-bolong”. Terakhir kali Adit chat dengan Manda adalah tiga malam yang lalu dan Manda bilang bahwa dia sehat-sehat saja. Mereka bahkan chat sampai tengah malam. Tidak mungkin orang sakit bisa chat hingga tengah malam kan?
Dan Adit jadi beneran lebay. Dia tidak bisa mengontrol suaranya. Tiba-tiba dia jadi nyaris membentak si Bibi saking kagetnya. “Emang sakit apa, Bi?!”
“Mbak Manda beneran nggak cerita?”
“Yee, si Bibi mah nanya balik. Cepetan deh Bi, ceritanya, Manda sakit apa?”
“Nggak tahu pasti, Mas. Tapi dua hari yang lalu Mbak Manda dioperasi. Sampai hari ini belum sadar juga. Tadi subuh ada telepon dari rumah sakit, katanya Mbak Manda makin parah. Bapak dan Mas Artha langsung ke rumah sakit.”
“Operasi?!” dan sekarang Adit betul-betul membentak. Kalau saja tidak mengenal Adit sejak kecil, si Bibi pasti menyangka bahwa Adit sedang memarahinya. Tapi itu bukan suara marah. Si Bibi tahu bahwa intonasi tinggi itu adalah ekspresi kepanikan pemuda itu. “Operasi apa?!” tanya Adit lagi, lebih memaksa.
“Bibi nggak tahu, Mas,” jawab si Bibi dengan hati-hati, takut salah menjawab. “Tapi selama dua tahun ini mbak Manda beberapa kali operasi seperti ini. Seingat Bibi, ini operasi ketiga. Baru kali ini Mbak Manda nggak bangun-bangun setelah operasi. Bibi juga kuatir banget.”
Dan segala hayalan liar segera berlarin di kepala Adit. Dia tidak bisa menduga, sakit apa yang diderita Manda sehingga dia harus menjalani operasi berkali-kali selama dua tahun ini. Dua tahun? Dan mengapa selama dua tahun tersebut Manda tidak pernah mengatakan apa-apa dalam sesi chatting mereka?


Pak Arman, ayah Alamanda, menolehkan kepalanya ketika mendengar suara seseorang di ujung lorong. Artha menoleh ke arah yang sama dan terkejut mendapati pemilik suara itu. Bukan karena dia tidak mengenal orang itu, tapi karena Artha tidak menyangka bisa bertemu dengannya saat itu.
“Adit?!” sapa Artha dengan wajah linglung, seperti tidak benar-benar yakin pada penglihatannya.
“Mas Artha!” kata Adit sambil melangkah mendekat dengan cepat. Dia menghentikan langkahnya di hadapan Artha, lalu memeluk dan menepuk punggung Artha sekilas.
“Kapan lo pulang?” tanya Artha, sambil balas menepuk punggung Adit.
“Baru 2 jam yang lalu,” jawab Adit.
Setelah itu Adit berbalik dan menghadap pak Arman, lalu mencium tangan pria berusia 60 tahun itu. “Assalamualaikum, Om,” kata Adit menyapa.
“Wa’alaikumsalam,” jawab pak Arman. Ekspresinya saat melihat Adit sama terkejutnya dengan ekspresi Artha, putranya. “Kok Adit bisa kesini?”
“Tadi saya ke rumah Om. Kata Bibi, Manda di rumah sakit. Saya langsung kesini,” jawab Adit cepat, “Manda kenapa Om?”
Tapi alih-alih Pak Arman menjawab pertanyaan Adit, justru Artha yang balik bertanya pada Adit. “Lo bertanya seolah-olah lo nggak pernah tahu keadaan Manda selama ini?”
“Emang gue nggak tahu. Emang Manda kenapa, Mas?”
“Kalian bukannya sering skype-an?”
“Tapi dia nggak pernah bilang apa-apa. Selalu bilang ‘sehat’ kalau gue tanya kabarnya,” kata Adit menjelaskan. Dia menghela nafas berat lalu memandang Artha dengan wajah serius, “Jangan tanya balik ke gue, Mas. Tolong jawab dulu, Manda sakit apa?”
“ Kanker. Kanker otak,” suara pak Arman yang terdengar di telinga Adit.
Dan suara itu di telinga Adit berubah menjadi suara petir bervolume 100 desibel. Telinganya sampai berdengung dan otaknya mati. Adit menoleh pada pak Arman dan Artha bergantian. Artha menyadari kebingungan Adit. Dia menepuk bahu pemuda yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri itu dan mengajaknya duduk di sebuah kursi panjang.
“Lo baru pulang dari Seoul dan langsung ke rumah kami?” tanya Artha.
“Dan langsung kesini begitu Bibi bilang Manda sakit,” Adit menambahkan. “Bibi bilang Manda dioperasi? Dan hari ini keadaannya memburuk? Gimana dia sekarang?”
Artha mengangkat bahunya sambil menghela nafas. Pak Arman nampak tidak bereaksi dengan pertanyaan tersebut.
“Sama nggak tahunya dengan lo,” jawab Artha dengan tampang gelisah.
“Kata Bibi, ini operasi ketiga?” tanya Adit lagi.
Artha mengangguk.
“Sejak kapan sebenarnya?”
You’re pathetic, Dit!“ kata Artha sambil tersenyum mengasihani, “Manda benar-benar nggak bilang apa-apa sama lo?”
Adit juga merasa dirinya sangat menyedihkan. Berita sepenting ini, bahkan sahabatnya sendiri tidak mau memberitahunya.
No wonder sih. Kalau lo tahu, mungkin lo nggak bakal jadi kuliah ke Seoul,” kata Artha kemudian.
Adit terpana mendengar pernyataan Artha. “Jadi Manda udah tahu penyakitnya sejak sebelum gue pergi? Dan dia nggak cerita ke gue sama sekali?!” suara Adit meninggi. Artha tahu bahwa pemuda itu kesal dan sedih.
“Dia cuma nggak mau lo khawatir. Kalau bukan karena gue memergoki dia pingsan, dia juga nggak bakal cerita ke gue dan Ayah,” kata Artha, berusaha membesarkan hati Adit.
“Dan kenapa lo nggak bilang ke gue, Mas?” tanya Adit makin frustasi.
“Lo menyalahkan gue karena nggak kasih tahu lo sesuatu yang bukan urusan gue?”
Adit memandang Artha dengan kesal. Tapi memang benar dia tidak bisa menyalahkan Artha. Alamanda punya sifat pemarah yang membahayakan dan tidak pandang bulu. Abangnya sendiripun tidak akan lolos dari amarahnya kalau sampai berani ikut campur urusannya.
“Jadi sekarang, apa yang terjadi setelah operasi Manda yang terakhir?” tanya Adit kemudian.
“Dia belum sadar juga. Udah dua hari. Dokter bilang coma,” jawab Artha dengan wajah nelangsa.
Coma? Kok bisa?”
“Kenapa nggak bisa?” Artha balik bertanya, “Kalau yg dioperasi adalah sesuatu serumit otak manusia, memangnya lo bisa mengharapkan apa lagi? Dia masih hidup aja kami sangat bersyukur.”
Sesuatu menghantam kepala Adit saat itu juga. Dia masih hidup saja? Memangnya kondisi Manda separah itu sehingga Artha bahkan masih bisa mensyukuri keadaan Manda yang coma?
“Ibunya Manda meninggal pada operasi kedua karena kanker rahim,” kata pak Arman tiba-tiba. Adit menoleh padanya dan mendapati senyum di bibir lelaki tua itu. “Manda bahkan bisa melalui operasi ketiga. Dia sudah berjuang lebih keras daripada Ibunya dulu. Kita nggak bisa memaksanya lagi kalau dia sudah nggak kuat.”
GILA!, rutuk Adit dalam hati. Mereka semua sudah gila! Bagaimana mereka bisa dengan mudah merelakan Alamanda?! Nggak, gue masih waras. Dan gue nggak mau Manda pergi sebelum menjelaskan semuanya ke gue!
Artha memukul bahu Adit ringan, membuatnya menoleh. “Mungkin Manda belum pergi juga karena lo. Dia mungkin menunggu lo pulang.”
Sebuah belati tak tampak menyayat jantungnya, membuat dadanya nyeri dan nafasnya tercekat. Kalau Alamanda belum pergi hanya karena menunggunya pulang, apakah jika dia pulang maka Alamanda akan pergi?


Setelah satu jam menunggu,akhirnya seorang dokter keluar dari ruang ICU tempat Alamanda dirawat. Pak Arman, Artha dan Aditya buru-buru menghampiri sang dokter.
“Alhamdulillah sudah stabil,” kata sang dokter kepada pak Arman. Ketiga pria berwajah kusut itu menghela nafas lega dan mengucap syukur. “Tapi Manda masih belum sadar dari coma-nya. Saya minta maaf,” lanjut sang dokter.
Pak Arman mengangguk penuh pengertian. “Kami bisa melihat Manda, dok?” tanya pak Arman.
Sang dokter mengangguk mengijinkan. “Tapi masuk satu per satu,” katanya mensyaratkan. Ketiga pria itu mengangguk. Dia kemudian pamit pergi karena masih ada pasien lain yang perlu ditanganinya.
Setelah sang dokter dan para perawat keluar dari ruangan itu, ketiga pria itu saling menatap. Tanpa kata, mereka saling berunding, siapa yang lebih dahulu masuk kesana.
“Masuklah duluan, Dit,” kata Pak Arman akhirnya, sambil menepuk bahu Adit.
Adit tersenyum lega dan berterima kasih karena diijinkan menemui Alamanda lebih dulu. Dia memang sudah tidak sabar ingin bertemu gadis itu. Meski di hatinya dia khawatir jika perkiraan Artha benar bahwa Alamanda hanya sedang menunggunya, dia tidak bisa menahan diri untuk menunggu lebih lama lagi. Dengan perasaan ragu, takut dan berdebar-debar, Adit memakai pakaian khusus yang disediakan untuk pengunjung ruangan itu, kemudian masuk.


Terakhir kali melihat Alamanda tiga tahun lalu, Aditya masih dapat mengingat dengan jelas wajah sahabat kecilnya itu. Dan gadis yang dilihatnya berbaring di ruangan pucat itu sama sekali bukan Alamandanya. Selang-selang bersliweran di sekitar tubuh gadis itu, terhubung di sana-sini dengan tubuhnya. Badan kurus dan wajah tirus. Nafas terdengar berat dari balik ventilator yang digunakannya. Kepalanya tertutup balutan perban putih. Adit tidak mau percaya bahwa gadis itu adalah Alamanda. Meski demikian, alis tebal dan tahi lalat di leher gadis itu dengan mutlak menunjukkan bahwa dia memang Alamanda.
Adit terduduk lemas di samping tempat tidur Alamanda. Dengan mata berkaca-kaca, dia melihat Alamanda yang kini hidup hanya karena ditopang oleh serangkaian alat-alat itu. Sama sekali berbeda dengan Alamanda yang biasa berlari dan melompat-lompat seperti kangguru.
“Manda … “ panggil Adit dengan suara merindu.
Sedikit ragu, Adit mengulurkan tangannya dan menyentuh jari-jari Alamanda. Rasanya dingin. Perlahan Adit menggenggam tangan gadis itu. Sangat kecil dan kurus. Pada keadaan normal, Alamanda pasti akan menepis tangan Adit sambil manyun-manyun salah tingkah. Tapi kali itu tangan itu tidak merespon genggaman Adit. Itu membuat hati Adit sakit.
“… gue pulang …“ kata Adit.
Gadis itu bergeming. Tidak menjawabnya. Bagi Adit, teriakan marah Alamanda seribu kali lebih melegakan daripada kebisuan itu.
Kata orang, lelaki pantang menangis. Hanya ada dua alasan yang memperbolehkan lelaki menangis: saat dikhitan, dan demi orang yang dicintainya. Jadi apa artinya itu sebutir air bening dari mata Adit yang jatuh di telapak tangan Alamanda?
*                 *                   *

Adit datang lagi ke rumah sakit itu keesokan harinya. Dan Alamanda belum juga sadar. Tapi dokter sudah memindahkan Manda dari ICU ke ruang rawat biasa. Itu membuat Adit sedikit lega. Ketika Adit masuk ke ruang rawat Alamanda, dia mendapati Artha masih tertidur di samping tempat tidur adiknya. Perlahan di mendekati Artha dan menepuk pelan bahu lelaki itu. Merespon tepukan di bahunya, Artha bangun dan mengucek-ngucek matanya. Lalu menguap seperti kuda nil, membuat Adit mundur beberapa langkah, mengantisipasi aroma tak sedap yang bisa membuatnya pingsan.
“Akhirnya gue ketiduran …” kata Artha sambil menggeliat, merenggangkan badannya yang pegal-pegal karena tidur dalam posisi duduk.
“Akhirnya?” Adit tidak mengerti.
“Gue nggak bisa tidur semalaman,” jawab Artha, “Sepertinya gue ketiduran abis Subuh setelah Manda keluar dari ICU.”
“Gue juga nggak bisa tidur semalaman. Harusnya gue yang jaga di sini, tapi lo dan om Arman malah maksa gue pulang,” kata Adit.
“Kan lo juga baru pulang dari Seoul, Dit. Belum sempat istirahat. Kalau lo ikutan sakit, tambah ribet dong.“
“Nggak ada gunanya juga gue pulang, toh gue juga nggak bisa tidur.”
“Setidaknya lo nggak perlu duduk semalam suntuk. Pegal banget, tahu!“
Artha berdiri dan melakukan senam kecil untuk meluruskan tulang punggungnya. Kemudian dia melirik jam tangannya dan segera merasa jam tangannya tidak berfungsi dengan baik. Artha melangkah ke jendela dan membuka tirainya. Lalu dengan kaget berbalik memandang Adit.
“Ini masih jam 6 pagi!” kata Artha dengan mata melotot. Langit di luar masih biru gelap. Matahari baru mengintip malu-malu. Jam tangannya jelas belum rusak, masih menunjukkan waktu yang sebenarnya. Otak Adit lah yang rusak.
“Jadi?”
“Jadi,” jawab Artha sambil geleng-geleng kepala, “Ngapain lu jenguk orang sakit sepagi ini, Adit? Emang lo nggak diusir sama suster?”
“Gue nggak tenang nunggu di rumah, Mas. Tadi gue bilang aja sama suster, mau gantiin lo jaga. Gue bilang gue ini adik lo.”
“Adik gue?”
“Kenapa?”
“Adik gue?”  Artha mengulang, “Maksudnya, lu pengen jadi adik ipar gue?”
Wajah Adit serta merta memerah. “Nggak ngerti apa maksud lo, Mas,” jawabnya dengan suara aneh.
Artha memandang Adit dengan tatapan tajam. “Gue nggak ngerti juga kenapa lo harus sekhawatir itu terhadap Manda. Dia kan cuma teman lo,” katanya.
Adit merasa disindir habis. Dia tidak tahu harus menjawab bagaimana.
“Gue pulang dulu. Habis mandi dan ambil baju, gue balik kesini lagi,” kata Artha kemudian, sambil menyambar kunci mobilnya.
Adit mengangguk salah tingkah. “Kalau capek, istirahat dulu aja, Mas. Gue bisa jaga seharian,” katanya.
“Lu mengusir gue supaya lu bisa berduaan sama adik gue?” tanya Artha iseng.
“Lu ngomong apaan sih Mas?” Adit makin salah tingkah.
“Kenapa salah tingkah gitu sih? Biasa aja dong,” Artha menggoda, “Lu ngaku sama suster bahwa lu adalah adik gue kan? Berarti lu adiknya Manda juga kan? Jaga kakak lo baik-baik, kalau gitu, Adit.”
Artha memang paling pintar mempermainkan perasaan orang. Adit sama sekali tidak menyukai kata-kata terakhir Artha itu. Selama bertahun-tahun Adit berusaha keras untuk menghapus fakta bahwa dirinya tiga tahun lebih muda daripada Alamanda. Tapi kenapa Artha harus mengingatkannya lagi pada kenyataan tidak menyenangkan itu?


Adit tidak ingat kapan terakhir kalinya dia pernah menatap wajah Alamanda dalam waktu selama itu? Seingatnya tidak pernah. Dia belum pernah sepuas dan seleluasa itu memandangi wajah Alamanda sebelumnya. Biasanya, setiap kali dirinya mulai memandangi Alamanda, gadis itu akan ngomel: “Kenapa lu lihat-lihat muka gue?! Ada yang aneh?! Mau ngeledek gue lagi?!”
Bagi Adit, memang ada yang aneh dengan wajah gadis itu. Ada sesuatu pada gadis itu yang membuatnya selalu ingin melirik kepadanya. Entah apa itu namanya, yang jelas Adit jadi selalu ingin berada di dekat gadis itu sehingga bisa diam-diam memandanginya. Kali itu Adit tidak perlu lagi mencuri-curi pandang ke arah Alamanda. Dia bisa menatapi gadis itu sepuasnya. Dia bahkan bisa menggenggam jemari Alamanda tanpa merasa canggung atau takut dimarahi oleh gadis itu. Tapi jika saja boleh memilih, dia lebih ingin dimarahi Manda karena sudah lancang menggenggam tangannya, daripada harus melihat Manda terbaring tidak berdaya seperti itu.
EKG menunjukkan detak jantung Alamanda yang beraturan. Nafasnya juga terdengar beraturan, meski berat. Adit tidak tahu apakah dirinya harus gembira atau tidak melihat kondisi Manda saat itu. Dia seharusnya bersyukur karena kondisi Manda sudah stabil lagi. Tapi kestabilan itu bukankah juga berarti berlanjutnya ke-coma-an?
“Kenapa belum bangun juga, Man? Lu berhutang banyak penjelasan sama gue!” kata Adit sambil meremas tangan yang digenggamnya.
Aditya berharap Alamanda akan berteriak kesakitan saat dirinya meremas tangan gadis itu. Dia bahkan tidak keberatan kalau Manda memukulnya karena telah menyakitinya. Tapi Manda justru tidak merespon sama sekali. Bagi Adit, itu lebih menyakitkan dibanding pukulan Manda.


Jam dinding menunjukkan pukul 12 siang ketika Adit mendengar pintu kamar rawat Manda diketuk. Tanpa menunggu jawaban, pintu itu terbuka. Seorang lelaki muncul dari baliknya. Adit sempat menangkap reaksi kaget selama sepersekian detik. Tapi Adit tidak mempedulikannya.
“Assalamu’alaikum,” sapa lelaki itu ketika melangkah masuk.
“Wa’alaikumsalam,” Adit menjawab sambil bangkit dari duduknya.
Lelaki itu berkulit putih dengan tubuh yang lebih besar dan tinggi dibanding Adit. Wajah kaukasiannya tegas dan hangat. Sudah lama Adit tidak melihat wajah itu, tapi dia mengenali hidung bengkok dan profil rahang kelabu yang ditutupi rambut halus itu.
“Andrei!” sapa Adit sambil tersenyum dan melangkah mendekat.
“Hei!” lelaki yang disapa itu tampak sedang berusaha secepat mungkin mengingat lelaki yang menyapa namanya. “Adit!” kata Andrei dengan suara lega, akhirnya dia berhasil mengingat lelaki di hadapannya.
Long time no see, Andrei,” kata Adit.
“Bukannya lo kuliah di Seoul?”
Dan merekapun berjabat tangan. Keduanya tersenyum, meski bukan dengan maksud dan makna yang sama.
“Baru balik, Ndre,” jawab Adit.
“Udah selesai kuliahnya?”
“Belum sih. Masih lanjut S3. Tapi lagi libur, jadi gue pulang.”
Jadi lo pulang cuma karena libur? Bukan karena tahu keadaan Manda?”
Adit kembali ke dunia nyata. Dia terhempas, lebih tepatnya, oleh kata-kata Andrei. “Waktu sampai di sini, gue baru tahu bahwa Manda sakit,” dengan malu hati, Adit mengaku.
Andrei memandang Adit dengan bingung. “Manda nggak cerita ke lo?”
Adit menggeleng. Andrei menatap Adit dengan tidak percaya.
“Mau menjenguk Manda?” tanya Adit, mencoba mengabaikan tatapan Andrei pada dirinya. “Duduk, Ndre,” Adit mempersilahkan.
Andrei mengangguk. “Gue kesini mau menunjukkan bahwa cetakan ketiga novel Alamanda sudah terbit.”
Andrei membuka tas ranselnya dan menunjukkan sebuah buku dengan sampul berwarna putih, bergambar sebuah buku yang berbentuk hati berwarna merah jambu di tengahnya.
“Gue udah mengubah covernya, sesuai permintaan Manda,” lanjut Andrei.
Andrei Milanov adalah seorang cover designer di sebuah perusahaan penerbitan. Adit bertemu dengannya pertama kali ketika mengantar Manda ke penerbitan itu. Sejauh pengetahuan Adit, Manda bekerja paruh waktu di penerbitan itu sebagai first-reader. Menurut Manda, pekerjaannya adalah membaca novel-novel yang akan diterbitkan oleh penerbit itu. First-reader team itu terdiri dari 20 orang awam, terdiri dari berbagai usia, profesi dan latar belakang pendidikan. Jika sebagian besar orang itu menyukai novel yang diajukan, barulah penerbitan itu akan menerbitkan novel itu. First-reader team dianggap sebagai perwakilan selera masyarakat umum.
Manda sangat menyukai pekerjaan paruh waktunya itu. “Gue bisa baca novel-novel bagus sebelum orang lain membacanya. Dan gratis!” kata Manda, bercerita tentang kerja paruh-waktunya dengan sangat antusias.
Tapi Adit tidak tahu bahwa seorang first-reader punya wewenang untuk minta perubahan desain sampul novel yang akan diterbitkan.
Tapi tunggu, kata Adit pada dirinya sendiri, tadi Andrei bilang apa? Cetakan ketiga novel Alamanda? Novel Alamanda?
“Ini novel yang ditulis Manda?” tanya Adit ragu, sambil menunjuk novel yang dipegang Andrei.
Andrei mengangguk. Dia lalu menyerahkan novel itu kepada Adit. Adit menerimanya dengan bingung lalu mengamati sampul novel itu.
“Aurora?” Adit membaca nama yang tertera di pojok kanan bawah sampul novel itu. Dia melirik Andrei.
“Itu nama pena Manda,” kata Andrei. Lalu tiba-tiba Andrei memekik, “Lo nggak tahu bahwa Manda adalah penulis novel?!
Adit menggeleng. “Dia bilang bekerja paruh waktu di perusahaan lo sebagai first-reader team.”
“Dan lo percaya?”
“Apa harusnya gue nggak percaya kata-kata sahabat gue sendiri?” Adit balik bertanya, merasa terpojok.
“Lo belum pernah membaca novelnya juga?” tanya Andrei, dengan mata mendelik.
Adit menatap sampul novel yang dipegangnya. Aurora, gumamnya dalam hati. Nama itu terasa tidak asing baginya. Ketika dia berusaha mengingatnya lagi, Adit baru sadar. Sudah beberapa tahun terakhir ini Manda menghadiahinya kado ulang tahun berupa novel. Dan semua novel-novel itu selalu berasal dari satu penulis yang sama.
“Gue adalah first-reader novel-novel karya Aurora. Gue hadiahkan buat lo,” kata Manda pada hari ulang tahun Adit, beberapa tahun lalu.
Adit melirik gadis yang terbaring di dekatnya. Geregetan rasanya. Belakangan ini kok rasanya gadis itu terlalu banyak menyimpan rahasia darinya? Baru saja dirinya dikagetkan oleh fakta tentang kanker otak gadis itu, kini dia harus terkejut lagi karena ternyata novel-novel yang selama ini diterimanya adalah karya Manda sendiri. Adit jadi bertanya-tanya, rahasia apa lagi yang disembunyikan gadis itu darinya?
“Jadi lo nggak tahu bahwa Manda adalah penulis novel? Bahwa nama penanya adalah Aurora? Dan lo bahkan belum pernah membaca novelnya?” tanya Andrei kaget.
Dengan menyesal, Adit terpaksa menggeleng. Sampai saat ini seingat Adit, Manda sudah empat kali memberinya kado berupa novel karya Aurora. Tapi Adit belum pernah sekalipun membaca novel-novel itu.
“Pantas aja lo nggak tahu bahwa Manda sakit,” kata Andrei. Entah mengapa Adit menangkap nada mencemooh dari kata-kata Andrei itu.
“Maksud lo?” tanya Adit, tidak mengerti.
Andrei mengangkat bahunya dengan gaya pasrah. Putus asa rasanya menghadapi makhluk payah dan menyedihkan seperti Adit itu. Adit jadi penasaran ketika melihat reaksi Andrei. Ia menatap Andrei dan novel di tangannya bergantian. Andrei merasa geregetan melihat wajah tolol Adit. Sementara Adit bingung saat membaca novel di tangannya.
DREeAM.  Itu adalah judul novel itu. Adit teringat, itu adalah novel yang sama yang diterimanya sebulan lalu. Pada hari ulang tahunnya yang ke dua puluh dua, sebuah paket datang ke apartemennya di Seoul, berisi sebuah novel karya Aurora yang berjudul aneh.

Orang-orang bertahan pada impiannya.
 Aku bertahan padamu.
Betapa sederhana alasannya.
Andai kau mau membaca hatiku.

Itulah kata-kata yang tertulis di bawah judul novel itu. Mungkin itu mengapa buku itu berjudul DREeAM.
“Ngomong-ngomong,” kata Andrei. Adit kembali memandang pemuda berhidung bengkok itu. “Itu novel Alamanda yang keempat. Sebaiknya lo baca dari buku pertamanya.”
Adit terpaku. Novel pertama Manda? Dimana dia meletakkan buku itu ya?

*                     *                      *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar